BAB II KAJIAN TEORETIS
A. Hakikat Karya Sastra
Kata sastra berakar dari kata Cas yang berarti memberi petunjuk, mengarahkan, mengajar. Akhiran –tra biasanya menunjukan alat atau sarana. Sastra dapat diartikan sebagai alat untuk mengajar, buku petunjuk, buku intruksi atau pengajaran. Sedangkan kata susastra adalah kata ciptaan Jawa dan Melayu. Kata itu mengandung arti pustaka, buku atau naskah.1 Dapat dikatakan bahwa sastra merupakan alat yang dapat digunakan sebagai media mengajar.
Rene Wellek dan Austin Warren menuliskan bahwa sastra adalah suatu kegiatan kreatif, sebuah cabang seni.2 Sastra adalah segala sesuatu yang tertulis atau tercetak. Sastra adalah karya imajinatif.3 Fungsi utama sastra yang hakiki menurut Horace adalah menghibur dan mendidik (dulce et utile). Umumnya karya sastra selalu memenuhi salah satu dari kedua fungsi tersebut atau kedua-duanya.4 Kalau suatu karya sastra berfungsi sesuai dengan sifatnya, kedua segi tadi (kesenangan dan manfaat) bukan hanya harus ada, melainkan harus saling mengisi.5 Dengan begitu, sebuah karya sastra haruslah menghibur dan bermanfaat bagi pembacanya.
Sastra merupakan media komunikasi, yang melibatkan tiga komponen, yaitu: pengarang sebagai pengirim pesan, karya sastra sebagai pesan itu sendiri dan penerima pesan, yakni pembaca karya sastra.6 Ketiga komponen tersebut saling melengkapi, pengarang yang menulis sebuah karya sastra,
1
A.Teeuw, Sastra dan Ilmu Sastra, (Bandung: Firma Ekonomi, 1984), h. 23.
2
Rene Wellek dan Austin Warren, Teori Kesusastraan, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1993), h. 3.
3
Antilan Purba, Sastra Indonesia Kontemporer, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2012), h. 3.
4
Widjojoko dan Endang Hidayat, Teori dan Sejarah Sastra Indonesia, (Bandung: UPI PRESS, 2006), h. 3.
5
Wellek, op.cit., h. 26-27.
6
Melani Budianta, dkk., Membaca Sastra (Pengantar Memahami Sastra untuk Perguruan Tinggi), (Magelang: IndonesiaTera, 2003), h. 20.
karya sastra sebagai media komunikasi dan pembaca sebagai penikmat dan penilai sebuah karya sastra.
Jadi, berdasarkan definisi tersebut karya sastra merupakan sebuah karya yang memiliki dua hal yang saling melengkapi, yaitu menghibur dan bermanfaat. Karya sastra juga tidak dapat dipisahkan dari pengarang, sastra dan pembaca. Dengan pengertian tersebut, maka sebuah karya sastra dapat pula dijadikan sebagai media untuk mengajarkan atau memberikan informasi kepada pembacanya. Sebuah karya sastra dibuat oleh pengarang dengan maksud menghibur dan memberikan manfaat kepada pembacanya. Karena dalam sebuah karya sastra terdapat nilai-nilai atau pelajaran yang didapatkan oleh pembaca. Pada penelitian kali ini, jenis karya sastra yang akan dikaji ialah mengenai persepsi pembaca dalam novel Ayat-Ayat Cinta.
1) Pengertian Novel
Novel merupakan cerita yang melukiskan suatu peristiwa yang luar biasa dari kehidupan tokoh cerita, dan peristiwa itu menimbulkan krisis/pergolakan batin yang mengubah perjalanan nasib tokohnya.7 Novel is a little gallant history, which must contain a great deal of love. A novel
is a kind of abbreviation of a romance.8 Novel merupakan sebuah cerita
bagus yang berisi banyak cinta. Sebuah novel adalah singkatan dari cinta. Menurut Abrams, istilah novel dalam bahasa Indonesia berasal dari istilah novel dalam bahasa Inggris. Sebelumnya istilah novel dalam bahasa Inggris berasal dari bahasa Itali, yaitu novella (yang dalam bahasa Jerman
novella). Novella diartikan sebagai sebuah barang baru yang kecil,
kemudian diartikan sebagai cerita pendek dalam bentuk prosa.9 Menurut Nurgiyantoro, istilah novella atau novella mengandung pengertian yang sama dengan novelet (dalam bahasa Inggris novelette) yang berarti sebuah karya prosa fiksi yang panjangnya cukup, tidak terlalu panjang, namun tidak terlalu pendek.
