• Tidak ada hasil yang ditemukan

Usulan Kebijakan

Dalam dokumen Analisis Hubungan Kewenangan Pemerintah. pdf (Halaman 117-130)

BAB V MODEL DAN INSTRUMENTAS

B. INTRUMENTASI KEBIJAKAN

2. Usulan Kebijakan

Berpijak pada hasil identiikasi sejumlah aturan terkait pengelolaan Dana Desa yang perlu diharmonisasikan, maka terdapat beberapa usulan kebijakan untuk mengatasi karut-marut (disharmoni) kebija- kan tersebut. Kebijakan yang diusulkan masih terkait dengan hubung- an kewenangan pemerintah desa dan pemerintah supradesa. Usulan kebijakan berikut dimaksudkan menggenapi instrumentasi kebijakan untuk mewujudkan konstruksi model ideal dalam pengelolaan Dana Desa, antara lain:

a. Kebijakan yang memberi ruang pada pemerintah desa untuk memprioritaskan penggunaan DD berdasarkan prakarsa dan kondisi empiris di desa sesuai dengan mandat kewenangan desa.

b. Kebijakan yang mengatur hubungan desa dan supradesa da- lam pengelolaan Dana Desa berbasis tipologi desa

c. Kebijakan yang mengatur pemberian kewenangan kepa- da camat dalam menjalankan tugas pembinaan pengelolaan Dana Desa secara lebih menyeluruh; tidak hanya pada tahap perencanaan (melalui pendampingan dan evaluasi) dan per­ tanggungjawaban (evaluasi), tetapi juga proses dalam tahap pelaksanaan, penatausahaan, dan penyusunan laporan, yang disertai dengan kejelasan peran dalam melakukan review dan

evaluasi RAPB Desa dengan menjamin ketersediaan format evaluasi.

BAB VI

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis atas temuan-temuan penelitian yang sudah dipaparkan dalam Bab-Bab sebelumnya, maka kesimpulan yang dapat dikemukakan adalah sebagai berikut:

1. Terdapat fragmentasi hubungan kewenangan antara Pemerintah Su- pra Desa dengan Pemerintah Desa dalam pengelolaan Dana Desa. Fragmentasi tersebut teridentiikasi sebagai berikut:

a. Terdapat dualisme pengaturan tentang penggunaan Dana Desa. Perencanaan penggunaan Dana Desa, selain mengacu pada RPJM Desa dan APB Desa, juga harus mengacu pada ketetapan Menteri Desa PDTT tentang yang mengatur prioritas penggunaan Dana Desa. Akibatnya, perencanaan anggaran yang telah disusun oleh pemerintah desa tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya karena ha- rus mengacu pada ketetapan Menteri Desa PDTT.

b. Dualisme pengaturan juga terjadi pada pengaturan kewenangan desa, yaitu antara peraturan Kementerian Dalam Negeri dan pera- turan Kementerian Desa dan PDTT. Hal ini menyulitkan Pemerin- tah Kabupaten/Kota dalam menyusun peraturan tentang daftar kewenangan desa, sehingga pemerintah desa sendiri tidak bisa menyusun peraturan desa terkait kewenangan desa dan tidak bisa menjalankan kewenangannya secara optimal.

c. Dalam konteks hubungan pemerintah supra desa dengan pemerin- tah desa, pemerintah desa memiliki kewenangan yang sangat terba- tas dalam pengelolaan Dana Desa.

d. Terdapat pengaturan yang berbeda terkait peran perangkat daerah/ kecamatan, yaitu antara UU, Peraturan Pemerintah, dan Peraturan Menteri Dalam Negeri. Hal ini berdampak pada ketidakjelasan ter- kait mekanisme tugas pembinaan yang dilakukan oleh Bupati atau perangkat daerah/kecamatan, termasuk dalam melakukan penin- jauan (review) dan evaluasi perencanaan desa serta tidak adanya ketersediaan format evaluasi.

hubungan kewenangan antara pemerintah supradesa dan pemerin- tah desa dalam pengelolaan Dana Desa setidaknya memunculkan dua pola karakteristik yang berbeda.

