HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
4.2.22. Hanasaka Jiisama
1. Kyankyan
Kata kyankyan memiliki dua makna leksikal yaitu, pertama “inu
nado no kan takai nakigoe” (Yamaguchi, 2015: 101) suara gongongan
kourusaku amaetari monku wo ittari suru yousu” (Yamaguchi, 2015:
101) yang berarti keadaan manusia yang bertingkah seperti anjing, rewel, manja, menggerutu dan sebagainya. Dalam cerita ini, kata
kyankyan ditemukan pada kalimat:
ある日のこと。「キャーン、キャン。」と、犬のなきごえがす るので、おもてへ出てみると、となりのじいさまが、小さな白 犬をけとばしておりました。(Fujiwara, 2004: 98)
Pada suatu hari. Guk guk, terdengar suara gonggongan anjing, saat si kakek mencoba melihat keluar, kakek tetangga sebelah terlihat menendang seekor anjing kecil berwarna putih.
Dalam kalimat tersebut, kata kyankyan menggambarkan suara gonggongan seekor anjing kecil dengan suara yang melengking seperti kesakitan. Kata ini termasuk kedalam onomatope jenis giseigo.
2. Wanwan
Kata wanwan memililki empat makna leksikal yaitu, pertama “inu
no hoegoe” (Yamaguchi, 2015: 580) yang berarti suara gonggongan
anjing. Kedua, “hito ga hageshiku renzokuteki ni naku koe” (Yamaguchi, 2015: 580) yang berarti suara tangisan manusia yang berat dan terus-menerus. Ketiga, “koe ya oto ga hankyou suru yousu” (Yamaguchi, 2015: 580) yang berarti keadaan suara atau bunyi yang menggema. Keempat, “takusan no mono ga ikkyou ni oshiyosete kuru
yousu. Mata, sono oto” (Yamaguchi, 2015: 580) yang berarti keadan
saat banyak benda medekat secara bersamaan atau suara sejenis. Dalam cerita ini, kata wanwan ditemukan pada kalimat:
あくるあさのこと。「ここほれ、ワン。ここほれ、ワン。」と、 犬が人のことばをいうので、気のよいじいさまがほってみると、 チャリーンと、お金が出てきました。(Fujiwara, 2004: 99)
Pagi berikutnya. “kemari, guk, kemari, guk” anjing itu berbicara layaknya manusia, kakek yang baik hati itu mencoba menggalinya dan
gemerincing¸ia menemukan banyak uang logam.
Dalam kalimat tersebut, kata wanwan menggambarkan suara gonggongan seekor anjing kecil. Kata ini termasuk kedalam onomatope jenis giseigo.
3. Chariin
Kata chariin memiliki makna leksikal “chiisana kinzoku-sei no
mono ga katai mono ni atatta deru oto” (Yamaguchi, 2015: 295) yang
berarti suara benda yang terbuat dari logam yang membentur benda kerasa. Dalam cerita ini kata chariin ditemukan pada kalimat:
あくるあさのこと。「ここほれ、ワン。ここほれ、ワン。」と、 犬が人のことばをいうので、気のよいじいさまがほってみると、 チャリーンと、お金が出てきました。(Fujiwara, 2004: 99)
Pagi berikutnya. “kemari, guk, kemari, guk” anjing itu berbicara layaknya manusia, kakek yang bersemangat mencoba menggalinya dan
gemerincing¸ia menemukan banyak uang logam.
Dalam kalimat tersebut, kata chariin menggambarkan suara saat uang logam tersebut membentur cangkul si kakek sehingga menghasilkan bunyi gemerincing. Kata ini termasuk kedalam onomatope jenis giongo.
