• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gerak dan Berkah

Dalam dokumen Belajar Dari Sang Murabbi Rahmat Abdullah (Halaman 149-154)

Oleh KH. Rahmat Abdullah

Apa yang membuat seseorang tahan terhadap kematian? Air tahan terhadap kebusukan dan dahan tahaan terhadap kelapukaan? Jawabannya, mungkin gerak! Selebihnya, tak satupun, kecuali kita mau memberi definisi baru bagi entry kematian , kebusukan dan kelapukan, seperti seharusnya kita lakukaan terhadap entry kmerdekaan dan dan penjajahan, kekayaan dan kemiskinan. Modern dan kampungan. Orang Indonesia memberi arti istimewa bagi harakah yang aslinya bermakna gerak atau gerakan, dengan makna kedudukan dan martabat. Itulah bentuk pemaknaan sebab dan akibat, artinya dengan bergerak kita akan mendapatkan kemuliaan dan bila diam kita akan jatuh. Masyarakat awam dapat membunyikan huruf-huruf bila diberi harakah dan sebagian kalangan lain dapat membacanya dengan akurat walaupun tak nampak harakahnya. Sebab, mereka menguasai kaidah-kaidah tata bahasa serta makna kosakatanya. Mereka memahami harakah yang tidak nyata.

Semoga Allah merahmati Imam Syafi‘i. Dalam pandangannya, “Seandainya Allah hanya menurunkan surat Al „Ashr, niscaya sudah cukup.” Di kali lain, imam yang alim berdarah Quraisy itu mengomentari ayat 286 Surat Al Baqarah: “Jangan kamu katakan orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati,” dengan kata-kata bersayap, „Kalau hanya ayat ini yang diturunkan Allah, niscaya cukuplah sudah.‟ Apa makna kematian di hadapan nilai mulia syahid di jalan Allah? Artinya ajal hanya dapat menghentikan gerak jasad yang fana, tetapi bukan hidupnya. Karena Allah melarang untuk menyebut mereka itu mati.

150 | P a g e

Seperti kisah Shuhaib Ar Rumi radhiyallahu ‟anhu. Ia tiba di Madinah setelah menempuh perjalanan hijrah yaang berbahaaya. Nyaris tak berhasil pergi, bila pilihan cerdas tak di ambilnya: berangkat dengan melepaskan semua kekayaan yang dimilikinya. Shuhaib disambut dengan gembira, namun prihatin atas musibah harta tersebut. “Shuhaib bangkrut,” komentar lumrah yang lazim terdengar. Sebagai pemimpin sejati Rasulullah Shalallahu ‗Alaihi Wa Sallam mengambil sikap dan komentar cerdas atas keputusan cerdas tersebut. “Rabiha Shuhaib, rahiba Shuhaib,” Shuhaib beruntung, Shuhaib beruntung.

Sekolah untuk Jadi Bodoh

Apa yang dibuhkan dari dana besar umat di negeri-negeri maupun swasta? “Itu bukan pembangunan, tetapi pennghancuran,” gugat ulama besar India, Abu Hasan Ali An Nadawi. Bila ummat Islam yang punya aqidah dan prinsip, dakwah dan risalah, direkayasa sejak kecil untuk menghirup nyawa hidup dari dunia lain yang materialistik, hedonik, kering dan munafiq, maka penghianataan telah terjadi. Bila kurikulum pendidikan, buku-buku bacaan dan sumber inspirasi kehidupan mereka tidak di ambil dari sumber pembentuk jati diri dan pengarah perjalanan mereka sendiri, maka musibah besar telah menimpa, melebihi pertempuran fisik dan pertarungan politik. “Buta huruf jauh lebih baik, dari pada kehilangaan nyawa sendiri,” sergah An Nadawi.

Tawuran telah melesat dari kawasan SLTP menuju kampus-kampus PT. Tradisi perloncoan bodoh yang kerap diseniori oleh ―mahasiswa bodoh‖ menjadi warisan fast food yang sering dilahap dipraktekkan oleh calon ‗senior bodoh‘ ditingkat SMU/SLTP. Sebuah penjara besar telah bertumbuhan dengan tradisi lama penjara-penjara mikro. Napi hari ini yaang dikerjai napi senior, besok akan mengerjai napi yunior. Yang tak mendapat peluaang menjarah bertriliun kekayaan negeri ini, kemaruk atau membakari harta sesama setiap dimunculkan kerusuhan. Yang berhasil menguasai posisi-posisi kunci di pemerintahan mengulang kembali kerakusan pendahulunya. Yang merasa menjadi mangsa masa lalu, kini

151 | P a g e

jadi predator berdasi, berbatik, bersorban atau berkopiah. ―Generasi muda harapan bangsa‖ hanya jadi slogan kosong, karena mereka telah menjadi pelanggan setia rumaah-rumah hiburan, klub-klub seks bebas bahkan narkotika dan racun-racun lainnya. Inilah gerak kematian yaang lahir dari kematian. Gerak ulaat dan belatung yang melahirkan lalat dan nyamuk yang muncul dari tinja dan bangkai. Gerak predator dan kanibal yang saling memusnahkan.

Apa makna hidup yang panjang tanpa buah yang setidaknya mendekati haarga kehidupan yang telah ditempuh dan dikorbankan. Apa makna kekayaan dihadapan kesengsaraan abadi di akhirat, bahkan kegundahan di dunia ini? Siapa yang bertanggung jawab atas merebaknya spesies baru yang sama sekali asing: bertelinga namun tetap tuli, bermata namun tetap buta dan bermulut namun tetap bisu? Mungkin mereka berhati dan berotak namun hanya laik untuk menjadi rendang dan sambal pengisi perut-perut rakus.

