• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. TINJAUAN TEORITIS DAN HIPOTESIS

A. Motivasi Belajar

2. Motivasi

kemandirian, dan perhatian dalam belajar sehingga mampu membentuk dirinya untuk tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang utuh.

D. Rumusan Masalah

Dari uraian di atas ada beberapa hal yang ingin dicermati lebih lanjut oleh penulis yang pada akhirnya menjadi titik awal dari penulisan ini. Untuk itu penulis akan memberikan perhatian khusus pada masalah-masalah sebagai berikut:

1. Apa pengertian motivasi belajar dan profesionalitas guru?

2. Bagaimana motivasi belajar para siswa di SMP Tarakanita Solo Baru Grogol

Sukoharjo?

3. Bagaimana profesionalitas guru di SMP Tarakanita Solo Baru Grogol Sukoharjo? 4. Seberapa besar pengaruh profesionalitas guru terhadap motivasi belajar para

E. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan ini adalah: 1. Menguraikan pengertian motivasi belajar dan profesionalitas guru.

2. Memaparkan motivasi belajar para siswa SMP Tarakanita Solo Baru Grogol

Sukoharjo.

3. Memaparkan profesionalitas guru di SMP Tarakanita Solo Baru Grogol

Sukoharjo.

4. Mendeskripsikan pengaruh profesionalitas guru terhadap motivasi belajar para siswa SMP Tarakanita Solo Baru Grogol Sukoharjo

F. Manfaat Penulisan

1. Bagi Para Guru di SMP Tarakanita Solo Baru

Memberikan sumbangan gagasan dan menambah pemahaman serta informasi tentang motivasi belajar bagi para siswa dalam proses pembelajaran di SMP Tarakanita Solo Baru yang dipengaruhi oleh profesionalitas guru. Penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi sumbangan bagi guru-guru SMP Tarakanita Solo Baru dalam membina diri, dengan mengupayakan dan meningkatkan profesionalitasnya baik pada kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional sehingga dapat memotivasi para siswa dalam proses pembelajaran, dan membina para siswa agar tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang utuh.

2. Bagi Yayasan Tarakanita

Memberikan sumbangan umpan balik bagi guru dalam mengembangkan profesionalitasnya dalam bidang keguruan.

3. Bagi Penulis

Menambah pemahaman akan pentingnya profesionalitas guru yang berpengaruh pada motivasi belajar para siswa.

G. Metode Penulisan

Penulisan skripsi ini penulis menggunakan bentuk penelitian kuantitatif agar memperoleh gambaran mengenai pengaruh profesionalitas guru dalam meningkatkan motivasi belajar siswa-siswi SMP di sekolah Tarakanita Solo Baru.

H. Sistematika Penulisan

Untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai penulisan ini, penulis akan menyampaikan pokok-pokok gagasan dalam penulisan.

BAB I berisi pendahuluan, yang meliputi latar belakang penulisan, identifikasi masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan.

BAB II berisi Tinjauan Teoritis, dan Hipotesis yang meliputi: motivasi belajar dan profesinalitas guru; penelitian yang relevan, kerangka berpikir, dan hipotesis. Motivasi belajar terdiri dari belajar, yakni: pengertian belajar pada umumnya, faktor-faktor yang mempengaruhi dalam belajar, motivasi pada

umumnya, yakni pengertian motivasi, hubungan motivasi dan motif, dampak motivasi, peran motivasi dalam belajar, faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya motivasi dalam belajar dan dampak dari motivasi belajar. Profesionalitas guru terdiri dari pengerian guru, pengertian profesionalitas, guru yang profesional; dengan motivasi dalam belajar.

BAB III menjelaskan metodologi penelitian yang meliputi jenis penelitian, desain penelitian, tempat dan waktu penelitian, populasi dan sampel, teknik dan instrumen pengumpulan data, teknik analisis data, teknik pengumpulan data, dan teknik pengolahan data.

BAB IV menguraikan tentang temuan umum yang terdiri dari sejarah singkat SMP Tarakanita Solo Baru, visi dan misi SMP Tarakanita Solo Baru dan gambaran situasi di SMP Tarakanita Solo Baru; temuan khusus yang terdiri dari hasil penelitian yang meliputi deskripsi data hasil penelitian, pengujian hipotesis; pembahasan, keterbatasan penelitian; usulan program kegiatan katekese umat model Shared Cristian Praxis yang terdiri dari latar belakang usulan penyusunan program, alternatif pendekatan pembinaan bagi para guru, tema dan tujuan, program Shared Cristian Praxis (SCP), petunjuk pelaksanaan program kegiatan serta contoh persiapan program Shared Cristian Praxix (SCP).

