Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP) dalam menjalankan tugasnya pada pelaksanaan pembinaan narapidana adalah merupakan Administrasi Publik yang juga menjalankan Fungsi Administrasi Negara. Hal ini dapat dilihat bahwa Lembaga Pemasyarakatan sebagai Lembaga di bawah Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia mengemban tugas melaksanakan pebinaan bagi narapidana. Sebagaimana diketahui kehidupan di Lembaga Pemasyarakatan adalah merupakan miniatur dari kehidupan yang didalamnya berlangsung roda kehidupan. Karena apabila dilihat dari sudut pandang sosiologis, eksistensi Lembaga Pemasyarakatan adalah merupakan suatu ”alat penguasa” yang dibentuk dengan tujuan agar setiap anggota masyarakat yang telah melanggar peraturan/hukum yang ada di masyarakat (dan oleh karena itu dianggap mempunyai perilaku menyimpang) dapat dibina agar yang bersangkutan
98
Stop Press, Rekomendasi Kepala Divisi Pemasyarakatan se-Indonesia saat Temu Konsultasi TPP Pusat dan TPP Kanwil Tahun 2007, Warta Pemasyarakatan, Nomor 27 Tahun VIII- Nopember 2007.
dapat hidup dimasyarakat secara normal. Dalam arti setelah menjalani pidananya, dapat ikut aktif melaksanakan kegiatan-kegiatan kemasyarakatan secara positif.99 Untuk itu Warga Binaan Pemasyarakatan merupakan warga yang harus diberi pelayanan dalam memenuhi kebutuhannya. Dalam rangka menghadapi tuntutan- tuntutan masyarakat (termasuk narapidana) seiring dengan reformasi pemerintahan, pelayanan publik juga harus mengembangkan akuntabilitas dan meningkatkan pelayanan publik.100
Membicarakan Administrasi Negara berarti juga membicarakan mengenai perilaku aparat pemerintah dalam melaksanakan tugas pemerintahan, landasan Idiilnya adalah Pancasila, landasan hukumnya Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Pemerintah yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Sedangkan landasan teori dari perilaku aparat Pemerintah dituangkan dalam buku tulisan Richard Beckhard Pengembangan Organisasi, Strategi dan Model, dikemukakan teori dan rumus Perilaku dari Kurt Lewin, sebagai berikut :
B = f ( P.E )
Apabila dibaca, maka dengan lengkap akan berbunyi ”Behaviour is a function of
person and environment”, yang artinya tingkah laku individu adalah fungsi dari atau
hasil kerja, atau sangat ditentukan oleh pribadi orangnya dan lingkungan yang dihadapinya. Pribadi seseorang dapat menentukan tingkah lakunya oleh sebab pengalaman seseorang, minat kepentingan ataupun bakat seseorang akan menentukan
99
Adi Sujatno dan Didin Sudirman, Loc.cit, hlm. 90. 100
Seputar Kita, Akuntabilitas Dalam Pelayanan Publik, hukumham.info, Edisi 14 Oktober 2008.
cara persepsi seseorang, dan selanjutnya akan menentukan reaksi, atau respon seseorang terhadap lingkungannya. Rumus perilaku Kurt Lewin disebut ”Frame of
Reference” atau ”Kerangka Acuan” .101 Jadi apabila menghendaki perilaku aparat Pemerintah yang baik, yang tidak melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme, maka pribadi, yaitu pengalaman, bakat dan minat kepentingan aparat Pemerintah harus baik, kemudian lingkungan kerjanya juga harus baik, lingkungan kerja yang bersih dari korupsi, kolusi dan Nepotisme (KKN), sebab lingkungan kerja yang buruk akan mempengaruhi perilaku aparat Pemerintah.
Paradigma baru mengenai orientasi pelayanan aparatur birokrasi (birokrat), pada dasarnya menuntut perubahan dalam pelayanan, dimana aparatur/birokrat dituntut memilki visi dan misi dalam mewujudkan pelayanan prima kepada masyarakat. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan dalam paradigma baru mengenai orientasi pelayanan aparatur/birokrat adalah pemberdayaan (Empowerment). Pemberdayaan dalam hal ini dimaksudkan sebagai proses transformasi dari berbagai pihak yang mengarah pada : saling menumbuhkembangkan, saling memperkuat, dan menambah nilai daya saing global yang sama-sama menguntungkan.102
Perihal peningkatan Akuntabilitas Aparatur Negara ini Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia saat menyampaikan pidato awal tahun 2009 pada tanggal 20
101
Bachsan Mustafa, Sistem Hukum Indonesia Terpadu, ( Bandung : Citra Aditya Bakti, 2003), hlm.133.
