C. Pertimbangan Hak-hak Lainnya
III. 8 Isu Tanah Global Lainnya
IV.1.1. Konflik pertambangan emas di Kecamatan Sape,
(NTB)
A. Latar Belakang
P
ENOLAKAN warga atas rencana eksplorasi dan eksploitasi pertambangan emas di Kecamatan Sape, Kab. Bima sudah dimulai sejak awal bulanJanuari 2010. Masyarakat menolak Surat Keputusan (SK) oleh Bupati Bima Ferry Zulkarnaen terkait Izin Usaha Pertambangan (IUP) kepada PT. Sumber Mineral Nusantara (PT. SMN)182 yang tidak transparan dan tidak bisa diakses
oleh masyarakat.
182 SK Bupati BIma No. 621 tahun 2008 tentang pemberian kuasa pertambangan penyelidikan umum bahan galian emas, tembaga dan mineral pengikut (DMP) dan SK Bupati Bima No. 188.45/367/004/2010 tentang persetujuan penyesuaian izin usaha pertambangan eksplorasi tertanggal 28 April 2010 dengan luas area eksplorasi 24.980 Ha yang berada di Kec. Sape, Kec. Lambu dan Kec. Langgudu. Lihat Laporan Kontras (2014). Tragedi Sape BIma: Mengungkap Fakta Pelanggaran HAM dan Kejahatan Terhadap Kemanusiaan. Dapat diakses di: http://www.kontras.org/buku/Sape%20Bima%20low.pdf diakses pada 29 Mei 2015.
Masyarakat menolak kehadiran PT SMN karena aktivitas pertambangan emas akan merusak lahan pertanian, khususnya lahan Bawang merah yang menjadi salah satu mata pencaharian utama masyarakat Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Luas lahan bawang merah mencapai 13.663 hektare yang disebut bawang Keta Monca dan menjadi komoditas unggul daerah tersebut. Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) memprediksi kehadiran tambang emas akan membuat susutnya debit air irigasi lahan pertanian.183
Pada 24 Desember 2011, terjadi serangkaian pelanggaran HAM oleh aparat Polres Bima terhadap penduduk sipil yang berdemonstrasi menentang pemberian ijin yang dikeluarkan oleh Pemda Bima kepada PT SMN. Perjuangan warga disambut dengan peluru tajam dan kekerasan yang dilakukan aparat gabungan dari Polres Bima dan Polda NTB. Peristiwa ini menewaskan 3 orang masyarakat yang berdemo serta melukai puluhan masyarakat Lambu dan Sape. Tidak hanya itu, kepolisian juga melakukan pengejaran dan penyisiran kepada masyarakat yang dituduh berpartisipasi dalam demonstrasi dan menangkap secara sewenang-wenang.
B. Pelanggaran HAM
►
Tidak Adanya Transparansi Izin Usaha Pertambangan
Hasil kunjungan KontraS menemukan informasi bahwa masyarakat Bima tidak bisa mengakses SK tersebut karena ditutup-tutupi oleh pihak Kantor Kecamatan Lambu dan Kantor Kecamatan Sape. Tidak transparannya pemerintahan di Bima, termasuk banyaknya SK Bupati Bima terkait IUP yang menyebabkan gerakan penolakan masyarakat terjadi. Setelah terjadi gerakan penolakan, aspirasi atas penolakan pertambangan juga tidak pernah secara serius direspon oleh pihak pemerintah.
183 Lihat: Republika (2011).Ini Pemicu Bentrokan Warga dengan Perusahaan Tambang dan Polisi. Berita dapat diakses di: http://www.republika.co.id/berita/regional/nusantara/11/12/28/lwwmad-ini-pemicu- bentrokan-warga-dengan-perusahaan-tambang-dan-polisi diakses pada 29 Mei 2015.
Tindakan pemerintah yang tidak memberikan transparansi serta tidak juga merespon penolakan oleh warga ini melanggar berbagai hak asasi manusia, terutama hak atas informasi. Hak-hak tersebut diatur dalam DUHAM (1948) pasal 21 (2) dan Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik pasal 25 dimana setiap orang memiliki hak atas akses informasi dari pemerintah, termasuk juga hak atas partisipasi dalam menentukan keputusan.