7
Widjojoko,Teori dan Sejarah Sastra Indonesia, (Bandung: UPI PRESS, 2006), h. 41.
8
Jeremy Hawthorn, Studying the novel: an introduction, (USA, Routledge, 1985), h.5.
9
Ada juga yang mengemukakan bahwa kata novel berasal dari kata Latin, yaitu noveltus yang diturunkan dari kata novies yang berarti baru. Dikatakan baru karena kalau dibandingkan dengan jenis-jenis sastra lainnya seperti puisi, drama, dan lain-lain, maka jenis novel ini muncul kemudian.10 H.B. Jassin berpengertian bahwa novel adalah cerita mengenai salah satu episode dalam kehidupan manusia, suatu kejadian yang luar biasa dalam kehidupan itu, sebuah krisis yang memungkinkan terjdinya perubahan nasib pada manusia.11
Dari beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa novel merupakan suatu cerita fiksi yang termasuk ke dalam prosa rekaan yang menyuguhkan tokoh-tokoh dan menampilkan serangkaian peristiwa dan latar secara tersusun sehingga menyuguhkan sebuah cerita dan dalam novel pula terjadi beberapa perubahan nasib yang dialami oleh tokoh-tokohnya. Permasalahan yang terdapat dalam novel juga lebih rumit dibandingkan dengan cerita pendek.
2) Jenis-Jenis Novel
Novel dilihat dari segi mutu dibedakan atas novel literer dan novel popular. Murphy menggolongkan novel atas novel picisan, absurd, dan horror. Berikut ini beberapa pengertian dari jenis-jenis novel, yaitu: 12 a) Novel popular, merupakan jenis sastra popular yang menyuguhkan
problematika kehidupan yang berkisar pada cinta asmara yang bertujuan menghibur. Novel tersebut popular pada masanya dan banyak penggemarnya, khususnya di kalangan remaja. Contohnya:
Puspa Indah di Taman Hati (Edi D. Iskandar), Badai Pasti Berlalu
(Marga T.)
b) Novel literar, novel yang bermutu sastra atau disebut juga novel serius. Novel literar menyajikan persoalan-persoalan kehidupan manusia
10
Henry Guntur Tarigan, Prinsip-Prinsip Dasar Sastra, (Bandung:Angkasa, 1986), h. 164.
11
Purba, op. cit., h. 63.
12
Widjojoko dan Endang Hidayat,Teori dan Sejarah Sastra Indonesia, (Bandung: UPI PRESS, 2006), h. 43-44.
secara serius. Dalam novel serius, pengalaman dan permasalahan kehidupan yang ditampilkan dalam novel jenis ini disoroti dan diungkapkan sampai ke inti kehidupan yang bersifat universal. Contohnya: Harimau-Harimau (Muchtar Lubis), Pada Sebuah Kapal (Nh. Dini), Telegram dan Stasiun (Putu Wijaya).
c) Novel picisan¸ isinya cenderung mengeksploitasi selera dengan suguhan cerita yang mengisahkan cinta asmara yang menjurus ke pornografi. Novel ini mempunyai ciri bertemakan cinta asmara yang berselera rendah ceritanya cenderung cabul, alurnya datar, jalan ceritanya ringan, dan mudah diikuti pembaca, menggunakan bahasa yang aktual, bertujuan komersil. Contohnya: novel karya Motinggo Busye.
d) Novel absurd, sejenis fiksi yang ceritanya menyimpang dari logika biasa. Irasional, realitas, bercampur angan-angan dan mimpi.
