• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemanfaatan Pelayanan Nifas di Daerah Rural Indonesia

BAB VI PEMBAHASAN

6.2 Pemanfaatan Pelayanan Nifas di Daerah Rural Indonesia

Pelayanan nifas adalah pelayanan kesehatan sesuai standar pada ibu mulai 6 jam pertama sampai 42 hari pasca persalinan oleh tenaga kesehatan (Kemenkes RI, 2010). Pelayanan nifas tidak berarti bahwa ibu nifas yang harus mendatangi tenaga kesehatan atau fasilitas kesehatan. Melainkan didefinisikan sebagai kontak ibu nifas dengan tenaga kesehatan, baik di dalam gedung maupun di luar gedung fasilitas kesehatan.

Pada penelitian ini, pemanfaatan pelayanan nifas merupakan pemeriksaan kesehatan yang ibu dapatkan pada 3 hari pertama setelah melahirkan anak terakhir dengan mendatangi pelayanan kesehatan atau didatangi oleh petugas kesehatan. Penentuan batasan waktu 3 hari pertama setelah melahirkan adalah karena periode tersebut merupakan waktu yang

paling berisiko terjadinya komplikasi pasca persalinan (Riskesdas, 2010). Bahkan tingginnya kematian dapat terjadi pada hari pertama dan kedua setelah melahirkan (Ronsmans, dkk., 2006). Nour (2008) juga menyebutkan bahwa sebanyak 45% kematian pada masa nifas terjadi pada 24 jam pertama setelah melahirkan dan 66% terjadi pada 1 minggu pertama setelah melahirkan.

Hasil penelitian menemukan bahwa dari 2072 wanita usia subur, sebanyak 85,6% telah memanfaatkan pelayanan nifas dan 14,4% tidak memanfaatkan pelayanan nifas di daerah rural Indonesia. Persentase pemanfaatan pelayanan nifas ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan persentase pelayanan nifas yang ada di laporan SDKI 2012, yaitu sebesar 74%. Hal ini dimungkinkan terjadi karena perbedaan penetapan waktu pemanfaatan pelayanan nifas, yaitu 2 hari pertama pasca persalinan pada laporan SDKI 2012 dan 3 hari pertama pasca persalinan pada penelitin ini. Oleh karena itu, terdapat tambahan jumlah wanita yang mendapatkan pelayanan nifas pada hari ketiga sehingga persentase yang dihasilkan lebih besar.

Selain itu, perbedaan besarnya persentase ini dimungkinkan terjadi karena perbedaan periode tahun sampel yang digunakan. Laporan SDKI 2012 menggunakan sampel antara tahun 2007-2012. Sedangkan pada penelitian ini, sampel yang digunakan adalah tahun 2011-2012. Hal ini menunjukkan bahwa kemungkinan cakupan pemanfaatan pelayanan nifas lebih tinggi terjadi pada tahun 2011-2012 dibandingkan pada tahun-tahun sebelumya. Oleh sebab itu,

persentase pemanfaatan pelayanan nifas yang dihasilkan pada penelitian ini lebih besar dibandingkan yang dilaporkan SDKI tahun 2012.

Meskipun persentase pemanfaatan pelayanan nifas di daerah rural secara nasional cukup tinggi, terdapat ketimpangan persentase antar daerah rural di tingkat provinsi, yaitu antara 58,3% hingga 98,1%. Tiga provinsi tertinggi yang memanfaatkan pelayanan nifas adalah Bengkulu (98,1%), Yogyakarta (96,3%) dan Bali (96,2%). Sedangkan tiga provinsi terendah yang memanfaatkan pelayanan nifas adalah Papua (58,3%), Maluku (68,2%) dan Papua Barat (70,8%). Terdapat 13 provinsi yang berada di bawah angka nasional dalam memanfaatkan pelayanan nifas. Hal ini menunjukkan bahwa pemanfaatan pelayanan nifas masih menjadi masalah di daerah rural di beberapa provinsi di Indonesia.

