A. Hambatan-Hambatan Kinerja Tim Pengamat
2. Hambatan Non Yuridis
a). Kepemimpinan Kepala Lembaga Pemasyarakatan
Kepemimpinan bukanlah sumber kekayaan untuk dinikmati atau sumber puja puji untuk menyenangkan telinga, melainkan sumber kewajiban dan tanggung jawab. Kepemimpinan adalah upaya memobilisasi manusia kepada satu tujuan.
Definisi ini mengungkapkan 3 (tiga) elemen kepemimpinan, yaitu : 1). Ada tujuan yang hendak dicapai.
2). Ada sekelompok manusia.
3). Ada pemimpin yang mengemas tujuan dalam bentuk-bentuk praktis yang menarik perhatian kelompok tersebut.143
Dengan demikian, ”pemimpin” (leader) berbeda dengan ”pimpinan”(manajer). Kepemimpinan (leadership) berbeda dengan manajemen. Pimpinan organisasi menjalankan manajemen tetapi tidak secara otomatis merupakan pemimpin. Maka diharapkan sebagai pejabat yang menduduki jabatan struktural tidak hanya mampu menjalankan kepemimpinan dengan efektif tetapi sekaligus menjadi pemimpin yang menjalankan kepemimpinan dengan efektif sesuai dengan tingkatan dan cakupan kewenangan dan tanggung jawab.144
143
Adi Sujatno dan Didin Sudirman. Loc.cit, hlm.41 144
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan menyebutkan pemasyarakatan adalah kegiatan melakukan pembinaan Warga Binaan Pemasyarakatan (narapidana) berdasarkan sistem, kelembagaan dan cara pembinaan yang merupakan bagian akhir dari sistem pemidanaan dalam tata peradilan pidana. Sebagai suatu sistem, keberhasilan pembinaan dalam konteks pelaksanaan sistem pemasyarakatan ditentukan salah satu peran yaitu Kepala Lembaga Pemasyarakatan sebagai pemimpin.145 Aspek penting dari peran yang diharapkan dari Kepala Lembaga Pemasyarakatan adalah menyangkut gaya kepemimpinan dan kemampuan memotivasi bawahan dalam hal ini Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP) agar pelaksanaan pekerjaannya sinergis dengan keberhasilan program pembinaan. Kepemimpinan Kepala Lembaga Pemasyarakatan sangatlah mempengaruhi terhadap kinerja Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP). Karena kepemimpinan Kepala Lembaga Pemasyarakatan akan mampu menjadi faktor pendukung dalam mewujudkan Akuntabilitas keputusan Tim Pengamat Pemasyarakatan. Kepala Lembaga Pemasyarakatan sebagai penentu kebijakan yang memutuskan apakah rekomendasi/keputusan dari Tim Pengamat Pemasyarakatan dilaksanakan atau tidak.
Berdasarkan Pasal 18 ayat (3) Keputusan Menteri Hukum dan Perundang-Undangan Republik Indonesia Nomor : M.02.PR.08.03 Tahun 1999 Tentang Pembentukan Balai Pertimbangan Pemasyarakatan dan Tim
145
Pengamat Pemasyarakatan yang menyebutkan : Ketua, sekretaris dan anggota TPP Daerah ditunjuk dan diangkat berdasarkan Keputusan masing- masing Kepala UPT Pemasyarakatan.
