• Tidak ada hasil yang ditemukan

POLA PEN AN GAN AN KON FLIK YAN G TELAH D ILAKU KAN PARA PIH AK

Dalam dokumen Studi Kasus Konflik di Indonesia (Halaman 56-61)

P ih a k ya n g Me n gin gin ka n Ke d a u la ta n P a p u a

P er la wa n a n d a la m r a n gka m en ggu ga t kem b a li p r oses m asuknya Papua ke dalam NKRI telah terjadi sejak awal tahun 1960 -an sesaat ketika Papua dinyatakan resm i sebagai bagian d ar i wilayah NKRI. Mu lan ya d ilaku kan p er lawan an ter bu ka dengan m enggunakan organisasi dan atribut resm i akan tetapi setelah m endapat tekanan dari pem erintah RI m aka perlawanan tersebut m en jadi gerakan bawah tan ah . Maka m ulai saat itu perjuan gan didom in asi oleh kekuatan bersen jata den gan pola perjuangan tertutup karena lebih banyak dilakukan bergerilya berbasis di hutan.

Refor m a si t a h u n 19 9 8 t ela h m em u n cu lka n p ola p ola perjuangan baru yang m erupakan strategi baru. Dim ulainya dialog Tim 10 0 ke J akarta, Musyawarah Besar (MUBES) Rakyat Papua 20 0 0 dan Kongres Papua II 20 0 0 . Selain itu perubahan pola

kepem im pinan nasional presiden Abdurrahm an Wahid ketika itu turut pula m em berikan peluang dem okrasi yang lebih besar – kendati konsistensinya dipertanyakan kem udian – hal ini ditandai dengan disetujuinya pengibaran bendera Bintang Kejora.

Maka h al ter sebu t m en jadi m om en tu m per u bah an pola perjuangan Papua m erdeka ke areal yang lebih dem okratis dan akom od atif. Kon d isi in i d isikap i p u la d en gan ber bagai car a berjuan g yan g dilakukan oleh berbagai kelom pok m asyarakat. Tern yata lan gsun g m aupun tidak lan gsun g turut berpen garuh terhadap pelaksanaan ketatanegaraan dan pem erintahan (baca: politik pem bangunan) di Papua m elalui dom estikasi, politik bagi- bagi duit, dana Crash Program , J PS dan juga OTSUS, sepintas m irip respon yang dilakukan pem erintah RI di era 60 -an (blueprint Pep er a).

1. Periode Perlaw an an Bersen jata

Perlawanan bersenjata m erupakan strategi perjuangan yang cukup lam a. Di era 60 -an sangat banyak sekali perlawanan ber- senjata yang dilakukan oleh kelom pok Papua Merdeka dari sayap m iliter TPN/ OPM seperti: Penyerangan OPM di distrik Kebar tanggal 26 J uli 1965 dibawah pim pinan J ohanis Djam buani (bekas an ggota kepolisian Man okwari, peristiwa pen yeran gan OPM terhadap asram a Yonif 641 di Arfai tanggal 28 J uli 1965 dibawah pim pinan Ferry Awom , peristiwa Makbon 21 J anuari 1968 dibawah pim pinan Daniel Wanm a, peristiwa pos Sausapor 2 Februari 1968 dibawah pim pinan J ulius Wanm a dan David Pray , peristiwa pos Irai di An ggi 4 Maret 1968 dibawah pim pin an J oseph In dey, peristiwa Eram bu Merauke 8 April 1969 dan lain-lain.

Kelom pok-kelom pok TPN/ OPM dari berbagai wilayah di Pap u a bu k a n m er u p a k a n k elom p ok y a n g h om og en kar en a bia sa n y a di setiap wilayah m em pu n yai kepem im pin an yan g berbeda dan taktik perjuangan yang berbeda pula. Terkadang m ereka tidak salin g m en gen al bahkan salin g m en curigai satu sam a lain. Ada juga basis kelom pok bersenjata yang m engalam i perpindahan tem pat karena situasi yang kurang am an dan selalu

m endapat pengejaran dari pihak TNI/ POLRI, seperti perpindahan dari tem pat yang terbuka di sekitar pesisir ke daerah yang lebih d alam at au m en car i p esisir -p esisir yan g r elat if su lit u n t u k dijangkau karena kondisi alam nya.

Un tuk m en en tukan basis-basis kekuatan bersen jata agak sulit karena biasanya perlawanan bersenjata pada satu periode didom inasi oleh kelom pok dan wilayah tertentu dan pada periode yang lain didom inasi oleh kelom pok dan wilayah yang lain.

