• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Daerah Rural

2.4.1 Karakteristik Predisposisi

Karakteristik predisposisi menggambarkan kecenderungan individu yang berbeda-beda untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan berdasarkan karakteristik yang mereka miliki. Karakteristik predisposisi meliputi faktor demografi, struktur sosial dan sikap atau keyakinan tentang kesehatan.

Faktor demografi, seperti usia dan jenis kelamin merupakan variabel yang sangat erat berkaitan dengan kesehatan dan penyakit. Perawatan medis yang diterima antar kelompok usia akan berbeda karena memiliki jenis dan jumlah penyakit yang berbeda. Riwayat

penyakit pada masa lalu juga menjadi variabel demografi karena tedapat bukti yang menemukan bahwa orang yang mengalami masalah kesehatan di masa lalu adalah yang paling mungkin untuk membuat keputusan dalam perawatan medis di masa depan.

Faktor struktur sosial mencerminkan penentu status seseorang dalam masyarakat, kemampuannya dalam mengatasi masalah yang ada dan keadaan sehat tidaknya lingkungan fisik tempat dia berada. Pendidikan, pekerjaan, dan etnis merupakan contoh faktor struktur sosial yang mungkin berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan.

Selain demografi dan struktur sosial, keyakinan terhadap kesehatan juga menjadi variabel dari predisposisi. Keyakinan terhadap kesehatan adalah sikap, nilai dan pengetahuan seseorang tentang kesehatan dan pelayanan kesehatan yang memengaruhi persepsi kebutuhan dan pemanfaatan pelayanan kesehatan. Keyakinan terhadap kesehatan merupakan suatu hal yang dapat menjelaskan bagaimana struktur sosial dapat memengaruhi sumber daya pendukung, kebutuhan dan selanjutnya memanfaatan pelayanan kesehatan.

Dalam pengaplikasiannya, karakteristik predisposisi merupakan komponen yang memengaruhi ibu dalam pemanfaatan pelayanan nifas. Faktor-faktor predisposisi yang memengaruhi adalah sebagai berikut.

a. Pendidikan

Pendidikan didefinisikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara (UU RI No. 12 tahun 2012). Pendidikan formal merupakan jalur pendidikan terstruktur dan berjenjang yang meliputi pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi (UU RI No. 9 tahun 2009).

Pendidikan berperan terhadap perilaku seseorang (Notoadmodjo, 2010). Pendidikan umumnya menyebabkan tingginya pemanfataan pelayanan kesehatan (Morreale, 1998). Penelitian Doraon (2012) dan Ugboaja, dkk. (2013) menemukan bahwa terdapat hubungan antara peningkatan pemanfaatan pelayanan nifas dengan tingginya pendidikan ibu. Hal serupa juga diperoleh Paudel, dkk. (2013) bahwa ibu yang berpendidikan menengah dan atas lebih besar kemungkinannya untuk memanfaatkan layanan nifas awal (24 jam setelah bersalin). Menurutnya, pendidikan memungkinkan untuk memberdayakan individu untuk mendapatkan akses informasi tentang promosi kesehatan, informasi untuk mendapatkan pelayanan dan pentingnya

layanan yang tersedia. Orang-orang yang berpendidikan juga cenderung dapat memproses informasi kesehatan.

Selain itu, penelitian Khanal, dkk. (2014) menemukan bahwa ibu dengan pendidikan tinggi lebih mungkin untuk berkunjung ke pelayanan nifas karena semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin besar kemungkinan memperoleh informasi tentang risiko kesehatan, pentingnya dan manfaat mengakses pelayanan kesehatan. Selain berperannya pendidikan ibu, Ejaz dan Ahmad (2013) juga menemukan bahwa semakin tingginya pendidikan suami maka semakin tinggi pemanfaatan pelayanan nifas. Pendidikan dianggap penting dalam menanamkan kesadaran tentang masalah kesehatan dan peduli untuk mencarai kesehatan yang layak.

