• Tidak ada hasil yang ditemukan

LELANG GULA PETANI TEBU JAWA BARAT

VII. KUANTUM GULA YANG DILELANG PERIODE …

PABRIK GULA KUANTUM (Ku)

SINDANGLAUT KARANGSUWUNG TERSANA BARU JATITUJUH VIII. PENUTUP

Demikian prosedur dana talangan dan lelang gula petani tebu Jawa Barat Musim Giling tahun 2007.

Terima Kasih dan mohon maaf.

Sumber : Laporan Kerja DPD APTRI, 2008

Lampiran 2 Kelembagaan Pergulaan Beserta Fungsinya

Reformasi di bidang pergulaan nasional telah berlangsung sejak akhir 1997 melalui Inpres Nomor 9/1975 tentang intensifikasi Tebu Rakyat yang awalnya dimaksudkan agar petani menjadi raja diatas tanahnya sendiri dalam rangka swasembada gula, dalam perjalanannya telah tumbuh menjadi birokrasi yang ketat karena semakin besarnya campur tangan pemerintah.

Dengan Inpres nomor 5 / 1998 jo Inpres Nomor 5 / 1997 tentang Program Pengembangan Tebu Rakyat dengan dasar Undang-Undang 12 / 1992 tentang budidaya tanaman, Inpres Nomor 9 / 1975 dicabut dan selanjutnya berkembang perubahan-perubahan antara lain petani memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan jenis tanaman dan pembudidayaannya, yang semula segala sesuatunya diatur berdasarkan program pemerintah. Sistem Bimas (Bimbingan Massal) diganti dengan sistem Kemitraan. Bentuk kemitraan antara petani dengan pabrik gula disesuaikan dengan kondisi di masing-masing daerah, dalam hal ini dapat berbentuk sewa lahan, tebu rakyat mandiri, tebu rakyat murni, dan tebu rakyat kerjasama usaha tani.

Dalam aspek kelembagaan, kita menyaksikan bahwa keberhasilan petani tebu mengorganisir dirinya dalam Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) sejak tahun 2000 telah mampu meningkatkan semangat petani untuk mengembangkan agribisnis berbasis tebu. Meningkatnya posisi tawar petani gula terhadap pabrik gula dan pedagang/distributor gula, telah mampu meningkatkan harga gula di dalam negeri pada tingkat yang mampu memberikan insentif bagi produsen gula.

Penanganan permasalahan pergulaan nasional melibatkan berbagai instansi di tingkat pusat, maupun daerah. Penataan kelembagaan menjadi sangat penting, terutama masalah koordinasi dan fungsi masing-masing pelaku utama pergulaan nasional.

2. Koordinasi

Penunjukan penanggung jawab koordinasi kebijakan di tingkat pusat dan koordinasi pelaksanaan di daerah, sebagai berikut :

a. Menteri Pertanian yang sehari-hari diwakili oleh Direktur Jenderal Perkebunan sebagai koordinator kebijakan pergulaan nasional.

b. Pemerintahan Daerah Tingkat I, yang dalam hal ini diwakili oleh Kepala Dinas Perkebunan Propinsi sebagai koordinator teknis operasional pergulaan di tingkat propinsi.

c. Pelaksanaan di daerah / lapangan oleh tiga pelaku utama, yaitu petani / koperasi petani tebu, Bank Pelaksana, dan Pabrik Gula (PG) sebagai Pemimpin Kerja Operasional Lapangan (PKOL) di bawah koordinasi Dinas Perkebunan Kabupaten setempat.

3. Fungsi Pabrik Gula sebagai PKOL antara lain meliputi :

a. Menetapkan perkiraan produksi, luas areal / lahan, dan alih guna lahan bersama petani tebu dalam FMPG.

b. Menyediakan bibit, memberikan pembinaan, penyuluhan dn bimbingan teknis budidaya, panen dan pasca panen.

c. Menerima dn menggiling tebu hasil tebu rakyat.

d. Mengelola dana kredit yang ditarik oleh koperasi petani tebu untuk pembiayaan tebu rakyat.

e. Menjamin kelancaran dan pengamanan pengembalian kredit petani tebu.

f. Menyelenggarakan pelaksanaan tebang angkut sebelum petani dan atau koperasi petani tebu mampu melaksanakan sendiri.

