• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambaran Umum Sosekbudkesmas .1 Kependudukan

Dalam dokumen Laporan UKL UPL Rumah Sakit Siloam New (Halaman 57-71)

KONDISI UMUM RONA LINGKUNGAN AWAL

3.9 Gambaran Umum Sosekbudkesmas .1 Kependudukan

Pelaksanaan suatu proyek pembangunan secara langsung maupun tidak langsung akan berpengaruh secara linier dengan penduduk/masyarakat dan atau komunitas yang bermukim di sekitar wilayah perencanaan tersebut. Berpengaruh secara linier yang dimaksudkan bahwa terdapat pengaruh timbal balik antara obyek perencanaan/proyek terhadap berbagai varians dalam komunitas/masyarakat yang bersangkutan. Demikian pula sebaliknya, kondisi eksisting berbagai varians dalam komunitas/masyarakat yang bersangkutan dapat mempengaruhi perencanaan/ proyek. Pengaruh langsung yang dimaksudkan adalah keseluruhan resiko dan atau dampak yang langsung bersinggungan dengan pola-pola kehidupan komunitas; persepsi dan perspektif; sistem interaksi sosial sampai dengan struktur mata pencaharian penduduk. Pengaruh tidak langsung, lasimnya terdeskripsi abstrak dan dalam periode

yang lebih lama dan merupakan konsekuensi-konsekuensi ikutan dari yang disebutkan dengan pengaruh langsung.

a. Jumlah Penduduk

Penduduk Kota Kupang, secara makro merupakan komunitas dari berbagai suku, ras, agama, yang bukan saja berasal dari pulau-pulau di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Akan tetapi, juga mencakup berbagai komunitas di Indonesia. Bahkan termasuk komunitas dari Republik Demokrat Timor Leste, yang sebelumnya dikenal sebagai Timor Timur. Sebagai Ibu Kota Provinsi NTT, Kota Kupang merupakan kota dengan pertumbuhan penduduk paling tinggi, dibandingkan dengan ibukota kabupaten lainnya.

Jumlah penduduk Kota Kupang selalu mengalami penambahan setiap tahunnya. Pada tahun 2010 hasil dari Sensus Penduduk menunjukkan bahwa jumlah penduduk Kota Kupang sebanyak 336.239 jiwa yang tersebar di enam kecamatan. Pada tabel 32 dapat dilihat perkembangan jumlah penduduk Kota Kupang sejak tahun 2005 hingga tahun 2010.

Tabel 32. Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan Tahun 2005 - 2010

Kecamatan Jumlah Penduduk 2005 2006 2007 2008 2009 2010 1. Alak 39.625 43.473 43.981 45.945 45.803 51.230 2. Maulafa 50.757 53.974 55.379 55.944 55.853 66.851 3. Oebobo 103.153 105.882 111.006 111.140 114.979 79.675 4. Kota Raja - - - - - 47.876 5. Kelapa Lima 71.515 71.737 71.669 73.277 75.159 61.411 6. Kota Lama - - - - - 30.196 Kota Kupang 265.050 275.066 282.035 286.306 291.794 336.239

Sumber: Indikator Kesra Kota Kupang Tahun 2010, Hal. 14

Dari tabel 32 di atas dapat dilihat bahwa tahun 2010, penduduk Kota Kupang lebih banyak tersebar di Kecamatan Oebobo dan yang paling sedikit terdapat di Kecamatan Kota Lama. Pada tahun 2010, jumlah penduduk di Kecamatan Oebobo tercatat sebanyak 79.675 jiwa atau sebesar 23,70 persen dari penduduk Kota Kupang dan di Kecamatan Kota Lama terdapat 30.196 jiwa atau sebesar 8,98 persen. Banyaknya fasilitas penunjang pembangunan seperti misalnya fasiltas pendidikan dari tingkat pra sekolah hingga pendidikan tinggi,

pertokoan, kantor-kantor pemerintahan yang terdapat di Kecamatan Oebobo mempengaruhi keputusan penduduk untuk tinggal di kecamatan ini agar dekat dengan fasilitas-fasilitas tersebut.

