• Tidak ada hasil yang ditemukan

II TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Gambaran Usahatani Tebu

Ketua APTRI Daerah Jawa Barat, H. Anwar Asmali menyatakan bahwa Rendahnya harga gula saat ini dinilai tidak mampu merangsang petani tebu meningkatkan produktivitasnya sehingga program revitalisasi pabrik gula menghadapi ancaman kekurangan pasokan bahan baku2. Patokan harga gula yang kurang kompetitif dibandingkan harga komoditas lain seperti beras dan kedelai, dikhawatirkan akan mendorong petani beralih menanam tanaman komoditas lain sehingga mengancam keberhasilan program revitalisasi pabrik gula. Bahkan harga dasar gula untuk 2008 yang hanya sekitar berkisar Rp 4900/kg tidaklah realistis, hal tersebut akan menurunkan semangat petani bertanam tebu. Pihak APTRI menekankan bahwa harga yang realistis adalah Rp 5200/kg supaya petani tebu termotivasi menanam tebu agar kapasitas Pabrik Gula (PG) yang bertambah dapat dipenuhi. Direktur PT PG Rajawali II pun menekankan pentingnya petani tebu diberi rangsangan melalui harga gula yang baik sehingga tidak beralih menanam komoditas lain. Selain itu pihak Rajawali II pun menekankan pentingnya memacu

2 Diadaptasi dari artikel berjudul “Revitalisasi Pabrik Terkendala Rendahnya Harga Gula"

www.Antaranews .com. Tanggal Akses 18 April 2008

petani tebu meningkatkan produktivitasnya karena dengan program revitalisasi yang ada terkait akselerasi peningkatan produksi gula menyebabkan kapasitas giling PG pun meningkat. Rendahnya harga dasar gula ini dinilai pihak petani tidak mewakili aspirasi petani tebu yang ada.

Produksi Gula pasir hasil budidaya para petani tebu di Jawa Barat (Jabar) yang tersebar di 6 kabupaten yaitu Cirebon, Kuningan, Majalengka, Indramayu, Subang dan Sumedang di tahun 2006 mengalami peningkatan sekitar 6 persen dari tahun sebelumnya3. Kenaikan produksi gula tersebut dipacu oleh harga yang menarik di tingkat petani dimana pada posisi bulan juli 2006 harga gula Rp.5.125/kg sedangkan pada posisi bulan juli 2007 harga gula dapat mencapai Rp.5.300/kg . Fakta menunjukkan bahwa saat ini ketersediaan gula untuk konsumsi masyarakat Jawa Barat masih belum terpenuhi (tingkat kebutuhan gula per kapita pertahun sebesar 16 Kg). Dengan kondisi demikian maka akselerasi peningkatan Tebu di Jawa Barat harus tetap berlanjut yang antara lain melalui upaya peningkatan areal tebu dan peningkatan intensifikasi (termasuk bantuan modal dengan kredit lunak) pada tingkat on farm. Sedangkan pada tingkat off farm masih diperlukan upaya dana talangan untuk mempertahankan eksistensi

petani yang bersangkutan. Kondisi ini merupakan bahan pemikiran bagi pembuat kebijakan untuk meminimalisasi gula impor yang dapat mematikan semangat usahatani tebu di Indonesia.

Sementara itu ancaman kekeringan melanda ribuan hektar lahan tanaman tebu petani di wilayah Cirebon, Majalengka, Indramayu, dan Subang. Ketua DPD APTRI (Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia) Jabar memperkirakan krisis air

3 Diadaptasi dari artikel berjudul “Harga Gula Pasir Petani Tebu Jawa Barat" www.disbun jabar.com. Tanggal Akses 18 April 2008

merata hampir terjadi di seluruh areal lahan tebu Jabar yang terdapat di Cirebon, Majalengka, Indramayu, dan Subang4. Yang terburuk terjadi di Kabupaten Cirebon di mana kecamatan-kecamatan sentra lahan tebu sudah tidak memperoleh pasokan air secara memadai. Tingkat kematian tanaman tebu juga sangat tinggi.

