• Tidak ada hasil yang ditemukan

Talkshow, Hiburan Masyarakat atau Hiburan Tidak Sehat?

Dalam dokumen INKONSTITUSIONAL MEDIA MASA KINI (Halaman 85-90)

Graito Sundy Kelana

Televisi merupakan sebuah media massa elektronik yang memiliki fungsi sebagai alat untuk menyebarkan informasi, edukasi, dan hiburan. Televisi menampilkan program-program siaran yang dibuat oleh stasiun televisi dengan menampilkan sebuah gambar bergerak dan memiliki suara atau biasa disebut dengan audio visual. Perkembangan teknologi yang begitu pesat menyebabkan mudahnya seseorang untuk memiliki dan menggunakan televisi sebagai alat untuk mengakses informasi, baik itu tentang politik, ekonomi, sosial budaya dan menonton hiburan. Televisi kini telah menjadi suatu bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan banyak manusia. Kebanyakan orang memilih untuk menghabiskan waktu luangnya untuk menatap layar televisi daripada menghabiskan waktunya untuk mengisi kegiatan yang lebih bermanfaat. Dibandingkan dengan media massa lainnya seperti radio, surat kabar, majalah, buku, dan sebagainya televisi tampaknya mempunyai sifat istimewa (Kuswandi, 1996 : 8).

Dengan adanya dampak positif yaitu kemudahan dalam mengakses informasi yang diberikan oleh televisi, siaran program yang ditampilkan oleh televisi juga memiliki sisi negatif, karena tidak semua program yang disiarkan di televisi adalah program yang mendidik. Sementara itu, berbagai penelitian maupun kajian ditemukan program tayangan anak yang banyak mengandung unsur kekerasan, seksualitas, mistik dan perilaku negatif yang justru membawa pengaruh buruk bagi perkembangan diri dan mental sang anak (Afifi dalam Uyun, 2009). Minimnya literasi tentang media massa membuat sedikit orang yang mengetahui

tentang dampak dari kecenderungan menonton siaran televisi yang melenceng dari Pedoman Perilaku Penyiaran (P3). Seperti kasus pelanggaran penyiaran yang dilakukan oleh program acara talk show yang seharusnya memberikan informasi dan hiburan yang bermanfaat justru malah sebaliknya. Program siaran yang sedang marak saat ini di pertelevisian Indonesia adalah acara talk show. Acara talk show sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia karena sudah banyak stasiun televisi yang membuat program acara tersebut. Talk show merupakan perpaduan antara seni panggung dan teknik wawancara jurnalistik. Wawancara dilakukan di sela-sela pertunjukan, apakah itu musik, lawak, peragaan busana, dan sebagainya (Wahyudi, 1996 : 90).

Program dalam sebuah siaran memiliki sebuah aturan yang mengikat, yang bertujuan untuk mengatur sebuah konten yang ditayangkan memiliki nilai moral yang mengedukasi masyarakat. Dalam aturan tertulis penyiaran diatur di dalam Undang-Undang No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Salah satu pasal dalam Undang-Undang No. 32 Tahun 2002 menyatakan televisi adalah media komunikasi massa dengar pandang yang menyalurkan gagasan melalui suara dan gambar secara umum baik terbuka maupun tertutup berupa program yang teratur dan berkesinambungan. Dari pasal tersebut menyatakan bahwa program dan acara yang ada pada televisi adalah milik publik dan seharusnya konten atau siaran yang ditayangkan haruslah memuat informasi yang bermanfaat bagi penontonnya. Namun dalam kenyataannya program talkshow dalam televisi lebih banyak memuat tentang kehidupan para selebriti.

Banyaknya stasiun televisi yang membuat program acara talkshow tidak menghindarkan program tersebut dari ketidakpatuhan terhadap perundang-undangan dan etika penyiaran sehingga berdampak tidak baik bagi penonton. Salah satu program talkshow yang menyalahi aturan tersebut adalah Lapor Pak yang merupakan sebuah program acara dari stasiun

televisi Trans7. Lapor Pak adalah sebuah program acara komedi kriminal dengan konsep komedi varietas, pemeran tetap dari acara ini adalah Andre Taulany, Wendi Cagur, Andhika Pratama yang masing-masing berperan sebagai komandan, Intel, dan penyidik kepolisian, sedangkan Kiky Saputri dan Ayu Tingting berperan sebagai polisi wanita dan petugas kebersihan, serta Surya Insomnia dan Hesti Purwadinata yang awalnya merupakan bintang tamu kini menjadi pemain tetap. Acara Lapor Pak ditayangkan setiap hari hari Senin-Jum’at pada pukul 21.30 – 22.45 WIB. Acara talk show yang seharusnya memberi sebuah informasi dan juga hiburan justru malah menampilkan adegan yang melanggar etika penyiaran.

