Oleh KH. Rahmat Abdullah
Sampai beberapa bulan terakhir dunia Islam masih memandang Mustafa Kamal sebagai Shalahudin Al Ayyubi II. Mereka berharap ia dapat memimpin dunia Islam dalam perang dengan kaum Masehi dan menjadi pelopor Negeri-negeri Timur dalam perang suci. Namun sedikit demi sedikit, kini mereka kehilangan tsiqah padanya.
(Ernest Hemingway, The Toronto Daily Sun, 24 Tisyrin Awwal 1920)
Kata sang di atas memang kata sandang istimewa, karena berbeda dengan umumnya berhala yang direkayasa untuk disanjung demi kepentingan juru kuncinya, berhala jenis ini justru merekayasa banyak hal untuk kepentingan dirinya dan musuh bangsanya dengan siapa ia berkolaborasi. Tentu saja sang berhala tak memerlukan intelegensi yang tinggi untuk tujuan ini, karena yang diperlukan adalah kelicikan. Tujuh puluh foto Ataturk (adaturk?) masih wajib dipampang di tempat-tempat resmi, tanpa ada hak asasi dijamin untuk boleh menghujat atau menurunkannya. Seperkasa itukah kertas potret usang tersebut? Ini adalah kenyataan dan kesengsaraan bangsa Turki dan dunia Islam pada umumnya. Para murid SMU angkatan 80-an tentu masih ingat bagaimana mereka diwajibkan masuk kelas dengan melewati bendera kecil di atas meja guru dan harus membungkuk hormat kepada benda tersebut.
170 | P a g e
Ketika berhala-berhala tidak mampu mendengar, merespon ataupun menawarkan solusi atas problematika para penyembahnya. Sistem telah menyediakan penerjemah kemauan para dewa berhala itu, baik sebagai spirit maupun sebagai simbol dalam bentuk boneka kayu dan batu. Juru kunci, dukun, kepala suku dan pendeta, adalah pemegang otoritas tertinggi penerjemahan kemauan para dewa. Inilah kalimat paling sopan untuk membuat kebijakan atas nama tuhan yang absurd itu. Dari Fir‘aun sampai Kemal Ataturk (adaturk?), ciri mereka sama; Aku yang tertinggi! Bahwa ciri sekulerisme yang membanggakan kebebasan, kemerdekaan dan nalar, itu sekedar konsumsi publik.
Pasalnya sejumlah anak telah menurunkan gambar burung, presiden dan wakil presiden dari dinding kelas dan mengganti dengan gambar khomeini, model alternatif perubahan yang pernah di awal tahun 80-an itu! Sebagian belia ini akhirnya menyadari mengapa Rasulullah Shallahu ‗alaihi wa sallam tidak pagi-pagi menghancurkan berhala. Pameo dakwah mengajarkan: Bila berhala itu terbuat dari roti mereka akan menggantikannya dengan kayu. Bila dibuat dari batu mereka akan menggantikannya dengan besi. Karena akar keberhalaan bukanlah pada kayu dan batu, melainkan pada otak dan hati.
Ifk, Mitos Pelestari Keberhalaan.
Diperlukan tembok perlindungan yang kuat agar keberhalaan tetap bertahta di hati para penyembahnya. Tembok tebal itu bernama Mitos, dengan peran ganda sebagai berhala lain di samping berhala kayu dan batu! Di kepulauan Nusantara ini terdapat raja-raja dengan perlindungan mitos yang kuat. Ada raja-raja titisan Dewa Brahma, Dewa Wisnu, dan sebagainya. Apakah rakyat punya cukup nyali untuk mengoreksi atau melawan raja, karena dengan begitu berarti mereka sudah berani mengoreksi atau melawan dewa.
Jadi dalam tatanan berhala ada dua raja, satu raja spiritual; para dukun, juru kunci, orang pintar dan pendeta yang memberikan legitimasi moral dalam produk mitos yang
171 | P a g e
pekat seputar raja yang berpedang dan bermahkota. Yang kedua raja berpedang dan bermahkota yang memberikan hak-hak istimewa kepada pihak pertama.