102
IGN Mayun Dharmaadnya, Reformasi Pelayanan Publik Akan Merubah Paradigma Lama ”Selama Masih Bisa Dipersulit, Mengapa Harus Dipermudah, Kapita Selekta, Penegakan Hukum di Indonesia, (Jakarta : Prestasi Pustaka Publisher, 2006), hlm.371.
Januari 2009 menyampaikan program, sasaran dan kegiatan Depkumham untuk tahun 2009 yang antara lain :
1. Program Penerapan Kepemerintahan Yang Baik.
Dengan sasaran terwujudnya pemerintahan yang bersih, profesional, responsif dan bertanggung jawab dalam menyelenggarakan pemerintahan dan pembangunan, melalui kegiatan untuk mendukung penyelenggaraan operasional perkantoran dan pemeliharaan perkantoran, kelancaran pelaksanaan tugas dan fungsi Departemen Hukum Dan HAM di tingkat pusat 11 Unit Eselon I dan tingkat daerah (897 kantor/satker terdiri dari 33 Kanwil, 5 BHP, 107 Kanim, 13 Rudenim, 18 Perwakilan Imigrasi Luar Negeri, 126 TPI, 46 Pos Lintas Batas, 68 Bapas, 420 Lapas/Rutan dan 61 Rupbasan.
2. Program Peningkatan Pengawasan dan Akuntabilitas Aparatur Negara.
Dengan sasaran makin sempurna dan efektifnya sistem pengawasan dan audit, serta sistem akuntabilitas kinerja dalam mewujudkan aparatur negara yang bersih, akuntabel dan bebas KKN melakui kegiatan Penyelenggraan pemeriksaan yang obyektif serta mendukung terwujudnya pengawasan melekat.
3. Program Pengelolaan Sumber Daya Manusia Aparatur.
Dengan sasaran meningkatnya sistem pengelolaan dan kapasitas SDM Aparatur sesuai dengan kebutuhan dalam melaksanakan tugas kepemerintahan dan pembangunan melalui kegiatan Penyelenggaraan/pengembangan pendidikan sumber daya manusia serta pengembangan kapasitas/kualitas SDM (Diklat struktural dan Rintisan Gelar).
4. Program Peningkatan Pelayanan dan Bantuan Hukum.
Dengan sasaran terwujudnya pelayanan publik di bidang hukum yang mampu menjangkau semua lapisan masyarakat dan terciptanya kesempatan yang sama bagi anggota masyarakat untuk memperoleh keadilan melalui kegiatan Penyusunan/penyempurnaan/pengkajian peraturan perundang-undangan, pelayanan dan bantuan hukum serta pembinaan/penyelenggaraan pelayanan hukum yang terdiri dari opersional pelayanan hukum dan peningkatan kualitas pelayanan publik.103
Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP) dalam menjalankan tugasnya harus memiliki unsur-unsur utama yang memberikan gambaran suatu administrasi publik bercirikan kepemerintahan yang baik, yaitu :
1. Transparansi (transparency), yaitu dapat diketahui oleh banyak pihak mengenai perumusan kebijaksanaan dari pemerintah, organisasi dan badan usaha.104
Asas transparansi dalam Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP) dimaksudkan bahwa masyarakat (narapidana) secara pribadi dapat mengetahui secara jelas dan tanpa ada yang ditutupi dalam proses perumusan rekomendasi dan tindakan pelaksanaannya (implementasinya). Dengan kata lain, segala tindakan dan kebijaksanaan dalam merumuskan rekomendasi bagi pelaksanaan pembinaan harus selalu dilaksanakan secara terbuka dan diketahui umum.
103
Program, Sasaran dan Kegiatan DEPKUMHAM Tahun 2009 , http://www.depkumham.go.id/xDepkumham , di akses tanggal 16 Pebruari 2009.
