V GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN
6.1 Kondisi Motivasi Berusahatani Tebu Petani
Motivasi berusahatani tebu adalah dorongan atau keinginan yang dimiliki petani untuk bekerja/berusaha dengan giat dalam rangka mencapai tujuan daripada berusahatani tebu itu sendiri. Memotivasi petani untuk berusahatani tebu berarti mempersoalkan bagaimana caranya mengoptimalkan semangat para petani agar mau menjadikan tebu sebagai komoditi yang ditanam dan diusahakannya.
Motivasi berusahatani tersebut timbul dan diwujudkan dalam bentuk kerjasama, tanggung jawab serta sikap yang sungguh-sungguh dengan menggunakan segenap kemampuan dan keterampilan berusahatani yang dimiliki.
Motivasi didalam berusahatani adalah salah satu faktor penentu kesuksesan petani dalam berbudidaya. Tentu saja budidaya suatu komoditas tanaman itu bukan hanya tergantung kepada lingkungan, kemampuan dan keterampilan seorang petani mengenai komoditas tanaman tersebut, tetapi yang terpenting adalah sejauh mana para petani ingin bekerja giat serta berusaha maksimal guna mencapai hasil yang optimal. Di lapangan terbukti banyak petani tebu mengisyaratkan bahwa di dalam membudidayakan tebu, tidak ada istilah main-main karena menyangkut modal dan tanggung jawab yang tidak sedikit.
Dalam penelitian ini, parameter yang digunakan untuk mengukur tingkat motivasi petani Desa Tonjong dalam berusahatani tebu adalah : Apakah keinginan meningkatkan pendapatan keluarga melalui usahatani tebu yang menjadi alasan berusahatani tebu, penerapan pengetahuan/teknologi baru,kesediaanmeningkatkan keterampilan dalam berusahatani tebu, dan kesetujuan terhadap pernyataan
”bertani menimbulkan rasa aman dan tentram di dalam pribadi-pribadi petani”, kesediaan bekerjasama dengan sesama petani atau pihak-pihak terkait dalam memajukan komoditi tebu, kesediaan membantu rekan petani tebu lainnya yang mengalami kegagalan dalam usahatani tebunya, kesediaan menerapkan pengetahuan/teknologi baru dalam usahatani tebunya, alasan, serta dorongan lainnya yang membuat anda memilih usahatani tebu sebagai kegiatan yang dilakukan. Tingkat motivasi para responden petani tebu Desa Tonjong dapat dilihat dalam Tabel 15.
Tabel 15 Sebaran Responden Petani Tebu Desa Tonjong Menurut Tingkat Motivasi Berusahatani baru yang selalu telah Anda pelajari dalam
melakukan usahatani tebu 0 0 3 10 11 36,70 14 47 2 6,70 Sering Kesediaan meningkatkan dan tentram di dalam pribadi-pribadi petani” rekan petani tebu lainnya yang mengalami baru yang baru dalam
usahatani tebu anda 0 0 3 10 9 30 16 53 2 6,70 Bersedia
Kesimpulan 1 0,48 19 9,05 45 21,43 108 51 37 17,62 Termotivasi
Dalam menarik kesimpulan dari motivasi petani berusahatani tebu digunakan skala likert dengan skor 1 sampai 5. Indikatornya terbagi atas tingkat kesediaan dan tingkat kesetujuan petani responden. Tingkat kesetujuan, untuk Skor 1 merupakan kategori “sangat tidak setuju”, skor 2 untuk kategori “tidak setuju”, skor 3 untuk kategori “agak setuju”, skor 4 untuk kategori “setuju” dan terakhir skor 5 untuk kategori “ sangat setuju”. Sementara itu tingkat kesediaan memiliki skor 1 untuk kategori “sangat tidak bersedia”, skor 2 untuk kategori
“tidak bersedia”, skor 3 untuk kategori “ kurang bersedia”, dan skor 4 untuk kategori “bersedia”, dan terakhir skor 5 untuk kategori “sangat bersedia”. Selain itu dibuat satu pertanyaan tambahan mengenai tingkat keseringan (intensitas) memakai atau menerapkan teknologi yang petani pelajari atau ketahui, guna mendukung tingkat kesediaan petani tadi. N adalah Frekuensi responden dan % adalah persentase responden.