Tokoh-tokoh ceritanya “antiTokoh-tokoh” seperti orang mati bisa hidup kembali,
mayat dapat berbicara dan lain-lain. Contohnya: novel Ziarah (Iwan Simatupang) yang mengisahkan seorang dokter di daerah pedalaman Papua yang menurut warga sekitar bahwa dokter itu bisa menyembuhkan dan menghidupkan orang yang sudah mati. Sobar (Putu Wijaya).
e) Novel horor, cerita yang melukiskan kejadian-kejadian yang bersifat horor, seperti drakula penghisap darah, hantu-hantu yang gentayangan dan berbagai keajaiban supranatural yang berbaur dengan kekerasan, kekejaman, kekacauan, dan kematian.
3) Unsur Pembangun Novel
Unsur Intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur intrinsik sebuah novel adalah unsur-unsur yang (secara langsung) turut serta membangun cerita. Kepaduan antar berbagai unsur
intrinsik inilah yang membuat sebuah novel berwujud,13 menjadi kesatuan yang bulat dan berjudul. Selain itu, ada tokoh-tokoh, ada tempat tertentu yang menjadi area bergeraknya tokoh-tokoh dan ada pula juru cerita yang mengisahkan kisahnya tersebut.14 Dapat dikatakan bahwa unsur intrinsik ialah unsur yang terdapat di dalam sebuah karya sastra itu sendiri, yang berasal dari dalam karya tersebut. Unsur intrinsik terdiri atas:
1. Tema sering disebut sebagai ide atau gagasan yang menduduki tempat utama dalam pemikiran pengarang dan sekaligus menduduki tempat utama dalam cerita.15 Menurut Stanton dan Kenny adalah makna yang dikandung oleh sebuah cerita. Menurut Hartono dan Rahmanto, tema merupakan gagasan dasar yang menopang sebuah karya sastra.16 Menurut Brooks dan Warren tema adalah dasar atau makna suatu cerita atau novel,17 suatu yang menjadi pokok persoalan atau suatu yang menjadi pemikiran. Tema disampaikan melalui jalinan cerita.18 sebuah persoalan tertentu. Tema merupakan persoalan tertentu yang hendak dikemukakan atau diutarakan pengarang kepada pembaca. Adanya inti persoalan dalam cerita nanti akan dijabarkan melalui unsur-unsur intrinsik dalam novel.19
Tema menjadi dasar pengembangan seluruh cerita, maka tema bersifat menjiwai seluruh bagian cerita itu. Untuk menemukan tema sebuah karya fiksi, haruslah disimpulkan dari keseluruhan cerita, tidak hanya berdasarkan bagian-bagian tertentu cerita. Tema dapat dipandang sebagai dasar cerita, gagasan dasar dalam sebuah karya. Untuk menemukan sebuah tema dalam cerita, maka harus dibaca
13
Burhan Nurgiyantoro,Teori Pengkajian Fiksi, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, Maret, 2005), h. 23.
14
Widjojoko dan Endang Hidayat,Teori dan Sejarah Sastra Indonesia, (Bandung: UPI Perss, 2006), h. 46.
15
Ibid.
16
Burhan Nurgiyantoro, Teori Pengkajian Fiksi, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, Maret, 2005), h. 67.
17
Henry Guntur Tarigan, Prinsip-Prinsip Dasar Sastra, (Bandung: Angkasa, 1986), h. 125.
18
Suroto, Teori dan Bimbingan Apresiasi Sastra Indonesia, (Jakarta: Erlangga, 1989), h. 88.
19
secara menyeluruh cerita tersebut, setelah itu barulah ditafsirkan ide ceritanya.