104
Tjahjanullin Domai, ”Dari Pemerintahan ke Pemerintahan Yang Baik,” www.gogle.com, di akses tanggal 26 Desember 2008
2. Akuntabilitas (accountability), yaitu adanya kewajiban bagi aparatur pemerintah untuk bertindak selaku penanggung jawab dan penanggung gugat atas segala tindakan dan kebijakan yang ditetapkannya. Peraturan perundang-undangan harus membuat ketentuan secara cukup, agar pengelola atau pemerintahan selalu patuh terhadap ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan pelaksanaan pemerintahan. Untuk itu perlu diciptakan kondisi-kondisi sistematis yang menghukum kelakuan yang menyeleweng dari etos kerja yang diharapkan dan mengajari kelakuan yang sesuai.105
Asas akuntabilitas menjadi perhatian dan sorotan pada era reformasi ini, karena kelemahan pemerintahan Indonesia justru dalam kualitas akuntabilitasnya. Asas akuntabilitas berarti pertanggungjawaban pejabat publik terhadap masyarakat yang memberinya delegasi dan kewenangan untuk mengurusi berbagai urusan dan kepentingan mereka. Setiap pejabat publik dituntut untuk mempertanggungjawabkan semua kebijakan, perbuatan, moral maupun netralitas sikapnya terhadap masyarakat. Pengembangan asas akuntabilitas dalam rangka good governance tiada lain agar para pejabat atau unsur-unsur yang diberi kewenangan mengelola urusan publik itu senantiasa terkontrol dan tidak memiliki peluang melakukan penyimpangan untuk melakukan Korupsi Kolusi dan Nepotisme. Dengan asas ini akan terus memacu produktivitas profesionalnya
105
sehingga berperan besar dalam memenuhi berbagai aspek kepentingan publik.106 Asas akuntabilitas ini tergantung pada organisasi dan sifat keputusan yang dibuat, apakah keputusan tersebut untuk kepentingan internal atau eksternal organisasi.107
Rekomendasi yang dibuat Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP) haruslah berasas akuntabilitas dalam arti rekomendasi yang dihasilkan memang dapat dipertanggungjawabkan dan dapat dipertanggunggugatkan. Rekomendasi tersebut dibuat berdasarkan ketentuan dan peraturan yang sebenarnya, baik dari segi pengambilan keputusan maupun dari segi persyaratan administarsi dan subtantifnya.
3. Kepastian (predictability). Dalam sistem kepemerintahan yang baik, prinsip ini mengandung arti bahwa kepemerintahan yang baik mempunyai karateristik berupa jaminan kepastian hukum dan rasa keadilan masyarakat terhadap setiap kebijakan publik yang ditempuh. Oleh karena itu, setiap kebijakan dan peraturan perundang-undangan harus selalu dirumuskan, ditetapkan dan dilaksanakan berdasarkan prosedur baku yang sudah melembaga dan diketahui oleh masyarakat umum, serta memiliki kesempatan untuk mengevaluasi. Melaksanakan tugas dan tanggung jawab sesuai aturan Hukum (Rule of Law) dalam Tim Pengamat Pemasyarakatan merupakan hal yang sangat penting karena pada kenyataannya selalu terjadi perubahan peraturan. Hal yang nyata penulis jumpai adanya
106
Azyumardi Azra, Demokrasi, dan Hak Asasi Manusia Masyarakat Madani, Jakarta : Kencana, 2008, hlm.180.
107
Tjahjanullin Domai, ”Dari Pemerintahan ke Pemerintahan Yang Baik,” www.gogle.com, di akses tanggal 26 Desember 2008
perubahan dalam tata cara penghitungan tahap-tahap pembinaan yaitu penghitungan 1/3,1/2 dan 2/3 masa pidana. Perubahan terjadi dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor : M.HH.01.PK.05.06 Tahun 2008 tentang Perubahan Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor : M.01.PK.04.10 Tahun 2007 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Asimilasi, Pembebasan Bersyarat, Cuti Menjelang Bebas, dan Cuti Bersyiarat. Adapun perubahan pokok yang terjadi yaitu :
Ketentuan Pasal 8 ayat (1) huruf d diubah sehingga berbunyi sebagai berikut : a. Penghitungan menjalani masa pidana dilakukan sebagai berikut :
1). Sejak ditahan
2). Apabila masa penahanan terputus, penghitungan penetapan lamanya masa menjalani pidana dihitung sejak penahanan terakhir;
3). Apabila ada penahanan rumah dan/atau penahanan kota, maka penahanan tersebut dihitung sesuai ketentuan yang berlaku;
4). Perhitungan 1/3 (satu pertiga), 1/2 (satu perdua), atau 2/3 (dua pertiga) masa pidana adalah 1/3 (satu pertiga), 1/2 (satu perdua), atau 2/3 (dua pertiga) kali masa pidana dikurangi remisi dan dihitung sejak ditahan;108 Dengan adanya perubahan peraturan ini maka pelaksanaan tahap-tahap
pembinaan juga mengalami perubahan dan menyesuaikan dengan peraturan tersebut.
4. Partisipasi (participation). Untuk mewujudkan pemerintahan yang baik dalam pelaksanaan pembangunan, partisipasi dari semua pihak sangatlah dibutuhkan.
