II TINJAUAN PUSTAKA
2.5 Industri Gula Nasional Berbasiskan Tebu
Sekertaris Jenderal Ikatan Ahli Gula Indonesia (IKAGI), Adig Suwandi memberikan pernyataan bahwa impor gula Indonesia masih sangat tergantung Thailand7. Alasannya selain faktor jarak angkutnya relatif dekat, harganya juga cukup kompetitif. Namun demikian, pengaruh global sebagai konsekuensi terjadinya penurunan produksi gula Uni Eropa (UE) dan Afro Carribean Pasific (ACP) jelas tidak bisa diabaikan. Kenyataan lain menunjukkan saat ini, Thailand mulai serius menggarap proyek bioethanol berbahan baku tebu menyusul semakin mahalnya harga minyak bumi. Sehingga dipastikan akan mereduksi produksi gula
7 Diadaptasi dari artikel berjudul “Bila Uni Eropa Hapus Subsidi, Peta Perdagangan Gula Akan Berubah”. www.infokomjatim.com. Tanggal Akses 20 April 2008
dan akhirnya ekspor dapat berkurang. Selain Thailand, Brazil juga makin intensif meningkatkan produksi bioethanolnya. Sementara Indonesia tidak ada alasan lain dibalik kecenderungan mahalnya harga gula dunia setidaknya harus meningkatkan produktivitas dan efisiensi pabrik gula (PG). Selain itu, diharapkan keseriusan pemerintah untuk segera merealisasikan pembangunan sekurang-kurangnya empat PG baru hingga tahun 2010.
Berbagai aturan yang memungkinkan PG berkembang semakin dewasa dan mandiri disebabkan adanya kebijakan pemerintah tentang pemberlakuan tarif bea masuk, pembatasan impor gula dengan hanya memberikan izin kepada produsen, keberadaan konsep harga dasar dan dana talangan untuk petani tebu, bantuan langsung kepada petani yang bersedia merehabilitasi tanaman (bongkar ratoon), serta subsidi pupuk dan kredit program. Melalui kebijakan tersebut, diharapkan pada akhir 2008 Indonesia bisa berswasembada gula, minimal gula kristal putih. Idealnya, program tersebut ditunjang kebijakan tata ruang yang berkaitan dengan budidaya tebu, sehingga dapat terselenggara dalam satu hamparan yang secara agroekosistem memiliki kesamaan sifat dan ciri. Tetapi tidak bercampur aduk dengan tanaman lain, karena tingkat kebutuhan tanaman seperti unsur hara, air, radiasi matahari, dan cara budidayanya berbeda.
Demikian pula dengan revitalisasi atau peremajaan mesin dan peralatan pabrik yang lebih modern dan tingkat efisiensinya tinggi, perlu dipertimbangkan dan mengalokasikan dana tarif bea masuk atas gula impor. Melalui cara tersebut, maka pada saat liberalisasi perdagangan diterapkan secara menyeluruh, industri gula dan petani tebu sudah siap. Mahalnya harga gula dunia hendaknya menjadi motivasi bagi petani dan PG untuk melakukan pembenahan internal dengan
sebaik-baiknya. Kelengahan memanfaatkan momentum bisa berakibat fatal terhadap perkembangan ekonomi Indonesia, khususnya bagi masa depan industri gula
Mengutip pernyataan Mantan Menteri Kehutanan dan Perkebunan, Nurmahmudi Ismail produktivitas tanaman tebu per hektar Badan Usaha Milik Negara (BUMN ) gula di Jawa adalah 74,4 ton tebu per hektar dengan rata-rata tingkat rendemen (kadar gula) 6,12 persen8. Tentu saja hablur yang dihasilkan rata-rata 4,56 ton gula per hektar. Sedangkan di luar Jawa, produktivitas tanamannya adalah 65 ton per hektar dengan tingkat rendemen 5,36 persen dan menghasilkan rata-rata 3,49 ton gula per hektar. Angka ini sangat jauh jika dibandingkan dengan pabrik-pabrik gula swasta yaitu, PT. Sweet Indo Lampung, PT. Indo Lampung Perkasa dan PT. Gunung Madu Lantation. Rata-rata lahan mereka mampu menghadirkan 84,4 ton tebu per hektar, dengan tingkat rendemen 9,29 persen dan dapat menghadirkan 7,84 ton gula per hektar.
Rendahnya produktivitas BUMN gula menunjukkan ketidakseriusan pemerintah dan manajemen BUMN mengatasi masalah gula. Manajemen BUMN perkebunan tidak hanya gagal mengembangkan teknik baru untuk meningkatkan produksinya, tapi juga gagal membangun kemitraan dengan petani tebu.
