BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
E. Pembahasan
Berdasarkan data yang diperoleh lewat angket, wawancara dan studi dokuman dan yang telah dianalisis bahwa uji prasyarat analisis regresi terpenuhi: uji normatif, uji linearitas, dan uji homoscedastisitas.
Hasil uji normatif dengan menggunakan Normal Probability Plot
menunjukkan bahwa sampel data berasal dari populasi yang terdistribusi normal. Ini dapat dilihat pada sebaran data yang ada terletak di sekitar garis lurus dan titik-titik data membentuk linier sehingga konstan dengan distribusi normal. Maka dapat dikatakan bahwa persyaratan normalitas terpenuhi.
Hasil uji kelineran dari motivasi (Y) berdasarkan profesionalitas (X) terpenuhi karena taraf signifikansi yang diperoleh adalah 0,000 dengan demikian 0,000 < 0,05. Ini menunjukkan bahwa kelinieran terpenuhi.
Dari hasil uji homoscedastisitas juga menunjukkan bahwa uji
homoscedastisitas juga terpenuhi, di mana Scatterplot antara standardized residual *ZRESID dan standardized value*ZPERED tidak membentuk suatu pola tertentu, sehingga bisa dianggap residual mempunyai Varience konstan (Homoscedasticity).
Dari hasil deskripsi data menunjukaan bahwa profesionalitas guru di SMP Tarakanita Solo Baru memiliki pengaruh yang besar pada motivasi belajar siswa khususnya dalam semangat, minat, perhatian, ketekunan dan kemandirian dalam belajar serta prestasi dalam belajar. Hal ini dapat dilihat bahwa kategori siswa yang menyatakan sangat bersemangat dan yang cukup bersemangat dalam belajar berjumlah 67 siswa (88,16%) dari 76 siswa, yang menyatakan kurang bersemangat dalam belajar berjumlah 9 siswa (11,84%) dari 76 siswa. Nilai rata-rata (mean) dari sub variabel semangat belajar adalah 19,75.Uraian ini menunjukkan bahwa para siswa cuku bersemangat dalam belajar.
Berdasarkan hasil wawancara profesionalitas guru di SMP Tarakanita Solo Baru cukup memberi pengaruh pada motivasi belajar siswa. Kemungkinan besar juga dipengaruhi oleh sikap guru yang ramah, antusias, dan penuh semangat sehingga dapat menimbulkan reaksi dalam diri siswa yang mendorong siswa untuk ikut aktif dan terlibat dalam belajar (Marno & Idris; 2008:86). Guru yang demikian dapat membuat siswa senang belajar dan semakin rajin untuk belajar. Guru yang mengajar dengan semangat kekeluargaan, membangun iklim kekeluargaan yang akrap dengan siswa, membuat belajar siswa tidak membosankan (Isnawati, 2010: 107).
Berdasarkan hasil kuesioner kategori siswa yang menyatakan sangat berminat berjumlah 22 siswa (28,95%) dan yang cukup berminat dalam belajar berjumlah 54 siswa (71,05%) dari 76 siswa. Nilai rata-rata (mean) adalah 15,74. Ini menunjukkan bahwa para siswa di SMP Tarakanita Solo Baru cukup berminat dalam belajar. Siswa memberikan perhatian yang intensif dalam pelajaran (Syah, 2002: 151). Dari hasil ini dapat ditarik kesimpulan bahwa pandangan para siswa terhadap pelajaran tidak membeda-bedakan, yang satu lebih rendah ataupun bernilai dari pelajaran yang lain
karena pada umumnya hampir semua siswa memiliki minat untuk belajar. Mereka memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dalam belajar. Minat tersebut muncul karena adanya suatu kebutuhan dan keinginan untuk terus belajar serta partisipasi dalam belajar, kebiasaan dan pengalaman yang dialaminya dalam belajar (Sardiman, 2010:76).
Berdasarkan hasil kuesioner diperoleh data kategori siswa yang menyatakan sangat perhatian dan cukup perhatian dalam belajar berjumlah 59 siswa (77,64%) dari 76 siswa dan yang menyatakan kurang perhatian dalam belajar berjumlah 17 siswa (22,36%) dari 76 siswa. Nilai rata-rata (mean) dari perhatian belajar adalah 22,87. Ini menunjukkan bahwa perhatian siswa dalam belajar tergolong cukup perhatian. Perhatian siswa dalam belajar ini dapat memudahkan para siswa untuk memahami informasi dari guru serta memudahkan mereka untuk menyimpan informasi dalam sistem memorinya, sehingga saat dibutuhkan, ia pun dengan mudah mampu mengeluarkan gagasan atau pendapatnya (Desmita, 2009: 125-126). Dalam hal ini upaya untuk mempertahankan perhatian siswa dalam belajar tetap perlu dikembangkan dan ditingkatkan sehingga siswa terbantu untuk selalu menyimpan informasi yang diperolehnya (Daryanto, 2010: 80).
