E. Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia
II.6. Aturan Normatif Pada Tujuh Sektor
II.6.2. Sektor Perkebunan
Regulasi ruang lingkup sektor perkebunan yang masih berlaku:
• Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan yang
menggantikan UU No 18 tahun 2004
• Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2013 tentang Pemberdayaan
Petani
A. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 tentang
Perkebunan
UU Perkebunan terbaru ini memperjelas kedudukan hukum para pelaku usaha dan pekebun dalam menjalankan industri perkebunan. Perubahan ini merupakan tindak lanjut atas putusan Mahkamah Konstitusi terhadap Uji Materi Pasal 21 dan Pasal 47 UU Nomor 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan, yang menyatakan bahwa masyarakat dilarang memasuki kawasan perkebunan dengan alasan mengganggu aktivitas perkebunan. Ketentuan tersebut jelas menyalahi UUD 1945, karena seharusnya masyarakat berhak masuk ke area
53 Lihat: Kompas. (2014). Pemda Kesulitan Terapkan UU Perindustrian Baru. Artikel dapat diakses di: http://properti.kompas.com/read/2014/06/19/1637264/Pemda.Kesulitan.Terapkan.UU.Perindustrian.Baru diakses pada 25 Januari 2015.
perkebunan, asal tak mendirikan industri lain di sana sehingga pasal tersebut dihilangkan.54
UU Perkebunan terbaru juga menambahkan 2 pasal baru yang memperkuat kedudukan pelaku usaha dan penanam modal di industri
perkebunan. Pasal tersebut adalah Pasal 95 dalam Bab XIII tentang Penanaman Modal dan Pasal 115 dalam Bab XVIII tentang Ketentuan Peralihan atas Izin Usaha Perkebunan.55 Selain itu, terdapat Pasal 58 yang mewajibkan perusahaan
untuk memberikan paling sedikit 20% lahan kepada masyarakat dari total lahan milik perusahaan.
Jaminan hak tanah masyarakat hukum adat juga disebutkan dalam UU perkebunan ini. Pasal 12 mewajibkan dilakukannya musyawarah antar pelaku usaha dan masyarakat hukum adat apabila tanah untuk usaha perkebunan merupakan milik masyarakat hukum adat. Pasal 17 peraturan ini melarang pejabat berwenang menerbitkan izin usaha perkebunan di atas tanah hak ulayat Masyarakat Hukum Adat sebelum ada persetujuan antara pihak yang terlibat.
Pasal 98 menjamin masyarakat terlibat sebagai pengawas. Pengawasan masyarakat dapat berupa pelaporan, pemantauan, dan evaluasi terhadap pelaksanaan, proses, dan hasil usaha perkebunan. Evaluasi dilakukan dengan mengamati dan memeriksa kesesuaian laporan dengan pelaksanaan di
lapangan. Pelaporan merupakan informasi publik yang dijamin dalam Pasal 99 sehingga dapat diakses secara terbuka oleh masyarakat.
Keterlibatan masyarakat dalam penyelenggaraan perkebunan secara lebih lanjut diatur dalam Pasal 100. Peran serta masarakat dilakukan dalam bentuk pemberian usulan, tanggapan, pengajuan keberatan, saran perbaikan, dan/atau bantuan. Peran serta tersebut dilibatkan dalam hal penyusunan perencanaan, pengembangan kawasan, penelitian dan pengembangan, pembiayaan,
pemberdayaan, pengawasan, pengembangan sistem data dan informasi, pengembangan kelembagaan, dan/ataupenyusunan pedoman pengembangan Usaha Perkebunan. UU Perkebunan terbaru ternyata mempermudah fasilitasi perusahaan besar dan sedikit memberikan peluang bagi masyarakat kecil karena menggunakan mekanisme yang seragam untuk melakukan usaha perkebunan. Padahal kemampuan perusahaan besar dengan masyarakat kecil untuk mengakses fasilitas tersebut tidak dapat disamakan. Permasalahan yang
54 Pasal 21 dan 47 UU No. 18/2004 tentang Perkebunan kerap digunakan aparat untuk mengkriminalisasi petani. Berdasarkan catatan PIL-Net hingga akhir 2010 terdapat 170 kasus krimininalisasi petani yang berhadapan dengan sejumlah perusahaan kakap. Kedua pasal itu dinilai sumir dan melanggar asas lex certa
karena tidak merumuskan secara jelas dan rinci uraian perbuatan pidananya berikut bentuk kesalahannya, sehingga dapat merugikan kepentingan petani. Kedua pasal itu pun dinilai bertentangan dengan Pasal 1 ayat (3), Pasal 28 D ayat (1), Pasal 28 G ayat (1) UUD 1945. Lihat: Hukum Online. (2011). Rumusan Pidana UU Perkebunan Dinilai Sumir. Artikel dapat diakses di: http://www.hukumonline.com/berita/baca/ lt4d638fc72ede2/rumusan-pidana-uu-perkebunan-dinilai-sumir diakses pada 28 Januari 2015.
