BAB II TINJAUAN KONSEPTUAL
6. Pemerintahan Desa dalam Perspektif Kebijakan Publik
Kajian ini merupakan sebuah kajian analisis terhadap suatu kebijakan, dalam hal ini UU No. 6/2014 tentang Desa. Untuk memahami maksud serta tujuan penelitian ini, maka secara teoritik perlu kita pahami ter- lebih dahulu apa yang dimaksud dengan kebijakan publik dan anali- sis kebijakan publik.
Dalam kajian ini kebijakan publik dipahami sebagai “suatu arah tin- dakan yang direncanakan dari seseorang, kelompok, atau pemerintah dalam lingkungan tertentu guna mengatasi kendala dan memanfaat- kan peluang dalam upaya mencapai suatu tujuan, sasaran atau mak- sud tertentu” (Fredrich, 1967). Karena, kebijakan publik merupakan produk politis seseorang atau kelompok, maka ia merupakan hasil interaksi intensif antara para aktor. Namun, dalam konsepsi negara modern saat ini yang telah mengakui nilai-nilai demokrasi, perumu- san kebijakan mulai menyertakan partisipasi masyarakat guna meng- hasilkan keputusan yang terbaik (Agustino, 2016: 1).
Lalu apa yang menjadi alasan untuk mempelajari kebijakan publik? UU Desa merupakan sebuah produk perundangan yang sangat pen- ting di Indonesia. Inilah undang-undang yang secara langsung meng- atur tentang Desa. Mengapa Desa perlu diatur sedemikan rupa tentu bukan tanpa alasan, tetapi atas pertimbangan banyak hal. Salah satu- nya tentang persepsi Desa selama ini yang hanya menjadi beban pe- merintah karena menjadi pusat mata rantai kemiskinan. Namun apa yang menyebabkan hal itu terjadi, salah satunya dikarenakan selama ini pemerintah desa tidak pernah berdaya. Terjadi suatu gap antara pe- merintah, pemerintah daerah, dengan desa. Meski desa berada dalam wilayah Kabupaten/Kota, tetapi perhatian terhadap desa sangatlah kecil. Oleh karena itu, penting dirumuskan suatu aturan yang menga- tur agar desa dapat berdaya secara mandiri, sejak perencanaan pem- bangunannya hingga pelaksanaannya.
Merujuk pada alasan di atas, lahirnya UU Desa didasarkan pada adanya suatu masalah yang kemudian berkembang menjadi isu yang perlu ditangani bersama untuk mengatasinya. Oleh karena itulah se- buah rancangan kebijakan khusus tentang pemerintahan desa perlu dirumuskan. Proses perumusan solusi inilah yang kemudian dipaha- mi sebagai proses kebijakan. Proses kebijakan adalah serangkaian alur yang perlu dilalui untuk memahami gejala atau fenomena yang perlu diselesaikan oleh sebuah atau lebih kebijakan publik. Dalam arti lain, proses kebijakan meliputi asal atau akar masalah, proses menyele- saikan masalah, perkembangan setelah masalah disikapi, dan akibat yang ditimbulkan oleh masalah bagi publik (Agustino, 2016: 3).