b. Kepadatan Penduduk

Kepadatan penduduk menggambarkan rata-rata banyaknya penduduk yang mendiami suatu wilayah (yang diukur dengan satuan km²). Angka Kepadatan Penduduk merupakan perbandingan antara jumlah penduduk di suatu wilayah dengan luas wilayah tersebut. Luas Kota Kupang yang tercatat 165,34 km² (Bappeda Kota Kupang) dengan jumlah penduduk sebanyak 336.239 jiwa. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa kepadatan penduduk Kota Kupang tahun 2009 adalah 2.034 jiwa per km².

Tabel 33. Luas Wilayah dan Kepadatan Penduduk Menurut Kecamatan Tahun 2006 - 2010

Kecamatan Luas Wilayah (Km²) Kepadatan Penduduk 2006 2007 2008 2009 2010 1. Alak 70,40 500 506 529 527 728 2. Maulafa 55,67 985 1.011 1.021 1.019 1.183 3. Oebobo 14,72 5.211 5.463 5.469 5.658 5.413 4. Kota Raja 6,19 - - - - 7.734 5. Kelapa Lima 15,31 3.933 3.929 4.017 4.121 4.011 6. Kota Lama 3,05 - - - - 9.900 Kota Kupang 165,34 1.526 1.565 1.588 1.619 2.034

Sumber: Indikator Kesra Kota Kupang Tahun 2010, Hal. 19

c. Komposisi Umur dan Jenis Kelamin

Komposisi penduduk menurut kelompok umur dan jenis kelamin merupakan salah satu informasi penting karena perspektif demografis serta karakteristiknya berbeda menurut kelompok umur dan jenis kelamin baik untuk kelahiran, kematian maupun perpindahan penduduk. Komposisi penduduk di Kota Kupang tahun 2010 tertinggi pada kelompok umur 25-59 tahun yaitu sebesar 42,40 persen. Pada kelompok umur paling sedikit untuk laki-laki pada kelompok umur 60 tahun ke atas

yaitu sebesar 4,69 persen dan untuk perempuan pada kelompok umur yang sama yaitu sebesar 5,32 persen. Pada Tabel 1.3, dapat kita simak prosentase penduduk Kota Kupang yang menggambarkan komposisi penduduk menurut jenis kelamin dan kelompok umur di Kota Kupang.

Komposisi penduduk menurut kelompok umur dan jenis kelamin, secara sengaja ditampilkan dalam konteks 5 (lima) klasifikasi, yaitu: Usia Balita (0-4 tahun); Usia Sekolah Dasar dan Menengah (5-19 tahun); Usia Sekolah Pendidikan Tinggi (19-24 tahun); Usia Produktif (25-59 tahun); dan Usia Pensiun (60 tahun ke atas). Hal ini dimaksudkan agar deskripsi ini memudahkan telaahan beban komposisi penduduk antara usia sekolah, usia produktif dan pasca produktif. Walaupun dalam berbagai analisis, belum terdapat suatu pembakuan klasifikasi usia untuk menghitung beban tanggungan hidup dimaksud.

Tabel 34. Persentase Penduduk Kota Kupang Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Tahun 2010

Kelompok Umur

Jenis Kelamin Persentase

Laki - laki Perempuan Laki-laki+

Perempuan ( % ) ( % ) ( % ) 0 - 4 9,55 8,40 8,97 5 - 19 30,59 30,24 30,42 20 - 24 13,37 13,02 13,19 25 - 59 41,78 45,01 42,40 60 + 4,69 5,32 5,01 J u m l a h 100,00 100,00 100,00

Sumber: Indikator Kesra Kota Kupang Tahun 2010, Hal. 24 (olahan)