Berdasarkan hasil kuesioner kategori siswa yang menyatakan sangat tekun dan cukup tekun dalam belajar berjumlah 41 siswa (58,7%) dari 76 siswa dan yang menyatakan kurang tekun berjumlah 25 siswa (32,9%) dari 76 siswa. Nilai rata-rata (mean) dari ketekunan belajar adalah 4,74. Hasil tersebut menunjukkan bahwa siswa kurang memiliki ketekunan dalam belajar. Ketekunan dalam belajar para siswa SMP Tarakanita Solo Baru perlu terus dikembangkan agar selalu dapat berprestasi baik.
Berdasarkan hasil kuesione kategori siswa yang menyatakan sangat berprestasi dan cukup berprestasi berjumlah 47 siswa (61,9%) dari 76 siswa dan yang menyatakan kurang berpreatasi dalam belajar berjumlah 29 siswa ( 38,1%) dari 76 siswa. Nilai rata-rata yang diperoleh dari prestasi belajar adalah 14,12. Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa prestasi belajar siswa SMP Tarakanita Solo Baru tergtolong cukup berprestasi dalam belajar. Namun yang kurang berprestasi juga ada, sebanyak 29 siswa. Maka perlu upaya dari guru untuk meningkatkan prestasi belajar dari para siswa. Data ini memperlihatkan bahwa siswa yang berprestasi dengan yang kurang berprestasi secara akademik masih lebih banyak yang berprestasi. Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa para siswa SMP Tarakanita Solo Baru yang memiliki motivasi belajar yang tergolong cukup.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan variabel profesionalitas guru dengan motivasi belajar yang dihitung dengan korelasi sangatlah besar yakni 0,971 atau 97,1%. Hal ini berarti ada hubungan yang positif dan signifikan antara profesionalitas dengan motivasi. Hubungan tersebut ditunjukkan dengan hasil signifikansi 0,000 jauh dibawah 0,05. Maka korelasi antara profesionalitas guru dengan motivasi sangatlah jelas. Dengan kata lain semakin tinggi profesionalitas guru semakin tinggi pula motivasi belajar siswa.
Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilaksanakan tampak bahwa profesionalitas guru mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap motivasi belajar siswa. Pengaruh profesionalitas guru mencapai 94,3%, persentasi ini sangat besar. Bila dilihat dari masing-masing sub variabel diperoleh data berdasarkan hasil pernyataan dari 76 siswa sebagai berikut: guru yang sangat menguasai kompetensi pedagogik dan cukup menguasai kompetensi pedagogik sejumlah 98,7% (75 siswa)
yang meliputi kemampuan guru dalam mengetahui situasi awal siswa, guru membuat persiapan dalam mengajar sesuai dengan kebutuhan siswa, guru menguasai strategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan guru mengadakan evaluasi belajar dari siswa. Nilai rata-rata (mean) dari kompetensi pedagogik adalah 63,43. Nilai ini menunjukkan bahwa kompetensi pedagogik guru tergolong cukup.
Siswa yang menyatakan guru yang sangat menguasai kompetensi kepribadian dan yang cukup menguasai kompetensi kepribadinan sebesar 97,37% (74 siswa) yang meliputi kemampuan guru untuk memiliki keterbukaan pada siswa, guru memiliki sifat kejujuran pada siswa, guru memiliki rasa tanggung jawab pada tugas-tugasnya dan guru memiliki nilai disiplin. Nilai rata-rata (mean) dari kompetensi kepribadian adalah 18,64. Nilai ini menunjukkan bahwa kompetensi kepribadian guru tergolong cukup.
Siswa yang menyatakan guru yang sangat menguasai kompetensi sosial dan menguasai kompetensi sosial sejumlah 86,8% (66 siswa). Kompetensi sosial ini terdiri dari kemampuan guru menyesuaikan diri dengan situasi yang ada, kemampuan guru menggunakan teknologi informasi dalam pengajaran, guru membantu siswa yang kesulitan dalam belajar, guru berkomunikasi secara baik dengan siswa, sesama, guru dan orang tua siswa. Nilai rata-rata (mean) dari kompetensi sosial adalah 15,62. Nilai ini menunjukkan bahwa kompetensi sosial guru tergolong cukup.