Hasil dari pengujian terhadap motivasi berusahatani tebu para responden petani diperoleh bahwa secara umum, responden termotivasi dalam melakukan usahatani tebu secara baik dan serius guna mendapat hasil maksimal. Buktinya adalah besarnya persentase responden yang termotivasi mencapai tingkat 51 persen dan sangat termotivasi mencapai 17,62 persen. Namun kondisi tingkat motivasi berusahatani tebu ini belum mencapai optimal. Kondisi yang optimal kita ketahui bersama adalah kondisi motivasi berusahatani terbaik yang dapat dicapai petani. Kondisi motivasi berusahatani yang optimal dapat diperoleh jika responden berada pada kondisi yang sangat termotivasi (skor = 5). Pada kenyataan yang ada masih terdapat petani yang cukup termotivasi sebesar 21,43 persen, dan juga yang tidak termotivasi 9,05 persen serta terakhir ada potensi petani yang
sangat tidak termotivasi hanya sebesar 0,48 persen. Walaupun keadaan ini menunjukkan keadaan bahwa kondisi motivasi berusahatani tebu petani secara garis besar sudah mendekati kondisi yang optimal, tetapi masih ada peluang untuk meningkatkan kondisi petani yang berada di bawah termotivasi sehingga tercipta suatu keadaan petani yang minimal termotivasi dengan persentase yang lebih baik lagi.
Pada Tabel 15 dapat dilihat bahwa sebagian besar responden tersebut bersedia meningkatkan keterampilan berusahataninya, bersedia bekerjasama dengan sesama petani atau pihak terkait guna memajukan komoditi tebu di Indonesia secara garis besar, bersedia menerapkan pengetahuan/teknologi baru dalam usahatani tebu yang didapat nantinya, untuk poin terakhir ini terbukti dengan sebagian besar jawaban masuk kategori sering untuk intensitas penerapan teknologi/pengetahuan baru yang petani pelajari dalam berusahatani tebu. Dan hal terakhir tadi tentu saja masuk juga ke dalam penilaian tingkat motivasi. Para petani pada umumnya mengikuti petunjuk teknis pabrik yang diwakili oleh sinder tanam/ kebun dalam menerapkan aplikasi budidaya tebu.
Khusus untuk pertanyaan yang berhubungan dengan tingkat kesetujuan sebagian besar responden petani sangat setuju usahatani tebu yang dilakukan bertujuan guna meningkatkan pendapatan keluarga petani tersebut. Selanjutnya masalah kesetujuan dengan pendapat ”bertani menimbulkan rasa aman dan tentram di dalam pribadi-pribadi petani”, sebagian besar petani menjawab agak setuju (sekitar 40 persen responden) karena ada satu hal dalam budidaya tebu yang membuat mereka selalu khawatir yaitu masalah kebakaran. Permasalahan tersebut memang asli dipengaruhi oleh faktor alam sehingga tidak dapat
dikendalikan tetapi dapat dicegah (diminimalisir). Sementara sekitar 40 persen responden menjawab setuju dan sangat setuju dengan pernyataan ini. Pertanyaan ini dibuat dengan landasan teori kebutuhan Maslow, begitu pula dengan pertanyaan-pertanyaan lainnya.
Pada dasarnya para petani di Desa Tonjong memahami bahwa berusahatani tebu dengan baik akan memberi hasil optimal di akhir musim tebang nantinya. Belum lagi sekitar 40 persen responden petani Desa Tonjong memilih berusahatani tebu di daerah tersebut atas dorongan/keinginan dirinya sendiri.
Sementara 53 persen selain didorong keinginan sendiri juga karena dorongan teman/saudara/tetangga mereka baik secara langsung maupun tidak langsung. Dan sisanya (7 persen) ikut berusahatani tebu di daerah tersebut karena merasa tebu memang komoditas paling menguntungkan dengan keadaan tanah daerah Desa Tonjong tersebut yang kebanyakan tadah hujan, tidak ada pilihan menanam selain tebu karena akan rugi, tidak ada pekerjaan, memanfaatkan lahan tidur (kritis), dan karena didorong oleh fasilitas kredit yang ada.