Meski demikian, terdapat juga beberapa penelitian yang tidak sependapat. Penelitian Dhaher, dkk. (2008) dan Berhe, dkk. (2013) menemukan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara pendidikan ibu dengan pemanfaatan pelayanan nifas. Fitria dan Puspitasari (2011) juga menemukan bahwa ibu nifas yang tamat SD cenderung melaksanakan pelayanan nifas dibandingkan ibu nifas yang berpendidikan SMP dan SMA karena kemungkinan ibu dengan pendidikan lebih tinggi merasa lebih tahu akan kondisi tubuhnya.

b. Pekerjaan

Pekerjaan yang sering disebut sebagai profesi adalah sesuatu yang dilakukan manusia yang dilakukan dengan cara yang baik dan benar dengan tujuan mendapatkan imbalan berbentuk uang untuk memenuhi kebutuhan hidup (Sofianty, dkk., 2007). Alasan bekerja selain untuk mendapatkan uang adalah untuk mengembangkan potensi atau kemampuan diri. Namun, terdapat juga pekerjaan yang dilakukan untuk kepentingan bersama dan tidak menghasilkan uang, seperti seorang ibu rumah tangga yang bekerja untuk mengurus rumah dan mengatur keperluan keluarga (Sofianty, dkk., 2007).

Pada saat ini banyak para ibu yang bekerja di luar rumah karena tuntutan ekonomi dalam keluarga. Menurut Berhe, dkk. (2013), tingkat pekerjaan ibu dan suami berhubungan secara signifikan dengan pemanfaatan pelayanan nifas. Penelitian ini juga menemukan bahwa ibu yang bekerja lebih besar kemungkinannya untuk mengunjungi pelayanan nifas daripada wanita yang tidak bekerja.

Lebih jauh lagi, Khannal, dkk. (2014) menemukan bahwa ibu yang bekerja sebagai petani lebih kecil kemungkinannya untuk berkunjung ke pelayanan nifas. Begitu juga dengan ibu yang suaminya bekerja sebagai petani lebih kecil kemungkinannya untuk berkunjung ke pelayanan nifas. Hal ini terjadi karena bentroknya

jam ibu bekerja dengan jam buka pelayanan nifas. Selain itu juga karena alasan pendapatan yang dihasilkan dari bertani.

Meski demikian, terdapat juga banyak penelitian yang tidak menemukan adanya hubungan antara pekerjaan dengan kunjungan ibu ke pelayanan nifas, seperti penelitian Fitria dan Puspitasari (2011), Ugboaja, dkk. (2013), Ejaz, dkk. (2013), dan Nugraha (2013).

c. Pengetahuan

Pengetahuan (knowledge) adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan sebagainya). Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai intensitas atau tingkat yang berbeda-beda yang dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek. (Notoajmodo, 2010)

Beberapa penelitan menemukan bahwa pengetahuan merupakan salah satu faktor yang memengaruhi wanita untuk memanfaatkan pelayanan nifas. Wanita yang memiliki pengetahuan tentang komplikasi kehamilan secara signifikan lebih besar kemungkinannya untuk memanfaatkan pelayanan nifas saat 24 jam setelah persalinan (Kim, dkk., 2013). Hasil tersebut tidak jauh berbeda dengan penelitian Ugboaja, dkk. (2013) bahwa alasan utama wanita Nigeria tidak mengunjungi pelayanan nifas setelah

melahirkan adalah kurangnya pengetahuan tentang perawatan yang dibutuhkan pasca melahirkan.

Penelitian eksperimental yang dilakukan Syed, dkk (2006) di Bangladesh menemukan bahwa adanya peningkatan pemanfaatan pelayanan nifas secara signifikan sebesar 37,5% dari 24,2% pada tahun 2002 menjadi 61,7% pada tahun 2004 setelah diberikannya intervensi tentang pengetahuan. Pengetahuan ibu tentang setidaknya dua tanda bahaya pada periode postpartum meningkat sebesar 17% dari 47,1% di tahun 2002 menjadi 64% di tahun 2004.

Pengetahuan tentang fasilitas kesehatan ibu lebih tinggi di antara orang-orang yang mendapatkan pendidikan formal

(Yar‟zever dan Said, 2013). Pengetahuan yang didapat dari

pendidikan memberikan kemudahan bagi individu dalam mengakses informasi dan memanfaatkan pelayanan untuk meningkatkan kesehatan diri sendiri dan keluarganya (Higgins, Lavin dan Metcalfe, 2008; Paudel, dkk., 2013).

Namun, beberapa penelitian juga menemukan bahwa pengetahuan tidak memepengaruhi wanita untuk memanfaatkan pelayanan nifas. Berhe, dkk (2013) tidak menemukan adanya hubungan yang signifikan antara pengetahuan wanita di Etiopia tentang perawatan pasca persalinan dengan pemanfaatan pelayanan nifas. Hasil tersebut tidak jauh berbeda dengan yang terjadi pada wanita di daerah Mazabuka, Zambia (Jacobs, 2007). Meskipun para

wanita memiliki pengetahuan yang tinggi tentang perawatan/ pelayanan nifas, mereka tidak benar-benar mengerti secara mendalam tentang pelayanan nifas. Hanya beberapa dari mereka yang berpengetahuan yang memanfaatkan pelayanan nifas.