Hasil pemantauan APTRI di tahun 2007 mencapai 50 persen. Kalau tidak segera diantisipasi, hal tersebut dapat mengancam produksi gula di sentra produksi tebu.

Kekeringan kali ini juga mengancam terjadinya penurunan rendemen tanaman tebu.

Untuk satu hektar, dengan rendemen di atas 7, penerimaan yang diraih petani mencapai rata-rata Rp 9 juta. Namun karena kekeringan, penerimaan tersebut menurun menjadi hanya sekitar Rp 6 juta. Para petani berusaha mempertahankan kelembaban tanah. Hal tersebut bertujuan menjadikan fisik tanaman tebu kuat. Untuk mengurangi dampak kekeringan akibat kemarau panjang, tebu juga memerlukan pupuk ekstra jenis ZA sebanyak 20 persen dari dosis rekomendasi5. Karena itulah kelangkaan pupuk membuat sejumlah petani frustrasi. Tanaman tebu mempunyai urutan perlakuan budidaya sangat ketat, sehingga pemupukan tidak bisa ditunda. Menunda pemupukan bisa berakibat fatal, baik terhadap perkembangan tanaman maupun hasil panen.

2.4 Sektor Pertebuan Era TRI Dibandingkan dengan Keadaan Sekarang Secara tidak langsung pasca keberadaan APTRI juga merupakan perubahan pada Sektor pertebuan Indonesia. Asosiasi Petani tebu Rakyat

4 Diadaptasi dari artikel berjudul “Kekeringan Mencemaskan Petani ".www.Pikiran Rakyat.Co.Id.

Tanggal Akses 18 April 2008

5 Diadaptasi dari artikel berjudul “Pupuk Langka, Produksi Gula 2007 terancam anjlok”

www.tempo.com. Tanggal Akses 20 April 2008

Indonesia (APTRI) didirikan berdasarkan musyawarah nasional (munas) tahun 2000 yang diinisiasi oleh Menteri Kehutanan dan Perkebunan masa itu di Surakarta (Sabil dalam Sunggono, B. et al, 2005). Akhirnya berakhir dengan terbentuknya Badan Koordinasi (BK)-APTRI, meskipun APTRI Wilayah kerja PTPN XI memutuskan berdiri sendiri di luar BK-APTRI namun hal tersebut dianggap tidak masalah karena dianggap sama-sama memperjuangkan kepentingan daripada petani tebu. Sistem pertebuan sebelum dan Sesudah berdirinya Asosiasi Petani tebu Rakyat Indonesia (APTRI) dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4 Sistem Pertebuan Sebelum dan Sesudah APTRI Didirikan

No Komponen Sistem Sebelum APTRI

Berdiri Setelah APTRI Berdiri 1 Pengadaan sarana

produksi tanaman (saprodi)

Disediakan oleh

Pabrik Gula Disediakan oleh petani pemilik lahan melalui kemitraan dan pengajuan kredit 2 Teknik budidaya Banyak memakai

sistem Reynoso

Mulai banyak mengadaptasi mekanisasi dalam teknik budidaya di lahan kering 3 Tebang-angkut Dilakukan pihak PG Dilakukan pihak PG

4 Penghitungan rendemen

Dilakukan pihak PG Dilakukan pihak PG namun sedang dirintis mendatangkan tim independen guna memperbaiki faktor koreksi 5 Pemasaran tebu atau

gula bagian petani Diserahkan kepada Badan Urusan Logistik (BULOG)

Melakukan mekanisme sistem dana talangan dan lelang gula sesuai keadaan pasar 6 Tarif bea masuk

(impor) gula

Pasca Letter Of Intent (LOI) Bea Masuk menjadi 0 persen

Sebelumnya sempat 20 persen untuk raw sugar dan 25 persen untuk white Sugar namun diubah menjadi Rp 550/kg untuk raw sugar, Rp 700/kg untuk white Sugar 7 Kredit

pengembangan tebu Kredit Bimas yang disalurkan melalui BRI

Kredit Ketahanan Pangan (KKP) yang berubah menjadi Kredit Ketahanan Pangan dan Energi (KKP-E)