55 Lihat: Koran Tempo. (2014). UU Perkebunan Dulu dan Kini Ini Perbedaannya. Artikel dapat diakses di:
http://www.tempo.co/read/news/2014/09/30/090610691/UU-Perkebunan-Dulu-dan-Kini-Ini-Perbedaannya
harus menjadi perhatian serius adalah permainan kekuasaan mendominasi pelaksanaan peraturan ini. Perampasan tanah masih terjadi walaupun pada Pasal 17 perusahaan harus mendapatkan persetujuan oleh masyarakat hukum adat. Akibatnya, bukan hal yang asing lagi jika repetisi modus operandi
digunakan oleh pihak korporasi untuk memanipulasi dan melakukan teror serta intimidasi kepada masyarakat hukum adat untuk mendapatkan persetujuan pemberian lahan tersebut.
Sawit Watch dalam laporannya kemudian menyatakan UU No. 39/2014 memasukkan ketentuan pidana. Hal ini dikhawatirkan akan melegitimasi upaya kriminalisasi terhadap masyarakat yang menuntut lahan yang dirampas perkebunan sawit.56 Koalisi organisasi masyarakat sipil juga mengkritisi UU
Perkebunan terbaru ini. Mereka menjabarkan berbagai kekurangan yang tidak diatur dalam peraturan. Kekurangan tersebut berupa penjelasan bagaimana pengaturan penegakan hukum dan penindakan terhadap persoalan perusakan lingkungan, termasuk deforestasi dan perusakan lahan gambut. Kemudian tidak ada dukungan terhadap upaya perlindungan terhadap wilayah bernilai karbon tinggi (HCS) dan bernilai konservasi tinggi (HCV).57
Terakhir, koalisi menyayangkan tidak adanya peraturan yang
mengakomodir kepentingan petani kebun mandiri karena tidak mengatur tentang tata kelola alternatif yang mengangkat peran koperasi rakyat. UU ini hanya mengatur skema kemitraan yang kerap dijadikan pembenar dari praktik ketidakadilan yang yang dialami oleh para petani (lihat Pasal 57 dan 58).58
B. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2013 tentang
Pemberdayaan Petani
Pada UU Pemberdayaan Petani Pasal 59, Pasal 70 ayat (1), dan Pasal 71 ayat (1) terselip agenda model pembangunan kekuatan modal besar yang akan meminggirkan petani kecil. Terutama Pasal 69 hingga Pasal 71 memunculkan masalah dari ketidakmampuan negara menyediakan hak pemberdayaan bagi para petani, khususnya secara perseorangan, karena hanya organisasi tani yang terdaftar di pemerintah yang berhak memperoleh fasilitas dari pemerintah.59
Mahkamah Konstitusi kemudian mengabulkan Peninjauan Kembali (PK) yang diajukan oleh 12 lembaga masyarakat sipil nasional.60 Mereka menggugat
56 Lihat: Sawit Watch. (2014). Kaleidoskop Perkebunan Sawit 2014: Tugas Menyelesaikan Warisan Konflik di Sektor Perkebunan Sawit. pada Tandan Sawit, Edisi No. 8, Desember 2014.
57 Lihat: Suara Merdeka. (2014). UU Perkebunan banyak kelemahan. Artikel dapat diakses di: http:// berita.suaramerdeka.com/uu-perkebunan-banyak-kelemahan/ diakses pada 28 Januari 2015.
58 ibid.