4. Fungsi petani tebu antara lain meliputi :

a. Petani / kelompok tani yang tergabung dalam wadah koperasi petani tebu (koperasi primer) mengadakan ikatan kerjamasama dengan Pabrik Gula untuk menanam tebu sesuai baku teknis yang ditetapkan serta menyerahkan tebunya untuk digiling di Pabrik Gula yang bersangkutan atas dasar Sistem Bagi Hasil (SBH) atau Sistem Pembelian Tebu (SPT).

b. Petani memperoleh dana kredit melalui koperasi petani tebu yanng selanjutnya pengelolaan kredirnya dilakukan oleh Pabrik Gula atas kuasa dari koperasi petani tebu.

5. Fungsi Koperasi Petani Tebu :

a. Menyalurkan sarana produksi seperti pupuk, obat-obatan bagi petani tebu dari bagian dana kredit tersebut.

b. Menyalurkan dana Program BLM / PMUK

c. Melayani kebutuhan petani sesuai dengan kemampuan koperasi termasuk simpan pinjam.

d. Apabila koperasi menjadi besar, dapat ikut memiliki saham perusahaan gula.

6. Mendorong berdirinya Koperasi Petani Tebu di semua tingkatan sebagai sayap ekonomi APTRI.

Program Jangka Pendek

1. Memperjuangkan kenaikan harga gula mendorong gairah perluasan areal tanaman tebu untuk meningkatkan ketersediaan bahan baku dan secara langsung akan meningkatkan efisiensi karena Pabrik Gula dapat berproduksi dalam kapasitas yang ekonomis.

2. Memperjuangkan kepada Pemerintah untuk melahirkan kebijakan strategis jika industri gula ingin dipertahankan paling efektif saat ini adalah peningkatan tarif impor dengan pertimbangan :

a. Kebijakan ini tidak bertentangan dengan perjanjian internasional.

b. Tidak membebani anggaran negara.

c. Dapat diimplementasikan dengan tetap memenuhi kriteria kebijakan yang baik.

3. Program untuk menumbuhkan minat petani menanam tebu dengan penyediaan kredit lunak, kelembagaan yang simple dan perbaikan pelayanan pabrik gula serta menghapuskan pungutan yang tidak adan kaitannya dengan industri gula.

Program Jangka Menengah

1. Menyempurnakan kelembagaan produksi gula baik pada tingkat usaha tani, pabrik gula, perusahaan gula dan peran pemerintah sebagai fasilitator.

2. Mengefektifkan kelembagaan pendukung, terutama yang berkaitan dengan bantaun permodalan dan penyediaan serta penyaluran sarana produksi.

3. Meningkatkan efisiensi melalui pembenahan kelembagaan organisasi produksi sebagai organisasi bisnis dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

4. Pemberdayaan petani melalui pemilikan saham perusahaan gula.

Program Jangka Panjang

1. Ikut serta mengupayakan diadakannya pe’remaja’an Pabrik Gula agar keberadaan Pabrik Gula yang sudah ‘tua’ tidak semakin ‘renta’. Dengan demikian akan dapat meningkatkan kinerja Pabrik Gula seimbang dengan upaya petani mengadakan intensifikasi budidaya tani tebu serta akan dapat memberikan jaminan peningkatan rendement dan bagi hasil yang transparan, adil dan saling menguntungkan semua pihak.

2. Memberdayakan petani tebu agar dalam kurun waktu yang telah ditetapkan oleh Pemerintah dapat tercapai Swasembada Gula Nasional dan sekaligus terwujudnya Petani tebu yang mandiri, tangguh dan sejahtera.

3. Mengupayakan berdirinya BANK Tani.

Sumber : Laporan Kerja DPD APTRI, 2008

Lampiran 3 Job Description Pengurus DPD APTRI 2006 – 2011

KETUA

1. Memimpin dan mengkoordinasikan seluruh Pengurus DPD APTRI dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya sesuai AD/ART baik keluar maupun kedalam..

2. Memimpin Rapat-rapat yang diselenggarakan DPD APTRI.

3. Mengkoordinasikan dan mensinkronisasikan pelaksanaan tugas para Wakil Ketua sesuai dengan pembidangan dan kewilayahannya.