8 Harga dasar gula

(provenue) Ditetapkan oleh

pemerintah Ditetapkan oleh pemerintah berdasarkan masukkan daripada tim harga dasar 9 Penyuluhan teknis Dilakukan oleh

Pabrik Gula Dilakukan PG bekerjasama dengan dinas terkait

10 Penentuan lahan Ditentukan oleh penjabat Bimas (Bimbingan Masyarakat)

Keinginan petani pemilik lahan sendiri untuk mengusahakan tebu

Sumber : Diolah dari berbagai sumber

Sebelum didirikannya APTRI, sistem pertebuan yang ada mengacu kepada Instruksi Presiden (Inpres) No. 9 Tahun 1975, yang kemudian dicabut pada tahun

1998. Meskipun ada era pasar bebas pada tahun 1998-2000 tanpa Bea Masuk, namun setelah APTRI berdiri regulasi baru terbentuk di era 2000-an, berbeda dan lebih memihak kepada petani tebu dalam berbudidaya tebu.

Sarana produksi tanaman (saprodi) merupakan input yang sangat penting bagi budidaya tebu. Pada masa Instruksi presiden (Inpres) No. 9 tahun 1975 terkait Tebu Rakyat Intensifikasi masih berlaku peranan Pabrik Gula (PG) dalam pengadaan saprodi masih sangat kental. PG menyediakan saprodi yang dibutuhkan bagi petani tebu. Ketika era TRI berakhir meskipun PG menjadi penjamin pinjaman (Kredit) kepada Bank terkait, namun tetap saja yang mengusahakan pengajuan kredit dalam bentuk pengadaan saprodi adalah petani tebu sendiri dengan memenuhi persyaratan tertentu. Tentu saja pasca keberadaan APTRI terlihat bahwa petani tebu dipancing untuk lebih aktif berperan dan kreatif, bukan hanya diberi dan pasif menerima.

Sementara untuk teknik budidaya pada era TRI sebelum APTRI ada banyak digunakan teknis baku budidaya dengan sistem Reynoso. Sistem tersebut digunakan karena pada masa TRI lahan yang digunakan untuk menanam tebu kebanyakan lahan sawah berpengairan. Masa TRI pun berlalu dan era sekarang pasca keberadaan APTRI sistem baku Reynoso menjadi tidak baku lagi karena sudah dipadu dengan alat-alat mekanik (mekanisasi) seperti traktor dalam membudidayakan tebu. Hal tersebut didukung pula oleh bergesernya lahan yang dimanfaatkan dari lahan sawah berpengairan menjadi lahan tegalan (kritis) yang tidak memiliki pengairan teknis. Kendala yang terjadi terkadang karena ketidakteraturan petani dalam menentukan berapa kali dampasan/tebang (maksimal 3 kali) pada tanaman tebu menyebabkan penurunan produktivitas

banyak terjadi, utamanya pada lahan tegalan, banyak petani masih melakukan dampasan lebih banyak daripada semestinya.

Menanam tebu menjadi menguntungkan pada petani ketika tanaman sudah menjadi dampasan (Ratoon Cane) 1 sampai 3, namun jika dampasan melebihi 3 potensi yang terjadi memang masih menguntungkan petani tetapi merugikan PG dari sisi pasokan yang berkurang akibat kondisi rendemen yang menurun seiring meningkatnya jumlah dampasan. Karena itu pergeseran pola dari lahan tebu sawah ke lahan tebu tegalan memang berpotensi menguntungkan petani, namun resiko yang timbul adalah tidak membaiknya rendemen akibat buruknya manajemen tanaman tebu salah satunya dari sisi jumlah dampasan yang diterapkan.

Sistem tebang-angkut-muat yang diterapkan sepenuhnya masih dilakukan oleh Pabrik Gula. Baik dulu ketika era TRI hingga sekarang fungsi kegiatan tebang-muat-angkut tebu milik petani dilakukan oleh pihak PG. Hal tersebut dipandang tidak bermasalah, namun terkadang jadwal yang dibuat dan diinformasikan oleh pihak PG kepada petani harus ditaati jangan sampai ada oknum PG di lapangan yang berbuat curang sehingga merugikan para petani tebu.

