1.6. Metode Penelitian 1. Tipe Penelitian
1.6.2. Pendekatan Masalah
Penelitian ini menggunakan pedekatan Perundang-Undangan (statute approach), pendekatan konseptual (conceptual approach), pendekatan kasus (case approach), dan pendekatan perbandingan (comparative approach).
Penggunaan empat pendekatan dalam penelitian ini adalah untuk saling melengkapi antar satu pendekatan dengan pendekatan lainnya. Enig Cambell menyatakan bahwa untuk menganalis kasus tidaklah memamadai dengan satu pendekatan saja.153
Pendekatan peraturan Perundang-Undangan akan mencakup dua hal, yaitu metode pembentukan hukum dan metode penafsiran aturan hukum. Jan Gijssel
150 Peter Mahmud Marzuki, “Penelitian Hukum”, Op. Cit., h. 103.
151 Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Op. Cit., h 35.
152 Ibid., h. 171-172.
153 Enig Cambell, legal Research, The law of Company Ltd., Forth Edition, Sydney, 1996, p. 274.
dan Mark Van Hocke menyatakan ajaran tentang metode-metode hukum (metodesleer van het recht) yang pada dasarnya masuk dalam teori hukum sehingga dibedakan antara metode-metode pembentukan hukum (metodesleer van de rechtsvorming) dan metode-metode penerapan hukum(metodesleer van de rechtstoepassing).154 Pendekatan peraturan Perundang-Undangan juga merupakan pendekatan dengan menggunakan legislasi dan regulasi.155 Pendekatan perundangan-undangan (statute approach) mutlak diperlukan guna mengkaji lebih lanjut mengenai dasar hukum kewenangan pemungutan pajak. Secara teoritis wewenang itu memberikan dasar hukum untuk bertindak dan mengambil keputusan tertentu berdasarkan wewenang yang diberikan atau melekat padanya berdasarkan peraturan Perundang-Undangan.156 Oleh karena itu, maka perlu dilakukan penganalisaan peraturan Perundang-Undangan melalui pendekatan Perundang-Undangan yang menjadi dasar kewenangan tersebut. Pendekatan perundangan-undangan dimaksudkan dilakukan dalam rangka mengkaji dan menganalisis terhadap peraturan Perundang-Undangan yang berkaitan dengan asas pemungutan pajak dalam akses informasi keuangan untuk kepentingan perpajakan.
Melalui pendekatan konseptual (conceptual approach) ini, digunakan untuk mengkaji dan menganalisis kerangka pikir atau kerangka konseptual maupun landasan teoritis. Tujuan penelitian ini yakni mengkaji dasar normatif pemungutan pajak dalam dasar informasi keuangan berkaitan dengan pengaturan ketentuan
154 Jan Gijssel dan Mark Van Hocke, What is Rechtsteorie?, Antwerpent, Kluwer Rechtswetenschappen, 1996, p. 111.
155 Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Op. Cit., h. 47.
156 Philipus M. Hadjon, “Tentang Wewenang”, Yuridika, No. 5 & 6 Tahun XII, Sep-Des, Surabaya, 1997, h. 3-5.
umum perpajakan yang didasarkan pada teori-teori mengenai pemungutan pajak.
Oleh karena itu perlu dikemukakan hakekat keadilan, konsep pajak, dan asas pemungutan pajak, dan konsep dasar mengenai pemungutan pajak.
Pendekatan Perbandingan digunakan untuk mengetahui peraturan hukum pengampunan pajak di negara lain. Pendekatan perbandingan yang digunakan dalam penelitian ini hanya pendekatan perbandingan secara minimal (minor comparative approach), dalam rangka mengetahui pengaturan segi hukum di negara lain dapat dijadikan model hukum pembanding. Peter Mahmud Marzuki manyatakan bahwa metode perbandingan bermanfaat untuk menganalisis latar belakang terjadinya aturan hukum tertentu dalam masalah yang sama dari dua negara atau lebih.157 Untuk mengilustrasikan perlindungan hukum hukum terhadap wajib pajak dalam keterbukaan informasi perpajakan akan membandingan tiga negara yakni Australia, Perancis, dan Singapura. Perancis merupakan wakil negara-negara dengan “civil law system”, sedangkan Australia dan Singapura merupakan negara dengan “common law system”.
Singapura dan Australia merupakan negara tujuan penyimpanan aset wajib pajak Indonesia dari 5 (lima) besar negara, tujuan lainnya Hong Kong, British Virgin Islands, Cayman Island.158 Australia dengan adanya segitiga kerja sama antara perbankan Austrac PPATK Australia dengan ITO, itu menunjukkan bahwa sistem kepercayaan dinegara tersebut dapat dibangun dengan transparansi informasi keuangan dalam perpajakan. Australia Otoritas pajak Australian mempunyai wewenang berdasarkan section 263 dan 264 Income Tax Assessment
157 Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Op. Cit., h. 133.
