• Tidak ada hasil yang ditemukan

General Anestesi a. Persiapan

Dalam dokumen PNPK Perdatin 2015 (Halaman 104-112)

CEDERA KEPALA BERAT

2. General Anestesi a. Persiapan

Pasien : Pasien masuk kamar operasi sudah terpasang infuse dengan abocath No 18 atau yg terbesar yang dapat masuk.

Infus dengan cairan kristaloid (RL, Asering, NaCl 0,9 %) 10 – 15 cc / KgBB. Monitor tekanan darah, HR, SpO2, dan EKG jika diperlukan

Alat : Alat-alat untuk melakukan intubasi oral maupun nasal. Obat: Obat yang berpotensi untuk neuroproteksi-neuro resusitasi.

Premedikasi : Dapat menggunakan obat lain, disesuaikan dengan Farmakokinetik –Dinamik serta kondisi pasien.

- Midazolam 0,05 mg / KgBB i v - Fentanyl 1-2 ug / KgBB i v

Induksi : Dapat menggunakan salah satu obat dibawah (sesuai kondisi pasien) - Penthotal : 3 – 5 mg /KgBB i v

- Propofol : 1-- 2 mg/KgBB iv Pemeliharaan : menggunakan agen inhalasi

- Inhalasi : Isofluran, Sevofluran < 1 MAC

- Intravenus Anestesi : Propofol 1-2 mg/kg BB/Jam Pelumpuh Otot:

- Non Depol : - Rokuronium : 0,6 mg / KgBB

- Vecuronium : 0,1 mg / KgBB b. Penatalaksanaan:

- Pasien masuk kamar operasi sudah terpasang infus. - Monitor dipasang

- Obat premedikasi diberikan di ruang induksi - Obat induksi diberikan kemudian

- Pasien diberikan oksigen 100 % untuk preoksigenasi

- Obat pelumpuh otot diberikan untuk fasilitas intubasi dan pemeliharaan

- Setelah onset obat tercapai dilakukan intubasi orotrakheal dengan laringoskop dan ETT yang sesuai dengan pasien.

- Agen pemeliharaan dibuka, bersamaan dengan O2 dan N2O. c. Pengakhiran anestesi

- Agen pemeliharaan anestesi dihentikan 5 – 10 menit sebelum operasi berakhir

- Pemberian obat penawar pelumpuh otot diberikan hanya jika terjadi pemanjangan masa kerja pelumpuh otot setelah operasi selesai.

- Ekstubasi dilakukan jika pasien sudah bernafas spontan, adekuat. Reflek sudah muncul dan dapat membuka mata secara spontan atau dengan rangsang dan kekuatan otot sudah pulih 75 %; kecuali jika ada penyulit atau prakondisi lain (hipertensi, penyakit jantung) dilakukan ekstubasi dalam atau yang memerlukan penanganan lanjut di Ruang Rawat Intensif.

Daftar Pustaka

1. Bisri. T; Pengelolan Anestesi untuk Pasien dengan Tumor Supratentorial. In Anestesia & Critical Care, 2003; 21;1;61-71.

2. Bisri, T. Craniotomy for Supratentorial Tumor. In Asean Symposium on Neuro Anaesthesia. Bandung. Indonesia : 1997.

3. Bruder, N. Ravussin, P. Recovery from Anesthesia and post operative extubation of Neurosurgical patients.Departement d’anesthesiologie et de reanimation. Hospital de Sion. Switzerland. E-mail :

[email protected].

4. Kelly, DL. Et al. Supra tentorial and pituitary surgery. In Albine. Text Book of Neuroanesthesia. McGraw-Hill Companies.1997;28: 931-970

5. Menon, DK. and Matta, BF. Intensive care after acute head injury. In Matta, BF., et al. (Eds): Textbook of

Neuroanaesthesia and Critical Care, GMM, 2000; 21:299-317.

6. Turner,JM. Intracranial Pressure. In Matta,BF, et al. ( Eds ) : Text Books Of Neuro Anesthesia and Critical

Care, GMM,2000; 21 : 51-66

BAB. III. NEURO ANESTESI NEURO CRITICAL CARE

KRANIOTOMI MASA SUPRA TENTORIAL

Batasan dan Uraian

Merupakan tindakan operasi membuka kranium, dengan perkiraan masa lebih dari 30 cm3 memerlukan tindakan anestesi dengan pengendalian tekanan intrakranial pada pasen status physik ASA III.

