BAB II. TINJAUAN TEORITIS DAN HIPOTESIS
B. Profesionalitas Guru
1. Guru
Guru merupakan salah satu unsur dalam proses belajar mengajar (Riduwan, 2004: 19). Ia memiliki multi peran, yakni mendorong, membimbing, dan memberi fasilitas belajar bagi siswa-siswi untuk mencapai tujuan.
Thoifuri (2008: 145-146) menguraikan bahwa guru merupakan representasi orang yang ucapan dan tindakannya perlu digugu dan ditiru. Guru sebagai orang yang siap dicaci maki dan dibenci, namun tidak pernah membalasnya. Guru adalah orang yang rela berkorban untuk anak didik dan masyarakat lingkungannya. Guru adalah pelopor perubahan masyarakat dengan tanpa membawa implikasi negatif. Guru merupakan sosok orang yang ingin tahu pada semua hal untuk disampaikan pada siswanya. Guru adalah bentuk manusia yang tidak bangga ketika disanjung dan tidak sedih ketika dicaci. Guru adalah pribadi insan moderat, tidak ambisius, tanpa
pamrih, tidak cepat tersinggung, tidak suka marah, tidak lekas benci, tidak pernah putus asa, dan tidak sulit memaafkan anak didiknya. Guru adalah manusia cinta, pengembang, dan pengamal pengetahuan. Guru adalah sosok orang yang mempunyai ilmu pengetahuan lebih bila dibanding orang lain.
Selanjutnya Theofuri menjelaskan bahwa guru adalah orang yang selalu memberi pengaruh secara abadi, tetapi tidak mau tahu kapan pengaruh itu berhenti. Guru merupakan sosok manusia pewaris dan penerus berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Guru adalah mitra belajar siswa tanpa syarat. Guru merupakan pribadi yang utuh untuk merubah perilaku dan kepribadian siswa. Guru adalah manusia yang memikul beban penderitaan siswa dalam belajar. Guru adalah seseorang yang mampu memprediksi sesuatu yang akan terjadi. Guru adalah bentuk manusia yang mampu menyelesaikan problematika sosial. Guru adalah sosok manusia yang berpegang pada prinsip, jika melihat ia tahu, jika mendengar ia menghafal dan jika melakukan ia paham. Dan guru adalah figur manusia yang mampu melihat realitas alam untuk siswanya.
Pengartian guru menurut Djamarah (2000: 1, 31-42) adalah unsur manusiawi dalam pendidikan. Guru adalah figur manusia sumber yang menempati posisi dan memegang peranan penting dalam pendidikan. Dalam pengertian yang sederhana guru adalah orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada siswa. Guru dalam pandangan masyarakat adalah orang yang melaksanakan pendidikan di tempat-tempat tertentu, tidak mesti di lembaga pendidikan formal, tetapi bisa juga di mesjid, di rumah, dan sebagainya. Guru adalah orang yang bertanggung jawab mencerdaskan kehidupan siswa. Guru adalah figur seorang pemimpin. Guru adalah mitra siswa dalam kebaikan. Guru adalah spiritual father atau bapak rohani bagi siswa. Profil
guru yang ideal adalah sosok yang mengabdikan diri berdasarkan panggilan jiwa, panggilan hati nurani.
Seorang guru menurut Paul Suparno (2004: 90) diharapkan mampu mengembangkan sikap-sikap dan semangat cinta kepada siswa, menghargai nilai kemanusiaan lebih dari aturan formal serta sikap membebaskan dan bukan membelenggu.
Menurut Aqib (2009: 3) guru adalah sosok manusia yang harus digugu dan ditiru. Alma (2010: 123) menguraikan bahwa guru merupakan kunci keberhasilan sebuah lembaga pendidikan. Guru adalah sales agent dari lembaga pendidikan. Guru juga merupakan ujung tombak pendidikan. Maka baik buruknya perilaku atau cara mengajar guru akan sangat mempengaruhi citra lembaga pendidikan.
Syah (2004: 223) menguraikan guru sebagai pendidik ataupun pengajar merupakan faktor penentu kesuksesan dalam setiap usaha pendidikan. Pendapat tersebut juga diperkuat dengan pandangan Sudarminta dalam Sindhunata (2001: 256) yang mengatakan bahwa kunci keberhasilan usaha pembaharuan dan peningkatan mutu pendidikan terletak di tangan para guru. Pembaharuan kurikulum, pengadaan alat-alat belajar, sampai pada kriteria sumber daya manusia yang dihasilkan oleh usaha pendidikan selalu bermuara pada guru. Oleh karena itu peranan guru dalam dunia pendidikan sangatlah penting. Tilaar (2000: 14) mengatakan bahwa kunci utama dalam peningkatan kualitas pendidikan adalah mutu guru.
