Terus-
Menerus
dan Tahan
Godaan”
Tanggal 21 Maret 2013 Dr. Mohammad Saleh, S.H. dilantik oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono di Istana Negara. Sejak itu pula tugas sebagai Wakil
Ketua Mahkamah Agung Bidang Yudisial diembannya. Ia menggantikan Abdul Kadir Mappong, S.H., yang memasuki masa pensiun pada 1
Februari 2013.
Mengacu pada Undang-Undang Mahkamah Agung No. 5 Ta- hun 2004, pada pasal 5 ayat 3 disebutkan Wakil Ketua Mah- kamah Agung Bidang Yudisial membawahi Ketua Muda
Perdata, Ketua Muda Pidana, Ketua Muda Agama, Ketua Muda Militer, dan Ketua Muda Tata Usaha Negara. “Jadi, bidang yudisial itu terutama menyangkut masalah-masa-
lah perkara,” ujar pria kelahiran Pamekasan, Madura, 23 April 1946, ini.
Dengan berpedoman pada visi dan misi Mahkamakah Agung, pria yang terpilih menjadi hakim agung sejak 2007 ini menjalankan tugas substansialnya, “Sejak ditunjuk sebagai wakil ketua, saya mendapatkan per- kara-perkara PK, menangani perkara uji materiil, juga harus menyelesaikan perkara sebelumnya (sebelum menjabat wakil ketua MA).”
Doktor hukum lulusan Universitas Pajajaran Bandung ini menjadi hakim hampir 43 tahun. Ia mengawali karier- nya sebagai calon hakim tahun 1971. Tahun 1973 diang- kat sebagai hakim dan ditempatkan di Pengadilan Negeri Atambua hingga tahun 1980 (lihat Biodata Mohammad Saleh).
Dengan gamblang dan ramah Mohammad Saleh menjawab pertanyaan Herki Hartani (Redaksi Majalah Mahkamah Agung bersama Udin sebagai fotografer). Ia ditanyai berbagai hal, mulai dari tugas-tugasnya sebagai Wakil Ketua MA, profesionalisme hakim, sampai manajemen perkara. Berikut petikan wawancaranya.
WAWAN CARA
Dapatkah diceritakan bagaimana prosesnya hingga akhirnya Anda terpilih sebagai Wakil Ketua Mahkamah Agung Bidang Yudisial? Sebagaimana kita ketahui, dengan berakhirnya masa ja- batan Bapak Abdul Kadir Mappong, S.H, sebagai Wakil Ketua Mahkamah Agung Bidang Yudisial, tentunya terjadi kekosongan jabatan. Maka Mahkamah Agung melakukan pemilihan untuk mengisi tersebut.
Sebagaimana disebutkan dalam Undang-Undang Mahka- mah Agung No. 3 Tahun 2009 pasal 8 ayat 7, Wakil Ketua Mahkamah Agung itu dipilih dari dan oleh hakim agung. Oleh karenanya telah dilaksanakan pemilihan pada tang- gal 13 Februari 2013, karena Bapak Abdul Kadir Mappong pensiun terhitung pada tanggal 1 Februari 2013. Dalam pemilihan itu ternyata terpilih menggantikan beliau.
Saya sendiri, kalau ditanya bagaimana prosesnya, saya hanya berpendirian “Kun Fayakun” (kalau Tuhan meng- hendaki, maka semua akan terjadi). Jadi, saya berke- simpulan itu semua kehendak Tuhan. Kalau saya terpilih, wajib mengucap syukur. Tetapi kalau tidak terpilih, bukan rejeki saya.
Tanggal 1 Maret saya mendapatkan Surat Keputusan Presiden. Kemudian, karena kesibukan Presiden, akhirnya baru pada tanggal 21 Maret 2013 dilakukan pelantikan. Se- jak itulah saya mulai melaksanakan tugas-tugas sebagai Wakil Ketua Mahkamah Agung Bidang Yudisial.
