INDIKATOR EKONOMI ENERGI
Indikat or yang lazim digunakan unt uk mendapat kan gambaran kondisi pemakaian energi suat u negara adalah int ensit as energi t erhadap penduduk (int ensit as energi per kapit a) dan int ensit as energi t erhadap PDB (int ensit as per PDB). Int ensit as energi per kapit a memberikan gambaran pemakaian energi oleh masing-masing penduduk, sement ara it u int ensit as energi per PDB memberikan gambaran pemakaian energi yang digunakan unt uk menghasil kan suat u besaran produkt if it as ekonomi. Unt uk keperluan ini, maka dilakukan analisis t erhadap populasi dan PDB nasional.
4. 1 Populasi
Sensus penduduk t ahun 2000 yang dilakukan Badan Pusat St at ist ik (BPS) menunj ukkan penduduk Indonesia sudah mencapai 205, 84 j ut a j iwa. Sej ak program Keluarga Berencana (KB) kurang digalakkan, maka laj u pert umbuhan penduduk cenderung naik dibandingkan ket ika program KB gencar dil akukan. Selama kurun wakt u 2000-2008, j umlah penduduk Indonesia mencapai 228, 71 j ut a j iwa dengan pert umbuhan rat a-rat a j umlah penduduk Indonesia mencapai 1, 32%/ t ahun. Laj u pert umbuhan penduduk dari t ahun 2007–2008 bahkan l ebih t inggi, yakni mencapai 1, 36%.
Pada Out l ook Energi Indonesia 2010, digunakan angka pert umbuhan nasional rat a-rat a sebesar 1, 36% unt uk memprakirakan popul asi Indonesia t ahun 2008- 2030. Dengan angka pert umbuhan t ersebut , maka populasi Indonesia pada t ahun 2030 diperkirakan akan mencapai 307, 86 j ut a j iwa. Sej alan dengan pert umbuhan ekonomi wilayah, maka diperkirakan pert umbuhan rat a-rat a j umlah penduduk Kalimant an dan Sumat era akan menj adi lebih besar dari rat a-rat a nasional, yakni 1. 92% dan 1. 65%. Sement ara it u, pert umbuhan rat a- rat a unt uk wilayah Sulawesi, dan Pulau Lainnya bert urut -t urut adalah 1, 43% dan 1, 65%. Pert umbuhan penduduk di pulau Jawa sebagai wilayah yang paling padat diperkirakan t umbuh cukup moderat , yakni sekit ar 1, 15%. Walaupun demikian, pulau Jawa diperkirakan t et ap menj adi wilayah yang t erpadat dibandingkan wilayah lainnya. Dengan angka-angka pert umbuhan t esebut , maka pada t ahun 2030 diperkirakan penduduk Jawa, Sumat era, Kal imant an, Sulawesi, dan Pulau Lainnya masing-masing akan mencapai 173, 8 j ut a, 70, 9 j ut a, 20, 3 j ut a, 22, 85 j ut a, dan 20 j ut a j iwa. Gambar 4. 1 menyaj ikan prakiraan j uml ah penduduk berdasar kan wil ayah pada kurun wakt u 2007-2030. Gambar 4. 1 menunj ukkan bahwa Pulau Jawa diperkirakan t et ap mempunyai pangsa penduduk t erbesar dengan t ingkat kepadat an penduduk t ert inggi dibandingkan wilayah lainnya, sepert i Sumat era, Kalimant an, Sulawesi, dan Pulau Lainnya (Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua). Kecenderungan t erj adinya
sebaran penduduk yang t erkonsent rasi di Jawa disebabkan t elah berkembangnya berbagai inf rast rukt ur yang diperl ukan unt uk mel akukan akt ivit as ekonomi. Hal ini menj adi daya t arik bagi wilayah Jawa unt uk menj adi pusat kegiat an perekonomian nasional.
‐ 50 100 150 200 250 300 350 2007 2010 2015 2020 2025 2030
Ju
ta
Ji
w
a
Jawa Sumatera Kalimantan Sulawesi Pulau Lainnya Gambar 4. 1 Proyeksi perkembangan populasi per wilayah
4. 2 Produk Domestik Bruto
Nilai Produk Domest ik Brut o (PDB) merupakan salah sat u penggerak kebut uhan energi. Ant ara PDB dan kebut uhan ener gi t erdapat hubungan yang saling mempengaruhi. Dengan adanya akt ivit as ekonomi maka akan t ercipt a permint aan energi dari konsumen energi, baik di sisi akhir (end use) maupun sebagai penghubung (i nt er medi at e). Sebal iknya, permint aan energi menyebabkan t erj adinya akt ivit as yang berdampak ekonomi. Konsumen energi akhir (end-use) meliput i sekt or indust ri, t ransport asi, komersial dan rumah t angga, dan sekt or lainnya sepert i pert anian, konst ruksi dan pert ambangan. Sement ara it u, konsumen energi di sisi penghubung ant ara lain dapat berupa pembangkit list rik, proses energi, dan t ransport asi energi.