Tujuan

Memberikan acuan yang benar tentang anestesi pada kasus bedah kraniotomi supratentrorial. Kebijakan:

1. Dr anestesi wajib memeriksa kelengkapan rekam medis sebelum dilakukan tindakan anestesi sesuai ketentuan.

2. Dr anestesi wajib memberikan informasi, penjelasan dan persetujuan tentang tindakan anestesi yang akan dilakukan (Inform Concent)

3. Teknik anestesi yang digunakan adalah GA Intubasi, MAC/Awake Cranitomi disesuaikan dengan kondisi pasen.

4. Dosis obat, penambahan obat dapat berubah sewaktu-waktu jika diperlukan atau terjadi perubahan kondisi pasien secara mendadak.

5. Tehnik yang dilakukan bertujuan pada pengendalian kenaikan tekanan intakranial yang optimal. Prosedur

1. Persiapan

a. Kunjungan Preop visite

Menilai kondisi fisik pasien, riwayat penyakit terdahulu, penjelasan prosedur tindakan anestesi Memperkirakan perlu-tidaknya Perawatan Rawat Intensif-Neuro Critical Care pasca operasi.

Membuat Inform Concent dengan pasen/keluarga pasen dan disaksikan dari kedua belah pihak b. Konsultasi

Dengan bagian lain terkait kelainan / penyakit yang diderita pasien c. Pemerikasaan Penunjang

Lab : Darah Rutin, CT, BT, BUN, Cr, Elektrolit, Analisa Gas Darah (Astruff)

Pemeriksaan lain sesuai indikasi

Rontgen : Thorak PA, CTscan kepala, lain-lain sesuai indikasi EKG : Wajib diatas umur 40 th, lain-lain sesuai indikasi 2. General Anestesi

a. Persiapan

Pasien : Pasien masuk kamar operasi sudah terpasang infus dengan abocath No 18 atau yang terbesar yang dapat masuk. Dapat dilakukan pemasangan Infus 2 jalur untuk antisipasi perdarahan, dengan cairan kristaloid (RL, Asering, NaCl 0,9 %) 10 – 15 cc / KgBB. Pemasangan Kateter Urin, dikosongkan dan dicatat produksi setiap jam.

Monitor NIBP(Arteri Line), HR, EKG, SpO2, Tekanan Vena Sentral. ETCO2, Blood Gas Analisis, Nerve Stimulator jika diperlukan. Siapkan darah, sesuai besar tumor

Alat : Alat-alat untuk melakukan intubasi oral maupun nasal. Obat:

Premedikasi : Dapat menggunakan obat lain, disesuaikan dengan Farmakokinetik –Dinamik serta kondisi pasien.

- Midazolam 0,05 mg / KgBB i v - Fentanyl 1-2 ug / KgBB i v - Dexmedetomidine 0.08-1.0ug/ KgBB i v - Lidokain 0.5 - 1 mg/ KgBB I v

Induksi : Dapat menggunakan salah satu obat dibawah (sesuai kondisi pasien) - Penthotal 3 – 5 mg / KgBB i v

- Propofol 1 – 2 mg / KgBB i v

- Etomidat 0.3 mg/ KgBB i v

Pemeliharaan : menggunakan agen inhalasi

- Inhalasi : Isofluran, Sevofluran < 1 MAC - Intravenus Anestesi : Propofol 1-2 mg/kgBB/jam. Pelumpuh Otot:

- Non Depol : - Rokuronium : 0,6 mg / KgBB - Vecuronium 0,1 mg / KgBB b. Penatalaksanaan:

- Pasien masuk kamar operasi sudah terpasang infus. - Monitor dipasang

- Obat induksi diberikan kemudian

- Pasien diberikan oksigen 100 % untuk preoksigenasi

- Obat pelumpuh otot Non Depolarisasi diberikan untuk fasilitas intubasi dan pemeliharaan

- Setelah onset obat tercapai dilakukan intubasi orotrakheal dengan laringoskop dan ETT yang sesuai dengan pasien.

