SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM)
Oleh:
NUR LUTHFIYAH
NIM. 1110101000010
PEMINATAN EPIDEMIOLOGI
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
i Dengan ini saya menyatakan bahwa:
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan
ssuai dengan ketentuan yang berlaku di Fakultas Kedoteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. 3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini uan hasil karya asli saya atau
mrupakan jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di Fakultas Kedoteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
Ciputat, Juli 2014
ii
DETERMINAN PEMANFAATAN PELAYANAN NIFAS DI DAERAH RURAL INDONESIA
TAHUN 2011-2012
Telah disetujui, diperiksa dan dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Disusun Oleh:
NUR LUTHFIYAH
NIM. 1110101000010
Pembimbing I Pembimbing II
Minsarnawati Tahangnacca, SKM, M.Kes Riastuti Kusuma Wardani, SKM, MKM
iii
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
Jakarta, Agustus 2014
Mengetahui
Penguji I,
Febrianti, M.Si NIP. 19720221 200501 2 004
Penguji II,
Raihana Nadra Alkaff, SKM, M.MA NIP. 19781216 200901 2 005
Penguji III,
iv
Nur Luthfiyah, NIM: 1110101000010
Determinan Pemanfaatan Pelayanan Nifas di Daerah Rural Indonesia Tahun 2011-2012
xviii + 217 Halaman + 30 Tabel + 5 Bagan
ABSTRAK
Angka kematian ibu di Indonesia berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 mengalami kenaikan dari tahun 2007 menjadi 359 per 100.000 penduduk dan masih jauh pencapaiannya dari target Rencana Pembangunan Jangka Menegah Nasional (RPJMN) 2014, yaitu 118 per 100.000 penduduk dan Millenium Development Goals (MDGs) 2015, yaitu 102 per 100.000 penduduk. Beberapa penyebab kematian ibu, seperti komplikasi nifas dan perdarahan pasca bersalin dapat dicegah melalui program pelayanan nifas. Sebanyak 74% ibu di daerah rural menerima pelayanan nifas pada dua hari pertama pasca persalinan dan 15,7% ibu yang tidak pernah memeriksakan kesehatan selama 42 hari masa nifas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui determinan pemanfaatan pelayanan nifas di daerah rural Indonesia.
Penelitian ini menggunakan desain studi potong lintang pada 2072 wanita usia subur 15-49 tahun yang pernah melahirkan anak terakhir tahun 2011-2012 dengan menggunakan data SDKI 2012. Hubungan antara pemanfaatan pelayanan nifas dengan determinannya dianalisis menggunakan uji Chi-Square.
Terdapat 1773 (85,6%) wanita memanfaatkan pelayanan nifas dalam 3 hari pertama pasca persalinan. Faktor pendidikan, kunjungan ANC, kuintil kekayaan, tempat persalinan, penolong persalinan, dan jarak ke fasilitas kesehatan berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan nifas di daerah rural Indonesia dengan masing-masing p-value sebesar 0,000. Sedangkan urutan kelahiran dan komplikasi persalinan tidak berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan nifas dengan p-value sebesar 0,085 dan 0,343.
Disarankan bagi Kementerian Kesehatan untuk meningkatkan promosi kesehatan tentang pentingnya pemanfaatan pelayanan kesehatan maternal, meningkatkan ketersediaan penyedia pelayanan kesehatan, dan sosialisasi pemanfaatan asuransi kesehatan dari pemerintah secara masif kepada masyarakat. Peran sektor terkait lainnya juga dibutuhkan, seperti pengintegrasian kurikulum pendidikan kesehatan ke dalam kurikulum pendidikan formal dan perbaikan infrastruktur jalan dan transportasi, khususnya di daerah rural yang terpencil.
Kata Kunci: AKI, Pemanfaatan, Pelayanan Nifas, Rural, Indonesia
v
Nur Luthfiyah, NIM: 1110101000010
Determinants of Postnatal Care Utilization in Rural Areas of Indonesia in 100,000 population and has been far from the attainment of the National Medium Term Development Plan (RPJMN) target in 2014, that is 118 per 100,000 population and Millenium Development Goals (MDGs) target in 2015, that is 102 per 100,000 population. Some causes of maternal mortality, such as complications of childbirth and postpartum bleeding can be prevented through a program of postnatal care. As many as 74% of women in rural area received postnatal care in the first two days after delivery and 15,7% of women never checked their health within 42 days of puerperium. The purpose of this study was to investigate the determinants of the utilization of postnatal care in rural Indonesia.
This study used a cross-sectional study design in 2072 infertile women aged 15-49 years who delivered the last child in 2011-2012 by using data from IDHS 2012. The association between the utilization of postnatal care with the factors were analyzed using Chi-Square.
There were 1773 (85,6%) women utilized postnatal care within the first 3 days after delivery. The factors, such as education, antenatal care visit, wealth quintile, place of delivery, birth attendants, and distance to health facilities associated with the utilization of postnatal care in rural Indonesia by their respective p-values of 0,000. On the other hand, birth order and delivery complications did not associated with the utilization of postnatal care by the p-values of 0,085 and 0,343.
It is advisable for the Ministry of Health to improve the health promotion of the importance of the utilization of maternal health services, improve the provision of health care providers, and socialize the use of health insurance by govermenth massively to the community. The role of other related sectors are also needed, such as the integration of health education curriculum into the curriculum of formal education and improvement of roads and transport infrastructure, especially in remote rural areas.
Keywords: MMR, Utilization, Postnatal Care, Rural, Indonesia
vi
Nama : Nur Luthfiyah
Tempat, Tamggal Lahir : Jakarta, 12 Februari 1992 Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Jl. Cimandiri RT. 01 RW. 08 No. 47, Ciputat, Kota Tangerang Selatan
Telp/Hp : 085695317333
Agama : Islam
Status : Belum menikah
Email : [email protected]
B. Riwayat Pendidikan
1996-1998 : TK Tri Jaya Jakarta
1998-2004 : SDN 03 Pagi Bintaro Jakarta 2004-2007 : SMPN 177 Plus Jakarta 2007-2010 : SMAN 47 Jakarta
2010-2014 : S1-Peminatan Epidemiologi, Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
C. Pengalaman Organisasi
2011 : Koordinator Divisi Pengembangan Ekonomi Komisariat Dakwah FKIK UIN Syarif Hidayatullah.
2011-2012 : Staf Departemen Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Pergerakan Anggota Muda IAKMI (PAMI) Jakarta Raya.
2012-2013 : Sekretaris Komisariat Dakwah FKIK UIN Syarif Hidayatullah 2012-2013 : Staf Departemen Informasi dan Komunikasi Pergerakan
Anggota Muda IAKMI (PAMI) Jakarta Raya.
2012-2013 : Staf Departemen Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Badan Ekskutif Mahasiswa Kesehatan Masyarakat FKIK UIN Syarif Hidayatullah.
vii Assalamu‟alaikum wr. wb.
Alhamdulillah, segala puji kehadirat Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Determinan Pemanfaatan Pelayanan Nifas di Daerah Rural Indonesia Tahun 2011-2012”. Shalawat dan salam senantiasa tecurahkan kepada Rasulullah SAW yang telah menjadi suri tauladan bagi umatnya.
Ada begitu banyak suka dan duka yang penulis hadapi dalam menyelesaikan skripsi ini. Sempat terbersit keinginan untuk mengganti topik penelitian ini dengan topik penelitian lainnya saat mengetahui sulitnya data yang didapatkan dan fakta di lapangan yang berbeda dari yang diharapkan. Namun, karena adanya dukungan dari semua pihak serta keinginan untuk bisa lulus tepat waktu, akhirnya penulis tetap mempertahankan topik penelitian ini dan hanya perlu mengganti lokasi penelitian. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis mengucapkan rasa terima kasih kepada:
1. Bapak dan Ibu tercinta, yang tak hentinya selalu memberikan kasih sayang, perhatian, dan memberikan doa terbaik bagi penulis. Begitu besar jasa kalian berdua sehingga penulis bisa menuntut ilmu hingga setinggi ini. Teringat kembali akan nasihat kalian berdua, “Bapak Ibu nggak bisa ngasih kamu harta. Kita hanya bisa membekali kamu ilmu. Dengan ilmu
semoga kamu bisa jadi orang yang sukses dan bermanfaat untuk banyak
viii
3. Ibu Ir.Febrianti, M.Si, selaku ketua Program Studi Kesehatan Masyarakat (PSKM) Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
4. Ibu Minsarnawati, M.Kes selaku Dosen Penanggung Jawab Peminatan Epidemiologi PSKM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus sebagai dosen pembimbing. Sangat bersyukur bisa mengenal Ibu. Ibu selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi Peminatan Epidemiologi. Karena Ibu, penulis bisa memperoleh ilmu yang sangat banyak dari dosen-dosen ahli di bidangnya yang Ibu pilihkan untuk kami. Terima kasih atas kesabaran dan kasih sayang Ibu dalam memberikan arahan serta bimbingannya.
5. Ibu Riastuti, MKM selaku dosen pembimbing skripsi. Terima kasih atas kesabaran dan perhatian Ibu dalam memberikan arahan serta bimbingannya. Penulis kagum dengan cara pandang Ibu dalam melihat masalah kesehatan, khususnya terkait pelayanan kesehatan, sehingga secara tidak langsung juga mempengaruhi cara pandang penulis.
6. Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kependudukan (PUSDU) BKKBN yang telah memberikan izin bagi penulis dalam penggunaan data Survei Demografi dan Kesehatan (SDKI) tahun 2012 untuk penelitian. 7. Bapak Mugia Bayu. M.Si dan Ibu Rahmadewi, MKM selaku staf PUSDU
BKKBN yang meluangkan waktu cukup banyak di jam sibuknya untuk memberikan arahan dan informasi bagi penulis dalam memahami data SDKI yang diteliti.
ix
kepedulian, semangat dan bantuannya. Sangat bersyukur kepada Allah atas pemberian teman-teman istimewa seperti kalian. Semoga pertemanan ini terjalin semakin erat dan silaturahmi tetap ada hingga kita menua.
9. Teman-teman Kesehatan Masyarakat 2010 yang menularkan semangatnya untuk menyusun skripsi dan memotivasi penulis untuk wisuda bersama. Terima kasih atas bantuannya.
10. Teman-teman halaqah tercinta, yang kami saling menyebut satu sama lain sebagai bidadari syurga, yaitu Kak Yurni, Yuni, Refi, Juju, Eva, Umi, Aisyah, Fatimah, Nida, Ai, Hani dan Irma. Terima kasih atas perhatian dan dukungannya, terutama atas kehadiran kalian dan kebersamaan ini yang selalu menjadi pengingat bagi penulis bahwa Allah adalah di atas segalanya. Bahkan jika dalam penyusunan skripsi ini terasa sulit dan melelahkan, maka kembalilah pada Allah untuk memohon pertolongan. 11. Diyan, saudara perempuan satu-satunya. Terima kasih atas perhatian,
pengertian dan bantuannya. Semoga kuliahmu selalu diberi kelancaran. 12. Semua pihak terkait yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, terima
kasih atas dukungannya.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih sangat jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi penyempurnaan penelitian ini. Semoga dengan disusunnya skripsi ini akan memberikan manfaat bagi banyak pihak, khususnya bagi penulis serta bagi pembaca.
Wassalamu‟alaikum wr. wb.
Ciputat, 18 Agustus 2014
x
-xi
LEMBAR PERNYATAAN ... i
PERNYATAAN PERSETUJUAN ... ii
ABSTRAK ... iv
DAFTAR SINGKATAN ... xviii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 4
1.3 Pertanyaan Penelitian ... 5
1.4 Tujuan Penelitian ... 6
1.4.1 Tujuan Umum ... 6
1.4.2 Tujuan Khusus ... 6
1.5 Manfaat Penelitian ... 7
1.5.1 Bagi Kementerian Kesehatan RI ... 7
1.5.2 Bagi Kementerian Pendidikan RI ... 7
1.5.3 Bagi Pemerintah Daerah ... 8
1.5.4 Bagi Peneliti Lain ... 8
1.6 Ruang Lingkup... 8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 10
2.1 Pelayanan Nifas ... 10
2.1.1 Definisi Masa Nifas ... 10
2.1.2 Tahapan Masa Nifas ... 10
2.1.3 Perubahan Fisiologis Masa Nifas ... 11
2.1.4 Komplikasi Masa Nifas ... 15
2.1.5 Pelayanan Nifas ... 18
2.2 Determinan Epidemiologi ... 22
2.3 Daerah Rural ... 24
xii
2.4.1 Karakteristik Predisposisi ... 35
2.4.2 Sumber Daya Pendukung ... 48
2.4.3 Kebutuhan ... 60
2.5 Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 ... 63
2.5.1 Tujuan Survei ... 63
2.5.2 Organisasi Survei ... 64
2.5.3 Kuisioner ... 65
2.5.4 Uji Coba, Pelatihan dan Lapangan ... 66
2.6.5 Desain Sampel dan Implementasi ... 68
2.7.6 Pengolahan Data ... 69
2.6 Kerangka Teori ... 70
BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL ... 72
3.1 Kerangka Konsep ... 72
3.2 Definisi Operasional ... 77
3.3 Hipotesis Penelitian ... 80
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN ... 81
4.1 Desain Penelitian ... 81
4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 81
4.3 Populasi dan Sampel Penelitian ... 82
4.3.1 Populasi ... 82
4.3.2 Sampel ... 82
4.4 Instrumen Penelitian ... 86
4.4.1 Pemanfaatan Pelayanan Nifas ... 86
4.4.2 Pendidikan ... 87
4.4.3 Urutan Kelahiran ... 88
4.4.4 Kunjungan Pelayanan Antenatal (ANC) ... 88
4.4.5 Kuintil Kekayaan... 89
4.4.6 Tempat Persalinan ... 91
4.4.7 Penolong Persalinan ... 92
4.4.8 Jarak ke Fasilitas Kesehatan ... 93
4.4.9 Komplikasi Persalinan... 93
xiii
BAB V HASIL PENELITIAN ... 100
5.1 Karakteristik WUS di Daerah Rural Indonesia ... 100
5.1.1 Gambaran Pemanfaatan Pelayanan Nifas ... 101
5.1.2 Gambaran Pendidikan ... 103
5.1.4 Gambaran Urutan Kelahiran Anak ... 104
5.1.5 Gambaran Kunjungan Pelayanan Antenatal (ANC) ... 104
5.1.6 Gambaran Kuintil Kekayaan ... 107
5.1.7 Gambaran Tempat Persalinan ... 108
5.1.8 Gambaran Penolong Persalinan ... 110
5.1.9 Gambaran Jarak ke Fasilitas Kesehatan ... 111
5.1.10 Gambaran Komplikasi Persalinan ... 112
5.2 Determinan Pemanfaatan Pelayanan Nifas di Daerah Rural Indonesia ... 114
5.2.1 Hubungan Pendidikan dengan Pemanfaatan Pelayanan Nifas ... 114
5.2.2 Hubungan Urutan Kelahiran dengan Pemanfaatan Pelayanan Nifas ... 115
5.2.3 Hubungan Kunjungan Pelayanan Antenatal (ANC) dengan Pemanfaatan Pelayanan Nifas ... 116
5.2.4 Hubungan Kuintil Kekayaan dengan Pemanfaatan Pelayanan Nifas ... 117
5.2.5 Hubungan Tempat Persalinan dengan Pemanfaatan Pelayanan Nifas ... 118
5.2.6 Hubungan Penolong Persalinan dengan Pemanfaatan Pelayanan Nifas ... 119
5.2.7 Hubungan Jarak ke Fasilitas Kesehatan dengan Pemanfaatan Pelayanan Nifas ... 120
5.2.8 Hubungan Komplikasi Persalinan dengan Pemanfaatan Pelayanan Nifas ... 121
BAB VI PEMBAHASAN ... 122
6.1 Keterbatasan Penelitian ... 122
xiv
6.3.3 Kunjungan Pelayanan Antenatal (ANC) ... 135
6.3.4 Kuintil Kekayaan... 140
6.3.5 Tempat Persalinan ... 147
6.3.6 Penolong Persalinan ... 153
6.3.7 Jarak ke Fasilitas Kesehatan ... 161
6.3.8 Komplikasi Persalinan... 164
BAB VII PENUTUP ... 168
7.1 Simpulan ... 168
7.2 Saran ... 169
7.2.1 Bagi Kementerian Kesehatan RI ... 169
7.2.2 Kementerian Pendidikan RI ... 170
7.2.3 Pemerintah Daerah ... 171
7.2.4 Bagi Peneliti Lain ... 171
DAFTAR PUSTAKA ... 172
xv
Tabel 2.1 Variabel, Klasifikasi, Skor dan Kriteria Desa Urban dan Rural ... 25
Tabel 3.1 Definisi Operasional ... 77
Tabel 4.1 Jumlah Sampel untuk Setiap Variabel ... 84
Tabel 4.2 Daftar Variabel dan Kuisioner SDKI 2012 ... 86
Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi WUS Berdasarkan Umur di Daerah Rural Indonesia Tahun 2011-2012 ... 100
Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi WUS Berdasarkan Umur Melahirkan di Daerah Rural Indonesia Tahun 2011-2012 ... 101
Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi WUS Berdasarkan Pemanfaatan Pelayanan Nifas di Daerah Rural Indonesia Tahun 2011-2012... 102
Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi WUS Berdasarkan Tenaga Pemeriksa Kesehatan Nifas di Daerah Rural Indonesia Tahun 2011-2012 ... 102
Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi WUS Berdasarkan Waktu Pemeriksaan Kesehatan Nifas di Daerah Rural Indonesia Tahun 2011-2012 ... 103
Tabel 5.6 Distribusi Frekuensi WUS Berdasarkan Pendidikan di Daerah Rural Indonesia Tahun 2011-2012 ... 103
Tabel 5. 7 Distribusi Frekuensi WUS Berdasarkan Urutan Kelahiran Anak di Daerah Rural Indonesia Tahun 2011-2012 ... 104
Tabel 5.8 Distribusi Frekuensi WUS Berdasarkan Kunjungan ANC di Daerah Rural Indonesia Tahun 2011-2012 ... 105
Tabel 5.9 Distribusi Frekuensi WUS Berdasarkan Tempat Kunjungan ANC di Daerah Rural Indonesia Tahun 2011-2012 ... 106