4. Chon
Kata chon memiliki enam makna leksikal yaitu, pertama
“hyoushigi ikkai utsu oto” (Yamaguchi, 2015: 306) yang berarti suara
ketukan hyoushigi (instrumen musik Jepang). Kedua, “chiisaku karui
mono wo hasami nado de ikki ni kiru oto ya yousu” (Yamaguchi, 2015:
306) yang berarti suara atau keadaan saat memotong benda yang kecil dan ringan menggunakan gunting. Ketiga, “dousa ga subayaku
rizumikaru na yousu” (Yamaguchi, 2015: 306) yang berarti gerakan
yang cepat dan berirama. Keempat, “karuku furetari, oshitari, tataitari
suru yousu” (Yamaguchi, 2015: 306) yang berarti keadaan menyentuh,
menekan, atau mengetuk. Kelima, “ten wo hitotsu utsu yousu” (Yamaguchi, 2015: 306) yang berarti keadaan memukul pada satu titik. Keenam, “soredake ga, kashikomatte suwatte itari, kichinto oite aru
yousu” (Yamaguchi, 2015: 306) yang berarti keadaan duduk tegap atau
diletakkan sebagai mana mestinya. Dalam cerita ini, kata chon ditemukan pada kalimat:
「ええい、うそつき犬め。」となりのじいさまは、くわで犬をひ とうちして、ころしてしまいました。そして、あなにうめると、 その上に、木のえだをちょんとつきさしました。(Fujiwara, 2004: 99)
“Hei, anjing pembohong” kakek tetangga sebelah itu memukul anjing tersebut dengan cangkul dan membunuhnya. Setelah itu, ia menguburnya dan jleb ia menancapkan batang pohon diatasnya.
Dalam kalimat tersebut, kata chon menggambarkan suara yang dihasilkan saat kakek tersebut menancapkan sebuah batang pohon ke tanah. Kata ini termasuk kedalam onomatope jenis giongo.
5. Pettan/pottan
Kata pettan/pottan memiliki makna leksikal “kurikaesu mochi wo
tsuku oto” (Yamaguchi, 2015: 490) yang berarti suara memukul-mukul mochi yang berulang-ulang. Dalam cerita ini, kata pettan/pottan
ditemukan pada kalimat:
気のよいじいさまは、その木をきらしてもらうと、うすときね をつくりました。「さあ、これでもちつきをしましょう。」と、 ペッタンとやると、チャリーン。ポッタンとやると、チャリー ンと、お金がとびだしました。(Fujiwara, 2004: 100)
Kakek yang baik hati itu memotong pohon tersebut dan membuat sebuah lesung dan alu. “oke, mari kita membuat mochi” lalu ia
memukul-mukul adonan mochi itu dan gemerincing, dan banyak uang
logam beterbangan.
Dalam kalimat tersebut, kata pettan/pottan menggambarkan suara yang dihasilkan saat si kakek tersebut memukul-mukul sebuah adonan kue
mochi. Kata ini termasuk kedalam onomatope jenis giongo.
6. Bochaa
Kata bochaa berasal dari kata bochan yang memiliki makna leksikal “suimen ni uchiataru youni mizu ni mono ga hairi, mizu ga
ookiku haneru oto, mata sono yousu” (Yamaguchi, 2015: 516) yang
berarti suara percikan air atau benda yang membentur permukaan air, atau sejenisnya. Dalam cerita ini kata bochaa ditemukan pada kalimat:
「さあ、わしも、お金をつきだすぞ。」となりのじいさまが、 ペッタンとやると、ボチャー。ポッタンとやると、ボチャーと、 くさいくさいものが、あふれでてきます。(Fujiwara, 2004: 101) “saya juga mau uang itu” kata kakek tetangga sebelah itu, lalu ia memukul-mukul adonan adonan mochi tersebut dan cepuk cepuk, malah benda-benda busuk yang meluap keluar dari adonan itu.
Dalam kalimat tersebut, kata bochaa menggambarkan suara yang dihasilkan oleh percikan benda-benda busuk (benda yang lembek) yang
dipukul dengan alu oleh si kakek yang bertabiat buruk. Kata ini termasuk kedalam onomatope jenis giongo.
7. Pappaa
Kata pappaa memiliki tiga makna leksikal yaitu, pertama “kuruma
no keiteki ya kangakki nado wo narasu oto” (Yamaguchi, 2015: 374)
yang berarti suara klakson mobil atau sejenis alat musik tiup. Kedua,
“tatetsudzuke ni karugarushiku hanasu yousu” (Yamaguchi, 2015:
374) yang berarti keadaan berbicara santai dan berkelanjutan. Ketiga,
“okane ya mono wo nani mo kangaezu muyami no tsaukau yousu”
(Yamaguchi, 2015: 374) yang berarti menggunakan uang atau benda dengan sembarangan/tanpa berpikir. Dalam cerita ini, kata pappaa ditemukan pada kalimat:
「日本一の花さかじいさま。かれ木に、花をさかせましょう。」 と、大ごえでさけんで、はいをぱっぱっとまきました。(Fujiwara, 2004: 102)
“kakek pemekar bunga No.1 di Jepang. Mari kita buat bunga mekar di pohon yang mati ini” kakek itu berteriak, fyuuhh ia meniupkan abu ke pohon tersebut.