Hasil penelitian juga menemukan bahwa dari 1733 wanita yang memanfaatkan pelayanan nifas, sebagian besar dilayani atau diperiksa oleh bidan, yaitu 46% bidan praktek dan 29,4% bidan di desa. Hal ini diasumsikan karena banyak di antara wanita yang melahirkan di bidan praktek atau bidan di desa. Terlihat dari hasil penelitian bahwa sebanyak 59% wanita yang memanfaatkan pelayanan nifas mendapatkan pemeriksaan kesehatan saat sebelum keluar dari fasilitas kesehatan pasca persalinan dan jenis fasilitas kesehatan yang banyak digunakan sebagai tempat persalinan adalah bidan praktek (24,9%) dan bidan di desa (11,9%).

Selain itu, alasan banyaknya wanita yang menerima pemeriksaan pada 3 hari pertama setelah melahirkan dari bidan diasumsikan karena banyak wanita

yang mendapatkan pertolongan persalinan oleh bidan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari total responden yang memanfaatkan pelayanan nifas, sebanyak 50,6% wanita mendapatkan pertolongan persalinan dari bidan dan 29,4% dari bidan di desa. Ini menunjukkan bahwa bidan memiliki peranan yang besar dalam meningkatkan pemanfaatan pelayanan nifas di daerah rural.

Setiap ibu nifas seharusnya memanfaatkan pelayanan nifas. Menurut Paudel, dkk. (2013), pelayanan nifas diperlukan untuk mengurangi kesakitan dan kematian pada ibu. Salah satu tujuan umum dari pelayanan nifas adalah memulihkan kesehatan umum penderita, mempertahankan psikologis dan mencegah infeksi dan komplikasi (Bahiyatun, 2008). Diketahui bahwa setelah persalinan, terdapat perubahan fisiologis yang terjadi pada ibu selama masa nifas, seperti perubahan pada uterus, lokia, serviks, vagina dan vulva, perineum, abdomen, ovarium, payudara, sistem kardiovaskular, sistem pencernaan, dan sistem perkemihan (Manuaba, 2004; Stright, 2005; Bahiyatun, 2008; Leveno, dkk., 2009). Pada masa nifas, ibu juga dapat mengalami komplikasi, seperti perdarahan, sepsis puerperalis, eklamsia, infeksi puerperalis, depresi postpartum, postpartum blues atau psikosis postpartum (Farrer, 2001; WHO, 2002; Tomb, 2004; Sastrawinata, dkk., 2005; Bahiyatun, 2008; Leveno, dkk., 2009). Oleh karena itu, untuk mengidentifikasi dan menangani atau merujuk komplikasi serta meningkatkan kesehatan pasca persalinan, maka ibu harus memanfaatkan pelayanan nifas.

Selain karena faktor-faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan nifas (dibahas pada sub-bab selanjutnya), alasan wanita tidak memanfaatkan pelayanan nifas juga diasumsikan karena kurangnya kesadaran mereka tentang pentingnya pelayanan nifas sehingga merasa tidak membutuhkannya. Unicef (2012) menyebutkan bahwa cakupan pelayanan nifas tepat waktu yang rendah kemungkinan besar disebabkan oleh kurangnya prioritas di antara perempuan terhadap pelayanan ini. Seperti yang terjadi di Jawa Barat bahwa karena alasan tidak mengalami komplikasi pasca persalinan maka wanita di sana merasa tidak membutuhkan pelayanan nifas (Titaley, dkk., 2010). Hal ini juga terjadi pada wanita di Palestina, Nigeria dan Etiopia bahwa salah satu alasan mereka tidak memanfaatkan pelayanan nifas adalah karena tidak merasa sakit setelah melahirkan sehingga tidak membutuhkan pelayanan nifas (Dhaher, dkk., 2008; Ugboaja, dkk., 2013; Berhe, dkk., 2013).

6.3 Determinan Pemanfaatan Pelayanan Nifas di Daerah Rural Indonesia Berdasarkan hasil penelitian, terdapat 6 dari 8 variabel yang diteliti berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan nifas pada wanita usia subur di daerah rural Indonesia tahun 2011-2012. Berikut ini adalah pembahasan dari masing-masing variabel tersebut.

6.3.1 Pendidikan

Pendidikan memiliki peranan terhadap perilaku seseorang (Notoadmodjo, 2010). Tingkat pendidikan berkaitan erat dengan perilaku pemanfaatan pelayanan kesehatan (Andersen, 1995). Morreale (1998) menjelaskan bahwa pendidikan umumnya menyebabkan tingginya pemanfataan pelayanan kesehatan.

