• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hambatan Pada Masa Pelaksanaan Demokrasi Terpimpin

BAB IV: HAMBATAN-HAMBATAN YANG DIHADAPI MOHAMMAD

C. Hambatan Pada Masa Pelaksanaan Demokrasi Terpimpin

Demokrasi parlementer yang ditandai dengan silih bergantinya kabinet ternyata juga menghambat usaha yang dilakukan oleh Mohammad Hatta dalam mengembangkan lembaga koperasi. Hal ini tidak dapat dilepaskan adanya pengaruh liberalisme yang telah mengakibatkan dikotonomi dalam masyarakat. Sistem kekeluagaan dan gotong royong yang merupakan ciri khas dalam masyarakat semakin luntur. Campur tangan elit politik dalam lembaga koperasi semakin membuat lembaga koperasi tidak solid.

Pengaruh liberalisme yang makin hari makin kuat telah mempengaruhi percaturan perpolitikan nasional dari pusat sampai daerah. Kompetisi yang tidak sehat telah melahirkan sentimen negatif antara pihak satu dengan pihak lain yang berseberangan. Pada umumnya mereka saling menjatuhkan untuk memperkuat hegemoninya. Berkaitan dengan gerakan-gerakan koperasi cenderung telah terjadi pula usaha-usaha untuk mempolitisasi oleh partai-partai politik, sehingga aktivitas koperasi tidak berjalan dengan semestinya. Keadaan seperti ini semakin menjadi setiap harinya dan menimbulkan instabilitas yang sangat berpengaruh dalam roda pemerintahan dan kehidupan ekonomi rakyat. Dalam waktu yang relatif singkat sering terjadi pergantian kabinet, dan untuk menyusun kabinet yang baru sering

91

kali membutuhkan waktu yang relatif lama. Momentum yang tersedia seharusnya dapat dimaksimalkan dengan baik, akan tetapi para elit politik menjalankan politik dagang sapi, satu sama lain saling berebut, dan tawar menawar pada posisi menteri yang menguntungkan dalam pembentukan kabinet baru yang devinitif.

Konstituante yang ditugaskan untuk membentuk Undang-Undang Dasar baru ternyata mengalami kegagalan. Sementara dilain pihak ada kelompok yang menyuarakan untuk memberlakukan kembali Undang-Undang Dasar 1945. Melihat kondisi yang tidak menguntungkan seperti ini akhirnya telah mendorong Presiden Soekarno untuk mengeluarkan sebuah Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Dekrit ini dilatarbelakangi dengan adanya keyakinan bahwa Piagam Jakarta tertanggal 22 Juni 1945 menjiwa Undang-Undang Dasar 1945. Tindakannya ini telah mengakhiri sebuah periode parlementer Indonesia.116

116

Miriam Budiarjo, Dasar-DasarIlmuPolitik, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2008, hlm. 439.

Dengan diberlakukannya kembali Undang-Undang Dasar 1945 ternyata mendapatkan sambutan yang antusias dari sebagian besar rakyat Indonesia. Mereka memandang bahwa UUD 1945 merupakan undang-undang yang sangat cocok sebagai dasar hidup dan kepribadian bangsa Indonesia. Dan Pancasila merupakan dasar dari segala ketentuan yang terdapat dalam UUD 1945. Dengan demikian musyawarah dan mufakat akan diutamakan kembali sehingga persatuan dan kesatuan bangsa dapat terjamin dengan baik. Hal ini merupakan potensi yang besar dan kuat untuk mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Namun semuanya ini hanyalah isapan jempol

92

belaka, sunguh suatu hal yang amat disayangkan bahwa Presiden Soekarno telah melakukan kebijakan-kebijakan di luar aturan UUD 1945. Walaupun pada tanggal 17 Agustus 1959 Presiden mengemukakan Manifesto Politik yang merupakan garis-garis besar haluan negara yang dirumuskan dengan singkatan USDEK (Undang-Undang Dasar 1945, Sosialisme ala Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi terpimpin, Kepribadian Nasional).117

Demokrasi Terpimpin dan Ekonomi Terpimpin yang seharusnya terpimpin oleh Pancasila, persepsi dan implementasinya berubah menjadi terpimpin oleh garis-garis pemikiran pribadi Soekarno. Akibat dari tindakannya ini kemudian menjurus kearah otokrasi. Kegiatan perekonomian pada masa ini tidak berkembang dengan baik. Gerakan koperasi pada masa demokrasi terpimpin ditandai dengan sering kali pemerintah ikut campur tangan pada masalah intern. Kebebasan dalam pengambilan keputusan menjadi sangat terbatas dan mematikan inisiatif gerakan koperasi. Dengan demikian lembaga koperasi tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya. Dasar sukarela dalam berkoperasi telah diabaikan oleh segelintir oknum pengurusnya. Dan perekonomian Indonesia sedang mengalami kepailitan. Mohammad Hatta sebagai ekonomi yang berusaha membangun perekonomian kerakyatan dengan cara mendirikan koperasi telah mendapatkan predikat sebagai orang yang menganut paham liberal. Tuduhan ini sungguh merupakan hal yang ironis yang sengaja dilontarkan oleh pihak-pihak

117

Suradjiman, Ideologi Koperasi Membentuk Masyarakat Adil Dan Makmur, Djakarta, Ganaco, 1963, hlm. 67.