- Agen pemeliharaan dibuka, bersamaan dengan O2 dan analgesi dipergunakan Fentanyl 1-2 mcg/kgBB jam atau Dexmedetomidin 0.8mcg/kgBB

- Penggunaan pelumpuh otot untuk mendapatkan rileksasi dan control ventilasi - Dapat dipasang Capnograph untuk menilai ETCO2.

c. Pengakhiran anestesi

- Agen pemeliharaan anestesi dihentikan 5 – 10 menit sebelum operasi berakhir

- Obat penawar pelumpuh otot tidak diberikan bagi pasen yang memerlukan perawatan di neuro Critical Care- Neuro Critical Care.

- Ekstubasi dilakukan jika pasien sudah bernafas spontan, adekuat. Reflek sudah muncul dan dapat membuka mata secara spontan atau dengan rangsang dan kekuatan otot sudah pulih 75 %; kecuali jika ada penyulit atau prakondisi lain (hipertensi, penyakit jantung) dilakukan ekstubasi dalam atau yang memerlukan penanganan lanjut di Ruang Rawat Intensif.

Daftar Pustaka

1. Bisri. T; Pengelolan Anestesi untuk Pasien dengan Tumor Supratentorial. In Anestesia &

Critical Care, 2003; 21;1;61-71.

2. Bisri, T. Craniotomy for Supratentorial Tumor. In Asean Symposium on Neuro Anaesthesia. Bandung. Indonesia : 1997.

3. Bruder, N. Ravussin, P. Recovery from Anesthesia and post operative extubation of Neurosurgical patients.Departement d’anesthesiologie et de reanimation. Hospital de Sion. Switzerland. E-mail : [email protected].

4. Kelly, DL. Et al. Supra tentorial and pituitary surgery. In Albine. Text Book of

Neuroanesthesia. McGraw-Hill Companies.1997;28: 931-970

5. Menon, DK. and Matta, BF. Intensive care after acute head injury. In Matta, BF., et al. (Eds):

Textbook of Neuroanaesthesia and Critical Care, GMM, 2000; 21:299-317.

6. Turner,JM. Intracranial Pressure. In Matta,BF, et al. ( Eds ) : Text Books Of Neuro Anesthesia

and Critical Care, GMM,2000; 21 : 51-66

BAB. III. NEURO ANESTESI NEURO CRITICAL CARE

KRANIOTOMI MASA INFRA TENTORIAL

Batasan dan Uraian

Merupakan tindakan operasi membuka kranium, dengan masa terletak pada daerah infra tentorial yang padat nucleus memerlukan tindakan anestesi dengan tehnik pengendalian tekanan intrakranial yang memadai.

Tujuan

Kebijakan:

1. Dr anestesi wajib memeriksa kelengkapan rekam medis sebelum dilakukan tindakan anestesi sesuai ketentuan.

2. Dr anestesi wajib memberikan informasi, penjelasan dan persetujuan tentang tindakan anestesi yang akan dilakukan (Inform Concent)

3. Teknik anestesi yang digunakan adalah GA Intubasi, MAC/Awake Cranitomi disesuaikan dengan kondisi pasen.

4. Dosis obat, penambahan obat dapat berubah sewaktu-waktu jika diperlukan atau terjadi perubahan kondisi pasien secara mendadak.

5. Tehnik yang dilakukan bertujuan pada pengendalian kenaikan tekanan intakranial yang optimal. Prosedur

1. Persiapan

a. Kunjungan Preop visite

Menilai kondisi fisik pasien, riwayat penyakit terdahulu, penjelasan prosedur tindakan anestesi Memperkirakan perlu-tidaknya Perawatan Rawat Intensif-Neuro Critical Care pasca operasi.

Membuat Inform Concent dengan pasen/keluarga pasen dan disaksikan dari kedua belah pihak b. Konsultasi

Dengan bagian lain terkait kelainan / penyakit yang diderita pasien c. Pemerikasaan Penunjang

Laboratorium : Darah Rutin, CT, BT, BUN, Cr, Elektrolit, Analisa Gas Darah (Astruff)

Pemeriksaan lain sesuai indikasi

Rontgen : Thorak PA, CTscan kepala, lain-lain sesuai indikasi EKG : Wajib diatas umur 40 th, lain-lain sesuai indikasi 2. General Anestesi

a. Persiapan

Pasien : Pasien masuk kamar operasi sudah terpasang infus dengan abocath No 18 atau yang terbesar yang dapat masuk. Dapat dilakukan pemasangan Infus 2 jalur untuk antisipasi perdarahan, dengan cairan kristaloid (RL, Asering, NaCl 0,9 %) 10 – 15 cc / KgBB. Pemasangan Kateter Urin, dikosongkan dan dicatat produksi setiap jam.