Pert umbuhan ekonomi Indonesia pada t ahun 2007 sebagaimana t ercermin mel al ui pert umbuhan PDB mencapai 6, 28%, t ahun 2008 sebesar 6, 06%, t et api pada t ahun 2009 t urun menj adi 4, 5%. Berdasarkan anal isis dari ekonom pada Gl obal Resear ch St andar d Char t er ed Bank (SCB), ekonomi Indonesia pada t ahun 2010 diperkirakan dapat t umbuh hingga ke t ingkat 5, 5%, meningkat menj adi 6, 5% pada t ahun 2011, dan bahkan mencapai 7% pada t ahun 2011 (Kont an, 18 Januari 2010). Pada awal nya, RAPBN 2010 memat ok t arget pert umbuhan ekonomi sebesar 5, 5% yang kemudian direvisi pada APBN-P 2010 menj adi sebesar 5, 8%. Peluang pert umbuhan ekonomi yang lebih opt imist is yakni 5, 9% pada t ahun 2010 dikemukakan ol eh penel it i dari Pusat Penel it an Ekonomi LIPI. Dal am real isasinya hingga Mei 2010, pert umbuhan ekonomi
Indonesia pada Triwulan I mencapai 5, 7% dan diperkirakan pada Triwulan II dapat l ebih baik dari Triwul an I (Media Indonesia, 12 Mei 2010).
Pada kaj ian Out l ook Energi Indonesia 2010, pert umbuhan ekonomi t ahun dasar (2007) menggunakan besaran 6, 28%, set el ah it u bert urut -t urut adal ah 6, 06% pada t ahun 2008 dan 4, 5% pada t ahun 2009. Sel anj ut nya, mul ai t ahun 2010, pert umbuhan ekonomi Indonesia menggunakan dua asumsi, yakni asumsi pert umbuhan rendah dan asumsi pert umbuhan t inggi. Unt uk asumsi rendah digunakan angka pert umbuhan ekonomi sebesar 5, 5% per t ahun mulai dari 2010 hingga t ahun 2030. Sement ara it u, unt uk angka pert umbuhan t inggi digunakan t ingkat pert umbuhan sebesar 7% per t ahun. Dengan laj u pert umbuhan t ersebut , maka besarnya PDB nasional diperkirakan t umbuh dari Rp. 1. 963 t riliun (2007) menj adi Rp. 6. 697 t riliun pada t ahun 2030 unt uk asumsi pert umbuhan rendah dan menj adi Rp. 9. 009 t riliun unt uk asumsi pert umbuhan t inggi.
Unt uk menent ukan proyeksi PDB secara sekt oral digunakan dat a hist orikal dari t ahun 2000-2007 sebagai acuan unt uk melakukan regresi dalam rangka menent ukan pert umbuhannya di masa depan. Dalam melakukan regresi diasumsikan bahwa masing-masing sekt or bersif at independen. Pemilihan t eknik regresi dit ent ukan at as dasar simpangan (er r or) t erkecil . Sekt or-sekt or selain sekt or pert ambangan dan galian, indust ri logam dasar, besi dan baj a, pengangkut an angkut an rel diregresi secara linier. Sement ara it u, sekt or- sekt or selain pert ambangan dan galian, indust ri logam dasar, besi dan baj a, pengangkut an-angkut an rel diregresi menggunakan pol inomial orde 2 (dua). Hasil regresi PDB sekt oral menent ukan pert umbuhan masing-masing sekt or t iap t ahun yang dij adikan ref erensi. Ket ika dit erapkan suat u skenario dengan asumsi pert umbuhan PDB t ot al (unt uk semua sekt or) t ert ent u (misal 5, 5% at au 7% per t ahun) maka nilai pert umbuhan PDB ref erensi dikoreksi secara proporsional t erhadap selisihnya.