Pada penelitian ini, pemanfaatan pelayanan nifas tertinggi terjadi pada wanita dengan pendidikan perguruan tinggi (90,3%) dibandingkan wanita dengan tingkat pendidikan lebih rendah lainnya. Sedangkan pemanfaatan pelayanan nifas paling rendah terjadi pada wanita yang tidak pernah sekolah (64,7%). Hal ini menunjukkan bahwa wanita yang memiliki pendidikan lebih tinggi cenderung akan lebih banyak memanfaatkan pelayanan nifas. Hasil uji statistik juga menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan dengan pemanfaatan pelayanan nifas pada wanita usia subur dengan p-value

sebesar 0,000.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Doraon (2012) dan Ugboaja, dkk. (2013) yang menemukan bahwa terdapat hubungan antara tingginya pendidikan ibu dengan peningkatan pemanfaatan pelayanan nifas. Ibu yang berpendidikan menengah dan atas lebih besar kemungkinannya untuk memanfaatkan pelayanan nifas saat 24 jam pertama setelah melahirkan (Paudel, dkk., 2013).

Namun, hal ini tidak sejalan dengan penelitian Dhaher, dkk. (2008) dan Berhe, dkk. (2013) bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara pendidikan ibu dengan pemanfaatan pelayanan nifas. Sebaliknya, penelitian Fitria dan Puspitasari (2011) menemukan bahwa ibu nifas yang tamat SD cenderung melaksanakan pelayanan nifas dibandingkan ibu nifas yang berpendidikan SMP dan SMA karena kemungkinan ibu dengan pendidikan lebih tinggi merasa lebih tahu akan kondisi tubuhnya.

Adanya hubungan dalam penelitian ini diasumsikan karena pendidikan wanita memengaruhi pengetahuan mereka tentang pentingnya pemanfaatan pelayanan kesehatan. Pengetahuan tentang fasilitas kesehatan ibu lebih tinggi di antara orang-orang yang

mendapatkan pendidikan formal (Yar‟zever dan Said, 2013).

Pengetahuan yang didapat dari pendidikan memberikan kemudahan bagi individu dalam mengakses informasi dan memanfaatkan pelayanan untuk meningkatkan kesehatan diri sendiri dan keluarganya (Higgins, Lavin dan Metcalfe, 2008; Paudel, dkk., 2013).

Kemudahan wanita berpendidikan tinggi dalam mengakses informasi juga dapat memengaruhi pemanfaatan pelayanan nifas. Ibu dengan pendidikan tinggi lebih mungkin untuk berkunjung ke pelayanan nifas karena semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin besar kemungkinannya memperoleh informasi tentang risiko

kesehatan, pentingnya dan manfaat mengakses pelayanan kesehatan (Khanal, dkk, 2014).

Berdasarkan hasil penelitian, wanita di daerah rural Indonesia lebih banyak yang bersekolah tidak tamat SMTA (30,7%) dan 66,3% di bawah tamat SMTA. Hanya 33,6% wanita yang bersekolah hingga tamat SMTA atau perguruan tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan wanita usia 15-49 tahun yang pernah melahirkan tahun 2011-2012 di daerah rural Indonesia tergolong masih rendah.

Berdasarkan SDKI tahun 2012, wanita yang tinggal di daerah rural memiliki tingkat pendidikan yang lebih rendah dibandingkan wanita yang tinggal di daerah urban, khususnya pada tingkat pendidikan SMTA dan perguruan tinggi (BPS, BKKBN, Kemenkes RI, dan ICF International, 2013). Hal ini karena pemerataan layanan pendidikan menengah belum sepenuhnya mampu menjangkau penduduk kurang beruntung yang disebabkan kondisi geografis (misalnya daerah terpencil dan perbatasan) dan kondisi sosial ekonomi (Kemendikbud, 2012). Pelaksanaan desentralisasi pendidikan yang belum mantap karena kurangnya kejelasan pembagian tugas dan tanggung jawab antar tingkat pemerintahan (pusat, provinsi dan kabupaten/kota) menjadi salah satu penyebab manajemen tata kelola pendidikan yang belum efektif, khususnya dalam hal fungsi dan pendanaan.