2. Plot/Alur ialah jalan cerita yang berupa peristiwa-peristiwa yang disusun satu persatu dan saling berkaitan menurut hukum sebab akibat dari awal sampai akhir cerita.20 Struktur rangkaian kejadian dalam cerita disusun secara logis. Plot dibangun oleh beberapa peristiwa yang disebut alur.21A plot is in ordered, organized sequence of events and actions. Plots in this sence are found in novels rather than in ordinary
life; life has stories, but novels have plot and stories.22Sebuah plot
merupakan kesatuan antara kejadian dan tindakan. Plot dalam hal ini merupakan kehidupan baru; kehidupan memiliki cerita, tetapi novel mempunyai plot dan cerita.
Rangkaian peristiwa direka dan dijalin dengan seksama membentuk alur yang menggerakan jalannya cerita melalui rumitan ke arah klimaks dan selesaian.23 Menurut Abrams plot ialah struktur peristiwa-peristiwa yang terlihat dalam pengurutan dan penyajian berbagai peristiwa tersebut untuk mencapai efek emosional dan efek artistik tertentu. Menurut Stanton plot merupakan urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan peristiwa yang lain.24 Pada prinsipnya menurut Brooks alur ialah struktur gerak yang terdapat dalam fiksi atau drama.25
Jadi, plot atau alur merupakan rangkaian peristiwa-peristiwa cerita yang mempunyai penekanan pada adanya hubungan sebab dan akibat. Peristiwa-peristiwa tersebut tidaklah berdiri sendiri. Peristiwa yang
20
Suroto, op. cit., h. 89.
21
Widjojoko dan Endang Hidayat, Teori dan Sejarah Sastra Indonesia, (Bandung: UPI Perss, 2006), h. 46.
22
Jeremy Hawthorn, Studying the novel: an introduction, (USA, Routledge, 1985), hlm 53.
23
Melani Budianta, dkk., Membaca Sastra (Pengantar Memahami Sastra Untuk Perguruan Tinggi), (Magelang: IndonesiaTera, 2003), h. 86.
24
Burhan Nurgiyantoro, Teori Pengkajian Fiksi, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, Maret, 2005), h. 113.
25
satu akan mengakibatkan timbulnya peristiwa yang lain, peristiwa yang lain itu akan menjadi sebab timbulnya peristiwa berikutnya dan seterusnya sampai akhir cerita. Terdapat beberapa tahapan plot menurut Aristoteles, yaitu: awal (beginning), tengah (midle) dan akhir (end).26
a) Tahap Awal dalam sebuah cerita dapat pula disebut sebagai tahap
perkenalan. Tahap perkenalan pada umumnya berisi sejumlah informasi penting yang berkaitan dengan berbagai hal yang akan dikisahkan pada tahap-tahap berikutnya. Misalnya berupa penunjukan dan pengenalan latar, seperti nama-nama tempat, suasana alam, waktu kejadian, pengenalan tokoh cerita dan lainnya.27 Menurut Brooks dan Warren, permulaan atau eksposisi merupakan proses penggarapan serta memperkenalkan informasi penting kepada para pembaca.28
b) Tahap Tengah dalam sebuah cerita dapat pula disebut sebagai
tahap pertikaian atau konflik. Pada tahap ini ditampilkan adanya pertikaian atau konflik yang lebih meningkat dari sebelumnya sehingga membuat semakin menegangkan. Konflik yang dikisahkan dapat berupa konflik internal, konflik yang terjadi dalam diri seorang tokoh, konflik eksternal atau konflik yan terjadi antar tokoh. Dari konflik tersebut nantinya akan muncul klimaks yaitu ketika konflik (utama) telah mencapai titik intensitas tertinggi.29 Menurut Brooks dan Warren, pertengahan atau komplikasi merupakan kejadian yang membangun atau menumbuhkan suatu ketegangan serta mengembangkan suatu masalah yang muncul dari sesuatu yang disajikan dalam cerita. 30
26
Nurgiyantoro. op. cit., h. 142.
27
Ibid.
28
Henry Guntur Tarigan, Prinsip-Prinsip Dasar Sastra, (Bandung: Angkasa, 1986), h. 127.