Pert umbuhan PDRB masing-masing wilayah diproyeksikan dengan mengacu pada pert umbuhan PDB nasional. Pangsa masing-masing wilayah dit ent ukan dengan mempert imbangkan dat a hist orikal t ahun 2000-2007 yang diregresi unt uk memperkirakan pert umbuhan PDRB masing-masing wil ayah di masa depan. Disamping it u, asumsi pert umbuhan j uga mempert imbangkan t ersedianya berbagai inf rast rukt ur secara memadai yang dapat menyebabkan akt ivit as ekonomi di wilayah t ersebut dapat berj alan secara maksimal.
Berdasarkan dat a hist orikal dari t ahun 2000-2007, rat a-rat a pert umbuhan ekonomi wilayah Jawa dan Sumat era sekit ar 4, 5% per t ahun, wil ayah Sulawesi sekit ar 5, 6% per t ahun, wil ayah Kal imant an sekit ar 3, 1% per t ahun dan wil ayah pulau lainnya mencapai 3, 9% per t ahun.
Unt uk skenario rendah, pert umbuhan PDRB wilayah Jawa dan Sumat era diperkirakan sekit ar 5, 6%, Sulawesi yang merupakan wil ayah kaya t ambang mineral, gas bumi, dan panas bumi memiliki pot ensi menarik invest asi unt uk pert umbuhan ekonomi. Diperkirakan Sul awesi akan mengal ami pert umbuhan rat a-rat a sekit ar 6, 1% per t ahun. Sement ara it u, Kalimant an dan pulau lainnya
cenderung t umbuh secara lebih moderat dengan rat a-rat a pert umbuhan per t ahun sekit ar 4, 5%.
Pada skenario pert umbuhan t inggi, diperkirakan t erdapat kecenderungan yang sama yakni wilayah Jawa dan Sumat era t umbuh seiring dengan pert umbuhan ekonomi nasional mengingat ekonomi kedua wilayah masih dominan. Kedua wilayah t ersebut diperkirakan akan t umbuh mendekat i pert umbuhan ekonomi nasional. Wilayah Kalimant an dan pulau lainnya diperkirakan t umbuh di bawah pert umbuhan rat a-rat a nasional , sekit ar 6, 1%. Wilayah Sulawesi diperkirakan akan t umbuh lebih dari rat a-rat a nasional sekit ar 7%-8%. Proyeksi PDRB per wilayah Indonesia unt uk skenario rendah dan t inggi selama kurun wakt u 2007- 2030 dit unj ukkan pada Gambar 4. 2 dan Gambar 4. 3.
Gambar 4. 2 Proyeksi PDRB per wilayah Indonesia untuk skenario rendah
4. 3 Intensitas Energi Terhadap PDB dan Populasi
Indikat or yang dapat dipakai unt uk menggambarkan hubungan ant ara konsumsi energi t erhadap ekonomi dan kependudukan adal ah paramet er int ensit as energi. Konsumsi energi t erhadap ekonomi digambarkan sebagai int ensit as energi t erhadap PDB, sedangkan konsumsi energi t erhadap penduduk dinyat akan dalam int ensit as energi per kapit a. Dalam kaj ian Out look Energi Indonesia 2010, prakiraan int ensit as energi didasarkan pada proyeksi kebut uhan energi sesuai model yang digunakan.
4. 3. 1 Intensitas Energi Terhadap PDB
Int ensit as energi t erhadap PDB menggambarkan j uml ah energi yang diperlukan unt uk menghasilkan produkt if it as ekonomi pada t ingkat t ert ent u. Dalam pengert ian lain, rasio PDB t erhadap pemanf aat an energi (yang merupakan invers dari int ensit as energi t erhadap PDB) menggambarkan ef isiensi energi ekonomi suat u negara dalam memanf aat kan energi sehingga mencapai suat u t ingkat produksi t ert ent u. Gambaran umum ef isiensi energi ekonomi (invers dari int ensit as energi t erhadap PDB) pada berbagai negara-negara maj u dan negara-negara ASEAN dit unj ukkan pada Gambar 4. 4.
Sumber: Diolah dari Dat a Bank Dunia t ahun 2007
Gambar 4. 4 Perbandingan efisiensi energi terhadap PDB per kapita untuk beberapa negara
Int ensit as energi t erhadap PDB menggunakan skenario t inggi di Indonesia sel ama kurun wakt u 2007–2030, dipert imbangkan menggunakan dua kasus harga minyak pada skenario pert umbuhan ekonomi rendah dan t inggi.