Banyak masyarakat yang belum paham akan tugas pokok dan fungsi dari Wakil Ketua Bidang Yudisial, yang membedakannya de- ngan bidang non-yudisial. Mohon dijelaskan. Mengenai jabatan Wakil Ketua Mahkamah Agung Bidang Yudisial, kalau kita mengacu pada Undang-Undang Mah- kamah Agung no. 5 Tahun 2004, di dalam pasal 5 ayat 3 disebutkan Wakil Ketua Mahkamah Agung Bidang Yudisial membawahi Ketua Muda Perdata, Ketua Muda Pidana, Ketua Muda Agama, Ketua Muda Militer, dan Ketua Muda Tata Usaha Negara; jadi, bidang yang menyangkut perka- ra.
Bidang Non Yudisial tentunya di luar hal tadi, jadi me- nyangkut tugas-tugas dari Ketua Muda Pengawasan dan Ketua Muda Pembinaan. Jadi, bidang yudisial itu teruta- ma menyangkut masalah-masalah perkara. Sebagaimana kita ketahui di Mahkamah Agung sudah dibentuk 5 kamar
yang dipimpin oleh para Ketua Kamar, yaitu: Kamar Per- data, Pidana, Agama, Militer, dan TUN, yang Ketua Kamar tersebut dalam Undang-Undang Mahkamah Agung masih disebut sebagai Ketua Muda.
Sebagai Wakil Ketua Bidang Yudisial, Anda menjalankan tugas substansial yang berkait- an dengan perkara. Sejauh ini jenis perkara apa saja yang banyak Anda tangani?
Sejak saya ditunjuk sebagai Wakil Ketua, saya mendapat- kan perkara-perkara PK (Peninjauan Kembali) dari Ketua Mahkamah Agung dan menyelesaikan perkara-perkara yang sebelumnya (sebelum menjabat menjadi Wakil Ketua Mahkamah Agung). Saya juga menangani perkara Hak Uji Materiil, karena sejak wafatnya Prof. Paulus Lotulung dan sebelum ditunjuknya Bapak Imam Soebechi sebagai Ketua Kamar Tata Usaha Negara, saya menjabat sebagai Plh. Kalau dilihat dalam Keputusan Ketua Mahkamah Agung No. 112/KMA/SK/VII/2013 tentang Perubahan Kedua Su- rat Keputusan Mahkamah Agung No.142 KMA/SK/IX/2011 tentang Pedoman Penerapan Sistem Kamar pada Mah- kamah Agung disebutkan bahwa Wakil Ketua Mahkamah Agung tidak merangkap sebagai Ketua Kamar. Wakil Ke- tua Mahkamah Agung bertugas menangani perkara-per- kara yang membawa dampak luas kepada negara dan perekonomian negara, perkara-perkara yang akan mem- pengaruhi kredibilitas lembaga peradilan atau perkara lain yang dipandang penting oleh Ketua Mahakamah Agung. Kemudian Wakil Ketua Mahkamah Agung dapat bersidang di semua kamar. Penunjukan Ketua Mahkamah Agung dan para Wakil Ketua Mahkamah Agung untuk bersidang ditetapkan oleh Ketua Mahkamah Agung, dan Ketua Mah- kamah Agung dapat menunjuk hakim agung pada kamar terkait dengan perkara yang akan disidangkan sebagai Anggota Majelis.
Secara umum, tugas seorang Wakil yaitu membantu Ketua dalam membuat program kerja. Program kerja apa saja yang Anda canangkan untuk Mahkamah Agung, baik jangka panjang maupun pendek?
Tentunya program kerja itu dengan mengacu kepada visi dan misi Mahkamah Agung. Visi Mahkamah Agung yai- tu “Terwujudnya Badan Peradilan Indonesia Yang Agung”.
Sedangkan misinya meliputi 4 hal, yaitu: Menjaga kemandi- rian badan peradilan, memberikan pelayanan hukum yang berkeadilan kepada pencari keadilan, meningkatkan kualitas kepemimpinan Badan Peradilan, dan meningkatkan kredibi- litas dan transparansi Badan Peradilan
Jadi, kalau saya berkedudukan sebagai Wakil Ketua Mah- kamah Agung, tentunya saya membantu Ketua Mahkamah Agung dalam membuat program-program kerja tadi, se- bagaimana telah ditetapkan dalam beberapa Keputusan Mahkamah Agung. Program kerja yang sudah berjalan sam- pai Desember 2013 ini tentunya penyempurnaan sistem ka- mar sampai saat ini, karena sistem kamar ini terutama ber- tujuan mewujudkan konsistensi dan meningkatkan kualitas putusan Mahkamah Agung sebagai Pengadilan Tertinggi. Oleh karenanya, perlu penyempurnaan mengenai penerap- an sistem kamar secara menyeluruh.
