Ravida Chauria Shavir
Reformasi perkembangan industri televisi di Indonesia saat ini tidak hanya banjir dengan pujian akan peran sosial yang mendorong keterbukaan informasi, akan tetapi juga dibanjiri kritikan dari masyarakat. Banyak program televisi yang sangat kontroversi dan tidak sesuai dengan fungsi yang sebenarnya. Publik banyak melontarkan keluhan terhadap tayangan-tayangan yang memiliki dampak negatif khususnya pada anak-anak dan remaja seperti tayangan bermuatan seksual, pornografi, kekerasan dalam fisik maupun non-fisik, dan sebagainya. Seharusnya, tayangan televisi memberikan tayangan yang mendidik dan bermutu pada masyarakat. Kegunaan televisi yang membuka peluang bagi para pengguna dalam memilih informasi yang beragam (Hafiar et al., 2014).
Televisi secara ideal harus digunakan dengan sebaik mungkin.
Sebagai salah satu jenis media massa yang populer, televisi membentuk cara berpikir masyarakat, menyebarkan pesan dalam refleksi budaya pada masyarakat, dan menyediakan informasi untuk umum. Pengaruh televisi bagi masyarakat dalam fungsinya yaitu sebagai alat sosialisasi, media pengetahuan dan pandangan dunia serta agen perubahan (Littlejohn & Foss, 2005). Genre yang acapkali kerap mendapatkan sorotan dari khalayak salah satunya adalah sinetron. Sinetron yaitu kependekan dari sinema elektronik. Elektronik tidak semata mengacu pada pita kaset yang peranannya berdasarkan kaidah-kaidah elektronik. Adapun penonton sinetron tak pernah langsung memilih judul, jenis penonton lebih beragam dari tingkat ekonomi, intelektualitas, dan sebagainya (Veven Sp, 1997).
Sinetron yang bertemakan percintaan dan kisah di sekolah menjadi tayangan favorit di kalangan remaja dikarenakan tema tersebut merupakan realita yang dialami para remaja. Meskipun sinetron tersebut bertemakan percintaan remaja akan tetapi tetap harus memperhatikan moral dan etika adegan yang memberikan dampak positif pada penonton. Permasalahan sampai saat ini, banyak sinetron remaja yang masih mengeksploitasi nilai kekerasan, sadisme, dan seksual yang memberikan dampak buruk pada penonton. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) telah mengatur secara tegas dalam pembatasan dan pelarangan kekerasan dan sadisme melalui Pedoman Perilaku Penyiaran (P3). Pasal 25 (SPS) yang mengatur masalah pembatasan program kekerasan, “ Promo program siaran yang mengandung muatan adegan kekerasan dibatasi hanya boleh disiarkan pada klasifikasi D, pukul 22.00-03.00 waktu setempat.”
Selain bersifat fisik, kekerasan juga ditampilkan dalam bentuk kata-kata kasar. KPI telah melarang kekerasan ini pada pasal 24 ayat 1 dan 6, “(1) Program siaran dilarang menampilkan ungkapan kasar dan makian, baik secara verbal maupun non-verbal, yang mempunyai kecenderungan menghina atau merendahkan martabat manusia, memiliki makna jorok/mesum/
cabul/vulgar, dan/atau menghina agama dan Tuhan, (2) Kata-kata kasar dan makian sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) di atas mencakup kata-kata dalam bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa asing.” Dalam sinetron, dialog para pemain seringkali diwarnai umpatan dan kata-kata kasar yang tidak patut didengar.
Hal ini merupakan contoh buruk bagi masyarakat terutama para remaja dibawah umur. Pada remaja tentunya membawa pengaruh buruk pada perkembangan diri dan mentalnya. Maka dengan itu para penonton harus lebih efektif dalam memilih program acara yang ditayangkan terutama pada remaja dan anak-anak yang tetap dalam pengawasan orang tua. Stasiun televisi di Indonesia banyak yang menampilkan berbagai hiburan pada penontonnya
salah satunya adalah GTV. Saat ini GTV menayangkan sinetron unggulan yang berkisah kehidupan remaja yaitu IPA & IPS.
Sinetron IPA & IPS menceritakan anak sekolahan yang berbeda dalam memilih jurusan. Setiap sekolah menengah atas umumnya memiliki dua jurusan yakni IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) dan IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial). Ada dua orang bersahabat, Rifky (Anak IPS) dan Aldino (Anak IPA) yang memilih jurusan yang berbeda sehingga membuat persahabatan mereka hancur bahkan memprovokasi anak IPA dan IPS bermusuhan.