Dalam kalimat tersebut, kata pappaa menggabarkan suara yang hembusan angin yang keluar dari mulut si kakek baik hati tersebut. Kata ini termasuk kedalam onomatope jenis giseigo.
4.2.23. Bunbukuchagama
1. Shonbori
Kata shonbori memiliki makna leksikal “genki ga naku, wabishiku
sabishige de aru yousu” (Yamaguchi, 2015: 235) yang berarti keadaan
tidak bersemangat, sedih dan muram. Dalam cerita ini, kata shonbori ditemukan pada kalimat:
「ああ、お金がほしいなあ。」おじいさんがしょんぼりしなが ら、山みちをあるいていると、一ぴきのたぬきにあいました。 (Fujiwara, 2004: 104)
“haah, saya butuh uang” kakek yang sedang bersedih itu menelusuri jalan pegunungan dan ia bertemu dengan seekor rakun.
Dalam kalimat tersebut, kata shonbori menggambarkan suasana hati sang kakek yang bersedih karena tidak memiliki uang. Kata ini termasuk kedalam onomatope jenis gijougo.
2. Pyon
Kata pyon memiliki dua makna leksikal yaitu, pertama “nandomo
tsudzukete chiisaku tobihaneru yousu” (Yamaguchi, 2015: 445) yang
berarti keadaan melompat-lompat kecil. Kedua, “achikochi ni toutotsu
ni shotsugen suru yousu” (Yamaguchi, 2015: 445) yang berarti keadaan
kemunculan secara tiba-tiba disana sini. Dalam cerita ini, kata pyon ditemukan pada kalimat:
たぬきは、ぴょんとひっくりかえって、ちちんぷい。りっぱな 金のちゃがまにばけました。(Fujiwara, 2004: 105)
Cling, abrakadabra rakun itu berubah menjadi teko emas yang indah.
Dalam kalimat tersebut, kata pyon menggambarkan suara saat rakun tersebut meloncat dan berubah menjadi sebuah teko emas yang indah. Kata ini termasuk kedalam onomatope jenis giongo.
3. Pin
Kata pin memiliki empat makna leksikal, pertama “tsuru nado wo
hajiku oto ya yousu” (Yamaguchi, 2015: 450) yang berarti petikan
senar atau sejenisnya. Kedua, “ito ya nuno nado ga, tarumanai you
kitsuku hararete iru yousu” (Yamaguchi, 2015: 450) yang berarti
benang atau kain yang direntangkan dengan kuat agar tidak longgar. Ketiga, “ikioi yoku haneagaru yousu” (Yamaguchi, 2015: 450) yang berarti terlempar dengan kekuatan penuh. Keempat, “kinchou shite iru
yousu” (Yamaguchi, 2015: 451) yang berarti keadaan sedang gugup.
Dalam cerita ini, kata pin ditemukan pada kalimat:
おしょうさんは、ちゃがまをなでたり、さすったり。それから、 ゆび先でぴんと、はじきました。(Fujiwara, 2004: 105)
Biksu itu meraba-raba teko itu, mengelusnya dan tik, ia menyentilnya dengan ujung jari.
Dalam kalimat tersebut, kata pin menggambarkan suara saat biksu menyentil ringan teko rakun tersebut. Kata ini termasuk kedalam
4. Goon
Kata goon memiliki makna leksikal “atsui kinzoku no ita ni, mono
ga uchi atatta toki ni deru, yoin wo tomonau nagaku omoi oto”
(Yamaguchi, 2015: 159) yang berarti suara panjang dan berat yang menggema saat benda menghantam benda logam yang tebal. Dalam cerita ini, kata goon ditemukan pada kalimat:
ゴーン。とっても、いい音です。「こりゃ、たいしたもんだ。 ぜひ、わしにゆずってくれ。」おしょうさんは、おじいさんに どっさりお金をわたして、ちゃがまをかいました。(Fujiwara, 2004: 105)
Gung, suaranya sangat bagus. “ini barang yang sangat bagus, berikan
padaku” Biksu itu membeli teko tersebut dari si kakek dan memberinya banyak uang.