Angka beban tanggungan hidup (Dependency Ratio) menggambarkan beban tanggungan ekonomi penduduk usia produktif (15-64 tahun) terhadap kelompok usia muda (0-14 tahun) dan usia tua (65 tahun ke atas). Angka beban tanggungan hidup terbagi menjadi dua jenis yaitu angka beban tanggungan hidup penduduk muda (youth dependency ratio/ydr) untuk kelompok umur (0-14 tahun) dan angka beban tanggungan hidup penduduk lanjut usia (old dependency ratio/odr) untuk kelompokumur (65 tahun ke atas). Rincian angka beban tanggungan hidup dapat dilihat pada tabel 35.

Tabel 35. Angka Beban Tanggungan Hidup (Dependency Ratio) Menurut Jenis Kelamin Tahun 2010

Jenis Kelamin Dependency Ratio (DR)

YDR ODR DR

Laki-laki 41,67 3,99 45,67

Perempuan 38,27 4,27 42,55

Laki-laki+Perempuan 39,96 4,13 44,09

Sumber: Indikator Kesra Kota Kupang Tahun 2010, Hal. 26

Angka Beban Tanggungan Hidup di Kota Kupang pada tahun 2010 sebesar 44,09 yang berarti 100 orang penduduk usia produktif di Kota Kupang menanggung beban hidup 44 orang penduduk usia nonproduktif. Angka Beban Tanggungan Hidup Laki-Laki dan Perempuan di Kota Kupang tahun 2010 masing-masing sebesar 45,67 dan 42,55.

3.9.2 Pendidikan

Pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan masyarakat yang memiliki peran dalam peningkatan kualitas hidup. Semakin tinggi tingkat pendidikan suatu masyarakat akan semakin baik pula kualitas sumber dayanya. Dalam pengertian praktis, pendidikan merupakan upaya sadar seseorang untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan memperluas wawasan. Pada dasarnya pendidikan yang diupayakan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat dan keluarga. Pemerataan kesempatan pendidikan diupayakan melalui penyediaan sarana dan prasarana belajar seperti gedung sekolah dan penambahan tenaga pengajar.

a. Status Pendidikan

Indikator pendidikan khususnya tentang status pendidikan dalam suatu masyarakat menggambarkan keadaan tentang penduduk yang sedang bersekolah, belum pernah bersekolah maupun yang sudah selesai bersekolah. Pada tahun 2010 penduduk usia 10 tahun ke atas mayoritas sudah tidak bersekolah lagi yaitu sebesar 61,75 persen. Sedangkan yang tidak atau belum pernah bersekolah berada pada posisi yang minoritas yaitu hanya sebesar 3,21 persen. Kelompok umur yang sama sedang bersekolah sebesar 35,04 persen. Data tentang keadaan

status bersekolah penduduk usia 10 tahun ke atas di Kota Kupang dapat dilihat pada tabel 36.

Tabel 36. Persentase Penduduk 10 Tahun Ke Atas Menurut Jenis Kelamin dan Status Pendidikan

Status Sekolah

Jenis Kelamin

Laki-laki Perempuan Laki-laki +

Perempuan

(%) (%) (%)

Tidak/Belum Pernah Sekolah 3,04 3,38 3,21 Sekolah Dasar 13,21 13,53 13,37 Sekolah Lanjutan Pertama 5,51 5,29 5,40 Sekolah Lanjutan Atas 8,26 5,78 7,00 Perguruan Tinggi 8,82 9,70 9,27 Tidak Bersekolah Lagi 61,16 62,33 61,75

Jumlah 100,00 100,00 100,00

Sumber: Indikator Kesra Kota Kupang Tahun 2010, Hal. 43

Selain menunjukkan status sekolah data tersebut juga membuktikan adanya pertambahan secara signifikan ke tingkat Sekolah Lanjutan Atas dan Pendidikan Tinggi. Hal ini menunjukkan Kota Kupang sebagai kota pendidikan yang berkonsekuensi tingginya penduduk dengan kelompok usia sekolah. Telaahan yang sama, juga akan terlihat dalam gambaran mengenai Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM) Kota Kupang.

b. Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM)

Angka Partisipasi Kasar (APK) menggambarkan persentase jumlah murid pada masing-masing jenjang pendidikan di suatu wilayah dibanding jumlah penduduk kelompok usia (7-12) tahun untuk SD, (13-15) tahun untuk SLTP dan (16-18) tahun untuk SLTA. Hal ini memungkinkan APK suatu wilayah di atas angka 100. APK jenjang pendidikan SD 126,18 persen menggambarkan bahwa usia sebagian murid SD berada di luar kelompok umur 7-12 tahun. Dapat diartikan bahwa anak-anak usia 5-6 tahun sudah masuk dalam pendidikan SD cukup besar di Kota Kupang. Begitu juga APK tingkat SLTP 116,99 menggambarkan bahwa anak usia 11-12 tahun cukup banyak sudah berada pada jenjang pendidikan SLTP. Sementara Angka

Partisipasi Murni (APM) menggambarkan kesesuaian antara usia dan jenjang pendidikan yang sedang diduduki di suatu wilayah. APM SD adalah persentase Murid SD usia 7-12 tahun dibagi dengan penduduk usia 7-12 tahun pada wilayah tersebut, begitupun kelompok umur 13-15 untuk SLTP dan kelompok umur 16-18 untuk SLTA. Seyogyanya semua penduduk usia sekolah bersekolah dan berada pada jernjang pendidikan sesuai dengan kelompok umur di atas maka, APM mencapai titik tertinggi yaitu 100,00 persen.

Tabel 37. Angka Partisipasi Murni (APM) dan Angka Partisipasi Kasar (APK) Kota Kupang Tahun 2010

Jenjang Pendidikan APK APM

Sekolah Dasar 126,18 103,25

Sekolah Lanjutan Pertama 116,99 80,70 Sekolah Lanjutan Atas 94,54 60,72 Sumber: Indikator Kesra Kota Kupang Tahun 2010, Hal. 49

Tabel 38. Angka Partisipasi Murni (APM) Perguruan Tinggi menurut Jenis Kelamin Tahun 2010

Usia Perguruan Tinggi ( 19 - 24 tahun )

Jenis Kelamin Jumlah

Laki-laki Perempuan Laki-laki+ Perempuan Non Perguruan Tinggi 62,43 59,51 60,89 Perguruan Tinggi 37,57 40,49 39,11

Jumlah 100,00 100,00 100,00

Sumber: Indikator Kesra Kota Kupang Tahun 2010, Hal. 49

c. Ijasah Tertinggi yang Dimiliki

Ijasah merupakan bukti otentik bagi seseorang yang menerangkan bahwa orang tersebut telah menyelesaikan pendidikan yang dijalaninya. Dengan data ijasah tertinggi yang dimiliki dapat dilihat tingkat kualitas sumber daya manusia yang terdapat di suatu wilayah.

Tabel 39. Persentase Penduduk 10 Tahun ke atas Menurut Jenis Kelamin dan Ijasah Tertinggi yang Dimiliki

Ijazah Tertinggi Jenis Kelamin Jumlah

Laki-laki Perempuan Laki-laki+

Perempuan (%) (%) (%) Tidak Punya 21,13 21,10 21,11 SD/MI/sederajat 16,79 19,57 18,20 SLTP/MT/sederajat/kejuruan 17,16 14,83 15,98 SMU/MA/sederajat 24,79 27,55 26,19 Sekolah Menengah Kejuruan 7,68 6,91 7,29