Penyuluh di Malam kelam

Tak dapat di bayangkan bagaimana wajah bangsa yang malang ini. Seandainya beberapa dekade yang lalu tak memunculkan sejumlah kecil hamba-hamba-Nya yang dengan keyakinan penuh gerak mengarungi ketandusan sahara hati bangsa. Sampai hari ini pahlawan tak dikenal itu tetap bekerja. Kancah ilmiah di perkotaan yang glamour sampai wilayah masyarakat terpencil di gunung, pedesaan dan kawasan trasn, menggeliat bangkit. Bibir mereka bergetar kalimat tauhid. Walaupu makin kemari makin terasa melawan arus kerusakan (fasad) yang digerakkan dengaan modal amat besar, melibatkaan alat-alat canggih dan mahal bahkan menggunakan satelit. Sangat ideal bila perlawanan terhadap arus kerusakan itu dilakukan oleh taangan kekuasaan, yang konon punya dana tak terbatas dan punya otoritas.

Namun ajaib isi dunia ini, yang punya cita-cita besar tak punya modal besar. Dan yang punya modal besar bekerja untuk menghancurkan cita-cita besar. Lebih ajaib lagi ada hambaa-hamba berhati lembut, bertekad baja dan berkeyakinan tanpa mengenal kata

152 | P a g e

mustahil, tak larut dalam impian ―Andai saja kita jadi penguasa‖. Merekalah ―Jutaan tangan yang mengayunkan cangkul‖ mengubah lahan kritis menjadi produktif, menyuapkan nasi ke mulut-mulut lapar. Mereka tak bersedih dengan berbagai ‗rezim dan rajim‘ yang datang pergi tanpa memberi manfaat bagi da‘wah dan upaya perbaikan mereka, kecuali kepada beberapa penjilat culas dan pengkultus yang mencuri sandal di masjid sambil memohon permakluman agar tidak dihujat karena pendahulu mereka telah pergi justru setelah ,emcuri masjid!

Generasi baru ini teguh pada garis tugas utama mereka ―seperti satu tanaman yang mengeluarkan tunasnya. Tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati orang-orang kafir.‖ (QS. Al Fath : 28). Ya, tangan-tangan yang memperoleh berkah dalam gerak dan mendapatkan kekuatan karena ―Tangan Allah di atas tangan-tangan mereka‖.

Al Qur‟an yang Bergerak

Ahli zamaan ini memerlukan tafsir dan terjemah kontemporernya, karena sesungguhnya ia memang seperti ungkapan Sayyid Quthb, ―Kitab yang abadi yang produknya tak pernah henti.‖ “Al Kitab al Khalid wal „Atha‟ al Mutajaddid”.

Seberapapun kepuasan terhadap produk tafsir zaman di zaman apapun, selalu ada ruang kosong yang tersisa dalam batin. Ada yang arogan mengajak kepada pembaharuan penafsiran, seakan tak pernah ada tafsir yang disusun selama ini. Ada yang menawarkan tafsir baru, tanpa kaidah ilmu yang memadai, menyimpang dari tradisi dan kaidah tafsir lama, tanpa mampu mengutip suatu pemecahan bagi problem kekinian dan kesinian.

Demikian pula kekaguman yang tertuju kepada kisah kecemerlangan da‘wah dan keteladanan para da‘i di masa lalu. Tanpa menapak di atas langkah mereka, hanya akan berakhir pada penguasaan aspek kognitif yang akan cepat terlupakan tanpa menyisakan

153 | P a g e

manfaaat ruhiyah yang melimpah. Padahal Allah telah menjamin bahwa kisah-kisah para rasul itu pasti akan meneguhkan hati. (QS. Hud : 120)

Sedekat apapun hubungan fisik seseorang dengan sumber keteladanan (Uswah) hanya akan berguna bila ia dapat menyamaakan gelombang dan frequensinya dengan sang sumber. Seorang Muslim yang berjuang keras melakukan perbaikan akan tentram dalam keteguhan hatinya, karena ia sejalan dengan Rasululloh yang dikaguminya. Sebaliknya, seorang pencerita atau penikmat cerita, begitu guncang melihat realita kehidupan yang ganas dan cobaan yang keras, betapaapun memukau penuturannya mengisahkan kisah-kisah kebenaran. Karenanya dalam lingkup kerja da‘wah seorang kader yang menawar-nawar tugas ringan di hari ini dicemaskan tak bakal mampu mengangkat tugas-tugas besar, betapapun ia dapat berkisah tentang cobaan, kesetiaan dengan begitu lancar seperti ia sendiri pelakunya.

Akhirnya kita semakin tahu hanya dengan gerak keadaan dapat diperbaiki, kecuali gerak itu tak lagi bermakna. “Sehingga apabila kalian telah melihat kekikiran yang ditaati, dunia yang diutamakan, hawa nafsu yang diikuti dan setiap orang yang kagum kepada pandangannya sendiri, maka tinggalkanlah orang banyak dan teguhlah dengan kalangan khususmu.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah &Ibnu Hibban).

Sumber :

154 | P a g e

Tulisan Sang Murabbi :

Dalam dokumen Belajar Dari Sang Murabbi Rahmat Abdullah (Halaman 149-154)