Selain itu pola-pola tebang-muat-angkut yang dilakukan oleh PG sebaiknya diinformasikan secara terbuka dan akurat kepada petani agar tidak ada kecurigaan dari para petani tebu.

Komponen penghitungan rendemen juga tidak jauh berbeda antara era TRI dengan pasca APTRI dibentuk. Penentuan angka besarnya rendemen yang didapat dari penggilingan hasil tebu milik petani dilakukan oleh PG. Hal tersebut sampai sekarang masih menjadi kendala mengingat rendahnya tingkat rendemen yang

dicapai oleh industri gula Indonesia. Khusus untuk APTRI daerah Jawa Barat di musim giling 2008 telah mendatangkan tim rendemen independen yaitu Lembaga Pendidikan Pergulaan (LPP) guna menghitung secara cermat gula hasil giling tebu di PG-PG daerah Jawa Barat. Hal tersebut diharapkan menjadi terobosan baru untuk setidaknya menjawab permasalahan rendemen yang rendah ini. Apakah memang inefisiensi PG yang menjadi kendala rendahnya rendemen ataukah budidaya tebu petani di lapangan yang masih harus dimaksimalkan.

Mengenai pemasaran gula bagian petani yang ada, pada era TRI diatur berdasarkan SK Menteri Perdagangan dan Koperasi No. 122/KP/III/1981 (Sabil dalam Sunggono, B., et al, 2005). berdasarkan SK tersebut Bulog ditetapkan sebagai pembeli tunggal atas seluruh produksi gula dalam negeri, juga merupakan importer gula tunggal. Kebijakan ini berakhir hingga tahun 1998 dengan dikeluarkannya Keppres No. 19 Tahun 1998 membuat Bulog hanya konsentrasi pada komoditi beras (Colosewoko dalam Sunggono, B. et al, 2005). Sejak tahun tersebut pemerintah melepaskan tata niaga kendali harga gula sesuai mekanisme harga pasar dengan dijamin harga dasar bahkan ditopang dengan konsep dana talangan (pasca keberadaan APTRI sekitar tahun 2001). Keberadaan mekanisme dana talangan dan sistem lelang membuat seluruh gula produksi petani dan PG dilelang satu pintu dimana gula bagian petani penjualannya diwakili APTRI daerah setempat (lampiran 1). Melalui dana talangan dapat diperoleh harga gula yang lebih terjamin bagi petani dengan berpatokan pada harga dasar pemerintah, dan melalui lelang diperoleh harga pasar yang layak dan diminati baik oleh petani melalui APTRI, PG, dan pihak pedagang.

Sementara Bea Masuk (BM) impor sebelum APTRI didirikan sangatlah rendah bahkan nihil yaitu 0 persen, pasca ditanda tanganinya Letter Of Intent (LOI) di tahun 1998. Namun pasca keberadaan APTRI, BM menjadi lebih baik yaitu 20 persen untuk raw sugar dan 25 persen berdasarkan Kepmenkeu No.

546/KMK.01/1997 dan No. 135/KMK.05/2000 di tahun 2000. kemudian diatur lebih spesifik melalui SK Memperindag No. 643/MPP/KEP/9/2002 tentang tataniaga gula white Sugar, menurut SK tersebut menjadi Rp 550/kg untuk raw sugar, Rp 700/kg untuk white Sugar (Sabil dalam Sunggono, B. et al, 2005).

Bahkan dengan keberadaan SK memperindag No. 643/MPP/KEP/9/2002 impor gula yang tadinya dapat dilakukan oleh Importer Umum (IU) beralih pada Importer Produsen (IP) yang terdaftar. Selain itu IP wajib menyangga harga gula petani pada tingkat Rp 3410.