Tabel 5.10 Distribusi Frekuensi WUS Berdasarkan Tenaga Pemeriksa Kehamilan di Daerah Rural Indonesia Tahun 2011-2012 ... 107
xvi
Rural Indonesia Tahun 2011-2012 ... 109 Tabel 5.14 Distribusi Frekuensi WUS Berdasarkan Jenis Tenaga Penolong
Persalinan di Daerah Rural Indonesia Tahun 2011-2012 ... 110 Tabel 5.15 Distribusi Frekuensi WUS Berdasarkan Penolong Persalinan di Daerah
Rural Indonesia Tahun 2011-2012 ... 111 Tabel 5.16 Distribusi Frekuensi WUS Berdasarkan Jarak ke Fasilitas Kesehatan di
Daerah Rural Indonesia Tahun 2011-2012 ... 112 Tabel 5.17 Distribusi Frekuensi WUS Berdasarkan Jenis Komplikasi Persalinan di Daerah Rural Indonesia Tahun 2011-2012 ... 113 Tabel 5.18 Distribusi Frekuensi WUS Berdasarkan Komplikasi Persalinan di
Daerah Rural Indonesia Tahun 2011-2012 ... 113 Tabel 5.19 Hubungan Pendidikan dengan Pemanfaatan Pelayanan Nifas Pada
WUS di Daerah Rural Indonesia Tahun 2011-2012 ... 115 Tabel 5.20 Hubungan Urutan Kelahiran dengan Pemanfaatan Pelayanan Nifas
Pada WUS di Daerah Rural Indonesia Tahun 2011-2012... 116 Tabel 5.21 Hubungan Kunjungan ANC dengan Pemanfaatan Pelayanan Nifas
Pada WUS di Daerah Rural Indonesia Tahun 2011-2012... 117 Tabel 5.22 Hubungan Kuintil Kekayaan dengan Pemanfaatan Pelayanan Nifas
Pada WUS di Daerah Rural Indonesia Tahun 2011-2012... 118 Tabel 5.23 Hubungan Tempat Persalinan dengan Pemanfaatan Pelayanan Nifas
Pada WUS di Daerah Rural Indonesia Tahun 2011-2012... 119 Tabel 5.24 Hubungan Penolong Persalinan dengan Pemanfaatan Pelayanan Nifas
Pada WUS di Daerah Rural Indonesia Tahun 2011-2012... 120 Tabel 5.25 Hubungan Jarak ke Fasilitas Kesehatan dengan Pemanfaatan
Pelayanan Nifas Pada WUS di Daerah Rural Indonesia Tahun 2011-2012 ... 120 Tabel 5.26 Hubungan Komplikasi Persalinan dengan Pemanfaatan Pelayanan
xvii
Bagan 2.1 Model Perilaku Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan ... 33
Bagan 2.2 Determinan Individu dalam Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan ... 34
Bagan 2.3 Kerangka Teori ... 70
Bagan 3.1 Kerangka Konsep ... 76
xviii
ANC : Antenatal Care
BKKBN : Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana BPS : Badan Pusat Statistik
DHS : Demographic and Health Survey
IDHS : Indonesia Demography and Health Survey Jampersal : Jaminan Persalinan
KB : Keluarga Berencana Kemenkes : Kementeria Kesehatan KF : Kunjungan Nifas
MDGs : Millenium Development Goals Permenkes : Peraturan Menteri Kesehatan
PK : Pria Kawin
PSU : Primary Sampling Unit
RP : Remaja Pria
RPJMN : Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
RT : Rumah Tangga
SDKI : Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia USAID : U.S Agency International Development
UU : Undang-Undang
WHO : World Health Organization
1
1.1 Latar Belakang
Kematian ibu masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan (SDKI) tahun 2007, angka kematian ibu (AKI) di Indonesia adalah sebesar 228 per 100.000 kelahiran hidup (Bappenas, 2011). Angka ini kemudian naik pada tahun 2012 menjadi 359 per 100.000 kelahiran hidup (SDKI, 2012). Sedangkan target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2014 adalah sebesar 118 per 100.000 kelahiran hidup (Bappenas, 2010) dan target MDGs tahun 2015 adalah sebesar 102 per 100.000 kelahiran hidup (Bappenas, 2011).
(25%), infeksi (5%), partus lama (5%), dan abortus (1%) (Direktorat Bina Kesehatan Ibu, 2012). Penyebab lain-lainnya (32%) cukup besar, termasuk di dalamnya penyebab penyakit non obstetrik.
Sebagian besar penyebab kematian ibu tersebut terjadi pada masa nifas. Periode masa nifas yang berisiko terhadap komplikasi pasca persalinan terutama terjadi pada periode 3 hari pertama setelah melahirkan (Riskesdas, 2013). Bahkan tingginya kematian dapat terjadi pada hari pertama dan kedua setelah melahirkan (Ronsmans, dkk., 2006). Sebanyak 45% kematian pada masa nifas terjadi pada 24 jam pertama setelah melahirkan dan 66% terjadi pada 1 minggu pertama setelah melahirkan (Nour, 2008).
Kementerian Kesehatan telah mencanangkan program pelayanan nifas sebagai upaya untuk mengurangi angka kematian ibu pada masa nifas (Kemenkes RI, 2010). Program pelayanan nifas diberikan mulai dari 6 jam sampai 42 hari pasca persalinan oleh tenaga kesehatan.
Berdasarkan data SDKI 2012, sebanyak 80% ibu menerima pelayanan nifas pada dua hari pertama setelah persalinan (BPS, BKKBN, Kemenkes RI, dan ICF International 2013). Hanya 56% ibu yang menerima pelayanan nifas dalam kurun waktu 4 jam pertama, 13% yang menerima pelayanan nifas dalam kurun waktu 4-23 jam pertama, dan 11% yang menerima pelayanan nifas dalam kurun waktu 1-2 hari. Sedangkan ibu yang tidak pernah memeriksakan diri dalam 42 hari masa nifas sebanyak 11,3%.
2007, pemeriksaan pelayanan nifas pada 2 hari pertama pasca persalinan di daerah urban sebesar 69,1% dan naik menjadi 86% berdasarkan SDKI 2012. Sedangkan pemeriksaan pelayanan nifas pada 2 hari pertama pasca persalinan di daerah rural sebesar 70,6% dan naik menjadi 74%.
Perbedaan daerah rural dan urban juga terlihat dari besarnya persentase ibu yang tidak pernah mendapatkan pelayanan nifas. Berdasarkan data SDKI 2007, ibu yang tidak pernah mendapatkan pelayanan nifas di daerah urban sebesar 14,5% dan menurun menjadi 6% berdasarkan SDKI 2012. Berdasarkan data SDKI 2007, ibu yang tidak pernah mendapatkan pelayanan nifas di daerah rural sebesar 17% dan menurun sedikit menjadi 15,7% berdasarkan SDKI 2012.
Sejumlah penelitian menyebutkan bahwa terdapat hubungan antara daerah tempat tinggal dengan pemanfaatan pelayanan nifas. Penelitian di Kamboja menunjukkan bahwa pelayanan nifas saat 24 jam pertama setelah persalinan lebih tinggi terjadi di daerah urban dibandingkan di daerah rural (Kim, dkk., 2013). Hasil penelitian lainnya juga secara signifikan menunjukkan bahwa ibu di daerah urban Nepal lebih besar kemungkinannya untuk berkunjung ke pelayanan nifas dalam 42 hari setelah melahirkan (Khanal, dkk., 2014).
memengaruhi ibu dalam memanfaatkan pelayanan nifas (Kim, dkk., 2013). Nugraha (2013) menemukan bahwa berdasarkan analisis lanjut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010, kunjungan ke ANC dan status ekonomi keluarga memengaruhi akses pelayanan nifas di Indonesia. Khanal, dkk. (2014) juga menemukan bahwa dari hasil analaisis lanjut data Survei Demografi dan Kesehatan Nepal 2011, nomor urut kelahiran anak menjadi faktor ibu dalam memanfaatkan pelayanan nifas di Nepal.
Penelitian tentang pemanfaatan pelayanan nifas di Indonesia masih jarang dilakukan, khususnya di daerah rural. Padahal, pemanfaatan pelayanan nifas di daerah rural masih rendah. Di sisi lain, target cakupan pelayanan nifas perkabupaten/kota pada tahun 2015 mendatang adalah 90% (Permenkes Nomor 741/Menkes/Per/VII/2008). Pelayanan nifas penting diberikan karena masa nifas masih berisiko mengalami perdarahan atau infeksi yang dapat mengakibatkan kematian ibu. Oleh karena itu, penulis bermaksud melakukan penelitian tentang determinan pemanfaatan pelayanan nifas di daerah rural Indonesia berdasarkan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2012.