Dalam kalimat tersebut, kata goon menggambarkan suara seperti gong yang dipukul. Kata ini termasuk kedalam onomatope jenis giongo. 5. Dossari
Kata dossari memiliki makna leksikal “hito ya mono, mata ha
shigoto nado ga tairyou ni aru yousu” (Yamaguchi, 2015: 337) yang
berarti manusia, benda atau pekerjaan dalam kuantitas yang besar. Dalam cerita ini, kata dossari ditemukan pada kalimat:
ゴーン。とっても、いい音です。「こりゃ、たいしたもんだ。 ぜひ、わしにゆずってくれ。」おしょうさんは、おじいさんに どっさりお金をわたして、ちゃがまをかいました。 (Fujiwara, 2004: 105)
Gung, suaranya sangat bagus. “ini barang yang sangat bagus, berikan
padaku” Biksu itu membeli teko tersebut dari si kakek dan memberinya
banyak uang.
Dalam kalimat tersebut, kata dossari menggambarkan jumlah uang yang banyak yang diberikan oleh biksu kepada si kakek. Kata ini termasuk kedalam onomatope jenis gitaigo.
6. Goshigoshi
Kata goshigoshi memiliki dua makna leksikal yaitu, pertama
“yogore nado wo otoshitari, mono to mono wo tsuyoku kosuri awaseru toki no oto” (Yamaguchi, 2015: 163) yang berarti suara yang timbul
saat membersihkan kotoran dan sebagainya dengan cara menggosokkan dua permukaan benda. Kedua, “toubu wo tsuyoku kaku toki no oto” (Yamaguchi, 2015: 163) yang berarti suara saat menggaruk kepala dengan keras. Dalam cerita ini, kata goshigoshi ditemukan pada kalimat:
こぞうさんは、さっそく、ちゃがまをいどばたへはこんで、ご しごしみがきました。(Fujiwara, 2004: 106)
Biksu kecil itu segera membawa teko itu ke pinggir sumur lalu
menggosok-gosok untuk membersihkannya.
Dalam kalimat tersebut, kata goshigoshi menggambarkan suara gesekan kain dan teko saat sedang di cuci dan dibersihkan. Kata ini termasuk kedalam onomatope jenis giongo.
7. Bikubiku
Kata bikubiku memiliki dua makna leksikal yaitu, pertama “karada
no ichi bubun (teashi nado) ga hikitsuruyouni kokizami ni ugoku yousu”
(Yamaguchi, 2015: 411) yang berarti salah satu bagian dari tubuh (kaki, tangan dan sebagainya) yang bergerak seperti kejang. Kedua, “warui
jitai ga ima ni mo okoru no de ha nai ka to iu kyoufushin ni ononoite shinkei ga haritsumete iru yousu” (Yamaguchi, 2015: 411) yang berarti
kekhawatiran akan hal buruk yang akan terjadi yang menyebabkan syaraf tegang. Dalam cerita ini, kata bikubiku ditemukan pada kalimat: 「なにをねぼけているんだ。みがきおわったら、おゆをわかし なさい。」こぞうさんはびくびくしながら、それでもちゃがま に水を入れ、いろりの火の上にのせました。(Fujiwara, 2004: 106) “kenapa kamu terdiam. Kalau sudah selesai dicuci, rebus airnya!” dengan gemetaran biksu kecil itu memasukkan air ke dalam teko dan menaruhnya di atas perapian.
Dalam kalimat tersebut, kata bikubiku menggambarkan keadaan biksu kecil yang ketakutan dan gemetar karena mengetahui teko tersebut
seolah seperti sebuah benda hidup. Kata ini termasuk kedalam
onomatope jenis gijougo.
