• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hak atas Tanah dan Pengakuan Terhadap

Dalam dokumen MENEMUKAN HAK ATAS TANAH PADA STANDAR HA (Halaman 82-84)

C. Pertimbangan Hak-hak Lainnya

III.2. Hak atas Tanah dan Pengakuan Terhadap

S

EBAGAIMANA yang telah disampaikan di atas, keberadaan tanah

khususnya bagi kelompok-kelompok masyarakat adat tidak hanya terkait erat dengan nilai-nilai kebudayaan dan sosial spiritual yang melekat, namun juga mendapatkan pengakuan khusus yang telah dilindungi di dalam kerangka hukum internasional.

Konvensi 169 tentang Masyarakat Hukum Adat (Indigenous and Tribal Peoples) yang telah diadopsi oleh Organisasi Perburuhan Internasional (the International Labour Organization) di tahun 1989 telah memiliki kekuatan hukum yang mengikat bagi setiap negara pihak yang telah meratifikasi instrumen tersebut. Instrumen ini merupakan satu-satunya instrumen hukum internasional yang memiliki kekuatan hukum mengikat terkait dengan jaminan perlindungan hak-hak masyarakat adat di dunia. Konvensi ini secara khusus menjamin hak-hak masyarakat adat di mana negara harus mengakui “... penetapan batas-bast negara saat ini dan yang, tanpa memandang status hukum mereka, tetap mempertahankan beberapa atau seluruh institusi sosial, ekonomi, budaya dan politik mereka sendiri.”147

Konvensi 169 juga memasukkan pokok bahasan seputar perlindungan hak atas tanah, termasuk kewajiban dari setiap negara-negara pihak untuk mengidentifikasi tanah-tanah yang secara adat harus diakui hak miliknya sebagai bagian dari masyarakat adat dan menjamin kepemilikan termasuk perlindungan hak-hak mereka. Secara khusus Konvensi 169 menerangkan relasi tanah dengan masyarakat adat harus diakui dengan ukuran:148

... dalam situasi yang tepat harus diambil upaya-upaya untuk menjaga dan melindungi hak-hak dari masyarakat hukum adat yang bersangkutan untuk menggunakan tanah-tanah yang tidak secara eksklusif mereka tempati, tetapi yang secara tradisional mereka masuki untuk menyambung hidup dan untuk melakukan kegiatan- kegiatan tradisional.

Konvensi 169 juga mensyaratkan adanya kebutuhan untuk menyediakan prosedur-prosedur hukum yang mampu menyelesaikan sengketa tanah,149

mengakui hak-hak masyarakat adat atas sumber daya alam,150 memberikan

perlindungan terkait dengan praktik pengusiran paksa,151 dan menyediakan

ruang kompensasi yang nilainya(baik kualitas maupun kuantitas) setara dengan

147 Lihat: Konvensi 169 Pasal 1 (b). Dokumen dapat diakses di: http://www.ilo.org/wcmsp5/groups/ public/---ed_norm/---normes/documents/publication/wcms_122026.pdf. Diakses pada 23 Januari 2015. 148 Lihat: Pembukaan the ILO Convention 169. Dokumen dapat diakses di: http://www.ilo.org/dyn/ normlex/en/f?p=NORMLEXPUB:12100:0::NO::P12100_ILO_CODE:C169. Diakses pada 22 Januari 2015. 149 Ibid. Pasal 14(3).

