BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Daerah Rural
2.4.2 Sumber Daya Pendukung
Setiap orang memiliki kecenderungan masing-masing dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan sesuai dengan karakteristik predisposisinya. Namun, untuk bisa memanfaatkan pelayanan kesehatan tersebut, mereka harus memiliki berbagai sumber daya pendukung. Sumber daya pendukung didefinisikan sebagai suatu kondisi yang memungkinkan seseorang atau keluarga untuk memenuhi kebutuhan pemanfaatan pelayanan kesehatan. Sumber daya pendukung meliputi sumber daya individu/keluarga dan sumber daya komunitas. Pendapatan, asuransi kesehatan, sumber rutin perawatan, aksesibilitas merupakan contoh sumber daya pendukung.
Ketersediaan fasilitas ke pelayanan kesehatan merupakan contoh sumber daya pendukung komunitas. Jika jumlah fasilitas dan tenaga kesehatan dalam komunitas cukup banyak dan dapat digunakan tanpa antri, maka kemungkinan penduduk disana akan lebih sering memanfaatkannya.
Selain itu, wilayah negara, sifat daerah urban-rural dari masyarakat di mana keluarga tinggal juga menjadi sumber daya pendukung komunitas. Hal-hal tersebut kemungkinan terkait dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan karena adanya norma-norma lokal atau masyarakat yang memengaruhi perilaku hidup dalam masyarakat.
Adapun sumber daya pendukung yang memengaruhi ibu dalam pemanfaatan pelayanan nifas adalah sebagai berikut.
a. Kuintil Kekayaan
Status atau kuintil kekayaan diyakini berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan nifas. Ibu dengan status keluarga kaya lebih besar kemungkinannya untuk memanfaatkan pelayanan nifas (Khanal, dkk., 2014). Hal ini karena adanya sumber dana yang mereka miliki untuk memperoleh layanan berikutnya pasca persalinan, seperti pelayanan nifas.
Temuan tersebut juga sama dengan hasil penelitian Nugraha (2013) bahwa ibu yang mempunyai tingkat ekonomi menengah-tinggi lebih besar kemungkinannya untuk memanfaatkan pelayanan nifas dibandingkan ibu yang rendah tingkat ekonominya. Fort, dkk (2006) juga menemukan bahwa ibu dengan kuintil kekayaan tinggi di negara Bangladesh, Cambodia, Ethiopia, Haiti, Indonesia, Mali, Rwanda, dan Uganda, lebih tinggi pemanfaatan nifasnya dibandingkan ibu dengan kuintil kekayaan yang lebih rendah.
Selain itu, penelitian di Sukabumi dan Ciamis bahwa finansial menjadi masalah utama wanita di sana untuk memanfaatkan pelayanan nifas terkait biaya pelayanan kesehatan, biaya transportasi atau keduanya (Titaley, dkk., 2010). Masyarakat rural di Provinsi Nort West, Afrika Selatan juga memiliki masalah yang sama bahwa meskipun mereka menyadari mencari pelayanan kesehatan adalah suatu kebutuhan ketika sakit, namun mereka terkendala dengan minimnya dana yang dimiliki, tidak hanya untuk
biaya berobatnya saja, tetapi juga untuk biaya transportasi ke fasilitas kesehatan (Hoeven, dkk., 2012).
Tingkat kesadaran seseorang pada kuintil kekayaan tertentu dapat memepengaruhi pemanfaatan pelayanan nifas. Penelitian Choundhury dan Ahmed (2011) bahwa alasan wanita dengan tingkat ekonomi sangat miskin di Bangladesh tidak pergi ke fasilitas kesehatan ketika merasa sakit pasca persalinan adalah karena tidak menyadari tentang adanya pemeriksaan kesehatan nifas. Badan yang lemas dan demam dianggap sebagai hal yang umum terjadi pada masa nifas. Khanal, dkk. (2014) juga menjelaskan bahwa wanita dengan tingkat sosial ekonomi yang tinggi lebih menyadari manfaat dari mendapatkan pelayanan nifas melalui berbagai media, seperti televisi, surat kabar dan teman-temannya dibandingkan wanita dengan tingakat sosial ekonomi rendah.