Implikasinya petani malas menanam tebu. Bahkan Mantan Menteri Kehutanan dan Perkebunan tersebut juga menuduh manajemen BUMN gula telah memanipulasi angka-angka yang berkaitan dengan produktivitas usahanya.
Normalnya, meski kualitas tebu dari petani jelek, selisih tingkat produktivitas pabrik gula BUMN dengan swasta seharusnya tidak sebesar itu. Ada kecurigaan
8 Diadaptasi dari artikel berjudul “Pemerintah Diminta Rombak Manajemen BUMN”
www.tempointeraktif.com. Tanggal Akses 20 April 2008
BUMN yang ada selalu melempar kesalahan kepada petani untuk menutupi praktek manipulasi yang terjadi.
Sementara menurut Wakil Ketua Kadin Daerah Kotamadya Malang, Istadi (dalam artikel yang sama) menyatakan bahwa penurunan produktivitas tebu sebenarnya sudah terjadi sejak dimulainya kebijakan tebu rakyat intensif tahun 1975. kebijakan yang dimaksudkan untuk memberdayakan petani justru gagal meningkatkan produktivitas lahan tebu. Kegagalan tersebut disebabkan tidak berjalannya alih teknologi penanaman tebu dari pabrik ke petani. Akibatnya terjadi kesalahan dalam hal memilih bibit, cara menanam dan praktek menebang.
Selain itu proses penyerahan tebu ke pabrik, termasuk dalam penentuan tingkat rendemen yang tidak transparan juga menyebabkan rendahnya motivasi petani untuk menanam tebu. Oleh karena itu, Nur Mahmudi Ismail mengusulkan untuk mengembalikan sistem tebu rakyat intensif dan sistem sewa lahan petani oleh pabrik gula seperti sebelum tahun 1975. Menurutnya kunci masalah ini ada pada komitmen pabrik gula dalam membangun kemitraan yang jujur dengan petani tebu.
Mengenai persoalan gula rafinasi, Menteri Pertanian Republik Indonesia, Anton Apriantono menyatakan kebijakan yang ada sebenarnya sudah baik, namun implementasi di lapanganlah yang berbeda dengan kebijakan tersebut9. Kantor Kementerian BUMN bertekad akan memaksimalkan kinerja BUMN untuk mencapai swasembada gula pada 2009 melalui revitalisasi pabrik gula agar lebih efisien. Di samping peningkatan mutu tebu petani sebagai pemasok bahan baku gula ke BUMN. Bahkan Meneg BUMN, Sugiharto menyatakan akan bertanggung
9 Diadaptasi dari artikel berjudul “Kepada Wapres Petani Keluhkan Harga Tebu dan Padi”
www.Kompas.com. Tanggal Akses 20 April 2008
jawab bagaimana dalam tiga tahun ke depan swasembada gula bisa tercapai10. Saat ini dari kebutuhan gula di dalam negeri yang mencapai sekitar tiga juta ton per tahun, kapasitas produksi gula nasional hanya mencapai sekitar dua juta ton.
Dari jumlah produksi gula nasional itu, sekitar 70 persen diproduksi BUMN dan 30 persen oleh swasta. Revitalisasi pabrik gula sangat menentukan produktivitas pabrik maupun petani, karena selama ini petani memasok tebunya untuk digiling di pabrik gula dengan bagi hasil 65 persen untuk petani dan 35 persen untuk pabrik gula.
Namun revitalisasi pabrik gula yang ada juga harus diimbangi dengan peningkatan produktivitas petani melalui varietas tebu yang mampu menghasilkan rendemen yang tinggi. Petani tebu pernah mencapai rendemen tertinggi pada zaman penjajahan Belanda sampai 12 persen, namun sekarang baru tercapai 7 persen. Kombinasi peningkatkan produksi gula yang diestimasi akan terjadi kalau dinaikkan satu persen saja hasilnya sama dengan 320 ribu ton gula produksi nasional bertambah. Dengan asumsi itu, Sugiharto memperkirakan selain revitalisasi pabrik gula, untuk mencapai swasembada gula pada 2009 diperlukan 60 ribu hektar lahan tebu baru dalam tiga tahun atau 20 ribu hektar dalam setahun.
Berdasarkan data Asosiasi Pengusaha Gula dan Terigu Indonesia (Apegti), pada 2005-2006 Indonesia merupakan negara ke-9 pengkonsumsi gula terbesar mencapai 3,8 juta ton, namun produksi gula tebunya hanya sekitar 2,1 juta ton, sehingga menjadi negara pengimpor gula ke-9 terbesar di dunia.
10 Diadaptasi dari artikel berjudul “BUMN Digenjot Guna Mencapai Swasembada Gula 2009”
www.kapanlagi.com. Tanggal Akses 21 April 2008