59 Lihat. KPA. (2014). Dewan Pakar KPA Bongkar Kepalsuan UU Perlindungan dan Pemberdayaan Petani. Artikel dapat diakses di: http://www.kpa.or.id/?p=2997 diakses pada 15 Maret 2015
60 Sidang dimohonkan oleh FIELD Indonesia, SPI, WALHI, KPA, API, IHCS, Kontras, IGJ, KRKP, Sawit Watch, Binadesa, dan KIARA. Ketua MK, Hamdan Zoelva, membacakan langsung amar putusan Mahkamah untuk perkara No. 87/PUU-XI/2013 di Ruang Sidang Pleno MK pada Rabu (5/11/2013). Putusan dapat diakses
Pasal 59 khususnya sepanjang frasa “hak sewa, izin pengusahaan, izin
pengelolaan, atau izin pemanfaatan”. Disini hak sewa diartikan petani menjadi petani penggarap yang membayar sewa kepada negara. Seharusnya negara tidak memiliki tanah garapan namun hanya merumuskan kebijakan, melakukan pengaturan, melakukan pengurusan, pengelolaan, dan pengawasan.61 Selain
itu mereka menguji Pasal 70 ayat (1) yang dianggap telah membatasi kelembagaan petani hanya pada Kelompok Tani, Gabungan Kelompok Tani, Asosiasi Komoditas Pertanian, dan Dewan Komoditas Pertanian Nasional. Mahkamah Konstitusi membatalkan dengan alasan tidak sesuai dengan Pasal 28E ayat (3) UUD 1945 untuk membentuk wadah berserikat dalam bentuk kelembagaan petani.62
C. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 33 Tahun 2006
tentang Pengembangan Perkebunan melalui Program
Revitalisasi Perkebunan
Peraturan ini menjadi sumber konflik kemitraan dengan petani sawit. Tahun 2006 Pemerintah mengeluarkan peraturan ini untuk mengatur pola kerjasama satu atap untuk petani sawit. Kebijakan ternyata menjadi bentuk monopoli perusahaan atas produksi petani sawit, mulai dari perawatan, pengelolaan, kebun hingga aspek produksi dari manajemen yang dilakukan oleh perusahaan. Monopoli juga terkait dengan kredit dari bank untuk usaha perkebunan. Berdasarkan laporan Sawit Watch, hasil manajemen satu atap di Sanggau memperlihatkan hasil produksi petani (2 hektare), 50% dari hasil produksi digunakan oleh perusahaan untuk melakukan pemelliharaan, sewa buruh dan mengangkutan hasil, 30% untuk bank demi kepentingan pembayaran utang dari kredit pembangunan kebun yang di potong secara langsung, dan 20% untuk petani.63
di: http://www.tifafoundation.org/wp-content/uploads/2014/11/risalah_sidang_7166_Putusan-Perkara- Nomor-87.PUU-XI.2013-36-93-94.PUU-XII.2014-5-November-2014.pdf. Diakses pada 15 Maret 2015.
61 Lihat. Tifa Foundation. (2014). Kemenangan bagi kaum petani kecil. diakses di http://www. tifafoundation.org/kemenangan-bagi-kaum-petani-kecil/ diakses pada 15 Maret 2015.
62 Menurut Mahkamah Konstitusi, negara bisa saja membentuk organisasi-organisasi petani dengan tujuan memberikan perlindungan dan pemberdayaan petani, tetapi negara tidak dapat mewajibkan petani masuk dalam kelembagaan yang dibuat oleh pemerintah atau negara tersebut. Lebih lanjut, petani harus diberikan kesempatan untuk membentuk kelembagaan dari, oleh, dan untuk petani guna memperkuat dan memperjuangkan kepentingan petani itu sendiri. Lihat: Mahkamah Konstitusi. (2014). MK: Sewakan Tanah Bebas Kepada Petani, Negara Langgar Prinsip Pengelolaan SDA. Artikel dapat diakses di: http://www. mahkamahkonstitusi.go.id/index.php?page=web.Berita&id=10350#.VVnholIWZ5k. diakses pada 15 Maret 2015.
63 Lihat: Sawit Watch. (2014). Kaleidoskop Perkebunan Sawit 2014: Tugas Menyelesaikan Warisan Konflik di Sektor Perkebunan Sawit. Artikel dapat diakses di: http://sawitwatch.or.id/wp-content/ uploads/2015/01/Tandan-Sawit-No-8.pdf diakses pada 20 Maret 2015.