Siswa yang menyatakan bahwa guru yang sangat menguasai profesional dan menguasai profesional sejumlah 72,4% (55 siswa) yang meliputi kemampuan guru merencanakan program belajar mengajar, kemampuan guru dalam menguasai bahan pelajaran dan melaksanakan/mengolah proses belajar mengajar. Nilai rata-rata (mean) dari kompetensi profesional adalah 10,86. Nilai ini menunjukkan bahwa
kompetensi profesional guru tergolong cukup. Hasil di atas dapat disimpulkan bahwa profesionalitas guru SMP Tarakanita Solo Baru perlu dipertahankan agar motivasi belajar siswa-siswi juga meningkat sehingga pencapaian hasil belajar semakin meningkat pula.
Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa guru di SMP Tarakanita Solo Baru bahwa para guru menghayati profesinya sebagai sebuah panggilan yang mulia dalam tugas perutusannya. Dalam pengabdiannya guru merelakan hati dan menyisihkan waktu demi kepentingan siswa, demi membimbing siswa, mendengarkan keluhan siswa, menasihati siswa, bersama-sama siswa pada waktu senggang, berbicara dan bersenda gurau di sekolah saat istirahat dan sebagainya (Djamarah, 2000: 3).
Pendidikan merupakan salah satu sarana yang membantu manusia dalam pengembangan akal budi, perasaan, hati murni, kehidupan sosial, dan keharmonisan sehingga siswa bertumbuh menjadi pribadi yang utuh dan seimbang (Surani, 2008: 27). Gereja menegaskan dalam Gravissimum Educationis art. 2 bahwa pendidikan itu bertujuan untuk pendewasaan pribadi, iman, hidup bersama sebagai anggota Gereja dan warga masyarakat serta memberikan kesaksian tentang harapan ada di dalam diri mereka.
Supriadi (1999: 9) menjelaskan bahwa dasar pendidikan adalah kasih sayang, cinta yang tulus. Para guru sebagai bagian komunitas pendidikan Tarakanita di Solo Baru mempunyai peran yang besar dalam membela serta melindungi harkat dan martabat manusia terlebih pada siswa yang miskin, lemah, dan menderita akibat ketidakadilan, kekerasan dan penindasan (Surani, 2008: 28). Siswa yang mengalami pergumulan dalam hidup, perlu dibantu dan didampingi secara pribadi, diterima apa
adanya dengan segala keunikannya, sehingga ia dapat berkembang menjadi pribadi yang tangguh dan berani menghadapi tantangan di masa mendatang.
Berdasarkan hasil wawancara dengan responden satu di SMP Tarakanita Solo Baru bahwa para guru tidak hanya mengajarkan bahan yang telah mereka siapkan pada siswa, akan tetapi juga bertanggung jawab terhadap pelaksanaan bimbingan belajar dan penanaman nilai-nilai moral demi pembentukan karakter siswa ke arah yang baik.
Responden satu:
“Kami ya, tidak hanya mengajarkan materi semata-mata ya, namun juga tetap punya tanggungjawab membimbing dan menanamkan nilai-nilai moral pada anak-anak ya, agar mereka juga memiliki karakter yang lebih baik dari yang sebelumnya”.
Berdasarkan wawancara dengan responden tiga, bahwa siswa usia SMP sedang dalam masa transisi dari masa kanak-kanan ke masa remaja, sehingga dalam mengikuti proses pelajaran tampak labil. Hal ini berdampak pada materi atau bahan untuk mengajar yang telah dipersiapkan dengan matang, terkadang tidak sesuai dengan kebutuhan siswa.
Responden tiga:
“Ya kita menyadari ya, bahwa usia SMP itu kan dalam masa transisi dari anak ke remaja. Emosinya pun sering labil. Kadang materi yang telah kita siapkan dalam prakteknya mengalami perubahan. Karena apa, ya karena tidak sesuai dengan kebutuhan siswa saat itu. Ya kita sebagai guru, pandai-pandai aja membuat inprofisasi. Metode berbeda tapi tujuan tetap tercapai”.