29
Burhan Nurgiyantoro, Teori Pengkajian Fiksi, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, Maret, 2005), h. 145
30
c) Tahap Akhir dalam sebuah cerita dapat juga disebut sebagai tahap peleraian. Tahap peleraian merupakan sebuah tahap yang menimbulkan reaksi dari klimaks. Jadi bagian ini berisi (misalnya) bagaimana kesudahan cerita, atau menyaran pada hal bagaimanakah akhir sebuah cerita. Dalam teori klasik yang berasal dari Aristoteles, penyelesaian cerita dibedakan ke dalam dua macam kemungkinan: kebahagiaan (happy end) dan kesedihan (sad end).31 Brooks dan Warren mengemukakan bahwa tahap akhir atau resolusi ialah sesuatu yang memberi pemecahan terhadap alur.32 3. Tokoh dan Penokohan istilah “tokoh” menunjuk pada orangnya,
pelaku cerita. Penokohan atau karakterisasi menunjuk pada sikap dan sifat para tokoh yang ditafsirkan oleh pembaca. Penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita.
Penokohan juga berkaitan dengan bagaimana pengarag menampilkan tokoh dalam ceritanya dan bagaimana tokoh-tokoh tersebut.33 Tokoh cerita (character) menurut Abrams adalah orang (-orang) yang ditampilkan dalam suatu karya naratif atau drama yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan.34 Menurut Sudjiman, tokoh merupakan individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berlakuan dalam berbagai peristiwa dalam cerita.35
Penokohan bertugas menyiapkan atau menyediakan alasan bagi tindakan-tindakan tertentu.36 Penokohan adalah cara pengarang dalam
31
Nurgiyantoro, op. cit., h. 145-146.
32
Tarigan, loc. cit.
33
Suroto, Teori dan Bimbingan Apresiasi Sastra Indonesia, (Jakarta: Erlangga, 1989), h. 92
34
Burhan Nurgiyantoro, Teori Pengkajian Fiksi, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, Maret, 2005), h. 165.
35
Melani Budianta, dkk., Membaca Sastra (Pengantar Memahami Sastra Untuk Perguruan Tinggi), (Magelang: IndonesiaTera, 2003), h. 86.
36
Widjojoko dan Endang Hidayat, Teori dan Sejarah Sastra Indonesia, (Bandung: UPI Perss, 2006), h. 47.
menggambarkan dan mengembangkan karakter tokoh-tokoh dalam cerita.37 Terdapat beberapa cara memperlihatkan penokohan: a) cara analitik adalah cara pengarang menjelaskan atau mengisahkan tokohnya secara langsung. b) cara dramatik adalah cara pengarang yang tidak mengisahkan apa dan siapa tokohnya secara langsung, tetapi dengan menggunakan hal-hal lain, yaitu: 1. Gambaran tentang tempat atau lingkungan sang tokoh, 2. Percakapan tokoh itu dengan tokoh lain, 3. Pikiran sang tokoh atau pendapat tokoh lain tentang dirinya.38 Tokoh-tokoh cerita dalam fiksi dapat dibedakan dalam beberapa jenis penamaan berdasarkan dari sudut mana penamaan itu dilakukan. Di antaranya adalah:39
a) Tokoh dilihat dari segi peranan atau tingkat pentingnya tokoh
dalam sebuah cerita, yaitu: tokoh utama dan tokoh tambahan.
Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam
novel yang bersangkutan. Ia merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian. Karena tokoh utama paling banyak diceritakan dan selalu berhubungan dengan tokoh-tokoh lain, ia sangat menentukan perkembangan plot secara keseluruhan. Sedangkan Tokoh
tambahan adalah tokoh yang sedikit hadir dalam cerita, tidak
dipentingkan dan kehadirannya hanya jika ada keterkaitan dengan tokoh utama, secara langsung ataupun tidak langsung.40
b) Tokoh dilihat dari fungsi penampilan tokoh dapat dibedakan ke dalam tokoh protagonis dan tokoh antagonis. Menurut Altenbernd & Lewis tokoh protagonis adalah tokoh yang memberikan simpati dan empati bagi pembaca, tokoh yang dikagumi yang salah satu jenisnya secara popular disebut sebagai hero-tokoh yang memiliki
37
E. Kosasih, Apresiasi Sastra Indonesia, (Jakarta: Nobel Edumedia, 2008), h. 61.
38
Widjojoko, loc cit.