Dalam BAB V penulis menyampaikan tentang kesimpulan yang terdiri dari kesimpulan dan saran.

TINJAUAN TEORITIS DAN HIPOTESIS

Pada bab ini diuraikan motivasi belajar dan profesinalitas guru. Motivasi belajar terdiri dari belajar, yakni: pengertian belajar pada umumnya, faktor-faktor yang mempengaruhi dalam belajar, motivasi pada umumnya, yakni pengertian motivasi, hubungan motivasi dan motif, peran motivasi dalam belajar, faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya motivasi dalam belajar dan dampak dari motivasi belajar. Profesionalitas guru terdiri dari pengetian guru, pengertian profesionalitas, guru yang profesional, dan hubungan profesionalitas dengan motivasi dalam belajar.

A. Motivasi Belajar bagi Siswa

Motivasi belajar merupakan daya penggerak psikis dari dalam diri seseorang untuk dapat melakukan kegiatan belajar dan menambah keterampilan, serta pengalaman (Yamin, 2005: 80). Motivasi tersebut mendorong serta mengarahkan minat belajar siswa untuk mencapai tujuan tertentu sehingga siswa akan berusaha sungguh-sungguh dalam belajar karena termotivasi mencari prestasi. Motivasi siswa dalam belajar perlu dikembangkan dan didukung dengan adanya keterlibatan orang tua, guru, sesama, juga lingkungan sekitar, terlebih suasana lingkungan yang tercipta sehingga dapat menambah minat dan motivasi siswa dalam belajar. Melalui dukungan banyak pihak dan suasana yang mendukung dapat memotivasi siswa untuk belajar secara lebih serius sehingga pada akhirnya dapat memperoleh hasil yang ia harapkan.

1. Belajar

a. Pengertian Belajar pada Umumnya

Belajar merupakan salah satu bentuk perilaku yang amat penting bagi kelangsungan hidup manusia. Belajar membantu manusia untuk menyesuaikan diri (adaptasi) dengan lingkungannya. Proses belajar inilah yang membuat manusia dapat bertahan hidup ( survive).

Dalam pengertian umum dan sederhana, belajar seringkali diartikan sebagai aktivitas untuk memperoleh pengetahuan. Belajar adalah proses orang memperoleh berbagai kecakapan, keterampilan dan sikap (Aunurrahman, 2009: 38). Dalam hal ini seseorang dikatakan belajar bilamana terjadi perubahan, dari sebelumnya tidak mengetahui sesuatu menjadi mengetahui. Perubahan yang terjadi itu harus relatif bersifat menetap (permanen) dan tidak hanya terjadi pada perilaku yang saat ini nampak, tetapi juga pada perilaku yang mungkin terjadi pada masa mendatang. Perubahan-perubahan tersebut terjadi karena pengalaman. Pengalaman tersebut dapat menimbulkan suatu proses perubahan tingkah laku individu yang terjadi melalui interaksi dengan lingkungan. Dari uraian ini, maka yang menjadi tujuan belajar adalah perubahan tingkah laku (Hamalik, 2001: 27-28). Misalnya kebiasaan baik yang ditanamkan oleh orang tua sejak kecil akan membentuk sikap anak pada masa yang akan datang. Contoh: orang tua membiasakan anak olah raga, renang, menghormati orang yang lebih tua, selalu mengucapkan terima kasih, dan sebagainya. Hal-hal ini akan dapat mengubah perilaku anak ke arah yang baik dan benar. Perubahan tersebut akibat dari pengalaman yang ia peroleh melalui pengamatan, pendengaran, membaca, dan meniru. Oleh karena itu belajar berlangsung secara aktif, terus-menerus sampai seumur hidup dan integratif dengan

menggunakan berbagai bentuk perbuatan untuk suatu tujuan ( Supriyono, 1990: 119-121).

