• Tidak ada hasil yang ditemukan

Harmonisasi kebijakan

Dalam dokumen Analisis Hubungan Kewenangan Pemerintah. pdf (Halaman 113-117)

BAB V MODEL DAN INSTRUMENTAS

B. INTRUMENTASI KEBIJAKAN

1. Harmonisasi kebijakan

Berdasarkan analisis atas kebijakan yang telah dijelaskan di Bab IV, ter- dapat beberapa kebijakan/regulasi yang perlu diharmonisasikan. Per- tama, pengaturan pada tahap perencanaan atau peraturan yang men- jadi acuan perencanaan pembangunan desa. UU No. 6/2014 Pa sal 79 ayat 1 menyebutkan bahwa Pemerintah Desa menyusun perencanaan Pembangunan Desa sesuai dengan kewenangannya dengan mengacu pada perencanaan pembangunan Kabupaten/Kota. PP No. 43/2014 Pasal 117-118 menegaskan kembali hal tersebut dengan menya takan bahwa perencanaan pembangunan jangka menengah desa (RPJM Desa) selain mengacu pada perencanaan Kabupaten/Kota, juga harus memuat visi dan misi Kepala Desa, rencana penyelenggaraan Pemerin- tahan Desa, pelaksanaan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat desa, serta arah kebijakan pembangu- nan desa. Penyusunan perencanaan pembangunan desa juga harus mempertimbangkan kondisi objektif desa. RPJM Desa tersebut kemu- dian dijabarkan dalam RKP Desa untuk jangka waktu 1 (satu) tahun. Berbeda dengan UU No. 6/2014 dan PP No. 43/2014, PP No. 60/2014 mengatur perencanaan desa secara berbeda. Pada Pasal 21 mengatur tentang penetapan prioritas penggunaan Dana Desa yang ditetapkan oleh Menteri yang menangani desa (Kementerian Desa dan PDTT). Se- mentara Pasal 22 mengatur tentang kewenangan Pemerintah (melalui K/L Teknis terkait) untuk menyusun pedoman umum kegiatan yang didanai dari Dana Desa dengan mengacu pada prioritas penggunaan Dana Desa sebagaimana diatur dalam Pasal 21. Lebih lanjut, pasal ini memberi keleluasaan pada kabupaten/kota untuk membuat pedoman teknis kegiatan yang didanai dari Dana Desa sesuai dengan pedoman umum yang dibuat K/L terkait. Dengan membandingkan ketiga pera- turan yang menjadi acuan perencanaan desa tersebut, tampak adanya ketidakjelasan rujukan dalam penyusunan perencanaan desa.

Kedua, pengaturan masih terkait dengan perencanaan desa. UU No. 6/2014 Pasal 79 ayat 1 menyebutkan bahwa perencanaan desa sebagai

input perencanaan kabupaten/kota. Sedangkan, PP No. 43/2014 Pa- sal 119 menyebutkan bahwa Pemerintah Desa dapat mengusulkan kebutuhan pembangunan kepada Pemerintah Kabupaten/Kota. Dari kedua pengaturan terkait perencanaan desa tersebut, tidak ada kejela- san alur dalam merespon perencanaan desa.

Ketiga, pengaturan terkait pengaturan mandat kewenangan desa. UU No. 6/2014 pasal 18 menyatakan bahwa mandat kewenangan desa mencakup 4 (empat) bidang yang merupakan satu kesatuan, yaitu pemerintahan desa, pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat desa. Namun, PP No. 60/2014 jo PP No. 22/2015 melakukan reduksi atas mandat kewenangan desa tersebut dengan cara membatasi prioritas penggunaan Dana Desa pada pem- bangunan dan pemberdayaan (Pasal 19, ayat 2). Kemudian Permende- sa No. 5/2015 dan Permendesa No. 21/2015 kembali menegaskan pembatasan mandat tersebut dengan membuat penetapan prioritas penggunaan Dana Desa di bidang pembangunan dan pemberdayaan, sesuai perintah PP No. 60/2014, dengan daftar prioritas. Tetapi Per- mendesa ini juga membuka peluang bagi munculnya prioritas lokal sesuai dengan konteks dan prakarsa lokal yang dirumuskan melalui mekanisme musyawarah desa. sementara itu, Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 247/PMK.07/2015 mengatur bahwa prioritas lokal dalam penggunaan Dana Desa harus memperoleh persetujuan dari Bupati/Walikota.

