• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV STUDY KRITIS SANAD, MATAN, DAN PEMIKIRAN

D. Hadis Tentang Kewajiban Mandi Pada Hari Jumat

Hadisnya adalah

Mandi pada hari jumat adalah wajib atas setiap orang yang telah bermimpi (HR. al-Bukhârî, Muslim, dan lain-lain)

Hadis ini berhubungan dengan hadis sebelumnya. Jika sebelumnya

berbicara tentang keharusan mandi jum‟at karena kondisi badan dan pakaian yang

jarang dibersihkan. Maka dalam hadis ini keharusannya lebih dikarenakan telah bermimpi baligh.

Mengenai sanad hadis keempat ini senada dengan informasi yang tedapat dalam hadis ketiga, yaitu terdapat dalam kitab kitab al-Mu„jam al-Mufahrâs Li Alfâz al-Hadîst al-Nabawî terdapat isyarat yang menyatakan bahwa hadis tersebut terdapat dalam kitab-kitab hadis, yaitu Kha, jum„ah (di dalam kitab Sahîh al-Bukhârî kitab Jumat) 2, 3, 5, 6, 12, dan 26. Adzan 161, syahadah 185. Mim (Sahîh Muslim) Musafirin 26 dan 27 dan Jum„ah 1, 2, 3, dan 6-8. Dal (Sunan Abî Dâwud) Taharah 127 dan 128. Ta (Sunan al-Tirmidzî)Jum„ah 29. Nun (Sunan

80, dan 83. Di (Sunan al-Dârimî) Salat 190. T (al-Muwatta) Jum„ah 2 dan 4.

Hamim (Musnad Ahmad bin Hanbal) 1, 51, 46, dan 365.32

Kitab Sunan al-Nasâ‟î

Dalam riwayat al-Nasâ‟î, sanad-sanadnya adalah Muhammad bin Salamah Abû al-Harits al-Misri, Ibn Wahb, „Amr bin al-Harist, Sa „id bin Abî Hilâl dan Bakir bin al-Asyjâ, Abî Bakr bin al-Munkadir, „Amr bin Salîm, „Abd al-Rahmân

bin Abî Sa„îd al-Khudrî dari Abî Sa„îd al-Khudrî.

Hadis yang diriwayatkan oleh al-Nasâ‟î ini memenuhi kriteria kesahihan sanad hadis, yaitu terdapatnya ketersambungan sanad, periwayat-periwayatnya bersifat „âdil dan dâbit. Perawi hadisnya juga harus terhindar dari ke-syaz-an dan terhindar dari „illat.

Kitab Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal

32 Weinsinck, Mu‟jam al-Mufahras li alfâz al-Hadîs al-Nabawiyah. Jilid I h. 370.

33 al-Nasâî,

Sunan al-Nasâ‟î al-Kubrâ, bab Ijab al-Ghusli Yaum al-Jum„ah juz I h. 520 dan 521. Pada bab al-Siwak Yaum al-Jum„ah, Juz I h. 519.

Begitu pula sanad-sanad yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Hemat penulis seuruhnya berkualitas sahih karena sanadnya tersambung, periwayat-periwayatnya bersifat „âdil dan dâbit, dan terhindar dari ke-syaz-an serta terhindar dari „illat. Sanad-sanad adalah „Abdullâh, Abî (Ahmad bin Hanbal), Sofyân, Sofwân bin Salîm, „Ata bin Yasâr dari Abî Sa„îd al-Khudrî.

Sedangkan hadis yang awal matannya tidak diawali kata (al) yaitu: Kitab Sunan Abî Dâwud

Sanad-sanadnya adalah „Abdullâh bin Musalamah bin Qa„nab, Mâlik,

Safwân bin Salîm, „Ata bin Yasâr dari Abî Sa„îd al-Khudrî. Kitab Sunan Ibn Mâjah

34 Hanbal,

Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal, juz III h. 6, 30, 60, 65, dan 69.

35 al-Sijistanî,

Sunan Abî Dawud, bab Fi al-Ghusli Yaum al-Jum„ah juz I h. 134. Pada 135 dan 136 pun terdapat tema yang sama dengan sanad yang berbeda.

Rangkaian sanad sebagai berikut: Sahl bin Abî Sahl, Sufyân bin „Uyainah,

Safwân bin Salîm, „Ata bin Yasâr dari Abî Sa„îd al-Khudrî. Kitab Sunan al-Nasâ‟î

Rangkaian sanad-sanadnya adalah Qutaibah bin Sa„îd, Mâlik, Safwân bin

Salîm, „Ata bin Yasâr dari Abî Sa„îd al-Khudrî. Dari seluruh rangkaian sanad-sanad hadis mengenai kewajiban shalat jumat bagi yang telah bermimpi baligh, baik yang diawalai dengan kata (al) maupun tidak, hemat penulis bahwa sanad-sanadnya berkualitas sahih. Karena sesuai dengan kesahihan sanad hadis seperti sanad-sandnya bersambung, periwayat-periwayatnya bersifat „âdil dan dâbit. Perawi hadisnya juga harus terhindar dari ke-syaz-an dan terhindar dari „illat.