Pada zaman Jawa era Islam yang sinkretis semangat tauhid dan radikal dan atraktif tidak memungkinkan berkembangnya syirik dan berhala, namun mereka dapat melestarikan mitos lain. Ada kamar dengan ranjang di keraton yang tidak boleh dimasuki sembarangan orang. Ia adalah ranjang dan kamar Nyai Roro Kidul. Apa gerangan hubungannya dengan raja. Konon Nyai adalah istri raja di alam sana. Nah, dapat kita bayangkan, bila istrinya saja menguasai samudera yang membentang luas sampai ke pantai barat Amerika dan Pantai Timur Afrika, bagaimana pula suaminya yang dalam tradisi jawa adalah segalanya! Raja atau pendeta tetaplah produsen dan penikmat mitos tersebut.
Betapa sukarnya membongkar pohon kemusyrikan tersebut. Sebegitu lama Nabi Nuh ‗alaihis salam berdakwah menyadarkan kaumnya dan klimaksnya berujung pada seruan sangat keras pada elit, agar jangan sekali-kali mereka meninggalkan penyembahan Dewa Wadd, Shuwa, Yauq, Yaguts dan Nasr (QS. Nuh :23), orang-orang shalih zaman Nabi Nuh yang ketika wafat dibuatkan tugu di majelis masing-masing sebagai peringatan. Saat generasi pertama punah dan ilmu (tauhid) semakin terlupakan, mulailah tugu-tugu itu mereka sembah. (Ibn Abbas menurut riwayat Bukhari & Muslim).
Demikianlah, simpul kata keberhalaan dengan pas kita temukan pada penuturan Al Khalil Nabi Ibrahim ‗alaihis salam. Apa yang kalian pertuhankan selain Allah hanyalah berhala-berhala dan kamu membuat Ifka. (QS. Al Ankabut :17)
Berhala dan Penggalangan Solidaritas.
Selanjutnya kebersamaan dan saling ketergantungan kadang membuat masyarakat mendewakan simbol-simbol, sehingga alih-alih dari upaya ibadah dalam beragama, kerap orang menjadikannya untuk simbol solidaritas.
172 | P a g e
Ada tokoh yang sangat akrab dengan sebagian besar umat, tetapi menjadikan keumatan itu sebagai bagian progam globalnya. Ia tak pernah menyebut Allah dan Rasulullah Shalallahu ‗alaihi wa sallam karena rendah diri. Mereka tidak beragama dengan makna dainunah (ketundukan diri) dan tadayyun (sikap mengidentifikasi dengan dien ini). “Apa yang kamu sembah selain Allah adalah berhala-berhala demi kecintaan antara kamu dalam kehidupan dunia kemudian di hari kiamat sebagian kamu mengingkari yang lain dan sebagian melaknati lainnya.” (QS. Al Ankabut :25).
Tentu saja simbol dan status tak mungkin diabaikan, tetapi bila hakikat pengabdian kepada Allah telah dikalahkan demi penampilan luar maka, musibah telah menimpa umat, sebaik apapun leluhur mereka. Pada kaum Yahudi dan Nasrani yang sering diperkenalkan sebagai umat dengan kitab Samawi, kebanggan status telah menghambat kemajuan ruhani mereka. Mereka berkata: “Tak akan masuk surga kecuali orang yang telah berstatus Yahudi dan Nasrani.” (QS. Al Baqarah :111) Dan Allah langsung menjawab, ―Ya, (yang pasti masuk surga ialah) orang yang menyerahkan wajahnya (sepenuh dirinya) kepada Allah.” (QS. Al Baqarah :122).
Rumah Laba-laba
Mengapa berhala yang lemah itu mampu mengikat suatu bangsa, bahkan sebuah imperium? Ketakutan yang menghantui perasaan anggota masyarakat akan tercabutnya mereka dari akar sosialnya, di-outgroup-kan dan di-laisaminna-kan dari lingkungan status mereka rupanya telah begitu mengakar. Itulah karenanya Islam memprioritaskan perkembangan aspek tauhid sebelum lainnya. Aqidah intinya ialah mengembalikan manusia dari penyembahan sesama manusia menjadi abdi Allah semata-mata.