Monitor IBP(Arteri Line), HR, EKG, SpO2, Tekanan Vena Sentral. PemasanganVena Sentral diposisikan pada daerah mix vein atrium kanan. Pemasang PCS ( Pre Cordial Steteskop) Pada daerah dada kanan atas. ETCO2, Blood Gas Analisis, Nerve Stimulator jika diperlukan. Siapkan darah, sesuai besar tumor

Alat : Alat-alat untuk melakukan intubasi oral maupun nasal. Obat :

Premedikasi : Dapat menggunakan obat lain, disesuaikan dengan Farmakokinetik –Dinamik serta kondisi pasien.

- Midazolam 0,05 mg / KgBB i v - Fentanyl 1-2 ug / KgBB i v - Dexmedetomidine 0.08-1.0ug/ KgBB i v - Lidokain 0.5 - 1 mg/ KgBB i v

- Inotrope Dopamin, Dobutamin, Nor Epinephrin. - Anticholinergik Atropin 2mg/kg BB i v

Induksi : Dapat menggunakan salah satu obat dibawah (sesuai kondisi pasien) - Penthotal 3 – 5 mg / KgBB i v

- Propofol 1 – 2 mg / KgBB i v - Etomidat 0.3 mg/ KgBB i v Pemeliharaan : menggunakan agen inhalasi

- Inhalasi : Isofluran, Sevofluran < 1 MAC - Intravenus Anestesi : Propofol 1-2 mg/kgBB/jam. Pelumpuh Otot:

- Non Depol : - Rokuronium : 0,6 mg / KgBB - Vecuronium 0,1 mg / KgBB b. Penatalaksanaan:

- Pasien masuk kamar operasi sudah terpasang infus. - Monitor dipasang

- Obat premedikasi diberikan di ruang induksi - Obat induksi diberikan kemudian

- Pasien diberikan oksigen 100 % untuk preoksigenasi

- Obat pelumpuh otot Non Depolarisasi diberikan untuk fasilitas intubasi dan pemeliharaan - Setelah onset obat tercapai dilakukan intubasi orotrakheal dengan laringoskop dan ETT yang

sesuai dengan pasien.

- Agen pemeliharaan dibuka, bersamaan dengan O2 dan analgesi dipergunakan Fentanyl 1-2 mcg/kgBB jam atau Dexmedetomidin 0.8mcg/kgBB

- Dapat dipasang PCS (Pree Cordial Stetoskop) dan Capnograph untuk menilai ETCO2.

- Antisipasi Venus Air Embolism dengan Normotensi, Normovolumi, pembasahan daerah operasi, serta kesiapan Penanganan terhadap Venus Air Embolisme

c. Pengakhiran anestesi

- Agen pemeliharaan anestesi dihentikan 5 – 10 menit sebelum operasi berakhir

- Obat penawar pelumpuh otot tidak diberikan bagi pasen yang memerlukan perawatan di neuro Critical Care- Neuro Critical Care.

- Ekstubasi dilakukan jika pasien sudah bernafas spontan, adekuat. Reflek sudah muncul dan dapat membuka mata secara spontan atau dengan rangsang dan kekuatan otot sudah pulih 75 %; kecuali jika ada penyulit atau prakondisi lain (hipertensi, penyakit jantung) dilakukan ekstubasi dalam atau yang memerlukan penanganan lanjut di Ruang Rawat Intensif.

Daftar Pustaka

1. Bisri. T; Pengelolan Anestesi untuk Pasien dengan Tumor Supratentorial. In Anestesia & Critical Care, 2003; 21;1;61-71.