1.2 Rumusan Masalah
kematian ibu adalah komplikasi nifas dan perdarahan pasca bersalin yang sebenarnya dapat dicegah melalui program pelayanan nifas. Sebanyak 80% ibu menerima pelayanan nifas pada dua hari pertama setelah persalinan dan 11,3% ibu yang tidak pernah memeriksakan diri dalam 42 hari masa nifas. Pemeriksaan nifas di daerah rural Indonesia mengalami kenaikan yang rendah daripada daerah urban. Beberapa penelitian menemukan bahwa terdapat beberapa faktor yang memengaruhi ibu dalam memanfaatkan pelayanan nifas, antara lain pendidikan, tempat persalinan, penolong persalinan, pengetahuan, persepsi tentang jarak ke pelayanan kesehatan, kunjungan ke ANC, status ekonomi keluarga dan urutan kelahiran (Kim, dkk., 2013; Nugraha (2013); Khanal, dkk., 2014). Penelitian tentang pemanfaatan pelayanan nifas di daerah rural pun masih jarang dilakukan sehingga penulis melakukan penelitian tersebut dengan menggunakan data SDKI 2012.
1.3 Pertanyaan Penelitian
Pertanyaan penelitian ini, yaitu:
a. Bagaimana gambaran distribusi frekuensi pemanfaatan pelayanan nifas dan determinannya di daerah rural Indonesia?
1.4 Tujuan Penelitian
1.4.1 Tujuan Umum
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui determinan pemanfaatan pelayanan nifas di daerah rural Indonesia tahun 2011-2012 berdasarkan data SDKI 2012.
1.4.2 Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dari penelitian ini, yaitu:
a. Mengetahui distribusi frekuensi pemanfaatan nifas dan determinannya di daerah rural tahun 2011-2012.
b. Mengetahui hubungan antara pendidikan dengan pemanfaatan pelayanan nifas di daerah rural tahun 2011-2012.
c. Mengetahui hubungan antara urutan kelahiran dengan pemanfaatan pelayanan nifas di daerah rural tahun 2011-2012. d. Mengetahui hubungan antara kunjungan ANC dengan
pemanfaatan pelayanan nifas di daerah rural tahun 2011-2012. e. Mengetahui hubungan antara kuintil kekayaan dengan
pemanfaatan pelayanan nifas di daerah rural tahun 2011-2012. f. Mengetahui hubungan antara tempat persalinan dengan
pemanfaatan pelayanan nifas di daerah rural tahun 2011-2012. g. Mengetahui hubungan antara penolong persalinan dengan
h. Mengetahui hubungan antara jarak ke fasilitas kesehatan dengan pemanfaatan pelayanan nifas di daerah rural tahun 2011-2012. i. Mengetahui hubungan antara komplikasi persalinan dengan
pemanfaatan pelayanan nifas di daerah rural tahun 2011-2012.
1.5 Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini, antara lain:
1.5.1 Bagi Kementerian Kesehatan RI
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan atau pertimbangan dalam penentuan kebijakan kesehatan terhadap perbaikan program pelayanan nifas melalui peningkatan pemanfaatan pelayanan nifas sehingga dapat mencegah kematian ibu pasca persalinan, khususnya di daerah rural Indonesia. Hasil analisis terhadap determinan pemanfaatan pelayananan nifas ini juga diharapkan dapat menjadi masukan dalam pembuatan program promosi kesehatan yang efektif bagi masyarakat daerah rural Indonesia sehingga semakin menyadari pentingnya pemanfaatan pelayanan nifas.
1.5.2 Bagi Kementerian Pendidikan RI
kontribusinya dalam perbaikan program pelayanan nifas, khususnya di daerah rural Indonesia.
1.5.3 Bagi Pemerintah Daerah
Program kesehatan tidak hanya menjadi tanggung jawab instansi kesehatan saja. Namun, perlu adanya peran pemerintah daerah untuk berkontribusi di dalam mensukseskannya. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan atau pertimbangan dalam menentukan kebijakan daerah sebagai yang bersinergi dalam perbaikan program pelayanan nifas, khususnya di daerah rural Indonesia.
1.5.4 Bagi Peneliti Lain
Hasil penelitian ini nantinya diharapkan dapat menjadi salah satu referensi bagi peneliti lain yang tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang determinan pemanfaatan pelayanan nifas, khususnya di masing-masing kabupaten di daerah rural Indonesia.
1.6 Ruang Lingkup
10
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pelayanan Nifas
2.1.1 Definisi Masa Nifas
Masa nifas atau puerperium berasal dari bahasa Latin, yaitu dari kata puer yang artinya bayi dan parous yang artinya melahirkan (Bahiyatun, 2008). Puerperium berarti masa setelah melahirkan bayi. Masa nifas (puerperium) adalah masa pemulihan alat-alat reproduksi dari sejak persalinan hingga ke bentuk normal seperti sebelum hamil dengan lama waktu sekitar 6 minggu (Manuba, 2004; Bahiyatun, 2008; Code dan Dunstall, 2011).
2.1.2 Tahapan Masa Nifas
Secara umum, masa nifas dibagi menjadi tiga tahap/periode (Bahiyatun, 2008), yaitu:
a. Puerperium dini, yaitu kepulihan ketika ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan.
c. Remote puerperium, yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna, terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi. Waktu untuk sehat sempurna mungkin beberapa minggu, bulan atau tahun.
2.1.3 Perubahan Fisiologis Masa Nifas
Setelah proses persalinan, terdapat perubahan fisiologis yang terjadi pada ibu selama masa nifas. Beberapa perubahan fisiologis yang terjadi pada persalinan normal adalah sebagai berikut.
a. Uterus
Setelah persalinan, kaliber pembuluh ekstrauterus berkurang hingga hampir mencapai keadaan prahamil. Setelah 2 hari pertama, uterus mulai menciut sehingga dalam 2 minggu uterus telah turun ke dalam rongga panggul sejati (Leveno, dkk., 2009). Uterus memperoleh kembali ukuran prahamilnya dalam waktu sekitar 4 minggu.
b. Lokia
Lokia adalah darah yang dibuang dari rahim yang telah mengerut kembali ke ukuran semula, yang terdiri dari darah tempat plasenta menempel dan luruhan dinding rahim yang berkembang sangat besar selama kehamilan (Syafrudin dan Hamidah, 2009). Lokia keluar dari uterus selama 3 (tiga) minggu pertama setelah kelahiran (Stright, 2005).
c. Serviks
Pada masa nifas, serviks menjadi tebal dan lebih keras. Pada akhir minggu pertama masa nifas, serviks akan berdilatasi sekitar 1 cm atau selebar 1 jari. Involusi serviks yang lengkap bisa berlangsung 3 sampai 4 bulan. (Stright, 2005)
d. Vagina dan Vulva
Vagina dan vulva pada masa nifas mengalami pembengkakan dan akan kembali normal dalam beberapa waktu (Stright, 2005). Rugae tampak kembali dalam 3 sampai 4 minggu pasca persalinan.
e. Perineum
Perineum adalah area di antara vagina dan rektum (Cheung, 2008) yang terdiri dari otot yang saling terjalin menyangga dasar panggul dan berperan sebagai “otot melahirkan” (Sindhu, 2009).
terdapat luka, lecet bahkan robek (Stright, 2005). Luka pada perineum akan pulih dalam waktu 6 sampai 7 hari (Manuaba, 2004).
f. Abdomen
Abdomen tetap lunak dan mengendur selama beberapa waktu setelah melahirkan akibat ruptur serat elastik di kulit. Secara bertahap dalam beberapa minggu, abdomen akan menjadi lebih kuat. (Stright, 2005; Leveno, dkk., 2009)
g. Ovarium
Setelah proses persalinan, produksi estrogen dan progesteron menurun, sehingga menimbulkan mekanisme timbal-balik dari sirkulasi menstruasi. Pada saat ini, dimulai kembali proses ovulasi sehingga wanita dapat hamil kembali. (Bahiyatun, 2008).
h. Payudara
Pada masa nifas, payudara megalami perubahan dalam beberapa hal. Menurut Stright (2005), perubahan yang terjadi pada payudara, yaitu:
1) Terjadi penurunan cepat kadar estrogen dan progesteron dengan peningkatan sekresi prolaktin setelah melahirkan. 2) Kolostrum sudah ada pada waktu melahirkan dan ASI
3) Payudara lebih besar dan lebih keras karena terjadi laktasi (pembengkakan primer).
4) Di dalam payudara, prolaktin menstimulasi sel-sel alveolar untuk menghasilkan susu.
i. Sistem Kardiovaskular
Denyut jantung untuk sementara sekitar 50 sampai 70 kali per menit selama 24 sampai 48 jam setelah melahirkan dan bisa berlanjut hingga 6 sampai 8 hari (Stright, 2005). Tekanan darah tetap stabil dan nadi frekuensinya kembali seperti sebelum hamil dalam 3 bulan setelah kelahiran (Stright, 2005). Sedangkan penurunan volume darah ke kadar sebelum hamil terjadi pada minggu ketiga setelah kelahiran (Bahiyatun, 2008).
j. Sistem Pencernaan
k. Sistem Perkemihan
Diuresis (peningkatan jumlah urin) umumnya terjadi setelah 2 hari postpartum karena saluran urinaria mengalami dilatasi dan akan kembali normal setelah 4 minggu pospartum (Bahiyatun, 2008).
