• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

C. Hakekat Remaja dan Gender

1. Karakteristik Remaja Secara Umum

Remaja adalah mereka yang berada pada usia 12-18 tahun (Hurlock, 1991). Menurut Erickson masa remaja adalah masa terjadinya krisis identitas atau pencarian identitas diri. Gagasan Erickson ini dikuatkan oleh James Marcia yang menemukan bahwa ada empat status identitas diri pada remaja yaitu identity diffusion/ confussion, moratorium, foreclosure, dan identity achieved (Santrock, 2003). Karakteristik remaja yang sedang berproses untuk mencari identitas diri ini juga sering menimbulkan masalah pada diri remaja.

Gunarsa (1989) merangkum beberapa karakteristik remaja yang dapat menimbulkan berbagai permasalahan pada diri remaja, antara lain sebagai berikut.

a. Kecanggungan dalam pergaulan dan kekakuan dalam gerakan. b. Ketidakstabilan emosi.

c. Adanya perasaan kosong akibat perombakan pandangan dan petunjuk hidup.

d. Adanya sikap menentang dan menantang orang tua.

e. Pertentangan di dalam dirinya sering menjadi pangkal penyebab pertentangan-pertentang dengan orang tua.

f. Kegelisahan karena banyak hal diinginkan tetapi remaja tidak sanggup memenuhi semuanya.

g. Senang bereksperimentasi. h. Senang bereksplorasi.

i. Mempunyai banyak fantasi, khayalan, dan bualan.

j. Kecenderungan membentuk kelompok dan kecenderungan kegiatan berkelompok.

2. Remaja dan Perkembangan Gender

Pembahasan tentang sejarah dan perkembangan gender tidak bisa terlepas dari sejarah pergerakan kaum feminisme di Barat Maka pada pembahasan ini, penulis akan memulai dari pergerakan feminisme secara singkat sampai akhirnya muncul istilah gender dan perkembangan gender pada remaja.

a. Sejarah perkembangan gender

Istilah feminis sebagai nama suatu pergerakan aktivis perempuan dalam memperjuangkan hak mereka bukanlah yang pertama dalam tatanan bahasa. Sebelum istilah ini muncul, kata-kata seperti womanism, the woman movement, atau woman question telah digunakan terlebih dahulu. Seiring berkembangnya gerakan kelompok feminisme ini, istilah-istilah di atas berubah menjadi feminisme hingga sekarang.

Gerakan feminisme berkembang dengan baik tidak hanya di Barat, tetapi juga di negara-negara Timur. Salah satu faktor yang mendorong

cepatnya gerakan femenisme adalah gerakan ini menjadi gelombang akademik di universitas-universitas, melalui progam women studies. Bahkan gerakan ini mampu menyentuh bidang politik dimana gerakan perempuan ini telah mendapat restu dari Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) dengan dikeluarkannya CEDAW (Convention on the Eliminating of All Farms of Discriminating Against Women).

b. Perkembangan gender remaja

Dewasa ini, kaum perempuan berusaha semakin keras untuk memiliki pengaruh dan mengubah dunia bisnis, politik, dan mengubah hubungannya dengan laki-laki. Walaupun perubahan yang diusahakan tersebut masih jauh dari sempurna, sudah terdapat beberapa buah dari usaha tersebut, diantaranya warisan kebebasan, kesempatan, dan fleksibilitas bagi kaum perempuan. Kemungkinan pada generasi selanjutnya, ketika remaja sekarang menjadi orang dewasa di masa depan, akan banyak permasalahan etis, sebagai cerminan dari persamaan hak antara perempuan dan laki-laki. Menilik lebih jauh mengenai perkembangan gender pada remaja, Santrock, (2014) mengupasnya dalam tiga pilar sebagai berikut.

1) Pengaruh biologis, sosial, dan kognitif pada perkembangan gender remaja.

