BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Daerah Rural
2.3.1 Geografi
Pada tahun 2001 hingga 2010, jumlah kendaraan di Indonesia meningkatkan tiga kali lipat. Namun, jalan nasional yang melayani
lebih dari sepertiga dari lalu lintas kendaraan hanya tumbuh seperempat saja. Kesenjangan pertumbuhan infrastruktur trasnportasi ini semakin besar antara daerah urban dan rural. Tingkat infrastruktur transportasi dan jalan di daerah rural Papua-Maluku lebih rendah dibandingkan daerah lainnya, khususnya Sumatera, Jawa dan Sulawesi. Lebih dari 20% jalan di Kalimantan dan Maluku telah rusak. (OECD, 2013)
Kondisi geografis yang sulit di daerah rural menjadi kendala bagi masyrakat di sana untuk memanfaatkan fasilitas pelayanan yang ada, salah satunya adalah fasilitas kesehatan. Data SDKI (2012) menunjukkan bahwa penduduk di daerah rural menghadapi masalah yang lebih besar terhadap jarak ke fasilitas kesehatan dibandingkan penduduk di daerah urban (masing-masing 14% dan 7,3%).
2.3.2 Pendidikan
Berdasarkan SDKI tahun 2012, wanita yang tinggal di daerah rural memiliki tingkat pendidikan yang lebih rendah dibandingkan wanita yang tinggal di daerah urban, khususnya pada tingkat pendidikan SMTA dan perguruan tinggi (BPS, BKKBN, Kemenkes RI, dan ICF International 2013). Hal ini karena pemerataan layanan pendidikan menengah belum sepenuhnya mampu menjangkau penduduk kurang beruntung yang disebabkan kondisi geografis (misalnya daerah terpencil dan perbatasan) dan kondisi sosial ekonomi (Kemendikbud, 2012). Pelaksaanaan desentralisasi pendidikan yang belum mantap
karena kurangnya kejelasan pembagian tugas dan tanggung jawab antar tingkat pemerintahan (pusat, provinsi dan kabupaten/kota) menjadi salah satu penyebab manajemen tata kelola pendidikan yang belum efektif, khususnya dalam hal fungsi dan pendanaan.
2.3.3 Ekonomi
Berdasarkan SDKI (2012), lebih dari setengah penduduk rural (60%) di Indonesia berada dalam kuintil terbawah dan menengah bawah. Sedangkan sepertiga penduduk daerah urban (33%) berada dalam kuintil tertinggi.
Ekonomi di daerah rural dapat berdampak pada perilaku seseorang ketika sakit dalam pencarian pengobatan (Bushy, 2009). Pemerintah telah menyediakan asuransi kesehatan, seperti Jaminan Persalinan (Jampersal) dan Jaminan Kesehatan Masyrakat (Jamkesmas) untuk memudahkan masyarakat dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan.
Namun, kesadaran masyarakat daerah rural untuk menggunakan asuransi kesehatan tersebubut masih rendah. Unicef (2012) melaporkan bahwa masih kurang kesadaran perempuan tentang kelayakan dan manfaat Jampersal serta tingkat penggantian biaya yang tidak memadai, khususnya jika termasuk biaya transportasi dan komplikasi. Masyarakat sudah dijelaskan tentang biaya persalinan yang gratis dengan ditolong bidan di desa di fasilitas kesehatan, namun mereka masih takut jika
kemudian diminta untuk membayar biaya persalinan (Titaley, dkk., 2010).
Penelitian di Pandeglang menemukan bahwa wanita yang memiliki pengetahuan yang baik tentang Jampersal lebih tinggi untuk memanfaatkan pelayanan Jampersal (Suparmi, dkk., 2013). Selain itu, sosialisasi kebijakan Jampersal sangat kurang, baik kepada pemerintah daerah kabupaten/kota dan unit-unit pelaksana, maupun kepada masyarakat pengguna (Helmizar, 2014).
Secara nasional, tingkat pengeluaran Jampersal pada tahun 2011 adalah 41,5% di mana pengeluaran tertinggi di wilayah Bali dan Nusa Tenggara (82,86%) dan terendah di wilayah Papua (13,02%) (Dwicaksono dan Setiawan, 2013).