150 Ibid. Pasal 15(1). 151 Ibid. Pasal 16(1).

tanah yang sebelumnya mereka tempati,152 serta menjamin hak untuk pulang

ke tanah-tanah tradisional mereka segera jika tidak ada satu alasan kuat untuk memindahkan mereka ke tempat lain.153

Pada tahun 2007, Majelis Umum PBB telah mengadopsi Deklarasi Hak- Hak Masyarakat Adat (the Declaration on the Rights of Indigenous Peoples), di mana deklarasi ini menerangkan bahwa, “masyarakat adat mempunyai hak atas tanah, wilayah, dan sumber daya yang secara tradisional mereka miliki, pakai, atau gunakan atau dapatkan.”154 Meskipun deklarasi ini tidak mengikat

secara hukum (non-legally binding), telah menerangkan bahwa masyarakat- masyarakat adat memiliki hak untuk memiliki dan mengembangkan sumber daya alam yang berada di wilayah kedaulatan mereka, di mana tanah-tanah miliki dari masyarakat-masyarakat adat diakui keabsahannya oleh negara, dan terutama adanya pengakuan hak atas:155

Ganti rugi... atas tanah-tanah, wilayah-wilayah, dan sumber daya yang dimiliki secara tradisi ataupun digunakan, dan yang dapat diambil alih, dirampas, digunakan, atau dirusak...

Baik Konvensi 169 dan Deklarasi Hak-Hak Masyarakat Adat juga

menekankan pentingnya mengutamakan agenda dialog partisipatoris, yang mengedepankan prasyarat tertentu: masyarakat adat harus bebas tidak boleh mendapat tekanan, ada pemberitahuan lebih dahulu terkait dengan agenda yang bersinggungan dengan hak-hak mereka, mereka juga harus mendapatkan informasi secara terang dan persetujuan yang harus diberikan oleh masyarakat- masyarakat adat itu sendiri terkait dengan keputusan dari penggunaan tanah yang telah dimiliki oleh mereka.156 Prasyarat-prasyarat tersebut utamanya harus

dilakukan ketika upaya dan keputusan untuk merelokasi wilayah komunitas masyarakat adat akan dilakukan oleh pemerintah.157

Selain itu, terdapat sentimen positif untuk memperkuat hubungan antara jaminan perlindungan hak beragama, beribadah dan berkeyakinan yang juga dimiliki oleh masyarakat hukum adat dengan tanah yang juga melekat pada identitasnya. Masyarakat hukum adat sebagai entitas sosial kerap mengalami praktik ketidakadilan dalam bentuk peminggiran proses pengambilan kebijakan pada pembangunan. Di sini terdapat ruang tafsir perlindungan hak-hak

masyarakat hukum adat terkait dengan dimensi keyakinan dan kepercayaan yang melekat dengan identitas mereka, termasuk penggunaan medium tanah sebagai bagian warisan adat dan tradisi. Hal ini sebagaimana dipertegas di

152 Ibid. Pasal 16(4). 153 Ibid. Pasal 16(3).

154 Lihat: United Nations Declaration on the Rights of Indigenous Peoples, Pasal 26(1). Dokumen dapat diakses di: http://www.un.org/esa/socdev/unpfii/documents/DRIPS_en.pdf. Diakses pada tanggal 25 Januari 2015.

155 Ibid. Pasal 10.

156 Konsep tersebut (free, prior, informed and consent) dapat dilihat lebih lanjut di dalam United Nations Declaration on the Rights of Indigenous Peoples, Pasal 10, 28, 29, 32).

dalam dokumen PBB berjudul the Principles and Guidelines for the Protection of the Heritage of Indigenous People, di mana di dalam dokumen ini diberikan ketegasan dan jaminan kepada masyarakat hukum adat untuk mengelola

warisan-warisan dan kekayaan adat —termasuk model ibadah, kepercayaan dan keyakinan dan signifikan dengan nilai-nilai sejarah yang melekat pada identitas mereka.158

Hal ini juga sebagaimana yang digarisbawahi oleh Pelapor Khusus PBB Erica Irene Daes, “masyarakat hukum adat harus bisa menjadi sumber, pelindung dan pembuat tafsir dari warisan adat dan tradisi yang mereka miliki.”159

III.3 Hak atas tanah dan pengakuan terhadap

Dalam dokumen MENEMUKAN HAK ATAS TANAH PADA STANDAR HA (Halaman 82-84)