DAFTAR TABEL
2.2 Landasan Teori .1 Semantik
Semantik merupakan salah satu cabang linguistik yang mengkaji tentang makna. Semantik memegang peranan penting dalam linguistik karena bahasa yang digunakan dalam komunikasi tidak lain digunakan untuk menyampaikan suatu makna.
Machida & Momiyama (dalam Dedi Sutedi, 2019: 122-125) menegaskan bahwa objek kajian semantik antara lain mencakup makna kata (go no imi), relasi makna antar satu kata dengan kata lainnya (go no imi
kankei), makna frasa (ku no imi), dan makna kalimat (bun no imi). a. Makna kata (語の個々の意味)
Makna setiap kata merupakan salah satu objek kajian semantik, karena komunikasi dengan menggunakan suatu bahasa yang sama seperti bahasa Jepang, komunikasi akan berjalan lancar apabila setiap kata yang digunakan oleh pembicara dalam komunikasi tersebut menyatakan makna yang sama dengan yang digunakan oleh lawan bicaranya.
Akan tetapi, baik dalam kamus maupun dalam buku pelajaran bahasa Jepang, tidak setiap kata maknanya dimuat dan disajikan secara menyeluruh. Bagi pemelajar bahasa Jepang, jika berkomunikasi dengan penutur asli, terjadinya kesalahan berbahasa dikarenakan informasi makna yang diperoleh pemelajar tersebut masih kurang lengkap. Sebagai contoh kata kirei yang berarti cantik, akan tetapi dapat diartikan juga “bagus”, “Tomu san ga kirei na nihongo go wo hanaseru” yang berarti
Tom bisa berbahasa Jepang dengan bagus, atau dalam contoh lain dapat berarti “rapi”, “kono heya ga kirei desu” yang berarti kamar ini rapi.
b. Relasi Makna (語と語の意味関係)
Terdapat tiga aspek dalam relasi makna yaitu sinonim (類義関係) contoh dalam kata hanasu dan iu, antonim (反義関係) contoh dalam kata
hikui dan takai, dan hubungan superordinat/hiponimi (上下関係) contoh
dalam kata doubutsu dan inu. Contoh dalam relasi makna misalnya, pada verba hanasu (berbicara), iu (berkata), shaberu (ngomong) dapat dikelompokkan dalam kotoba o hassuru (bertutur).
c. Makna Frasa (句の意味)
Dalam bahasa Jepang ungkapan hon o yomu (membaca buku),
kutsu o kau (membeli sepatu), dan hara ga tatsu (marah) dianggap
sebagai satu frasa (klausa) atau ku. Klausa hon o yomu dan kutsu o kau dapat dipahami cukup dengan mengetahui makna kata-kata hon, kutsu,
yomu, kau, dan o ditambah dengan pemahaman tentang struktur kalimat
bahwa nomina+o+verba. Jadi, klausa tersebut bisa dipahami secara leksikalnya (mojidouri no imi). Akan tetapi, untuk klausa hara ga tatsu meskipun kita mengetahui makna setiap kata dan strukturnya, belum tentu bisa memahami makna klausa tersebut, jika makna frasa secara idiomatikalnya (kan-yokuteki imi) belum diketahui dengan benar.
Sebagai contoh lain, pada klausa ashi o arau ada dua makna, yaitu secara leksikal yakni mencuci kaki, dan juga secara ideomatikal yakni berhenti berbuat jahat. Jadi, dalam bahasa Jepang ada frasa/klausa
yang bermakna secara leksikal saja, ada frasa/klausa yang bermakna ideomatikalnya saja, dan ada juga frasa/klausa yang bermakna kedua-duanya.
d. Makna Kalimat (文の意味)
Suatu kalimat ditentukan oleh makna setiap kata dan strukturnya. Misalnya, kalimat watashi wa Yamada-san ni megane o ageru (saya memberi kacamata pada Yamada) dengan kalimat watashi wa Yamada-san
ni tokei o ageru (saya memberi jam pada Yamada), jika dilihat dari
strukturnya, kedua kalimat tersebut sama yaitu A wa B ni C o ageru, tetapi maknanya berbeda. Hal ini disebabkan makna kata megane dan tokei berbeda. Oleh karena itu, jelaslah bahwa makna kalimat ditentukan oleh kata yang menjadi unsur kalimat tersebut.
Lain halnya dengan kalimat watashi wa Yamada-san to
Tanaka-san o matte iru terkandung dua makna, yaitu [watashi wa][Yamada-Tanaka-san to Tanaka-san o] [matte iru] (saya menunggu Yamada dan Tanaka) dan
[watashi wa][Yamada-san to isshoni][Tanaka-san o][matte iru] (saya bersama Yamada menunggu Tanaka). Dari sini bisa diketahui bahwa dalam suatu kalimat dapat menimbulkan makna ganda yang berbeda. Dengan demikian, selain adanya berbagai macam relasi makna antara suatu kata dengan kata yang lainnya, dalam kalimat pun terdapat berbagai jenis hubungan antara bagian yang satu dengan bagian yang lainnya.