Hal m enarik adalah bahwa wilayah yang berbatasan terbuka dengan laut m isalnya, biasanya terdapat konsentrasi kekuatan bersenjata baik TPN/ OPM m aupun TNI/ POLRI sehingga konflik yang terjadi m elalui kontak senjata langsung, seperti kasus Betaf, Toor Atas, Bonggo dan Sarm i pada tahun 20 0 0 – 20 0 1. Akan tetapi un tuk wilayah yan g berbatasan darat m aka pola yan g d igu n a k a n s e r in g b e r u p a p e n ya n d e r a a n s e p e r t i k a s u s p e n ya n d e r a a n Tim Lo r e n t z M a p n d u m a 8 J a n u a r i 19 9 6 , p en yan d er aan kar yawan d an p im p in an PT. Kor in d o Gr ou p Merauke 17 J anuari 20 0 1 atau penyanderaan warga sipil PIR IV Arso Mei 1999.

Tokoh-tokoh perlawanan bersenjata yang berasal dari daerah pedalam an dim otivasi pada perjuangan awal tahun 60 -an dim ana ban yak sekali rakyat di pedalam an diban tai dan pem erin tah bertindak sangat lam bat untuk m endekati rakyat, hal ini berbeda dengan peristiwa yang terjadi di daerah Sorong dan sekitarnya p ad a m asa p er alih an kar en a set elah it u p em er in t ah seger a m ela ku ka n r ekr u it m en (p en jin a ka n ) t er h a d a p t okoh -t okoh m asyarakat di daerah tersebut, seperti Ayam aru dan sekitarnya dengan diberikan peluang dan fasilitas seperti pendidikan, kursus dan jabatan-jabatan strategis.

Beberapa di antaranya tokoh perjuangan Papua Merdeka sem ula berasal dari TNI aktif yang kem udian m elarikan diri untuk bergabung dengan kelom pok TPN/ OPM. Bahkan sam pai sekarang ada yang m asih bertahan m em im pin perjuangan selam a kurang lebih 30 tahun di hutan.

“Kam i akan m engem balikan pola perjuangan ke arah defensif, kam i sadari bahwa perjuangan kam i m asih terpecah-pecah dan m em er lukan kon solidasi, saya juga sedan g m em ikir kan car a m engatasinya. Kam i tidak akan m enyakiti orang-orang Indonesia karena kam i tetap m em erlukan saudara-saudara dari Indonesia untuk m em bangun Papua ...” (Penuturan Tn. Hans Yuweni pada pertem uan 15 J uni 20 0 3 di Dem ta).

Kelem ahan perlawanan bersenjata :

1. Kepem im pin an yan g belu m ter ogan isir secar a baik: pola kom ando dan hubungan satu sam a lainnya.

2 . Terbatasn ya saran a logistik.

3 . Adanya konflik kepem im pinan yang terjadi baik yang bersifat kelem bagaan seperti pen guasaan daerah operasi, logistik, persenjataan dan yang bersifat sangat pribadi.

2. Periode Babak Baru

Per ju an gan kem er d ekaan Pap u a m em asu ki babak bar u setelah reform asi tahun 1998 dan m em asuki tahap lebih reform is. Orang Papua m em andang itu sebagai suatu langkah dan isyarat untuk m engubah atau m engganti arah perjuangan pengem balian kedaulatan Papua dengan them a besar : Pelurusan Sejarah .

Maka d im u lailah d en gan ger akan d ar i beber ap a t okoh m em ben tuk Forum Rekon siliasi Rakyat Irian J aya (FORERI), banyak organisasi yang berkem bang yang datang dari inisiatif rakyat langsung, bukan atas desakan kom ponen-kom ponen yang ada sebelum nya, m isalnya kom ponen LSM.

Setelah itu oran g Papua m en gam bil satu lan gkah beran i untuk m em bentuk Tim 10 0 yang akan bertem u dengan Presiden H abibie. Ken dati pem ben tukan dan keberadaan Tim tersebut terjadi tarik m enarik akan tetapi akhirnya Tim tersebut berangkat dengan kom posisi keanggotaan yang lebih banyak diwarnai oleh oran g-oran g yan g beraspirasi m erdeka, terbukti di kem udian hari.Dihadapan Presiden RI ,Tim 10 0 m enyatakan keinginannya

sebagai perwakilan dari seluruh kom ponen rakyat Papua untuk m e m in t a m e r d e k a .Da la m s a t u k e s e m p a t a n , To m Be a n a l m engatakan bahwa “… kein gin an itu ben ar-ben ar datan g dari hati rak y at Papua ak an tetapi jik a w ak tu itu H abibie k asih kitoran g m erdeka lan gsun g, say a pasti bin gun g juga…”.