Ketakutan adalah satu gerbang syirik yang paling lebar. Betapa tidak, ketakutan telah menghapuskan kemanusiaan manusia yang tinggi menjadi jauh lebih rendah daripada tikus dan kambing. Lihatlah dunia timur yang malang. Warisan perkasa yang
173 | P a g e
mereka terima dari leluhur pembagunan peradaban masih menyisakan dalam diri mereka semangat, potensi, dan vitalitas singa, namun selalu ada rekayasa dari kakuatan syaithan untuk memasangkan kepada lain singa-singa ini; kepala tikus dan kecoa. Sedahsyat apapun kekuatan singa, ia akan jatuh dalam pemikiran, progam dan kenihilan tikus. Alkisah para dokter yang berhasil membuat cangkok ginjal dan jantung telah ketinggalan.
Rumah laba-laba, naungan macam apa yang dapat diberikannya kepada manusia? Kenyataannya betapa banyaknya mereka terperangkap disana. Lalat dan Nyamuk, dua hewan pemakan bangkai dan penghisap darah yang nampaknya masih utuh namun tak lagi bernyawa dan berdaging, habis dihisapnya. Dan manusia lalat dan nyamuk telah kehilangan kemanusiaan kemanusiaan mereka di sarang laba-laba. Dan para penyembah berhala telah membangun rumah laba-laba, padahal rumah yang paling rapuh ialah rumah laba-laba, seandainya mereka mengetahui (QS. Al Ankabut :41).
Para pemimpin tahanan berhala telah memanfaatkan kebodohan bangsanya dan menyembunyikan kepongahannya dihadapan Tuhan dengan mengadopsi dan mengatraksi sekental-kentalnya tradisi mereka yang mungkin tidak diyakininya demi kemapanannya, ia telah menjadi kepala yang lain bagi tubuh yang lain.
Sumber :
174 | P a g e
Tulisan Sang Murabbi :
Hijrah
Oleh KH. Rahmat Abdullah
Tak ada suatu kata yang menyiratkan makna demikian kuat, seperti kata hijrah. Dari tiga rangkaian amal islami (QS. Al Anfal:74), tampak perannya yang sangat monumental. Bertolak dari iman, sebagai suatu pilihan hati nurani untuk bersama seluruh ciptaan-Nya tunduk mengabdi kepada Allah Rabbul „Alamin, seorang hamba memutuskan pilihan sulit; diam di tempat dengan kehinaan, iman yang tidak ―produktif‖, dan masa depan yang sangat gelap atau ―berangkat‖.
Pilihan iman saja sudah menuntut keberanian. Berani berbeda dari seluruh bangsa yang masih terbelenggu, menuntut pengorbanan, dari ‗bubar jalan‘ karena kelemahan mereka yang kerap kagum dengan konsep islam, tetapi terbelenggu oleh rasa takut atau gengsi, sampai makar pemenjaraan, pengusiran, atau pembunuhan (QS. Al Anfal:30).
Hijrah bukanlah anggapan naif ―sebuah keterpaksaan mengamankan diri‖. Ia sebuah aksioma abjadiyat pembangunan islam, yaitu harus sampai ke puncak bangunannya (Dzirwatu Sanamihi), yaitu jihad. Mengapa ada pembangunan base camp, dan masjid sebagai pusatnya? Mengapa Quraisy masih tetap memburu mereka di Madinah? Mengapa ada persaudaraan (muakhah) anatara muhajirin dan Anshar? Mengapa ada pembangunan pasar Muslimin dan sekian lagi institusi?
Dua kalimah syahadat sendiri menyuratkan dan menyiratkan kekuatan pesan pembebasan, menggetarkan pendukung status quo jahiliyah (QS. Fathir:45/Al Jinn :18-20).