Pendapat tersebut dipertegas lagi oleh Winkel yang menguraikan tentang defenisi belajar. Menurut Winkel bahwa belajar pada manusia dirumuskan sebagai berikut: ”suatu aktivitas mental/psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan-pemahaman, keterampilan, dan nilai-sikap. Perubahan itu bersifat relatif konstan dan berbekas”. Namun pada kenyataannya tidak semua perubahan yang terjadi pada seseorang merupakan hasil dari suatu proses belajar. Perubahan tersebut juga dapat disebabkan karena kelelahan fisik, penggunaan obat, penyakit parah atau trauma fisik dan pertumbuhan fisik (Winkel, 1996: 53).

Perubahan yang termasuk dalam pengertian belajar menurut Daryanto antara lain perubahan yang terjadi secara sadar (Daryanto, 2010: 2-3). Contoh seseorang yang belajar akan menyadari dan merasakan adanya suatu perubahan dalam dirinya. Perubahan tersebut menjadikan seseorang akan bertambah pengetahuannya, kecakapan dan kebiasaannya juga bertambah.

Perubahan yang merupakan hasil belajar dari seseorang berlangsung secara berkesinambungan serta dapat menyebabkan perubahan pada yang lain (Daryanto, 2010: 3). Contoh seorang anak belajar menulis, akan membawa perubahan dari tidak bisa menulis menjadi bisa menulis. Perubahan semacam ini berlangsung terus-menerus hingga kecakapan menulisnya menjadi lebih baik dan sempurna. Ia dapat menulis indah, menulis dengan pena, menulis dengan kapur dan sebagainya hingga pada langkah selanjutnya ia dapat menulis surat, membuat catatan dan sebagainya. Abdillah (2002) dalam Aunurrahman menguraikan bahwa belajar merupakan suatu

kesadaran yang dilakukan oleh individu dalam perubahan tingkah laku yang baik melalui latihan-latihan dan pengalaman yang menyangkut aspek-aspek kognitif, afektif dan psikomotorik untuk memperoleh tujuan tertentu (Aunurrahman, 2009: 35).

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas yang dimaksud dengan belajar adalah suatu proses aktivitas mental/psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan tingkah laku dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti, dari belum bisa menulis, membaca dan berhitung, menjadi bisa menulis, membaca dan berhitung, yang dialami seseorang baik melalui interaksi dengan sesama, lingkungan maupun melalui pengalaman yang dijumpainya dalam hidup harian. Hal ini dapat dilihat melalui sikap dan kebiasaan rajin membaca, menulis, berhitung, berani mencoba hal baru, aktif dan melibatkan diri dalam berbagai kegiatan demi perkembangan dirinya secara utuh.

b. Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Belajar

Belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor. Daryanto (2010: 36-50) menguraikan dua faktor yang mempengaruhi belajar yakni faktor intern dan dan faktor ekstern.

1) Faktor intern

Faktor ini terdiri dari tiga, yakni faktor jasmaniah, faktor psikologi dan faktor kelelahan. Faktor jasmani, terdiri dari faktor kesehatan dan cacat tubuh. Misalnya kondisi kesehatan yang kurang mendukung karena sakit, kurang sehat dan karena cacat tubuh akan berpengaruh terhadap belajar siswa. Gangguan kesehatan juga akan mengganggu belajar siswa karena dapat membuat siswa cepat lelah dalam

belajar, kurang semangat, mudah pusing, ngantuk, badan lemah karena kurang darah dan sebagainya. Siswa yang demikian perlu mengupayakan kesehatan badan yang sehat, dengan mengonsumsi makanan yang memiliki kadar gizi yang cukup untuk membantu siswa dalam belajar. Demikian pula dengan siswa yang mengalami cacat tubuh seperti buta, tuli, patah tulang, patah kaki, pata lengan, lumpuh dapat menyebabkan siswa terganggu belajarnya. Maka siswa yang demikian hendaknya belajar pada lembaga pendidikan khusus.

Faktor psikologi terdiri dari intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan dan kesiapan. Inteligensi memiliki pengaruh yang besar terhadap kemajuan belajar. Menurut Supriyono (1990: 78) siswa yang memiliki IQ yang rendah akan mengalami kesulitan dalam belajar. Siswa yang memiliki IQ 110-140 ke atas, secara umum dapat belajar dengan baik. Tetapi siswa yang memiliki intelegensi tinggi belum pasti berhasil dalam belajarnya (Daryanto, 2010: 37). Hal ini disebabkan karena belajar adalah suatu proses yang kompleks dengan banyak faktor yang mempengaruhinya. Intelegensi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi belajar. Siswa yang memiliki intelegensi sangat rendah perlu mendapatkan pendidikan di lembaga pendidikan khusus.

