3.1 Tokoh dan Penokohan
3.1.8 Generasi yang Hilang
Sama halnya dengan novel Roro Mendut, novel Generasi Yang Hilang memuat adanya usaha pelaksanaan proses ‘kebebasan dari’ tradisi ke arah pencapaian ‘kebebasan untuk’ memilih yang dilaku- kan oleh tokoh protagonis wanita. Dalam Generasi Yng Hilang, Gen- duk Darmirin diwujudkan sebagai wakil dari sosok masyarakat modern yang memberontak terhadap berbagai nilai, sikap, dan pandangan hidup tradisional. Di pihak lain, tokoh Suryapraba di- tampilkan sebagai wakil sosok masyarakat tradisional yang meng-
agungkan derajat kebangsawanan. Relasi hubungan kedua tokoh ini menimbulkan berbagai konflik yang mampu menciptakan ber- bagai tragedi.
Genduk Darmirin merupakan tokoh kontroversial dengan pengingkarannya terhadap pandangan orang Jawa yang mengang- gap bahwa dunia priyayi merupakan bentuk puncak dari apa yang menjadi angan-angan mereka. Seorang perempuan dikatakan ber- untung atau berhasil hidupnya jika bergaul dekat dengan bangsa- wan dan melahirkan bayi keturunannya. Derajat kebangsawanan merupakan jaminan hidup, kekayaan, dan kekuasaan (Generasi Yang Hilang, hlm. 32). Orang kebanyakan hanya budak, hanya saksi, tidak berhak dan tidak dimintai pertimbangan (Generasi Yang Hilang, hlm. 112). Penolakan terhadap derajat kebangsawanan tersebut mengisyaratkan bahwa Genduk Darmirin merupakan sosok wanita Jawa masa kini yang memiliki ciri-ciri cerdas, bersi- kap kritis terhadap kepincangan-kepincangan dalam lingkungan sosialnya, berani memilih suatu sikap dengan tidak begitu saja tun- duk sebagai seorang gadis Jawa yang dengan kuat diikat oleh keten- tuan-ketentuan tradisi Jawa.
“Tapi Darmirin bukanlah perempuan yang lemah. Tidak mudah terbius oleh rayuan kata-kata manis. Tidak gampang tergiur oleh kedudukan derajat bangsawan yang tinggi. Dar- mirin seorang perempuan terpelajar, telah banyak memper- kuat jiwamya dengan membacai buku-buku berbahasa Be- landa. Luas pandangannya. Sekalipun ia tetap berdandan se- perti perempuan Jawa, hidup di kalangan istana yang penuh dengan liku-liku budaya Jawa dan mengikuti cara hidup lingkungannya, tetapi alam pikirannya tidak terbebat seperti kaki perempuan Jawa. Apalagi pergaulannya dengan den Sla- met, yang dengan semangat selalu menggembleng Darmirin agar tahu tentang kesamaan hak-hak wanita dan pria di dunia Internasional. Semua manusia sama haknya. Wanita dan pria, miskin dan kaya, awam dan bangsawan. Darmirin sedikit banyak kerasukan juga paham itu. Tidak ia tidak mau tahluk kepada Suryapraba hanya karena Suryapraba laki-laki dan
dia perempuan, Suryapraba bangsawan dan karenanya ber- hak melakukan semena-mena terhadap perempuan awam seperti dia! Tidak! Darmirin tidak semurah itu!”
(Generasi Yang Hilang, hlm. 165)
Dari kutipan di atas tersirat keinginan pengarang untuk me- nyatakan bahwa masalah wanita merupakan bagian intergal dari masyarakat. Kutipan tersebut juga mencerminkan suatu proses pembebasan diri untuk tidak dikuasai oleh orang lain. Alex Lanur (1986:122) memandang proses ini sebagai wujud dari emansipasi. Kadangkala dapat menjadi penting, sangat kuat, dan berpengaruh (Rosaldo, 1986:4). Hubungan segitiga yang terjadi antara Surya- praba dengan Bendara Raden Ajeng Sri Andrini dan Genduk Dar- mirin membenarkan gagasan Rosaldo. Pangeran Suryapraba yang semula hanya mencintai Gusti Bendara Raden Ajeng Sri Andrini akhirnya memperalat Darmirin untuk mengelabuhi pandangan keluarga kraton. Sikap kontras yang diperlihatkan Darmirin dalam menghadapi Suryapraba mampu menghadirkan tragedi bagi tokoh laki-laki tersebut. Pentingnyakedudukan wanita dalam novel ini juga tersirat dari posisi tokoh Genduk Darmirin sebagai tokoh pro- tagonis.