Perilaku masyarakat yang erat kaitannya dengan upaya peningkatan pengetahuan masyarakat dapat terbentuk melalui kegiatan yang disebut pendidikan kesehatan (Maulana, 2009). Pendidikan kesehatan adalah proses yang direncanakan dengan sadar untuk menciptakan peluang bagi individu-individu untuk senantiasa belajar memperbaiki kesadaran serta meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya demi kepentingan kesehatannya (Nursalam dan Efendi, 2008). Pendidikan kesehatan dapat diberikan dalam bentuk memberikan informasi dan mendidikan masyarakat tentang cara hidup yang sehat (Chandra, 2009).

d. Urutan Kelahiran

Sejumlah penelitian menemukan bahwa nomor urut kelahiran berhubungan secara signifikan dengan pemanfaaatan pelayanan nifas. Khanal, dkk (2014) menemukan bahwa tingginya pemanfaatan pelayanan nifas terjadi pada kelahiran anak pertama (61,8%) dan kedua atau ketiga (41,2%). Begitu juga dengan Singh, dkk. (2012) yang menemukan bahwa tingginya pemanfaatan

pelayanan nifas terjadi pada kelahiran anak pertama (37,4%) dan kedua aatu ketiga (32,8%).

Ibu dengan pengalaman persalinan pertama lebih besar kemungkinannya untuk memanfaatkan pelayanan nifas dibandingkan ibu dengan jumlah persalinan yang banyak (Adamu, 2011). Jumlah anak yang banyak biasanya berhubungan dengan peningkatan tanggung jawab secara fisik dan materi sehingga ibu memiliki waktu dan sumber keuangan yang sedikit untuk merawat diri sendiri.

Singh, dkk. (2012) juga menemukan bahwa remaja wanita yang melahirkan anak keempat atau lebih maka lebih kecil kemungkinannya untuk memanfaatkan pelayanan nifas daripada ibu yang melahirkan anak pertama, kedua atau ketiga. Hal ini bisa jadi karena wanita dengan anak pertama lebih berhati-hati tentang kehamilan dan cenderung memiliki kesulitan selama persalinan. Pengalaman dan pengetahuan ibu yang pernah melahirkan sebelumnya juga dapat menjadi alasan rendahnya pemanfaatan pelayanan nifas pada ibu yang memiliki anak dengan urutan kelahiran tinggi. Hal tersebut memengaruhi persepsi dan keyakinan tentang kesehatan diri sendiri.

Namun, beberapa penelitian juga menemukan bahwa nomor urut kelahiran tidak berhubungan dengan pemanfaaatan pelayanan nifas. Penelitian Islam dan Odland (2011) menemukan bahwa tidak

terdapat hubungan yang bermakna antara urutan kelahiran dengan pemanfaatan pelayanan nifas. Bahkan pemanfaatan pelayanan nifas lebih tinggi terjadi pada ibu yang melahirkan anak kedua dan ke empat dibandingkan anak pertama dan ketiga. Fort, dkk (2006) juga menemukan bahwa di negara berkembang, termasuk Indonesia, ibu yang melahirkan anak pertama lebih banyak yang mendapatkan pelayanan nifas dibandingkan melahirkan anak yang kedua atau lebih. Namun, jika melahirkan di non-fasilitas kesehatan, pemfantaan pelayanan nifas lebih tinggi terjadi pada ibu yang melahirkan anak kelima atau lebih dibandingkan anak dengan urutan kelahiran kecil.

e. Kunjungan Pelayanan Antenatal (ANC)

Pelayanan antenatal adalah pelayanan kesehatan yang diberikan oleh tenaga kesehatan untuk ibu selama masa kehamilannya, dilaksanakan sesuai dengan standar pelayanan antenatal yang ditetapkan dalam Standar Pelayanan Kebidanan (SPK) (Kemenkes RI, 2010). Frekuensi pelayanan antenatal adalah minimal 4 kali selama masa kelaminan, yaitu minimal 1 kali pada triwulan pertama, minimal 1 kali pada triwulan kedua dan minimal 2 kali pada triwulan ketiga.

Sejumlah penelitian menyebutkan bahwa kunjungan ibu ke pelayanan antenatal berpengaruh terhadap pemanfaatan pelayanan

nifas pasca persalinan. Hal tersebut ditunjukkan dari penelitian Chimankar dan Sahoo (2011) yang menemukan bahwa pemanfaatan pelayanan antenatal memiliki dampak positif pada pemanfaatan pelayanan nifas. Kunjungan ke pelayanan antenatal meningkatkan kemungkinan bagi wanita untuk memanfaatkan pelayanan nifas (Ugboaja, dkk., 2013).

