• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hambatan yang Dihadapi Dalam Program STBM

Dalam dokumen program sanitasi total berbasis masyarakat (Halaman 125-129)

4. PERAN FASILITATOR DAN CO-FASILITATOR PADA

4.2 Hambatan yang Dihadapi Dalam Program STBM

Untuk dapat mengubah perilaku masyarakat dari yang biasa buang air besar di sungai, kebun ataupun tempat terbuka menuju buang air besar ke jamban atau cubluk tidaklah mudah. Dalam temuan lapangan ini terdapat beberapa hambatan yang dirasakan oleh fasilitator dan co-fasilitator selama pelaksanaan program STBM tersebut. Berikut adalah hambatan yang dirasakan baik dari fasilitator maupun co-fasilitator.

4.2.1 Adanya Warga yang Tidak Menerima

Ada dari warga yang tidak menerima dengan adanya program STBM tersebut, karena masyarakat yang tidak menerima tersebut beranggapan bahwa tidak ada masalah dengan kebiasaan buang air besar di lingkungan terbuka. Fasilitator mengalami masa dimana masyarakat menolak dengan adanya sosialisasi pemicuan jamban sehat. Hal itu diungkapkan dalam kutipan berikut ini: ”di sana juga ada kendala banyak yang e,,, tidak menerima tadinya.” (BD, Fasilitator, April 2011)

Hal ini juga di rasakan oleh warga pada saat proses sosialisasi pemicuan: ”Biasalah masyarakat banyak yang protes. [Ada-ada aja sih ini orang mau berak mah dimana aja. Kan kampung kita ini.]...masyarakat langsung bilang [udah biasa atuh pak namanya mandi aja kita seperti di permandian air sodong banyak orang yang lewat, ya mandi telanjang bulat sudah biasa gimana malunya.]...terus kata warganya gini [kalau udah biasa gimana!!] gitu bilangnya” (ID, Warga, Juni 2011)

Fasilitator dan co-fasilitator dalam melakukan simulasi juga sempat ditentang dan ditolak oleh salah satu ketua RW yang bersikeras karena pemikirannya yang tidak mau buang air besar di jamban. Seperti yang diungkapkan oleh informan co-fasilitator berikut : “dia enggak mau mengikuti program, gak mau. Padahal dia adalah pak RW nya sendiri bahkan dihadapan orang Dinas dan Provinsi” (SY, Co-Fasilitator, Mei 2011). Baik fasilitator dan co-fasilitator beranggapan kalau ketua RW tersebut tidak mau buang air besar yaitu nanti tidak ada yang memberi makan ikan yang ada di empangnya. Seperti pada

kutipan ini : ”karena belum terbuka aja pemikirannya, belum mau menerima. Selain itu juga dia dulu punya kolam ikan, jadi kolam ikannya kan makanannya cuma tai jadi buangnya di situ.” (SY, Co-Fasilitator, Mei 2011)

Bahkan pak RW tersebut meminta warga yang sadar untuk membuatkan jamban untuk dirinya kalau mau. Berikut perkataan RW yang dikutip oleh informan dalam wawancara : ”nah, tadinya yang di RT 01 bahkan pak RWnya [ayo sia nyarieun sorangan heula ke aing panggilkeun]. Seolah-olah gak mau mengikuti. [lu bikin sendirilah kalau udah kelar baru bikinin gua]” (SY, Co-Fasilitator, Mei 2011).

4.2.2 Adanya Warga yang Masih Mengharapkan Bantuan

Masalah lainnya yang dirasakan oleh baik fasilitator dan co-fasilitator yaitu masih adanya warga yang mengandalkan bantuan berupa dana walaupun sejak awal fasilitator sudah menekankan bahwa beliau tidak membawa bantuan. Seperti pernyataan yang dikatakan oleh informan ”tadi kan sudah dijelaskan kalau kita datang bukan bawa bantuan . Tapi ada juga yang bilang [kita butuh duit pak]..” (BD, Fasilitator, April 2011)

Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan warga : “ya ada juga, dananya juga gak punya. Ya bilang gak ada modal.” (ID, Warga, Juni 2011)

Dari kutipan diatas, beberapa warga yang tidak mau berubah beralasan tidak memiliki uang sehingga mengharapkan bantuan kepada fasilitator untuk membuat jamban.