2.1.4 Komplikasi Masa Nifas
Beberapa komplikasi yang dapat terjadi pada masa nifas, antara lain:
a. Perdarahan
Perdarahan pada masa nifas ada dua macam, yaitu (Farrer, 2001):
1) Perdarahan primer, yaitu perdarahan berlebihan (600 ml atau lebih) dari saluran genitalia yang terjadi dalam waktu 12-24 jam setelah melahirkan. Penyebabnya adalah kegagalan uterus untuk mencapai atau mempertahankan status kontraksi.
b. Sepsis Puerperalis
Sepsis puerperalis adalah infeksi pada traktus genetalia yang dapat terjadi setiap saat antara waktu pecah ketuban (ruptur membran) atau waktu persalinan dan 42 hari setelah persalinan atau abortus (WHO, 2002).
c. Eklamsia
Eklamsia adalah preeklamsia berat yang dilanjutkan dengan keadaan kejang dan/atau sampai koma (Yulaikhah, 2009). Preeklamsia adalah gangguan multisistem yang berhubungan dengan hipertensi, proteinuria, edema, hemokonsentrasi, hipoalbuminemia, kelainan fungsi hati atau koagulasi dan peningkatan kadar asam urat (Engel dan Pedley, 2008). Eklamsia dapat muncul sebelum, selama atau setelah persalinan (Leveno, dkk. 2009). Pada sebagian kasus eklamsia, pasien meninggal mendadak bersamaan dengan kejang atau segera sesudahnya akibat perdarahan otak yang luas (Leveno, dkk. 2009).
d. Infeksi Puerperalis
dengan suhu 380 C atau lebih, yang terjadi selama 2 hari berturut-turut (Sastrawinata, dkk., 2005). Kenaikan suhu ini terjadi sesudah 24 jam pasca persalinan dalam 10 hari pertama masa nifas.
Infeksi pueperalis dapat disebabkan oleh teknik steril yang buruk, persalinan dengan manipulasi yang signifikan, kelahiran sesar, atau pertumbuhan flora lokal yang berlebihan (Stright, 2005). Mikroorganisme penyebab infeksi puerperalis dapat berasal dari luar atau dari jalan lahir sendiri. Mikroorganisme yang tersering menjadi penyebab ialah golongan streptokokus, basil koli, dan stafilokukos (Sastrawinata, dkk., 2005).
e. Depresi Postpartum
Depresi postpartum adalah depresi berat yang biasanya mulai 1-2, dan 4 minggu setelah melahirkan dan berisiko terjadi episode berulang pada persalinan selanjutnya (Tomb, 2004). Remaja dan wanita dengan riwayat penyakit depresif memiliki risiko depresi pospartum sekitar 30% (Leveno, dkk. 2009).
f. Postpartum Blues
g. Psikosis Postpartum
Psikosis postpartum adalah kondisi psikiatrik yang serius (berbeda dengan keadaan depresi ringan, sepintas dan lazim terjadi) yang timbul pertama kali dalam masa nifas (Farrer, 2001). Biasanya psikosis terjadi sebelum hari ke-14 masa nifas, tetapi dapat pula timbul kemudian. Tanda terjadinya psikosis adalah insomnia (hampir selalu) selama dua hari atau lebih, banyak bicara dan dapat bermanifestasi dalam bentuk perilaku yang agresif, halusinasi, dan kecurigaan. Ibu yang menderita psikosis dapat menolak bayinya atau sebagai kemungkinan lainnya bersikap sangat posesif terhadap bayinya.
2.1.5 Pelayanan Nifas
Pelayanan nifas adalah pelayanan/ praktek perawatan pencegahan dan penilaian rutin untuk mengidentifikasi dan menangani atau merujuk komplikasi pada ibu dan bayi (Warren, dkk., 2006) guna memelihara dan meningkatkan kesehatan ibu dan bayinya (WHO, 2010). Pelayanan kesehatan ibu nifas adalah pelayanan kesehatan sesuai standar pada ibu mulai 6 jam sampai 42 hari pasca persalinan oleh tenaga kesehatan (Kemenkes RI, 2010).
Tujuan umum dari pelayanan atau perawatan nifas, yaitu (Bahiyatun, 2008):
a) Menyediakan makanan sesuai kebutuhan b) Mengatasi anemia
c) Mencegah infeksi dengan memperhatikan kebersihan dan sterilisasi
d) Mengembalikan kesehatan umum dengan pergerakan otot untuk memperlancar peredaran darah
2) Mempertahankan psikologis 3) Mencegah infeksi dan komplikasi
4) Memperlancar pembentukan air susu ibu (ASI)
5) Mengajarkan ibu untuk melaksanakan perawatan mandiri sampai masa nifas selesai dan memelihara bayi dengan baik, sehingga bayi dapat mengalami pertumbuhan dan perkembangan normal.
a. Tatalaksana Pelayanan Nifas
Pelayanan ibu nifas dilaksanakan minimal 3 kali, masing-masing 1 kali, yaitu (Kemenkes RI, 2010):
1) Kunjungan nifas pertama pada masa 6 jam s/d 3 hari setelah persalinan.
2) Kunjungan nifas kedua pada hari ke-4 s/d hari ke-28 setelah persalinan.
3) Kunjungan nifas ketiga pada hari ke-29 s/d hari ke-42 setelah persalinan.
1) Pemeriksaan tekanan darah, nadi, respirasi dan suhu. 2) Pemeriksaan tinggi fundus uteri (involusi uterus).
3) Pemeriksaan lokhia dan pengeluaran per vaginam lainnya. 4) Pemeriksaan payudara dan anjuran ASI eksklusif 6 bulan. 5) Pemberian kapsul vitamin A 200.000 IU sebanyak dua kali,
pertama segera setelah melahirkan, kedua diberikan setelah 24 jam pemberian kapsul vitamin A pertama.
6) Pelayanan KB pasca salin, yaitu pelayanan yang diberikan kepada ibu yang mulai menggunakan alat kontrasepsi langsung sesudah melahirkan (sampai dengan 42 hari sesudah melahirkan).
b. Pelayanan Nifas dalam Jaminan Persalinan (Jampersal)
Dalam rangka menurunkan angka kematian ibu dan anak dan mempercepat pencapaian MDG‟s, pemerintah telah menetapkan
kebijakan bahwa setiap ibu yang melahirkan, biaya persalinannya ditanggung oleh pemerintah melalui program Jaminan Persalinan (Jampersal). Pelayanan nifas adalah salah satu program yang biayanya ditanggung dalam program Jampersal. Pelayanan nifas diintegrasikan antara pelayanan ibu nifas, bayi baru lahir dan pelayanan KB pasca salin.
Pelayanan ibu nifas dan bayi baru lahir dilaksanakan 4 kali, masing-masing 1 kali pada (Permenkes RI No. 2562 tahun 2011):
1) Kunjungan pertama untuk Kf 1 dan KN 1 (6 jam s/d hari ke-2) 2) Kunjungan kedua untuk KN 2 (hari ke-3 s/d hari ke-7)
3) Kunjungan ketiga untuk Kf 2 dan KN 3 (hari 8 s/d hari ke-28)
Rp. 10.000 untuk setiap kunjungan atau Rp. 30.000 untuk 3 kali kunjungan. (Kemenkes RI, 2011)
Pelayanan ibu nifas yang diberikan dalam program Jampersal, yaitu (Kemenkes RI, 2011):
1) Pengukuran tekanan darah. 2) Pemeriksaan nifas.
3) Pemberian kapsul vitamin A pada ibu. 4) Pemeriksaan dan perawatan bayi baru lahir.
5) Pelayanan KB sesudah melahirkan pada masa nifas.
6) Nasihat kebutuhan gizi, KB, pemberian ASI eksklusif dan perawatan bayi baru lahir.
7) Jika ada penyulit/komplikasi, akan dirujuk untuk mendapatkan pemeriksaan dan pelayanan lebih lanjut.
2.2 Determinan Epidemiologi
suatu masalah sehingga dapat dilakukan tindakan upaya pencegahan dan perencanaan penanggulangannya.
Jangkauan epidemiologi terus berkembang sesuai dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat. Pada awalnya epidemiologi mempelajari penyakit wabah. Kemudian berkembang mempelajari penyakit infeksi non-wabah, penyakit non-infeksi hingga akhirnya mempelajari hal-hal yang bukan penyakit, seperti fertilitas, menopause, kecelakaan, kenakalan remaja dan penyalahgunaan obat (Budiarto dan Anggraeni, 2003). Masriadi (2012) pun menyebutkan bahwa epidemiologi juga mempelajari perilaku, penyediaan dan penggunaan pelayanan kesehatan.
Konsep „determinan‟ digunakan dalam arti luas sebagai faktor yang
berhubungan dengan outcome/hasil (Broeck dan Brestoff, 2013). Determinan adalah tentang mengapa dan bagaimana penyebab suatu faktor-faktor lain yang memengaruhi terjadinya peristiwa yang berhubungan dengan kesehatan (Gregg, 2008). Para epidemiolog menganggap bahwa penyakit tidak terjadi secara acak, tetapi hanya terjadi ketika adanya kombinasi atau akumulasi yang tepat dari faktor risiko atau determinan. Oleh karena itu, guna mencari determinan tersebut, para epidemiolog menggunakan epidemiologi analitik untuk menentukan status keduanya.
