BAB II DESKRIPSI KAWASAN
2.3. Keadaan Sosial Ekonomi dan Budaya
2.3.5. Hak Kepemilikan dan Pola Pemanfaatan Hutan
Hak bukanlah satu jenis, melainkan beberapa jenis (bundle of rights). Setidaknya dalam kalangan masyarakat adat Biak Numfor terdapat hak memanfaatkan, hak menentukan bentuk manajemen, hak mengundang pihak lain untuk ikut memanfaatkan dan hak untuk mengubah fungsi. Konsep hak kepemilikan memiliki implikasi terhadap konsep hak (right) dan kewajiban
(obligation) yang diatur oleh hukum, adat dan tradisi atau konsensus yang
mengatur hubungan antar anggota masyarakat dalam hal kepentingannya terhadap sumberdaya hutan.
Kepemilikan tanah di Biak merupakan milik bersama (komunal), namun didalam pengambilan hasil atas tanah adat tersebut dibagi-bagi untuk masing-masing anggota keret sehingga tidak terjadi saling rampas pengelolaan sumber daya alam. Penandaan batasan tanah yang telah dijadikan lahan antar keret tersebut biasanya ditandai dengan batasan alam seperti batu, pohon dan sungai.
Pemindahan dan penyerahan hak tanah adat dan hutan dari keret yang satu kepada keret yang lain masih dapat dimungkinkan namun memiliki peluang yang sangat kecil, karena pandangan masing-masing keret yang menilai hutan dan lahan sebagai anugerah yang harus dijaga dan dikelola.
Rencana Pengelolaan Hutan KPHL Biak Numfor
47
Masyarakat Biak Numfor sebagian besar memanfaatkan sumberdaya hutan sebagai peramu dan pemburu. Masyarakat ini kebanyakan mendiami distrik-distrik yang berada di wilayah dataran rendah. Sedangkan masyarakat di wilayah pesisir pantai lebih dominan dalam usaha nelayan, pertanian tradisional, tukang/kerajinan dan sebagian kecil memanfaatkan hasil hutan bukan.
Mansoben (2002) membagi hak kepemilikan dan penguasaan wilayah adat pada masyarakat Papua dalam 3 kelompok yaitu hak komunal berdasarkan gabungan klen, hak komunal menurut klen dan hak individual. Hak kepemilikan lahan yang dimaksud merupakan hak kepemilikan untuk semua sumberdaya baik tanah maupun tumbuhan yang berada di atasnya yang dimiliki pemilik lahan.
Tabel 19. Efisiensi Kepemilikan Atas Sumberdaya lahan/tanah dan Sumberdaya Alam di Kabupaten Biak Numfor
Keterangan : √ = boleh x = tidak boleh
Pemilik (owner) memiliki hak penuh atas lahan yang dimilikinya sehingga disimpulkan bahwa efisiensi hak kepemilikan lahan untuk pemilik (owner) adalah adalah efisien. Hal tersebut disebabkan karena hak kepemilikan lahan yang dimiliki masyarakat merupakan hak turun temurun sehingga pemilik (owner) dapat melakukan apapun di lahan yang dimilikinya. Hak memasuki dan memanfaatkan diberikan kepada pemilik terikat (Proprietor) ketika proprietor memiliki hubungan dengan pemilik
Strata Hak Pemilik (Owner)
Pemilik terikat (Proprietor)
Memasuki dan Memanfaatkan √ √
Menentukan Bentuk Pengelolaan √ X Menentukan Keikutsertaan/Mengeluarkan Pihak lain √ X
Dapat diperjualbelikan hak
Rencana Pengelolaan Hutan KPHL Biak Numfor
48
seperti hubungan perkawinan. Masyarakat mengelola lahan yang dimilikinya sendiri tanpa disewakan ataupun diberikan kepada pengguna.
Pola kepemilikan dan penguasaan lahan yang dianut oleh masyarakat merupakan sistem pewarisan. Hal ini juga sama dengan yang berlaku dikalangan masyarakat adat yang mendiami wilayah pesisir lain di Tanah Papua. Dimana pengaturan pemanfaatan diatur oleh kepala klen dengan anggapan bahwa sumberdaya alam yang ada merupakan milik klen yang diwariskan turun temurun pada suatu marga (klen). Hal tersebut terlihat dengan adanya pembagian tanah ulayat per marga sehingga setiap marga memiliki suatu daerah yang merupakan hak ulayatnya. Oleh karena itu,
owner memiliki hak penuh atas lahan yang dimilikinya karena setiap marga
(Klen) telah memiliki tanah ulayat masing-masing. Efisiensi hak
kepemilikan sangat menguntungkan masyarakat dalam rencana
pembangunan kehutanan di Biak Numfor. Dimana tidak diperlukan pihak-pihak di luar pemilik (owner) dalam pengambilan keputusan untuk pembangunan tersebut kecuali Pemerintah. Selain itu, menjadi landasan tumbuhnya ‘rasa memiliki’ terhadap sumberdaya hutan.