Memperhatikan bunyi Pasal 18 tersebut, bukan tidak mungkin menimbulkan persepsi dari anggota Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP) bahwa mereka adalah Tim yang bekerja berada di bawah Kepala Lembaga Pemasyarakatan dan harus melaksanakan prinsip ABS (Asal Bapak Senang). Sehingga apa yang dilaksanakan hanya berorientasi sesuai kehendak Kepala atau pihak-pihak lain yang berkepentingan. Hal ini dapat saja terjadi bila Kepala Lembaga Pemasyarakatan selaku pemimpin tidak berpegang pada asas kepemimpinan yang memiliki nilai dan prinsip. Asas kepemimpinan menuntut agar kelompok bekerja sesuai dengan prinsip- dan nilai yang dipegang kelompok, serta masing-masing anggota kelompok memiliki kualitas dan nilai-nilai tertentu yang memberikan kontribusi pada berfungsinya mekanisme kelompok secara efektif.146
Pada Lembaga Pemasyarakatan Kls II B Lubuk Pakam susunan Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP) pernah mengalami sedikit perubahan, hal ini dapat dilihat pada daftar lampiran (1) dimana jumlah anggota keseluruhan menjadi 12 orang dan susunan tim ditambah dengan seorang wakil ketua. Adapun tambahan anggota diambil dari komandan regu penjagaan. Dengan pertimbangan bahwa komandan regu jaga selalu berhadapan langsung
146
dengan Warga Binaan Pemasyarakatan dan biasanya akan lebih mengetahui tentang sikap dan tindak dari Warga Binaan Pemasyarakatan. Tetapi dengan adanya pergantiaan pimpinan melalui Surat Keputusan Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kls II B Lubuk Pakam Nomor : W2.E.12.PK.01.05.03.1783 tertanggal 05 Nopember 2008 tentang Susunan Personalia Tim Pengamat Pemasyarakatan Lembaga Pemasyarakatan Kls II B Lubuk Pakam, susunan Personalia Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP) kembali mengalami perubahan sebagai berikut :
1. Ketua (merangkap anggota) : Sinarta Tarigan, SH (Kasi Binadik dan Giatja)
2. Sekretaris (merangkap anggota) : Irmayani, SH (Kasubsi Registrasi)
3. Anggota :
- Drs. Simon (Kasi Kamtib)
- Ridha Ansari Amd.IP,SH, M.Si (Ka.KPLP) - Dame Elfrida, SH (Kasubsi Perawatan) - Muntarin Saragih (Kasubsi Keamanan) - Mulianta Barus, SH (Kasubsi Binker)
Terdapat anggota tambahan diluar dari surat Keputusan tersebut yaitu : 1). Petugas Pembimbing Kemasyarakatan Balai Pemasyarakatan.
2). Wali Warga Binaan Pemasyarakatan, ikut dalam persidangan bila narapidana yang akan disidangkan adalah anak wali dari petugas tersebut.
b). Kualitas dan Kuantitas anggota Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP)
Menjadi anggota Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP) karena jabatan struktural yang didapat tidaklah menjamin anggota Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP) memahami akan tugas dan fungsinya. Kemampuan
personil (human resource) Lembaga Pemasyarakatan secara umum kurang memadai untuk menterjemahkan ”Konsep pemasyarakatan” dalam menjalankan tugas pembinaan.147Kondisi over kapasitas mempengaruhi kualitas dan kuantitas Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP) sehingga bekerja berdasarkan hal-hal yang bersifat mendesak dan mencari jalan pintas untuk pelaksanaan suatu proses pembinaan. Selain itu tidak adanya petunjuk administrasi yang jelas terhadap tugas-tugas juga menjadi faktor penghambat mendapatkan keakuntabilitasan Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP).
c). Sarana dan Prasarana
Salah satu indikator keberhasilan tugas Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP) dalam pembinaan Warga Binaan Pemasyarakatan adalah banyaknya Narapidana yang mendapat Pembebasan Bersyarat, Cuti Menjelang Bebas dan Cuti Bersyarat. Cukup kuat indikasi bahwa kesempatan pemberian seakan-akan PB lebih banyak diberikan kepada Narapidana dan Anak Didik Pemasyarakatan yang mempunyai kemampuan secara materil karena golongan ini mampu mengurus persyaratan administratif yang memerlukan biaya dan sebaliknya Narapidana dan Anak Didik Pemasyarakatan yang berekonomi lemah, kurang mampu mengurus persyaratan administratif sehingga seakan-akan kurang mendapat perhatian dan hal ini dirasakan adanya ketidakadilan yang dapat memicu timbulnya
147
gejolak dalam Lapas/Rutan.148 Para narapidana yang tidak mampu, tidak dapat menyediakan dana untuk foto copy berkas usulan Pembebasan Bersyarat (terutama salinan vonis dan Penelitian Kemasyarakatan/Litmas). Sehingga tidak dapat dipungkiri masalah anggaran dalam proses pembinaan integrasi ini memegang peranan yang sangat menentukan sekaligus menjadi faktor penghambat bagi pelaksanaan tugas Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP) dalam melaksanakan tugas.
Tidak tersedianya ruang khusus bagi Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP) dalam melaksanakan tugas, terutama ruang untuk persidangan membuat Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP) bekerja tidak efektif dan efesien.
B. Upaya-Upaya Yang Dilakukan Dalam Menanggulangi Hambatan-Hambatan