Heywood dan Choi (2010) menyebutkan bahwa meskipun terjadi peningkatan alokasi dana kesehatan yang signifikan oleh pemerintah Indonesia, namun tidak terdapat hubungan antar pengeluaran kesehatan pemerintah di tingkat kabupaten dengan keluaran sistem kesehatan yang diharapkan. Alokasi dana transfer secara efektif tidak sesuai dengan besarnya permasalahan kesehatan ibu yang dihadapi oleh daerah (Dwicaksono dan Setiawan, 2013). Artinya, pemerintah pusat gagal dalam menggunakan sumber daya untuk mengatasi masalah kesehatan ibu di daerah.
2.3.4 Kesehatan Maternal
Berdasarkan SDKI (2012), sebanyak 63% anak yang lahir dalam 5 tahum sebelum survei dilahirkan di fasilitas kesehatan, yaitu 17% di fasilitas kesehatan pemerintah dan 46% di fasilitas kesehatan swasta. Pemanfaatan pelayanan kesehatan untuk persalinan ditemui jauh lebih tinggi di daerah rural dibandingkan di daerah urban, yaitu masing-masing 47% dan 80%.
Proporsi kelahiran yang dibantu oleh tenaga medis profesional di Indonesia meningkat dari 73% pada SDKI 2007 menjadi 83% pada SDKI 2012. Namun, proporsi penolong persalinan oleh tenaga kesehatan di daerah rural lebih rendah dibandingkan persentase nasional, yaitu sebesar 74,6%. Meskipun kelahiran ditolong oleh dukun bayi sudah bergeser, namun dukun bayi masih berperan penting dalam menolong persalinan, terutama di daerah rural (20%) dan ibu dengan kuintil kekayaan terendah (32%).
Program pemerintah berupa bidan di desa (BDD), yaitu pelatihan dan penyebaran bidan di daerah rural, secara dramatis mengurangi kesenjangan sosial ekonomi terkait penolong persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih (Hatt, dkk., 2007). Namun, di beberapa wilayah di daerah rural dilaporkan bahwa masyarakat sulit menjangkau bidan di desa.
Sulitnya penduduk di daerah rural dan daerah terpencil untuk menjangkau bidan di desa telah dilaporkan pada penelitian sebelumnya
(Makowiecka, dkk., 2007). Jika dibandingkan di daerah urban, kepadatan bidan di desa lebih rendah terjadi di daerah rural dan daerah terpencil. Akibatnya, setiap bidan di desa sebagai penyedia pelayanan kesehatan memiliki beban tugas yang lebih besar karena jangkauan wilayah kerja yang luas. Di sisi lain, kondisi tersebut tidak didukung oleh sarana transportasi yang memadai sehingga menyulitkan bidan di desa untuk menjangkau wanita bersalin atau merujuknya ke rumah sakit jika terjadi komplikasi. Hal ini yang kemudian menjadi penyebab kurang familiarnya bidan di desa di dalam kelompok masyarakat.
Makowiecka, dkk. (2007) juga menemukan bahwa di provinsi Banten, kurang dari 30% bidan di desa tinggal menetap di desa. Mereka lebih tertarik untuk tinggal di daerah urban karena dapat mengembangkan karirnya. Sebagai tambahan penghasilan, mereka membuka klinik sendiri di daerah urban.
Karena masih tingginya penolong persalinan oleh dukun bayi/paraji, salah satu upaya Kementerian Kesehatan RI untuk mengurangi angka kematian ibu dan angka kematian bayi, yaitu melalui Dinas Kesehatan Provinsi melakukan beberapa pelatihan bagi paraji untuk meningkatkan pengetahuan mereka tentang kehamilan dan persalinan, terutama bagaimana untuk mendeteksi kehamilan berisiko tinggi, bagaimana untuk merujuk persalinan yang sulit, dan bagaimana untuk menangani tali pusar higienis (Ambaretnani, 2012). Selanjutnya, seorang paraji yang telah terlatih diberikan sepaket alat praktek medis
atau Dukun Kit. Paraji dianggap sebagai bagian dari keluarga di masyarakat karena peran mereka dalam menjaga kesehatan rumah tangga sehingga tidak hanya membantu saat melahirkan, tetapi juga membantu selama masa kehamilan dan perawatan pasca persalinan.