Perkembanganan gender merujuk pada bagaimana perempuan dan laki-laki harus berpikir, bertindak, dan mengolah rasa. Masa remaja merupakan waktu transisi dimana terjadinya

perubahan pubertas. Akibat perubahan pubertas, seksualitas memainkan peran yang lebih penting dalam pembangunan gender bagi remaja. Biasanya remaja menjadi lebih sensitif, hal ini dikarenakan terjadi perubahan hormon dalam diri. Pengetahuan atau informasi yang kurang, biasanya dapat menimbulkan mall adjusment pada diri remaja yang berujung pada pemahaman gender yang salah.

Pola mall adjusment yang sudah ada dalam konstruk sosial, menunjukan bahwa perempuan lebih sedikit memiliki daya untuk mengendalikan sesuatu. Sedangkan laki-laki dipandang dapat mengendalikan banyak hal dalam proses hidupnya. Konstruksi sosial semacam inilah, yang kemudian sering menimbulkan bias gender sedari dini.

Melihat konstruksi sosial yang sudah ada, terjadi proses berpikir dalam diri remaja, biasanya remaja cenderung melakukan pengamatan dan proses peniruan (bertindak meniru orang disekitarnya). Hal serupa juga diungkapkan oleh Blakemore dkk, (2009) bahwa secara singkat, faktor kognitif berkontribusi pada cara berpikir dan bertindak remaja, sebagai laki-laki dan perempuan yang dipengaruhi oleh pola yang tersedia.

2) Stereotip, persamaan, dan perbedaan gender

Stereotip gender merupakan pandangan atau konsepsi secara umum mengenai laki-laki dan perempuan, dengan berbagai

sudut pandang. Stereotip gender dalam perkembangan remaja tentu memiliki persamaan dan perbedaan. Persamaan dan perbedaan gender remaja nampak dalam tingkat kematangan kognitif dan sosial emosional masing-masing pribadi. Contohnya adalah adanya realita yang menunjukan bahwa remaja perempuan secara signifikan memiliki kemampuan melebihi remaja laki-laki, baik dalam membaca, menulis, perolehan score akademik, dan eksistensi untuk bertahana selama studi, artinya sedikit ditemukan remaja putri putus sekolah. Secara sosioemosional laki-laki biasanya nampak lebih agresif, aktif secara fisik. Sementara, perempuan dipandang lebih kuat dalam hubungan, lebih baik di pengaturan diri, perilaku dan manajemen emosi, dan lebih sering terlibat dalam perilaku yang lebih pro sosial.

Beranjak lebih jauh, pandangan di atas menimbulkan berbagai kontroversi tentang perbedaan gender serta sejauh mana perbedaan gender tersebut terjadi, dan apa penyebabnya. Secara gamblang perbedaan gender dapat terjadi karena masih marak konstruksi sosial yang belum operasional, secara khusus di Indonesia. Hal ini juga tidak lepas dari berbagai latar belakang budaya setiap pribadi. Namun, Hyde (2013) memberikan pernyataan bahwa kontroversi perbedaan gender yang terjadi selama ini terlalu dibesar-besarkan. Lebih jelas diungkapkan bahwa pada dasarnya laki-laki dan perempuan memiliki faktor

psikologi yang sama atau tidak jauh berbeda. Dengan demikian konteks gender merupakan suatu konsep penting. Peran gender dapat bervariasi sesuai dengan budaya di mana remaja tersebut mengembangkannya dan secara langsung melakukan tindakannya dalam sebuah perilaku.

3) Klasifikasi peran gender

Peran gender sering mengklasifikasikan individu dalam kategorikan maskulin, feminin, androgini, dan kategori yang dibeda-bedakan. Kebanyakan individu dengan peran androgini memiliki kesehatan mental yang baik serta fleksibilitas yang tinggi, meskipun secara spesifik, budaya individu juga menentukan bagaimana adaptif seseorang dalam orientasi peran gendernya.

Berpikir mengenai perkembangan gender, masih banyak negara di dunia yang lebih menggunakan peran gender yang tradisional. Artinya, perhatian khusus diberikan kepada anak laki-laki yang dibesarkan dengan cara tradisional, model ini mengajari remaja laki-laki menyembunyikan emosi mereka. Sebuah penelitian mengungkap bahwa karakter remaja cenderung sangat maskulin.

Dokumen terkait