Perhatian menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi belajar siswa. Siswa yang mempunyai perhatian terhadap bahan yang dipelajari akan dapat memperoleh hasil belajar yang lebih baik. Ini disebabkan karena siswa yang memiliki perhatian dalam belajar akan mampu menangkap, memahami, dan mengerti informasi yang diterimanya sehingga memudahkan dia untuk belajar. Siswa yang kurang perhatian dalam belajar, akan mudah bosan, mengantuk, dan tidak dapat berhasil dengan baik.

Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengembangkan beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati seperti belajar akan diperhatikan terus-menerus sehingga belajar menjadi menyenangkan. Bahan yang dipelajari sesuai dengan bakat, kebutuhan, kecakapan ataupun tipe yang yang dimilikinya akan memudahkan siswa dalam belajar. Hal ini dapat membuat siswa bersemangat dalam belajar sehingga siswa dapat memperoleh hasil yang memuaskan dalam belajar. Tetapi bila bahan pelajaran yang dipelajarinya tidak sesuai dengan minat, siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya.

Bakat adalah kemampuan untuk belajar yang terealisasi menjadi kecakapan yang nyata sesudah belajar atau berlatih. Misalnya orang yang mempunyai bakat mengetik akan lebih cepat dapat mengetik dengan lancar dibandingkan dengan siswa yang tidak mempunyai bakat di bidang itu. Bila ia akan mempelajari bidang studi yang lainnya, ia akan cepat mengalami kebosanan, mudah putus asa, tidak senang, dan lain sebagainya. Akibatnya nilai yang diperolehnya juga rendah. Jadi bila yang dipelajari tidak sesuai dengan bakatnya, siswa tersebut akan mengalami kesulitan dalam belajar.

Motif merupakan daya penggerak atau pendorong. Dalam proses belajar

siswa diharapkan memiliki motif untuk berpikir dan memusatkan perhatian merencanakan dan melaksanakan kegiatan yang menunjang dalam belajar. Motif tersebut dapat dibangun melalui latihan-latihan atau kebiasaan-kebiasaan dalam belajar. Supriyono menjelaskan bahwa siswa yang memiliki motivasi besar dalam belajar, akan meningkat dalam prestasi belajarnya. Namun siswa yang lemah dalam motivasi belajarnya, ia akan mengalami kesulitan dalam belajar sehingga hasil belajar yang dicapainya kurang memuaskan (Supriyono, 1990: 79).

Kematangan adalah tingkat atau fase dalam pertumbuhan seseorang, di mana alat-alat tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru. Contohnya, anak dengan kakinya siap untuk melaksanakan berjalan, tangan dengan jari-jarinya sudah siap untuk menulis dan sebagainya. Kematangan tersebut perlu dilatih sehingga anak sungguh siap dalam belajar.

Kesiapan adalah kesediaan dalam memberi respon atau reaksi yang muncul dalam diri seseorang. Dalam hal belajar kesiapan perlu diperhatikan karena siswa yang memiliki kesiapan dalam belajar akan memperoleh hasil belajar yang lebih baik.

Faktor kelelahan dapat mempengaruhi belajar. Siswa yang kelelahan akan mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi dalam belajar. Agar siswa dapat belajar dengan baik diperlukan upaya untuk menghindari kelelahan dalam belajarnya dengan cara tidur, istirahat, mengusahakan variasi dalam belajar, rekreasi dan ibadat, olah raga secara teratur, mengkonsumsi makanan yang memenuhi syarat kesehatan misalnya empat sehat lima sempurna. Dengan demikian siswa akan terbantu dalam belajar.

