• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hak Atas Tanah dan Pengakuan Terhadap Hak-Hak

Dalam dokumen MENEMUKAN HAK ATAS TANAH PADA STANDAR HA (Halaman 84-86)

C. Pertimbangan Hak-hak Lainnya

III.3. Hak Atas Tanah dan Pengakuan Terhadap Hak-Hak

H

AK ATAS TANAH juga telah dijamin dalam beberapa kerangka instrumen hukum yang menjamin perlindungan hak-hak terhadap perempuan. Di dalam Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (the Convention on the Elimination of all forms of Discrimination Against Women, CEDAW) diterangkan bahwa negara-negara pihak dari konvensi untuk “mendapat akses atas kredit dan pinjaman pertanian, fasilitas pemasaran, teknologi yang tepat guna dan perlakuan dalam reformasi

pertanahan dan agraria serta dalam rencana-rencana pemukiman kembali”.160

158 Meskipun tidak ada korelasi langsung antara jaminan perlindungan kebebasan beragama, beribadah dan berkeyakinan dengan hak atas tanah, namun demikian, dalam banyak studi kasus bisa diilustrasikan bahwa 2 kategori hak ini memiliki tautan yang bisa dihubungkan, khususnya jika kategori hak ini terlanggar pada satu kelompok sosial minoritas ataupun dalam konteks ini adalah masyarakat hukum adat. Dalam konteks masyarakat hukum adat, terdapat situasi yang lebih kompleks khususnya ketika hak-hak mereka mereka (baca: masyarakat hukum adat) kerap dipinggirkan pada tafsir penggunaan tanah yang juga dijadikan medium utama dari pembangunan. Lihat: the United Nations. 1995. Principles and Guidelines or the Protection of the Heritage of Indigenous People. Para. 22. Dokumen dapat diakses di: http://ankn.uaf.edu/ IKS/protect.html. Diakses pada 25 Januari 2005. Hal ini juga dipertegas dalam studi kasus dan kunjungan yang dilakukan di Argentina, yang dilakukan oleh Pelapor Khusus PBB untuk isu Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan untuk perlindungan masyarakat hukum adat Mapuche. Pelapor Khusus menerangkan bahwa dimensi keagamaan dan keyakinan yang dimiliki oleh masyarakat hukum adat Mapuche memiliki tautan yang erat dengan identitas mereka sebagai masyarakat hukum adat yang mempunyai relasi dengan tanah dan sumber-sumber penghidupan yang menunjang ekspresi adat, tradisi, keyakinan dari masyarakat hukum adat. Para 112,113,150. Lihat: The United Nations. Excerpts of relevant paragraphs of 25 years mandate reporting practice (1986-2011). Dokumen dapat diakses di: http://www.ohchr.org/EN/Issues/FreedomReligion/ Pages/IstandardsI3b.aspx. Diakses pada 25 Januari 2015. Lihat: Jeremy Gilbert. 2006. Indigenous Peoples’ Land Rights Under International: From Victims to Actors. Dapat dilihat di: https://books.google.co.id/ books?id=mWewCQAAQBAJ&pg=PA138&lpg=PA138&dq=cemetery+and+land+rights,+international+law& source=bl&ots=5mrD7VUlz5&sig=D2VbqcNPj2kvSQiPBC_RXZRaQqo&hl=en&sa=X&ved=0CBwQ6AEwAG oVChMIg7Wk0rn2xgIVDJGOCh3C7Qae#v=onepage&q=cemetery%20and%20land%20rights%2C%20inter national%20law&f=false. Diakses pada tanggal 25 Januari 2015.

159 Lihat: Annex I, report of the seminar on the draft principles and guidelines for the protection of the heritage of indigenous peoples. UN Doc E/CN. 4/Sub.2/2000/26, Para. 3.

