Secara sadar realitas konflik Maluku m em buka perspektif kita pad a seju m lah kesalah -kapr ah an d alam pr oses r an can g bangun konstruksi m asyarakat yang selam a ini kita geluti. Dengan belajar dari realitas konflik pula kita didorong untuk bukan saja m elaku kan su atu p r oses r ekon str u ksi ter h ad ap p u in g-p u in g keterpurukan rakyat Maluku, tetapi juga suatu proses ‘m em buat kem bali’ (r em akin g) d en gan m en gan d aikan ter jad in ya su atu r evitalisasi yan g tr an sfor m atif. Ter h ad ap m aksu d in i, m aka pengham piran kultural perlu m endapat tem pat utam a, dengan m em pertim bangkan bahwa telah sekian lam a Maluku kehilangan p er a n gka t koh esifit a s m a sya r a ka t . P en gh a m p ir a n ku lt u r a l kem udian dibarengi dengan pengem bangan sum ber daya yang inovatif dan transform atif, pada gilirannya akan m engelim inir poten si-poten si kon flik laten yan g terus m en gayun di bawah bentangan m asa depan Maluku.
Dari aspek kebudayaan, konflik Maluku hanyalah salah satu ikon dari m azoaik problem atik pem bangunan Indon esia, yang telah sekian lam a m enghilangkan ruang bagi terjadinya sebuah dialog kebudayaan yang jujur dan setara. Realitas ini m engim bas ham pir seluruh m odel pengem bangan pem bangunan yang dipilih. Realitas keberagam aan Maluku dalam h oistoritasn ya bah kan tidak secara jelas m eninggalkan jejak terjadinya sebuah dialog kebudayaan, antara intervensi agam a dengan penganut lokalnya. Hal ini m engkondisikan agam a untuk cenderung hidup dalam ruang ham pa, yang tanpa sadar m engalienasi m anusia Maluku d a r i b a n gu n kosm ologisn ya . Fen om en a p a sca kon flik ya n g m en ar ik u n tu k d iam ati, selain d isatu sisi ter jad i kr istalisasi aktualitas kom un itas pada sim bol-sim bol agam a yan g dian ut. Nam un disisi lain m ulai m uncul gerakan kem bali ke adat dan budaya dalam dinam ika yang bergerak perlahan, tapi m endesak m engisi ruang-ruang publik pasca konflik. Interaksi publik yang m arak berkem bang pasca konflik fisik dim araki oleh ornam en- orn am en kultural yan g secara spon tan dihadirkan kom un itas b a sis, seb a ga i in d ika t or u n t u k m en a n d a i a p r esia si m er eka t er h a d a p keb er s a m a a n . Rea lit a s in i p a t u t d it a n gka p d a n diakom odir untuk m em bingkai seluruh proses pasca konflik fisik. Ter u t am a u n t u k m en gelim in ir p ot en si-p ot en si kon flik yan g tersim pan pada m em ori kolektif publik.
Tentunya pilihan dialog kebudayaan pasca konflik fisik tak bisa diacu sebagai satu-satunya m odel penyelesaian konflik dan r e k o n s t r u k s i m a s ya r a k a t M a lu k u k e d e p a n . P ilih a n in i m engandung kelem ahan, bilam ana dilaog kebudayaan tak terbuka terhadap revitalisasi dirinya sendiri. Terutam a berkaitan dengan ge lo m b a n g p lu r a lis m e ya n g b e r k e m b a n g s e ir in g ge lia t m odernism e dan globalisasi. Ia bukan satu-satunya pilihan. Tetapi ia m erupakan salah satu pilihan yang tepat untuk m em andang Maluku ke depan.
Ber ka it a n d en ga n p en d eka t a n d i a t a s, su d a h sa a t n ya historitas m asyarakat Maluku perlu ditulis ulang dengan sem angat
kejujuran akadem is. Pen galam an kon flik m em buktikan bahwa proses penulisan sejarah sejak pendudukan portugis dan belanda ratusan tah un yan g lalu, dilakukan dalam sebuah kolaborasi kep en tin gan p en u n d u kan kolon ial ter h ad ap wilayah -wilayah jajah an . Pen dekatan yan g sam a dilan jutkan kem udian pasca kem erdekaan, didalam kepentingan hegem oni politik sentralistis, yan g m em aksakan pen un dukan kolektif ter h adap pen ger tian historis yang distilasi penguasa.