2. Bisri, T. Craniotomy for Supratentorial Tumor. In Asean Symposium on Neuro Anaesthesia. Bandung. Indonesia : 1997.

3. Bruder, N. Ravussin, P. Recovery from Anesthesia and post operative extubation of Neurosurgical patients.Departement d’anesthesiologie et de reanimation. Hospital de Sion. Switzerland. E-mail :

[email protected].

4. Kelly, DL. Et al. Supra tentorial and pituitary surgery. In Albine. Text Book of Neuroanesthesia. McGraw-Hill Companies.1997;28: 931-970

5. Menon, DK. and Matta, BF. Intensive care after acute head injury. In Matta, BF., et al. (Eds): Textbook of

Neuroanaesthesia and Critical Care, GMM, 2000; 21:299-317.

6. Turner,JM. Intracranial Pressure. In Matta,BF, et al. ( Eds ) : Text Books Of Neuro Anesthesia and Critical

Care, GMM,2000; 21 : 51-66

BAB. III. NEURO ANESTESI NEURO CRITICAL CARE

TEHNIK AWAKE KRANIOTOMI

Batasan dan Uraian

Merupakan tindakan operasi kraniotomi pada intraaxial tumor, eloquent cortek, dilakukan brain mapping/electrical mapping untuk mengetahui lesi masa/daerah mana yg akan diambil secara tepat dalam rangka mengurangi morbiditas. Prosedur yg sering dilakukan dengan melakukan adanya periode tidur, bangun/dibangunkan pada saat brain mapping, selanjutnya ditidurkan lagi, atau sebaliknya. Pada umumnya dipergunakan untuk terapi intractable epilepsy atau mengambil secara tepat-akurat lesi masa pada daerah yang masih berfungsi.

Tujuan

Memberikan acuan yang benar tentang anestesi pada tehnik awake kraniotomi. Kebijakan:

1. Dr. anestesi wajib memeriksa kelengkapan rekam medis sebelum dilakukan tindakan anestesi sesuai ketentuan.

2. Dr. anestesi wajib memberikan informasi, penjelasan dan persetujuan tentang tindakan anestesi yang akan dilakukan (Inform Concent)

3. Teknik anestesi yang digunakan adalah Awake Cranitomi dengan persiapan semua obat, alat, tenaga sudah siap sebelum dilakukan.

4. Persiapan:

a. Setting Ruangan Operasi harus memberi kenyamanan, ketenangan b. Seluruh Team Operasi, sdm lainnya harus sudah siap dikamar operasi. c. Obat Alat dan Meja operasi sudah diposisikan dan disiapkan sejak awal. d. Pasen Sadar, Kooperatif, Verbal comand saat dilakukan Brain mapping

e. Monitor EKG, Sa, Tekanan Darah, Tidak diperlukan Monitor invasif, kateter urin. 5. Tehnik Anestesi

a. Bisa dilakukan dengan Anestesi Lokal: Ijeksi Bupivakain daerah Scalp Incisisi

 Levobuvakain 0.25 % + Adrenalin 1:200.000 dipersiapkan 40 cc b. Bila dilakukan Anestesi Umum untuk Weak Kraniotomi:

 Tehnik Tidur bangun Tidur, atau sebaliknya.

 Pemilihan Obat: 1. Mudah dikendalikan, 2. Onset-Offset yang pasti

3. Stabilitas Hemodinamik Intrakranial

4. Mempunyai sifat Neuroproteksi, Antinocicepti.

 Dosis obat; Memberi level Sedasi-Analgesi adekuat

 Lakukan Induksi Anestesi dengan Smooth dan Gentle

 Sedasi Analgesi mampu memberi; Pasen nyaman, Kooperatif, Tidak sakit saat sayatan kulit dan mengangkat tulang kepala. Obat tidak mempengaruhi Test Brain Mapping atau saat Electrocorticograpi.

 Tehnik yang dilakukan bertujuan HD stabil, Slack brain, Pasen Kooperatif agar operator dapat menentukan daerah lesi dengan melakukan brain mapping secara tepat-akurat untuk mengurangi morbitas.

