BAB I: PENDAHULUAN
E. Landasan Teori
buku ini memaparkan tentang peranan Mohammad Hatta dalam meningkatkan perkembangan koperasi di tanah air.
Peranan adalah suatu konsep tentang apa yang dapat dilakukan oleh individu dalam masyarakat.23 Peranan juga dapat diartikan sebagai keterlibatan seseorang secara langsung dalam menjalankan tugas utama pada suatu organisasi dengan melaksanakan hak dan kewajiban sesuai kedudukan yang dijabat. Peranan menentukan perbuatan seseorang bagi masyarakat dimana ia berada serta kesempatan-kesempatan yang diberikan masyarakat kepada orang tersebut untuk melaksanakan perananya. Peranan lebih menunjuk pada fungsi, penyesuaian diri serta sebagai suatu proses, selain itu peranan mempunyai tujuan agar antara individu yang melaksanakan peranan dengan orang-orang di sekitarnya yang mempunyai hubungan dengan peranan tersebut diatur oleh nilai-nilai sosial yang dapat diterima dan ditaati kedua belah pihak.24
Berdasarkan pelaksanaannya peranan dapat dibedakan menjadi dua yaitu:25
22
G. Kartasa poetra, dkk, Koperasi Indonesia Yang Berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, Jakarta, Bina Aksara, 1987.
23
Dwi Narwoko, dkk, Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan, Jakarta, Kencana Prenada Media Group, 2004, hlm. 159.
24
Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta, Rajawali Pers, 1990, hlm. 268-270.
25
Dwi Narwoko, dkk, op. cit, hlm.159.
(1). Peranan yang diharapkan (expected roles): cara ideal dalam pelaksanaan peranan menurut penilaian masyarakat. Masyarakat menghendaki
13
peranan yang diharapkan dilaksanakan secermat-cermatnya dan peranan ini tidak dapat ditawar dan harus dilaksanakan seperti yang ditentukan, (2). Peranan yang disesuaikan (actual role), yaitu cara bagaimana sebenarnya peranan itu dijalankan. Dalam arti lain peran juga merupakan perilaku yang diharapkan dalam kerangka posisi sosial tertentu.26 Peranan dapat membimbing seseorang dalam berperilaku, karena fungsi peran sendiri adalah sebagai berikut:27
Berkaitan dengan judul “Peranan Mohammad Hatta Dalam Mengembangkan Koperasi” pengertian peranan yang lebih tepat adalah menurut Soerjono Soekanto. Dimana Mohammad Hatta melaksanakan tugasnya sebagai ahli ekonomi yang mempunyai latar belakang pendidikan ekonomi untuk memajukan kesejahteraan rakyat Indonesia dengan cara membangun koperasi. Dalam hal ini usaha sendiri sangat ditekankan untuk memajukan usaha dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat. Untuk itu usaha yang sesuai hanya adalah koperasi.
(1). Memberi arah pada proses sosialisasi, (2). Pewaris tradisi, kepercayaan, nilai-nilai, norma-norma dan pengetahuan, (3). Dapat mempersatukan kelompok atau masyarakat, (4). Menghidupkan sistem pengendali dan kontrol, sehingga dapat melestarikan kehidupan masyarakat.
28
26
Adam Kuper dan Jessica Kuper, Ensiklopedi Ilmu-Ilmu Sosial, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 2000, hlm. 672.
27
Dwi Narwoko, dkk, op. cit, hlm 159.
28
Mohammad Hatta, op. cit, hlm. 120.