108
Pasal 1Peraturan Menteri Hukum dan HAM R.I Nomor : M.HH.01.PK.05.06 Tahun 2008 tentang Perubahan Peraturan Menteri Hukum dan HAM Nomor M.01.PK.04.10 Tahun 2007 Tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Asimilasi, Pembebasan Bersyarat, Cuti Menjelang Bebas, dan Cuti Bersyarat
Demikian pula dalam melaksanakan pembinaan narapidana di Lembaga Pemasyarakatan. Salah satu wadah untuk mewujudkan adanya partisipasi dari masyarakat dan instansi lain dapat dilihat dari susunan anggota Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP).
Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP) juga merupakan tempat penyampaian pengaduan dan keluhan dari narapidana selama menjalani pidana dalam Lembaga Pemasyarakatan. Dalam melakukan tugas pelayanan ini Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP) harus memiliki ketulusan dan intregritas yang bermuara pada hal-hal yang melekat dalam pelayanan prima (membuat orang lain merasa senang ),
seperti : a. Keramahan, kesopanan, perhatian dan persahabatan dengan orang yang
menghubunginya.
b. Kredibilitas dalam arti dalam arti bahwa dalam melayani masyarakat, berpedoman pada prinsip ketulusan dan kejujuran dalam menyajikan jasa pelayanan yang sesuai dengan kepentingan/kebutuhan, sesuai dengan harapan, dan sesuai dengan komitmen pelayanan yang menempatkan pelanggan(masyarakat/costumer) pada urutan nomor satu.
c. Akses dalam arti bahwa seorang aparatur yang tugasnya melayani masyarakat mudah dihubungi baik langsung atau tidak langsung.
d. Penampilan fasilitas pelayanan yang dapat mengesankan pelayanan sesuai dengan keinginan masyarakat/costumer.
e. Kemampuan dalam menyajikan pelayanan sesuai dengan keinginan/harapan (waktu, biaya, kualitas dan moral).109
Pelayanan yang bermakna adalah pelayanan yang diberikan oleh pelayan dengan penuh perhatian, sehingga masyarakat yang dilayani, merasa diperhatikan dan merasakan nilai lebih dari yang diharapkan. Kualitas pelayanan berhasil dibangun, apabila pelayanan yang diberikan mendapatkan pengakuan dari pihak-pihak yang dilayani. Pengakuan terhadap keprimaan sebuah pelayanan, bukan datang dari aparatur yang memberikan pelayanan, malainkan datang dari pengguna jasa layanan (masyarakat/stake holders).110
Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP) yang salah tugasnya menerima keluhan dari Warga Binaan Pemasyarakatan harus mampu bertindak sebagai pelayan yang memberikan pelayanan yang bermakna baik bagi Warga Binaan Pemasyarakatan dan masyarakat.
Di tengah keterbatasan sarana dan permasalahan kompleks, terutama kelebihan kapasitas yang melanda Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) dan Rumah Tahanan Negara (Rutan) di Indonesia, sebuah Lapas Wanita di kota Malang berupaya meningkatkan mutu standar pelayanan.Targetnya, sistem pelayanan beberbasis ISO 9001 : 2000. Menteri Hukum dan HAM Andi Mattalatta terus berupaya meningkatkan mutu pelayanan lapas/rutan di Indonesia. Langkah nyata yang diambil adalah adalah dengan mencanangkan bimbingan pengembangan sistem manajemen
109
IGN Mayun Dharmaadnya, Op.cit., hlm.377 110
pelayanan ISO 9001 : 2000 di Lapas Kelas II A Wanita Malang. Andi mengemukakan : ” Masalah kompleks Lapas, terutama kelebihan kapasitas yang dihadapi Lapas/Rutan seluruh Indonesia ditambah dengan keterbatasan sarana pembinaan bukan halangan meningkatkan mutu pelayanan. Banyak kalangan yang berpikir standar seperti apa yang dinilai di Lapas/Rutan karena masalahnya sangat kompleks dan banyak. Namun, kalau Lapas/Rutan menunggu segala sesuatunya lengkap baru mulai, maka tidak akan ada tantangan dalam menciptakan sistem yang baik di tengah keterbatasan.111
Hal ini sejalan dengan hasil Rapat Kerja Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dengan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia pada tanggal 23 Juni 2008 yang menyebutkan : Berkaitan dengan banyaknya permasalahan yang terjadi di Lembaga Pemasyarakatan, Komisi III minta Menteri Hukum dan HAM segera membenahi manajemen Lembaga Pemasyarakatan dengan segera melakukan reformasi secara menyeluruh terhadap sistem kerja maupun sistem pengawasan di Lembaga Pemasyarakatan.112