175 | P a g e
Di jalan iman, syaitan menunggu sang pemberani, ―Kau ikuti beliau macam Muhammad dan tinggalkan agama datukmu?‖ Bila ia terus maju, syaitan mencegatnya di jalan hijrah. ―Kau tega tinggalkan sanak kerabat , bangsa yang besar dan kekayaan negeri yang melimpah, untuk masa depan yang tak jelas?” Bila ia istiqomah, syaitan mengancamnya di jalan jihad. “Kau korbankan dirimu mati terbunuh, lalu hartamu dibagi-bagikan dan istrimu diambil orang lain?” (HR. Ahmad, Tirmidzi & Ibnu Hibban)
Hijrah melahirkan kelas bukan berbasis fatalisme konflik proletar versus Borjuis & kapitalis, tetapi pada iltizam, wala‟ dan tadlhiyah:
1. Muhajirin meninggalkan Mekah, merelakan begitu banyak yang ―sepatutya‖ disedihkan; tanah air, keluarga, kekayaan, harapan, dan masa depan. Menuju madinah yang dalam parameter materialisme penuh masalah; masa depan yang tidak jelas, iri dan benci Yahudi, Munafiqin dan akhirnya Mashara Rum, perasaan menjadi beban bagi orang lain, dan seterusnya.
2. Kaum Anshar menerima saudara Muhajirin mereka dengan penuh kecintaan; modal usaha, hunian, diri mereka sendiri menjadi benteng dan perisai.
3. Pelanjut yang arif, serius dan tulus.
Suatu hari Imam Ali Zainal Abidin radhiyallahu‟anhu cucunda Ali Bin Abi Thalib, radhiyallahu‟anhu. Kedatangan seorang rafidhah yang sangat profokatif. Dikafirkannya semua sahabat sepeninggal Rasulullah kecuali 6 orang diantara mereka (Usamah bin Zaid, Ammar bin Yasir, Miqdad bin Al Aswad, Salman Al Farisi, Abu Dzar Al Ghifari,…). Ia berharap dapat mempengaruhi dan merekrut sang imam. (Padahal bertahun-tahun fuqaha madinah tidak tahu dari mana mereka dapat makanan. Sewafat Ali Zainal Abidin itu, shadaqah sirriyah (tersembunyi) tersebut terhenti dan orang yang memandikannya menemukan bekas di bahunya; kulit yang menebal lantaran terus menerus memikul sendiri bahan makanan). Dengan bijak sang imam bertanya kepada si rafidhah itu:
176 | P a g e
“Anda termasuk kelompok ini?” seraya membacakan ayat 8 surat Al-Hasyir tentang kaum muhajirin.
―Bukan,‖ jawab si rafidhah tadi
“Mungkin anda kelompok berikutnya?” (kaum anshar, ayat 9) “Juga tidak,” jawab sang provokator.
―Nah kalau begitu anda juga tidak termasuk ke dalam kelompok berikutnya (Al-Hasyir:10, tabi‟in dst), pergilah dari rumahku!‖ bentak Imam Zainal Abidin.
Hijrah tidak menyisakan ruang bagian pengecut, pemalas, penghasud, dan semua yang berfikiran sempit. Ruang hijrah hanya untuk tiga kaum; 1. Muhajirin dan semua pengambil inisiatif, 2. Anshar dan semua pembela dengan jiwa, raga, dan harta, 3. Para tabi‟in dan pendukung sesudah mereka. Selebihnya bila masih ada itulah ruang keasingan bagi iman dan ruang kegelapan bagi kejujuran.
Biarkan sejarah bertutur mengisahkan semua keutamaan ini:
Ummul Mukminin Aisyah radhiyallohu „anhu berkata: ―Tak pernah sekalipun Rasulullah luput untuk datang mengunjungi Abu Bakar, pagi atau petang. Pada hari beliau diizinkan untuk berangkat hijrah, keluar dari Mekah dan meninggalkan bangsanya ia datang pada tengah hari. Saat Abu Bakar melihatnya, ia berkata: “Tak mungkin Rasulullah Shalallahu „alaihi wa sallam mendatangi kita di saat ini kecuali bila suatu hal (penting) telah terjadi.”