4. Memberikan laporan tahunan kepada seluruh DPC APTRI se-Jawa Barat tentang kegiatan DPD APTRI setiap tahun terutama dibidang Keuangan.

5. Menyusun dan menyiapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Organisasi.

6. Bertanggung jawab kepada MUSDA.

WAKIL KETUA I

Mengkoordinasikan Biro Organisasi & Kaderisasi, Biro Pendidikan & Latihan serta Biro Humas & Advokasi.

1. Membantu Ketua terutama dibidang Biro Organisasi & Kaderisasi, Biro Pendidikan & Latihan serta Biro Humas & Advokasi untuk kepentingan Anggota.

2. Memantabkan struktur Organisasi di Tingkat DPD dan DPC APTRI sesuai dengan AD/ART.

3. Menyiapkan Peraturan-peraturan Organisasi yang menyangkut bidang tugas dan kewenangannya.

4. Mengadakan kegiatan secara berkelanjutan untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan Anggota.

5. Menyiapkan upaya upaya yang sistematis bagi Petani Tebu dan Pabrik Gula untuk mencapai Swasembada Gula serta menghadapi Era Pasar Bebas.

6. Menjalin hubungan yang sinergis dengan masyarakat pergulaan Nasional dalam kerangka studi komparasi untuk peningkatan kinerja Petani tebu dan Pabrik Gula di Indonesia.

7. Menyiapkan Peraturan-peraturan Organisasi yang menyangkut bidang tugas dan kewenangannya.

8. Bekerjasama dengan pihak dan Instansi terkait untuk mengadakan pengawasan terhadap masuknya gula Impor agar tidak merugikan Petani Tebu.

9. Mengadakan koordinasi yang mantab dan berkelanjutan dengan pihak Media cetak maupun elektronik untuk penyebarluasan kegiatan Organisasi.

10. Mengadakan koordinasi pengawasan dan penindakan secara terus menerus terhadap masuknya gula Ilegal.

11. Menjalin komunikasi timbal balik dengan pihak terkait agar dapat dijamin kestabilan harga jual Gula Tani yang dinamis sekaligus menjaga harga pasar Gula yang tidak memberatkan konsumen.

12. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Ketua.

WAKIL KETUA II

Mengkoordinasikan Biro Usaha & Koperasi serta Biro Penelitian &

Pengembangan.

1. Membantu Ketua terutama dibidang Usaha & Koperasi serta Penelitian &

Pengembangan.

2. Mengadakan koordinasi yang mantab dengan pihak perbankan agar Kredit untuk Petani Tebu Jawa Barat dapat sesuai dengan kebutuhan dan tepat waktu.

3. Menjalin hubungan yang sinergis dengan pihak Investor untuk pendirian Pabrik Gula yang sahamnya dimiliki Petani Tebu Jawa Barat.

4. Menjalin kerjasama yang berkelanjutan dengan Lembaga dan atau Badan-badan Penelitian untuk pengembangan budidaya tanaman tebu.

5. Memantau terus menerus kinerja Pabrik Gula sebagai mitra kerja Petani tebu agar dapat menghasilkan Rendemen dan bagi hasil yang saling menguntungkan.

6. Mengadakan pemantauan terus menerus terhadap perkembangan harga gula Jawa Barat.

7. Mengadakan pembinaan yang mantab dalam rangka pengembangan Koperasi milik Petani Tebu ditingkat Primer maupun Sekunder.

8. Melakukan upaya konstruktif agar seluruh kebutuhan Petani Tebu dapat dijalankan oleh Koperasi Petani Tebu sebagai bentuk pemantaban Lembaga Ekonomi Organisasi APTRI.

9. Mempersiapkan, merencanakan pendirian Bank Tani.

10. Menyiapkan langkah langkah yang strategis untuk peningkatan kapasitas giling Pabrik Gula dalam menghadapi peningkatan pertumbuhan tanaman tebu.

11. Mengadakan kerjasama yang berkelanjutan dengan P3GI dan atau Lembaga yang lain untuk senantiasa mengusahakan bibit unggul yang disesuaikan dengan kondisi tanah di masing masing wilayah.

12. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Ketua.