Paudel, dkk. (2013) juga menemukan bahwa ibu yang berkunjung ke pelayanan antenatal sebanyak 4 kali atau lebih atau sebanyak 1 sampai 3 kali, lebih besar kemungkinannya untuk memanfaatkan pelayanan nifas daripada ibu yang tidak datang ke pelayanan antenatal. Hasil ini sejalan dengan penelitian Khanal, dkk., (2014) yang juga menemukan bahwa ibu yang berkunjung sebanyak 4 kali atau lebih ke pelayanan antenatal lebih besar kemungkinannya untuk berkunjung ke pelayanan nifas setelah bersalin daripada ibu yang tidak berkunjung ke pelayanan antenatal.

Standar pelayanan di fasilitas kesehatan dasar di Indonesia juga disebutkan bahwa pada saat kunjungan ANC, terdapat sesi konseling yang membahas persiapan persalinan (Kemenkes, 2013). Saat datang ke pelayanan antenatal, ibu hamil memperoleh informasi kesehatan tentang persiapan yang dibutuhkan untuk persalinan dan pemanfaatan layanan lebih lanjut yang dibutuhkan setelah persalinan. Pada sesi konseling dengan tenaga kesehatan

tersebut, ibu hamil memperoleh informasi tentang pemanfaatan pelayanan nifas. Oleh sebab itu, ibu hamil mungkin beranggapan bahwa pelayanan nifas penting dan telah tersedia di sana. (Paudel, dkk., 2013)

Meski demikian, beberapa penelitian menemukan bahwa tidak terdapat hubungan antara kunjungan ANC dengan pemanfaatan pelayanan nifas. Dhaher, dkk. (2008) dan Berhe, dkk. (2013) juga menemukan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara kunjungan ke pelayanan antenatal dengan kunjungan ke pelayanan nifas. Meskipun tidak ada hubungan, Berhe, dkk. (2013) berkeyakinan bahwa penting untuk mendidik para ibu hamil tentang pelayanan nifas untuk meningkatkan kesadaran mereka ketika berkunjung ke pelayanan antenatal.

Alasan ibu yang tidak berkunjung ke pelayanan antenatal bermacam-macam. Titaley, dkk., 2010) menemukan bahwa alasan utama wanita di Garut, Sukabumi dan Ciamis berkunjung ke ANC dan pelayanan nifas adalah untuk memastikan keselamatan ibu dan bayinya. Sebaliknya, alasan di antara mereka tidak memanfaatkan ANC maupun pelayanan nifas adalah karena kurangnya kesadaran mereka tentang pentingnya memanfaatkan pelayanan kesehatan ibu dan anak. Beberapa di antara mereka berpendapat bahwa pelayanan kesehatan hanya dibutuhkan jika terjadi komplikasi kehamilan.

Titaley, dkk (2010) juga menjelaskan bahwa di sana, finansial adalah alasan utama mereka tidak berkunjung ke ANC. Hal ini berhubungan dengan biaya fasilitas kesehatan, biaya transportasi maupun keduanya. Penelitian Titaley, dkk., (2010) sebelumnya juga telah menemukan bahwa rendahnya pemanfaatan pelayanan antenatal (ANC) di Indonesia berhubungan secara signifikan dengan kuintil kekayaan yang rendah.

Kunjungan ANC yang tidak dilakukan oleh wanita selama hamil juga dapat dipengaruhi oleh kepercayaan yang menjadi budaya di lingkungannya. Wanita di daerah rural Jawa Barat beranggapan bahwa kehamilan adalah peristiwa yang normal sehingga tidak butuh perawatan kecuali jika terjadi komplikasi (Agus, dkk., 2012). Hal serupa juga terjadi di derah rural Bangladesh bahwa wanita umumnya menganggap kehamilan sebagai peristiwa normal kecuali jika muncul komplikasi sehingga sebagian dari mereka tidak berkunjung ke ANC dan tidak ada persiapan sebelumnya untuk menghadapi persalinan (Choudhury dan Ahmed, 2011).

Selain itu, kunjungan ANC juga diketahui berhubungan dengan pendidikan. Seperti di Ethiopia, wanita di daerah rural dengan tingkat pendidikan sekunder 4 kali lebih besar memanfaatkan pelayanan antenatal (Mekonnen, 2002).

Dokumen terkait