Ketika beliau tiba, Abu Bakar undur, menyilakannya duduk di tempat duduknya. Beliau pun duduk, sementara tak ada yang menyertai Abu Bakar saat itu kecuali aku dan Asma‘, saudariku. Beliau berkata: ―Keluarkan orang yang bersamamu”. Abu Bakar menjawab: “Mereka itu anak-anakku, ada apa ya Rasululla? Jiwa ayah bundaku jadi tebusanmu.”
177 | P a g e
Beliau menjawab: “Sesungguhnya Alloh telah mengizinkanku untuk keluar dan berhijrah.” Abu Bakar memohon, “Kutemani ya Rasulullah.” “Ya, tentu,”jawab Rasulullah. Demi Allah belum pernah sama sekali kurasakan sebelum hari itu ada seseorang bisa menangis karena gembira, kecuali saat Abu Bakar menangis..‖.
―Kami menyiapkan untuk mereka bekal terbaik. Kami buatkan safrah (makanan musafir). Asma‘ memotong secarik sabuknya untuk mengikat makananan di leher kantungnya, karenanya ia digelari dzatun nithaqain (pemilik dua sabuk).
Kemudian Rasulullah Shalallahu ‗alaihi wa sallam dan Abu Bakar masuk gua Tsur, bersembunyi di sana tiga malam. Bermalam bersama mereka Abdullah bin Abi Bakar, beliau yang cerdas (tsaqif) dan tanggap (laqin). Ia menyelusup pergi dari sana menjelang fajar dan pagi hari telah ada di tengah kaum Quraisy, seakan bermalam di Mekah. Tak ada satu perkara yang membahayakan mereka yang tak diliputnya, lalu ia sampaikan beritanya kepada mereka ketika kegelapan semakin membaur. Amir bin Fuhairah mantan budak Abu Bakar menyiapkan kambing yang diantarkannya lepas isya. Mereka makan malam dengan susu kambing tersebut tiga malam itu.
Rasulullah Shalallahu ‗alaihi wa sallam dan Abu Bakar radhiyallahu anhu menyewa seorang pemandu profesional dari kabilah Bani Dail yang berasal usul dari Bani Abd bin Adi yang telah mengikuti perjanjian pengamanan (hilf, persekutuan) beragama kafir Quraisy. Mereka menilainya dapat dipercaya. Maka mereka pun berjanji untuk berjumpa di Gua Tsur setelah tiga hari pada subuh ketiga. Setelah itu Amir membawa mereka bersama pemandu menempuh jalur pantai (Shahih Bukhari, Sirah Nabawiyah Ibnu Katsir, dll. Dikutip dari Ahzami Samiun Jazuli, Dr. MA. Hijrah Fil Qur‘an :331-333).
Di Jazurah, di pasar Mekah Rasulullah Shalallahu ‗alaihi wa sallam berhenti sejenak
melantunkan perasaan paling dalam: “ Demi Allah, engkaukah bumi Allah terbaik dan paling dicintai-Nya, kalaulah aku tidak dipisahkan dari dirimu, niscaya takkan daku keluar meninggalkanmu.‖ (Tirmidzi & Ibnu Majah,op. cit.335)
178 | P a g e
Para hujjaj telah kembali, berjuta hati telah larut dalam samudra sejarah paling indah. Bulan 12 menjadi 1 kembali, Muharram 1433. 1433 tahun sejak hijrahnya, bukan dari lahirnya. Ia adalah catatan maha gemilang prestasisebuah generasi.
Thala‟al badru alaina min tsaniyatil wada‟ Wajabasy syukru alaina ma da‟a lillahida‟i
Sumber :
http://www.hasanalbanna.com
179 | P a g e
Tulisan Sang Murabbi :
Taghyir
Oleh KH. Rahmat Abdullah
Bila dicermati, seseungguhnya kata kunci bagi semua upaya manusia dalam hidup mereka terletak pada satu kata: Taghyir (perubahan). Dalam menyikapi 3 tuntutan hidupnya makanan (ghidza‟ jazadi), informasi (ghidza‟ aqli) dan dzikr ( ghidza‟ ruhi/qalbi) manusia sangat sensitif pada tuntutan yang pertama, baru kemudian yang kedua. Dan, paling akhir, yang nyaris luput ialah yang ketiga. Padahal tidak ada target perubahan dalam aktifitas makan manusia. Ia hanya upaya bertahan hidup, bukan peningkatan kecuali pada bayi dan anak-anak di masa tumbuh berkembang mereka.