SEKRETARIS

1. Melaksanakan kegiatan kesekretariatan Organisasi APTRI di Tingkat Daerah.

2. Mengkoordinasikan bidang tugas Wakil Sekretaris DPD APTRI Jawa Barat.

3. Menyiapkan Peraturan dan Keputusan Organisasi sebagai penjabaran dari Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga APTRI, Keputusan MUSDA dan RAKERDA serta Keputusan keputusan DPD APTRI.

4. Menyusun Rencana kegiatan DPD APTRI dengan memperhatikan situasi dan kondisi yang sedang terjadi.

5. Menyusun Rencana Rapat-rapat Pengurus Harian dan Pengurus Pleno DPD APTRI sesuai kebutuhan.

6. Menertibkan Administrasi pelelangan Gula dan Tetes Petani Jawa Barat.

7. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Ketua Umum.

WAKIL SEKRETARIS

1. Melaksanakan kegiatan administrasi yang menyangkut Biro Organisasi dan Kaderisasi, Usaha & Koperasi,Diklat, Litbang, serta Humas dan Advokasi.

2. Menertibkan administrasi keanggotaan mulai dari Tingkat DPC dan DPD.

3. Menyusun rencana Rapat rapat Pengurus Harian DPD APTRI.

4. Membuat notula dan risalah Rapat-rapat Pengurus Harian DPD APTRI maupun rapat-rapat lainnya yang dilaksanakan oleh DPD APTRI dan diserahkan kepada Sekretaris untuk dijadikan keputusan rapat.

5. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Ketua dan Sekretaris.

BENDAHARA

1. Menghimpun seluruh dana rutine Organisasi ditingkat Daerah.

2. Menyampaikan laporan keuangan setiap bulan kepada Pengurus Harian DPD APTRI.

3. Menyampaikan laporan keuangan setiap Triwulan kepada Pengurus Pleno DPD APTRI.

4. Menyampaikan laporan keuangan setiap tutup tahun kepada seluruh DPD APTRI.

5. Menyusun laporan pertanggungjawaban keuangan selama masa bakti kepada MUSDA.

6. Membuat perencanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Organisasi untuk jangka waktu setiap tahun maupun Lima tahun.

7. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Ketua Umum.

8. Menghimpun, memelihara dan mencatat seluruh inventaris dan kekayaan organisasi.

WAKIL BENDAHARA

1. Menghimpun dana usaha ditingkat Daerah

2. Membantu Bendahara dalam membuat seluruh laporan keuangan.

3. Membantu Bendahara dalam membuat rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Organisasi.

4. Mencatat, memelihara dan menjaga aset-aset / inventaris APTRI Jawa Barat.

5. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan yang diberikan oleh Bendahara dan Ketua.

BIRO ORGANISASI & KADERISASI

1. Melaksanakan Tugas-tugas yang diberikan oleh Wakil Ketua I.

2. Menyiapkan perlengkapan rapat-rapat DPD maupun yang melibatkan DPC.

3. Mengadakan Latihan Dasar Kepemimpinan minimal 1x dalam 5 tahun agar DPD dan DPC mengetahui dasar-dasar organisasi.

4. Mempersiapkan perlengkapan pelaksanaan lelang.

5. Bertanggung jawab pada Wakil Ketua I sebagai laporan Wakil Ketua I kepada Ketua.

BIRO HUMAS & ADVOKASI

1. Melaksanakan Tugas yang diberikan oleh Wakil Ketua I.

2. Membantu kegiatan Wakil Ketua I terutama dalam bidang hubungan masyarakat dan advokasi.

3. Mengadakan bakti sosial agar hubungan antar APTRI dengan masyarakat bias berjalan sesuai dengan yang diharapkan.

4. Menyebarluaskan kegiatan-kegiatan DPD APTRI (ke media massa baik cetak maupun elektronik).

5. Mempersiapkan berdirinya radio komunikasi petani tebu Jawa Barat.

6. Bertanggung jawab pada Wakil Ketua I sebagai laporan kepada Ketua.

BIRO PENDIDIKAN & LATIHAN

1. Menjalankan tugas-tugas yang diberikan oleh Wakil Ketua I.

2. Melaksanakan Pendidikan dan Pelatihan pada DPC tentang manajemen organisasi.

3. Mengadakan Pendidikan dan Pelatihan alat-alat ukur rendemen kepada DPC untuk disebarluaskan kepada para petani di masing-masing wilayah DPC.