1) Untuk kasus desa pra mandiri, keterlibatan pemerintah su- pradesa dalam pengelolaan Dana Desa cenderung dominan. Dominasi pemerintah supradesa tersebut bahkan berpoten- si melampaui kewenangan desa itu sendiri di satu sisi. Di sisi lain, hal ini terjadi karena minimnya kapasitas perangkat desa itu sendiri dan rendahnya partisipasi masyarakat. Mekanisme akuntabilitas lokal melalui kontrol BPD juga belum berjalan efektif. Namun di sisi lain, hal ini tentunya juga menunjukkan bahwa upaya tuntutan untuk peningkatan kapasitas perangkat desa dan membuka berbagai saluran bagi aspirasi masyarakat dalam pengelolaan Dana Desa menjadi sesuatu yang sangat mendesak dilakukan.

2) Untuk kasus desa mandiri, pemerintah desa relatif lebih dapat menjalankan pengelolaan Dana Desa secara lebih independen. Mekanisme pengelolaan Dana Desa dijalankan sesuai kewena- ng an yang mereka miliki. Sementara keterlibatan pemerintah supradesa cenderung minim. Peran yang dilakukan sebatas su- pervisi yang dijalankan secara wajar sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bahkan, di lokus desa tertentu, pemerintah desa telah berani untuk lepas dari ketentuan yang mengatur prioritas penggunaan Dana Desa. Namun, hal tersebut dilakukan dengan tetap bertumpu pada mekanisme deliberatif (musyawarah desa), dan prinsip-prinsip transparansi, akuntabilitas, efektivitas, dan eisiensi sesuai ke- butuhan dan tantanggan kondisi empiris yang ada di desa. 2. Model ideal hubungan kewenangan antara pemerintah supradesa

de ngan pemerintah desa dalam pengelolaan Dana Desa meliputi as- pek-aspek sebagai berikut:

a. Peran Pemerintah Pusat (Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Keuangan dan Kementerian Desa PDTT) dalam pengelolaan Dana Desa sebatas sebagai regulator dan penyedia anggaran (Dana Desa). b. Garis kewenangan antara Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Keuangan, dan Kementerian Desa dan PDTT harus jelas dan tegas dalam konteks penyelenggaraan pemerintahan desa, khususnya da- lam pengelolaan Dana Desa. Fakta di lapangan menunjukkan, desa menghadapi kebingungan terkait dengan tumpang tindih kebijakan di level pusat. Tidak ada kesepakatan di level pusat, kementerian apa yang menjadi penjuru bagi desa. Kondisi ini ikut mempenga- ruhi efektivitas penyelenggaraan pemerintahan desa, termasuk da-

lam konteks pengelolaan Dana Desa.

c. Kewenangan pemerintah provinsi dalam pengelolaan Dana Desa hanya terbatas pada tugas pengawasan penyaluran Dana Desa, pe- nguatan kapasitas perangkat Kabupaten/Kota dalam pengelolaan Dana Desa, menerima tembusan laporan tentang besaran jumlah Dana Desa dan laporan realisasi dan pertanggungjawaban penggu- naan Dana Desa dari Kabupaten/Kota.

d. Kewenangan pemerintah kabupaten/kota adalah untuk memfasili- tasi pemerintah desa dalam pengelolaan Dana Desa. Titik temu an- tara pemerintah desa dengan pemerintah kabupaten/kota sangat krusial pada saat pembahasan RPJM Desa, APB Desa, dan aspek pengelolaan Dana Desa lainnya. Perangkat daerah kabupaten/kota yang berkaitan langsung dengan pemerintahan desa, yaitu BPMPD dan Kecamatan, memiliki peran strategis dalam pelaksanaan ke- wenangan tersebut. Oleh karena itu, pemerintah kabupaten harus memperkuat kapasitas perangkat kecamatan dalam rangka melak- sanakan tugas pembinaan kepada pemerintah desa dalam menge- lola Dana Desa. Kewenangan pemerintah kabupaten/kota lainnya adalah menerima laporan realisasi dan laporan pertanggungjawa- ban penggunaan Dana Desa.