Berkaitan dengan besarnya dorongan berusahatani tebu karena dorongan teman/saudara/tetangga selain dorongan/keinginan diri sendiri, hal tersebut dibenarkan oleh petani responden sendiri. Hubungan kekerabatan dan jalinan silaturahmi yang erat di pedesaan membuat tingkah laku petani sangat berhubungan antar sesamanya. Pada awalnya masih banyak petani yang menanam komoditas pangan diluar tebu dengan pergiliran pola tanam, tetapi ternyata seiring bergulirnya waktu terbukti secara nyata bahwa di Desa Tonjong secara ekonomis tebu lebih baik dibandingkan tanaman pangan tadi. Hal tersebut terjadi karena curah hujan di Desa Tonjong ini termasuk tidak merata, sehingga untuk tanaman
pangan hanya bisa satu musim saja, sementara sisa dua musimnya lainnya sangat sulit menentukan komoditi untuk ditanam karena kelemahan pengairan (kering).
Memang dengan tambahan biaya hal tersebut bisa diatasi dengan membuat sumur pantek atau pompanisasi, tetapi hal tersebut memberatkan petani. Sementara untuk tebu memiliki kelebihan setelah lima bulan kebutuhan air tebu tidaklah sebanyak tanaman pangan pada umumnya, sehingga petani memandangnya sebagai komoditi yang pas dengan kondisi Desa Tonjong ini. Banyak petani saling menyarankan menanam tebu satu sama lain karena berbagai keuntungan yang ada, selain itu banyak di antara petani tersebut memiliki hubungan darah (keluarga).
Paremeter motivasi lainnya berkaitan kesediaan membantu rekan sesama petani yang mengalami kegagalan dalam usahatani tebunya, sebagian besar petani menyatakan bersedia melakukannya. Bukti nyatanya adalah keberadaan setoran biaya asuransi tanaman tebu sebesar Rp 609,80/ku tebu yang tercatat pada surat pengambilan hasil gula beserta pelunasan hutang (Delivery Order). Jatah asuransi tersebutlah yang akan dipergunakan menalangi jika ada petani tebu dalam satu wilayah kerja yang mengalami kesulitan tertentu. Selain itu khususnya bila ada petani tebu yang mengalami kebakaran, para rekan petani lainnya pada umumnya mengikhlaskan prioritas tebangan yang utama terhadap petani yang mengalami musibah tersebut. Hal itu sangat dimengerti karena tebu yang terbakar pada dasarnya akan mengalami penurunan kadar nira yang drastis sehingga potensial sekali menurunkan kadar rendemen tebu.
Sekitar 90 persen petani responden Desa Tonjong pada umumnya dalam sebulan pergi beraktifitas ke lahan tebu sekitar > 5 kali bahkan banyak petani yang memiliki kecenderungan setiap hari pergi ke lahannya. Sementara sisanya
masing-masing 5 persen ada yang 3-5 kali dan minimal 3 kali per bulannya pergi ke lahan tebunya. Hal ini dikarenakan usahatani tebunya sudah diwakili oleh anak atau tenaga kerja luar keluarga yang mewakilinya. Para petani mengaku bahwa fungsi kontrol harus dilakukan sungguh-sungguh dalam usahatani tebu ini.
Bahkan di saat musim tebang tiba para petani Desa Tonjong yang ada bersepakat guna membentuk ronda jaga malam untuk mengamati lahan tebu mereka baik siang maupun malam hari. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah bahaya kebakaran yang mengancam tebu-tebu yang siap masak tersebut.
Sehubungan dengan kondisi motivasi petani berusahatani tebu di Desa Tonjong tersebut, maka diperlukan upaya meningkatkan motivasi kerja ke tingkat yang lebih baik lagi yaitu persentase kondisi sangat termotivasi yang lebih tinggi.
Untuk itu penting untuk diketahui sebenarnya faktor-faktor apa saja yang menjadi kebutuhan, pendukung, dan harapan petani dalam bekerja. Faktor-faktor tersebut telah dididentifikasi, pertama faktor internal adalah keadaan yang ada pada diri petani (termasuk karakteristik petani), yang meliputi : (a) umur, (b) tingkat pendidikan formal, (c) pengalaman berusahatani, (d) sifat kosmopolit petani, (e) tanggungan keluarga, (f) penguasaan lahan. Faktor kedua adalah faktor eksternal yaitu kondisi di luar diri petani namun melingkupi petani, seperti : (a) Ketersediaan saprodi, (b) kepemilikan tenaga kerja, (c) pendapatan, (d) lembaga penyuluhan, (e) lembaga pengolahan dan bagi hasil, (f) lembaga pelayanan (g) lembaga penunjang.
6.2 Faktor-Faktor yang berhubungan dengan Motivasi Berusahatani Tebu