Pendapatan yang rendah merupakan hambatan terhadap pemanfaatan pelayanan kesehatan modern di Indonesia, meskipun pelayanan tersebut disediakan oleh pemerintah (Chernichovsky dan Meesook, 1986). Pemanfaatan pelayanan kesehatan membutuhkan biaya yang tidak sedikit, yaitu biaya pelayanan dan biaya lainnya, termasuk obat-obatan, transportasi, makanan dan minuman dan biaya lainnya selama kunjungan perawatan kesehatan (Utomo, dkk., 2011). Biaya subsidi kesehatan oleh pemerintah melalui
sektor publik belum memadai untuk membuat layanan kesehatan gratis, khususnya bagi masyarakat miskin. Hal ini juga terlihat dari lebih banyaknya wanita yang bersalin di fasilitas kesehatan swasta dibandingkan fasilitas kesehatan pemerintah.
b. Tempat Persalinan
Fasilitas kesehatan di Indonesia lebih banyak yang merupakan milik swasta dibandingkan milik pemerintah. Penelitian di 15 kabupaten/kota di pulau Jawa ditemukan bahwa 90% fasilitas kesehatan yang ada adalah milik swasta (Heywood dan Harahap, 2009). Sebanyak 95% dari fasilitas kesehatan swasta tersebut merupakan milik pribadi atau perorangan (dokter praktek, dokter paruh waktu, perawat paruh waktu, bidan di desa, dan bidan praktek).
Unicef (2012) melaporkan bahwa proporsi persalinan di fasilitas kesehatan di Indonesia masih rendah, yaitu sebesar 55% dan adanya kesenjangan yang besar di mana persalinan di fasilitas kesehatan sebesar 113% di daerah urban lebih tinggi daripada di daerah rural. Selain itu, lebih dari setengah perempuan di 20 provinsi tidak mampu atau tidak mau menggunakan jenis fasilitas kesehatan apapun, sebagai penggantinya mereka melahirkan di rumah mereka sendiri. Selain itu, penelitian Utomo, dkk. (2011)
juga menemukan bahwa di Indonesia, setengah dari penolong persalinan oleh tenaga kesehatan dilakukan di rumah responden.
Tempat persalinan diyakini berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan nifas. Ini ditunjukkan dengan beberapa penelitian yang menemukan bahwa pemanfaatan pelayanan nifas lebih tinggi terjadi pada wanita yang melahirkan di fasilitas kesehatan dibandingkan melahirkan di rumah (Ejaz, dkk., 2013; Oluwaseyi, 2013; Paudel, dkk., 2013; Kim, dkk., 2013, Khanal, dkk., 2014, Yamashita, dkk., 2014).
Rata-rata dari 30 negara yang diteliti, hanya 28% wanita dengan tempat persalinan di luar fasilitas kesehatan yang menerima perawatan postpartum (Paudel, dkk., 2013). Paudel, dkk. (2013) juga menjelaskan bahwa ketika seorang wanita melahirkan di fasilitas kesehatan, maka dia juga akan diperiksa kondisi kesehatannya dalam beberapa jam setelah melahirkan oleh petugas kesehatan sebagai salah satu rangkaian dari pelayanan persalinan. Di Indonesia, salah satu standar pelayanan di fasilitas kesehatan dasar oleh tenaga kesehatan adalah memeriksa kesehatan ibu secara rutin selama 2 jam pertama pasca persalinan (Kemenkes, 2013).
Lebih jauh lagi, jika dibandingkan dengan jenis fasilitas kesehatannya, wanita yang melahirkan di rumah sakit swasta secara signifikan dilaporkan lebih besar kemungkinannya mendapatkan pelayanan nifas daripada wanita yang melahirkan di rumah sakit
umum (Dhaher, dkk., 2008). Pemanfaatan pelayanan nifas yang lebih tinggi pada wanita yang pernah melahirkan di rumah sakit swasta mungkin karena fakta bahwa rumah sakit swasta memiliki lebih banyak sumber daya dan karena itu lebih mungkin untuk memberikan perawatan secara individu kepada pasien. Mereka juga menemukan bahwa wanita yang melahirkan di rumah sakit swasta secara signifikan lebih mungkin untuk menerima informasi tentang tanda-tanda bahaya untuk kesehatan ibu dan bayi daripada wanita yang melahirkan di rumah sakit umum.
Pemanfaatan fasilitas kesehatan sebagai tempat persalinan disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor persepsi seesorang dapat memengaruhi tempat persalinan. Titaley, dkk. (2012) menemukan adanya persepsi pada penduduk di Jawa Barat bahwa persalinan adalah fenomena yang alami terjadi pada perempuan sehingga mereka lebih memilih bersalin di rumah, kecuali jika terjadi komplikasi maka persalinan dilakukan di fasilitas kesehatan.