e. Peran perangkat kecamatan adalah menjalankan sebagian kewena- ng an pemerintah kabupaten/kota terkait tugas pembinaan terha- dap pemerintah desa dalam mengelola Dana Desa, mulai dari tahapan perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, pelaporan dan pertang gung jawaban realisasi penggunaan Dana Desa. Proses dan mekanisme fasilitasi dari perangkat kecamatan tersebut dilakukan dengan berbasis pada tipologi desa (mandiri dan pra-mandiri). f. Pemerintah desa dalam rangka pengelolaan Dana Desa memili-

ki kewenangan luas sesuai dengan prakarsa masyarakat (melalui mekanisme musyawarah desa) dan potensi lokal, serta kondisi em- piris desa. Mandat kewenangan pemerintahan desa dalam menge- lola Dana Desa adalah untuk menjalankan urusan pemerintahan, pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat desa, dengan mengacu pada asas rekognisi dan sub- sidiritas yang dimiliki desa. Pengelolaan Dana Desa oleh pemerin- tah desa berdasarkan pada tata tertib administrasi yang menjamin prinsip-prinsip transparansi, akuntabilitas, eisiensi, dan efektivitas. Pembinaan (fasilitasi, asistensi, pendampingan) dari pemerintah supradesa diberikan secara proporsional sesuai dengan kebutuhan, tantangan, dan tipologi desa.

g. Berdasarkan analisis terhadap tata kelola prinsip rumah tangga oto- nomi (RTO) bagi desa dalam konteks pengelolaan Dana Desa, ke- sim pulan yang dikemukakan adalah sebagai berikut:

1) UU Desa sebagai dasar konstitusional pengelolaan Dana Desa telah memenuhi kriteria sistem RTO riil. Namun, beberapa pera- turan pelaksanaan UU tersebut justru bersifat materiil. Selain itu, terdapat dualisme pengaturan tentang penggunaan Dana Desa dan kewenangan desa dan kewenangan perangkat kecamatan hanya terbatas pada aspek perencanaan, pelaporan, dan pertang- gungjawaban.

2) Temuan di beberapa lokus penelitian menunjukkan hubungan kewenangan dalam pengelolaan Dana Desa sebagian besar ma- sih bersifat materiil.

h. Model ideal hubungan kewenangan antara pemerintah supradesa dengan pemerintah desa dalam pengelolaan Dana Desa dibangun berdasarkan tipologi desa (mandiri dan pra mandiri), dengan mem- perhatikan beberapa hal:

1) Pemerintah desa mempunyai keleluasaan dalam pengelolaan Dana Desa sesuai dgn prakarsa lokal dan kondisi empiris;

2) Untuk desa mandiri, pembinaan dari supradesa diberikan se- cara proporsional sesuai dengan kebutuhan dan tantangan desa; untuk desa pra-mandiri, pembinaan dari pemerintah supradesa (terutama perangkat daerah kabupaten) harus dilakukan secara intensif.

3) Penguatan peran dan kapasitas perangkat kabupaten/kota yang mengurus desa, termasuk perangkat kecamatan, dalam imple- mentasi UU Desa, khususnya terkait pengelolaan Dana Desa. 3. Terdapat sejumlah instrumen kebijakan yang perlu diharmonisasikan

khususnya kebijakan dari pusat sehubungan dengan pengelolaan Dana Desa, yaitu meliputi:

a. Pengaturan tentang perencanaan pembangunan desa: UU No. 6/2014 tentang Desa, yaitu Pasal 79 (1), dan PP No. 43/2014 ten- tang Peraturan Pelaksanaan UU No. 6/2014 tentang Desa, Pasal pasal 117-118, dengan PP No. 60/2014 jo. PP No. 22/2015 tentang Dana Desa yang bersumber dari APBN, Pasal 21-22, terkait ruju- kan dalam penyusunan dokumen perencanaan (RPJM Desa, RKP Desa, dan RAPB Desa).

b. Pengaturan tentang alur dalam merespon perencanaan desa: UU No. 6/2014 tentang Desa, Pasal 79 (1), dengan PP No. 43/2014 ten- tang Peraturan Pelaksanaan UU No. 6/2014 tentang Desa, Pasal 119.