Diploma I/II 0,11 0,54 0,32

Diploma III/Sarmud 2,45 2,91 ,68

Diploma IV/S1 8,61 6,36 7,47

S2/S3 1,29 0,23 0,75

Jumlah 100,00 100,00 100,00

Sumber: Indikator Kesra Kota Kupang Tahun 2010, Hal. 51

Penduduk 10 tahun ke atas Kota Kupang tahun 2010 mayoritas memiliki ijasah SMU atau sederajat sebagai ijasah tertinggi yang dimiliki yaitu sebesar 26,19 persen. Sedangkan penduduk yang memiliki ijasah diploma I/II jumlahnya paling rendah yaitu sebesar 0,32 persen. Hal ini akan menandai besaran akumulasi pencari kerja di Kota Kupang adalah mayoritas dengan ijazah mayoritas.

Data lainnya yang berkaitan dengan pendidikan adalah kemampuan membaca dan menulis. Persentase penduduk usia 10 tahun ke atas di Kota Kupang tahun 2010 sebesar 81,23 persen, dimana dari jumlah tersebut sebesar 96,90 persen yang dapat menulis dan membaca huruf latin dan sisanya sebesar 3,10 persen tidak dapat membaca saja atau menulis saja atau tidak dapat membaca dan menulis huruf latin.

3.9.3 Kesehatan

Kondisi kesehatan merupakan bagian dari kesejahteraan rakyat yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Untuk mengukur tingkat kesehatan dan gizi kelompok masyarakat diperlukan suatu indikator yang relevan. Program pembangunan kesehatan dan gizi dikoordinasikan secara nasional oleh Departemen

Kesehatan. Upaya-upaya dalam usaha meningkatkan status kesehatan dan gizi harus dilakukan secara bersama oleh masyarakat, lembaga kemasyarakatan, pemerintah dan dunia usaha. Menurut pengertiannya kesehatan dan gizi merupakan salah satu aspek penting untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

a. Pengobatan

Berdasarkan jumlah penduduk yang mengalami keluhan kesehatan, 38,78 % mengaku bahwa mereka mengalami gangguan dalam melaksanakan kegiatan mereka sehari-hari. Sedangkan sisanya sebesar 61,22 % mengaku bahwa mereka tidak mengalami gangguan dalam kegiatan sehari-hari. Penduduk Kota Kupang yang mengalami keluhan kesehatan dan berobat sendiri terdapat sebesar 54,98 %. Persentase penduduk laki-laki yang mengalami keluhan kesehatan dan berobat sendiri sebanyak 55,05 % dan perempuan sebesar 54,90 %. Penduduk yang berobat sendiri, dominan dari mereka melakukan dengan menggunakan obat modern yaitu sebesar 90,79 %. Sedangkan dengan menggunakan obat tradisional sebesar 16,44 % dan lainnya sebesar 5,37 %.

Pada tabel 40 dapat dilihat secara rinci persentase penududuk menurut jenis kelamin dan jenis keluhan kesehatan yang dialami. Sedangkan dalam Tabel 41 terinci persentase penduduk yang pernah mengalami keluhan penyakit menurut jenis kelamin dan pengobatannya. Persentase ini merupakan angka rata-rata mengingat persebaran dan struktur sarana kesehatan yang tersedia pada masing-masing kecamatan dan kelurahan adalah bervariasi.

Tabel 40. Persentase Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Jenis Keluhan Kesehatan, Kota Kupang Tahun 2010

Jenis Keluhan

Jenis Kelamin Laki-laki+

Perempuan Laki-laki Perempuan ( % ) ( % ) ( % ) Panas 12,28 10,04 11,15 Batuk 22,83 21,60 22,21 Pilek 24,83 22,39 23,60 Asma 1,26 1,77 1,52 Diare 1,15 1,11 1,13

Sakit Kepala Berulang 5,06 5,52 5,29

Sakit Gigi 2,40 2,38 2,39

Lainnya 7,20 8,17 7,69

Sumber: Indikator Kesra Kota Kupang Tahun 2010, Hal. 67

Untuk segera sembuh dari penyakit yang sedang diderita, penduduk mencoba beberapa jenis pengobatan. Persentase penduduk Kota Kupang yang berobat jalan sebesar 35,37 persen. Persentase penduduk laki-laki yang berobat jalan sebesar 36,39 persen dan persentase penduduk perempuan yang berobat jalan sebesar 34,36 persen.