2) Faktor ekstern

Faktor ekstern ini terdiri dari (1) faktor keluarga, (2) sekolah, dan (3) masyarakat.

a) Faktor keluarga

Faktor keluarga misalnya bagaimana cara orang tua mendidik, relasi antara anggota keluarga, suasanan rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, dan latar belakang kebudayaan. Cara orang tua dalam mendidik anak akan

berpengaruh terhadap belajarnya. Bila orang tua memperhatikan pendidikan anak-anaknya, memperhatikan kemajuan belajar anak-anak-anaknya, memiliki hubungan yang baik dengan anak-anaknya, menyediakan waktu untuk membimbing anak-anaknya dengan sabar dan penuh pengertian, memberikan semangat pada anak, menciptakan suasana yang tenang agar anak dapat belajar dengan baik, menyediakan sarana belajar bagi anak dan memiliki ekonomi yang cukup untuk membiayai pendidikan anak-anaknya dan sebagainya maka siswa akan mengalami kemudahan dalam belajar. Tetapi bila orang tua kurang atau tidak memperhatikan pendidikan anaknya dengan sikap acuh tak acuh terhadap belajar anaknya, tidak memperhatikan kepentingan dan kebutuhan anaknya dalam belajar, tidak mengatur waktu belajar bagi anaknya, tidak melengkapi alat belajarnya, akan menyebabkan anak mengalami kesulitan dalam belajar. Selain itu, bila relasi keluarga tidak harmonis, suasana rumah bising, ramai, keadaan ekonomi lemah, orang tua terlalu membebani anaknya dengan pekerjaan rumah, serta kebiasaan yang terjadi dalam keluarga yang kurang baik, dapat mengakibatkan anak mengalami kesulitan dalam belajar.

b) Faktor sekolah

Faktor sekolah terdiri dari metode mengajar, kurikulum, hubungan guru dan siswa, hubungan siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran di atas ukuran, keadaan gedung, metode belajar, dan tugas di rumah.

Metode mengajar adalah sejumlah pengetahuan dan keterampilan yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan belajar mengajar secara efektif dan efisien (Daryanto, 2009: 389). Metode mengajar guru pada siswa memiliki pengaruh terhadap motivasi belajar siswa. Metode mengajar guru yang kurang baik seperti

guru yang kurang persiapan, kurang menguasai bahan pelajaran, menerangkannya tidak jelas, sikap guru terhadap siswa yang tidak baik akan mempengaruhi belajar siswa. Ini akan membuat siswa kurang senang terhadap pelajaran atau gurunya. Akibatnya siswa malas dalam belajar.

Demikian pula dengan guru yang menggunakan metode ceramah saja, siswa akan menjadi bosan, ngantuk, pasif, dan hanya mencatat. Metode ceramah adalah cara penyajian yang dilakukan dengan penjelasan lisan secara langsung, bersifat satu arah terhadap peserta/audience (Daryanto, 2009: 390). Tetapi guru yang progresif dan yang berani mencoba metode-metode yang baru dalam proses belajar mengajar, dapat membantu meningkatkan kegiatan belajar siswa dan meningkatkan motivasi siswa dalam belajar.

Kurikulum dipahami sebagai karakteristik mata pelajaran, muatan hasil belajar, adanya unsur reproduksi kebudayaan dan pembangunan sosial serta pentingnya kecakapan hidup (Schubert dalam Yulaelawati, 1986). Kurikulum sebagai mata pelajaran merupakan pemahaman yang menggabungkan kurikulum dengan daftar mata pelajaran yang diajarkan. Kurikulum sebagai program yang direncanakan artinya perencanaan ruang lingkup, urutan, keseimbangan mata pelajaran, teknik mengajar, cara-cara memotivasi siswa dan hal-hal yang dapat direncanakan sebelumnya dalam pelajaran. Kurikulum sebagai hasil belajar bertujuan untuk memberi fokus hasil belajar yang dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka. Kurikulum sebagai reproduksi budaya dimaksudkan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional untuk membangun generasi yang mempunyai peradaban dan martabat yang tinggi, bertahan, berdaya saing, serta mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Kurikulum juga dipahami sebagai tugas dan konsep,

atau merupakan agen untuk rekonstruksi sosial dan merupakan interpretasi kecakapan hidup (Yulaelawati, 2004: 26).

Aunurrahman menguraikan bahwa dalam rangka proses pembelajaran di sekolah, kurikulum merupakan panduan yang dijadikan guru sebagai kerangka acuan untuk mengembangkan proses pembelajaran. Seluruh aktivitas pembelajaran, mulai dari penyusunan rencana pembelajaran, pemilihan materi pembelajaran, menentukan pendekatan dan strategi/metode, memilih dan menentukan media pembelajaran, menentukan teknik evaluasi, kesemuanya harus berpedoman pada kurikulum (Aunurrahman, 2009: 194).