c. Pengaturan tentang mandat kewenangan desa: UU No. 6/2014 tentang Desa, Pasal 18, dengan PP No. 60/2014 jo PP No. 22/2015 tentang Dana Desa yang Bersumber dari APBN, Pasal 19 (2), Per-

mendesa No. 5/2015 tentang Pedoman Penetapan Prioritas Peng- gunaan Dana Desa Tahun 2015 dan Permendesa No. 21/2015 ten- tang Pedoman Penetapan Prioritas Penggunaan Dana Desa Tahun 2016, dan Peraturan Menteri Keuangan No. 247/PMK. 07/2015 tentang Tata Cara Pengalokasian, Penyaluran, Penggunaan, Moni- toring, dan Evaluasi Dana Desa.

d. Pengaturan tentang tugas pembinaan oleh perangkat daerah ka- bupaten/kota atau perangkat kecamatan dalam pengelolaan Dana Desa (penganggaran dan pelaksanaan): UU No. 6/2014 tentang Desa, Pasal 112, dengan PP No. 43/2014 tentang Peraturan Pelak- sanaan UU Desa, Pasal 154, dan Permendagri No. 113/2014 ten- tang Pengelolaan Keuangan Desa, Pasal 44.

e. Permendesa No. 1/2015 tentang Pedoman Kewenangan Desa Ber- dasarkan Hak Asal Usul dan Kewenangan Lokal Berskala Desa dengan Permendagri No. 44/2016 tentang Kewenangan Desa. Harmonisasi perlu dilakukan mengingat, implikasi yang ditimbulkan oleh kebijakan yang tumpang tindih dan saling berkelindan membuat desa tidak dapat mengambil keputusan secara cepat.

4. Kecamatan sebagai perangkat daerah kabupaten/kota yang berkedudu- kan pa ling dekat dengan institusi desa tidak memiliki kewenangan yang kuat terhadap desa. Kuat dalam hal ini tidak dalam konteks ke- wenangan untuk mengintervensi desa. Pengaturan kewenangan keca- matan saat ini hanya pada aspek perencanaan dan pertanggungjawa- ban, sedangkan, pada aspek penganggaran, pelaksanaan, pelaporan dan pertanggungjawaban tidak diatur. Akibatnya, potensi terjadinya penyimpangan pada perencanaan dan tahap pengelolaan Dana Desa selanjutnya yaitu pelaksanaan, penatausahaan, dan pelaporan sangat besar.

B. REKOMENDASI

Berpijak dari kesimpulan di atas, berkaitan dengan hubungan kewenang- an pemerintah desa dengan pemerintah supra desa dalam pengelolaan Dana Desa, kajian ini mengajukan rekomendasi sebagai berikut:

1. Fragmentasi pengaturan tentang kewenangan desa oleh pusat melalui Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Desa dan PDTT perlu dihapuskan, sebab kondisi ini dapat menghambat efektivitas penye- lenggaraan pemerintahan desa. Selanjutnya, upaya untuk mengatasi fragmentasi regulasi tersebut dapat mempertimbangkan beberapa al- ternatif yang dapat ditempuh, baik yang bersifat jangka pendek mau- pun jangka panjang. Untuk alternatif jangka pendek, strategi yang dapat ditempuh adalah dengan membentuk “Desk Bersama” sebagai

ruang untuk mempertemukan dialog antara beberapa instansi kemen- terian/lembaga negara yang terkait dengan pengaturan pengelolaan Dana Desa tersebut. Desk ini diharapkan tidak hanya melakukan ka- jian dan harmonisasi regulasi yang ada, tetapi juga menjadi tempat pengaduan bagi desa atau kabupaten untuk mencari solusi masalah yang dihadapi mereka. Lingkup masalah yang dimaksudkan di sini baik masalah yang bersifat internal maupun persoalan terkait regula- si, misalnya, manakala terdapat tumpang tindih regulasi. Sedangkan untuk alternatif jangka panjang, strategi yang dapat ditempuh adalah mempertimbangkan kembali pembentukan kementerian penjuru yang akan menjadi koordinator terhadap segala urusan tentang desa.