Dalam hal pengawasan internal, apa saja kiat-kiatnya dan sejauh mana keberhasi- lan yang telah dicapai?
Seperti saya katakan tadi, karena pengawasan ini me- rupakan wilayah dari Wakil Ketua Non Yudisial, tentu- nya beliau dengan para Ketua Muda Pengawasan yang berkompeten di situ. Saya kira lebih tepat ditanyakan kepada Bapak Wakil Ketua Mahkamah Agung Non Yudisial dan Bapak Ketua Muda Pengawasan.
Secara umum ada 3 indikator kiner- ja perkara di MA, yaitu penyelesa- ian perkara dilakukan dgn cepat, penyelesaian minutasi tepat wak- tu, dan penurunan tunggakan perkara. Sejauh ini, apakah in- dikator tersebut efektif untuk Mahkamah Agung dalam manajemen perkara?
Ya, memang untuk mencapai Visi dan Misi Mahkamah Agung, memang perlu diin- tensifkan penyelesaian dengan cepat. Karena peraturan undang-un- dang juga menganut asas peradilan yang
dilakukan dengan sederhana, cepat dan biaya ringan se- bagaimana disebutkan pada pasal 2 Undang-Undang No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman yang mer- upakan asas peradilan. Namun, menyelesaikan perkara dengan cepat tentunya tidak boleh meninggalkan kualitas putusan; cepat saja, kalau tidak memperhatikan kualitas, tentunya juga akan menimbulkan kesulitan-kesulitan.
Kemudian, sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Mahkamah Agung no. 3 Tahun 2009, dalam pasal 32b disebutkan bahwa Mahkamah Agung harus member- ikan akses kepada masyarakat untuk mendapatkan informasi mengenai putus an Mahkamah Agung dan biaya pro ses pengadilan yang merupakan ketentuan Un-
WAWAN CARA
dang-Undang Mahkamah Agung. Setelah perkara itu dipu- tus oleh Majelis, tentunya kita harus cepat pula menyele- saikannya. Hal ini dipengaruhi beberapa faktor, misalnya kecepatan pengetikan, kecepatan pemeriksaan/koreksi dari hakim, dan kecepatan pengiriman berkas kepada penga- dilan pengaju.
Untuk mengetahui putusan apa saja, itu sudah dapat dilihat di website Mahkamah Agung. Oleh karenanya Ketua Mah- kamah Agung telah mencanangkan bahwa “sebelum ayam berkokok” di awal Tahun 2014, CTS sudah harus berjalan secara sempurna.
Merujuk kepada misi MA, menurut Anda, bagaimana cara MA dalam meningkatkan kredibilitas lembaga dan memberikan trans- parasi mengenai perkara yg sedang bergulir? Untuk transparansi tadi telah diwujudkan dalam pelaksa- naan CTS, dan dalam meningkatkan kredibilitas lembaga diperlukan semua hakim untuk bersikap profesional dan berintegritas tinggi. Kalau profesional saja tanpa integritas tentunya tidak akan memberikan keadilan; begitu pula se- baliknya. Namun demikian juga para hakim tersebut harus
takwa kepada Tuhan sebagaimana yang telah dipersyarat- kan oleh undang-undang untuk diangkat sebagai hakim agung maupun sebagai hakim pada Pengadilan Tingkat Pertama dan Pengadilan Tingkat Banding. Kemudian para hakim juga harus konsekuen dengan sumpah yang diucap- kan pada waktu diangkat sebagai hakim. Untuk profesio- nalitas harus terus belajar memperdalam ilmu hukum dan untuk integritas harus betul-betul takwa kepada Tuhan. Sebagai seorang hakim juga harus saling mengingatkan kalau ada temannya yang mau berbuat hal yang tidak pro- fesional dan tidak berintegritas.
