C. Pertimbangan Hak-hak Lainnya
III.4. Prinsip-Prinsip Panduan PBB untuk Bisnis dan HAM
D
I BULAN JUNI 2011, Dewan HAM PBB, badan antar pemerintah yang difasilitasi oleh PBB dan bertanggung jawab untuk memajukan dan melindungi HAM, telah mendukung hadirnya Prinsip-Prinsip Panduan untuk Bisnis dan Hak Asasi Manusia: Kerangka Perserikatan Bangsa-Bangsa “Perlindungan, Penghormatan, dan Pemulihan” (The Guiding Principles on Business and Human Rights: Implementing “the protect, respect, and remedy”)atau yang populer dikenal sebagai Ruggie Principles. Ruggie Principles ini telah dikembangkan secara khusus oleh Special Representative of the United Nations Secretary-General on the issue of human rights and transnational corporations and other business enterprises, John Ruggie. Prinsip-prinsip yang terkandung di dalam panduan ini dikembangkan dari ruang diskursus hukum internasional dan beberapa dinamika kerangka otoritatif dari perilaku bisnis yang berparadigma HAM.
Bagaimana kemudian HAM memiliki ruang relevansi pada isu bisnis dan korporasi? Telah lama diketahui bahwa praktik bisnis telah memiliki ruang yang begitu luas dan mendalam pada isu HAM. Beberapa dampaknya dapat dirasakan secara positif, sebagai contoh melalui praktik bisnis kita bisa menikmati banyak kemajuan inovasi yang memberikan kemudahan dan mampu meningkatkan standar hidup banyak orang di dunia. Namun sebaliknya, praktik bisnis juga mampu menghancurkan penghidupan banyak orang, mendorong praktik eksploitasi terhadap sumber daya alam dan sumber daya manusia, bahkan mampu membenarkan pemindahan paksa dengan mengatasnamakan bisnis dan pembangunan. Praktik bisnis yang dilakukan secara serampangan bisa berakibat pada perluasan tindak pelanggaran HAM yang serius, khususnya jika praktik tersebut dilakukan secara kolutif, melibatkan unsur negara seperti aparat keamanan.
Namun demikian, hukum HAM internasional tidak secara eksplisit menerangkan tugas dan kewajiban aktor bisnis dalam agenda HAM. Negara tetap menjadi subyek utama untuk memberlakukan dan menegakkan semua instrumen hukum, perundang-undangan dan kebijakan yang memiliki dampak
164 Terkait mempertegas hak keluarga untuk memiliki properti dan hak perumahan yang layak bisa dilacak pada beberapa instrumen HAM internasional, khususnya Pasal 25 ayat 1 dan 2 dari DUHAM, Pasal 11 dari Kovenan Internasional Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya dan Pasal 14 huruf g dari Konvensi Mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan.
positif pada perlindungan HAM. Meskipun demikian, terdapat beberapa konsiderasi dari hukum internasional yang menerangkan beberapa kewajiban yang tidak dilekatkan kepada negara, seperti yang diberlakukan di dalam sistem hukum humaniter internasional. Kewajiban dalam sistem hukum humaniter internasional dilekatkan kepada aktor-aktor non-negara, termasuk individu-individu dan kelompok bisnis korporasi.165
Mengingat bahwa kelompok bisnis dan korporasi tidak memiliki kewajiban yang setara dengan negara di bawah prinsip-prinsip hukum HAM internasional, maka terdapat perdebatan serius dan berlanjut terkait dengan diskusi untuk mendorong ruang pertanggungjawaban kelompok-kelompok bisnis dan korporasi.166 Melalui Ruggie Principles diharapkan bisa membuka ruang
diskusi konstruktif pada agenda akuntabilitas kelompok-kelompok bisnis dan korporasi pada isu bisnis dan HAM di masa depan. Sederhananya, ke-31 prinsip yang terkandung di dalam panduan ini dapat dibedakan menjadi 3 kewajiban utama:167
(1) Kewajiban negara untuk melindungi HAM, di mana pemerintah harus melindungi individu dari pelanggaran HAM oleh pihak ketiga, termasuk bisnis;
(2) Tanggung jawab perusahaan untuk menghormati HAM, yang berarti tidak melanggar HAM yang diakui secara internasional dengan menghindari, mengurangi, atau mencegah dampak negatif dari operasional korporasi
(3) Kebutuhan untuk memperluas akses bagi korban mendapatkan pemulihan yang efektif, baik melalui mekanisme yudisial maupun non-yudisial.
Berangkat dari ketiga pilar di atas, ada sejumlah kewajiban yang
ditekankan kepada kelompok-kelompok bisnis untuk memasukkan sejumlah prinsip-prinsip HAM universal di dalam operasionalisasi bisnis yang mereka jalani. Mengapa?