4. Mengadakan Pendidikan dan Pelatihan kepada Mekanik Traktor.

5. Mengadakan Pendidikan lainnya yang ada hubungannya dengan Budidaya tanaman tebu.

6. Bertanggung jawab kepada Wakil Ketua I sebagai laporan kepada Ketua.

BIRO PENELITIAN & PENGEMBANGAN

1. Melaksanakan tugas-tugas yang diberikan oleh Wakil Ketua II.

2. Mengadakan penelitian dalam budidaya tanaman tebu agar DPC dan para petani mengetahui jenis-jenis varietas tebu unggulan.

3. Mengadakan penelitian tentang rendemen dan mencari sebab akibat kenaikan atau penurunan rendemen.

4. Mengadakan study banding ke wilayah di luar Jawa Barat tentang keberadaan Pabrik Gula dan tanaman tebu untuk dikembangkan sesuai kecocokan tanah yang ada di Jawa Barat.

5. Melakukan kerjasama dengan lembaga penelitian dan Perguruan Tinggi.

6. Mengadakan penelitian lainnya yang ada hubungannya dengan budidaya tanaman tebu.

7. Bertanggung jawab kepada Wakil Ketua II sebagai laporan kepada Ketua.

BIRO USAHA & KOPERASI

1. Menjalankan tugas-tugas yang diberikan oleh Wakil Ketua II.

2. Mencari dan menjalankan usaha-usaha yang dimiliki oleh DPD untuk menghidupi roda organisasi.

3. Bekerjasama dengan koperasi-koperasi yang ada hubungan dengan APTRI.

4. Melaksanakan lelang gula maupun lelang tetes milik petani.

5. Bertanggung jawab pada Wakil Ketua II sebagai laporan kepada Ketua.

Sumber : Laporan Kerja DPD APTRI, 2008

Sumber : Tersana Baru, 2008

PG. TERSANA BARU WILAYAH TONJONG

No SKW / Katagori / Mandor / Masa Luas TAKMAR

Kebun Kelompok Tanam Ha Ku/Ha Jumlah (Ku)

SKW XIII. (M. Lukman Hakim, SP.)

TRS I KM B

No Kebun Kelompok Tanam Ha Ku/Ha Jumlah (Ku)

No Kebun Kelompok Tanam Ha Ku/Ha Jumlah (Ku)

22 Kosambi Jangkung Nandi 8B 2.000 675 1,350

23 Tonjong Jujur Asep Saefudin 8A 2.000 675 1,300

24 Tonjong Jujur Supri 8A 2.500 675 1,563

25 Tonjong Jujur Darto 8A 2.000 650 1,300

26 Kupyak Kasda 9A 2.000 625 1,350

27 Jubel Sengon Dukri 9A 4.500 650 2,925

28 Kepuh Kos. Jangkung Wahidin 10A 12.000 675 8,100

29 Gentongan Carmid 8B 3.000 675 2,025

30 Ciasin Suharto 8A 1.500 650 975

Jumlah : 84.500 642 54,263

Jumlah TR KM B 320.000 690 220,950

TR Mandiri

1 Kupyak Herna 1.000 705 705

2 Brug Gede Marfu 0.700 705 494

3 Pilang Carmid 1.500 705 1,058 4 Sengon Kartono yati 1.500 705 1,058 5 Kemayung Singkup Carkim 4.000 705 2,820 6 Madin Narto 1.500 705 1,058 7 Sengon Kupyak Diah Rohidin 2.000 705 1,410 8 Garungsang Narti 1.000 705 705

9 Kendal Safrudin 1.000 705 705

10 Kupyak Castono 0.500 705 353

11 Oncog Meong Sudarto 0.500 705 353

12 Ampel Deden 0.500 705 353

Jumlah : 15.700 705 11,069

Jumlah SKW XIII 335.700 691 232,019

Sumber : Tersana Baru, 2008

REALISASI PRODUKSI KTG MT. 2002 - 2004 PABRIK GULA TERSANA BARU

Katagori Luas Tebu (Ku) Rend Hablur (Ku)

Tanaman (Ha) Jumlah /Ha (%) Jumlah /Ha

MT.