Apa tantangan dan hambatan sebagai seo- rang Wakil Ketua MA dan juga hakim agung? Tantangan pertama sebagai hakim agung harus selalu mengikuti perkembangan hukum, karena hukum selalu berkembang sehingga putusan-putusannya akan meng- ikuti perkembangan hukum itu dan agar putusannya adil. Tantangan kedua, harus bisa menolak godaan-godaan, baik dari internal maupun eksternal di dalam menegakkan hukum. Tantangan ketiga, kita harus betul-betul menjaga kemandirian badan peradilan dari godaan-godaan seperti di atas.
Sebagai Wakil Ketua Mahkamah Agung Bidang Yudisial, sesuai dengan bidang tugas yang diemban, saya mem- bantu Ketua Mahkamah Agung melaksanakan tugas teru- tama dalam Bidang Yudisial untuk mencapai visi dan misi Mahkamah Agung.
Akhir-akhir ini, banyak pejabat hukum yang justru tersangkut masalah hukum. Bagaima- na cara mengantisipasi agar hal tersebut ti- dak terjadi pada diri Anda sendiri?
Kita harus konsekuen dalam menegakkan hukum ber- dasarkan ketentuan perundang-undangan yang ada, ser- ta harus tahan godaan dan menjaga kemandirian hakim dengan modal profesionalitas dan integritas yang tinggi, di samping selalu takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Adakah hal-hal lain yang akan Anda sam- paikan dalam edisi ke-3 majalah ‘Mahkamah Agung’ yang bertemakan Manajemen Perka- ra?
dah mengabdikan diri kurang lebih 42 tahun di bidang peradilan, menurut saya, perlu adanya peningkatan pe- ngetahuan secara terus-menerus bagi hakim, terutama hakim tingkat pertama. Karena kalau putusan-putusan yang mereka ambil sudah tepat dan adil, maka tentunya itu akan mempermudah tugas hakim tingkat banding maupun hakim tingkat kasasi. Oleh karenanya, perlu ditingkatkan pelatihan-pelatihan teknis bagi para hakim tersebut. Se- lain itu, untuk menjaga konsistensi putusan di Mahkamah Agung, maka rapat-rapat pleno/rapat-rapat kamar perlu diefektifkan sehingga tidak akan terjadi putusan-putusan yang berbeda-beda tentang suatu kasus yang sama. Tidak lupa pula untuk meningkatkan semangat kerja, perlu diperhatikan kesejahteraan para hakim, panitera, panitera
pengganti, juru sita serta staf seluruhnya. Bagi yang me- langgar kode etik, kita jangan segan-segan untuk membe- rikan sanksi sesuai dengan kesalahannya.
Rumus fondasi seorang hakim: Belajar ilmu secara te- rus-menerus, profesional, berintegritas tinggi, dan tahan godaan. Seorang hakim dalam melaksanakan tugas ha- rus memberikan putusan yang adil kepada para pencari keadilan. Peningkatan kepemimpinan sudah dimulai de-
ngan adanya it and proper test bagi para calon Ketua
Pe ngadilan Negeri Kelas IA dan Wakil Ketua Pengadilan Tinggi, dan nantinya bagi para calon Ketua Pengadilan
Tingkat Pertama Kelas II juga perlu diadakan it and proper
test agar terjaring para pimpinan pengadilan yang berkua- litas mulai dari tingkat bawah.
BI ODATA
Nama : Dr.H. Mohammad Saleh, S.H.,MH Tempat/Tanggal Lahir : Pamekasan, 23 April 1946 E-mail : [email protected]
Nama Istri : Sri Murti Rahayu, S.H.
Nama Anak : 1. Dr. Arman Yurisaldi Saleh, M.S.,SPs
2. Ratna Andamari Yuristina, S.H.,MH 3. Ratna Mutia Rinanti, S.H.,MH Alamat Rumah : Jl. Denpasar Kav.20, Kuningan Timur, Jak-Sel Alamat Kantor : Jl. Medan Merdeka Utara No. 9-13 Jakarta Pusat
RI WAYAT PEN DI DI K AN
1970: S1 FH Universitas Airlangga 2002: S2 STIH IBLAM
2006: S3 UNPAD Program Studi Ilmu Hukum