8. Butsubutsu
Kata butsubutsu memiliki empat makna leksikal yaitu, pertama
“fuhei ya fuman, hitorigoto nado wo iitsudzukeru koto” (Yamaguchi,
2015: 468) yang berarti terus menerus mengeluh, tidak puas atau menggerutu. Kedua, “renzoku suru mono ga sundan sareru yousu” (Yamaguchi, 2015: 468) yang berarti memutuskan suatu hal yang berkelanjutkan. Ketiga, “chiisana ryuujou no mono ya ana ga tasuu
dekiru yousu” (Yamaguchi, 2015: 468) yang berarti munculnya
lubang-lubang kecil atau benda berpartikel kecil. Keempat, “chiisana awa wo
dashinagara nittari waitari suru yousu” (Yamaguchi, 2015: 468) yang
berarti merebus sesuatu dan membuat gelembung kecil. Dalam cerita ini kata butsubutsu ditemukan pada kalimat:
こぞうさんはびっくりして、また、おしょうさんのところへい きました。「早くきてください。ちゃがまが、あちあちとゆれ ています。」「まったく、おかしなことをいうこぞうだ。」ぶ つぶつもんくをいいながら、おしょうさんが、やってきました。 (Fujiwara, 2004: 107)
Biksu kecil itu terkejut dan kembali ketempat sang biksu. “tolong cepat datang kemari, teko itu bergoyang kesana kemari” “astaga, kamu ini ada-ada saja” sambil bergumam sang biksu pun datang.
Dalam kalimat tersebut, kata butsubutsu menggambarkan keadaan sang biksu yang menggumam karena merasakan tingkah laku biksu kecil yang aneh. Kata ini termasuk kedalam onomatope jenis gijougo.
9. Nyokkiri
Kata nyokkiri memiliki makna leksikal “hosonagai mono ga
kiwadatte nobite iru yousu” (Yamaguchi, 2015: 357) benda yang tinggi
kurus yang tumbuh dengan mencolok. Dalam cerita ini, kata nyokkiri ditemukan pada kalimat:
こぞうさんはびっくりして、また、おしょうさんのところへい きました。「早くきてください。ちゃがまが、あちあちとゆれ ています。」「まったく、おかしなことをいうこぞうだ。」ぶ つぶつもんくをいいながら、おしょうさんが、やってきました。 すると、どうでしょう。ちゃがまから、あしがにょっきり。 (Fujiwara, 2004: 107)
Biksu kecil itu terkejut dan kembali ketempat sang biksu. “tolong cepat datang kemari, teko itu bergoyang kesana kemari” “astaga, kamu ini ada-ada saja” sambil bergumam sang biksu pun datang. Bagaimana ini, lalu dari teko tersebut mencuat keluar sepasang kaki.
Dalam kalimat ini, kata nyokkiri menggambarkan keadaan sebuah teko rakun yang sedang digunakan untuk merebus air dan mencuat keluar sepasang kaki. Kata ini termasuk kedalam onomatope jenis giyougo.
4.2.24. Heppiriyomesa
1. Dondon
Kata dondon memiliki dua makna leksikal yaitu, pertama “omoi
mono ga tsudzukete shoutotsu shitari haretsu shitari shite dasu, hikuku ookina oto. Tatoeba taiko ya doa wo tataku oto nado” (Yamaguchi,
2015: 249) yang berarti suara yang besar dan pelan, dihasilkan benda keras yang bertabrakan atau ledakan, misalnya suara memukul taiko atau menggedor pintu. Kedua, “monogoto ga teitai sezu ikioi ni notte
shinkou suru yousu” (Yamaguchi, 2015: 349) yang berarti keadaan
pergerakan suatu benda dengan kekuatan penuh tanpa terhenti. Dalam cerita ini kata dondon ditemukan pada kalimat:
ある日、おばあさんがしんぱいして、およめさんにたずねまし た。「どこか、からだのぐあいでも、わるいのかい。」「いい え、どこもわるくありません。ただ、へを、こきたくて。」 およめさんは、はずかしそうにいいました。「なんだ、そんな ことか。かまわないから、どんどんおやり。」「でも、わたし のへは、とくべつですから。」(Fujiwara, 2004: 108-109)
Pada suatu hari, si nenek khawatir dan mendatangi cucunya “apa kamu merasa kurang sehat?” “saya tidak apa-apa, hanya saja saja ingin buang gas” ia berkata dengan malu-malu. “yaampun, kalau itu sudah cepat lakukan saja!” “tapi, kentut saya ini beda dari yang lain”
Dalam kalimat ini, kata dondon menggambarkan sang nenek yang