2. Kritik Matan

Sebagaimana kriteria kesahihan matan, langkah-langkah yang dilakukan penulis. Pertama, penulis akan meneliti dari sisi bahasa Arab untuk kesesuaian dengan bahasa kenabian. Sebelumnya, perlu diketahui bahwa hadis ini secara umum mengenai anjuran mandi pada hari jumat, dan dikhususkan bagi mereka yang telah bermimpi. Melalui pendekatan bahasa, penulis mengambil sebuah kata yang dianggap penting, yaitu Muhtalimun. Kata Muhtalimun merupakan asal kata

36 al-Quzwînî,

Sunan Ibn Mâjah, Bab Ma Ja‟a Fi al-Ghusli Yaum al-Jum„ah Juz I. h. 346. Pada bab lain terdapat tema yang sama yaitu pada bab Ma Ja‟a Fi Zinati Yaum al-Jum„ah juz I h. 346.

37 al-Nasâ‟î, Sunan al-Nasâ‟î al-Kubrâ, bab Ijab al-Ghusli Yaum al-Jum„ah juz I h. 520. Pada tema yang sama juga dikemukakan oleh al-Nasâ‟î pada bab al-Hai‟atu Lial-Jum„ah, Juz I h. 523.

dari ihtalama-yahtalimu, kata tersebut merupakan isim fâ„il yang berarti orang yang bermimpi atau baligh. Kata tersebut sering digunakan oleh Rasulullah saw. ketika menunjukkan bahwa seseorang tersebut telah dewasa, dan amat banyak hadis yang menunjukkan hal itu.

Kedua, penulis mengemukakan melalui pendekatan pendapat para ulama. Hadis ini hampir serupa dengan hadis kajian penulis sebelumnya. Namun pada hadis ini lebih dikhususkan kepada orang-orang yang telah bermimpi baligh. Menurut al-„Ainî, hadis mengenai kewajiban mandi tersebut tidak dianjurkan kepada yang belum bermimpi baligh, dan amat dianjurkan bagi yang telah bermimpi baligh untuk mandi pada shalat jumat.38

Ketiga, penulis mengemukakan dengan pendekatan sejarah, hadis ini mempunyai sabab yang sama, tetapi berbeda dalam hal pengkhususan. Hadis sebelumnya menunjukan sebab bau badan salah seorang sahabat yang sangat menyengat dari pakaian yang jarang dicuci. Pada hadis ini kewajiban mandi dikhususkan bagi mereka yang telah bermimpi, terlebih bagi orang yang jarang mandi lalu hendak melakukan shalat jumat, maka hal itu diwajibkan.

Keempat, kesesuaian dengan prinsip agama. Sebagaimana halnya hadis sebelumnya yang mengindikasikan kesucian, kebersihan, dan keindahan adalah sejalan dengan syariat Islam. Oleh karena itu, hadis ini tidak bertentangan dengan agama. Dengan demikian, setelah dikemukakan empat macam pendekatan kesahihan matan hadis, dapat penulis simpulkan bahwa matan hadis tersebut sahih.

38 al-„Ainî al-Hanafî, „Umdat al

-Qâri Syarh Sahîh al-Bukhârî, Juz 10 h. 66. Hal senada

juga diungkapkan oleh Ibn Rajab, namun ia mengemukakan bahwa hadis ini menunjukkan kewajiban khusus bagi orang-orang yang telah bermimpi, karena mereka hendak mendirian shalat jumat. Zainudîn Abî Farâj Abd Rahmân Ibn Syihâb Dîn Baghdadî Dimasyqî al-Syahîr bi Ibn Razab, Fath al-Bârî Li Ibn Rajab (Dar Ibn al-Jauzi) juz 5 h. 340.

3. Pemikiran M. Syuhudi Ismail Tentang Hadis Kewajiban Mandi Pada Hari Jumat

M. Syuhudi Ismail mengemukakan pendapatnya mengenai hadis tentang kewajiban mandi pada hari jumat dengan mengutip pendapat hadis sebelumnya (Mandi pada hari Jumat). Dapat dikatakan bahwa pemikiran M. Syuhudi Ismail pada hadis ini, pemahamannya adalah secara kontekstual. Ia menyatakan bahwa masyarakat yang terbiasa mandi dua kali sehari dan bau tubuhnya tidak mengganggu masyarakat lainnya maka ia tidak diwajibkan mandi.

Adapaun bagi mereka yang jarang mandi dan jarang mengganti pakaian diwajibkan mandi sebelum melaksanakan shalat jumat.39 Pada hadis ini, M. Syuhudi Ismail menyatakan bahwa hadis ini difahami secara kontekstual dan pemikirannya mengacu kepada hadis sebelumnya yang membicarakan tema yang sama. Namun hemat penulis, pada hadis ini M. Syuhudi Ismail tidak menyinggung bahwa hadis ini diwajibkan bagi mereka yang telah bermimpi baligh.

Dalam hadis ini terlihat bagaimana Syuhudi mengaitkan pemahamannya dengan hadis sebelumnya. Karena dalam hadis diatas tiadak terdapat asbâb al-wurûd. Maka ia menganalogikan keharusan mandi jumat karena telah bermimpi

baligh dengan keharusan yang disebabkan kotornya pakaian dan badan, lebih lagi jika dua hal tersebut terjadi secara bersamaan.

E. Hadis Tentang Syair (Puisi) dan Nanah