Unt uk t ahun 2007-2009, harga minyak bumi menggunakan harga akt ual , yakni bert urut -t urut 60 $/ barel , 94, 5 $/ barel , dan 70 $/ barel . Sel anj ut nya, mul ai t ahun 2010-2030 harga minyak bumi diasumsikan sebesar 60 $/ barel unt uk kasus harga minyak rendah dan 90 $/ barel unt uk kasus harga minyak t inggi. Pada kurun wakt u 2007-2009, int ensit as energi t erhadap PDB meningkat sej alan dengan naiknya konsumsi ener gi karena naiknya konsumsi energi diimbangi oleh t urunnya PDB nasional . Set el ah t ahun 2010, l aj u pert umbuhan kebut uhan energi diperkirakan lebih rendah daripada pert umbuhan PDB yang diasumasikan sehingga rasio konsumsi energi t erhadap PDB menurun dari t ahun ke t ahun. Model permint aan energi yang dikembangkan menggunakan prinsip bahwa akt ivit as diperkirakan akan t urun j ika harga energi (dal am hal ini dicerminkan oleh harga minyak bumi) mengal ami kenaikan. Dengan demikian pada kasus harga minyak t inggi, konsumsi energi diproyeksikan akan t urun lebih cepat sehingga int ensit as energi t erhadap PDB pada kasus harga minyak t inggi (90 $/ barel) akan t urun lebih drast is daripada yang t erj adi pada kasus harga minyak rendah (60 $/ barel)
Naiknya pert umbuhan ekonomi (PDB) akan meningkat kan kebut uhan energi at au konsumsi energi di masa mendat ang. Namun demikian, diharapkan produkt if it as ekonomi meningkat lebih t inggi lagi. Akibat nya, int ensit as energi t erhadap PDB menurun lebih cepat at au menj adi lebih rendah daripada int ensit as energi pada skenario pert umbuhan PDB yang lebih rendah. Di lain pihak, pada kasus harga minyak t inggi, permint aan energi diperkirakan akan t urun (sesuai model kebut uhan energi). Akibat nya, unt uk skenario pert umbuhan PDB yang sama, int ensit as energi t erhadap PDB pada kasus harga minyak t inggi diperkirakan menj adi lebih kecil daripada int ensit as energi pada kasus harga minyak rendah.
Kenaikan pert umbuhan PDB menj adi penggerak naiknya int ensit as energi karena kecenderungan naiknya permint aan energi akibat meningkat nya ekonomi. Sement ara it u, perubahan harga minyak rendah menj adi t inggi mengakibat kan t urunnya akt ivit as sehingga permint aan energi diperkirakan t urun sehingga berakibat pada t urunnya int ensit as yang diperkirakan di masa depan.
Pada t ahun 2007 nil ai int ensit as energi per PDB sebesar 0, 41 SBM/ j ut a Rp unt uk konsumsi energi f inal kesel uruhan (t ermasuk biomassa). Hingga t ahun 2030, unt uk kasus dasar dengan skenar io pert umbuhan ekonomi rendah dan harga minyak bumi 60 $/ barel int ensit as energi per PDB diperkirakan t urun menj adi 0, 33 SBM/ j ut a Rp. Int ensit as energi per PDB j uga mengalami penurunan unt uk ket iga kasus lainnya, yakni pada kasus R90 menj adi 0, 30 SBM/ j ut a Rp. Pada kasus T60 int ensit as energi per PDB diperkirakan akan naik kemudian t urun kembali menj adi 0, 30 SBM/ j ut a Rp (T60). Di lain pihak int ensit as energi per PDB unt uk kasus T90 diperkirakan t urun menj adi 0, 27
SBM/ j ut a Rp (T90). Adanya penurunan int ensit as dalam perkembangannya diperkirakan t idak hanya disebabkan ol eh t urunnya kebut uhan energi akibat permint aan yang menyusut (sesuai model kebut uhan) t et api j uga disebabkan oleh meningkat nya daya beli masyarakat sej alan dengan perbaikan ekonomi. Dalam kondisi daya beli yang lebih baik masyarakat menj adi lebih mampu memanf aat kan t eknol ogi yang l ebih ef isien sert a energi komersial dibandingkan memanf aat kan biomassa sehingga pemanf aat annya menurun. Penurunan int ensit as energi unt uk masing-masing skenario dari t ahun 2009- 2030 adal ah rat a-rat a sebesar 1, 44% per t ahun (R60), 1, 89% per t ahun (R90), 0, 49% per t ahun (T60), dan 0, 95% per t ahun (T90). Sesuai dengan model dan asumsi yang dit erapkan, maka pada t ahun 2010 diperkirakan t erj adi penurunan int ensit as (pert umbuhan negat if ) unt uk kasus harga minyak t inggi (90 $/ barel) baik pada skenario pert umbuhan rendah maupun t inggi. Hal ini adalah karena diperkirakan t erj adi penurunan kebut uhan energi akibat penyusut an permint aan pada harga minyak t inggi. Di lain pihak, pert umbuhan ekonomi yang diasumsikan t et ap posit if . Unt uk kasus R90 dan T90, penurunan int ensit as pada t ahun 2010 masing-masing diperkirakan sebesar 7, 3% dan 6, 7%. Gambar 4. 5 menyaj ikan prakiraan int ensit as energi per PDB unt uk keseluruhan j enis energi (t ermasuk biomassa).