39
Burhan Nurgiyantoro, Teori Pengkajian Fiksi, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, Maret, 2005), h. 176.
40
nilai dan norma yang ideal bagi pembaca. Sedangkan tokoh
antagonis dapat disebut juga sebagai tokoh „lawan‟ dengan tokoh
protagonist, secara langsung ataupun tidak langsung. Tokoh antagonis menimbulkan ketegangan dan konflik dalam cerita khususnya ketegangan dan konflik yang dialami oleh tokoh protagonis.41
c) Tokoh berdasarkan perwatakannya dapat dibedakan atas tokoh sederhana (simple and flat character) dan tokoh bulat (complex
and round character). Tokoh sederhana adalah tokoh yang hanya
memiliki satu sifat-watak tertentu saja, ia tidak memiliki sifat dan tingkah laku yang dapat memberikan efek kejutan bagi pembaca. Sifat dan tingkah laku seorang tokoh sederhana bersifat datar, monoton, hanya mencerminkan satu watak tertentu. Sedangkan
tokoh bulat adalah tokoh yang diungkap berbagai kemungkinan sisi
kehidupannya, sisi kepribadian dan jati dirinya. Ia dapat saja memiliki watak tertentu yang diformulasikan, namun ia dapat pula memampilkan watak dan tingkah laku bermacam-macam, bahkan mungkin seperti bertentangan dan sulit diduga. Tingkah lakunya sering tak terduga dan memberikan efek kejutan bagi pembaca.42 4. Latar atau setting adalah lingkungan tempat, waktu dan suasana
peristiwa terjadi.43 Segala keterangan mengenai waktu, ruang dan suasana terjadinya lakuan dalam karya sastra.44 Latar berfungsi sebagai pendukung alur dan perwatakan. Gambaran situasi yang tepat akan membantu memperjelas peristiwa yang sedang dikemukakan.45
Menurut Abrams disebut juga sebagai pengertian tempat, hubungan waktu dan lingkungan sosial tempat terjadinya
41 Ibid., h. 178. 42 Ibid., h. 181. 43
Widjojoko dan Endang Hidayat, Teori dan Sejarah Sastra Indonesia, (Bandung: UPI Perss, 2006), h. 48.
44
Melani Budianta, dkk., Membaca Sastra (Pengantar Memahami Sastra Untuk Perguruan Tinggi), (Magelang: IndonesiaTera, 2003), h. 20.
45
peristiwa yang diceritakan.46 Latar memberikan pijakan cerita secara kongkret dan jelas, hal ini penting untuk memberikan kesan realistis kepada pembaca dan menciptakan suasana tertentu yang seolah-olah sungguh-sungguh ada dan terjadi.47 Tempat dan waktu yang dirujuk dalam cerita bisa merupakan sesuatu yang faktual atau imajiner.48 Macam-macam latar:
a) Latar tempat menyaran pada lokasi terjadinya peristiwa yang
diceritakan dalam karya fiksi. Unsur tempat yang digunakan mungkin berupa tempat-tempat dengan nama tertentu, inisial tertentu, mungkin lokasi tertentu tenpa nama jelas.49
b) Latar waktu berhubungan dengan masalah „kapan‟ terjadinya
peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi.
Masalah „kapan‟ tersebut biasanya dihubungkan dengan waktu
faktual, waktu yang ada kaitannya atau waktu berlatar sejarah.50
c) Latar sosial menyaran pada hal-hal yang berhubungan dengan
perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Latar sosial dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap serta spiritual.51
5. Sudut Pandang pengisahan yang menerangkan siapa yang bercerita. Pusat pengisahan ini penting untuk memperoleh gambaran tentang kesatuan cerita.52 Sudut pandang merupakan kedudukan atau posisi pengarang dalam cerita tersebut atau posisi pengarang menempatkan
46
Burhan Nurgiyantoro, Teori Pengkajian Fiksi, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, Maret, 2005), h. 217.
