Oleh KH. Rahmat Abdullah
Hari ini baik kalangan pergerakan, pengamat politik dan futurolog, sama-sama sukar memprediksi kejadian- kejadian di depan. Ada percepatan yang tak seorangpun dapat mengklaim bahwa itu hasil usahanya sendiri. Amerika ataupun Sovyet sama sekali tak pernah membayangkan betapa negeri adi daya itu akan bubar semudah penonton topeng monyet atau gerombolan katak yang ditumpukkan di atas baki.
Kalau ada hal perubahan yang mudah menyentak perhatian kita, mungkin itu perubahan bendawi. Dan, ini berarti kekayaan. Dunia kerap berdecak kagum oleh kemajuan teknologi. Efisiensi, pragmatisasi dan ekonomisasi segala gerak terjadi dengan cepat dan mencengangkan. Setelah berabad-abad merambat, akhirnya manusia berubah dengan cepat. Itu mengagumkan- lepas dari dampak negatif yang selalu datang menyusul puluhan tahun kemudian sesuai denganm karakter ilmu yang mempunyai daya koreksi, walaupun kadang terlambat. Seharusnya ia mampu melihat kedepan dan menyelesaikan kekurangannya sendiri, tidak hanya secara kumpul pengalaman tetapi teropong jauh ke depan, analitik, sistematik dan proyektif.
Mencegat ketertinggalan
Kebudayaan materialistik telah membuat para pakar berdecak kagum, seraya meluap-luapkan bayang-bayang darah, kerangka, dan tengkorak. Begitu banyak rakyat yang di korbankan demi ‗mercusuar‘ peradaban. Sebutlah tujuh keajaiban dunia, dari
115 | P a g e
Pyramida, Tembok Besar Cina sampai Borobudur. Semua adalah produk peradaban besar yang harus di akui oleh mereka yang bersedia menjustifikasi semua kezaliman atas nama keharuman kolektif dan kebanggan bangsa.
Berapa lama waktu yang ditunggu untuk terjadinya perubahan teknologi, modernisasi dan peradaban kebendaan di dunia Islam? Semoga bukan apatisme jika Sayid Quthb mengesankan pesimisme tersebut dengan angka: tiga abad. Itupun jika bangsa-bangsa yang telah jauh melaju tiba-tiba menghentikan lari mereka. Lalu da‘wah macam apa yang dapat kita berikan kepada bangsa-bangsa yang hanya mau mendengar dari mereka yang survive dan unggul dalam segala bidang kehidupan material? Kita yang dalam bidang pemikiran dan keruhanian pun belum cukup punya alasan untuk memimpin. Ada yang sangat bingung dengan tantangan ini. Lalu menawarkan solusi untuk membongkar-pasang habis-habisan manhaj yang sangat terpelihara ini. Mereka bagaikan penumpang kendaraan sempurna, yang karena tak tahan oleh bantingan-bantingan di atas jalan yang penuh kubangan, dengan ‗pintar, kultural dan liberal‘ menawarkan solusi. ‗Mesinnya harus kita bongkar‘. Atau lebih mengharukan lagi komentar seseorang mereka: ‗Ini pasti karena kerusakan kaca spion‘.
Persoalan sekarang terkait dengan mentalitas „Apa kita mampu?‟ atau Apa mereka mau percaya?‟ Perlukan sebuah keberanian dan keyakinan diri untuk memilih islam sebagai solusi. Namun bagaimana cara meyakinkan si sakit untuk mau berobat dan meyakinkan yang sehat bahwa obat yang ia konsumsi itu patut dipasarkan. Ia tak boleh tampil dengan tubuh yang ringkih dan kesehatan yang mencemaskan.