Akibat, dalam pembangunan peradaban materi, yang jadi prioritas tetaplah padi dan kapas, dengan menonjolkan alat-alat kuno:palu dan arit. Atau semi modern, yaitu gir atau jantera, bukan chip atau simbol-simbol komputer. Adapun cara hidup dan sikap merekadalam perjuangan dan pertahanan hidup, hampir seluruhnya mengambil simbol singa atau elang. Begitu ngerikah manusia akan nasibnya sehingga perlu identifikasi karakter pada semangat, ambisi dan kepekaan elang atau singa? Erasmus punya ungkapan tentang keserakahan, kerakusan dan keganasan bangsanya, Belanda dan Eropa umumnya , sebagai “elang pemakan bangkai yang kejam dan ganas” (Jawaharlal Nehru, Lintasan Sejarah Dunia).
Mereka datang dan pergi dengan ancaman dan ketakutan, membuat dunia bagaikan anak ayam yang sangat kecil, terancam serangan dari udara. Betapa indah ungkapan Al Qur‘an tentang ketakutan para pemuka Quraisy untuk menerima islam, sementara mereka
180 | P a g e
mengakuinya sebagai Petunjuk Jalan (Huda): “Mereka berkata, Jika kami mengikuti petunjuk bersamamu, niscaya kami akan disambar (seperti hewan kecil disambar elang), dari bumi kami. (QS. Al Qashash:57). Kata bersamamu cukup mencerminkan ketakutan para penguasa dan pemimpin sekuler di negeri-negeri Muslim, yang tak cukup berani menolak Islam secara terbuka, tetapi enggan menerima Islam secara utuh. Sehingga petunjuk hanya berupa kata tanpa bukti dan keteladanan. ―Kamu mau islam yang ini, bukan islam yang itu. ― Mereka punya persepsi tentang islam yang mereka dapat dari banyak sumber, kecuali dari satu sumber yaitu islam itu sendiri. Apa yang menjadi ucapan para pendahulu mereka terulang dalam redaksi yang tak begitu jauh: ―Dan apabila dikatakan kepada mereka: ―Berimanlah kamu sebagaimana berimannya orang-orang (yaitu para sahabat seperti dijelaskan Ibn Abbas, Abu‘l Aliah, Al Qurthubi, Ibnu Katsir, juga dalam Tafsir Jalalain), mereka berkata: ―Apakah kami harus beriman seperti berimannya orang-orang bodoh itu?‖
Kemajuan Ruhani, Putaran Roda Gerobak yang amat Lamban
Tak perlu kitab suci untuk panduan menu, karena manusia punya naluri yang amat tajam untuk urusan ini. Ia sangat sensitif, bahkan kepakaan terletak di lututnya yang cepat gemetar, alam diperutnya yang berbunyi dari matanya yang berkunang-kunang, bila sudah tegah hari belum juga dapata makan.
Sebagian masyarakat (miskin) perlu dorongan semangat (dan dana) untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Sementara kesadaran ini sudah meninggi di masyarakat perkotaan, sampai-sampai mereka berebut sekolah unggulan. Kondisi itu menjadi mangsa kaum bermodal, yang bukan lagi ―mengobok-obok‖ hutan, lautan, tambang, dan jalan bebas hambatan sebagai wilayah perburuan dolar mereka, bahkan masuk menambah ke rimba pendidikan. Karena hidung musang mereka begitu tajam mencium aroma kecemasan wali murid yang ingin anak mereka berhasil, jadi orang bergelar dan berpangkat. Akhirnya bermuara juga pada ―enak makan, enak tidur dan enak hidup‖.