Selain itu, pendidikan dan urutan kelahiran juga diketahui berhubungan dengan pemanfaatan fasilitas kesehatan sebagai tempat persalinan. Penelitian pada wanita di Ethiopia ditemukan bahwa terdapat hubungan antara pendidikan dengan pemanfaatan pelayan fasilitas sebagai tempat bersalin (Ethiopian Society of Population Studies, 2008). Rendahnya persalinan di fasilitas kesehatan pada ibu dengan urutan kelahiran banyak juga ditemukan
memiliki hubungan signifikan pada wanita di Ethiopia (Mehari, 2013).
c. Penolong Persalinan
Saat proses persalinan, sebaiknya ibu ditolong oleh penolong persalinan utama. Penolong persalinan utama, misalnya dokter, obsetri, dokter anak, dokter keluarga, perawat praktisi, atau perawat bidan bersertifikasi (Stright, 2005). Persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih dapat menekan AKI menjadi sebesar 33% (Romans, dkk., 2009).
Beberapa penelitian menemukan bahwa penolong persalinan berhubungan secara signifikan dengan pemanfaatan pelayanan nifas (Nugraha, 2013; Kim, dkk., 2013; Khanal, dkk., 2014) . Ibu bersalin yang ditolong oleh tenaga yang terlatih lebih besar kemungkinannya untuk memanfaatkan pelayanan nifas daripada ibu bersalin yang ditolong oleh tenaga yang tidak terlatih (Kim, dkk., 2013).
Paudel, dkk (2013) berpendapat bahwa penolong persalinan berkaitan dengan tempat persalinan. Ketika ibu melahirkan di fasilitas kesehatan, maka dipastikan tenaga kesehatan tersedia. Sehingga, sebagai bagian dari perawatan persalinan, tenaga kesehatan juga akan menilai situasi ibu dalam beberapa jam setelah melahirkan.
Salah satu tugas seorang bidan adalah melakukan pemantauan pada ibu dan bayi terhadap terjadinya komplikasi dalam 2 jam setelah persalinan serta melakukan tindakan yang diperlukan (Syarifudin dan Hamidah, 2009). Bidan juga bertugas memberikan pelayanan selama masa nifas melalui kunjungan rumah pada minggu ke-2 dan minggu ke-6 setelah persalinan.
Penolong persalinan oleh tenaga kesehatan disebabkan oleh beberapa faktor. Rahman (2009) menemukan bahwa penolong persalinan berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan antenatal. Chimankar dan Sahoo (2011) juga menemukan bahwa status ekonomi yang tinggi secara signifikan meningkatkan persentase persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih.
Penelitian Titaley, dkk. (2010) menemukan bahwa alasan wanita bersalin di Jawa Barat ditolong oleh dukun bayi/paraji meskipun telah tersedia tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan adalah karena terkendala jarak yang jauh dan terbatasnya finansial yang dimiliki. Sejumlah responden menjelaskan bahwa persalinan ditolong oleh tenaga keeshatan hanya untuk wanita yang mengalami komplikasi kehamilan. Selain itu, terdapat keterbatasan penyedia pelayanan kesehatan di daerah terpencil. Di sisi lain, bidan desa yang terkadang menjadi satu-satunya penyedia layanan kesehatan, sering melakukan perjalanan keluar desa.
Titaley, dkk. (2010) juga menyebutkan bahwa menurut masyarakat di Jawa Barat, dukun bayi/paraji lebih sabar dan perhatian dibandingkan bidan di desa yang merupakan tenaga kesehatan terlatih. Dukun bayi/paraji senantiasa menemani wanita hamil yang mendekati waktu persalinan. Sedangkan bidan di desa akan langsung pergi seteleh melakukan pemeriksaan jika dirasa belum waktunya persalinan dilakukan.
d. Akses ke Fasilitas Kesehatan
Akses dan ketersediaan pelayananan kesehatan menjadi salah satu pertimbangan bagi seseorang untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan, termasuk pelayanan nifas. Aksesibilitas atau jarak ke pelayanan kesehatan secara signifikan berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan nifas (Oluwaseyi, 2013; Eliakimu, 2010). Hal ini terjadi karena adanya faktor jumlah pelayanan kesehatan yang tersedia dan lokasi geografisnya, serta akses jalan menuju ke sana (Eliakimu, 2010).
Ketika lokasi fasilitas kesehatan berada jauh dari masyarakat, maka akses terhadap fasilitas tersebut menjadi suatu masalah (Ugboaja, dkk., 2013). Oleh sebab itu, pemanfaatan pelayanan kesehatan lebih tinggi ketika jarak bukan menjadi masalah yang berarti (Kim, dkk., 2013). Permasalahan aksesibilitas ke fasilitas
kesehatan di Indonesia juga telah dilaporkan pada penelitian
sebelumnya (D‟Ambruoso, dkk., 2008).