Perubahan cepat di Zaman Awal
Mereka yang mengukur keberhasilan perubahan dari sudut pandang kebendaan akan sangat kecewa. Dimana mereka bisa temukan prasasti kejayaan Rasul? Mereka bukan kelas para ‗pencipta‘ keajaiban dunia –para kaisar yang orang tak peduli lagi apakah
116 | P a g e
meraka mau mengukir, memahat dan membangun kegemilangan ‗abadi‘ di atas tulang belulang dan gelimang darah rakyat-. Mereka akan lelah untuk bisa mengiyakan pesan agung Al- Musthafa Muhammad Shalallahu ‗alaihi wasallam: “Sebaik- baik kurun (generasi, abad) ialah kurunku, kemudian yang sesudahnya, kemudaian yang sesudahnya”. Kalau ada abad-abad yang menjadi monumen peradaban materi, orang pun banyak mengkaitkannya dengan Timur Persia atau Barat Yunani, bukan pada hasil taghyir fundamental yang mulai dicanangkan dari bukit Shafa, bahkan dari rumah Fatimah bin Khattab dan rumah Al Arqam bin Abi Arqam.
Ka‘bah bangunan monumental terbesar yang menjadi saksi dan disaksikan sejarah itu kosong. Tak ada pahatan patung-patung pujaan. Tak ada altar penyembahan dewata. Ia dan Batu Hitam (Hajar Aswad) tak pernah disembah, bahkan oleh orang paling musyrik di saat kemusyrikan itu berjaya. Tak ada kisah mobilisasi dan instruksi kerja paksa dari seorang raja yang sabdanya tak terbantahkan. Apa yang mau di wariskan ummat ini sebagai kalimat keabadian (kalimatan baqiyah), bila mereka tak dapat kelurusan tauhid, kemuliaan pribadi, kecemerlangan akhlaq dan keceriaan bashirah, seperti yang telah diperankan Al –Khalil Ibrahi As? Haruskah menunggu tiga abad untuk mengejar peradaban material barat, dengan satelit khayalan dan pesawat mimpi, lalu menganngap mereka tidur? Ya, mereka mungkin akan segera hancur oleh napza, zina dan kebebasan seks, bahkan oleh perang dan perpecahan. Lalu mana saham ummat terbaik bagi tenggelamnya kezaliman akhir zaman. Buku Ma‟alimfith Thariq mencatat tiga hal utama yang memicu dan memacu Taghyir pada generasi pertama dakwah. Pertama, mereka menuntut ilmu untuk suatu action dan perubahan bukan semata-mata koleksi ilmu. Kedua, mereka memutuskan hubungan dengan masa lalu jahiliyah dan tak ingin kembali ke masa lalu, walaupun sekejap. Ketiga, mereka tegak di hadapan Al-Qur‘an dengan penuh kesiapan, seperti seorang Prajurit siap siaga menerima aba-aba.
Sukar membayangkan suatu perubahan dari masa lalu yang begitu berkarat, gelap dan bejad menjadi begitu cemerlang. Bayangkan dunia tanpa perubahan ini, lalu
117 | P a g e
renungkan dimana dunia dapat menemukan kata ‗kemanusiaan, kesamaan, hak-hak asasi, ilmu pengetahuan, masyarakat madani, keadilan, kehormatan ibu dan perempuan, damai dan perang yang biadab….., dan seterusnya.‘
Gen Ringkih
Gema taghyir (perubahan) sempat bergemuruh di negeri ini di awal abad 20. Ayat yang telah ribuan kali dibaca datang memberi pencerahan : “Sesungguhnya Alloh tak akan mengubah nasib suatu bangsa sebelum bangsa itu mengubah nasib mereka sendiri.” (QS. Ar Ra‟d : 11). Namun yang terjadi, yang penting ada perubahan dari kita, karena Tuhan hanya akan ‗ikut‘ mengubah sesudah kita mengubah nasib kita sendiri. Belum terpikir apa prioritas urutan perubahan. Bila sedangkal ini pengertian taghyir, niscaya kaum atheis semakin semakin yakin akan atheisme mereka, karena Tuhan tak berbuat apapun, kecuali bila kita berbuat.
Semangat untuk merdeka dikobarkan dengan berjuang, bukan dengan berpangku tangan. Mungkin karena refleksi kemiskinan, keterjajahan dan ketertinggalan, maka fokus utama taghyir baru sebatas „go to hell‟ nya Belanda dengan membawa pulang kulit putih, rambut pirang dan mata biru mereka. Mereka pergi mewariskan begitu banyak masalah yang terlalu mahal untuk di laundry: Undang-undang, budaya, tradisi politik, mentalitas dan lain-lain. Tiga perempat abad telah berlalu, banyak yang berubah dibangsa ini. Adakah respon selain respon perubahan-perubahan artificial?