2001/2002

TS Ex BIBIT 80.000 48,139 602 4.30 2,069.8 25.9 TRS I KM

A 1,697.528 1,512,930 891 6.40 96,800.6 57.0

TRS II KM

A 1,455.939 1,118,312 768 7.88 88,122.0 60.5

TRT II KM

A 34.123 14,425 423 5.78 833.5 24.4 Jumlah : 3,267.590 2,693,806 824 6.97 187,825.9 57.5

TR Total : 4,109.930 3,211,797 781 6.94 223,008.0 54.3 MT.

A 1,049.286 714,430 681 7.58 54,157.7 51.6

TRS II KM

A 2,397.641 1,469,456 613 7.13 104,805.3 43.7

TRT I KM

A 52.221 28,022 537 6.80 1,905.4 36.5 Jumlah : 3,502.183 2,213,920 632 7.27 160,987.2 46.0

TR

TRS I KM

B 25.474 17,973 706 7.25 1,303.9 51.2

Tanaman (Ha) Jumlah /Ha (%) Jumlah /Ha Total : 4,348.069 2,704,160 622 7.25 195,966.0 45.1 MT.

A 1,408.224 1,281,560 910 7.68 98,361.6 69.8

TRS II KM

A 2,074.528 1,485,899 716 7.47 110,984.2 53.5

TRT I KM

A 166.839 112,568 675 7.36 8,284.7 49.7 Jumlah : 3,661.366 2,891,067 790 7.55 218,373.8 59.6

TR TRS I KM Total : 4,636.125 3,631,079 783 7.50 272,427.2 58.8 Sumber : Tersana Baru, 2008

TARGET PRODUKSI KTG MT. 2005 - 2007 PABRIK GULA TERSANA BARU

Katagori Luas Tebu (Ku) Rend Hablur (Ku)

Tanaman (Ha) Jumlah /Ha (%) Jumlah /Ha

MT.

2004/2005

TS TRS I KM

A 1,827 1,613,688 883 7.88 127,114.4 69.6

TRS II KM

A 1,697 1,274,441 751 7.67 97,728.6 57.6

TRT I KM

A 160 105,629 660 7.10 7,499.7 46.9

Jumlah : 3,684 2,993,758 813 7.76 232,342.7 63.1

TR TRS I KM

B 43 39,431 917 7.90 3,115.1 72.4 TRS II KM

B 453 358,776 792 7.80 27,984.5 61.8

TRT I KM

B 88 58,696 667 7.50 4,402.2 50.0 TRT II KM

B 153 109,701 717 7.60 8,337.3 54.5

TRT III KM

B 279 200,043 717 7.60 15,203.3 54.5

Jumlah : 1,016 766,647 755 7.70 59,042.4 58.1

Total : 4,700 3,760,405 800 7.75 291,385.1 62.0

MT.

2005/2006

TS TRS I KM

A 1,400 1,280,500 915 8.00 102,440.0 73.2

TRS II KM

A 2,260 1,819,900 805 7.70 140,132.3 62.0

TRT I KM

A 175 119,875 685 7.20 8,631.0 49.3

Jumlah : 3,835 3,220,275 840 7.80 251,203.3 65.5

TR TRS I KM

B 110 101,750 925 8.00 8,140.0 74.0

TRS II KM

B 255 209,100 820 7.90 16,518.9 64.8

TRT I KM

B 90 63,000 700 7.60 4,788.0 53.2 TRT II KM

B 265 198,750 750 7.70 15,303.8 57.8

TRT III KM

B 345 250,125 725 7.70 19,259.6 55.8

Tanaman (Ha) Jumlah /Ha (%) Jumlah /Ha

Jumlah : 1,065 822,725 773 7.78 64,010.3 60.1

Total : 4,900 4,043,000 825 7.80 315,213.6 64.3

MT.