2.2.2 Jenis Perubahan Makna
2.2.2.1 Makna Leksikal dan Makna Gramatikal
Makna leksikal dalam bahasa Jepang dikenal dengan istilah jishoteki-imi atau goiteki-imi. Makna leksikal adalah makna kata yang sesungguhnya sesuai dengan referensinya sebagai hasil pengamatan indra dan terlepas dari unsur gramatikalnya, atau bisa juga dikatakan sebagai makna asli suatu kata. Misalnya, kata neko dan kata gakkou memiliki makna leksikal ‘kucing’ dan ‘sekolah’.
Makna gramatikal dalam bahasa Jepang disebut dengan bunpouteki-imi, yaitu makna yang muncul akibat proses gramatikalnya. Dalam bahasa Jepang,
joshi (partikel) dan jodoushi (kopula) tidak memiliki makna leksikal, tetapi
memiliki makna gramatikal, sebab baru jelas maknanya jika digunakan dalam kalimat. Verba dan adjektiva memiliki kedua jenis makna tersebut, misalnya pada kata ishogashi-i dan tabe-ru, bagian gokan-nya {isogashi} dan {tabe} bermakna leksikal ‘sibuk’ dan ‘memakan’, sedangkan gobi-nya, yaitu {i} dan {ru} sebagai makna gramatikal, karena akan berubah bentuk sesuai dengan kontek gramatikalnya. Partikel ni secara leksikal tidak jelas makna, tetapi baru jelas jika digunakan dalam kalimat seperti: Bandon ni sunde iru (tinggal di Bandung).
2.2.2.2 Makna Denotatif dan Makna Konotatif
Makna denotatif dalam bahasa Jepang disebut meijiteki-imi atau gaien, yaitu makna yang berkaitan dengan dunia luar bahasa, seperti suatu objek atau gagasan dan bisa dijelaskan dengan analisis komponen makna. Makna konotatif disebut anjiteki-imi atau naihou, yaitu makna yang ditimbulkan karena perasaan
atau pikiran pembicara atau lawan bicaranya. Misalnya, pada kata chichi dan oyaji kedua-duanya memiliki makna yang sama, yaitu ‘ayah’, dan bisa dijelaskan dengan komponen makna seperti berikut:
父 = 親父: <人間> <+男性> <+一世代上> Chichi = Oyaji : <ningen> <+dansei> <+ichi sedai ue>
<insan> <+jantan> <+satu generasi diatas>
Makna denotatif dari kedua kata tersebut sama, karena merujuk pada objek atau referent yang sama, tetapi nilai rasa berbeda. Kata chichi digunakan lebih formal dan lebih halus, sedangkan kata oyaji terkesan lebih dekat dan lebih akrab. Contoh lainnya, kata keshoushitsu dan benjo merujuk pada hal yang sama, yaitu ‘kamar kecil’. Tetapi, kesan dan nilai rasanya berbeda, keshou-shitsu terkesan bersih, sedangkan benjo terkesan kotor dan bau. Makna denotatif kata kodomo adalah ‘anak’, melahirkan makna konotatif ‘tidak mau diatur’ atau ‘kurang pertimbangkan’. Machida (dalam Sutedi, 2019: 127) beranggapan bahwa polisemi muncul salah satunya akibat adanya perluasan dari makna denotatif ke makna konotatif seperti ini.
2.2.2.3 Makna Dasar dan Makna Perluasan
Makna dasar disebut dengan kihon-gi merupakan makna asli yang dimiliki oleh suatu kata. Makna asli yang dimaksud, yaitu makna bahasa yang digunakan pada masa sekarang ini. Hal ini perlu ditegaskan karena berbeda dengan gen-gi ‘makna asal’, dalam bahasa Jepang modern banyak sekali makna asal suatu kata yang sudah berubah dan tidak digunakan lagi. Makna dasar ini oleh Tanaka
(dalam Sutedi, 2019: 127) disebut juga sebagai makna pusat (core) atau makna
prototype, meskipun tidak sama persis.
Makna perluasan atau ten-gi merupakan makna yang muncul sebagai hasil perluasan dari makna dasar, diantaranya akibat penggunaan secara kiasan atau majas (hiyu). Hal ini dikemukakan oleh para penganut aliran linguistik kognitif yang mendeskripsikan hubungan antarmakna dalam suatu polisemi digunakan gaya bahasa.
Perubahan makna suatu kata terjadi karena berbagai faktor, seperti perkembangan peradaban manusia pemakai bahasa tersebut, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, atau pengaruh bahasa asing (Dedi Sutedi, 2019: 127). Beberapa jenis perubahan makna dalam bahasa Jepang, diantara sebagai berikut:
a. Dari yang konkret ke abstrak (具象
ぐしょう