93

yang berseberangan dengan pemikirannya. Ia merasa sangat sedih menyaksikan ada kecenderungan bahwa koperasi yang ia bangun selama ini telah difeodalisasikan demi keuntungan sesaat. Usaha rakyat kecil dalam menghidupkan perekonomian telah mendapat saingan yang tidak sehat dari warung-warung China yang bertebaran di mana-mana dengan mengatasnamakan koperasi. Pada masa ini Partai Komunis Indonesia sedang mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Orang-orang komunis berusaha dengan keras untuk mencari massa sampai ke pelosok pedesaan. Mereka menilai koperasi sebagai penghalang untuk mencapai cita-citanya.118

Pada masa demokrasi terpimpin ini, pemerintah berusaha dengan keras untuk mengoptimalkan peran pamong praja dalam memajukan koperasi. Setiap pemimpin daerah mulai dari Gubernur sampai Ketua Rukun Kampung mempunyai tanggungjawab atas kemakmuran daerahnya. Dalam menciptakan kemakmuran ini harus dicapai dengan jalan berkoperasi, maka dengan sendirinya setiap pemimpin tersebut otomatis telah menjadi penggerak dan anggota dari koperasi. Akan tetapi pada prakteknya ternyata para pomong praja ini kurang menaruh perhatian dalam mengelola perkoperasian sehingga kemakmuran rakyat jauh dari harapan. Ketidakmajuan koperasi juga disebabkan adanya fasilitas yang seharusnya digunakan untuk menunjang kegiatan koperasi ternyata

118

94

diselewengkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. Di samping kurangnya koordinasi antara pengurus koperasi dengan pihak pamong praja.119

Dalam rangka untuk memperkuat Ekonomi Terpimpin, Presiden Soekarno mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 1960. Instruksi Presiden ini, dimaksudkan untuk mempercepat perkembangan koperasi. Untuk mendukungnya kemudian dibentuklah BAPENGKOP (Badan Penggerak Koperasi). Badan ini beranggotakan para pegawai pemerintah. Untuk mengadakan perimbangan dengan kecepatan pertumbuhan koperasi, maka pemerintah menjadikan koperasi sebagai distributor utama bahan-bahan pokok dengan harga yang jauh lebih rendah dangan harga yang berlaku di pasaran. Hal ini dilakukan oleh pemerintah akibat adanya inflansi. Kebijaksanaan pemerintah ini terhadap koperasi sekilas terlihat baik dengan maksud agar para anggota koperasi dan juga masyarakat dapat dengan mudah dan murah memperoleh barang-barang yang diperlukan. Tetapi kebijakan ekonomi seperti ini alangkah lebih baik dan tepat apabila situasi negara sedang genting.120

Perlakuan yang istimewa seperti ini di satu pihak telah memberikan kekuatan bagi koperasi untuk hidup dan mempunyai kemampuan dalam bersaing dengan perusahaan swasta, akan tetapi di sisi lain yang ditinjau dari kemampuan usaha yang sesungguhnya merupakan perjuangan, maka perlakuan pemerintah yang mengistimewakan koperasi dalam berusaha sebenarnya telah mematikan

119

Suradjiman, op.cit, hlm. 67.

120

95

inisiatif koperasi, dan sangat merugikan segi mentalitas berkoperasi karena dapat menimbulkan penyelewengan-penyelewengan dalam tubuh koperasi. Ini terlihat dengan adanya pembelokan bahan-bahan pokok yang seharusnya diperuntukan bagi rakyat ternyata dijual ke pasar dengan keuntungan yang besar, dan hasilnya untuk memperkaya diri dari segelintir oknum koperasi yang bersangkutan. Di samping itu juga ada penukaran bahan-bahan kebutuhan pokok yang kualitasnya lebih baik ditukarkan dengan bahan yang kualitasnya lebih buruk, ini terjadi demi keuntungan pribadi.121 Realitas seperti ini telah mengakibatkan krisis kepemimpinan yang berakibat pada manajemen koperasi, baik dari segi kepengurusan maupun disegi rapat anggota dan badan pemeriksa yang telah kehilangan kedaulatannya. Di samping itu tingkat kepercayaan masyarakat terhadap koperasi terjadi penurunan yang cukup drastis. Masyarakan tidak mempercayai lagi pada pembentukan koperasi-koperasi baru maupun dalam usaha koperasi-koperasi yang masih ada untuk mempertahankan diri. 122