Tabel 41. Persentase Penduduk yang Pernah Mengalami Keluhan Penyakit Menurut Jenis Kelamin dan Apakah Pernah Berobat Jalan

Jenis Kelamin

Berobat Jalan

Jumlah

Pernah Tidak Pernah

( % ) ( % ) ( % )

Laki - laki 36,39 63,61 100,00

Perempuan 34,36 65,64 100,00

Laki-laki + Perempuan 35,37 64,63 100,00

Sumber: Indikator Kesra Kota Kupang Tahun 2010, Hal. 69

Dari persentase penduduk Kota Kupang yang berobat jalan sebesar 35,37%, dapat lagi dirinci berdasarkan tempat atau cara berobat yang dilakukan. Hal tersebut secara rinci dapat dilihat pada tabel 42.

Tabel 42. Persentase Penduduk yang Berobat Jalan Menurut Jenis Kelamin dan Tempat/Cara Berobat

Tempat/ Cara Berobat

Jenis Kelamin

Laki-laki Perempuan Laki-laki+ Perempuan (%) (%) (%) RS Pemerintah 13,75 14,96 14,35 RS Swasta 6,69 7,37 7,03 Praktek Dokter 28,85 19,77 24,31 Puskesmas/Pustu 45,44 47,83 46,63 Praktek Tenaga Kesehatan 0,98 2,86 1,92 Praktek Batra 0,98 2,86 1,92 Dukun Bersalin 1,66 2,18 1,92

Lainnya 1,66 2,18 1,92

Jumlah 100.00 100.00 100.00

Jumlah rumah tangga menurut ketersediaan jaminan kesehatan dalam berobat sebesar 61,84 % rumah tangga tahun 2010. Dari jumlah tersebut paling banyak rumah tangga memiliki jenis jaminan kesehatan berupa JPK/PNS/Veteran/Pensiunan yaitu sebesar 26,63 %. Selanjutnya adalah MM/Kartu Miskin sebesar 25,20 %. Secara lebih rinci dapat dilihat pada tabel 43.

Tabel 43. Persentase Rumah Tangga menurut Ketersediaan Jaminan Kesehatan Kota Kupang, Tahun 2010

Jenis Jaminan Kesehatan Persentase Rumah Tangga

JPK/PNS/Veteran/Pensiunan 26,63 Jamsostek 4,57 Kesehatan Swasta 3,61 Tunjangan Perusahaan 0,46 MM/Kartu Miskin 25,20 Dana Sehat 0,91 Lainnya 0,46 Jumlah 61,84

Sumber: Indikator Kesra Kota Kupang Tahun 2010, Hal. 72

b. Sarana Kesehatan

Pembangunan kesehatan terindikasi juga dari jumlah sarana dan prasarana kesehatan yang tersedia. Pada tabel 44 dan 45 dapat dilihat secara rinci jumlah sarana kesehatan yang ada di Kota Kupang pada tahun 2010.

Tabel 44. Jumlah Rumah Sakit menurut Kecamatan dan Statusnya Tahun 2010

Kecamatan Status Jumlah

Pemerintah Swasta TNI/Polri

1. Alak - - 1 1 2. Maulafa - - 1 1 3. Oebobo 1 - 1 2 4. Kota Raja - - 1 1 5. Kelapa Lima - - - - 6. Kota Lama 1 1 - 2 Kota Kupang 2 1 4 7

Tabel 45. Banyaknya Fasilitas Pelayanan Kesehatan Menurut Kecamatan dan Jenisnya Tahun 2010