Penelitian Sudirman dan Sakung (2012) menemukan bahwa 62,5% dukun bayi bermitra dengan bidan, yaitu dengan hadir bersama-sama dalam menolong persalinan. Kemitraan ini sangat positif karena hubungan yang terjalin antar keduanya didasarkan pada saling menguntungkan, saling menghargai kelemahan dan kelebihan, berkomunikasi dan memberi informasi, terutama tentang pasien yang akan melahirkan.
2.4 Perilaku Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan
Perilaku seseorang ketika diserang penyakit dan merasakan sakit bermacam-macam. Perilaku atau respon seseorang ketika sakit menurut Notoatmodjo (2010), yaitu:
a. Tidak bertindak atau tidak melakukan kegiatan apa-apa. b. Tindakan mengobati sendiri.
c. Mencari pengobatan ke fasilitas-fasilitas pengobatan tradisional.
d. Mencari pengobatan ke fasilitas-fasilitas pengobatan modern yang diadakan oleh pemerintah atau lembaga-lembaga kesehatan swasta.
Persepsi masyarakat terhadap sehat-sakit erat hubungannya dengan perilaku pencarian pengobatan. Hal tersebut akan memengaruhi atas dipakai
atau tidaknya fasilitas kesehatan yang disediakan (Notoatmodjo, 2010). Perilaku terhadap sistem pelayanan kesehatan merupakan respons individu terhadap sistem pelayanan kesehatan modern dan atau tradisional, meliputi respons terhadap fasilitas pelayanan, cara pelayanan kesehatan, perilaku terhadap petugas, dan respons terhadap pemberian obat-obatan (Maulana, 2009). Respons ini terwujud dalam bentuk pengetahuan, persepsi, sikap, penggunaan fasilitas, sikap terhadap petugas dan obat-obatan.
Andersen (1960-an) menggambarkan model perilaku pemanfaatan pelayanan kesehatan dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu karakteristik predisposisi, sumber daya pendukung dan kebutuhan (Andersen, 1995). Model Andersen ini diilustrasikan pada Bagan 2.1.
Bagan 2.1
Model Perilaku Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan
Sumber: Andersen (1995) Predisposing Charahcteristics Enabling Resources Need Use of Health Services Demographic Social Structure Health Beliefs Personal/Family Community Perceived Evaluated
Berdasarkan bagan tersebut, faktor predisposisi meliputi tiga hal, yaitu demografi, struktur sosial, dan kepercayaan kesehatan. Sedangkan faktor pendukung meliputi dukungan pada keluarga dan komunitas serta faktor kebutuhan meliputi kebutuhan yang dirasakan dan yang dinilai.
Bagan 2.2
Determinan Individu dalam Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan
Sumber: Andersen dan Newman (2005)
Demographic Age Sex Marital Status Past Ilness Social Structure Education Race Occupation Family Size Ethnicity Religion Residential Mobility Beliefs Value Concerning Health and Illness Attitudes toward Health Services Knowledge about Disease Family Income Health Insurance Type of Regular Source Access to Regular Source Community Ratios of Health Personnel and Facilities to Population Price of Health Services Region of Country Perceived Disability Symptoms Diagnoses General States Evaluated Symptoms Diagnoses
Bagan 2.2 memperlihatkan determinan individu dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan sebagai salah satu komponen teori perilaku pemanfaatan pelayanan kesehatan yang kembali dipublikasikan oleh Andersen dan Newman pada tahun 1973 (Andersen dan Newman, 2005). Mereka menekankan bahwa pemanfaatan pelayanan kesehatan dipengaruhi oleh tiga hal, yaitu karakteristik sistem pelayanan kesehatan, perubahan teknologi, norma sosial dan perawatan penyakit, dan determinan individu dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan (Andersen dan Newman, 2005). Pada sub-bab ini, penulis hanya membahas determinan individu dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan sebagai acuan kerangka teori penelitian yang dapat dilihat pada Bagan 2.2.