Peristiwa pen gibaran Bin tan g Kejora tan ggal 1 desem ber 1999 juga m enetapkan 7 tuntutan yang disam paikan pada DPRD Papua ,kem udian dibentuk Tim gabungan antara DPRD Papua den gan perwakilan dari rakyat Papua un tuk m en yam paikan tuntutan kepada Presiden RI. Dari 7 tuntutan 3 telah dipenuhi yakni : Perubahan nam a Irian J aya ke Papua,pem bebasan Tapol Napol dan Papuanisasi.

Berangkat dari itu kelom pok Papua m erdeka terus m elakukan kon solid asi kom p on en . Kesem p at an it u d isam bu t baik d an b er im p lika si sa n ga t cep a t d i t in gka t p er kot a a n , ka la n ga n m ahasiswa, cendikiawan, m asyarakat adat, tokoh agam a, tokoh p er em p u an d an lain -lain . Secar a kelem bagaan ,r ep r esen t ase kom ponen perjuangan rakyat Papua dibahas pada MUBES 20 0 0 dan Kongres Papua II 20 0 0 disahkan dalam bentuk Presidium Dewan Papua (PDP) yang m erupakan representase dari 7 pilar yakni: pem uda, m ahasiswa, perem puan, agam a, adat, eks Tapol/ Napol dan Sejarahwan. PDP kem udian m elakukan konsolidasi di tin gkat kabupaten den gan m em ben tuk pan el-pan el yan g juga terdiri dari representase 7 pilar tersebut.

Nam pak bahwa konsolidasi yang dilakukan oleh PDP m asih belu m m aksim al kar en a ter lebih d ah u lu h ar u s m elaku kan rekonsiliasi antara berbagai kom ponen perjuangan ,m em bangun arah diplom asi dan juga m asalah – m asalah internal ditubuh PDP sendiri,seperti m anagem ent organisasi dan kepem im pinan yang belum dipolakan dengan baik .

Arah perjuangan Papua kem udian dilandasi dengan hasil keputusan Kongres Papua II tahun 20 0 0 , yakni:

2 . Pelurusan sejarah

3 . Konsolidasi kom ponen Papua 4 . Agen da politik

5 . Manifesto Hak-hak dasar rakyat Papua.

Maka sejak saat itu platform perjuan gan Papua m em ilih strategi perjuangan m elalui perjuangan dam ai dan TPN/ OPM m asih tetap m enjadi bagian dari strategi perjuangan sayap m iliter. Bersam aan den gan h al itu m aka perjuan gan sosialisasi h asil Kongres dan perjuangan diplom asi terus dilakukan. Hal ini cukup m e n gk h a wa t ir k a n p e m e r in t a h I n d o n e s ia , n a m p a k d a la m sam bu t an Men lu Alwi Sh ih ab yan g d isam p aikan m en jelan g penutupan tahun 20 0 0 :

“……M e n ga n t is ip a s i k e gia t a n k e lo m p o k p r o k e m e r d e k a a n u n t u k m e n gh a s ilk a n h a s il Ko n ggr e s r a k ya t P a p u a k e m a s ya r a k a t in t e r n a s io n a l, P e m e r in t a h I n d o n e s ia t e la h m e n ga d a k a n p e n d e k a t a n b a ik k e p a d a k e p a la - k e p a la per wakilan asin g d i J akar ta m au pu n per wakilan RI d i lu ar n eger i dan m en egaskan sikap pem er in tah RI yan g m en olak resolusi kon ggres tersebut. Melalui im bauan pem erin tah dan ku n ju n ga n b a p a k p r esid en ke lu a r n eger i, p em er in t a h ke n e ga r a - n e ga r a s a h a b a t t e la h m e n ge lu a r k a n p e r n ya t a a n t e r b u k a ya n g m e n e ga s k a n k e m b a li d u k u n ga n m e r e k a terhadap keutuhan wilayah RI, persetujuan New York tahun 1962 dan resolusi sidang Majelis Um um PBB No. 250 4 (XXIV) tah u n 1969…….” (ku tip an : Men gap a Pap u a In gin Mer d eka, Yorris TH . Raweyai, hal 8 9)

Re a ks i P e m e rin ta h In d o n e s ia

Dalam dokumen Studi Kasus Konflik di Indonesia (Halaman 56-61)

Dokumen terkait