47
Ibid., h. 216.
48
E. Kosasih, Apresiasi Sastra Indonesia, (Jakarta: Nobel Edumedia, 2008), h. 60.
49
Nurgiyantoro, op. cit., h. 227.
50
Ibid.,h. 230.
51
Ibid.,h. 233.
52
Widjojoko dan Endang Hidayat, Teori dan Sejarah Sastra Indonesia, (Bandung: UPI Perss, 2006), h. 47.
dirinya dalam cerita tersebut. Apakah ia terlibat langsung dalam cerita atau hanya sebagai pengamat yang berdiri di luar cerita.53
Menurut Abrams ialah cara atau pandangan yang dipergunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca. Sudut pandang pada hakikatnya merupakan sebuah strategi, teknik dan siasat yang dipilih oleh pengarang utuk mengemukakan gagasan dan ceritanya.54 Jadi, dapat dikatakan bahwa sudut pandang merupakan cara pengarang dalam bercerita, apakah ia terlibat langsung dalam cerita atau tidak. Terdapat beberapa sudut pandang dalam penggambaran cerita, yaitu:55
a) Sudut Pandang Orang Ketiga: “dia”. Pengisahan cerita yang
menggunakan sudut pandang „diaan‟ terletak pada seorang narator
yang berada di luar cerita yang menampilkan tokoh-tokoh cerita dengan menyebut nama, atau kata ganti orang. Dalam sudut
pandang orang ketiga “dia” dapat dibedakan menjadi dua macam,
yaitu “dia” mahatahu (narator mengetahui segalanya dan serba
tahu) dan “dia” terbatas atau hanya sebagai pengamat (narator
mengetahui segalanya, namun terbatas hanya pada seorang tokoh).56
b) Sudut Pandang Orang Pertama: “aku”. Pengisahan cerita yang
menggunakan sudut pandang „akuan‟ terletak pada seorang narator
yang ikut terlibat dalam cerita. Dalam sudut pandang orang
pertama “Aku” dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu “aku” (tokoh utama) dan “aku” (tokoh tambahan).57
c) Sudut Pandang Campuran. Penggunaan sudut pandang ini lebih
dari satu teknik. Pengarang dapat berganti-ganti dari teknik yang
53
Suroto, Teori dan Bimbingan Apresiasi Sastra Indonesia, (Jakarta: Erlangga, 1989), h. 96.
54
Burhan Nurgiyantoro, Teori Pengkajian Fiksi, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, Maret, 2005), h. 248. 55 Ibid., h. 256-266. 56 Ibid.,h. 256. 57 Ibid.,h. 262.
satu ke teknik yang lain. Semua itu tergantung pada kemauan pengarang untuk menciptakan sebuah kreativitas dalam karyanya.58 6. Gaya Bahasa adalah sebuah cara mengungkapkan pikiran melalui
bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahasa).59
Menurut Aminuddin gaya ialah cara seorang pengarang menyampaikan gagasannya menggunakan media bahasa yang indah dan harmonis serta mampu menuansakan makna yang dapat menyentuh daya intelektual dan emosi pembaca.60
Dalam cerita, penggunaan bahasa berfungsi untuk mencipta nada atau suasana persuasif dan merumuskan dialog yang mampu memperlihatkan hubungan dan interaksi antar tokoh.61
Gaya bahasa dalam karya sastra memilki fungsi utama yaitu fungsi komunikatif. Sastra khususnya fiksi dapat dikatakan sebagai dunia dalam kata. Apapun yang dikatakan pengarang atau sebaliknya ditafsirkan oleh pembaca mau tidak mau harus bersangkut paut dengan bahasa. Bahasa dapat menimbulkan suasana yang tepat guna bagi adegan yang seram, adegan cinta, ataupun peperangan, keputusan,