Menurut Aunurrahman (2009: 176) menguraikan bahwa meskipun guru secara sungguh-sungguh telah berupaya merancang dan melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan baik, tetapi tantangan belajar akan tetap dijumpai oleh guru. Kegiatan belajar merupakan hal yang dinamis, sehingga menantang sekaligus menjadi peluang bagi para guru di SMP Tarakanita Solo Baru untuk terus-menerus
mencermati perubahan-perubahan yang terjadi pada siswa di kelas. Maka guru yang profesional perlu memahami tentang masalah-masalah belajar yang dialami oleh siswa sehingga guru dapat mengantisipasi berbagai kemungkinan yang muncul dalam proses pembelajaran. Melalui berbagai keahlian yang dimilikinya, guru mampu mengkaji secara kritis permasalahan yang sering dialami siswa dalam belajar agar tujuan belajar siswa dapat tercapai dengan baik.
Responden tiga dalam wawancara mengatakan bahwa guru sebagai pembimbing belajar siswa di SMP Tarakanita Solo Baru mengadakan pendekatan secara personal dalam setiap proses belajar mengajar. Melalui pendekatan ini guru mampu mengenal dan memahami siswa secara lebih dalam. Pengalaman ini membantu para guru untuk memilih materi atau bahan dan metode yang sesuai dengan kebutuhan siswa sehingga dapat membantu siswa untuk belajar dengan baik dan pada akhirnya memperoleh hasil yang optimal. Pendekatan tersebut juga dijadikan sebagai peluang dan pintu masuk bagi para guru untuk dapat bekerjasama dengan orang tua siswa dalam meningkatkan motivasi balajar siswa.
Berdasarkan wawancara dengan wakil kepala SMP Tarakanita Solo Baru bahwa pengembangan profesionalitas guru di SMP Tarakanita dilakukan dengan mengikuti kegiatan penataran yang diselenggarakan oleh dinas pendidikan ataupun yayasan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam mengajar. Melalui penataran para guru mendapat bahan-bahan pengajaran yang sesuai dengan keahliannya. Guru juga mendapat pembekalan tentang strategi proses belajar mengajar, media dan alat-alat pelajaran, serta prosedur dan alat-alat evaluasi. Bahan-bahan bertujuan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam mengajar sehingga mampu pula meningkatkan motivasi siswa dalam belajar. Pihak sekolah juga menyelenggarakan
kursus bersama seperti kursus komputer, kursus bahasa untuk meningkatkan keterampilan para guru dalam menggunakan berbagai cara agar siswa semangat untuk belajar.
Berdasarkan buku Pedoman Supervisi yang dikeluarkan oleh Yayasan
Tarakanita bahwa Yayasan Tarakanita mempunyai cara untuk meningkatkan profesionalitas gurunya. Yayasan keberjasama dengan unit karya memberikan kesempatan pada guru-guru yang ingin mengembangkan keilmuannya dengan menempuh studi lanjut; menyelenggarakan pembekalan dan pembinaan untuk para guru berkaitan dengan adanya perubahan kurikulum agar memiliki arah gerak yang sama demi pencapaian tujuan belajar; membuat pedoman penilaian bagi guru yang berupa Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan (DP3). Pengembangan ini diadakan setiap semester di unit karya masing-masing, sehingga mendukung pelaksanaan kegiatan evaluasi bersama setiap akhir tahun pelajaran. Adapun tujuan evaluasi ini adalah untuk melihat hal-hal yang telah dilakukan, mana yang telah meningkat dan hal-hal yang masih kurang sehingga perlu dikembangkan. Para guru juga diberi kesempatan untuk mengadakan penelitian tindakan kelas untuk memperbaiki hasil balajar siswa sehingga menemukan peluang dalam setiap tantangan.
Berdasarkan sharing dari beberapa guru dan karyawan bahwa yang sering dilakukan oleh SMP Tarakanita Solo Baru adalah menyelenggarakan rekoleksi bersama (guru dan karyawan) untuk memaknai setiap peristiwa yang telah dilalui dalam terang iman sehingga menjadi inspirasi yang dapat mengembangkan semangat para guru dalam melayani para siswa, mengadakan seminar untuk para guru dengan mengundang narasumber yang sungguh kompoten; membangun jejaring dan kerjasama yang baik dengan lembaga pendidikan lainnya ataupun dengan pihak
pemerintah setempat, mengikuti seminar yang diselenggarakan oleh pihak Yayasan Tarakanita dan lain sebagainya.