Jiwa-khususnya yang ringkih- menjadi perhatian utama perubahan permukaan hanya akan hidupsekejap. Kurun-kurin lalau memperlihatkan begitu banyak produk manusia berjiwa, bekarakter, dan berenergi besar. Mereka mengalahkan segala persoalan berat, membuat yang jauh menajadi dekat, bahkan ‗membuat mungkin‘ segala yang selama ini mustahil. Timur dan Dunia Islam mengidap penyakit berat yang pernah diidap Bani Israil: kufur akan nikmat akal dan daya hidup. Akhirnya mereka hanya bisa menyumpahi persoalan dan
118 | P a g e
bukan memecahkannya. Mereka memandang dunia dengan muram. Perubahan menjadi ‗monopoli andalan‘ kalangan elit dan monopoli yang tak berbagi; “…Pergilah engkau hai Musa dengan Tuhanmu lalu berperanglah, kami tetap akan duduk-duduk di sini.” (QS. Al-Maidah:24).
Ya, setiap penyakit pasti ada obatnya, kecuali jiwa ringkih (huzalul ruh) yang tak pernah Menginginkan perubahan!
Sumber :
119 | P a g e
Tulisan Sang Murabbi :
Pecah
Oleh KH. Rahmat Abdullah
“Dan mereka senantiasa berselisih, kecuali yang dikasihi Tuhanmu……. “ (QS. Huud : 118-119)
Beberapa alasan pantas diajukan, drama, dan melakoni drama pada mengapa tajuk ini diangkat. Pertama, sukar untuk mengatakan sesuatu itu pecah kalau kenyataan sebenarnya mereka tak pernah benar-benar menyatu; satu niat, satu tujuan, satu langkah, satu komando dan satu sumber komando. Kedua, kalau memang mereka pernah bersatu, apakah benar-benar dengan syarat di atas? Apa artinya persatuan tanpa ketaatan? Ketiga, apakah kesatuan, persatuan, bahkan wujud keberadaan mereka benar- benar memberi manfaat seindah janji, slogan, dan seremoni yang selalu memberi harapan dan memupus kekecewaan setidaknya untuk beberapa saat. Maukah mereka yang telah mengklaim diri berukhuwah untuk menjaga batas terendah dan tertinggi (lower dan upper) nya. Minimal bila sesuatu menimpa ukhuwah, ia tak boleh merosot melampaui batas salamatus shard (kesucian hati) terhadap saudara dan batas tertingginya al itsar (memprioritaskan saudara meleebihi diri sendiri).
Mereka yang menaruh harapan kepada kinerja suatu institusi ummat, silakan menjawab, dapatkah unsur-unsur utama da‘wah dipenuhi, yaitu harakah mustammirah (gerak yang kontinyu), ghayyah shahihah (tujuan yang benar), manahij wadlihah, qiyadah mukhlisoh & junud muthia‟ah (pimpinan yang ikhlas, dan kader yang taat, QS. Yusuf:108). Bila suatu gerakan, partai, jami‘yah, atau jamaah tak mampu memenuhi tuntutan tersebut,
120 | P a g e
maka semua tonggak harapan sebaiknya dibongkar saja, karena itu hanya akan berbuah sesal dan kecewa.
Mengundang grup sirkus, teater, atau ludruk lebih cerdas daripada berharap dapat menyaksikan ‗permainan cantik‘ gerombolan pemain watak yang tak pernah jelas, selalu terbalik-balik memerankan komedi pada judul drama dan melakoni drama pada judul komedi, terbahak-bahak pada episode kematian dan menangis pilu pada event perkawinan.