(risiko) terjadinya penyakit. Suatu faktor bisa disebut sebagai faktor risiko jika faktor tersebut berhubungan dengan terjadinya penyakit, meskipun hubungan itu tidak harus bersifat kausal (sebab-akibat). Determinan dapat berupa faktor fisik, biologis, sosial, kultural, maupun perilaku yang dapat memengaruhi terjadinya penyakit.
2.3 Daerah Rural
Definisi dari rural atau pedesaan bermacam-macam, tergantung dari siapa yang mendefinisikannya dan apa tujuan dari dari pendefinisian tersebut. Badan Pusat Statistik (BPS) mendefinisikan daerah rural sebagai suatu wilayah administratif setingkat desa/kelurahan yang belum memenuhi kriteria klasifikasi wilayah perkotaan, yaitu persyaratan tertentu dalam hal kepadatan penduduk, persentase rumah tangga pertanian, dan sejumlah fasilitas perkotaan, sarana pendidikan formal, sarana kesehatan umum, dan sebagainya (Peraturan BPS Nomor 3 Tahun 2010). Adapun fasilitas perkotaan yang dimaksud, yaitu sekolah Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Umum (SMU), pasar, pertokoan, bioskop, rumah sakit, hotel/bilyar/diskotek/panti pijat/salon, persentase rumah tangga yang menggunakan telepon dan persentase rumah tangga yang menggunakan listrik.
Tabel 2.1
Variabel, Klasifikasi, Skor dan Kriteria Desa Urban dan Rural
Variabel Skor
2. Persentase rumah tangga pertanian
70,00 < 1
3. Akses fasilitas umum 0,1,2,….10
a) Sekolah Taman Kanak-Kanak (TK)
Ada atau ≤ 2,5 km 1
> 2,5 km 0
b) Sekolah Menengah Pertama (SMP)
Ada atau ≤ 2,5 km 1
> 2,5 km 0
c) Sekolah Menengah Umum (SMU)
Ada atau ≤ 2 km 0
i) Persentase Rumah Tangga Telepon
≥ 8,00 1
< 8,00 0
j) Persentase Rumah Tangga Listrik
≥ 90,00 1
< 90,00 0
Sumber: Peraturan BPS Nomor 3 Tahun 2010
Berdasarkan hasil perhitungan pada tabel tersebut, jika total skor lebih dari atau sama dengan 10 maka daerah tersebut dikatakan sebagai daerah urban. Sebaliknya, jika total skor kurang dari 10, maka daerah tersebut dikatakan sebagai daerah rural.
Penggolongan daerah atau desa menjadi desa urban atau desa rural dilakukan oleh BPS untuk keperluan statistik dan keperluan lainnya yang berhubungan dengan perencanaan pembangunan, seperti untuk kegiatan sensus penduduk tahun 2010 dan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2012.
Adapun karakteristik yang terdapat di daerah rural sebagi berikut.
2.3.1 Geografi
lebih dari sepertiga dari lalu lintas kendaraan hanya tumbuh seperempat saja. Kesenjangan pertumbuhan infrastruktur trasnportasi ini semakin besar antara daerah urban dan rural. Tingkat infrastruktur transportasi dan jalan di daerah rural Papua-Maluku lebih rendah dibandingkan daerah lainnya, khususnya Sumatera, Jawa dan Sulawesi. Lebih dari 20% jalan di Kalimantan dan Maluku telah rusak. (OECD, 2013)
Kondisi geografis yang sulit di daerah rural menjadi kendala bagi masyrakat di sana untuk memanfaatkan fasilitas pelayanan yang ada, salah satunya adalah fasilitas kesehatan. Data SDKI (2012) menunjukkan bahwa penduduk di daerah rural menghadapi masalah yang lebih besar terhadap jarak ke fasilitas kesehatan dibandingkan penduduk di daerah urban (masing-masing 14% dan 7,3%).
2.3.2 Pendidikan
karena kurangnya kejelasan pembagian tugas dan tanggung jawab antar tingkat pemerintahan (pusat, provinsi dan kabupaten/kota) menjadi salah satu penyebab manajemen tata kelola pendidikan yang belum efektif, khususnya dalam hal fungsi dan pendanaan.
2.3.3 Ekonomi
Berdasarkan SDKI (2012), lebih dari setengah penduduk rural (60%) di Indonesia berada dalam kuintil terbawah dan menengah bawah. Sedangkan sepertiga penduduk daerah urban (33%) berada dalam kuintil tertinggi.
Ekonomi di daerah rural dapat berdampak pada perilaku seseorang ketika sakit dalam pencarian pengobatan (Bushy, 2009). Pemerintah telah menyediakan asuransi kesehatan, seperti Jaminan Persalinan (Jampersal) dan Jaminan Kesehatan Masyrakat (Jamkesmas) untuk memudahkan masyarakat dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan.
kemudian diminta untuk membayar biaya persalinan (Titaley, dkk., 2010).
Penelitian di Pandeglang menemukan bahwa wanita yang memiliki pengetahuan yang baik tentang Jampersal lebih tinggi untuk memanfaatkan pelayanan Jampersal (Suparmi, dkk., 2013). Selain itu, sosialisasi kebijakan Jampersal sangat kurang, baik kepada pemerintah daerah kabupaten/kota dan unit-unit pelaksana, maupun kepada masyarakat pengguna (Helmizar, 2014).
Secara nasional, tingkat pengeluaran Jampersal pada tahun 2011 adalah 41,5% di mana pengeluaran tertinggi di wilayah Bali dan Nusa Tenggara (82,86%) dan terendah di wilayah Papua (13,02%) (Dwicaksono dan Setiawan, 2013).
2.3.4 Kesehatan Maternal
Berdasarkan SDKI (2012), sebanyak 63% anak yang lahir dalam 5 tahum sebelum survei dilahirkan di fasilitas kesehatan, yaitu 17% di fasilitas kesehatan pemerintah dan 46% di fasilitas kesehatan swasta. Pemanfaatan pelayanan kesehatan untuk persalinan ditemui jauh lebih tinggi di daerah rural dibandingkan di daerah urban, yaitu masing-masing 47% dan 80%.
Proporsi kelahiran yang dibantu oleh tenaga medis profesional di Indonesia meningkat dari 73% pada SDKI 2007 menjadi 83% pada SDKI 2012. Namun, proporsi penolong persalinan oleh tenaga kesehatan di daerah rural lebih rendah dibandingkan persentase nasional, yaitu sebesar 74,6%. Meskipun kelahiran ditolong oleh dukun bayi sudah bergeser, namun dukun bayi masih berperan penting dalam menolong persalinan, terutama di daerah rural (20%) dan ibu dengan kuintil kekayaan terendah (32%).
Program pemerintah berupa bidan di desa (BDD), yaitu pelatihan dan penyebaran bidan di daerah rural, secara dramatis mengurangi kesenjangan sosial ekonomi terkait penolong persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih (Hatt, dkk., 2007). Namun, di beberapa wilayah di daerah rural dilaporkan bahwa masyarakat sulit menjangkau bidan di desa.
(Makowiecka, dkk., 2007). Jika dibandingkan di daerah urban, kepadatan bidan di desa lebih rendah terjadi di daerah rural dan daerah terpencil. Akibatnya, setiap bidan di desa sebagai penyedia pelayanan kesehatan memiliki beban tugas yang lebih besar karena jangkauan wilayah kerja yang luas. Di sisi lain, kondisi tersebut tidak didukung oleh sarana transportasi yang memadai sehingga menyulitkan bidan di desa untuk menjangkau wanita bersalin atau merujuknya ke rumah sakit jika terjadi komplikasi. Hal ini yang kemudian menjadi penyebab kurang familiarnya bidan di desa di dalam kelompok masyarakat.
Makowiecka, dkk. (2007) juga menemukan bahwa di provinsi Banten, kurang dari 30% bidan di desa tinggal menetap di desa. Mereka lebih tertarik untuk tinggal di daerah urban karena dapat mengembangkan karirnya. Sebagai tambahan penghasilan, mereka membuka klinik sendiri di daerah urban.
atau Dukun Kit. Paraji dianggap sebagai bagian dari keluarga di masyarakat karena peran mereka dalam menjaga kesehatan rumah tangga sehingga tidak hanya membantu saat melahirkan, tetapi juga membantu selama masa kehamilan dan perawatan pasca persalinan.
Penelitian Sudirman dan Sakung (2012) menemukan bahwa 62,5% dukun bayi bermitra dengan bidan, yaitu dengan hadir bersama-sama dalam menolong persalinan. Kemitraan ini sangat positif karena hubungan yang terjalin antar keduanya didasarkan pada saling menguntungkan, saling menghargai kelemahan dan kelebihan, berkomunikasi dan memberi informasi, terutama tentang pasien yang akan melahirkan.
2.4 Perilaku Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan
Perilaku seseorang ketika diserang penyakit dan merasakan sakit bermacam-macam. Perilaku atau respon seseorang ketika sakit menurut Notoatmodjo (2010), yaitu:
a. Tidak bertindak atau tidak melakukan kegiatan apa-apa. b. Tindakan mengobati sendiri.
c. Mencari pengobatan ke fasilitas-fasilitas pengobatan tradisional.
d. Mencari pengobatan ke fasilitas-fasilitas pengobatan modern yang diadakan oleh pemerintah atau lembaga-lembaga kesehatan swasta.
atau tidaknya fasilitas kesehatan yang disediakan (Notoatmodjo, 2010). Perilaku terhadap sistem pelayanan kesehatan merupakan respons individu terhadap sistem pelayanan kesehatan modern dan atau tradisional, meliputi respons terhadap fasilitas pelayanan, cara pelayanan kesehatan, perilaku terhadap petugas, dan respons terhadap pemberian obat-obatan (Maulana, 2009). Respons ini terwujud dalam bentuk pengetahuan, persepsi, sikap, penggunaan fasilitas, sikap terhadap petugas dan obat-obatan.
