• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kendala dalam Pengembangan Masyarakat

Dalam dokumen program sanitasi total berbasis masyarakat (Halaman 42-46)

2. PENGEMBANGAN MASYARAKAT & COMMUNITY

2.1 Pengembangan Masyarakat

2.1.3 Kendala dalam Pengembangan Masyarakat

Watson dalam Adi (2008, h.259) mengatakan bahwa ada beberapa kendala (hambatan) yang dapat menghalangi terjadinya suatu perubahan (pembangunan). Kendala tersebut adalah:

1. Kendala yang berasal dari individu a. Kestabilan (Homeostasis)

Homeostasis merupakan dorongan internal individu yang berfungsi untuk menstabilkan dorongan-dorongan dari luar. Proses pelatihan yang diberikan dalam waktu yang relatif singkat belum tentu dapat membuat perubahan yang permanen pada diri individu bila tidak diikuti dengan penguatan yang relatif terus menerus dari sistem yang melingkupinya.

b.Kebiasaan (Habit)

Setiap individu akan bereaksi sesuai dengan kebiasaan yang mereka anggap paling menguntungkan (otonomi fungsional). Ini dapat menjadi hambatan bila mana misalnya community worker ingin mengembangkan pola hidup buang air besar di WC padahal di pemukiman tersebut, nilai individual pada umumnya mengganggap bahwa buang air besar di kali ataupun di selokan depan rumah adalah hal yang menguntungkan serta mereka biasa melakukannya. Maka dari itu kebiasaan yang ada pada individu dapat menjadi faktor penghambat terjadinya suatu perubahan.

c. Hal yang utama (Primacy)

Bila tindakan yang pertama dilakukan seseorang mendatangkan hasil yang memuaskan ketika menghadapi suatu situasi tertentu, ia cenderung mengulanginya pada saat yang lain (ketika menghadapi situasi yang sama). Ini menjadi suatu hambatan apalagi tindakan tersebut sudah terpola pada individu tersebut.

d.Seleksi ingatan dan persepsi

Penyeleksian persepsi yang ada dapat membantu community worker dan masyarakat dalam mengambil keputusan. Tetapi, di sisi lain penyelesaian ini dapat pula menghambat perubahan yang terjadi. Karena dengan adanya persepsi seseorang terhadap objek sikap yang didapat dari pengalamannya akan mengakibatkan sulitnya terjadi perubahan.

e. Ketergantungan (Dependence)

Ketergantungan terhadap seseorang dapat menjadi faktor yang menghambat terjadinya suatu perubahan dalam masyarakat. Bila dalam suatu kelompok masyarakat terlalu banyak orang yang mempunyai ketergantungan terhadap

orang lain maka proses ’pemandirian’ masyarakat tersebut dapat menjadi lama dari waktu yang diperkirakan.

f. Superego

Superego terlalu kuat cenderung membuat seseorang tidak mau menerima pembaruan dan kadangkala menganggap pembaruan sebagai suatu hal yang tabu. Dorongan superego yang berlebihan ini menimbulkan kepatuhan yang berlebihan pula karena dorongan dari Id lebih sering terendam dan tak tersalurkan. Padahal, keberadaan Id sendiri, dalam sisi positif adalah memunculkan keinginan seseorang untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dengan cara yang lebih sederhana.

g.Rasa tidak percaya diri

Rasa tidak percaya diri merupakan konsekuensi dari ketergantungan pada masa kanak-kanak yang berlebihan, serta dorongan dari superego yang terlalu kuat . Rasa tidak percaya diri yang tinggi juga membuat seseorang tidak yakin akan kemampuannya sehingga berbagai potensi yang dimilikinya sulit untuk muncul ke permukaan. Hal ini membuat ia menjadi sulit berkembang dan tidak mau berkembang dengan potensi yang ia miliki.

h.Rasa tidak aman dan regresi

Kecendrungan untuk mencari ’rasa aman’ yang ia peroleh di masa lalu. Mereka merasakan bahwa perubahan yang terjadi justru akan dapat meningkatkan ”kecemasan dan ketakutan” (anxiety) mereka. Berdasarkan hal ini mereka menjadi pihak yang cenderung untuk menolak pembaharuan.