Sejak sebelum kon flik proses historisasi realitas Maluku lebih ban yak diletakan pada stigm a-stigm a separatis, ‘budak Belanda’, Perilaku Am tenar, dll. Tanpa sadar m odel historisasi dem ikian m enginternalisasi sebuah bangun karakter yang dipaksa terus m enerus tunduk pada kepentingan penguasa (baca: state), dan kehilangan jarak serta sikap kritis terhadap berbagai bentuk ketim pangan pem bangunan Maluku yang terjadi selam a ini. J auh sebelum terjadin ya kon flik represi tahun an berkaitan den gan peringatan 25 April sebagai hari ulang tahun RMS, selalu dirujuk pada rekam an historis pem berontakan RMS puluhan tahun silam . Tan pa sadar hal in i m en doron g terjadin ya elaborasi terhadap realitas separatis, sebagai pilihan yang frustratif ketika pilihan im plem entasi m odel pem bangunan tak m em beri ruang aktualisasi m asyarakat secara adil dan berim bang.
Gugatan pelurusan sejarah oleh kelom pok-kelom pok yang berafiliasi pada FKM dan gerakan sejenisnya selam a dan pasca konflik, tidak harus dihadapi dengan sikap alergis. Sebaliknya t u n t u t a n in i p er lu d ia kom od ir seb a ga i keb u t u h a n , u n t u k m endudukan posisi integrasi kolektif m asyarakat pada sebuah kejujuran sejarah. Persoalan kejujuran sejarah tidak saja berkaitan dengan apa yang digugat FKM saat ini, tetapi juga m enjadi sangat berm an faat un tuk m en gelim in ir terjadin ya ten den si etn okrasi, pasca pem ekaran provinsi dan kabupaten-kabupaten yang m arak terjadu belakangan ini di Maluku. Karakter wilayah kepulauan antara lain perlu didekati m elalui kohesifitas sejarah bersam a yan g jujur dan berim ban g. Pasca kon flik Maluku m asyarakat
cen d er u n g m em ah am i d ir in ya sebagai keu tu h an yan g h ar u s m enyejarah secara bersam a ke depan. Kecenderungan ini akan m enjadi m odal sosial yang kuat bagi Maluku ke depan, bilam ana pem buktian kon struksi sejarah m asa lalu m en dudukan secara jujur realitas historis dibalik stigm atisasi kolaktif yang dialam atkan kepada m asyarakat selam a ini.
Selain dua sisi pengaham piran yang dikem ukakan di atas, m aka persoalan kesenjangan pem bangunan selam anya akan lahir sebagai kon flik ketika ia m en em ukan m om en tum yan g tepat. Pilih an m od el p em ban gu n an yan g m en d est r u ksi kon st r u ksi kultural dan kom sm ologis, m enjadi sem akin parah ketika dengan a n gk u h n ya ia m e n gu r a s t a n p a a m p u n p o t e n s i- p o t e n s i pengem bangan ekonom i m asyarakat. Ironisnya hal itu dilegalkan kem udian oleh berbagai produk perun dan gan , yan g sun gguh m engalienasi m asyarakat dari ruang hidupnya. Produk undang- u n d a n g p er t a n a h a n n a sion a l m isa ln ya p a d a ken ya t a a n n ya m engancurkan sistem pem ilikan tanah adat berdasarkan rekatan kepem ilikan kom unal. Kesalahkaprahan yang sam a terjadi pada produk perundangan kelautan yang dibuat berdasarkan konsepsi wilayah kon tin en tal, yan g ber tolak belakan g den gan r ealitas kepulauan di Maluku. Secara geografis pada kenyataannya terjadi s e gr e ga s i ju r id is a n t a r p u la u ya n g s e ca r a m e n ye lu r u h m em ecahkan keutuhan geografis Maluku. Sebelum kerusuhan realitas-realitas tim pang ini telah m ulai disuarakan dengan vokal oleh berbagai kalangan di Maluku. Dan kini tantangan-tantangan ini telah m ulai kem bali dilihat sebagai tantangan bersam a yang harus dihadapi secara m ilitan, untuk keluar dari keterpurukan dan m ekanism e korban ganda di m asa depan.