Andersen (1960-an) menggambarkan model perilaku pemanfaatan pelayanan kesehatan dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu karakteristik predisposisi, sumber daya pendukung dan kebutuhan (Andersen, 1995). Model Andersen ini diilustrasikan pada Bagan 2.1.
Bagan 2.1
Model Perilaku Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan
Berdasarkan bagan tersebut, faktor predisposisi meliputi tiga hal, yaitu demografi, struktur sosial, dan kepercayaan kesehatan. Sedangkan faktor pendukung meliputi dukungan pada keluarga dan komunitas serta faktor kebutuhan meliputi kebutuhan yang dirasakan dan yang dinilai.
Bagan 2.2
Determinan Individu dalam Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan
Bagan 2.2 memperlihatkan determinan individu dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan sebagai salah satu komponen teori perilaku pemanfaatan pelayanan kesehatan yang kembali dipublikasikan oleh Andersen dan Newman pada tahun 1973 (Andersen dan Newman, 2005). Mereka menekankan bahwa pemanfaatan pelayanan kesehatan dipengaruhi oleh tiga hal, yaitu karakteristik sistem pelayanan kesehatan, perubahan teknologi, norma sosial dan perawatan penyakit, dan determinan individu dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan (Andersen dan Newman, 2005). Pada sub-bab ini, penulis hanya membahas determinan individu dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan sebagai acuan kerangka teori penelitian yang dapat dilihat pada Bagan 2.2.
2.4.1 Karakteristik Predisposisi (Andersen, 1995)
Karakteristik predisposisi menggambarkan kecenderungan individu yang berbeda-beda untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan berdasarkan karakteristik yang mereka miliki. Karakteristik predisposisi meliputi faktor demografi, struktur sosial dan sikap atau keyakinan tentang kesehatan.
penyakit pada masa lalu juga menjadi variabel demografi karena tedapat bukti yang menemukan bahwa orang yang mengalami masalah kesehatan di masa lalu adalah yang paling mungkin untuk membuat keputusan dalam perawatan medis di masa depan.
Faktor struktur sosial mencerminkan penentu status seseorang dalam masyarakat, kemampuannya dalam mengatasi masalah yang ada dan keadaan sehat tidaknya lingkungan fisik tempat dia berada. Pendidikan, pekerjaan, dan etnis merupakan contoh faktor struktur sosial yang mungkin berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan.
Selain demografi dan struktur sosial, keyakinan terhadap kesehatan juga menjadi variabel dari predisposisi. Keyakinan terhadap kesehatan adalah sikap, nilai dan pengetahuan seseorang tentang kesehatan dan pelayanan kesehatan yang memengaruhi persepsi kebutuhan dan pemanfaatan pelayanan kesehatan. Keyakinan terhadap kesehatan merupakan suatu hal yang dapat menjelaskan bagaimana struktur sosial dapat memengaruhi sumber daya pendukung, kebutuhan dan selanjutnya memanfaatan pelayanan kesehatan.
a. Pendidikan
Pendidikan didefinisikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara (UU RI No. 12 tahun 2012). Pendidikan formal merupakan jalur pendidikan terstruktur dan berjenjang yang meliputi pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi (UU RI No. 9 tahun 2009).
layanan yang tersedia. Orang-orang yang berpendidikan juga cenderung dapat memproses informasi kesehatan.
Selain itu, penelitian Khanal, dkk. (2014) menemukan bahwa ibu dengan pendidikan tinggi lebih mungkin untuk berkunjung ke pelayanan nifas karena semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin besar kemungkinan memperoleh informasi tentang risiko kesehatan, pentingnya dan manfaat mengakses pelayanan kesehatan. Selain berperannya pendidikan ibu, Ejaz dan Ahmad (2013) juga menemukan bahwa semakin tingginya pendidikan suami maka semakin tinggi pemanfaatan pelayanan nifas. Pendidikan dianggap penting dalam menanamkan kesadaran tentang masalah kesehatan dan peduli untuk mencarai kesehatan yang layak.
b. Pekerjaan
Pekerjaan yang sering disebut sebagai profesi adalah sesuatu yang dilakukan manusia yang dilakukan dengan cara yang baik dan benar dengan tujuan mendapatkan imbalan berbentuk uang untuk memenuhi kebutuhan hidup (Sofianty, dkk., 2007). Alasan bekerja selain untuk mendapatkan uang adalah untuk mengembangkan potensi atau kemampuan diri. Namun, terdapat juga pekerjaan yang dilakukan untuk kepentingan bersama dan tidak menghasilkan uang, seperti seorang ibu rumah tangga yang bekerja untuk mengurus rumah dan mengatur keperluan keluarga (Sofianty, dkk., 2007).
Pada saat ini banyak para ibu yang bekerja di luar rumah karena tuntutan ekonomi dalam keluarga. Menurut Berhe, dkk. (2013), tingkat pekerjaan ibu dan suami berhubungan secara signifikan dengan pemanfaatan pelayanan nifas. Penelitian ini juga menemukan bahwa ibu yang bekerja lebih besar kemungkinannya untuk mengunjungi pelayanan nifas daripada wanita yang tidak bekerja.
jam ibu bekerja dengan jam buka pelayanan nifas. Selain itu juga karena alasan pendapatan yang dihasilkan dari bertani.
Meski demikian, terdapat juga banyak penelitian yang tidak menemukan adanya hubungan antara pekerjaan dengan kunjungan ibu ke pelayanan nifas, seperti penelitian Fitria dan Puspitasari (2011), Ugboaja, dkk. (2013), Ejaz, dkk. (2013), dan Nugraha (2013).
c. Pengetahuan
Pengetahuan (knowledge) adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan sebagainya). Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai intensitas atau tingkat yang berbeda-beda yang dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek. (Notoajmodo, 2010)
melahirkan adalah kurangnya pengetahuan tentang perawatan yang dibutuhkan pasca melahirkan.
Penelitian eksperimental yang dilakukan Syed, dkk (2006) di Bangladesh menemukan bahwa adanya peningkatan pemanfaatan pelayanan nifas secara signifikan sebesar 37,5% dari 24,2% pada tahun 2002 menjadi 61,7% pada tahun 2004 setelah diberikannya intervensi tentang pengetahuan. Pengetahuan ibu tentang setidaknya dua tanda bahaya pada periode postpartum meningkat sebesar 17% dari 47,1% di tahun 2002 menjadi 64% di tahun 2004.
Pengetahuan tentang fasilitas kesehatan ibu lebih tinggi di antara orang-orang yang mendapatkan pendidikan formal (Yar‟zever dan Said, 2013). Pengetahuan yang didapat dari
pendidikan memberikan kemudahan bagi individu dalam mengakses informasi dan memanfaatkan pelayanan untuk meningkatkan kesehatan diri sendiri dan keluarganya (Higgins, Lavin dan Metcalfe, 2008; Paudel, dkk., 2013).
wanita memiliki pengetahuan yang tinggi tentang perawatan/ pelayanan nifas, mereka tidak benar-benar mengerti secara mendalam tentang pelayanan nifas. Hanya beberapa dari mereka yang berpengetahuan yang memanfaatkan pelayanan nifas.
Perilaku masyarakat yang erat kaitannya dengan upaya peningkatan pengetahuan masyarakat dapat terbentuk melalui kegiatan yang disebut pendidikan kesehatan (Maulana, 2009). Pendidikan kesehatan adalah proses yang direncanakan dengan sadar untuk menciptakan peluang bagi individu-individu untuk senantiasa belajar memperbaiki kesadaran serta meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya demi kepentingan kesehatannya (Nursalam dan Efendi, 2008). Pendidikan kesehatan dapat diberikan dalam bentuk memberikan informasi dan mendidikan masyarakat tentang cara hidup yang sehat (Chandra, 2009).
d. Urutan Kelahiran
pelayanan nifas terjadi pada kelahiran anak pertama (37,4%) dan kedua aatu ketiga (32,8%).
Ibu dengan pengalaman persalinan pertama lebih besar kemungkinannya untuk memanfaatkan pelayanan nifas dibandingkan ibu dengan jumlah persalinan yang banyak (Adamu, 2011). Jumlah anak yang banyak biasanya berhubungan dengan peningkatan tanggung jawab secara fisik dan materi sehingga ibu memiliki waktu dan sumber keuangan yang sedikit untuk merawat diri sendiri.