Masalah perkawinan merupakan persoalan penting dalam analisis protagonis wanita. Ratna (1985:239) menjelaskan bahwa per- kawinan merupakan lembaga yang memberikan dua kemungkin- an yang berlawanan bagi seorang wanita: kebebasan dan ikatan. Perkawinan bertujuan untuk membawa tokoh-tokoh pada jenjang kehidupan yang lebih tinggi, sesuai dengan lingkaran kehidupan manusia. Banyak wanita (Budiman, 1982:33) yang kemudian per- caya bahwa perkawinan merupakan tempat satu-satunya bagi me- reka untuk menyelamatkan hidup karena perkawinan dapat meme- cahkan masalah ketergantungan ekonomis dan psikologis mereka. Dalam hal perkawinan (Widati dkk, 1986:20), wanita Jawa priyayi
dan juga wong cilik kebanyakan tidak mempunyai hak untuk me- lakukan pilihan dan mengambil keputusan sendiri.
Sebagai wanita yang luar biasa, berani menyimpang dari arus kebiasaan, maka meskipun Suryapraba (menurut ibu Damirin)
memenuhi syarat sebagai suami anaknya, tetapi Damirin tidak mau menjadi selir Suryapraba. Perkawinan bagi Damirin tidak berarti harus menggantungkan persoalan ekonomi kepada suami; bahkan sebaliknnya ia (wanita) harus mampu menyelenggarakan rumah tangga, harus mencari tambahan penghasilan (Generasi Yang Hilang, hlm. 209).
Inti permasalahan yang terdapat dalam Generasi Yang Hilang
secara implisit dapat disimak dari orientasi budaya tokoh prota- gonis Damirin, mapun tokoh lain seperti Raden Mawardi dan Kus- noprobo. Lewat dialog antartokoh cerita, dapat diketahui bahwa sejak semula Damirin memang dipersiapkan untuk mengadakan pemberontakan terhadap tradisi.
“Segala hidupku kupertaruhkan untuk menjagamu. Demi kesetiaanku kepada Pangeran Suryapraba!”
“Bohong! Bukan itu alasanmu! Tapi karena engkau bukan laki-laki! Kesetiaanmu kepada bangsawan tingkat tinggi itu hanyalah sarana pelarianmu. Membentuk sikap mendewa- dewakan tata cara Feodal! Bentuk pengabdian dan sikap yang kini sedang ramai-ramainya direvolusikan? Tidak perlu kau bangga-banggakan lagi! Padaku sikap dan tata kehidupan seperti itu sudah lama kukuburkan. Hampir sama waktunya sejak lahirku di dunia. Sebenarnya hanya melihat di kulit sini saja semua perbuatanku di istana pusat gerakan feodal itu terlaksana. Jiwaku tidak pernah menerimanya.”
(Generasi Yang Hilang, hlm. 222)
Melalui Generasi Yang Hilang, Suparta Brata bermaksud menggambarkan perubahan kondisi kehidupan tradisi subkultur Jawa yang disebabkan oelh wafatnya Pakubuwana X dan terjadi- nya perubahan sosial. Kraton sebagai pusat kebudayaan berhasil diangkat sebagai latar cerita, mendukung permasalahan yang di- lontarkan dengan kemampuan Suparto Brata mengekspresikan adat istiadat dan kebiasaan-kebiasaan yang terjadi di lingkungan keluarga kraton. Latar Sosial masyarakat Jawa ditunjukkan dengan adanya sebutan-sebutan gelar bangsawan yang mengacu kepada perbedaan strata sosial.