14
Koperasi berasal dari kata co-operation yang artinya usaha bersama. Koperasi adalah perkumpulan kerjasama dalam mencapai tujuan.29 Menurut Dr. G. Mladenta bahwa koperasi adalah ialah usaha bersama, merupakan badan hukum, anggota ialah pemilik dan yang menggunakan jasanya dan mengembalikan semua penerimaan di atas biayanya kepada anggota sesuai dengan transaksi yang mereka jalankan. Sedangkan menurut Mohammad Hatta koperasi adalah usaha bersama untuk memperbaiki nasib penghidupan ekonomi berdasarkan tolong menolong. Semangat tolong menolong tersebut didorong oleh keinginan memberi jasa kepada kawan berdasarkan seorang buat semua dan semua buat seorang. 30
Mohammad Hatta juga menekankan bahwa koperasi bukanlah sebuah lembaga yang anti pasar atau non pasar dalam masyarakat tradisional. Koperasi, baginya adalah sebuah lembaga self-help lapisan masyarakat yang lemah atau rakyat kecil untuk bisa mengendalikan pasar. Oleh karena itu koperasi harus bisa bekerja dalam sistem pasar, dengan cara menerapkan prinsip efisiensi. Koperasi juga bukan sebuah komunitas tertutup, tetapi terbuka, dengan melayani non anggota, walaupun dengan maksud untuk menarik mereka menjadi anggota koperasi, setelah merasakan manfaat berhubungan dengan koperasi. Dengan cara itulah sistem koperasi akan mentransformasikan sistem ekonomi kapitalis yang
29
Mohammad Hatta, Koperasi, Djakarta, Penerbit Pembangunan, 1954, hlm.1.
30
15
tidak ramah terhadap pelaku ekonomi kecil melalui persaingan bebas, menjadi sistem yang lebih bersandar pada kerjasama.31
Dalam menyelenggarakan usahanya sebagai organisasi ekonomi koperasi memerlukan adanya modal. Peranan modal di dalam operasional koperasi mempunyai kontribusi yang penting, karena tanpa modal yang memadai maka koperasi tidak akan berjalan lancar. Modal koperasi sendiri berasal dari anggotanya dan juga bantuan dari pihak pemerintah. Penggunaan modal sendiri akan lebih menguntungkan anggotanya karena bunga sedikit. Pengelolaan modal harus memberi manfaat bagi pemenuhan kebutuhan anggotanya supaya kesejahteraan dapat terwujud.
32
Dalam pandangan Damanik, kehidupan koperasi di Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:33
31
Rikard Bangun, Bung Hatta, Jakarta, Kompas, 2003, hlm. 327.
32
I. Wangsa Widjaya, Mohammad Hatta Membangun Ekonomi Indonesia, Jakarta, Inti Idayu Press, 1985, hlm. 62.
33
Pandangan Damanik ini dikutip oleh Hanan Hardjasasmita kemudian ditulis dalam buku yang berjudul Sejarah Lahirnya Gerakan Koperasi Indonesia dan Perkembangannya sampai dengan periode 80’an, halaman 8 dan diterbitkan di Bandung oleh Armico tahun 1983.
(1). Kebijaksanaan pemerintah, (2). Perundang-undangan, (3). Sistem perekonomian, (4). Organisasi, (5). Jenis-jenis koperasi yang dipilih. Sedangkan secara kelembagaan koperasi dipengaruhi oleh faktor-faktor: (1). Lingkungan politik, sosial, dan ekonomi, (2). Kebijaksanaan pemerintah, (3). Organisasi intern yang terjadi sebagai pencerminan dari struktur sosial masyarakat.
16
Menurut pandangan Mohammad Hatta, hanya ada tiga macam koperasi yang harus didirikan yaitu:34
Akibatnya, terjadinya penindasan oleh pedagang-pedagang bangsa Eropa terhadap masyarakat Indonesia tidak dapat dihindari. Sebagai bangsa terjajah, 1). Koperasi konsumsi yang pertama melayani kebutuhan kaum buruh dan pegawai, 2). Koperasi produksi yang merupakan wadah kaum petani (termasuk peternak atau nelayan), 3). Koperasi kredit yang melayani pedagang kecil dan pengusaha kecil guna memenuhi kebutuhan modal.
Sejarah perkembangan koperasi di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari kehadiran pedagang-pedagang bangsa Eropa di tanah air. Kehidupan ekonomi masyarakat Indonesia ketika itu cenderung masih sifat tradisional. Tetapi setelah terjadi gelombang pelayaran samudera oleh pedagang-pedagang bangsa Eropa, dan keterlibatan mereka dalam hubungan dagang dengan masyarakat Indonesia, hubungan perdagangan antara Indonesia dengan beberapa Negara Eropa cenderung meningkat.