Penelitian Islam dan Odland (2011) menemukan bahwa 56,4% wanita tidak datang ke pelayanan nifas karena lokasi pelayanan kesehatan yang terlalu jauh dari tempat tinggal mereka. Sedangkan hasil penelitian Kim, dkk. (2013) menemukan bahwa 36% wanita menyatakan bahwa jarak ke fasilitas kesehatan menjadi kendala terbesar bagi mereka untuk memanfaatkan pelayanan nifas. Wanita yang bertempat tinggal kurang dari 8 km dari pusat pelayanan kesehatan menerima pelayanan nifas lebih tinggi daripada mereka yang berada lebih jauh dari pusat pelayanan kesehatan (Islam dan Odland, 2011). Jangkauan pelayanan kesehatan yang mudah memungkinakan pemanfaatan pelayanan nifas sebesar 7,388 kali lebih tinggi daripada jangkauan pelayanan kesehatan yang sulit (Fitria dan Puspitasari, 2011).
Titaley, dkk. (2010) menemukan bahwa di Jawa Barat, masalah jarak fasilitas kesehatan yang jauh, kondisi jalan yang buruk, terbatasnya waktu untuk pergi, dan terbatasnya fasilitas kesehatan yang tersedia, khususnya di daerah terpencil, menjadi kendala bagi wanita hamil untuk mendapatkan pelayanan antenatal, persalinan di fasilitas kesehatan hingga pemanfaatan pelayanan nifas. Jarak ke pelayanan kesehatan terdekat dengan kondisi jalan
yang buruk menyebabkan mereka harus berjalan selama 2 jam. Situasi menjadi lebih buruk selama musim hujan ketika jalan licin.
Selain jarak ke pelayanan kesehatan, Kim, dkk (2013) juga menemukan bahwa hampir 7 dari 10 wanita (65%) beralasan bahwa biaya yang dibutuhkan untuk pengobatan menjadi penghalang terbesar bagi mereka untuk mendapatkan pelayanan medis. Hasil temuan tersebut juga sama dengan Islam dan Odland (2011) bahwa alasan mahalnya biaya yang dibutuhkan untuk perawatan menjadi penyebab mereka tidak mencari pelayanan nifas. Namun, Eliakimu (2010) menemukan bahwa biaya pelayanan kesehatan tidak signifikan berpengaruh terhadap pemanfaatan pelayanan nifas. Hal ini mungkin disebabkan bahwa hanya sebagian kecil wanita yang diminta untuk membayar biaya pelayanan nifas.
e. Daerah Tempat Tinggal
Sejumlah penelitian menyebutkan bahwa terdapat hubungan antara daerah tempat tinggal dengan pemanfaatan pelayanan nifas. Penelitian di Kamboja menunjukkan bahwa pelayanan nifas saat 24 jam pertama setelah persalinan lebih tinggi terjadi di daerah urban dibandingkan di daerah rural (Kim, dkk., 2013). Hal serupa juga ditemukan di Nepal bahwa prevalensi kunjungan pelayanan segera setelah melahirkan lebih tinggi terjadi di daerah urban (Khanal,
dkk., 2014). Hasil penelitian tersebut juga secara signifikan menunjukkan bahwa ibu di daerah urban lebih besar kemungkinannya untuk berkunjung ke pelayanan nifas dalam 42 hari setelah melahirkan. Hal ini terjadi karena di daerah pegunungan dan pedesaan di Nepal kurang memiliki akses ke pelayanan umum, seperti jalan, transportasi, dan pelayanan kesehatan.
Perbedaan di antara daerah urban dan rural ini terlihat lebih kontras di beberapa negara, seperti di Mesir, Haiti, Kenya, Mali, Nepal, Peru, Uganda, dan Zambia; di mana dua kali lebih banyak wanita yang menerima pelayanan nifas di daerah urban dibandingkan di dearah rural (Fort, dkk., 2006). Sedangkan di Indonesia, Fort, dkk. (2006) menemukan bahwa perbedaan di antara daerah urban dan rural tidak besar.
Meski pemanfaatan pelayanan nifas lebih banyak terjadi di daerah urban, Fort, dkk. (2006) juga menemukan bahwa jika persalinan dilakukan bukan di pelayanan kesehatan, maka wanita di daerah rural lebih besar kemungkinannya untuk menerima pelayanan nifas dibandingkan wanita di daerah urban yang juga persalinannya bukan di pelayanan kesehatan. Namun, hal ini bisa juga terjadi karena adanya upaya program penyediaan pelayanan nifas yang lebih besar untuk wanita di daerah rural.