158 Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 102/PUU-XV/2017, h. 31.
Act 1936, section 330-10 dan 353-15 Tax Administration Act 1953, section 127 dan 128 Fringe Benefits Tax Assessment Act 1986, section 76 dan 77 Superannuition Guarantee (Administration) Act 1992, untuk meminta segala jenis informasi dari pihak ketiga (termasuk bank dan lembaga keuangan lainnya).
Walaupun, Australia mengenal prinsip-prinsip kerahasiaan informasi (sebagaimana menyatakan dalam Privacy Act 1988), namun perbankan dan lembaga keuangan tidak dapat menolak permintaan informasi dari otoritas pajak.159 Singapura merupakan salah satu negara yang telah menandatangani Multilateral Competent Authority Agreement (MCAA) terkait keterbukaan informasi keuangan Singapura telah mencantumkan Indonesia sebagai salah satu mitra dalam MCAA. Singapura memberikan keleluasaan bagi otoritas pajaknya dalam memperoleh informasi perbankan. Ketentuan dalam Pasal 105J Income Tax Act (ITA) Singapura dapat meniadakan ketentuan tentang kerahasiaan perbankan Pasal 47 ayat (1) pada Banking Act sehingga petugas pajak dapat menggunakan informasi perbankan untuk kepentingan perpajakan, bahkan untuk pertukaran informasi dengan negara lain. Lebih lanjut, ketentuan dalam Income Tax Act (ITA) Pasal 105L ayat (5) mengatur bahwa seseorang yang memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam peraturan tersebut harus memberikan informasi atau rincian seperti yang dimaksud dalam peraturan tersebut kepada Dirjen Pajak (Comptroller). Untuk itu penelitian ini perlu membandingkan aturan hukum negara Australia dan Singapura.
159 Ibid., h. 103.
Pendekatan kasus (case Approach) digunakan untuk melengkapi analisis pendekatan lainnya. Moris L. Cohen menyatakan bahwa penelitian terhadap putusan-putusan pengadilan merupakan satu dari dua sumber bahan hukum yang utama. Putusan pengadilan memberikan tafsiran dari peraturan Perundang-Undangan oleh para hakim yang diberlakukan pada situasi tertentu.160 Enid Cambell menyatakan bahwa meneliti kasus-kasus peradilan dapat menemukan the ratio decidendi (the ground or reason of decison)161 atau pertimbangan pengadilan untuk sampai pada suatu putusan.162
Penelitian ini akan mencari dasar pertimbangan putusan Mahkamah Konstitusi tentang Pengujian Yudisial UU IKPP, sehingga didapatkan latar belakang pertimbangan Hakim dalam memberikan putusan tersebut. Putusan pengadilan yang dimaksud adalah Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor 102/PUU-XV/2017 yang dimohonkan oleh E. Fernando M.
Manullang pekerjaan sebagai Dosen Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan permohonan yang dilakukan oleh perseorangan. Tahap berikutnya disamping putusan Mahkamah Konstitusi tersebut, juga akan dicari latar belakang dari putusan peradilan lainnya yang berkaitan atas tanggung jawab dalam bidang perpajakan. Pertimbangan putusan peradilan dianggap tepat menjadi acuan praktek peradilan dalam kasus yang serupa.
Tatanan hukum administrasi memberikan tanggung jawab terhadap pemerintah dalam menjalankan obyek kekuasaan pemerintahan atau
160 Moris L. Cohen dan Kent C. Olson, Op. Cit., p. 5.
161 Bryan A. Garner, Op. Cit., p. 1135.
162 Enid Cambell, Op. Cit., p. 64.
penyelenggaraan pemerintahan. 163 Tiga pendekatan yang dapat digunakan dalam hukum administrasi yakni pertama pendekatan terhadap kekuasaan pemerintahan yang dalam sistem Hukum Administrasi Belanda ditekankan pada segi rechmatigheid atau keabsahan yang berkaitan dengan rechmetigheidscontrole, kedua; pendekatan HAM yang fokus pada perlindungan HAM (prinsiples of fundamental rights) dan good governance principles dan ketiga; pendekatan fungsionaris yang melihat pada perilaku pejabat yang melaksanakan pemerintahan (overheidsgedrag). Pendekatan dalam hukum administrasi tersebut dijadikan pijakan penulis untuk menyusun disertasi.