• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gratis Kok Bayar?

Dalam dokumen INKONSTITUSIONAL MEDIA MASA KINI (Halaman 189-193)

Robby Basar Alam

Hidup kita tidak akan bisa lepas dari adanya iklan. Iklan merupakan suatu penyampaian informasi secara persuasif kepada khalayak luas. Iklan dijadikan alat untuk menjual produknya, sedangkan di sisi lain para pembeli akan memiliki informasi yang memadai mengenai produk – produk barang dan jasa yang tersedia di pasar. Iklan biasanya ditampilkan melalui beberapa platform media komunikasi seperti halnya televisi, koran, radio ataupun media sosial.

Tujuan iklan pada dasarnya untuk dapat mempengaruhi rasa, pengetahuan, sikap, kepercayaan dan citra konsumen yang berkaitan dengan merek atau produk tertentu yang ditawarkan.

Sedangkan menurut John Crawford, tujuan dari periklanan adalah memberi informasi tentang barang atau jasa dan menyadarkan khalayak, menimbulkan perasaan suka dengan memberikan preferensi, meyakinkan khalayak akan kebenaran tentang apa yang dijanjikan. Dilihat dari tujuan di atas dapat diartikan bahwa tujuan utama dari adanya periklanan adalah untuk dapat menanamkan image tertentu pada para konsumen terhadap barang dan jasa yang ditawarkan. Sedangkan untuk mencapai tujuan dari periklanan, barang yang diiklankan tersebut mampu menarik perhatian dari konsumen atau khalayak, keefektifan dari kampanye iklan juga mempunyai peran yang sangat besar (Rozak dkk, 2015: 4).

Selain sebagai alat promosi iklan juga menjadi alat pengingat untuk para khalayak luas, sehingga seringkali kita melihat bahwasannya iklan akan terus ditampilkan secara berulang- ulang dalam suatu media massa. Tujuan dari pengulangan iklan tersebut untuk mengingatkan masyarakat terhadap apa iklan

yang ditayangkan sehingga dapat menimbulkan minat atau rasa terhadap produk yang ditawarkan.

Di Indonesia, dunia periklanan tumbuh seiring pertumbuhan ekonomi yang semakin berkemajuan. Fenomena seperti ini menuntut para pengiklan untuk mendapatkan strategi yang terbaik dalam menguasai dan mempertahankan pangsa pasarnya.

Iklan tidak mutlak diperlukan bagi jalannya perekonomian yang efisien, karena biasanya penawaran akan selalu mengimbangi permintaan. Hanya jika permintaan yang diinginkan produsen semakin tinggi, atau jika penawaran jauh sekali melebihi permintaan, maka iklan menjadi sangat penting. Dalam situasi ini produsen tahu batasan operasinya, yakni bahwa pertumbuhannya tergantung pada kapasitas produksinya. Namun begitu memasuki pasar, pertumbuhannya lebih ditentukan oleh kapasitasnya dalam menjual (River, 2003:182)

Dengan berkembangannya industri periklanan secara tidak langsung dapat mempengaruhi strategi pemasaran dalam menawarkan dan memasarkan produk. Dengan Adanya strategi iklan semacam ini berguna untuk dapat memasarkan suatu produk sebanyak-banyaknya kepada konsumen. Hal ini menunjukkan bahwa iklan menjadi komponen terpenting dalam komunikasi pemasaran. Iklan dibuat semenarik mungkin, sehingga terkadang dapat dinilai terlalu berlebihan, serta mengabaikan sisi psikologis, sosiologis, ekologis, dan estetika penonton atau sasaran produk yang di iklankan (Kasali, 1992:9). Meskipun periklanan memiliki banyak pengertian pribadi, kita bisa menyetujui bahwa periklanan lebih banyak digunakan dalam sistem informasi massa di kalangan masyarakat untuk tujuan ekonomi (Suhadang, 2005:20).

Iklan bukan hanya berkaitan dengan promosi produk saja melainkan juga ada nya kegiatan periklanan yang lebih struktural meliputi perencanaan, pengawasan dan pelaksanaan pembuatan iklan. Di negara-negara maju periklanan diatur dengan syarat-syarat sah, jujur dan sopan. Iklan diawasi oleh badan pengawas

agar iklan tidak melanggar kode etik periklanan yang berlaku.

Sedangkan di Indonesia terdapat sebuah regulasi yang mengatur praktik usaha dan proses beriklan yang dikenal dengan nama Etika Pariwara Indonesia atau disingkat EPI. EPI hadir sebagai pedoman utama pelaku periklanan dalam mengatur sistem tata krama dan tata cara beriklan.

Perkembangan iklan di Indonesia pada sekarang ini sudah sangat pesat, banyak iklan yang bermunculan di media massa seperti koran, televisi, radio dan juga internet. Para pelaku usaha biasanya menampilkan iklan produk mereka dengan berbagai macam dan juga banyak yang dilebih-lebih kan sehingga terkadang tidak sesuai dengan ekspektasi yang diinginkan oleh para konsumen. Seperti contohnya sebuah iklan Shopee yang menyatakan bahwa setiap hari cashback, gratis ongkir dan juga sembako harga Rp 1. Namun pada kenyataannya hanya mendapat potongan untuk harga ongkos kirim nya dan juga yang lainnya.

Sering kali iklan- iklan tersebut memuat hal-hal yang tidak benar dan juga tidak di dukung oleh kegunaan dan manfaat atau hal-hal lain yang terkait dari produk atau jasa tersebut. Terkadang juga banyak iklan hanya memuat janji-janji kosong demi dapat menarik perhatian konsumen. Sekarang ini banyak sekali iklan-iklan yang memuat janji kosong yang dapat kita temui melalui beberapa penyiaran, hal ini bisa dikatakan bahwa iklan tersebut telah membohongi dan membodohi konsumen atau masyarakat, maka iklan tersebut juga dapat dikatakan sebagai iklan yang menyesatkan. Hal seperti ini yang terkadang membuat konsumen merasa tertipu dan merasa disesatkan akan iklan.

Gambar 1.1 Iklan Shopee

Pada iklan Shopee tersebut terdapat beberapa pelanggaran hukum etika periklanan antara lain yaitu menyebutkan kata extra gratis ongkir hal ini berbanding terbalik dengan realitanya, dengan hal tersebut dapat melanggar EPI 1.2.3 (f) yang berbunyi Penggunaan kata- kata tertentu harus memenuhi ketentuan berikut: Kata “gratis”, “cuma-cuma, atau kata lain yang bermakna sama tidak boleh dicantumkan dalam iklan, jika ternyata ada biaya lain yang harus dibayar konsumen. Karena Penggunaan kata gratis tidak boleh diikuti oleh syarat syarat lain, seperti misalnya harus menambah biaya atau usaha tertentu. Hal ini bukan hanya melanggar EPI tetapi juga melanggar hak konsumen sesuai dengan yang tertera dalam Undang-Undang Republik Indonesia No.8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen Pasal 4 poin C yang berbunyi hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang atau jasa. Bukan hanya itu saja dalam pasal 10 juga menyatakan bahwa para pelaku usaha dalam menawarkan barang dan jasa yang ditujukan untuk diperjual belikan dilarang untuk menawarkan, mempromosikan, mengiklankan dan membuat pernyataan yang bersifat tidak benar seperti tawaran potongan harga ataupun gratis atau hadiah yang ditawarkan.

Dalam dokumen INKONSTITUSIONAL MEDIA MASA KINI (Halaman 189-193)