Prosedur 1. Persiapan

a. Kunjungan Preop visite

Menilai kondisi fisik pasien, riwayat penyakit terdahulu, penjelasan prosedur tindakan anestesi Membuat Inform Concent dengan pasen/keluarga pasen dan disaksikan dari kedua belah pihak Mempersiapkan Seleksi Pasen, Memberi Dukungan Psikologis, Motivasi-Mensupport pasen. b. Konsultasi

Dengan bagian lain terkait kelainan / penyakit yang diderita pasien c. Pemerikasaan Penunjang

Laboratorium : Darah Rutin, CT, BT, BUN, Cr, Elektrolit, Pemeriksaan lain sesuai indikasi

Rontgen : Thorak PA, CTscan kepala, lain-lain sesuai indikasi EKG : Wajib diatas umur 40 th, lain-lain sesuai indikasi 2. General Anestesi

a. Persiapan

Pasien : Pasien masuk kamar operasi sudah terpasang infus dengan abocath No 18 atau yang terbesar yang dapat masuk. (RL, Asering, NaCl 0,9 %) 10 – 15 cc / KgBB.

Untuk kasus epilepsy, obat obat epilepsinya bisa dilanjutkan

Monitor NIBP, HR, EKG, SpO2, Tidak diperlukan Pemasangan Kateter Urin,.

Alat : Tetap dipersiapkan Alat-alat untuk melakukan intubasi oral maupun nasal. Obat :

Premedikasi : Dapat menggunakan obat lain, disesuaikan dengan Farmakokinetik –Dinamik serta kondisi pasien.

Induksi : Dapat menggunakan salah satu obat dibawah (sesuai kondisi pasien)

- Dexmedetomidine : 1.0 ug/KgBB i v selama 15 menit loading dose : 0.4 ug/KgBB i v pemeliharaan selama operasi

- Bupivakain+Adrenalin : 0.25% saat pemasangan Head Pin : Infiltrasi 0.25% 40 cc saat scin incision

- Propofol : 1-2 mg/kgBB/jam : Saat Infiltrasi, memindahkan, ngebor tulang kepala. : Propofol dapat diberikan.

Pemeliharaan : menggunakan agen

- Dexmedetomidine : 0.4 ug/KgBB i v selama Opersai Penatalaksanaan:

- Diberi (02) oksigen 100 % lewat Nasal Oksigen - Pasien masuk kamar operasi sudah terpasang infus. - Monitor dipasang

- Obat premedikasi diberikan di ruang induksi - Obat induksi diberikan kemudian

- Dapat dipasang PCS (Pree Cordial Stetoskop) dan EKG.

- Saat Cortical mapping; Pasen Sadar-Kooperatif, Kontak-Komunikasi - Apabila ada komplikasi harus cepat dtangangani.

c. Pengakhiran anestesi

- Reflek proteksi sudah muncul dan dapat membuka mata secara spontan - Parameter Vital sign normal, Pasien nafas spontan, adekuat.

- Pusat motorik, bicara, menghitung koperatif, Daftar Pustaka

1. Bisri. T; Pengelolan Anestesi untuk Pasien dengan Tumor Supratentorial. In Anestesia & Critical Care, 2003; 21;1;61-71.

2. Bisri, T. Craniotomy for Supratentorial Tumor. In Asean Symposium on Neuro Anaesthesia. Bandung. Indonesia : 1997.

3. Bruder, N. Ravussin, P. Recovery from Anesthesia and post operative extubation of Neurosurgical patients.Departement d’anesthesiologie et de reanimation. Hospital de Sion. Switzerland. E-mail :

[email protected].

4. Kelly, DL. Et al. Supra tentorial and pituitary surgery. In Albine. Text Book of Neuroanesthesia. McGraw-Hill Companies.1997;28: 931-970

5. Menon, DK. and Matta, BF. Intensive care after acute head injury. In Matta, BF., et al. (Eds): Textbook of

Neuroanaesthesia and Critical Care, GMM, 2000; 21:299-317.

6. Turner,JM. Intracranial Pressure. In Matta,BF, et al. ( Eds ) : Text Books Of Neuro Anesthesia and Critical

Care, GMM,2000; 21 : 51-66

BAB. III. NEURO ANESTESI NEURO CRITICAL CARE

FRAKTUR SERVIKAL.