Pola Pemanfaatan Hutan
Biak Numfor memiliki potensi sumberdaya lahan dan hutan yang cukup luas untuk dapat dimanfaatkan sebagai lahan pertanian, namun hampir seluruhnya belum dimanfatkan sebagai lahan usaha pertanian yang menjadi sumber utama pendapatan keluarga. Belum dimanfaatkannya sumberdaya lahan hutan tersebut karena penduduk wilayah ini bukan masyarakat petani yang orientasi usahanya untuk kepentingan bisnis (lihat tipologi masyarakat), namun masyarakat untuk kepentingan konsumtif (subsisten). Masyarakat kebanyakan hidup dari pemanfaatan sumberdaya daratan, baik sebagai petani tradisional, pemburu dan peramu ataupun nelayan pesisir tradisional dengan alat tangkap yang sangat sederhana sampai semi modern.
Dalam pemanfaatan lahan sebagai lahan pertanian masyarakat di Biak Numfor sifat pertaniannya adalah pertanian menetap dan perladangan berpindah. Kebun-kebun rakyat kebanyakan berupa kebun-kebun tua di
Rencana Pengelolaan Hutan KPHL Biak Numfor
49
sekitar pemukiman atau tempat tinggal yang ditanami dengan campuran beberapa jenis tanaman. Tanaman-tanaman jangka pendek seperti ubi-ubian, palawija dan sayuran diusahakan oleh sebagian kecil penduduk ditanam secara campuran di lahan-lahan kecil berukuran 2 × 3 m hingga 5 × 20 m dengan memanfaatkan lahan pekarangan di sekitar rumah atau lahan kosong di sekitar pemukiman di sekitar perkampungan dan wilayah kelola milik marga atau klen. Di samping itu, penduduk juga memanfaatkan dusun-dusun sagu, baik yang tumbuh secara alami maupun yang ditanam untuk diekstraksi menjadi tepung sebagai bahan makanan pokok (papeda). Kondisi lahan yang kurang subur menyebabkan beberapa hasil-hasil pertanian tidak dapat berpoduksi secara optimal. Pemanfaatan hutan yang ada dikawasan hutan KPHL Biak Numfor bersama masyarakat adat adalah berupa Hutan Tanaman Rakyat (HTR) seluas 3.185 ha dan Koperasi Peran Serta Masyarakat (Kopermas) Supmasi seluas 5.000 ha berlokasi di Makmakerbo.
Ketergantungan Masyarakat Terhadap Hutan
Ketergantungan masyarakat terhadap hutan berada dalam kategori rendah sampai dengan tinggi sebagaimana terlihat pada Gambar 14. Sebagian besar penduduk yang hidup diwilayah pesisir maupun pinggiran hutan memiliki tingkat ketergantungan sedang sampai tinggi.
Gambar 14 Tingkat Ketergantungan Masyarakat terhadap Hutan
Tingkat ketergantungan ini tidak sebatas pada aspek produksi hutan dan lahan hutan, tetapi juga fungsi perlindungan dan fungsi tata klimat yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat lokal secara langsung maupun tidak langsung
Rencana Pengelolaan Hutan KPHL Biak Numfor
50
dari ekosistem hutan dalam mempertahankan hidup (existence) dan
peningkatan kesejahteraan (welfare). Masyarakat yang memiliki
ketergantungan tinggi terhadap hutan adalah masyarakat yang hidup di wilayah-wilayah seperti Distrik Biak Timur, Oridek,Yendidori, Biak Utara, Warsa, Swandiwe dan Orkeri.
Pemanfaatan yang dilakukan oleh masyarakat tetap berada dalam batas resiliensi sumberdaya hutan, hal ini sejalan dengan nilai-nilai kearifan lokal masyarakat yang begitu mempengaruhi pola pemanfaatan. Dilihat dari sisi akses ke dalam kawasan hutan tidak ada pembatasan selama berada dalam batas-batas wilayah kelola masyarakat adat yang bersangkutan. Pola ketergantungan yang demikian memberikan gambaran hubungan yang disebut
Pola Ekstraksi (Soemarworo, 1989; Sardjono, et all 1998, Sardjono, 2004).
