A. Hambatan-Hambatan Kinerja Tim Pengamat
1. Hambatan Yuridis
a). Susunan anggota Tim Pengamat Pemasyarakatan
Susunan keanggotaan Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP) telah diatur dalam Keputusan Menteri Hukum dan Perundang-Undangan Republik Indonesia Nomor : M.02.PR.08.03 Tahun 1999 Tentang Pembentukan Balai
Pertimbangan Pemasyarakatan dan Tim Pengamat Pemasyarakatan dalam Pasal 16 tetapi pada Pasal 18 disebutkan :
1) Ketua, sekretaris dan anggota TPP Pusat ditunjuk dan diangkat berdasarkan Keputusan Menteri.
2) Ketua, sekretaris dan anggota TPP Wilayah ditunjuk dan diangkat berdasarkan Keputusan masing-masing Kepala Kantor Wilayah
3) Ketua, sekretaris dan anggota TPP Daerah ditunjuk dan diangkat berdasarkan Keputusan Kepala UPT Pemasyarakatan.
Dari hasil penelitian diperoleh bahwa dengan adanya Pasal 18 tersebut menunjukan adanya ketidakkonsistenan dari Keputusan Menteri Hukum dan Perundang-Undangan Republik Indonesia Nomor : M.02.PR.08.03 Tahun 1999 Tentang Pembentukan Balai Pertimbangan Pemasyarakatan dan Tim Pengamat Pemasyarakatan tersebut. Ketidakkonsistenan tersebut dapat menimbulkan celah sehingga Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP) yang dibentuk tidak sesuai dengan Pasal 16. Dapat juga terjadi Kepala Lembaga Pemasyarakatan membuat susunan Tim Pengamat Pemasyarakkatan (TPP) berdasarkan kehendaknya.Hasil keputusan tetap dinyatakan sah karena sidang dihadiri oleh 2/3 (dua pertiga) dari jumlah anggota yaitu terpenuhinya Pasal 21 ayat (1) Keputusan Menteri Hukum dan Perundang-Undangan Republik Indonesia Nomor : M.02.PR.08.03 Tahun 1999 Tentang Pembentukan Balai Pertimbangan Pemasyarakatan dan Tim Pengamat Pemasyarakatan yang berbunyi :
Sidang TPP dapat dianggap sah apabila dihadiri oleh sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah anggota dan dalam pelaksanaan sidang, baik sidang rutin maupun sidang khusus harus diadakan notulen serta dicatat secara jelas setiap usul-usul dari setiap anggota yang hadir.
Susunan anggota Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP) yang hanya diatur dalam Keputusan Menteri juga merupakan suatu kelemahan sehingga anggota lain diluar dari petugas pemasyarakatan kurang memahami bahkan tidak merasa memiliki peran yang harus dilaksanakan dalam proses pembinaan narapidana. Adapun anggota lain di luar petugas pemasyarakatan dimaksud adalah :
1. Hakim Pengawas dan Pengamat, yang disingkat dengan Hakim Wasmat. Selama ini Hakim Wasmat tidak pernah melaksanakan tugas pengawasan dan pengamatan dalam Lembaga Pemasyarakatan khususnya pada Lembaga Pemasyarakatan Kls II B Lubuk Pakam138 seperti apa yang diamanatkan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) dalam Pasal 277 sampai dengan Pasal 283. Dengan tidak melaksanakan tugasnya tersebut membuat Hakim Wasmat tidak mengetahui bahwa dalam Keputusan Menteri Hukum dan Perundang-Undangan Republik Indonesia Nomor : M.02.PR.08.03 Tahun 1999 Tentang Pembentukan Balai Pertimbangan Pemasyarakatan dan Tim Pengamat Pemasyarakatan Pasal 16 disebutkan bahwa Hakim Wasmat juga merupakan anggota Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP) yang tentunya juga berhak memberi saran dan pendapat baik dalam rangka pelaksanaan pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan maupun dalam rangka pengamatan untuk bahan penelitian
138
Wawancara dengan Kasi Binadik dan Giatja, Sinarta Tarigan, selaku Ketua Tim Pengamat Pengamat Pemmasyarakatan (TPP) Lembaga Pemasyarakatan Lubuk Pakam
demi ketetapan yang bermanfaat bagi pemidanaan. Tidak aktifnya Hakim Wasmat tersebut membuat pihak Lembaga Pemasyarakatan tidak mencantumkan Hakim Wasmat sebagai anggota dalam pembuatan Surat Keputusan Tim Pengamat Pemasyarakatan.