Tauhid, Taqwa, Itsar & Ukhuwah vs Baghyi
Dari penumbuhan aqidah yang benar lahirlah perilaku yang benar, persaudaraan yang benar, dan pengorbanan yang benar. Apa yang membuat masyarakat Anshar rela menjadikan bumi mereka bumi Islam dan bertekad melindungi Rasulullah Shalallahu „Alaihi wasallam seperti mereka melindungi anak-anak dan istri mereka. Padahal mereka belum pernah melihat wajahnya kecuali sedikit Anshar yang menerima Islam di Mina beberapa musim haji menjelang hijrah.
Baghyi (permusuhan dan kedengkian) mendominasi sebab-sebab utama perpecahan. Ia dapat bernama dengki, hasad, iri, su‘udzan, dll. Sejak pembunuhan perdana dilakukan salah satu anak adam terhadap saudaranya, sejarah dengki mewarnai hubungan antaranak manusia. Sebelumnya dengan sangat apik syaitan mengemas dengki, dusta, dan kelicikan dengan kata-kata simpatik. Baginya memasukkan sebanyak-banyaknya anak manusia ke dalam neraka jauh lebih menggiurkan daripada taubat dan perbaikan diri yang akan mengangkatnya kembali ke derajat yang tinggi.
Rasa iri yang sangat dalam kepada Adam atas kemuliaan yang ia kehendaki adalah cermin sikap pembangkangan dan anti syukur yang dominan diwariskan iblis kepada anak-anak Israil. Itu yang mendorong mereka tega melenyapkan Yusuf, adik mereka. Bahwa keshalihan menjadi obsesi lumrah yang di antara mereka nampak jelas dalam obsesi
121 | P a g e
romantik yang kelak akan mereka ‗wujudkan‘ pascaeksekusi rencana aksi makar. Suatu persepsi keshalihan orang akhir zaman yang membayangkannya dalam simbol-simbol, atribut-atribut atau ekspresi-ekspresi religius, dengan menafikan kenistaan perilaku keseharian, kebusukan praktek bisnis atau kelicikan langkah politis. “Bunuhlah Yusuf atau buang ke (sebuah kawasan bumi agar wajah ayah selalu tertuju pada kalian dan sesudah itu kalian boleh menjadi orang yang shalih.” (QS. Yusuf:9).
Bila saling menghina, buruk sangka, gampang percaya kepada provokasi, tajassus (praktek memata-matai saudara) dan ghibah (menggunjing), menjadi sebab langsung rusaknya hubungan sesama saudara, maka pelanggaran janji (naqdhul mitsaq) kepada Allah, pelanggaran komitmen dan perusakan loyalitas menjadi sebab hancurnya persatuan, maraknya permusuhan dan kebencian dan meluasnya penghianatan (QS. Al-Maidah :13-14).
Bahan Bakar Perpecahan
Bahan bajar paling marak yang diekspoitasi para politisi comberan yang memimpikan kesemestaan kaliber, kadang tampil dalam sekumpulan pendukung fanatik yang mengganti perjalanan panjang ibadah menuju surga, dengan tujuan-tujuan pendek duniawi. Mempersepsikan agama dalam mitos ilmu kebal, kanuragan, dan asihan serta menukar perangkat petunjuk yang begitu terang dan sempurna, menjadikannya kalimat-kalimat terbaca tanpa kepedulian makna, tersembunyikan tanpa melibatkan hati dan akal budi, menjadi semacam industri yang tak mengenal kritis dan karenanya harus dilestarikan. Sepanjang masa kelompok ini adalah kayu bakar bagi api unggun dan batu urugan bagi altar kurban (mezbah) besar diatasnya.
Mereka semacam keabadian yang tak terpunahkan, mengalir terus dalam ketidaktahuan. Mereka adalah amuk pembelaan kepada para pemimpin yang lebih tepat disebut sebagai peternak-peternak bodoh atau pawang orang-orang buas di kota dan desa. Mereka keabadian harapan yang menggantung pada figur-figur semu yang tak
122 | P a g e
pernah (mau atau mampu memnuhi harapan. Karena telah diperkaya dengan sejuta baik sangka dan kekebalan yang luar biasa dari kemungkinan menangkap kelicikan para pemimpin. Selebihnya segelintir penjilat yang berharap kucuran kelebihan yang mengalir dari lelehan liur sang pemimpin sambil menakut-nakuti rakyatnya dengan berbagai uniform yang melambangkan kekuatan, kekebalan, kekuasaan dan ‗kesalihan‘. Ke atas menjilat, ke bawah menginjak. Bila pekuburan telah dimulai, maka perang kesia-siaan tak terelakkan, cepat atau lebih cepat lagi. Mengguratkan luka sejarah yang pedih dan berbau busuk.