2. Kendala yang berasal dari sistem sosial

a. Kesepakatan terhadap norma tertentu (Conformity to Norm)

Norma sebagai suatu aturan yang tidak tertulis ”mengikat” sebagian besar anggota masyarakat pada suatu komunitas tertentu. Pada titik tertentu , norma dapat menjadi faktor yang menghambat ataupun halangan terhadap perubahan (pembaruan ) yang ingin diwujudkan. Misalkan untuk bebrapa pemukiman kumuh dapat terlihat norma masyarakat yang mendukung kebiasaan masyarakat untuk buang air besar sembarangan . Karena orang-orang yang ingin melakukan pembaharuan tidak jarang dianggap seperti orang yang melakukan

”penyimpangan”. Dalam keadaan seperti ini, nilai-nilai baru lebih baik diperkenalkan melalui kelompok bukan orang per orang saja.

b.Kesatuan dan kepaduan sistem dan budaya (Systemic and Cultural Chorence)

Perubahan pada suatu sistem sosial ataupun budaya yang sudah begitu menyatu pada masyarakat tentunya akan sangat sulit dilakukan. Karena komunitas sasaran sudah terbiasa dengan sistem sosial dan budaya yang ada.

c. Kelompok kepentingan (Vested Interests)

Adanya berbagai kelompok kepentingan dalam masyarakat yang memiliki tujuan berbeda dengan pengembangan masyarakat. Tidak jarang menjadi faktor penghambat dalam upaya pengembangan masyarakat karena mereka cenderung ingin menyelamatkan , mengamankan dan memperluas aset yang mereka miliki tanpa memerhatikan kepentingan kelompok lainnya.

d.Hal yang bersifat sakral (The Sacrosanct)

Salah satu yang mempunyai nilai kesulitan untuk berubah yang tinggi adalah ketika suatu teknologi ataupun program inovatif yang akan dilontarkan ternyata membentur nilai-nilai keagamaan ataupun nilai-nilai yang dianggap sakral dalam suatu komunitas.

e. Penolakan terhadap orang luar (Rejection of Outsiders)

Dari sudut pandang psikologi dikatakan bahwa manusia mempunyai sifat yang universal, salah satunya adalah ia mempunyai rasa curiga dan rasa terganggu terhadap orang asing. Oleh karena itu, seorang worker harus mempunyai keterampilan berkomunikasi yang baik agar ia tidak menjadi orang luar dalam masyarakat tersebut.

f. Faktor penguat perubahan (Reinforcing Factors)

Faktor penguat perubahan adalah sesuatu yang muncul sebelum perilaku itu terjadi dan memfasilitasi motivasi tersebut agar dapat terwujud. Faktor penguat perubahan terkait dengan convert dan overt behaviour dari pihak yang terkait dengan komunitas sasaran.

g.Faktor pemungkin perubahan (Enabling Factors)

Factor pemungkin perubahan adalah factor yang mengikuti suatu perilaku dan menyediakan ”imbalan” yang berkelanjutan untuk berkembangnya perilaku tersebut dan memberikan kontribusi terhadap tetap bertahannya perilaku

tersebut. Termasuk didalamnya adalah aspek keterjangkauan layanan ataupun ketersediaan pelatihan guna mengembangkan keterampilan untuk melakukan perubahan.

(Adi, 2008, h.275). Berdasarkan gambaran tersebut, dapat diketahui bahwa tidak semua intervensi dapat berhasil secara mutlak. Dengan kata lain, berbagai inovasi yang ditawarkan dan dikembangkan oleh community worker bekerja sama dengan masyarakat belum tentu dapat mencapai sasaran 100%. Masih banyak tantangan dan hambatan yang harus dihadapi oleh community worker agar tujuan perubahan tersebut dapat tercapai.

2.1.4 Upaya dalam Mengatasi Kendala/ Hambatan Pada Pengembangan

Dalam dokumen program sanitasi total berbasis masyarakat (Halaman 42-46)