Keterlibatan sejumlah kementerian khususnya Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Keuangan, dan Kementerian Desa dan PDTT ser- ta Bappenas terhadap implementasi UU Desa dapat diterima dengan tetap menempatkan salah satu kementerian sebagai kementerian pen- juru bagi desa. Hal ini dapat dilakukan melalui:

a. Pemetaan dan perumusan kembali kewenangan tiap-tiap kemente- rian dan lembaga non kementerian tersebut di atas terhadap desa sesuai tugas dan fungsi masing-masing, selaras dengan semangat desa membangun berdasarkan asas rekognisi dan subsidiaritas yang dimiliki desa.

b. Meninjau kembali kebijakan penetapan prioritas penggunaan Dana Desa yang dikeluarkan secara sepihak oleh Pusat. Desa seharusnya memiliki kewenangan untuk ikut menentukan penggunaan Dana Desa. Jika pemerintah pusat mengatur prioritas penggunaan Dana Desa, maka kebijakan tersebut perlu dikaitkan dengan tipologi desa, misalnya:

1) Desa mandiri, penggunaan Dana Desa sebagian besar untuk pengembangan pemberdayaan masyarakat desa;

2) Desa pra mandiri, penggunaan Dana Desa untuk pembangunan infrastruktur dan pemberdayaan ekonomi masyarakat;

Dengan demikian akan terjadi kesinambungan pemanfaatan Dana Desa berdasarkan tipologi desa dan dievaluasi pelaksanaanya secara periodik. Apabila tiap tahun prioritas penggunanaan Dana Desa selalu berubah, dikhawatirkan nilai tambah Dana Desa bagi desa tidak dapat dirasakan secara signiikan.

2. Pemerintah perlu segera memperjelas kewenangan antar instansi pe- merintah pusat yang menangani desa agar tidak terjadi tumpang tindih kebijakan/regulasi yang mengatur desa. Konstruksi ideal hubungan antara desa dengan supra desa perlu mempertimbangkan aspek-aspek sebagai berikut:

a. Mengintegrasikan peraturan tentang pengelolaan Dana Desa. Ke- menterian Dalam Negeri, Kementerian Keuangan, Kementeri- an Desa dan PDTT, serta Bappenas menyusun peraturan perun- dang-undangan yang integratif mengenai pengelolaan Dana Desa. Peraturan ini sangat strategis mengingat implementasi Undang-Un- dang Desa telah menjadi agenda penting nasional.

b. Pemerintah pusat berwenang melakukan pemantauan atas penga- lokasian, penyaluran, dan penggunaan Dana Desa, penerbitan pera- turan bupati/walikota mengenai tata cara pembagian dan pene- tapan besaran Dana Desa, penyaluran Dana Desa dari RKUD ke rekening kas Desa, penyampaian laporan realisasi, dan SiLPA Dana Desa. Pemerintah pusat juga berwenang melakukan evaluasi peng- hitungan pembagian besaran Dana Desa setiap Desa oleh kabupa- ten/kota, dan laporan realisasi Dana Desa

c. Pemerintah provinsi dan kabupaten/kota memiliki kewenangan da- lam pembinaan dan pengawasan terhadap pengelolaan Dana Desa secara intensif dengan mengoptimalkan perangkat kabupa ten/ kota dan perangkat pusat yang berada di kabupaten/kota. Karena rentang kendali terhadap desa lebih dekat dengan kabupaten/kota, maka titik berat kewenangan tersebut berada pada pemerintah ka- bupaten/kota.

d. Kecamatan perlu memperoleh kewenangan yang memadai dalam rangka implementasi UU Desa. Pemerintah kabupaten/kota dapat melimpahkan sebagian kewenangannya kepada kecamatan untuk melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pengelolaan Dana Desa.

e. Dalam pengelolaan Dana Desa (Perencanaan, Pelaksanaan, Pena- tausahaan, Pelaporan, Pertanggungjawaban), Pemerintah Desa memiliki keleluasaan dalam melaksanakan kewenangannya sesuai dengan prakarsa lokal dan kondisi empiris. Pembinaan pemerintah supradesa diberikan secara proporsional.

f. Untuk menunjang efektivitas kewenangan pemerintah supra desa dan pemerintah desa, pemerintah perlu mengembangkan model pengelolaan Dana Desa yang lebih komprehensif dengan mekanisme pengelolaaan yang lebih sederhana, serta menjamin efektivitas dan akuntabilitas, terwujudnya transparansi, bersifat partisipatif, dan inklusif dalam proses pengelolaannya.