Singh, dkk. (2012) juga menemukan bahwa remaja wanita yang melahirkan anak keempat atau lebih maka lebih kecil kemungkinannya untuk memanfaatkan pelayanan nifas daripada ibu yang melahirkan anak pertama, kedua atau ketiga. Hal ini bisa jadi karena wanita dengan anak pertama lebih berhati-hati tentang kehamilan dan cenderung memiliki kesulitan selama persalinan. Pengalaman dan pengetahuan ibu yang pernah melahirkan sebelumnya juga dapat menjadi alasan rendahnya pemanfaatan pelayanan nifas pada ibu yang memiliki anak dengan urutan kelahiran tinggi. Hal tersebut memengaruhi persepsi dan keyakinan tentang kesehatan diri sendiri.
terdapat hubungan yang bermakna antara urutan kelahiran dengan pemanfaatan pelayanan nifas. Bahkan pemanfaatan pelayanan nifas lebih tinggi terjadi pada ibu yang melahirkan anak kedua dan ke empat dibandingkan anak pertama dan ketiga. Fort, dkk (2006) juga menemukan bahwa di negara berkembang, termasuk Indonesia, ibu yang melahirkan anak pertama lebih banyak yang mendapatkan pelayanan nifas dibandingkan melahirkan anak yang kedua atau lebih. Namun, jika melahirkan di non-fasilitas kesehatan, pemfantaan pelayanan nifas lebih tinggi terjadi pada ibu yang melahirkan anak kelima atau lebih dibandingkan anak dengan urutan kelahiran kecil.
e. Kunjungan Pelayanan Antenatal (ANC)
Pelayanan antenatal adalah pelayanan kesehatan yang diberikan oleh tenaga kesehatan untuk ibu selama masa kehamilannya, dilaksanakan sesuai dengan standar pelayanan antenatal yang ditetapkan dalam Standar Pelayanan Kebidanan (SPK) (Kemenkes RI, 2010). Frekuensi pelayanan antenatal adalah minimal 4 kali selama masa kelaminan, yaitu minimal 1 kali pada triwulan pertama, minimal 1 kali pada triwulan kedua dan minimal 2 kali pada triwulan ketiga.
nifas pasca persalinan. Hal tersebut ditunjukkan dari penelitian Chimankar dan Sahoo (2011) yang menemukan bahwa pemanfaatan pelayanan antenatal memiliki dampak positif pada pemanfaatan pelayanan nifas. Kunjungan ke pelayanan antenatal meningkatkan kemungkinan bagi wanita untuk memanfaatkan pelayanan nifas (Ugboaja, dkk., 2013).
Paudel, dkk. (2013) juga menemukan bahwa ibu yang berkunjung ke pelayanan antenatal sebanyak 4 kali atau lebih atau sebanyak 1 sampai 3 kali, lebih besar kemungkinannya untuk memanfaatkan pelayanan nifas daripada ibu yang tidak datang ke pelayanan antenatal. Hasil ini sejalan dengan penelitian Khanal, dkk., (2014) yang juga menemukan bahwa ibu yang berkunjung sebanyak 4 kali atau lebih ke pelayanan antenatal lebih besar kemungkinannya untuk berkunjung ke pelayanan nifas setelah bersalin daripada ibu yang tidak berkunjung ke pelayanan antenatal.
tersebut, ibu hamil memperoleh informasi tentang pemanfaatan pelayanan nifas. Oleh sebab itu, ibu hamil mungkin beranggapan bahwa pelayanan nifas penting dan telah tersedia di sana. (Paudel, dkk., 2013)
Meski demikian, beberapa penelitian menemukan bahwa tidak terdapat hubungan antara kunjungan ANC dengan pemanfaatan pelayanan nifas. Dhaher, dkk. (2008) dan Berhe, dkk. (2013) juga menemukan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara kunjungan ke pelayanan antenatal dengan kunjungan ke pelayanan nifas. Meskipun tidak ada hubungan, Berhe, dkk. (2013) berkeyakinan bahwa penting untuk mendidik para ibu hamil tentang pelayanan nifas untuk meningkatkan kesadaran mereka ketika berkunjung ke pelayanan antenatal.
Titaley, dkk (2010) juga menjelaskan bahwa di sana, finansial adalah alasan utama mereka tidak berkunjung ke ANC. Hal ini berhubungan dengan biaya fasilitas kesehatan, biaya transportasi maupun keduanya. Penelitian Titaley, dkk., (2010) sebelumnya juga telah menemukan bahwa rendahnya pemanfaatan pelayanan antenatal (ANC) di Indonesia berhubungan secara signifikan dengan kuintil kekayaan yang rendah.
Kunjungan ANC yang tidak dilakukan oleh wanita selama hamil juga dapat dipengaruhi oleh kepercayaan yang menjadi budaya di lingkungannya. Wanita di daerah rural Jawa Barat beranggapan bahwa kehamilan adalah peristiwa yang normal sehingga tidak butuh perawatan kecuali jika terjadi komplikasi (Agus, dkk., 2012). Hal serupa juga terjadi di derah rural Bangladesh bahwa wanita umumnya menganggap kehamilan sebagai peristiwa normal kecuali jika muncul komplikasi sehingga sebagian dari mereka tidak berkunjung ke ANC dan tidak ada persiapan sebelumnya untuk menghadapi persalinan (Choudhury dan Ahmed, 2011).
2.4.2 Sumber Daya Pendukung (Andersen, 1995)
Setiap orang memiliki kecenderungan masing-masing dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan sesuai dengan karakteristik predisposisinya. Namun, untuk bisa memanfaatkan pelayanan kesehatan tersebut, mereka harus memiliki berbagai sumber daya pendukung. Sumber daya pendukung didefinisikan sebagai suatu kondisi yang memungkinkan seseorang atau keluarga untuk memenuhi kebutuhan pemanfaatan pelayanan kesehatan. Sumber daya pendukung meliputi sumber daya individu/keluarga dan sumber daya komunitas. Pendapatan, asuransi kesehatan, sumber rutin perawatan, aksesibilitas merupakan contoh sumber daya pendukung.
Ketersediaan fasilitas ke pelayanan kesehatan merupakan contoh sumber daya pendukung komunitas. Jika jumlah fasilitas dan tenaga kesehatan dalam komunitas cukup banyak dan dapat digunakan tanpa antri, maka kemungkinan penduduk disana akan lebih sering memanfaatkannya.
Selain itu, wilayah negara, sifat daerah urban-rural dari masyarakat di mana keluarga tinggal juga menjadi sumber daya pendukung komunitas. Hal-hal tersebut kemungkinan terkait dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan karena adanya norma-norma lokal atau masyarakat yang memengaruhi perilaku hidup dalam masyarakat.
a. Kuintil Kekayaan
Status atau kuintil kekayaan diyakini berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan nifas. Ibu dengan status keluarga kaya lebih besar kemungkinannya untuk memanfaatkan pelayanan nifas (Khanal, dkk., 2014). Hal ini karena adanya sumber dana yang mereka miliki untuk memperoleh layanan berikutnya pasca persalinan, seperti pelayanan nifas.
Temuan tersebut juga sama dengan hasil penelitian Nugraha (2013) bahwa ibu yang mempunyai tingkat ekonomi menengah-tinggi lebih besar kemungkinannya untuk memanfaatkan pelayanan nifas dibandingkan ibu yang rendah tingkat ekonominya. Fort, dkk (2006) juga menemukan bahwa ibu dengan kuintil kekayaan tinggi di negara Bangladesh, Cambodia, Ethiopia, Haiti, Indonesia, Mali, Rwanda, dan Uganda, lebih tinggi pemanfaatan nifasnya dibandingkan ibu dengan kuintil kekayaan yang lebih rendah.
biaya berobatnya saja, tetapi juga untuk biaya transportasi ke fasilitas kesehatan (Hoeven, dkk., 2012).
Tingkat kesadaran seseorang pada kuintil kekayaan tertentu dapat memepengaruhi pemanfaatan pelayanan nifas. Penelitian Choundhury dan Ahmed (2011) bahwa alasan wanita dengan tingkat ekonomi sangat miskin di Bangladesh tidak pergi ke fasilitas kesehatan ketika merasa sakit pasca persalinan adalah karena tidak menyadari tentang adanya pemeriksaan kesehatan nifas. Badan yang lemas dan demam dianggap sebagai hal yang umum terjadi pada masa nifas. Khanal, dkk. (2014) juga menjelaskan bahwa wanita dengan tingkat sosial ekonomi yang tinggi lebih menyadari manfaat dari mendapatkan pelayanan nifas melalui berbagai media, seperti televisi, surat kabar dan teman-temannya dibandingkan wanita dengan tingakat sosial ekonomi rendah.
sektor publik belum memadai untuk membuat layanan kesehatan gratis, khususnya bagi masyarakat miskin. Hal ini juga terlihat dari lebih banyaknya wanita yang bersalin di fasilitas kesehatan swasta dibandingkan fasilitas kesehatan pemerintah.
b. Tempat Persalinan
Fasilitas kesehatan di Indonesia lebih banyak yang merupakan milik swasta dibandingkan milik pemerintah. Penelitian di 15 kabupaten/kota di pulau Jawa ditemukan bahwa 90% fasilitas kesehatan yang ada adalah milik swasta (Heywood dan Harahap, 2009). Sebanyak 95% dari fasilitas kesehatan swasta tersebut merupakan milik pribadi atau perorangan (dokter praktek, dokter paruh waktu, perawat paruh waktu, bidan di desa, dan bidan praktek).