Selain dari pendidikan formal, pengetahuan masyarakat tentang kesehatan dapat diperoleh dari pendidikan informal. Perilaku

masyarakat yang erat kaitannya dengan upaya peningkatan pengetahuan masyarakat dapat terbentuk melalui kegiatan yang disebut pendidikan kesehatan (Maulana, 2009).

Pendidikan kesehatan adalah proses yang direncanakan dengan sadar untuk menciptakan peluang bagi individu-individu untuk senantiasa belajar memperbaiki kesadaran serta meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya demi kepentingan kesehatannya (Nursalam dan Efendi, 2008). Pendidikan kesehatan dapat diberikan dalam bentuk memberikan informasi dan mendidik masyarakat tentang cara hidup yang sehat (Chandra, 2009).

Informasi tentang pentingnya pemanfaatan pelayanan nifas dapat disampaikan secara langsung kepada masyarakat berupa penyuluhan atau secara tidak langsung melalui poster, media cetak dan elektronik. Pengetahuan yang didapatkan dari pendidikan kesehatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran wanita tentang pentingnya menjaga kesehatan diri sendiri setelah melahirkan melalui pemanfaatan pelayanan nifas.

Oleh karena tingginya tingkat pendidikan wanita memengaruhi pemanfaatan pelayanan nifas setelah melahirkan, maka perlu adanya upaya memperbaiki tingkat pendidikan, salah satunya adalah dengan cara meningkatkan pemerataan program wajib belajar minimal 9 tahun yang ditunjang dengan sarana dan prasarana yang memadai di daerah rural Indonesia. Pengintegrasian kurikulum pendidikan kesehatan ke

dalam kurikulum pendidikan formal juga dapat menjadi cara yang efektif untuk memberikan pengetahuan sejak dini kepada pelajar tentang pentingnya menjaga kesehatan reproduksi, khususnya kesehatan reproduksi pada masa kehamilan hingga masa nifas.

Selain itu, perlu adanya peningkatan peran pemerintah, baik pusat maupun daerah dalam memberikan pendidikan kesehatan tentang pentingnya pemanfaatan pelayanan nifas, melalui program promosi kesehatan atau penyuluhan, khususnya kepada wanita yang tidak bersekolah. Program berbasis masyarakat atau komunitas juga sebaiknya dilakukan berupa pelatihan kepada kader-kader kesehatan setempat tentang pendidikan kesehatan sehingga dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya potensial yang terkait dengan kehamilan dan pentingnya memanfaatkan pelayanan nifas.

6.3.2 Urutan Kelahiran

Nomor urut kelahiran anak memiliki hubungan yang kuat dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan maternal, seperti pelayanan antenatal, penolong persalinan oleh tenaga kesehatan, persalinan di fasilitas kesehatan hingga pelayanan nifas. Wanita yang memiliki anak lebih banyak biasanya berdampak pada peningkatkan tanggung jawab secara fisik dan materi sehingga hanya memiliki waktu dan sumber finansial yang sedikit untuk menjaga atau merawat kesehatan diri sendiri (Adamu, 2011).

Pada penelitian ini, wanita yang melahirkan anaknya yang pertama hingga ketiga lebih banyak memanfaatkan pelayanan nifas dibandingkan wanita yang melahirkan anaknya yang keempat atau lebih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wanita yang memiliki anak dengan urutan kelahiran besar cenderung akan lebih sedikit memanfaatkan pelayanan nifas. Namun, hasil uji statistik menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara urutan kelahiran dengan pemanfaatan pelayanan nifas pada wanita usia subur dengan p-value sebesar 0,085.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Islam dan Odland (2011) yang menemukan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara urutan kelahiran dengan pemanfaatan pelayanan nifas. Bahkan pemanfaatan pelayanan nifas lebih tinggi terjadi pada ibu yang melahirkan anak kedua dan ke empat dibandingkan anak pertama dan ketiga. Fort, dkk (2006) juga menemukan bahwa pada kelahiran non-fasilitas kesehatan, pemafaatan pelayanan nifas lebih tinggi terjadi pada ibu yang melahirkan anak ke-5 atau lebih dibandingkan anak dengan urutan kelahiran kecil.