2006/2007 TS

TRS I KM

A 1,400 1,318,750 942 8.10 106,818.8 76.3

TRS II KM

A 2,230 1,855,600 832 7.75 143,809.0 64.5

TRT I KM

A 200 140,000 700 7.25 10,150.0 50.8

Jumlah : 3,830 3,314,350 865 7.87 260,777.8 68.1

TR TRS I KM

B 150 142,500 950 8.10 11,542.5 77.0

TRS II KM

B 280 238,000 850 7.90 18,802.0 67.2

TRT I KM

B 100 74,000 740 7.65 5,661.0 56.6

TRT II KM

B 280 210,000 750 7.70 16,170.0 57.8

TRT III KM

B 360 270,000 750 7.70 20,790.0 57.8

Jumlah : 1,170 934,500 799 7.81 72,965.5 62.4

Total : 5,000 4,248,850 850 7.85 333,743.3 66.7

Sumber : Tersana Baru, 2008

Lampiran 7 Informasi Seputar Produktivitas Tebu Kabupaten Cirebon Produktivitas Tebu Rakyat per Pabrik Gula di Jawa Barat

PABRIK GULA TAHUN

2005 2006 2007

SINDANGLAUT 82,342.22 93,914.48 89,511.89

KARANGSUWUNG 43,831.50 68,253.84 74,766.01

TERSANA BARU 152,351.14 142,627.25 127,151.61

JATITUJUH 12,051.74 25,063.64 34,119.77

JUMLAH 290,576.60 329,859.21 325,549.28

Sumber : Tersana Baru, 2008

Perolehan Rendemen per-Pabrik Gula Wilayah Kerja DPD APTRI Jawa Barat

Tahun 2002 - 2007

0.00

2002 7.26 7.18 6.32 6.45 5.92

2003 6.90 6.60 7.25 7.38 6.82

2004 7.66 7.86 7.50 7.60 7.64

2005 7.28 7.32 7.63 6.67 7.78

2006 7.60 7.85 7.85 8.11 8.03

2007 6.30 7.14 6.70 8.33 7.70

PG. Sindanglaut PG. Karangsuwung PG. Tersana Baru PG. Jatitujuh PG. Subang

Sumber : Laporan Kerja DPD APTRI, 2008

Jumlah Produksi Tebu per-Pabrik Gula Wilayah Kerja DPD APTRI Jawa Barat

Tahun 2002 - 2007

0.00

2002 163,946.80 118,017.10 321,179.70 283,817.80 270,762.00

2003 144,567.50 116,536.30 270,416.00 429,507.00 232,977.40

2004 169,688.50 149,635.20 363,237.90 519,648.60 297,587.60

2005 204,829.30 173,545.80 405,020.70 574,756.00 337,479.80

2006 228,483.50 172,053.90 383,086.60 504,359.50 360,329.60

2007 261,270.60 205,686.10 415,313.90 570,425.00 298,027.60

PG. Sindanglaut PG. Karangsuwung PG. Tersana Baru PG. Jatitujuh PG. Subang

Perolehan Hablur/Ha per-Pabrik Gula Wilayah Kerja DPD APTRI Jawa Barat

Tahun 2002 - 2007

0.00

2002 4.91 4.25 4.94 2.27 3.26

2003 4.30 4.05 4.51 4.61 3.34

2004 5.45 5.52 5.88 5.43 4.82

2005 5.69 5.58 6.25 4.92 5.15

2006 5.59 5.42 5.89 5.10 5.67

2007 4.71 5.18 5.25 5.88 4.50

PG. Sindanglaut PG. Karangsuwung PG. Tersana Baru PG. Jatitujuh PG. Subang

Sumber : Laporan Kerja DPD APTRI, 2008

Jumlah Hablur per-Pabrik Gula Wilayah Kerja DPD APTRI Jawa Barat

Tahun 2002 - 2007

0.00 5,000.00 10,000.00 15,000.00 20,000.00 25,000.00 30,000.00 35,000.00 40,000.00 45,000.00 50,000.00

Jumlah Hablur (Ton)

2002 2003

2004 2005 2006 2007

2002 11,895.00 8,469.40 20,300.80 18,306.90 16,018.30

2003 9,969.10 7,686.00 19,596.60 31,708.70 15,883.90

2004 12,998.10 11,762.20 27,250.90 39,468.60 22,742.10

2005 14,907.29 12,702.10 30,918.11 38,310.13 26,272.40

2006 17,353.40 13,501.40 30,057.00 40,892.10 28,940.00

2007 16,470.79 14,687.00 27,805.40 47,501.10 22,933.70

PG. Sindanglaut PG. Karangsuwung PG. Tersana Baru PG. Jatitujuh PG. Subang

Sumber : Laporan Kerja DPD APTRI, 2008

PROSEDUR PEMBERIAN COL