Hal ini sejalan dengan pendapat yang dikemukan Abdul Khaliq tentang penyebab kegagalan Lembaga Pemasyarakatan sebagai sub sistem keempat dalam sistem peradilan pidana dikarenakan :
”Adanya mis perception diantara sub sistem dalam CJS mengenai tugas dan tanggung jawab pembinaan seorang yang sedang tersesat perilakunya karena suatu tindakan pidana, artinya baik kepolisian, kejaksaan, maupun pengadilan pada umumnya berpendapat bahwa urusan pembinaan pelaku tindak pidana adalah merupakan tugas dan tanggung jawab Lembaga Pemasyarakatan semata.”139
Ketidakterpaduan antara pengadilan dengan Lembaga Pemasyarakatan dapat menambah ketidak percayaan masyarakat pada hukum sebab eks narapidana gagal berintegrasi kembali dengan masyarakat.140
2. Instansi lain terkait dengan Pembinaan Warga Binaan Pemasyarakatan. Sampai saat ini sidang Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP) baik di tingkat Wilayah maupun daerah lebih berorientasi pada pembahasan tentang pemberian program pembinaan integritas yaitu Asimilasi, Pembebasan Bersyarat, Cuti Menjelang Bebas, Cuti Mengunjungi Keluarga dan Cuti Bersyarat yang tidak berhubungan dengan Instansi terkait. Walaupun ada
139
Dalam Mahmud Mulyadi, Ham dan Criminal Justice System, Bahan Kuliah Kelas Hukum dan Ham Program Pascasarjana Ilmu Hukum Universitas Sumatera Utara, 2007/2008
140 Ibid.
pembahasan tentang program pembinaan yang berkaitan dengan Instansi lain tetapi dalam persidangan tidak mengundang Instansi lain.
3. Badan atau perorangan yang berminat terhadap pembinaan.
Upaya untuk meningkatkan pelaksanaan pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan adalah meningkatkan kerja sama antara Petugas Pemasyarakatan, masyarakat dan narapidana, untuk mendapatkan badan atau perorangan yang berminat terhadap pembinaan bukanlah sesuatu yang mudah.
b). Peraturan Pelaksana Tentang Syarat dan Tata Cara Pemberian Hak-Hak Narapidana.
Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia oleh karena sifat tugasnya yang langsung berhubungan dengan kepentingan publik, maka Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia diperbolehkan mengeluarkan produk-produk peraturan tersendiri yang dimaksudkan untuk melaksanakan peraturan-peraturan yang lebih tinggi. Dalam hubungan itu, selama ini, diberlakukan adanya Keputusan Menteri ataupun Peraturan Menteri yang berisi peraturan untuk kepentingan publik. Berkaitan dengan ini memang berkembang pemikiran untuk membedakan antara peraturan yang memuat norma aturan publik dengan penetapan yang bersifat administratif.141
141
Jimly Assiddiqie, Masa Depan Hukum di Era Teknologi Informasi : Kebutuhan Untuk Komputerisasi Sistem Informasi Administrasi Kenegaraan dan Pemerintahan, http//www.theceli.com/index.php ? option diakses tanggal 16 Pebruari 2009.
Pada pelaksanaannya saat ini tugas Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP) lebih berorientasi pada pelaksanaan pemberian hak-hak narapidana yang bersifat integrasi yaitu pemberian Asimilasi, Pembebasan Bersyarat, Cuti Menjelang Bebas dan Cuti Bersyarat . Karena untuk mewujudkan tujuan pembinaan salah satu upaya yang dapat ditempuh adalah dengan melalui pelaksanaan Asimilasi, Pembebasan Bersyarat, Cuti Menjelang Bebas dan Cuti Bersyarat. Pemberian hak-hak tersebut harus memenuhi persyaratan substantif dan administratif. Hal ini diatur dalam Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor : M.01.PK.04-10 Tahun 2007 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Asimilasi, Pembebasan Bersyarat, Cuti Menjelang Bebas, dan Cuti Bersyarat yang pada Pasal 5 disebutkan :
Narapidana atau Anak Didik Pemasyarakatan dapat diberi Asimilasi, Pembebasan Bersyarat, Cuti Menjelang Bebas, dan Cuti Bersyarat, apabila telah memenuhi persyaratan substantif dam administratif.
Tetapi, sebelumnya ditetapkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1999 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan pemasyarakatan maka persyaratan substantif bagi Narapidana yang dipidana melakukan tindak pidana terorisme, narkotika dan psikotropika, korupsi, kejahatan terhadap keamanan negara dan kejahatan Hak Asasi Manusia yang berat, dan kejahatan transnasional terorganisasi lainnya
mengalami perubahan. Pemberlakuan Peraturan Pemerintah ini sempat tertunda untuk waktu kurang lebih selama 2 (dua) tahun karena tidak ada kejelasan terhadap klasifikasi terhadap kasus-kasus tersebut.142 Dalam tenggang waktu kurang lebih 2 (dua) tahun tersebut Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP) bekerja dengan tidak berdasarkan/ sesuai peraturan yang ada (Tidak sesuai aturan hukum) dan membingungkan bagi Warga Binaan Pemasyarakatan yang ingin mendapatkan proses pembinaan integritas tersebut. Namun dengan dikeluarkannya Surat Edaran Direktur Jenderal Pemasyarakatan Nomor : PAS.86.OT.03.01 Tahun 2008 tentang Klasifikasi Kasus-Kasus Tertentu Terkait Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2006 yang dikeluarkan pada tanggal 10 September 2008 maka Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2006 mulai diberlakukan kembali. Kemudian pada tanggal 30 Desember 2008 ditetapakan Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor : M.HH.01.PK.05.06 Tahun 2008 tentang Perubahan Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor M.01.PK.04.10 tahun 2007 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Asimilasi, Pembebasan Bersyarat, Cuti Menjelang Bebas, dan Cuti Bersyarat.
142
Wawancara dengan Kasi Binadik dan Giatja, Sinarta Tarigan SH, selaku Ketua TPP Lembaga Pemasyarakatan Kls II B Lubuk Pakam, Pada Tanggal 16 Pebruari 2009.