3. Pemerintah pusat perlu melaksanakan harmonisasi kebijakan khusus- nya yang berhubungan dengan pengelolaan Dana Desa. Harmonisasi tersebut dilakukan melalui:

a. Penyelarasan kebijakan yang dikeluarkan oleh kementerian yang berwenang (khususnya terkait pengelolaan Dana Desa), seperti:

Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Desa & PDTT, dan Ke- menterian Keuangan.

b. Menyelaraskan peraturan perundang-undangan turunan terkait dengan pengelolaan Dana Desa baik pada level pusat maupun ke- bijakan di provinsi, kabupaten/kota untuk mengurangi tumpang tindih kebijakan dan ego sektoral, dan mengoptimalkan peran ke- camatan dalam pengelolaan Dana Desa.

c. Menyelaraskan pengaturan tentang penggunaan Dana Desa dan mengintegrasikan pengaturan tentang kewenangan desa sesuai se- mangat UU Desa.

d. Menentukan kementerian penjuru untuk mengatasi tumpang tin- dih pekerjaan/kewenangan terkait desa.

e. Mempertimbangkan kembali konsep tentang urgensi undang-un- dang pokok untuk mengatasi disharmoni kebijakan/regulasi. f. Menyusun kebijakan yang mengatur pemberian kewenangan ke-

pada kecamatan dalam pembinaan dan pengawasan pengelolaan Dana Desa, tidak hanya pada tahap perencanaan, pelaporan, dan pertanggungjawaban, tetapi juga tahap pelaksanaan, dan penatau- sahaan.

4. Kecamatan sebagai perangkat kabupaten/kota yang berkedudukan paling dekat dengan desa sudah saatnya diberikan kewenangan yang lebih jelas dan tegas dalam penyelenggaraan pemerintahan desa. Ter- lebih berkaitan dengan pengelolaan Dana Desa, kecamatan memiliki peran dan fungsi strategis dan krusial. Penguatan kapasitas kecamatan perlu memperoleh perhatian serius baik oleh pemerintah kabupaten/ kota, provinsi, maupun pemerintah pusat. Untuk meningkatkan efek- tivitas kedudukan kecamatan dalam pembinaan dan pengawasan pe- nge lolaan Dana Desa, maka saran kebijakan yang dikemukakan adalah sebagai berikut:

a. Memperkuat kewenangan kecamatan dalam melakukan pembinaan dan pengawasan terkait pengelolaan keuangan desa melalui:

1) Pendelegasian sebagian kewenangan dari pemerintah kabu- paten/kota kepada kecamatan terkait dengan pengelolaan Dana Desa.

2) Memperjelas kewenangan, peran, dan fungsi kecamatan di da- lam peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan tugas pembinaan pemerintahan desa.

b. Memperkuat kapasitas kecamatan, melalui:

1) Meningkatkan alokasi anggaran untuk perangkat kecamatan dalam melaksanakan kewenangan, peran dan fungsinya.

2) Pengembangan kepasitas perangkat kecamatan melalui pendi- dikan dan pelatihan yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan desa;

3) Memberikan pelatihan teknis mekanisme pelaksanaan UU Desa kepada aparat kecamatan secara memadai, misalnya, bagaimana cara memveriikasi kelengkapan dokumen pra- syarat pencairan Dana Desa atau bagaimana melakukan peng- awasan pelaksanaan pengelolaan Dana Desa.

c. Membangun relasi strategis antara kecamatan dan desa sebagai langkah untuk mewujudkan efektivitas dan eisiensi penyelengga- raan pemerintahan desa, melalui:

1) Optimalisasi fungsi pembinaan (fasilitasi dan asistensi) dari ke- camatan dalam penguatan perangkat desa, terutama terkait de- ngan pengelolaan keuangan desa;

2) Peningkatan kapasitas perangkat kecamatan dan desa dalam mengelola Dana Desa. Sinergi antara pemerintah desa dengan supra desa sangat dibutuhkan agar terwujud kesepahaman in- formasi dan komunikasi yang konstruktif antara pemerintah desa dengan pemerintah supra desa.

Dalam dokumen Analisis Hubungan Kewenangan Pemerintah. pdf (Halaman 117-130)