Gambar 4. 5 Prakiraan intensitas pemakaian energi keseluruhan (termasuk biomasa) terhadap PDB
Int ensit as energi per PDB unt uk konsumsi energi f inal komersial pada t ahun 2007 adalah sebesar 0, 29 SBM/ j ut a Rp. Berdasarkan kasus dasar, prakiraan int ensit as energi per PDB t idak berubah secara signif ikan pada t ahun 2030. Penurunan int ensit as dari t ahun 2009-2030 diperkirakan menj adi 0, 26 SBM/ j ut a Rp at au mengalami penurunan rat a-rat a sebesar 1. 05%. Sement ara it u, unt uk kasus R90, int ensit as energi per PDB mengalami penurunan sebesar 1, 53% per t ahun menj adi 0, 24 SBM/ j ut a Rp. Penurunan int ensit as energi per PDB j uga t erj adi pada kasus T90, yait u sebesar 0, 41% per t ahun menj adi 0, 31 SBM/ j ut a Rp pada t ahu 2030 (skenario T90). Sement ara it u, unt uk skenario T60 diperkirakan nilai int ensit as akan kembali ke nilai semula yait u 0, 33 SBM/ j ut a Rp pada t ahun 2030.
Sesuai dengan sif at pemodelan maka pert umbuhan konsumsi energi diperkirakan akan l ebih rendah daripada pert umbuhan ekonomi. Hal ini adal ah inheren di dalam pemodelan dimana pert umbuhan ekonomi menj adi penggerak daripada pert umbuhan kebut uhan energi. Dengan meningkat nya PDB maka diharapkan proses pembangunan menuj u pada produkt if it as yang semakin t inggi dan ef isien. Dengan demikian, int ensit as energi t erhadap PDB diperkirakan akan cenderung t urun dimasa depan.
Dari perhit ungan yang dilakukan, diket ahui bahwa nilai pert umbuhan PDB yang lebih t inggi akan menghasilkan int ensit as energi t erhadap PDB lebih besar daripada int ensit as pada pert umbuhan PDB yang lebih rendah unt uk harga minyak yang sama. Hal ini adal ah karena dengan meningkat nya pert umbuhan ekonomi maka konsumsi energi diperkirakan akan ikut naik. Sebaliknya, pada t ingkat pert umbuhan PDB yang sama j ika harga minyak naik maka t erj adi penyusut an permint aan energi sehingga nil ai int ensit as energi t erhadap PDB akan t urun. Int ensit as energi t erhadap PDB unt uk konsumsi energi komersil pada semua kasus dit unj ukkan pada Gambar 4. 6.
Gambar 4. 6 Prakiraan intensitas pemakaian energi komersial terhadap PDB 4. 3. 2 Intensitas Energi Final Terhadap Populasi
Jumlah dan akt ivit as penduduk dan j umlahnya merupakan salah sat u penggerak daripada pola dan besaran konsumsi energi dimasa depan. Sej alan dengan pert umbuhan ekonomi, maka akt ivit as dan pola konsumsi penduduk yang j uml ahnya meningkat akan meningkat kan permint aan energi yang selanj ut nya akan meningkat kan int ensit as pemakaian energi di Indonesia. Dengan demikian, int ensit as energi t erhadap popul asi mencerminkan t ingkat pendapat an per kapit a. Saat ini, int ensit as pemakaian energi f inal per kapit a di Indonesia masih rendah dibandingkan dengan negara-negara maj u.
Sej alan dengan pert umbuhan penduduk, maka perbaikan ekonomi merupakan sesuat u yang diupayakan t ercapai. Berdasarkan prakiraan pert umbuhan penduduk sekit ar 1, 36% yang j auh lebih kecil darpada pert umbuhan PDB, baik sesuai skenario pert umbuhan rendah (5, 5% per t ahun) maupun skenario t inggi t inggi (7% per t ahun) maka dapat diperkirakan bahwa int ensit as energi per kapit a akan t erus naik di masa depan.