Dalam kaitan ini peran untuk m enggeser apresiasi kolektif publik terhadap konflik, serta m enyalurkan energi dan m ilitansi peran g, pada sebuah in tegrasi m asyarakat yan g m em ban gun dirinya, ternyata bukan perkara gam pang. Ia m em butuhkan waktu d an p en yiasatan . Tetap i tetap h ar u s d ilaku kan bagi sebu ah konstruksi baru Maluku ke depan. Sem oga tidak pernah lagi ada
konflik yang berdarah-darah diantara m asyarakat pencinta m usik di Maluku m anise.
Ca ta ta n Akh ir
1 Baileo ad alah r u m ah ad at yan g m en jad i tem pat u n tu k d ilaku kan p er ca ka p a n m a sya r a ka t n eger i d i Ma lu ku . P a d a n a n n ya sep er t i Balai Desa d alam m asyar akat J awa.
2 Di sini pendekatan terhadap agam a akan lebih berorientasi sosiologis (S ociolog y of R elig ion) a ga r t er b a n t u u n t u k m elih a t st r u kt u r kep er cayaan keagam aan yan g tu r u t m em ber i p en gar u h ter h ad ap sistem sosial kem asyarakatan setem pat dalam kesalin gpen garuhan d en ga n p en er im a a n t er h a d a p a ga m a t er t en t u . Mich a el H ill, A Sociology of R eligion (London: Heinem ann Educational Books, 1973), h a l. 3-6 .
3 Walaupun Islam pertam a kali m en gin jakkan kaki di pulau Am bon dan sekitar n ya, tetapi kekuasaan Islam pun m asih ter batas pada daerah-daerah terten tu. Masih terdapat ban yak tem pat yan g tidak dapat dim asuki oleh Islam . Posisi in ilah yan g kem udian diperoleh Portugis dan Belanda, selain m elakukan aneksasi terhadap kantong- kan t on g keku asaan Islam .
4 Peperan gan pertam a Portugis den gan pen duduk H itu (abad ke-16) yang didukung Ratu J epara dan pedagang Makssar harus berakhir d en ga n keka la h a n P or t u gis. Mer eka kem u d ia n m en yin gkir ke Hatiwe-Tawiri. Penduduk di sini pun adalah m ereka yang tersingkir oleh kar en a d esakan H itu . Per ju m p aan Por tu gis-H atiwe/ Tawir i telah m en gh asilkan suatu persekutuan m asyarakat yan g m em iliki m usuh bersam a yaitu penduduk Hitu dan sekitarnya. Bagi Portugis, p en gu asaan H it u san gat p en t in g saat it u , kar en a ia m er u p akan satu-satun ya ban dar yan g m en ghubun gkan ke Tern ate dan Ban da. J oh n Pattikayh attu , Seja r a h Per la w a n a n t er ha d a p Im p er ia lism e dan Kolon ialism e di Daerah M aluk u (J akarta: Depdikbud, 198 3), h a l. 13 .
5 Sikap in i d ip en gar u h i t u n t u t an p asal 36 d ar i “Pen gaku an Im an Be la n d a ”. Ak ib a t n ya b u k a n s a ja p e n d u d u k Ka t o lik ya n g dipr otestan kan , tetapi juga yan g dian ggap kafir , ter m asuk Islam . Hal ini tentu saja m em bahayakan kekuatan Islam yang sebelum nya d o m in a n . Tin d a k a n in i t e n t u s a ja b e r t e n t a n ga n d e n ga n kesep akat an yan g d ibu at p ar a kom an d an Belan d a d en gan r aja- raja di pulau Am bon yan g m em beri kesem patan kepada pem eluk I s la m , Ka t o lik, d a n P r o t e s t a n u n t u k m e n ja la n ka n ke b e b a s a n b er a ga m a ; h a l ya n g t er n ya t a d iin gka r i. Ba p t isa n p er t a m a ya n g
d ilaku kan d alam “kot a” New Vict or ia p ad a t an ggal 27 Pebr u ar i 1615 telah m en un jukkan sisi politik dari pen yebaran agam a yan g ber kaitan den gan per luasan pen gar uh politik dan ekon om i, ser ta m iliter . Dalam r an gka m elaku kan pen gam an an ter h ad ap wilayah p a n t a i d i p u la u Am b on , VOC m en u r u n ka n p a r a p en d u d u k (d i a n t a r a m er eka t er d ir i d a r i ‘p a ga n ’ d a n ka fir ) u n t u k m en d ia m i wilayah tersebut. Di an tara m ereka ada yan g juga yan g kem udian dikristen kan . Tin dakan -tin dakan VOC in i di kem udian hari m akin m en egaskan kon flik di an tara Islam dan Kristen .Fran k L. Cooley (19 8 7), h a l. 2 52 -2 53 .
