• Tidak ada hasil yang ditemukan

Negara yang memiliki perekonomian sangat baik akan tetapi belum mencapai sebagai tahap negara maju yakni sebagai negara industri maju yang tergabung dalam OECD (disingkat Organization for Economic Cooperation and Development) pada tahun 1991 merumuskan kebijakan bantuan pembangunan yang dihubungkan dengan isu good governance.97 Melalui Conference on Good governance in East Asia yang diselenggarakan oleh Central for Strategic and International Studies (disingkat CSIS) pada tanggal 17-18 November 1999 bertempat di Jakarta, isu good governance menjadi sangat populer di Indonesia dalam waktu yang sangat singkat. Perkembangan good governance dilatar belakangi oleh persoalan penyelenggaraan pemerintahan dalam hubungan antara pemerintah dan rakyat. Beberapa persoalan penting dalam penyelenggaraan pemerintahan antara lain, menyangkut kondisi perekonomian negara, kualitas penyelenggaraan pemerintahan, korupsi, maladministrasi, dan mismenejemen.

Rendahnya kualitas penyelenggaraan pemerintahan, adanya praktek korupsi, maladministrasi dan mismenejemen dapat dicegah dengan menerapkan good governance.

Sebelum masuk dalam pengertian good governance, ada baiknya dikaji pengertian governance itu sendiri. Konsep governance lebih luas dari pada goverment sesuai dengan yang dirumuskan oleh Carolina G. Hernandez “Simply but, governance refers to the way in which organizations, whether in form of

97 Carolina G. Hernandez, “Governance Civil Society and democraty”, Conference on Good governance in East Asia Realities Problems and Challenges, Centre for Strategic and International study bekerjasama dengan Konsrad Adenauer Foundation regional Office Manila, Jakarta, 1999, h. 1. Dikutip dalam Philipus M. Hadjon dkk., Hukum Administrasi dan Good Governance, Trisakti, Jakarta, 2010, h. 3.

family, the community, the civil society, corporations, the state or regional and global organization run on managed”.98 Konsep governance menunjuk pada negara serta beberapa pihak lainnya, berbeda dengan konsep goverment yang hanya menunjuk negara sebagai organisasi yang mempunyai kewenangan tertinggi.99 Governance dapat diartikan sebagai proses penyelenggaraan kekuasaan negara dalam melaksanakan penyediaan public goods and service, akan tetapi juga pelaksanaan fungsi yang sudah dilakukan berjalan efektif dan efisien.100

Penyebutan dalam good governance bervariasi, ada yang menyebutkan Asas-Asas Umum Pemerintahan yang Baik (AUPB)101, ada juga yang menyebutkan Asas Umum Pemerintahan yang Layak sedangkan penyebutan di negeri Belanda yakni algemene beginselen van behoorlijk bestuur. Konsep Good governance merupakan asas hukum dalam Hukum Administrasi yang secara nomenklatur merupakan genus dari General Principles of Proper Administration (Asas-asas Umum Pemerintahan yang Baik), Principles of Human Rights Administration (Asas-asas Pemerintahan Berdasarkan HAM), Principles of Public Participation Administration (Asas-asas Partisipasi Publik dalam Pemerintahan)

98 Carolina G. Hernandez, Op. Cit., h. 2. Dikutip dalam Dani Elpah, Op. Cit., h. v.

99 Paulus Effendie Lotulung, Hukum Administrasi dan Good governance, Universitas Trisakti, Jakarta, 2010, h. 37. Dikutip dalam Herini Siti Aisyah, Prinsip-Prinsip Hukum tentang Pengawasan dalam Sistem Hukum Keuangan Negara, Disertasi, Universitas Airlangga, Surabaya, 2013, h. 72.

100 Sedarmayanti, Good Governance (Pemerintahan yang Baik) Dalam Rangka Otonomi Daerah Upaya Membangun Organisasi Efektif Dan Efisien Melalui Restrukturisasi Dan Pemberdayaan, Mandar Maju, Bandung, 2003, h. 4.

101 Philipus M. Hadjon dan Tatiek Sri Djatmiati menyatakan dalam buku Argumentasi hukum bahwa temuan maha besar bidang hukum administrasi dalam ilmu hukum normatif adalah Asas Umum Pemerintahan yang Baik. Philipus M. Hadjon dan Tatiek Sri Djatmiati, Argumentasi Hukum, Gajah Mada University Press, Yogyakarta, 2009, h.4.

dan Principles of Transparent Administration (Asas-Asas Transparansi Pemerintahan).102

United Nations Development Programme (disingkat UNDP) menjabarkan hubungan yang yang sinergis antara negara, sektor swasta, dan masyarakat harus berdasarkan karakteristik good governance principles sebagaimana dikutip oleh Lembaga Administrasi Negara adalah participation, rule of law, transparency, responsiveness, consensus orientation, equity, effectiveness and efficiency, accountability, strategic vision.103 Karakteristik mengenai good governance principles juga dikemukakan Addink dkk yang meliputi, properness, transparency, participation, effectiveness, accountability, dan human rights.104 Selanjutnya Henk Addink dkk menyatakan definisi good governance yakni:

“Good governance is a norm for the government and a right for the citizen in which more specific conditions have been formulated”.105 Definisi good governance ini berangkat dari dua sisi yakni dari pihak pemerintah dan sisi warga negara. Norma bagi pemerintah dan sebuah hak bagi warga negara yang diterapkan dalam keadaan-keadaan yang sangat khusus. Dengan demikian hubungan antara pemerintah dan warga negara pada hakekatnya merupakan lingkup hukum administrasi yang bermuatan norma sekaligus bermuatan hak.106

102 Henk Addink., Principles of Good governance Reader, Faculteit Rechtsgeleerheid-Universiteit Utrecht, Utrecht, 2003, h. 13.

103 Lembaga Administrasi Negara dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan, Akuntabilitas dan Good governance, Lembaga Administrasi Negara dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan, Jakarta, 2000. Dikutip dalam Herini Siti Aisyah, Prinsip-Prinsip Hukum tentang Pengawasan dalam Sistem Hukum Keuangan Negara, Disertasi, Universitas Airlangga, Surabaya, h. 24.

104 Henk Addink, Op. Cit., h. 23.

105 Henk Addink, et al., Human Rights & Good governance, Sourcebook, Utrecht, 2010, p.

14.

106 Abdullah, Op. Cit., h. 279.

Wujud dari penerapan good governance bagi pemerintah merupakan suata norma. Menurut Soikelli, L. bahwa “The principle of good administration is a modern legal standard which includes a rich variety of norms. The legality of administration can be seen as the point of departure for the concept of good administration along side the principles of objectivity and proportionality, the right to be heard and the taxpayers‟ legitimate expectations”.107 Prinsip pemerintahan yang baik berupa sebuah ukuran hukum modern sebagai sebuah norma yang penting dari norma lainnya. Disamping prinsip objektivitas dan proporsionalitas, legalitas pemerintah dapat dilihat sebagai perkembangan awal terhadap konsep pemerintah yang baik.

Pernyataan terminologi maupun teori-teori tentang good governance namun intinya good governance mendapat posisi yang utama dalam mencapai tujuan penyelenggaraan pemerintahan. Perihal ini dinyatakan dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah108 selanjutnya diubah dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah109, Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2008 tentang Ombudsman Nasional Republik Indonesia110, Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan

107 Soikkeli, L., “Luottamuksensuoja verotuksessa”, Verotus, Asiantuntija-artikkeli, Vol. 5 No. 4, 2004. Dikutip dalam Pasquale Piston, Legal Remedies in European Tax Law, IBFD, Netherlands, 2009, p.179.

108 Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587, selanjutnya disingkat UU No. 23 Tahun 2014.

109 Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679.

110 Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 139, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4899.

Publik111, dan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik112.

Terminologi good governance dimaksudkan sebagai kepemerintahan yang baik, dan ada yang mengartikan sebagai pemerintahan yang baik.113 Good governance, dalam aspek hukum administrasi menyangkut pelaksanaan fungsi pemerintahan, disamping itu juga berkaitan dengan hak asasi manusia (selanjutnya disingkat HAM). Dengan demikian tindakan penyimpangan terhadap good governance, tidak hanya melanggar HAM, tapi juga melanggar UUD NRI 1945. Berbagai Undang-Undang telah mengakomodir asas umum pemerintahan yang baik, sebagai wujud dari karakter good governance, antara lain Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, di dalam ketentuan Pasal 58 menyatakan mengenai asas umum pemerintahan yang baik, meliputi asas kepastian hukum, asas tertib masyarakat, asas kepentingan umum, asas keterbukaan, asas proposionalitas, asas profesionalitas, asas akuntabilitas, asas efisiensi, asas efektifitas, dan asas keadilan. Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2008 tentang Ombudsman Nasional Republik Indonesia dalam Pasal 3 menentukan asas-asas umum pemerintahan yakni asas kepatutan, asas keadilan, asas non-diskriminasi, asas tidak memihak, asas akuntabilitas, asas keseimbangan, asas keterbukaan, dan asas kerahasiaan. Adapun UNDP menetapkan asas-asas umum dalam good governance yang meliputi participation, rule of law,

111 Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 112, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5038. Selanjutnya disebut UU Pelayanan Publik.

112 Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 61, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4846. Selanjutnya disingkat UU KIP.

113 Ibid., h. 3.

transparency, responsiveness, consensus orientation, equity, effectiveness and efficiency, accountability, strategic vision.

Dengan asas-asas demikian, good governance menghendaki pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan harus memperhatikan asas-asas tersebut, disamping itu harus mengikuti ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku, sehingga tujuan penyelenggaraan pemerintahan yang hendak dicapai dapat terwujud. Dalam kaitan ini, hal lain yang menjadi perhatian adalah bahwa good governance akan berhasil jika didukung oleh hukum tata negara dan hukum administrasi sebagai ujung tombak.

Dokumen terkait