Namun, hal ini tidak sejalan dengan penelitian Adamu (2011), Singh, dkk. (2012), dan Khanal, dkk. (2014) yang menemukan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara urutan kelahiran dengan pemanfaatan pelayanan nifas. Khanal, dkk (2014) menemukan bahwa tingginya pemanfaatan pelayanan nifas terjadi pada kelahiran anak

pertama (61,8%) dan kedua atau ketiga (41,2%). Begitu juga dengan Singh, dkk. (2012) yang menemukan bahwa tingginya pemanfaatan pelayanan nifas terjadi pada kelahiran anak pertama (37,4%) dan kedua atau ketiga (32,8%). Tingginya pemanfaatan pelayanan nifas pada anak pertama disebabkan karena wanita lebih berhati-hati tentang kehamilan pertamanya dan cenderung memiliki kesulitan selama persalinan (Singh, dkk., 2012).

Tidak adanya hubungan pada penelitian ini dimungkinkan terjadi karena sebagian besar responden ditolong oleh tenaga kesehatan dan kemudian mendapatkan pemeriksaan kesehatan segera setelah persalinan. Berdasarkan hasil penelitian, wanita dengan urutan kelahiran ke-1 dan ke-2 hingga 3 telah ditolong oleh tenaga kesehatan saat bersalin sebesar 92,3% dan 84,9%. Dari persentase tersebut, sebanyak 90,8% dan 89,9% di antaranya telah mendapatkan pemeriksaan kesehatan segera setelah persalinan. Tingginya persentase ini tidak jauh berbeda dengan persentase pada urutan kelahiran yang lebih besar. Wanita dengan urutan kelahiran ke-4 hingga 5 atau ke-6 atau lebih telah ditolong oleh tenaga kesehatan saat bersalin sebesar 79,9% dan 75,9%. Dari persentase tersebut, sebanyak 88,2% dan 88,3% di antaranya telah mendapatkan pemeriksaan kesehatan segera setelah persalinan.

Wanita yang ditolong oleh tenaga kesehatan saat persalinan akan mendapatkan pemeriksaan kesehatan segera setelah persalinan. Salah

satu standar pelayanan di fasilitas kesehatan dasar oleh tenaga kesehatan adalah memeriksa kesehatan ibu secara rutin selama 2 jam pertama pasca persalinan (Kemenkes, 2013). Syarifudin dan Hamidah (2009) juga menyebutkan bahwa tugas bidan sebagai salah satu tenaga kesehatan adalah melakukan pemantauan pada ibu dan bayi terhadap terjadinya komplikasi dalam 2 jam setelah persalinan serta melakukan tindakan yang diperlukan. Bidan juga bertugas memberikan pelayanan selama masa nifas melalui kunjungan rumah pada minggu ke-2 dan minggu ke-6 setelah persalinan.

Meskipun hasil uji statistik menemukan tidak ada hubungan, hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin besar urutan kelahiran maka semakin tinggi pemanfaatan pelayanan nifas. Oleh karena itu, intervensi pada kebijakan dan program peningkatkan kesehatan ibu melalui pelayanan nifas sebaiknya lebih difokuskan pada kelompok wanita yang memiliki pengalaman melahirkan lebih banyak, yaitu dengan cara peningkatkan promosi pelayanan nifas.

6.3.3 Kunjungan Pelayanan Antenatal (ANC)

Pelayanan antenatal adalah pelayanan kesehatan yang diberikan oleh tenaga kesehatan untuk ibu selama masa kehamilannya, dilaksanakan sesuai dengan standar pelayanan antenatal yang ditetapkan dalam Standar Pelayanan Kebidanan (SPK) (Kemenkes RI, 2010). Frekuensi pelayanan antenatal minimal 4 kali selama masa

kehaminan, yaitu minimal 1 kali pada triwulan pertama, minimal 1 kali pada triwulan kedua dan minimal 2 kali pada triwulan ketiga.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebanyak 84,1% wanita di daerah rural Indonesia pada tahun 2011-2012 melakukan kunjungan ANC sebanyak 4 kali atau lebih. Sedangkan sebanyak 12,7% wanita melakukan kunjungan hanya 1-3 kali dan 3,2% tidak pernah melakukan kunjungan ANC selama kehamilannya. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kesadaran wanita untuk berkunjung ke ANC cukup tinggi.