6 Dalam perjan jian 160 5 ditetapkan (1) sem ua cen gkeh harus dijual h an ya kepad a Ku m pen i (Com p a g n ie), d an (2) h ar ga setiap bah r ad alah 60 r eal. H ar ga in i ter en d ah jika d iban d in gkan sau d agar - sau d agar Makassar d an J awa yan g m em beli h in gga 90 , 10 0 -120 r e a l. Se la in it u ce n gke h d a p a t d it u ka r d e n ga n b e r a s , b a r a n g ten un an , gon g, bar an g-bar an g per h iasan den gan m er eka. Setelah t a h u n 16 17 p ela ya r a n h on g i d ila ku ka n set a h u n seka li d en ga n
k or a -k or a d ar i Leitim or d an Lease seban yak 30 -40 per ah u d iisi 30 0 0 -4 0 0 0 p en d a yu n g seka ligu s b er fu n gsi seb a ga i ‘t en t a r a ’. J . Keun in g, Sejarah Am bon sam pai pada Ak hir Abad k e-17, terj. S. Gu n a wa n (J a ka r t a : Bh r a t a r a , 19 73 ), h a l. 3 0 -3 1.
7 Dap at t er lih at d ar i p r oses kon solid asi r akyat m en jelan g Per an g P a t t im u r a ( 18 17) . Ur a ia n ya n g m e n a r ik d a la m Dh a r m o n o H ardjowidjono, “Perang Maluku” dalam Sartono Kartodirdjo, (ed.),
Sejarah Perlaw an an -perlaw an an terhadap Kolon ialism e (J akarta: Dep ar t em en Per t ah an an Keam an an . Pu sat Sejar ah ABRI, 19 73), h a l. 6 0 . Keb en cia n I sla m t er h a d a p p en d u d u k Kr ist en t er n ya t a b egit u ku a t t er p elih a r a . H a l it u seca r a efekt if d igu n a ka n VOC u n t u k m e la k u k a n a d u - d o m b a . N a m p a k k e t ik a p e r la wa n a n P a t t im u r a h en d a k d it u n d u kka n , VOC m en ggu n a ka n keku a t a n Ter n a t e, d a n H u a m u a l u n t u k m en gh a n cu r ka n p er la wa n a n in i. Sultan Ternate dan Tidore m enyerahkan 20 buah kora-kora dengan prajurit yang dipim pin Pangeran O’Tusan (Ternate), dan Kim elaha Du kim i (Tid or e). Pu n ca k ket er lib a t a n m er eka t er ja d i ket ika d i tangan m ereka, kepala Raja Abubu (salah satu pentolan Pattim ura) Pa u lu s Tia h a h u d ip a n cu n g d i h a d a p a n m a t a r a kya t n ya sen d ir i oleh para alifuru utara dengan sem angat yang m enyala-nyala. I.O. Nanulaita, Kapitan Pattim ura (J akarta: Depdikbud: Proyek Biografi P a h la wa n Na sion a l, 19 79 ), h a l. 12 9 -13 0 , 16 1.
8 Lepas dari kebenaran secara m aterial – karena pun sem ua itu m asih p er lu d ibicar akan lagi– t och ia m er u p akan p er sp ekt if d om in an yan g t er jaga h in gga saat in i.