Daryanto (2010: 45) menguraikan bahwa kurikulum diartikan sebagai sejumlah kegiatan yang diberikan kepada siswa seperti menyajikan bahan pelajaran agar siswa menerima, menguasai dan mengembangkan bahan pelajaran. Bahan pelajaran itu mempengaruhi belajar siswa. Dengan kata lain kurikulum yang kurang baik dapat berpengaruh tidak baik terhadap hasil belajar siswa. Misalnya kurikulum yang terlalu padat, di atas kemampuan siswa, tidak sesuai dengan bakat, minat dan perhatian siswa. Oleh karena itu seorang guru diharapkan perlu mendalami siswa dengan baik, dalam mengajar harus mempunyai perencanaan yang mendetail agar dapat melayani siswa belajar secara individual.

Hubungan guru dengan siswa seperti yang terjadi dalam proses belajar mengajar akan memberi pengaruh pada belajar siswa. Guru memiliki relasi yang baik dengan siswa. Contohnya, guru memberi perhatian dengan memberi sapaan pada siswa, mampu menanggapi kebutuhan siswa dalam belajar, guru memiliki ketulusan hati dalam membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar, guru terbuka pada siswa, guru bersikap rendah hati, menyenangkan, murah hati, dan bersikap adil.

Dengan demikian relasi yang terjadi antara guru dan siswa menjadi relasi yang harmonis, yang saling mendukung demi perkembangan siswa. Relasi yang baik ini akan membuat siswa senang pada guru dan juga pada pelajaran yang diajarkannya sehingga siswa berusaha memperlajarinya dengan sungguh-sungguh.

Bila guru yang memiliki hubungan yang tidak baik dengan siswa, misalnya guru yang tidak disenangi oleh siswa karena sifatnya yang kasar, suka marah-marah, suka membentak siswa, tidak adil dan pilih kasih, tidak senyum, kehadirannya menegangkan bagi siswa dan sebagainya akan mempengaruhi siswa dalam belajar. Menurut Daryanto (2010: 46) guru yang kurang berinteraksi dengan siswa secara baik dapat menyebabkan proses belajar mengajar kurang lancar, siswa merasa jauh dari guru, membuat siswa segan untuk berpartisipasi secara aktif dalam belajar. Akibatnya siswa tidak sungguh-sungguh dalam belajar.

Hubungan siswa dengan siswa yang terjalin dengan baik akan memberi pengaruh yang positif terhadap belajar siswa ( Daryanto, 2010: 46). Tetapi siswa yang mempunyai sifat-sifat yang kurang disenangi oleh teman-temannya, atau mempunyai rasa rendah diri atau sedang mengalami tekanan-tekanan batin akan diasingkan oleh kelompok. Akibatnya siswa tersebut akan terganggu dalam belajarnya. Ini dapat membuat siswa menjadi malas untuk masuk ke sekolah karena di sekolah ia mengalami perlakuan yang kurang menyenangkan. Maka bila terjadi hal semacam ini, guru perlu memberikan bimbingan pada siswa.

Disiplin sekolah mencakup kedisiplinan guru dalam mengajar dengan melaksanakan tata-tertib, kedisiplinan pegawai/karyawan dalam pekerjaan administrasi dan kebersihan atau keteraturan kelas, gedung sekolah, halaman sekolah dan lain-lain. Seluruh staf sekolah yang mengikuti tata-tertib dan bekerja dengan

disiplin membuat siswa menjadi disiplin serta memberi pengaruh yang positif terhadap belajar siswa (Daryanto 2010: 46-47). Pengaruh tersebut antara lain dapat mengembangkan motivasi yang kuat dalam diri siswa untuk belajar, sehingga siswa dapat berkembang dalam belajar.

Alat pelajaran atau sarana-prasarana yang lengkap dapat menjadi faktor pendukung bagi siswa dalam belajar terutama pelajaran yang bersifat praktikan. Dengan adanya alat pelajaran yang lengkap dan tepat akan memperlancar penerimaan bahan pelajaran yang diberikan kepada siswa. Contohnya, pelajaran Biologi, Fisika, Kimia perlu didukung dengan alat belajar seperti mikroskop, gelas ukur, dan sebagainya. Tetapi bila alat belajar ini kurang lengkap akibatnya siswa tidak dapat belajar dengan baik. Alat belajar yang tidak lengkap dapat menjadi faktor

Dokumen terkait