Kunjungan ke pelayanan antenatal (ANC) memiliki dampak positif pada pemanfaatan pelayanan nifas (Chimankar dan Sahoo, 2011). Kunjungan antenatal dapat meningkatkan kemungkinan bagi wanita untuk memanfaatkan pelayanan nifas (Ugboaja, dkk., 2013).

Pada penelitian ini, pemanfaatan pelayanan nifas lebih tinggi terjadi pada wanita yang melakukan kunjungan ANC ≥4 kali (88,3%)

dan lebih rendah pada wanita yang tidak pernah melakukan kunjungan ANC (57,6%). Hal ini menunjukkan bahwa tingginya pemanfaatan pelayanan nifas terjadi pada tingginya kunjungan ANC wanita ketika hamil. Hasil uji statistik juga menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kunjungan ANC dengan pemanfaatan pelayanan nifas pada wanita usia subur dengan p-value sebesar 0,000.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Chimankar dan Sahoo (2011), Ugboaja, dkk. (2013), Paudel, dkk. (2013), dan Khanal, dkk. (2013) bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara kunjungan

ANC dengan pemanfaatan pelayanan nifas. Paudel, dkk. (2013) menemukan bahwa ibu yang berkunjung ke ANC sebanyak 1 sampai 3 kali dan 4 kali atau lebih, lebih besar kemungkinannya untuk memanfaatkan pelayanan nifas daripada ibu yang tidak datang ke pelayanan antenatal. Khanal, dkk., (2014) juga menemukan bahwa ibu yang berkunjung sebanyak 4 kali atau lebih ke ANC lebih besar kemungkinannya untuk berkunjung ke pelayanan nifas setelah bersalin daripada ibu yang tidak berkunjung ke ANC.

Namun, beberapa penelitian menemukan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara kunjungan ANC dengan pemanfaatan pelayanan nifas (Dhaher, dkk., 2008; Berhe, dkk., 2013). Meski tidak ada hubungan, Berhe, dkk. (2013) berkeyakinan bahwa penting untuk mendidik para ibu hamil tentang pelayanan nifas ketika berkunjung ke pelayanan antenatal sehingga dapat meningkatkan kesadaran mereka untuk memanfaatkan pelayanan nifas.

Adanya hubungan dalam penelitian ini, dimungkinkan karena wanita mendapatkan informasi tentang pelayanan nifas saat kunjungan ANC. Paudel, dkk. (2013) menjelaskan bahwa saat datang ke pelayanan antenatal, ibu hamil memperoleh informasi kesehatan tentang persiapan yang dibutuhkan untuk persalinan dan pemanfaatan layanan lebih lanjut yang dibutuhkan setelah persalinan. Standar pelayanan di fasilitas kesehatan dasar di Indonesia juga disebutkan bahwa pada saat kunjungan ANC, terdapat sesi konseling yang membahas persiapan

persalinan (Kemenkes, 2013). Pada sesi konseling dengan tenaga kesehatan tersebut, ibu hamil kemungkinan juga memperoleh informasi tentang pemanfaatan pelayanan nifas dan kemudian menyadari tentang pentingnya mendapatkan pelayanan nifas.

Selain itu, adanya hubungan juga dimungkinkan karena kunjungan ANC dapat meningkatkan pemanfaatan penolong persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih yang kemudian meningkatkan kesempatan bagi ibu bersalin untuk mendapatkan pelayanan nifas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa wanita yang berkunjung ke ANC

sebanyak ≥4 kali (89,5%) lebih banyak yang ditolong oleh tenaga kesehatan saat bersalin daripada wanita yang tidak berkunjung ke ANC (54,5%). Selanjutnya, dari 89,5% wanita tersebut, sebanyak 91,1% di antaranya kemudian memanfaatkan. Sedangkan dari 54,5% wanita yang tidak berkunjung ke ANC dan ditolong oleh tenaga kesehatan saat bersalin, pemanfaatan nifasnya lebih rendah, yaitu 80,6%.