160 Lihat: the Convention of the Elimination of all forms of Discrimination Against Women (1979). Dokumen dapat diakses di: http://www.ohchr.org/EN/ProfessionalInterest/Pages/CEDAW.aspx. Pasal 14(g)

Konvensi ini juga menyediakan jaminan hak-hak yang sama, “bagi kedua pasangan sehubungan dengan kepemilikan, pembelian, pengelolaan, administrasi, penikmatan dan pelepasan hak milik, baik secara cuma-cuma maupun dengan pertimbangan nilai harga” dalam lembaga sosial pernikahan.161

Kesetaraan hak untuk memiliki, membeli dan menjual properti juga dijamin sebagai bagian hak-hak yang melekat pada perempuan tanpa harus melihat status pernikahannya.162 Sementara hak atas tanah tidak sepenuhnya

terelaborasi dengan spesifik di dalam instrumen ini maupun instrumen

hukum HAM internasional yang lain, namun kerangka instrumen hukum HAM internasional secara jelas menjamin adanya prinsip non-diskriminatif dan kesetaraan bagi setiap orang, tanpa membedakan suku, agama, ras, jenis kelamin, dan preferensi lainnya.

Selain itu hak tanah juga memiliki irisan yang kuat pada hak-hak dari keluarga jika kita memeriksa kembali konsep hak atas properti yang juga melekat pada isu hak-hak dari keluarga, terutama relasi antara suami dan istri, di mana biasanya di dalam banyak tradisi dan kebiasaan kewenangan para suami yang juga menjadi kepala keluarga biasanya kerap mendapatkan hak istimewa untuk mengelola hak-hak properti di bawah tanggung jawabnya. Hal ini sebagaimana yang disinggung oleh oleh Pelapor Khusus untuk Pemenuhan Perumahan yang Layak:163

Di hampir semua negara, apakah negara-negara yang telah berstatus maju ataupun berkembang, konsep legalitas dari kepemilikan oleh perempuan biasanya amat tergantung dengan kehadiran para laki- laki yang terkait dalam suatu relasi dengan mereka. Para perempuan yang menjadi kepala rumah tangga dan para perempuan kebanyakan biasanya tidak mendapatkan hak keistimewaan ketimbang laki-laki. Sangat sedikit dari para perempuan yang bisa menguasai hak milik atas tanah. Bagi para perempuan yang berpisah atau bercerai dengan suaminya tanpa kepemilikan properti dan tanah, atau bahkan tanpa ada keluarga yang merawat mereka biasanya akan berakhir di tempat yang kumuh, di mana tidak ada yang bisa menjamin bahwa keamanan dari si perempuan itu untuk melanjutkan hidup dapat berlangsung dengan baik.

(tentang perlindungan terhadap hak-hak perempuan pedesaan, termasuk hak untuk mendapatkan perlakuan yang setara pada isu reformasi tanah dan agraria, dan Pasal 16 (tentang kesetaraan gender dalam relasi pernikahan dan keluarga). Diakses pada tanggal 25 Januari 2015.

161 Ibid. Pasal 16(h).

162 Ini ditegaskan di dalam Rekomendasi Umum Nomor 21 yang menerangkan di negara-negara yang masih menjalankan agenda reforma agraria termasuk mendistribusikan tanah kepada warganya, penting untuk diakui hak-hak perempuan untuk mendapatkan akses dan kesempatan yang sama, terlepas dari status pernikahannya. Dokumen dapat diakses di: http://www.un.org/womenwatch/daw/cedaw/recommendations/ recomm.htm#recom21. Diakses pada tanggal 22 Januari 2015.

163 Lihat: the United Nations. 2003. Special Rapporteur on adequate housing. Study on women and adequate housing. E/CN.4/2003/55, dapat diakses di: http://www.unhchr.ch/Huridocda/Huridoca. nsf/0/4defa3d233458816c1256d3d002c6b74/$FILE/G0312381.pdf. Diakses pada 30 Juni 2015.

Memberikan suatu sudut pandang konstruktif pada keberadaan hak atas tanah dengan irisannya dengan hak keluarga akan memberikan suatu nilai positif tidak hanya kepada suatu jaminan perlindungan terhadap hak-hak perempuan, namun juga membuka ruang kepastian bahwa di dalam konsep hak keluarga juga memberikan adanya jaminan perlindungan atas hak-hak keluarga untuk mendapatkan pemenuhan perumahan yang layak yang tentu saja bertautan dengan hak atas tanah.164

III.4 Prinsip-Prinsip Panduan PBB untuk Bisnis

Dalam dokumen MENEMUKAN HAK ATAS TANAH PADA STANDAR HA (Halaman 84-86)