Dengan demikian, proses kebijakan publik merupakan sebuah pros- es politik yang melibatkan banyak aktor. Relasi antar aktor memain- kan peran tersendiri dalam penentuan kebijakan karena setiap aktor tersebut membawa pengaruh kepentingannya masing-masing. Dalam konteks pemerintahan desa, perlu dibentuk suatu kerangka proses ke- bijakan yang menggambarkan karakter pemerintahan desa di Indone- sia. Menurut Parsons (1995), kualitas kebijakan yang dirumuskan sa- ngat berkaitan dengan relasi antar pembuat kebijakan. Terdapat dua pendekatan proses penyusunan kebijakan, yaitu pendekatan top-down
dan bottom-up. Pendekatan top-down menekankan pada supremasi elit atau pemerintah dalam proses kebijakan. Perencanaan kebijakan tidak didasarkan pada aspirasi dari bawah. Sedangkan pendekatan
bottom-up adalah pendekatan kebijakan yang memandang proses ke- bijakan sebagai sebuah negosiasi dan pembentukan konsensus dari bawah yang pada akhirnya melahirkan suatu kebijakan. Jika dianali- sis dalam kebijakan pemerintah desa, pendekatan bottom-up adalah pendekatan yang paling rasional dengan semangat UU Desa. Desa memiliki kearifan lokal sendiri dalam pemecahan permasalahan yang kerap tidak terakomodir dalam lembaga pemerintahan lebih tinggi. 7. Tipologi Desa
Berdasarkan pada asas penerapan tata kelola penyelenggaraan pe- merintahan desa yang baik (good village governance), kajian ini mem- bagi tipe pemerintahan desa ke dalam dua tipologi. Tipe pertama ada- lah Desa PraMandiri dan; kedua, Desa Mandiri. Selama ini memang sudah ada tipologi desa yang didasarkan pada Indeks Pembangunan Desa dari Bappenas dan Indeks Desa Membangun dari Kementerian Desa PDTT. Namun, untuk keperluan kajian ini, penulis tidak menga- cu kepada tipologi berdasarkan kedua jenis indeks tersebut, melain- kan mencoba merumuskan tipologi desa berdasarkan indikator atau kriteria yang lebih sederhana, yaitu (1) tingkat kapasitas pemerintah desa, dan (2) tingkat keterlibatan (partisipasi) masyarakat desa. De- ngan mengacu kepada dua indikator itulah kemudian penulis meru- muskan tipologi desa.
Pertama, tipe desa mandiri mengacu pada desa dengan kapasitas pe- merintah desa yang sudah sepenuhnya mampu mandiri dalam penye- lenggaraan pemerintahannya. Suatu desa tergolong desa mandiri karena dua faktor berikut, yaitu: 1) Perangkat desa memiliki kapasitas atau kompetensi teknis memadai sehingga mampu menjadi kekuatan utama penggerak pemerintahan. Adapun kompetensi perangkat desa tersebut dapat dilihat dari sejumlah variabel, seperti mampu menyu- sun perencanaan anggaran dan pembangunan desa, melaksanakan pembangunan desa secara transparan dan akuntabel, menyusun lapo-
ran dengan baik, dan mampu memberikan pelayanan publik yang op- timal; 2) Tingginya partisipasi masyarakat desa dalam setiap proses pengambilan keputusan strategis. Partisipasi masyarakat adalah basis kekuatan sosial, ekonomi, dan politik desa. Oleh karena itu, baik dalam penyelenggaraan pemerintahan maupun pelaksanaan pembangunan desa, partisipasi masyarakat sangat dibutuhkan. Di satu sisi, partisi- pasi diperlukan untuk memastikan perencanaan hingga pelaksanaan pembangunan sesuai dengan harapan publik, sedangkan di sisi yang lain, partisipasi masyarakat ini sangat berguna untuk memperkuat demokrasi komunitarian desa, dan memastikan bahwa penyeleng- garaan pemerintahan desa tidak untuk melayani kepenti ngan politik satu pihak, golongan atau kelompok tertentu saja. Apabila kedua fak- tor atau kriteria tersebut terpenuhi, maka hal tersebut menjadi basis kekuatan yang mendorong terciptanya desa mandiri.
Kedua, tipe desa pra mandiri mengacu pada jenis desa yang ma- sih mengalami ketergantungan pada pihak lain dalam pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahannya. Desa pra mandiri dicirikan de- ngan kapasitas pemerintah desa yang belum memadai, baik dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan desa, mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga pelaporan, mau- pun dalam mendorong dan memberi ruang pada keterlibatan ma- sya rakat desa dalam setiap pengambilan keputusan strategis. Oleh karena itu, desa pra mandiri masih mengalami ketergantungan yang tinggi terhadap aktor-aktor supradesa untuk memastikan berjalannya penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan desa secara akun- tabel, transparan dan partisipatif.