Kesadaran wanita untuk menjaga kesehatan ibu dan bayi dapat menjadi alasan bagi mereka memanfaatkan ANC dan pelayanan nifas. Hal ini sejalan dengan penelitian (Titaley, dkk., 2010) bahwa alasan utama wanita di Garut, Sukabumi dan Ciamis berkunjung ke ANC dan pelayanan nifas adalah untuk memastikan keselamatan ibu dan bayinya. Sebaliknya, alasan di antara mereka tidak memanfaatkan ANC maupun pelayanan nifas adalah karena kurangnya kesadaran mereka tentang pentingnya memanfaatkan pelayanan kesehatan ibu dan anak. Beberapa

di antara mereka berpendapat bahwa pelayanan kesehatan hanya dibutuhkan jika terjadi komplikasi kehamilan.

Pengetahuan dan kesadaran yang kurang pada wanita yang tidak berkunjung ke ANC dapat disebabkan karena faktor pendidikan. Pendidikan pada wanita hamil memiliki efek positif terhadap pemanfaatan ANC. Seperti di Ethiopia, wanita di daerah rural dengan tingkat pendidikan sekunder 4 kali lebih besar memanfaatkan pelayanan antenatal (Mekonnen, 2002). Hal ini juga ditunjukkan dari hasil penelitian ini bahwa kunjungan ANC ≥4 kali lebih banyak dilakukan oleh dengan tingkat pendidikan tamat SMTA (88,7%) dan perguruan tinggi (90,3%) dibandingkan wanita yang tidak sekolah (67,6%).

Kunjungan ANC yang tidak dilakukan oleh wanita selama hamil juga dapat dipengaruhi oleh kepercayaan yang menjadi budaya di lingkungannya. Wanita di daerah rural Jawa Barat beranggapan bahwa kehamilan adalah peristiwa yang normal sehingga tidak butuh perawatan kecuali jika terjadi komplikasi (Agus, dkk., 2012). Hal serupa juga terjadi di derah rural Bangladesh bahwa wanita umumnya menganggap kehamilan sebagai peristiwa normal kecuali jika muncul komplikasi sehingga sebagian dari mereka tidak berkunjung ke ANC dan tidak ada persiapan sebelumnya untuk menghadapi persalinan (Choudhury dan Ahmed, 2011).

Peran ANC terhadap pemanfaatan pelayanan nifas pada wanita di daerah rural cukup penting. Terlihat bahwa kunjungan ANC ≥ 4 kali

mampu menarik 88,3% dari total wanita yang berkunjung untuk kemudian memanfaatkan pelayanan nifas. Oleh karena itu, peneliti menyarankan untuk meningkatkan pemanfaatan atau kunjungan ANC minimal 4 kali atau lebih dan menekankan pentingnya pemanfaatan pelayanan nifas selama kunjungan tersebut berlangsung dengan sasaran utama adalah wanita yang tidak bersekolah dan tidak tamat SD.

Peningkatan kunjungan ANC dapat dilakukan melalui program berbasis masyarakat dan berbagai media promosi kesehatan, terutama dengan memanfaatkan peran bidan dan bidan swasta. Hal ini karena lebih dari setengah total responden diperiksa kehamilannya oleh bidan dan bidan di desa, yaitu sebesar 54,6% dan 37,3%.

6.3.4 Kuintil Kekayaan

Kuintil kekayaan merupakan indeks kekayaan rumah tangga yang didasarkan atas barang-barang kepemilikan rumah tangga tersebut. Penduduk di daerah rural umumnya memiliki kuintil kekayaan lebih rendah dibandingkan penduduk di daerah urban. Berdasarkan SDKI tahun 2012, lebih dari setengah penduduk rural (60%) di Indonesia berada dalam kuintil dua terendah, sementara sepertiga penduduk daerah urban (33%) berada dalam kuintil tertinggi (BPS, BKKBN, Kemenkes RI, dan ICF International, 2013).

Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian ini bahwa sebanyak 62,2% wanita usia subur yang pernah melahirkan tahun 2011-2012 di

daerah rural Indonesia berada dalam kuintil dua terendah, yaitu kuintil terbawah dan menengah bawah. Hanya 6,9% wanita di sana yang berada dalam kuintil kekayaan tertinggi.

McCulloch, dkk. (2007) menyebutkan bahwa kebanyakan orang

Dokumen terkait