Keempat, pengaturan terkait tugas pembinaan (fasilitasi/pendampi ng- an) dalam tahapan penganggaran dan pelaksanaan pengelolaan Dana Desa. UU No 6/2014 Pasal 112 menyebutkan bahwa dalam menjalan- kan tugas pembinaan, Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota, dapat mendelegasikan pem- binaan dan pengawasan kepada perangkat daerah. Menindaklanjuti perintah UU, PP No. 43/2014 Pasal 154 ayat 2 huruf c malah sudah be- rani mendelegasikan tugas untuk memfasilitasi pengelolaan keuang- an desa kepada Camat. Namun ironisnya, kendati peran Camat sudah diatur di dalam PP, Permendagri No. 113/2014 belum berani meng- ambil langkah progresif. Pasal 44 hanya menyatakan: “Pemerintah Kabupaten/Kota wajib membina dan mengawasi pelaksanaan pengelolaan keuangan desa. Oleh karena itu, terkait mekanisme atau peran kelem- bagaan dalam menjalankan tugas pembinaan tersebut masih memer- lukan kejelasan. Apakah kepala daerah (Bupati) yang akan melakukan langsung tugas pembinaan tersebut atau mendelegasikannya kepada Camat? Seandainya Bupati mendelegasikan tugas pembinaan tersebut kepada Camat, maka perlu ada kejelasan peran Camat dalam melaku- kan review dan evaluasi RAPB Desa. Selain itu, untuk menunjang efek-

100

Pengaturan Regulasi Keterangan

UU PP Permen Perencanaan (Acu- an Perencanaan De sa) UU No. 6/2014, pasal 79 (1) (PP No. 43/2014, pasal 117-118) • PP No. 60/2014 jo PP No. 22/2015, pasal 21 dan 22 • Prioritas penggunaan DD Kejelasan rujukan dalam penyusunan perencanaan desa.

Perencanaan Desa UU No. 6/2014, pasal 79 (1) (Perencanaan Desa sebagai input kab/kota)

PP No. 43/2014, pasal 119 (Pemdes dapat mengusul- kan kebutuhan pemban- gunan ke kab/kota)

Kejelasan alur dalam meres pon perencanaan desa. Mandat Kewena- ng an Desa UU No. 6/2014, pasal 18 Pemerintahan desa, pembangunan, pembi- naan kemasyarakatan, dan pemberdayaan. PP No. 60/2014 jo PP No. 22/2015 melakukan reduksi dengan cara membatasi prioritas pada pembangunan dan pemberdayaan. (pasal 19, ayat 2

Permendesa No. 5/2015 dan Permendesa No. 21/2015 mem- buat prioritas di bidang pem- bangunan dan pemberdayaan sesuai perintah PP, dengan daftar prioritas, tetapi juga membuka peluang bagi mun- culnya prioritas lokal sesuai dengan konteks dan prakarsa lokal, yang penting diputus- kan melalui musya warah desa. Tetapi PMK No. 247/

PMK.07/2015 mengatur pri- oritas lokal harus memperoleh persetujuan bupati/walikota. Tabel 5.3

101

Pengaturan Regulasi Keterangan

UU PP Permen Penganggaran dan Pelaksanaan Tugas pembinaan UU No 6/2014 pasal 112 Pemerintah, Pemer- intah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dapat mendelegasikan pem- binaan dan pengawa- san kepada perangkat daerah

PP No. 43/2014, pasal 154 ayat 2 huruf c Camat memfasilitasi pengelolaan keuangan desa

Permendagri No. 113/2014, pasal 44 Pemerintah Kabupat- en/Kota wajib membina dan mengawasi pelaksanaan pen- gelolaan keuangan desa.

• Perlu diperjelas mekanisme pem- binaan/fasilitasi yang dilakukan oleh (Kep.daerah/ Camat) • Kejelasan peran Camat dalam mel- akukan review dan evaluasi RAPB Desa serta ketersediaan format evaluasi Pelaporan dan Per-

tanggung Jawaban UU No. 6/2014 pasal 27 Penyampaian laporan desa ke bupati PP No. 43/2014, pasal 104 ayat 2

Bupati cq Camat men- erima Lap realisasi dan pertanggungjawaban Pem Desa

Permendagri No. 113/2014, pasal 37 dan 28

Bupati cq Camat menerima

Laporan realisasi dan per- tanggungjawaban penggunaan DD dari Pemerintah Desa

Sudah cukup

tivitas kinerja pengawasan tersebut perlu ketersediaan format evalu- asi.

Terakhir, pengaturan terkait aspek pelaporan dan pertanggungjawa- ban. Regulasi terkait tahapan pelaporan dan pertanggungjawaban pengelolaan Dana Desa cukup memadai karena relatif lebih jelas dan tidak ada tumpang tindih pengaturan. Dalam UU No. 6/2014 Pasal 27 bahwa dalam melaksanakan tugas, hak dam kewajibannya, kepala desa wajib menyampaikan laporan terkait penyelenggaraan pemerin- tahan desa (termasuk pengelolaan Dana Desa) setiap akhir tahun ang- garan kepada Bupati/Walikota. Sedangkan PP No. 43/2014 pada Pas- al 104 ayat 2 menyebutkan bahwa Bupati melalui Camat menerima laporan realisasi penggunaan Dana Desa dan pertanggungjawaban Pemerintahan Desa. Hal tersebut ditegaskan kembali dalam Permen- dagri No. 113/2014, pasal 37 dan 28, bahwa Bupati cq. Camat me- nerima Laporan realisasi dan pertanggungjawaban penggunaan DD dari Pemerintah Desa. Secara sederhana, harmonisasi aturan terkait instrumentasi kebijakan untuk mewujudkan konstruksi model ideal pengelolaan Dana Desa, dapat digambarkan dalam Tabel 5.3 di hala- man 100.

Dalam dokumen Analisis Hubungan Kewenangan Pemerintah. pdf (Halaman 113-117)