Sembiring menguraikan bahwa guru adalah pendidik profesional (Sembiring, 2009: 34). Pandangan ini diperjelas dalam undang-undang RI tentang
guru dan dosen khususnya no. 14 tahun 2005 bab 1 pasal 1. Dalam undang-undang diungkapkan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik,
membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.
Adimassana (2008: 8) dengan ditetapkannya dalam Undang-Undang Guru dan Dosen (UUGD) bahwa pekerjaan sebagai guru adalah suatu profesi maka pekerjaan guru harus memenuhi standar-standar ke-profesionalan di bidang yang bersangkutan. Jadi, menjadi guru sebagai suatu profesi bukan lagi merupakan pekerjaan biasa yang sekadar sebagai pencaharian. Secara lebih luas suatu profesi ditandai dengan ciri-ciri ke-profesionalan antara lain memenuhi standar keahlian/profesionalitas di bidang yang bersangkutan, menekankan pelayanan/pengabdian kepada masyarakat luas, pelaksanaannya dilandasi penghormatan terhadap nilai-nilai luhur kemanusiaan, mempunyai organisasi profesi yang mengkoordinasikan pelaksanaan profesi tersebut dan berwenang mengontrol proses sertifikasi, dan membutuhkan proses yang relatif lama untuk mencapai standar keahlian/profesionalitas melalui studi dan penelitian. Selain itu seorang guru diharapkan memiliki kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi.
Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran siswa yang meliputi kemampuan menguasai karakteristik siswa dari aspek fisik, moral, sosial, kultural, emosional dan intelektual. Dengan penguasaan karakteristik siswa guru dapat mengetahui kebutuhan siswa, minat dari setiap siswa, kemampuan yang dimiliki oleh setiap siswa dan pada akhirnya dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan (Anurrahman, 2009: 131). Pengenalan ini
membantu para guru untuk memilih bahan-bahan pembelajaran yang relevan dan yang menarik sehingga menambah minat dan motivasi peserta didik untuk belajar.
Dalam kompetensi pedagogik, kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran juga nampak dalam kemampuannya menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik. Dengan kemampuan tersebut, guru dapat memahami keunikan-keunikan siswa, agar peserta didik dapat berkembang secara optimal dalam proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran guru dapat memilih pendekatan-pendekatan dan model-model pembelajaran yang sesuai dengan situasi dan keadaan siswa, teknik-teknik pemotivasian yang tepat dan teknik evaluasi yang sesuai dengan keadaan siswa (Anurrahman, 2009: 82). Melalui kemampuan guru menguasai prinsip-prinsip belajar, dapat membantu guru untuk memberikan arah yang tepat agar para siswa berperan aktif di dalam proses pembelajaran. Guru dapat membantu siswa untuk mencapai hasil pembelajaran yang diharapkan (Anurrahman, 2009: 137).
Selain itu guru perlu memiliki kemampuan mengembangkan kurikulum yang terkait dengan bidang pengembangan yang diampu. Kemampuan tersebut antara lain: membuat perancangan dan pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis serta kemampuan mengembangkan kegiatan pengembangan yang mendidik. Kemampuan memanfaatkan informasi dan komunikasi untuk kepentingan penyelenggaraan kegiatan pengembangan. Kemampuan lainnya seperti memfasilitasi pengembangan potensi siswa untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki. Kemampuan berkomunikasi secara efektif, empati dan santun dengan siswa. Kemampuan menyelenggarakan penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran. Disamping itu diperlukan kemampuan melakukan refleksi untuk
peningkatan kualitas pembelajaran. Ini semua demi mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki oleh guru untuk kepentingan pencapaian tujuan pembelajaran.
Kompetensi kepribadian merupakan profil kepribadian yang harus dimiliki oleh guru. Kompetensi ini meliputi kepribadian yang mantap, stabil, jujur, dewasa, arif dan bijaksana; berwibawa, berakhlak mulia serta menjadi teladan bagi siswa dan masyarakat. Secara objektif mampu mengevaluasi kinerja sendiri dan mengembangkan diri secara mandiri dan berkelanjutan. Selain itu guru diharapkan memiliki etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru, dan rasa percaya diri serta menjunjung tinggi kode etik profesi guru.
Kompetensi sosial merupakan kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat dan sebagai makhluk sosial yang sekurang-kurangnya meliputi: kemampuan bersikap inklusif, bertindak objektif serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi. Kemampuan berkomunikasi secara efektif, empati dan santun dengan siswa, sesama pendidik, tenaga kependidikan, pimpinan satuan pendidikan, orang tua dan masyarakat. Seorang guru perlu memiliki kemampuan beradaptasi di tempat tugas di seluruh wilayah Republik Indonesia yang memiliki keragaman sosial budaya serta kemampuan berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain secara lisan dan tulisan atau bentuk lain.