Pada tanggal 21 April 1961 di Surabaya diselenggarakan MUNASKOP I (Musyawarah Nasional Koperasi ke-I). MUNASKOP I diadakan dengan tujuan untuk lebih menyempurnakan dan mensejalankan perkoperasian nasional dalam arti program dan organisasinya sesuai dengan garis-garis ekonomi terpimpinnya Soekarno. Dewan Koperasi Indonesia yang telah berdiri sejak tahun 1953 dibubarkan dan diganti dengan Kesatuan Organisasi Koperasi KOKSI). Dalam

121Idem

122

96

KOKSI ini dijelaskan: 1) Ketua KOKSI daerah tingkat I adalah Gubernur, sedang ketua KOKSI daerah tingkat II adalah Bupati atau Walikota, yang masing-masing bertindak sebagai penanggungjawab atas terintegrasinya gerakan koperasi dengan garis-garis kebijakan pemerintah. Ini sangat jelas membuktikan campur tangan yang mendalam dari pemerintah terhadap urusan internal koperasi. 2) Konsep Nasakom telah dimasukan kedalam tubuh organisasi koperasi, ini berarti pertentangan partai-partai politik telah berlangsung dalam lembaga perkoperasian. Pelaksanaan kebijakan dari Ekonomi Terpimpin ternyata telah mengabaikan ketentuan pasal 27 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Dasar 1945, ini terbukti dengan adanya pembebasan tugas dari kewajiban para pegawai pada Departemen Koperasi karena kurang dapat mengikuti garis-garis perkoperasian model Ekonomi Terpimpinnya Soekarno. Realitas seperti ini jelas merupakan bukti pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan UUD 1945, kemudian pertentangan-pertentangan aliran atau faham semakin tajam dalam masyarakat. Keadaan seperti ini telah mendorong bagi Mohammad Hatta untuk mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia. Dengan demikian pergerakan perkoperasian Indonesia telah kehilangan seorang tokohnya yang ada di lingkungan elit pemerintahan.123

Pada bulan Agustus 1965 di Jakarta diselenggarakan Musyawarah Nasional Koperasi ke- II. Pada Munaskop kali ini ideologi koperasi telah benar-benar dihilangkan, karena setiap utusan dari berbagai daerah yang hadir pada

97

hakekatnya mereka hanya diperlukan untuk pengesahan keputusan-keputusan yang telah dipersiapkan. Musyawarah dan mufakat yang selama ini dikedepankan oleh koperasi dalam pengambilan keputusan telah diabaikan, ini terjadi karena adanya politisasi koperasi oleh pemerintah. Politisasi koperasi kelihatan dengan jelas pada Undang-Undang Koperasi Nomor 14 Tahun 1965. Menurut undang-undang yang baru ini, koperasi adalah merupakan organisasi ekonomi dan alat revolusi yang berfungsi sebagai tempat pesemaian insan masyarakat serta wahana menuju sosialisme Indonesia yang berdasarkan Pancasila. Pada hakekatnya dalam undang-undang koperasi yang baru ini juga dicantumkan Pancasila sebagai dasar perkoperasian Indonesia, tetapi isi dan jiwa di dalamnya mengandung hal-hal yang bertentangan dengan asas pokok, landasan kerja, dan landsan idiil. Pengertian koperasi seperti ini jelas akan menghambat kehidupan dan perkembangan koperasi. Hakekat koperasi sebagai organisasi ekonomi rakyat yang demokratis dan berwatak sosial telah dikaburkan oleh pemerintah.124

Dengan diberlakukannya Undang-Undang Koperasi Nomor 14 Tahun 1965, pemerintah menjamin kelangsungan hidup koperasi, dengan jalan mempermudah persyaratan pendirian koperasi dan memberikan fasilitasnya. Namun pemerintah tidak menyadari adanya peningkatan inflasi. Kegiatan usaha produksi mengalami kesulitan beraktivitas karena masalah biaya yang tinggi. Akan tetapi koperasi dianggap mempunyai manfaat bagi masyarakat karena cukup membantu dalam memenuhi barang-barang kebutuhan konsumsi mereka.

98

Dengan kata lain koperasi dijadikan alat distribusi dan popular dikenal dengan koperasi jatah. Namun hal yang lebih memprihatinkan bahwa koperasi telah dijadikan arena permainan politik, asas-asas dan sendi-sendi dasar koperasi praktis telah diabaikan.125