Pertarungan Paling Biadab
Barang siapa mampu membayangkan betapa sulitnya proses pengambilan keputusan dalam kasus-kasus fitnah yang melanda mulai era khalifah ke-3, akan sangat takjub betapa bijaknya para sahabat dalam menyelesaikan persoalan di antara mereka. Betapa dangkalnya hujjah mereka yang hobi bertikai, berdalih “para sahabat pun saling bertikai”. Mereka lupa Imam Ali bin Abi Thalib yang begitu disibukkan oleh kaum khawarij masih memberikan mereka hak-hak. ―Kalian berhak tiga hal atas kami: 1. Kami tak menutup pintu-pintu masjid kami, 2. Kalian berhak atas ghanimah, selama loyalitas kalian masih kepada kami, 3. Kami takkan mengayunkan pedang kepada kalian selama kalian tidak mengayunkannya kepada kami.
Ketika Ammar bin Yasir radhiyallahu‟anhu yang mnedukung Khalifah III Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib mendengar seseorang mencaci maki Ummul Mu‘minin Aisyah yang berseberangan dengan beliau dalam perang unta (ma‟rakah Jamal), ia berkata kepada orang itu, ― Celaka engkau, bukankah engkau tahu bahwa ia adalah kekasih Rasulullah Shalallahu „Alaihi wasallam dan dia adalah istrinya di dunia dan di akhirat. Tetapi Allah menguji ingin kita dengan dia, agar ia tahu apakah kita taat kepada-Nya atau kepada Aisyah.‖
123 | P a g e
Ketika para provokator memanas-manasi Imam Ali dengan pancingan takfir (pengkafiran terhadap sesama Muslim) dalam hubungan dengan Mu‘awiyah radhiyallahu ‟anhu, beliau menjawab ringan: ―Mereka adalah Ikhwan kami yang berontak kepada kami.‖ Tak ada jenazah mereka yang dibiarkan tanpa diurus secara Islam, kecuali suatu insiden yang lebih merupakan hasil ijtihad sebelum diketahuinya nash. Tak ada harta mereka yang dijadikan ghanimah atau istri dan perempuan mereka yang dijadikan saraya, di zaman yang ‗kuno‘ jauh dari era modern, saat penjarahan, pembakaran masjid, pesantren, dan madrasah sesama Muslim atau fatwa larangan berbelanja kepada sesama Muslim yang lain golongan, madzhab atau ormas telah merebak tanpa penyesalan atau permintaan maaf!
Kembali ke Identitas
Jaminan-jaminan kekalan (dhamanatul baqa‟) suatu gerakan, setelah kecermelangan istibath (analogi, konklusi) atas surat Yusuf 108 yang merumuskan 5 unsur utama jalan da‘wah tersebut, masih menyisakan 4 tuntutan.
Pertama, maukah para pendukungnya membawa ummat Muslim dan Non Muslim menuju pemahaman Islam yang benar terpadu dan jernih. Kedua, gerakan ini harus mencantumkan dalam agendanya, penegakan syari‘ah, dan khilafah serta mengeksiskan agama ini di muka bumi. Ketiga, menempuh jalan yang benar dalam rangka penegakan kedua tujuan di atas. Memulai dengan kekuatan aqidah wal wihdah (keyakinan dan kesatuan) kemudian saa‟id wa silaah (tangan dan senjata) masing-masing menurut tuntutan dan tuntunan kondisi, merupakan cara penempuhan yang benar. Gerakan yang tak menjadikan jihad sebagai bagian dari agendanya, tak patut menjadi pemimpin. Keempat, memenuhi seluruh medan dunia Islam, tidak terbelah-belah dalam pecahan-pecahan yang saling berasingan.
124 | P a g e
125 | P a g e
Tulisan Sang Murabbi :