Sanjaya (2010: 19) menguraikan bahwa kompetensi sosial itu meliputi kemampuan untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan teman sejawat untuk meningkatkan kemampuan profesional. Kemampuan untuk mengenal dan memahami fungsi-fungsi setiap lembaga kemasyarakatan dan kemampuan untuk menjalin kerjasama, baik secara individu maupun kelompok.
Kompetensi profesional merupakan kemampuan guru dalam penguasaan materi pengajaran secara luas dan mendalam sesuai dengan bidangnya masing-masing. Kemampuan profesinal guru menurut Soedijarto dalam Daryanto (2010: 266-277) meliputi kemampuan merancang dan merencanakan program pembelajaran, kemampuan mengembangkan program pembelajaran, kemampuan mengelola pelaksanaan pembelajaran, kemampuan menilai proses dan hasil belajar serta kemampuan mendiagnosis faktor yang mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran.
Untuk dapat menguasai kemampuan profesional, seorang guru diharapkan memiliki pengetahuan dasar dan pengetahuan profesional seperti pengetahuan tentang perkembangan dan karakteristik siswa, disiplin ilmu pengetahuan sebagai sumber bahan pelajaran, mengetahui tentang konteks sosial, budaya, politik dan ekonomi tempat sekolah beroperasi, mengetahui tujuan pendidikan, teori belajar baik umum maupun khusus, mengetahui teknologi pendidikan yang meliputi model belajar dan mengajar yang menarik, serta sistem evaluasi proses dan hasil belajar.
Sanjaya (2009: 18) menguraikan bahwa kompetensi profesional adalah kompetensi atau kemampuan yang berhubungan dengan penyelesaian tugas-tugas keguruan. Misalnya kemampuan untuk menguasai landasan pendidikan, seperti paham akan tujuan pendidikan yang harus dicapai, baik tujuan nasional, tujuan kurikuler dan tujuan pembelajaran. Paham dalam bidang psikologi pendidikan, seperti (1) paham tentang tahapan perkembangan siswa, paham tentang teori-teori
belajar; (2) memiliki kemampuan dalam penguasaan materi pelajaran sesuai dengan bidangnya; (3) kemampuan dalam mengaplikasikan berbagai metode dan strategi
pembelajaran; (4) kemampuan merancang dan memanfaatkan berbagai media dan sumber belajar; kemampuan melaksanakan evaluasi pembelajalan.
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pada pasal 1, dikatakan bahwa Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik. Sebagai seorang guru yang profesional ia dituntut dengan sejumlah persyaratan minimal. Persyaratan tersebut antara lain memiliki kualifikasi pendidikan profesi yang memadai, memiliki kompetensi keilmuan sesuai dengan bidang yang ditekuninya, memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik dengan siswanya, mempunyai jiwa kreatif dan produktif, mempunyai etos kerja dan komitmen tinggi terhadap profesinya, dan selalu melakukan pengembangan diri secara terus-menerus (Kunandar, 2007: 45-54).
Seorang guru diharapkan memiliki prinsip dalam menjalankan tugas perutusannya. Adapun prinsip yang diberlakukan bagi semua guru secara umum sebagaimana diuraikan oleh Nasution dalam Alma (2010: 149) yakni (1) guru memahami dan menghormati murid yang dihadapi; (2) memahami bahan pelajaran yang diberikan pada siswa, (3) memahami metode yang sesuai dengan situasi siswa, (4) guru menyesuaikan bahan pelajaran dengan kesanggupan siswa yang diajarnya; (5) guru mampu mengaktifkan siswa dalam belajar; (6) guru memberi pengertian pada siswanya; (7) guru mempunyai kemampuan untuk menghubungkan pelajaran dengan kebutuhan siswa; (9) guru tidak terikat dengan satu buku dan (10) guru mempunyai kemampuan menyampaikan pengetahuan dan membentuk kepribadian siswa menjadi pribadi yang utuh.
Berdasarkan uraian-uraian di atas, yang dimaksud dengan guru adalah seorang pendidik yang memiliki aneka kemampuan dalam bidang pendidikan baik menyangkut kompetensi profesional, pedagogik, sosial dan kompetensi kepribadian. Seorang guru membuat persiapan sebelum mengajar, menerangkan dengan jelas, riang, gembira, humoris, disiplin, bersahabat, perhatian, tegas, menguasai kelas, hormat pada siswa, sabar, menyenangkan, tidak membeda-bedakan siswa, dan mampu membangkitkan semangat belajar pada siswa.