Berdasarkan buku Pedoman Supervisi yang dikeluarkan oleh Yayasan
Tarakanita, ditetapkan ada tiga komponen umum dan tiga komponen khusus yang perlu dilaksanakan untuk mengisi DP3 di SMP Tarakanita Solo Baru. Tiga komponen umum tersebut terdiri dari komponen spiritual dan katolisitas, komponen kualitas pribadi dan komponen semangat persaudaraan. Komponen ini berlaku bagi semua yang bekerja di Yayasan Tarakanita baik tenaga edukatif maupun non edukatif.
Komponen spiritualitas dan katolisitas terdiri dari kesadaran akan makna hidup yang diungkapkan dengan rasa syukur dalam iman dan semangat pembaharu dengan memperbaiki sikap baik diri sendiri maupun komunitas serta berusaha menemukan cara atau teknik baru untuk meningkatkan kinerja diri sendiri dan orang lain.
Komponen kualitas pribadi terdiri dari disiplin misalnya selalu berada di tempat tugas, datang tepat waktu; tanggung jawab seperti menjaga dan memelihara sarana prasarana yang menjadi tanggung jawabnya serta melaksanakan tugas yang menjadi tanggungjawabnya dengan laporan tertulis, lengkap dan tersusun secara sistematis; kejujuran dengan tidak menyalahgunakan wewenang serta laporan tugas dan tanggung jawabnya sesuai dengan keadaan yang sebenarnya; loyalitas dengan adanya kemampuan menjaga dan memegang teguh rahasia sekolah atau yayasan dan jabatan serta membela nama baik sekolah atau yayasan, adanya kesetiaan mematuhi dan menjalankan semua tata tertib dan peraturan yang berlaku di sekolah atau yayasan, serta adanya kesiap sediaan menerima tugas yang diberikan atasannya di
luar tugas rutin yang menjadi wewenangnya; dan kesehatan dengan menjaga dan memelihara kesehatan dengan baik sehingga mendukung kinerja guru.
Komponen semangat persaudaraan antara lain kerjasama, keterbukaan dan solidaritas. Kerjasama mengandaikan seorang guru memiliki kesediaan untuk bekerjasama dengan orang lain menurut waktu dan bidang tugas yang ditentukan. Sikap terbuka berarti seorang guru mempunyai kemauan untuk menerima keputusan atau kritikan yang diambil secara bijak demi kepentingan bersama. Sedangkan sikap solidaritas mengandaikan seorang guru mempunyai kepekaan terhadap masalah yang dihadapi orang lain atau teman sejawat juga terhadap siswa yang dilayaninya. Maka seorang guru sungguh dituntut untuk memiliki kualitas hidup yang dapat dijadikan contoh bagi para siswa.
Tiga komponen khusus yang perlu dimiliki oleh seorang Guru Tarakanita yaitu komponen pedagogik/pengajaran: prestasi kerja sebagai guru kelas/bidang studi yang meliputi adanya pemahaman dan pengembangan kurikulum, terlaksananya analisis soal, terlaksananya analisis hasil ulangan dan program perbaikan dan pengayaan; komponen administrasi: kemampuan guru dalam mengelola proses pembelajaran dan pengembangan profesi: kemampuan belajar mengikuti perkembangan IPTEK yang meliputi adanya kemampuan meningkatkan dan mengembangakan profesinya melalui bacaan/pertemuan profesi/seminar lokakarya, diskusi/karya ilmiah, penelitian/media elektronik.
Pengembangan profesionalitas guru itu penting dalam hubungannya dengan kegiatan belajar mengajar (Daryanto, 2010: 104), terlebih dalam meningkatkan motivasi belajar siswa agar siswa berhasil dalam belajar. Dikatakan penting karena dalam proses belajar mengajar seorang guru dituntut untuk dapat mengembangkan
berbagai kemampuan yang ia miliki untuk membantu siswa dalam belajar. Siswa perlu dimotivasi dalam belajar dengan berbagai bentuk dukungan, perhatian agar intensitas belajarnya pun meningkat sehingga dapat mencapai hasil belajar yang optimal. Seorang guru membutuhkan keterampilan untuk dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Maka dengan adanya pengembangan profesionalitas guru dapat menjadi sarana bagi para guru untuk mengevaluasi kembali tugas dan pelayanannya selama ini serta mengupayakan agar ke depannya ia semakin baik. Hal ini juga dapat membantu para guru untuk menemukan hal-hal baru untuk mengatasi berbagai kesulitan dan tantangan saat berhadapan dengan realita siswa yang memiliki persoalan yang kompleks.