9 Sa la h sa t u n ya a d a la h p osisi n eger i-n eger i d i J a zir a h H u a m u a l (Salah u tu ). Dalam tr ad isi lisan d isebu tkan bah wa sesu n ggu h n ya
selu r u h J azir ah ter sebu t ter d ir i d ar i p en d u d u k ber agam a Islam . Na m u n a kib a t p en yer a n ga n VOC, m a ka wila ya h it u kem u d ia n dikristen kan , n am un ditolak oleh setem pat. Akibatn ya han ya satu negeri yang m enjadi Kristen yaitu Waai. Bagi m asyarakat Islam di p u la u Am b on d a n seb a gia n p u la u H a r u ku , kisa h it u su n ggu h tr agis. Un tu k m en gen an g per sitiwa itu m er eka lalu m en ciptakan lagu (k apata) yan g berjudul, “H en a Masa Waya” artin ya “Rum ah Ya n g Be s a r ”. La gu in i b e r is ik a n b a ga im a n a k e p ilu a n a k ib a t keterpecah an an tar saudara itu terjadi. Sam pai sekaran g lagu itu m a sih d in ya n yika n ju ga oleh or a n g Wa a i ket ika m ela ksa n a ka n upacara adat. Wawan cara den gan M. Kayadoe, 0 6 J un i 20 0 3. 10 Konteks historis itulah yang m engakibatkan pada saat pecah konflik,
ter n yata ter bu kti secar a efektif pen ggu n aan per ten tan gan agam a d ap at m em ban gkitkan sen tim en yan g san gat ku at satu ter h ad ap yan g lain . Ter m asu k ket ika p en yer an gan d ar i Leih it u t er h ad ap wila ya h p e m u k im a n Be n t e n g Ka r a n g, P o k a , d a n s e k it a r n ya , d ike m u ka ka n p e m b e n a r a n h is t o r is b a h wa wila ya h it u a d a la h bagian dari Kerajaan H itu Raya. Atau alasan di balik penyerangan ke Negeri Waai (Kristen) oleh beberapa negeri di sekitar jazirah itu ber sam a n eger i-n eger i d i H atu h ah a. Mer eka m en gatakan bah wa p en yer a n ga n it u seb a ga i ca r a m en gu ku h ka n kem b a li keja ya a n I sla m a t a s selu r u h ka wa sa n it u . Diseb u t ka n ju ga b a h wa Wa a i sesun gguhn ya adalah bagian dari persekutuan n egeri-n egeri Islam ya n g p e r n a h b e r s a m a d a la m k e r a ja a n Wa ya a . Ak ib a t pen gh an curan oleh VOC, kerajaan itu h an cur dan sebagian besar p e n d u d u kn ya m e n ye b a r ke n e ge r i- n e ge r i s e kit a r . Wa wa n ca r a den gan Bpk. H . Pellu, 23 J an uari 20 0 3.
11 Ad a b eb er a p a a r t i la gi d a r i ka t a p ela ya n g ju ga d a p a t b er a r t i ‘m a ka n ’. Na m u n d i sin i a ka n d iiku t i p em a kn a a n p ela m en u r u t r u m pu n bah asa Wem ale/ Alu n e d i Pu lau Ser am – sebagai tem pat yang dari sana banyak negeri di Maluku Tengah m enyatakan asal- u su ln ya. Wawan car a d en gan J . Tam aela, 0 8 J u n i 20 0 3. 12 Dalam perspektif m asyarakat suku di Maluku, h ubun gan sebagai
sa u d a r a b egit u lu h u r d a n p er lu d ija ga b a h ka n d en ga n n ya wa sekalip u n . Ia ber kaitan d en gan tin gkat keter an cam an yan g ku at karen a praktek perburuan kepala yan g berlan gsun g dalam kon teks m asyarakat suku saat itu (pulau Seram ). Karen a itu tidak jaran g jik a p e r la k u a n a n t a r a n ggo t a s e k u t u p ela s a n ga t is t im e wa . Wawan car a d en gan J . Tam aela, 20 Ap r il 20 0 3.
13 Sum ber data ini berasal dari tradisi lisan yang kem udian sulit dicari
set t in g t a h u n n ya . Na m u n d ip er kir a ka n t er ja d i set ela h Leih it u d itaklu kan abad ke-17. H u bu n gan itu ter cip ta ketika Batu m er ah m en olon g Passo yan g h am pir ten ggelam d i tan ju n g pu lau Bu r u . H in gga seka r a n g t em p a t it u d ia n gga p sa kr a l (d it a n d a i d en ga n
batu h itam yan g tid ak p er n ah ter tu tu p air walau p u n air sed an g m eluap di pantai itu. Nam a tem pat itu adalah “Batupela”. Hingga s e ka r a n g h u b u n ga n Ba t u m e r a h - P a s s o t e t a p b a ik. Wa wa n ca r a d en gan Bp k. H atala (m an tan Raja Batu m er ah ), 11 J u n i 20 0 3. 14 Misaln ya, p er ikatan H atu h ah a Am ar im a p u n m en caku p H u laliu
sebagai n eger i Kr ist en d i an t ar a n eger i-n eger i Islam yan g lain . Walaupun m ereka tidak m en yeran g H ulaliu, bukan berarti hal itu d igen er a lisir ke sem u a n eger i-n eger i Kr ist en . Ka r en a n a n t in ya Kariu (Kristen) pun diserang, begitu juga negeri Haruku. Hal yang sam a t er jad i ju ga d i t em p at -t em p at lain . Wawan car a d en gan J . Ta ih u t t u , 10 J u n i 2 0 0 3.