181 | P a g e
Apa yang berubah dari manusia, saat otak mereka hanya berpikir tentang ―kemasalaluan‖ Fir‘aun, Haman, Qarun dan Bal‘am? Dimana mereka letakkan Fir‘aun saat mereka sembelih hamba-hamba Alloh? Dimana Haman saat mereka gunakan senjata dan bangunan menara atas perintah Fir‘aun untuk membidik (dan melecehan) Tuhan Musa as? Dimana Qarun saat mereka memamerkan kekayaan dan mengklaim itu sebagai ―milikku dan kudapat dari ilmuku?‖ Dimana Bal‘am saat para intelektual sains dan agama menjadi pengamin rezim korup, arogan dan kolaborator? Apa yang mustahil bagi rakyat yang seluruh cita-citanya tersimpul pada jargon ―Andaikan daku punya kekayaan seperti yang diberikan kepada Qarun‖ (QS. Al Qashash:79)
Tidak ada yang berubah pada segala bentuk kemajuan peradabanmateri kecuali instrumen pemburu kesenangan itu saja. Sesudah itu hidup tetap menjadi segitiga pengaman, seperti pada kendaraan yang mogok. Itulah segitiga permanen KT (Kamar Tidur), KM (Kamar Makan), KB (Kamar Buang, WC). Ia tidur bila lelah dan kantuk menyerang. Jika bangun dan perutnya lapar, ia pergi kedapur untuk makan. Dan bila telah penuh perutnya, ia harus pergi ke KB untuk membuang menu internasionalnya yang telah berubah dengan cepat! Lalu semua aktivitas lainnya hanyalah menjadi aksesori dari kerangka utama segi tiga mogok tersebut.
Apa yang harus Diubah dan dari Mana Dimulai
Perubahan apapun atas persoalan apapun (ma bi qaumin, QS.Ibrahim :11) dalam kehidupan manusia, hanya mungkin terjadi bila mereka mengubah “ma bi anfusihim” (Apa yang ada dalam jiwa mereka). Perubahan pada jiwa itulah perubahan yang sesungguhnya. Ustadz Said Hawwa rahimahullah menawarkan 4 perubahan paa aqliyah (otak) kontra produktif selama ini:
1. Aqliyah Jamidahatau otak beku, diganti dengan Aqliyah Marinah/Muthawatirah (otak dinamis)
182 | P a g e
2. Aqliyah Qaul, otak pengandal kata dengan otak aplikasi
3. Aqliyatul Ahlam, otak pemimpi dengan Aqliyatu‟l Waqi‟, otak realita, dan 4. Aqliyatul Taswif, otak penunda dengan Fauriyatul Istijabah, otak respon kilat.
Da‘wah tidak untuk sekadar membincangkan masa lalu tanpa upaya menegakkan hari ini. Buka juga untuk menggelar masalah karena da‘i bukan pembicara masalah (problem speaker), melainkan pemecah masalah (Problem solver). Da‘i yang tidak berorientasi kesini, pada saatnya akan menjadi problem maker bahkan besar peluangnya menjadi problem trader. Dilapangan kita dapat melihat siapa sesungguhnya pelaku istilah-istilah ini.
Mungkin kita dapat belajar dari dialog seputar tawuran, kawin muda karena ―kecelakaan‖, putus sekolah dan hedonisme:
Suara 1: ―Sudah dekat kiamat, orang diajak baik malah lari‖.
Suara 2: ―Saya sudah usaha belikan remaja itu baju taqwa, kain sarung dan rwbana. Dasar belanda coklat.‖
Suara 3: ―Enaknya mereka dilatih disiplin militer, biar berubah, lalu diberi modal membuat swalayan besar, atau dikirim keluar negeri. Untuk bimbingan mental mereka harus diundang tahajud tiap malam dan puasa Senin Kamis.‖
Suara 4: ―Anak-anak zaman dulu nggak begitu. Sama guru dan orang tua hormat sekali. Coba kamu lurus-lurus saja kan nggak runyam begini.‖