Pertama,Ruggie Principles menegaskan tanggung jawab negara untuk melindungi individu-individu dari praktik kekerasan dan pelanggaran HAM di sektor bisnis. Panduan ini mensyaratkan negara untuk mengambil langkah-langkah yang tepat untuk mencegah, menyelidiki, menghukum dan menyediakan mekanisme ganti rugi atas kejahatan bisnis yang terjadi, melalui kebijakan-kebijakan yang efektif, mekanisme legislasi, regulasi dan mekanisme pengadilan yang bisa ditempuh. Kewajiban ini sebenarnya berasal dari ruang
165 Lihat: Q and A International Humanitarian Law and Business (ICRC). Dokumen dapat diakses di:
https://www.icrc.org/eng/assets/files/review/2012/irrc-887-spoerri.pdf. Diakses pada 25 Januari 2015. 166 Lihat: Beyond Ruggie Guiding Principles on Business and Human Rights: Charting an embracive approach to corporate human rights compliance. Dokumen dapat diakses di: http://www.tilj.org/content/ journal/48/num1/Blitt33.pdf. Diakses pada 25 Januari 2015.
167 Lihat: Guiding Principles on Business and Human Rights. Dokumen dapat diakses di: http://www. ohchr.org/Documents/Publications/GuidingPrinciplesBusinessHR_EN.pdf?v=1392752313000/_/jcr:system/ jcr:versionStorage/53/b6/9c/53b69c6d-0745-4070-99b2-68e02dde1b99/1.4/jcr:frozenNode. Diakses pada 26 Januari 2015.
hukum yang mengikat dari agenda ratifikasi instrumen-instrumen HAM internasional.
Kedua, Ruggie Principles menjelaskan tentang standar
pertanggungjawaban bisnis yang sejalan dengan universalisme HAM, dan kemampuan para pelaku bisnis korporasi untuk mengambil langkah-langkah yang harus diambil untuk “mengenal dan menunjukkan” bahwa mereka akan melakukannya. Tanggung jawab korporasi dalam isu bisnis dan HAM harus dilakukan agar mereka memahami dampak, menghindari praktik pelanggaran HAM dan kemampuan untuk mengatasi dampak aktual yang mungkin muncul. Kelompok bisnis dan korporasi juga harus menyediakan mekanisme ganti rugi apabila ada pembuktian yang menyatakan keterlibatan kelompok bisnis korporasi yang menyebabkan terpicunya praktik pelanggaran HAM.
Ketiga, negara harus menjamin ketersediaan ruang mekanisme ganti rugi yang efektif untuk melindungi masyarakat dari segala praktik bisnis yang merugikan publik dan atau pelanggaran HAM, melalui lembaga-lembaga peradilan maupun mekanisme non-yudisial yang tersedia. Kelompok bisnis korporasi juga diharapkan bisa membentuk mekanisme pengaduan operasional efektif bagi individu dan masyarakat yang potensial terkena dampak dari
praktik-praktik bisnis anti HAM.
Dalam kerangka yang lebih besar, Ruggie Principles telah memberikan seperangkat parameter kepada kelompok-kelompok bisnis dan korporasi terhadap operasionalisasi bisnis yang sinergis dengan HAM. Melalui Ruggie Principles, diharapkan kepada kelompok-kelompok bisnis untuk memahami dan menghormati semua kategori hak-hak asasi manusia yang tercantum di dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, Kovenan Internasional Hak-Hak Sipil dan Politik, dan Kovenan Internasional Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya yang menjadi ukuran utama dari ketiga pilar di atas.
Apa perbedaan di antara agenda bisnis dan HAM dengan
pertanggungjawaban sosial korporasi (corporate social responsibility)? Pertanggungjawaban sosial korporasi dapat dipahami dengan beragam cara. Dalam pemahaman sederhana, pertanggungjawaban sosial korporasi telah difokuskan pada kapasitas kelompok-kelompok bisnis secara sukarela untuk mengembangkan kehidupan masyarakat, dengan model sumbangan amal dan upaya-upaya lainnya yang bisa dilakukan.168 Sedangkan upaya-upaya
tersebut mungkin amat relevan dengan prinsip-prinsip yang terkandung di dalam Ruggie Principles; namun terdapat beberapa perbedaan yang mendasar di antara definisi pertanggungjawaban sosial korporasi dengan Ruggie
Principles adalah terkait dengan agenda pelaksanaan dari prinsip-prinsip yang terkandung di dalam Ruggie Principles, ketimbang mengedepankan prinsip kesukarelaan (voluntarily).
Ruggie Principles secara jelas mengakui bahwa kelompok-kelompok bisnis korporasi dapat memperkuat komitmennya ataupun kegiatan-kegiatan
168 Lihat: United Nations Industrial Development Organization: What is CSR? Dokumen dapat diakses di: http://www.unido.org/en/what-we-do/trade/csr/what-is-csr.html. Diakses pada tanggal 27 Januari 2015.
lain yang dapat menegaskan kemauan mereka untuk memajukan agenda HAM di dalam operasionalisasi bisnis. Namun demikian, tetap melakukan semua ketentuan di atas tidak menjamin bahwa kelompok-kelompok bisnis korporasi terbebas dari potensi praktik pelanggaran HAM yang melibatkan mereka. Dalam beberapa tahun terakhir, terdapat pengembangan pemahaman yang berbeda dari pengertian tanggung jawab sosial korporasi, khususnya untuk memahami dampak praktik-praktik bisnis pada kehidupan masyarakat; khususnya untuk menghindari dampak dan risiko buruk —dan termasuk praktik pelanggaran HAM— dari upaya kelompok-kelompok bisnis korporasi untuk meningkatkan keuntungan.