Gambar 1.1 Hesti yang sedang marah sambil memukul meja

Adegan pada gambar di atas adalah potongan adegan yang ditayangkan stasiun televisi Trans7 melalui program siaran Lapor Pak pada Senin 28 Februari 2022. Dimana pada adegan tayangan tersebut konflik dimulai ketika Hesti sedang duduk mengerjakan tugas kemudian datang Andika dengan mengeluh mengatakan kekesalannya kepada komandanya yaitu Andre yang mempermasalahkan hubungan percintaan mereka. Tak lama setelahnya Hesti berdiri dan tersandung jatuh ditolong oleh

Andhika dan kemudian datang Wendi dan Kiki melihat adegan tersebut. Andhika dan Hesti langsung menjelaskan kronologi yang sebenarnya tetapi kiki dengan enteng nya menyeletuk dengan kata yang tidak mengenakan yang membuat Hesti marah dan menggebrak meja dimana yang seharusnya hal tersebut tidak patut untuk dipertontonkan karena melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) Bab III Pasal 5(b) terkait nilai dan norma kesopanan, kesusilaan, selain itu dalam P3 (SPS) Bab V Pasal 9 menyatakan bahwa lembaga penyiaran wajib menghormati nilai dan norma kesopanan dan kesusilaan yang berlaku dalam masyarakat.

Adegan yang melanggar pedoman penyiaran pada program Lapor Pak masih berlanjut ketika kiki membalas amarah hesti dengan kata-kata yang menghina Hesti dan Andhika bahwa mereka seperti koin gopek-an receh dan muka dua dimana hal tersebut melanggar Undang-Undang No. 32 tahun 2002 tentang Penyiaran Pasal 4 ayat 1 yang berbunyi penyiaran sebagai kegiatan komunikasi massa mempunyai fungsi sebagai media informasi, hiburan yang sehat, kontrol dan perekat sosial sedangkan dalam adegan yang ditayangkan oleh program siaran Laporan Pak menayangkan sebuah hiburan yang tidak sehat. Selain itu juga pada adegan tersebut Kiki dan Hesti berperan sebagai polisi wanita yang mana seharusnya menjaga dan menghormati etika profesi seperti yang dijelaskan dalam Pedoman perilaku penyiaran dan standar program siaran P3SPS Bab VI Pasal 10 ayat 1 yang berbunyi lembaga penyiaran wajib memperhatikan etika profesi yang dimiliki oleh profesi tertentu yang ditampilkan dalam isi siaran agar tidak merugikan dan menimbulkan dampak negatif di masyarakat.

Gambar 1.2 Andika Saputra dan Wendi Cagur terlibat adu mulut dengan nada tinggi

Program tayangan seperti ini tidak sepatutnya dipertontonkan kepada khalayak karena selain melanggar etika dalam penyiaran hal sedemikian juga dilarang dalam Al-Qur’an surah Al-Hujurat ayat 11 yang artinya :

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka yang diolok-olok itu lebih baik dari yang mengolok-olok.

Janganlah wanita mengolok-olok wanita yang lain karena boleh jadi wanita yang diolok-olok itu lebih baik dari yang mengolok-olok. Janganlah kamu saling mencaci dan memberi nama ejekan”.

Dengan ditampilkanya adegan yang melanggar pedoman penyiaran, program acara ini melenceng dari apa yang seharusnya ditayangkan sehingga sangat tidak baik untuk dipertontonkan kepada khalayak karena melanggar etika kesopanan, terlebih acara ini dapat ditonton oleh semua kalangan usia sehingga sangat memprihatinkan apabila ditonton oleh anak-anak.

Tatkala Moralitas Turun di Lingkungan

Dalam dokumen INKONSTITUSIONAL MEDIA MASA KINI (Halaman 85-90)