Batasan dan Uraian

Pasien trauma medula spinalis mempunyai tantangan tersendiri bagi Neuro anestesi. Penting sekali untuk melakukan evaluasi pra anestesi karena banyak sistem dalam tubuh menjadi abnormal. Trauma pada vertebra servikalis memiliki banyak potensi masalah yang dapat timbul sebelum operasi, pada saat operasi berlangsung dan setelah operasi. Potensi masalah selama pembedahan tersebut dapat berasal: (1) Lama dan derajat keparahan Iskemi yang terjadi; (2) Kegagalan kembalinya Spinal Cord Blood Flow setelah perbaikan; (3) Terbebasnya mediator pencetus Cedera Reperfusi. Outcome tidak hanya tergantung pada trauma primer yang terjadi tetapi juga tergantung pada menejemen yang benar-benar cermat dan teliti dalam proteksi medula spinalis selama resusitasi, periode perioperatif dan selama perawatan di ICU.1,2,3

Tujuan

Memberikan acuan yang benar tentang anestesi pada trauma servikal. Kebijakan:

1. Dr. anestesi wajib memeriksa kelengkapan rekam medis sebelum dilakukan tindakan anestesi sesuai ketentuan.

2. Dr. anestesi wajib memberikan informasi, penjelasan dan persetujuan tentang tindakan anestesi yang akan dilakukan (Inform Concent)

3. Trauma Medula Spinalis

a. Trauma Medula Spinalis primer

 Trauma yang mengakibatkan gangguan dan kerusakan langsung pada neuron. Perubahan histologi terdiri atas: Perdarahan, Ekstravasasi protein kedalam gray matter yang menyebar menuju white matter. Edema medula spinalis maksimal pada hari ke 3 dan dapat bertahan selama 2 minggu. Pada keadaan ini yang terpenting adalah mempertahankan perfusi medula spinalis. SCBF dikontrol oleh faktor-faktor yang sama dengan CBF2,5

b. Trauma medula spinalis sekunder

 Disebabkan oleh aktivasi biokimiawi, enzymatik dan proses mikrovaskuler. Kerusakan disebabkan oleh hilangnya integritas membran sel, edema, inflamasi, lepasnya asam arachidonat, lipid peroxidase, dan hilangnya autoregulasi vaskuler. Proses tersebut menyebabkan stasis vaskuler, penurunan aliran darah, iskemi dan kematian sel.5

4. Manifestasi Klinis

Trauma medula spinalis dapat menyebabkan hilangnya fungsi saraf secara komplet maupun inkomplet. Defisit neurologis yang terjadi tergantung level medula spinalis yang mengalami kelainan.2

Pusat respirasi di medula spinalis terdapat pada nukleus motorik C4 dan mendapat kontribusi minimal dari C3 dan C5 kemudian keluar sebagai nervus phrenikus yang mensarafi otot diafragma. Napas spontan masih bisa dilakukan dengan kapasitas vital 20-25 % normal apabila C4 normal. Kelainan diatas C3 akan menyebabkan respiratory arrest. Insidensi ketergantungan pada ventilator pada pasien dengan trauma servikal C1-C4 sebesar 40 %. Kelainan dibawah C5 akan terjadi penurunan fungsi respirasi karena kelemahan otot interkostalis1,8,9

Efek trauma medula spinalis terhadap sistem kardiovaskuler tergantung pada level trauma. Level dibawah T6 mengakibatkan hipotensi akibat sympatektomy. Diatas T6 abnormalitas kardiovaskuler lebih berat dapat terjadi bradikardi, hipotensi, disfungsi ventrikel, dan disritmia. Hilangnya inervasi simpatis pada jantung pada level T1-T4 mengakibatkan parasimpatis tidak terkompensasi akibatnya terjadi bradikardi dan hipotensi. Pasien tidak dapat mempertahankan curah jantung karena hilangnyan kemampuan mempertahankan tonus pembuluh darah arteri dan kapasitans vena. Jantung kurang dapat menerima beban kenaikan venous return sehingga mudah terjadi edema paru. Untuk mencegah overload cairan sebaiknya dipasang CVC. Untuk mengatasi bradikardi dapat diberikan sulfas atropin 0.02 mg/kg BB dan dapat diulang tiap 20-30 menit dan diberikan setengah dosis.1,5,8

Dalam dokumen PNPK Perdatin 2015 (Halaman 104-112)

Dokumen terkait