Pada t ahun 2007 int ensit as energi f inal per kapit a sebesar 3, 54 SBM/ kapit a unt uk konsumsi energi dengan biomassa dan 2, 52 SBM/ kapit a unt uk konsumsi energi komersil. Hingga t ahun 2030, berdasarkan kasus dasar (R60) prakiraan int ensit as energi per kapit a meningkat menj adi 7, 24 SBM/ kapit a unt uk konsumsi energi dengan biomassa dan 5, 81 SBM/ kapit a unt uk konsumsi energi komersil. Selama kurun wakt u 2009-2030 int ensit as energi per kapit a mengalami pert umbuhan rat a-rat a sebesar 2, 59% per t ahun unt uk konsumsi energi dengan biomassa pada kasus dasar (R60). Sement ara it u, berdasarkan kasus R90, T60, dan T90, int ensit as energi mengalami pert umbuhan rat a-rat a bert urut -t urut sebesar 2, 12%, 3, 58% dan 3, 09% per t ahun.
Int ensit as energi per kapit a unt uk konsumsi energi komersil sesuai kasus R60, R90, T60, dan T90 bert urut -t urut mengal ami pert umbuhan rat a-rat a sebesar 2, 99%, 2, 49%, 4, 09%, dan 3, 66%. Pert umbuhan int ensit as energi unt uk pemanf aat an energi f inal keseluruhan (t anpa biomassa) lebih rendah daripada pemanf aat an energi komersil.
Dari int ensit as energi per kapit a unt uk t iap skenario, dapat diket ahui bahwa perubahan pert umbuhan PDB dari 5, 5% menj adi 7% memberikan kenaikan int ensit as energi per kapit a sekit ar 22% pada konsumsi energi f inal keseluruhan (dengan biomassa) dan 25%-27% unt uk konsumsi energi t anpa biomassa. Sedangkan perubahan harga minyak dari 60 $/ barel menj adi 90 $/ barel akan menurunkan pert umbuhan int ensit as energi per kapit a sebesar 9%-10%.
Hal ini menunj ukkan bahwa pengaruh perubahan pert umbuhan PDB l ebih besar daripada perubahan harga minyak. Perubahan pert umbuhan PDB berpengaruh pada peningkat an int ensit as energi per kapit a (pemakaian energi), sedangkan harga minyak yang t inggi akan menurunkan int ensit as energi per kapit a. Hal ini menunj ukkan bahwa kedua paramet er ekonomi ini sangat mempengaruhi daya guna energi sert a gaya hidup pengguna energi di berbagai sekt or.
Prakiraan int ensit as energi t erhadap populasi unt uk konsumsi energi f inal dengan biomassa dit unj ukkan pada Gambar 4. 7, sedangkan prakiraan int ensit as energi t erhadap populasi unt uk konsumsi energi f inal komersial dit unj ukkan pada Gambar 4. 8.
0.0 1.0 2.0 3.0 4.0 5.0 6.0 7.0 8.0 9.0 10.0 2007 2009 2011 2013 2015 2017 2019 2021 2023 2025 2027 2029 S B M /k a p it a
Kasus R60 Kasus R90 Kasus T60 Kasus T90
Gambar 4. 7 Prakiraan intensitas pemakaian energi final keseluruhan (termasuk biomasa) terhadap penduduk
0.0 1.0 2.0 3.0 4.0 5.0 6.0 7.0 8.0 2007 2009 2011 2013 2015 2017 2019 2021 2023 2025 2027 2029 S B M /k a p it a
Kasus R60 Kasus R90 Kasus T60 Kasus T90
Gambar 4. 8 Prakiraan intensitas pemakaian energi final komersial terhadap penduduk
4. 3. 3 Intensitas Pemanfaatan Listrik Terhadap Populasi
Disamping indikat or-indikat or di at as, indikat or yang lazim digunakan adalah int ensit as pemakaian list rik per kapit a. Int ensit as pemakaian list rik pada t ahun 2007 sebesar 537 kWh per kapit a. Dengan meningkat nya PDB dan j umlah penduduk, maka diperkirakan int ensit as energi list rik akan t erus naik. Perhit ungan int ensit as pemakaian list rik pada masing-masing kasus mengikut i kecenderungan yang serupa dengan yang dial ami pada perhit ungan int ensit as