Kecamatan Puskesmas Pustu Balai

Pengobatan Posyandu 1. Alak 2 12 - 61 2. Maulafa 2 6 3 62 3. Oebobo 2 4 1 47 4. Kota Raja 1 4 3 29 5. Kelapa Lima 1 4 2 40 6. Kota Lama 2 3 2 25 Kota Kupang 10 33 11 264

Sumber: Indikator Kesra Kota Kupang Tahun 2010, Hal. 80

3.10 Ketenagakerjaan

Dewasa ini data-data mengenai ketenagakerjaan semakin dibutuhkan, terutama untuk evaluasi perencanaan pembangunan di bidang ketenagakerjaan seperti peningkatan keterampilan tenaga kerja, perluasan kesempatan kerja dan berusaha serta produktivfitas tenaga kerja. Sehingga analisis mengenai kualitas sumber daya manusia (SDM) biasanya menempatkan faktor ketenagakerjaan sebagai salah satu dimensi yang vital.

Standar BPS untuk menunjukkan angkatan kerja, adalah yang didefinisikan sebagai penduduk usia kerja. Penduduk Usia Kerja: penduduk yang berumur 10 tahun ke atas. Hal standar umur ini, sejajar dengan penetapan standar umur untuk kriteria Angkatan Kerja. Angkatan Kerja adalah penduduk usia 10 tahun ke atas yang bekerja atau sedang mencari pekerjaan. Walaupun penetapan standard umur tersebut, secara substansif berbeda dengan standar umur yang ditetapkan untuk perhitungan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja, yang dimaksudkan adalah persentase angkatan kerja terhadap penduduk usia 15 tahun ke atas.

Konsep bekerja dalam konstelasi ketenagakerjaan adalah mereka yang melakukan kegiatan paling sedikit selama 1 jam selama seminggu dengan maksud memperoleh pendapatan atau keuntungan atau membantu memperoleh pendapatan atau keuntungan. Penganggur adalah mereka yang termasuk dalam angkatan kerja yang tidak bekerja tetapi mencari pekerjaan. Sedangkan yang dimaksudkan dengan

Tingkat Pengangguran Terbuka adalah perbandingan antara jumlah pencari kerja dengan jumlah angkatan kerja.

a. 71.97 % dan TPAK perempuan sebesar 47.30 %. Kegiatan Penduduk 15 Tahun ke Atas

Ketenagakerjaan dan kependudukan saling berhubungan antara satu dengan lainnya. Persentase dari jumlah penduduk usia 15 tahun ke atas yang bekerja adalah 52.31 %. Sementara jumlah penduduk usia 15 tahun ke atas yang sedang bersekolah sebanyak 17.96 %. Pada tabel 46 diuraikan penduduk usia 15 tahun ke atas menurut jenis kegiatan selama seminggu yang lalu dan jenis kelamin.

Tabel 46. Persentase Penduduk Umur 15 Tahun Keatas Menurut Jenis Kelamin dan Jenis Kegiatan Utama Selama Seminggu yang Lalu

Kegiatan Utama Seminggu yang Lalu

Jenis Kelamin

Laki-laki Perempuan Laki-laki+

Perempuan

(%) (%) (%)

Angkatan Kerja 71.97 47.30 59.84

Bekerja 65.62 38.55 52.31

Pengangguran 6.35 8.75 7.53

Bukan Angkatan Kerja 28.03 52.70 40.16

Sekolah 19.15 16.72 17.96

Mengurus Rumah Tangga 3.21 32.62 17.67

Lainnya 5.67 3.36 4.53

Jumlah 100.00 100.00 100.00

Sumber: Indikator Kesra Kota Kupang Tahun 2010, Hal. 69

b. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK)

Tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) merupakan ukuran yang diperoleh melalui perbandingan antara jumlah angkatan kerja terhadap jumlah penduduk usia 15 tahun ke atas. Persentase Angkatan Kerja Kota Kupang usia 15 tahun ke atas terhadap total penduduk pada tahun 2010 adalah sebesar 59.84 %. Sementara persentase Bukan Angkatan Kerja sebesar 40.16 %. Bila dirinci menurut jenis kelamin, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) laki-laki lebih besar dibandingkan dengan TPAK perempuan. TPAK laki-laki sebesar

c. Tingkat Pengangguran Terbuka

Menurut definisi, seseorang dikatakan bekerja apabila mereka melakukan pekerjaan dengan maksud untuk memperoleh pendapatan atau keuntungan dan lamanya bekerja paling sedikit 1 jam secara terus menerus selama seminggu yang lalu. Penduduk yang tidak bekerja tetapi sedang mencari pekerjaan disebut menganggur (unemployed). Jadi, pengangguran termasuk mereka yang tidak bekerja tetapi sedang mencari pekerjaan, telah diterima bekerja tetapi belum bekerja dan yang di PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) tetapi masih berkeinginan untuk bekerja. Angka Pengangguran Terbuka dihitung melalui perbandingan antara jumlah pencari kerja dengan jumlah angkatan kerja.

Jumlah penduduk usia 15 tahun ke atas yang menganggur di Kota Kupang pada tahun 2010 adalah sebesar 12,58 %. Jumlah ini terdiri dari 8,82 % penduduk laki-laki dan 18,49 % penduduk perempuan (Indikator Kesra Kota Kupang, Tahun 2010).

d. Pengeluaran Rata-rata Perkapita

Tingkat kesejahteraan masyarakat dapat digambarkan oleh jumlah pendapatan atau penghasilan dari masyarakat tersebut. Semakin besar tingkat pendapatan berarti tingkat kesejahteraan masyarakat semakin tinggi. Penghitungan pendapatan masyarakat sangat sulit untuk dilakukan pada suatu survei atau sensus. Oleh sebab itu, untuk menghitung tingkat pendapatan atau penghasilan suatu masyarakat dilakukan dengan menggunakan pendekatan terhadap jumlah pengeluaran terutama pengeluaran rumah tangga. Pengeluaran rumah tangga yang dimaksud dibedakan menurut jenisnya, yaitu pengeluaran rumah tangga untuk makanan dan non makanan. Selain dapat mengetahui jumlah pendapatan rumah tangga dari suatu masyarakat dapat pula diketahui pola konsumsi dari masyarakat. Dimana semakin rendah pengeluaran rumah tangga untuk makanan terhadap total pengeluaran, pola konsumsinya akan semakin baik.

Sebaliknya semakin tinggi pengeluaran rumah tangga untuk makanan terhadap total pengeluaran maka pola konsumsinya akan semakin buruk.

Penduduk Kota Kupang pada tahun 2010 sebagian besar tergolong dalam kelompok penduduk dengan jumlah pengeluaran perkapita per bulan Rp 500.000,00 ke atas sebesar 69,43 %. Sedangkan yang paling kecil terdapat pada kelompok dengan tingkat pengeluaran perkapita sebulan sebesar Rp 150.000,00 sampai dengan Rp 199.999,00 yaitu sebesar 0,25 %, sementara pengeluaran perkapita lebih kecil dari Rp 100.000,00 tidak ada. Secara akumulatif, tingkat pengeluaran perkapita sebulan antara Rp. 200.000,- sampai dengan Rp. 499.999,- adalah sebesar 29,84 %.

Rata-rata pengeluaran perkapita sebulan penduduk Kota Kupang tahun 2010 sebesar Rp 1,099,273. Dari jumlah tersebut 47.87 % atau sebesar Rp. 467,419 merupakan pengeluaran untuk makanan dan 52.13 % atau sebesar Rp. 632,273 adalah pengeluaran bukan makanan.

Dalam dokumen Laporan UKL UPL Rumah Sakit Siloam New (Halaman 57-71)