Namun demikian, didorong oleh keserakahan pedagang-pedagang bangsa Eropa itu untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya, hubungan perdagangan itu kemudian berubah menjadi keinginan untuk menguasai. Hampir semua pedagang-pedagang bangsa Eropa bermaksud menguasai mata rantai perdagangan antara daerah-daerah di Asia dengan dataran Eropa, yaitu dengan menerapkan cara-cara perdagangan monopoli. Dari sini, hubungan yang semula hanya bersifat murni perdagangan, menjelma menjadi praktik penjajahan.
34
17
maka masyarakat Indonesia dieksploitasi secara semena-mena oleh kaum penjajah. Hal itu berlangsung selama beberapa ratus tahun dan mengakibatkan penderitaan bagi bangsa Indonesia, yang kemudian telah membangkitkan semangat pemuka-pemuka bangsa Indonesia untuk berjuang memperbaiki kehidupan masyarakat. Sebagaimana diketahui, perjuangan pemuka-pemuka bangsa Indonesia itu memiliki berbagai bentuk. Salah satu di antaranya adalah dengan mendirikan koperasi.35
Pelayanan bank itu semula masih terbatas untuk kalangan pegawai pamong praja rendahan yang dipandang memikul beban utang terlalu berat. Pada tahun 1898, atas bantuan E. Sieburg dan De Wolff Van Westerrode jangkauan pelayanan bank itu diperluas ke sektor pertanian (Hulp-Spaar en Lanbouwcrediet
Sejalan dengan sejarah perkembangan bangsa Indonesia serta perkembangan ekonominya, perkenalan bangsa Indonesia dengan koperasi dimulai pada pengujung abad ke-19, tepatnya pada tahun 1895. Ditengah-tengah penderitaan masyarakat Indonesia, R. Aria Wiriaatmaja, seorang patih di Purwokerto, mempelopori berdirinya sebuah bank yang bertujuan menolong para pegawai agar tidak terjerat oleh rentenir. Usaha ini mendapatkan persetujuan dan dukungan dari Residen Purwokerto E. Sieburg. Badan usaha yang dipilih untuk bank yang diberi nama Bank Penolong dan Tabungan (Hulp en Spaarbank), adalah koperasi.
35
18
Bank), yaitu dengan meniru pola koperasi pertanian yang dikembangkan di Jerman (Raiffeisen).
Akan tetapi, karena kondisi masyarakat yang hidup di alam penjajahan tidak diperbolehkan berkembang lebih jauh, upaya ini tidak mendapatkan dukungan dari pemerintah kolonial. Akibatnya, setiap gerak gerik koperasi pertama Indonesia itu diawasi secara ketat dan mendapat banyak rintangan pemerintah kolonial Belanda. Salah satu upaya yang ditempuh pemerintah kolonial Belanda untuk merintangi perkembangan bank yang dirintis oleh R. Aria Wiriaatmaja tersebut adalah dengan mendirikan Algemene Volkscrediet Bank. Selain itu, pemerintah kolonial Belanda juga mendirikan rumah gadai, bank desa, serta lumbung desa.36
Setelah memperoleh kemerdekaan yaitu pada tahun 1945-1967, bangsa Indonesia memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan kebijakan ekonominya. Suatu hal yang sangat jelas pada periode ini adalah menonjolnya tekad para pemimpin bangsa Indonesia untuk mengubah tatanan perekonomian Indonesia yang liberal-kapitalistik menjadi tatanan perekonomian yang sesuai dengan semangat pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945. Sebagaimana diketahui, di dalam pasal 33 UUD 1945, semangat koperasi ditempatkan sebagai semangat dasar perekonomian bangsa Indonesia. Melalui pasal itu, bangsa Indonesia bermaksud untuk menyusun suatu sistem perekonomian usaha bersama berdasar atas asas
36Idem
19
kekeluargaan. Seperti yang dikemukakan oleh Mohammad Hatta dalam pasal 33 ayat 1 UUD 1945, yaitu tidak lain adalah koperasi.