►
Kekerasan oleh aparat negara hingga mengakibatkan
kematian
Kekerasan akibat aparat negara mengakibatkan korban dari pihak
masyarakat hingga mengakibatkan kematian. Berdasarkan investigasi KontraS, korban tewas tiga [3] orang, luka-luka tiga puluh enam [36] orang, ditangkap sebanyak tiga puluh delapan orang [38], dan penganiayaan sebelas [11] orang. Penyerangan dilakukan oleh aparat kepolisian terhadap warga sipil yang melakukan pendudukan di pelabuhan Sape. Unsur penyerangan bukan merupakan spontanitas belaka, tetapi sudah terencana. Polisi diidentifikasi melakukan pengerahan kekuatan berlebih, menggunakan senjata berpeluru tajam, mengerahkan penembak jitu, hingga menyiagakan beberapa mobil dan ambulance yang kemungkinan disiapkan untuk evakuasi. Sedangkan target serangan yang dihadapi adalah warga sipil yang sama sekali tidak mempersenjatai diri mereka.184
Terjadi pelanggaran terhadap Pasal 28 A UUD 1945 tentang hak hidup, pasal 3 pada DUHAM (1948), Pasal 6 Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik, khususnya hak untuk hidup yang telah diratifikasi pada pasal 4 dan 9 UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM. Hak atas hidup juga tercantum pada Komentar Umum No. 06 dari Kovenan Hak Sipil dan Politik, khususnya dalam paragraf 4, dimana hak untuk hidup merupakan hak tertinggi yang
pemenuhannya tidak dapat dikurangi sedikitpun kendati keadaan negara dalam kondisi darurat.185 Tindakan kepolisian juga telah melanggar UU No. 39 Tahun
1999 tentang HAM pasal 34, DUHAM (1948) pasal 9, dan Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik pasal 9, yang mengatur setiap orang tidak boleh ditangkap dan ditahan secara. sewenang wenang.
C. Aktor
Beberapa pelaku yang layak diminta pertanggungjawaban dalam peristiwa penyerangan atas warga sipil di pelabuhan Sape yang melakukan penolakan tambang emas, diantaranya: (1) Bupati Bima ketika peristiwa terjadi, sebagai pihak yang mengeluarkan izin rencana eksplorasi tambang dan dugaan manipulasi izin; (2) PT Sumber Mineral Nusantara (PT SMN), selaku pemohon
184 Lihat: Siaran Pers KontraS. 2013. Komnas HAM RI dan POLRI “Gelapkan” Fakta dan Keadilan untuk Korban penyerangan di Pelabuhan Sape (2011). Dapat diakses di: http://www.kontras.org/index. php?hal=siaran_pers&id=1829 diakses pada 29 Mei 2015.
185 General Comment No. 06: The right to life (art.6) (1982). Dokumen dapat diakses di: http:// ccprcentre.org/doc/ICCPR/General%20Comments/HRI.GEN.1.Rev.9%28Vol.I%29_%28GC6%29_en.pdf
izin dimana terdapat potensi relasi PT SMN dengan Bupati dan kepolisian setempat; (3) Kepolisian Bima. KontraS kemudian menemukan informasi tentang kesatuan polisi yang terlibat penyerangan diantaranya: Pasukan huru- hara (PHH), Brimob, Dalmas, Intel Polisi, dan Sabhara.
Komnas HAM kemudian telah mengeluarkan pernyataan bahwa Bupati Bima telah menyalahi prosedur dimana seharusnya ada perundingan dengan masyarakat dan DPRD sebelum mengeluarkan izin eksplorasi tambang, oleh karena itu tuntutan warga Bima sangat wajar karena mereka memperjuangkan hak-haknya sebagai warga negara. Selain itu, Komnas HAM menyebut Kapolda Nusa Tenggara Barat dan Kapolresta Bima bertanggung jawab secara umum sehubungan dengan terjadinya kekerasan oleh aparat.186
D. Resolusi konflik
Komnas HAM saat ini telah mendesak Bupati Bima segera mencabut Surat Keputusan (SK) bernomor 188/45/357/004/2010 tertanggal 28 April 2010.187 Kepolisian RI juga dalam menindaklanjuti para pelaku kekerasan hanya
menggunakan mekanisme internal dengan memberikan sanksi etik kepada para anggota kepolisian yang melakukan pelanggaran. Hasil sidang disiplin terhadap 5 (Lima) anggota dalam kasus kerusuhan di Bima NTB hanya berupa kurungan selama lima hari dan penundaan pendidikan selama tiga bulan.
E. Ruang pembelajaran
Komnas HAM dan beberapa jaringan masyarakat sipil saat ini telah beberapa kali mencoba melakukan pengkajian mengenai konflik Sape Bima hingga dapat mengarahkan pada contoh terjadinya fenomena pelanggaranHAM berat. Akan tetapi masih terdapat perdebatan diantara kalangan penggiat HAM untuk menentukan apakah kasus Sape Bima termasuk sebagai pelanggaran HAM berat atau pelanggaran HAM saja.
Dibalik dari hal tersebut, memang terdapat pelanggaran HAM yang harus segera ditindaklanjuti oleh pemerintah, termasuk aparat keamanan untuk melakukan tindakan tegas bagi para anggotanya yang melakukan tindakan pelanggaran. Walaupun saat ini Kepolisian RI telah menindaklanjuti melalui mekanisme internal dengan memberi sanksi etik, akan tetapi hal tersebut belum dapat menjadi suatu contoh kesuksesan yang memuaskan rasa keadilan rakyat.
186 http://www.antaranews.com/berita/291259/komnas-ham-pemicunya-sk-bupati-bima