4.2.3 Pola Pikir Masyarakat yang Lamban Untuk Berubah

Hal lainnya yaitu dari pola pikir masyarakat yang lambat dalam menerima suatu pengetahuan sehingga untuk mengubah masyarakat butuh waktu dan tenaga yang ekstra. ”karena di sini SDM masih sangat kurang, karena ada masyarakat yang berubah sangat lambat. Ada yang sedang bikin jamban tapi sebulan gak dikelar-kelarin.” (SY, Co-Fasilitator, Mei 2011)

Hal senada juga dirasakan oleh co-fasilitator lainnya dalam wawancara, diungkapkan bahwa ”yang paling susah kita bentuk kesehatan masalah

cubluk...susah soalnya ada beberapa warga yang nggak kepantau..” (KR, Co-Fasilitator, Mei 2011)

Hal ini ditunjukan juga dari sikap warga yang malas membuat jamban, seperti yang diungkapkan oleh salah satu warga: ”ya tadinya si males banget mau bikin wc” (WN, Warga, Mei 2011)

4.2.4 Persepsi Warga yang Merasa Nyaman untuk Membuang Tinja di Sungai dan Empang.

Hambatan lainnya yaitu dengan adanya sungai yang berada di dekat rumah mereka sehingga membuat warga sudah nyaman untuk membuang tinja di sungai tersebut. Selain sungai juga menjadi hambatan adalah adanya empang-empang kolam ikan yang biasanya warga membuang kotoran sebagai makanan ikan yang mereka pelihara. Hal ini dirasakan oleh informan co-fasilitator dalam program ini, seperti dalam kutipan berikut “apalagi kan ada empang, dekat dengan susukan dolsuk (modol disusukan)..itu yang susah, tapi ya pelan-pelan“ (KR, Co-Fasilitator, Mei 2011).

Hal ini juga dirasakan oleh warga masyarakat yang tinggal di desa Ligarmukti ini. Dalam wawancara, salah satu warga juga melihat warganya lebih suka membuang tinja di sungai “warga yang tinggal di pinggir kali enakkan ke kali dari pada buat jamban” (AC, Warga, Mei 2011). Hal yang sama dirasakan oleh warga ED yang kembali lagi buang air besar ke sungai karena cubluk yang dibuat rusak dan belum sempat untuk memperbaiki jadi ED kembali BAB di sungai. Berikut pernyataannya “ya di susukan lagi, soalnya cubluk saya rusak kena hujan....ya kan sembunyi-sembunyi biar gak keliatan ya udah jadi kebiasaanlah di susukan kan sudah dari dulu” (ED, Warga, Mei 2011)

4.2.5 Alasan Warga Bahwa Air Susah Dijangkau

Air juga menjadi salah satu alasan warga untuk tidak mau membuat cubluk. Karena tidak adanya ketersediaan air dibandingkan di sungai yang sudah ada tersedia air. Masalah ini dirasakan oleh co-fasilitator dalam wawancaranya berkata “itu salah satu kendalanya..alasan mereka gak mau itu karena tidak ada air.” (SY, Co-Fasilitator, Mei 2011)

4.2.6 Wilayah yang Susah Dijangkau

Gambar 4.1 : Kondisi Wilayah Desa Ligarmukti yang Sulit dijangkau

Sumber : Dokumentasi Penelitian

Berdasarkan gambar diatas, hambatan lain yang berasal daari kondisi geografis atau kondisi fisik lingkungan yaitu sulitnya menjangkau beberapa wilayah yaitu di salah satu dusun di desa Ligarmukti yang cukup jauh dan sulit dijangkau dengan kendaraan karena jalan masih terbuat dari tanah dan banyak bebatuan sehingga menyulitkan fasilitator untuk menjangkau warga-warga yang ada di daerah tersebut. Seperti yang diungkapkan oleh informan berikut: ”saya nggak berani kalau ke RT 12 karena wilayahnya susah dijangkau nggak bisa pakai kendaraan. Jadi kalau sampai disana nggak bisa pulang lagi harus nginep.” (BD, Fasilitator, April 2011).

4.2.7 Kondisi Tanah yang Berbatu

Desa Ligarmukti merupakan desa yang memiliki tekstur tanah yang banyak terdapat didalamnya adalah batu-batuan khususnya batuan kapur yang berukuran besar. Hal ini sangat menghambat warga untuk dapat menggali tanah untuk membuat cubluk. Seperti yang diungkapkan oleh Informan fasilitator dalam wawancara. “yang menjadi hambatan adalah ketika proses pembuatan jambannya, struktur dan geografis disana kan berbatu makanya mereka susah” (BD, Fasilitator, April 2011)

Gambar 4.1 : Batuan Kapur hasil galian warga di Desa Ligarmukti

Sumber : Dokumentasi Penelitian

Gambar diatas merupakan batuan kapur yang didapat oleh warga setiap kali menggali tanah sehingga menyulitkan warga untuk membuat cubluk/ jamban.

Hal senada juga diungkapkan oleh co-fasilitator yang mengaku warganya susah membuat cubuk karena sulitnya menggali tanah. “sebenarnya mereka gak mau bikin bukan apa-apa, di sini kan lahannya kebanyakan lahan batu sehingga sulit sekali untuk digali” (SY, Co-Fasilitator, Mei 2011)

Hal yang sama juga dikatakan oleh warga sekitar: ”kalau disinikan bikin sumur susah. Soalnya batu bawahnya . kalau bikin sumur sekalian wc. Jadi susah. Kan inikan tanahnya tanah hitam.. dan ada batunya” (ID, Warga, Juni 2011)

Dalam dokumen program sanitasi total berbasis masyarakat (Halaman 125-129)