Tak hanya itu, Rifky yang menjadi Ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) semakin membuat puncak retaknya persahabatan mereka. Sinetron ini dikerjakan oleh salah satu produser yang cukup terkenal di dunia perfilman anak negeri, Muhammad Ramdani. Sinetron ini banyak menampilkan kejadian yang tidak mendidik untuk para penonton seperti tawuran, kekerasan fisik, makian, ugal-ugalan di jalan raya dan percintaan yang terlalu melampaui batas umur anak SMA seharusnya.
Pada episode ke 167 yang disiarkan pada tanggal 9 Februari 2022 Rifky (Anak IPS) menantang Ardi (Anak IPA) untuk duel di luar sekolah. Adegan tonjok dan makian sangat tidak pantas dan tidak bermoral ditambah masih memakai seragam sekolah.
Hal ini tidak patut dicontoh untuk anak sekolah. Adegan duel dan tawuran yang masih memakai seragam mungkin menjadi kebanggaan akan identitasnya menjadi anak SMA. Rifky sangatlah tidak mencerminkan attitude sebagai seorang ketua OSIS.
Gambar 1.1 Adegan Rifky mendorong Ardi di sekolah
Gambar 1.2 Keributan antara Anak IPA & IPS
Adegan tayangan IPA & IPS tentunya melanggar siaran Bab X pasal 16 ayat 2b dan 2d tentang lingkungan pendidikan yang berbunyi, “(b) tidak menampilkan perilaku dan cara berpakaian yang bertentangan dengan etika yang berlaku di lingkungan pendidikan, (d) tidak menampilkan makian dan kata-kata kasar.”
Hal tersebut sangat berbahaya jika anak-anak dan remaja yang menonton tayangan ini meniru perbuatan pada pemeran tersebut.
Seperti diketahui anak-anak sangat mudah meniru perbuatan
apa yang dilihatnya dan remaja masih belum bisa mengontrol emosi karena kondisi kejiwaan yang masih sangat labil (Diahloka, 2012). Sebagai contoh jika anak-anak mendengar kata-kata kasar, dikhawatirkan juga meniru di kesehariannya terutama jika di sekolah.
Gambar 1.3 Adegan sebelum duel antara anak IPA dan IPS di luar sekolah
Gambar 1.4 Adegan duel anak IPA dan IPS ugal-ugalan di jalan raya
Adegan ugal-ugalan anak SMA tentunya melanggar norma kesopanan dan kesusilaan. Dalam Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) Bab V Pasal 9 ayat2 yang berbunyi, “Program siaran wajib berhati-hati agar tidak merugikan dan menimbulkan dampak negatif terhadap keberagaman norma kesopanan dan kesusilaan yang dianut oleh masyarakat.” Adegan ugal-ugalan, balapan banyak dilakukan oleh para pemuda. Tak jarang antara geng satu dengan yang lainnya terjadi perkelahian.
Tayangan dengan muatan tersebut sangatlah berpotensi ditiru oleh khalayak remaja maka adegan ini tak pantas karena bisa membahayakan pola pikir remaja.
Pertikaian anak sekolah seperti adegan diatas semakin lama menimbulkan terbentuknya geng. Dampak negatif dari geng tidak hanya proses belajar dan prestasi yang terganggu, akan tetapi juga dapat merusak kepribadian sebagai seorang pelajar.
Pola pikir, sikap, dan prinsip hidup jika sudah identik dengan geng maka cenderung mengarah pada kekerasan dan tindakan yang melanggar kesusilaan bahkan dalam ranah agama. Hal yang mengikat mereka sebenarnya adalah solidaritas pertemanan yang sudah tidak wajar (Dewey G & Daniel C, 2022).
Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, maka pemilik dan pekerja media harus sadar dalam mengedepankan tanggung jawab sosial media dengan tayangan yang sehat dan diharapkan bagi masyarakat. Demikian juga dalam peran masyarakat melalui kesadaran bermedia (media literacy) tak boleh diabaikan (Afifi, 2010). Antara kedua belah dalam stakeholders penyiaran selayaknya saling bekerja sama untuk menghadirkan program siaran yang lebih sehat dan tetap mengedepankan moral.