Berbagai manfaat yang diperoleh masyarakat dari pemanfaatan terhadap sumberdaya hutan. Bahwa pemanfaatan sumberdaya hutan ini sudah berlangsung ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu. Dimulai sejak masyarakat secara berkelompok hidup pada masa meramu dan berburu, ketergantungan tersebut berjalan terus walaupun budidaya tanaman dan domestikasi hewan telah mulai dikenal. Bahkan saat masyarakat membentuk perkampungan dan hidup dalam suatu wilayah administrasi yang defenitif secara jelas ketergantungan tersebut tetap dapat disaksikan apalagi wilayah Biak Numfor memiliki 66% kawasan lindung.
Namun saat ini orientasi dan motivasi ketergantungan terhadap hutan senantiasa berubah seiring dengan keterbukaan wilayah, perkembangan budaya dan perekonomian masyarakat. Banyak bukti telah terjadi pergeseran orientasi dan motivasi ketergantungan terhadap kawasan hutan, dimana masyarakat yang hidup di wilayah pesisir pantai dan dataran rendah yang dekat dengan pusat pemerintahan dan ibukota tingkat ketergantungannya makin menurun (rendah sampai sedang) karena aktivitas ekstraksi sumberdaya sebagian telah diganti dengan aktivitas-aktivitas produksi yang padat modal dengan tingkat migrasi dari luar yang relatif tinggi. Dampaknya bahwa struktur dan fungsi hutan mengalami degradasi karena upaya rehabilitasi dan pemeliharaan kurang diperhatikan. Pola ketergantungan
Rencana Pengelolaan Hutan KPHL Biak Numfor
51
seperti ini disebut pola eksploitasi (Soemarworo, 1989; Sardjono, et all 1998, Sardjono, 2004). Jadi secara umum masyarakat di Kabupaten Biak Numfor memiliki dua pola hubungan ketergantungan dengan hutan yaitu pola
ekstraksi dan pola eksploitasi.
Dari kawasan hutan KPHL Biak Numfor masyarakat banyak mendapatkan manfaat dari mengambil hasil-hasil hutan. Berdasarkan hasil penelitian di Kampung Auki Distrik Padaido terdapat 60 jenis tumbuhan berkayu yang dimanfaatkan masyarakat (Fatubun, 2003). Jenis-jenis tumbuhan berkayu tersebut yang digunakan sebagai bahan makanan sebanyak 18 jenis, bahan bakar 6 jenis, bahan pembuatan alat-alat rumah tangga 13 jenis, 26 jenis digunakan dalam kegiatan pertanian, berburu, nelayan dan transportasi, magis 2 jenis, bahan bangunan 20 jenis, sebagai bahan pembuatan obat-obatan 12 jenis dan untuk bahan pembuatan alat seni dan kerajinan 11 jenis.
Tabel 20. Berbagai Manfaat yang diperoleh Masyarkat Biak Numfor dari Sumberdaya Hutan di Sekitarnya
Fungsi Hutan
Manfaat Bagi Masyarakat
Langsung Tidak Langsung
Produksi Hasil Hutan Kayu dan
tururnannya (konstruksi berat,
atap/dinding, kayu
bakar/arang)
Hasil Hutan Bukan Kayu
(Buah-buahan, biji-bijian,
sayauran, gaharu, getah,
damar, buah merah,rotan,
bambu, binatang buruan Areal untuk berkebun dan
memancing
Sumber penghasilan (semi komersil dan komersil)
Pelestarian budaya
masyarakat ysng berbasis
produk hutan
Lindung/Ko nservasi
Selain hasil hutan kayu dan hasil hutan bukan kayu ada manfaat Kesuburan tanah, tata
air untuk air bersih,
perlindungan banjir dan
kekeringan
Keanekaragaman hayati
(Flora, Fauna, Mikro
Menjamin produktivitas
pertanian masyarakat
Kesehatan dan kesejahteraan hidup
Pelestaria pengetahuan dan
teknologi tradisional a.l.
budidaya, berburu binatang, sistem pemanenan
Rencana Pengelolaan Hutan KPHL Biak Numfor
52
organisme) Seperti berbagai jenis burung dan tanaman angrek
Tata Klimat Iklim Mikro (kesejukan, dan
curah hujan lokal)
Udara bersih (Penghasil
oksigen dan menyerap
karbondioksida) Sinar matahari Polusi udara
Kenyamanan dan kedamaian kehidupan di kampung
Mendukung kehidupan yang sehat dan sejahtera
Mengurangi dampak bencana alam
Lain-lain Batas alam untuk menandakan
tanah adat/pemilikan lahan Perlindungan tempat-tempat
keramat/dihormati
Mendukungan pelestarian
identitas kelembagaan lokal Melestarikan etika konservasi
dan pergaulan hidup antar anggota masyarakat