15 Chris Wilson, In tern al Con flict in In don esia: Causes, Sy m tom s an d
Sustain able R esoluition, 20 0 1. H al.1.
16 Eep Saefu lloh Fatah , Ca t a t a n a t a s Ga g a ln y a Polit ik Or d e Ba r u (Yogya ka r t a : 19 9 8 ), h a l. xxii.
17 Dalam siar an per s pad a waktu m en jelan g d an sesu d ah jatu h n ya Soeh a r t o, ia m en ga ku b a h wa seb en a a r n ya d ir in ya su d a h t id a k m au lagi m enjadi Presiden. Tetapi m elalui Harm oko (saat itu Ketua MPR/ DPR) ia dim in ta lagi m en jadi pr esiden yan g ke-sekian kali k a r e n a “r a k ya t m e m in t a n ya ”.
18 Di Solo pun terjadi kerusuhan m assa, padahal hal itu tidak pernah terpikirkan sebelum n ya bakal terjadi di san a. Walaupun dem ikian , ia t ela h m em b a n t u m en jela ska n p r oses p er geser a n keku a sa a n yan g t er jad i d i level bawah (m assa r akyat ). Kon d isi-kon d isi in i t u r u t m em b a n t u m en gkon d is ika n keja d ia n s er u p a d i d a er a h - d aer ah lain , tid ak ter kecu ali Am bon .
19 Ibid, hal. xxiii
20 Pendapat sem acam ini bisa saja benar, tetapi perlu dipertanyakan kem bali apakah m em an g ben ar sem ua kejadian yan g berlan gsun g pada saat itu dapat dianggap m erepresentasikan kekuatan state ini secar a objektif? J awaban n ya bisa saja m en jadi sebuah spekulasi. Milit er sesu n ggu h n ya t id a k “ser a p u h ” ya n g kelih a t a n sa a t it u . Ter b u kt i d a r i set t in g m a su kn ya m a h a siswa ke DPR/ MPR ya n g ber akh ir den gan jatuh n ya Soeh ar to. Tetapi yan g ber beda den gan itu adalah ketika m ah asiswa ter paksa h ar us ber h adapan kem bali d en gan m ilit er d an Polr i saat it u d i J em bat an Sem an ggi ket ika h e n d a k m e m p r o t e s Sid a n g I s t im e wa M P R . Ke d u a h a l in i m en un jukkan bahwa m iliter dan Polri sesun gguhn ya tidak seperti yan g d ip er kir akan . Selalu m en geju t kan .. H al yan g sam a p er n ah ter jad i d i tah u n 1966 h in gga p er istiwa Malar i.
21 Marcus Mietzner, “Politics of Engagem ent: The Indonesian Arm er Forces, Islam ic Extrem ism , and the “War on Terror”, dalam J aideep Singh et.al, (ed.), The Brow n Journ al of W orld Affairs. Volum e IX ,
Issu e 1 (Br own Un iver sity, USA, 20 0 2), h al. 72-73.
22 Den gan LitSus yan g dilakukan terhadap segala proses politik dari t in gkat Desa/ Kelu r ah an , Daer ah h in gga Nasion al, m aka ban yak kesem p a t a n u n t u k b er kem b a n g d a r i kelom p ok sip il m en ga la m i h a m b a t a n . Kon d isi in i ju ga seb en a r n ya t u r u t m em b a n gkit ka n sen tim en tersen diri di kalan gan para aktivis “plat h itam ” kepada aktivis “plat m er ah ”. Per ten tan gan itu an tar a lain d apat ter lih at d ar i kon flik ter tu tu p d i an tar a KNPI (Kom ite Nasion al Pem u d a In don esia) di daerah -daerah den gan para aktivis OKP – terutam a yan g m en am akan dirin ya Kelom pok Cipayun g yaitu H MI, GMKI, PMII, GMNI, PMKRI– terhadap keberpihakan state terhadap m ereka. Tidak saja itu , ban yak par a aktivis yan g ber ger ak di m asyar akat ju ga m e r a s a “d ija ja h ke b e b a s a n n ya d e n ga n p e r la ku a n a p a r a t