Pengadaan kredit dilakukan oleh Bank BRI dengan kredit program Bimbingan masyarakat (Bimas) ketika era TRI yang disalurkan melalui Koperasi Unit desa setempat. Berbeda halnya selepas tahun 2000 dimana kredit pengembangan tebu rakyat pendanaannya bersumber dari Kredit Ketahanan Pangan (KKP) sebagaimana dimaksud dalam pasal 1 butir 11 Keputusan Menkeu Nomor 345/KMK.017/2000 tentang Pendanaan Kredit Ketahanan Pangan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Keputusan Menkeu Nomor 559/KMK.06/2004. namun format kredit tersebut berubah terhitung mulai tanggal 17 Juli 2007, ditetapkan Kredit Ketahanan Pangan dan Energi (KKP-E) melalui Peraturan Menkeu Nomor 79/PMK.05/20076 Peraturan tersebut ditetapkan dalam rangka menciptakan suatu skim dan mekanisme kredit yang tertib, terkendali,

6 Diadaptasi dari artikel berjudul “Kredit Ketahanan Pangan dan Energi” www.depkeu.go.id.

Tanggal Akses 21 April 2008

efektif, efisien, dan terpadu. Skim ini disalurkan melalui Koperasi terkait namun untuk sekarang pelaksanaannya masih dilakukan oleh PG selaku penjamin pinjaman.

Tingkat bunga KKP-E ditetapkan sebesar tingkat bunga pasar yang berlaku untuk kredit sejenis dengan ketentuan. Ketentuan tersebut yaitu untuk KKP-E pengembangan tebu paling tinggi sebesar suku bunga penjaminan simpanan pada Bank Umum yang ditetapkan oleh lembaga Penjamin simpanan ditambah 5%. Memang ada skim kredit lainnya yang rencananya juga bisa digunakan mendanai usahatani tebu rakyat namun baru keluar di tahun 2008 dan sudah mulai dapat dimanfaatkan pada musim tanam 2008/2009.

Harga dasar gula (provenue) sejak dulu ditetapkan oleh pemerintah, pada era TRI diperkuat dengan Keppres No. 43 Tahun 1971 yang secara otomatis menetapkan harga provenue melalui surat keputusan Menteri Keuangan. Pasca Inpres 9 tahun 1975 dicabut harga gula sempat jatuh karena diserahkan kepada mekanisme pasar tanpa perlindungan penetapan provenue (implikasi LOI).

Namun melalui Kepmenhutbun No. 282/kpts-IX/1999 tertanggal 7 Mei 1999 ditetapkan kembali provenue oleh pemerintah yaitu sebesar Rp 2500/kg pada saat itu. Pasca keberadaan APTRI selain pertimbangan diambil oleh pemerintah namun memperhitungkan Harga Pokok Produksi gula yang diperjuangkan oleh perwakilan petani yang duduk di Dewan gula Indonesia (DGI) yaitu Ketua BK-APTRI, dan Ketua APTRI. Hal tersebut bisa lebih menjamin harga dasar yang baik dapat diterima oleh petani.

Fungsi penyuluhan tetap dipegang oleh PG namun setelah era TRI PG juga dibantu oleh APTRI setempat. Selain itu terdapat juga Unit Pelaksana Teknis

Dinas (UPTD) pertanian, peternakan, dan perkebunan yang juga memiliki fungsi penyuluhan tanaman tebu di tingkat Wilayah Kerja PG. Penyuluhan yang ada diharapkan dapat meningkatkan kinerja produksi para petani tebu rakyat yang ada.

Terakhir masalah penentuan lahan, berdasarkan Inpres No. 9 tahun 1975 lahan yang digunakan untuk membudidayakan tebu ditentukan oleh penjabat Bimbingan Masyarakat (Bimas) dengan memperhatikan usulan PG dan pandangan petani melalui Koperasi Unit Desa (KUD). Pada era TRI tersebut kita mengenal istilah Glebagan yaitu tanah di suatu daerah dibagi tiga bagian, dan secara bergantian salah satu dari ketiga bagian tanah tersebut harus membudidayakan tebu ketika tiba waktu yang ditentukan. Setelah Inpres No. 9 tahun 1975 dicabut pada tahun 1998 jelas menanam tebu menjadi keinginan petani sendiri sehingga jika dianggap menguntungkan maka petani akan membudidayakan komoditi tersebut.