• Tidak ada hasil yang ditemukan

PUSAKA RENDAH

B. Harta Pusaka Tinggi dalam Masyarakat Adat Minangkabau

Masyarakat Minangkabau yang menganut sistem kekerabatan matrilineal dan mayoritas beragama Islam dalam pembagian warisannya juga dipengaruhi oleh sistem pewarisan Islam, namun tidak keseluruhan sistem kewarisannya mengikuti sistem pewarisan secara Islam, melainkan hanya pada pewarisan harta Pusako Randah sajanya. Sedangkan terhadap harta Pusako Tinggi, masyarakat Minangkabau lebih mengedepankan hukum adat. Hal ini dapat dilihat dalam pembagian warisan secara harta Pusako Tinggi pada masyarakat Minangkabau, yang mendapatkan bagian besar atau pewarisnya adalah anak perempuan.

Dalam adat Minang harta pusaka terdiri dari 2 macam: 55 1. Harta pusaka tinggi dan

54 Harijanto Azmar Adat Minangkabau dan Harta Pusakanya, Yayasan Adat Minangkabau, Padang, 2009, hal 79.

55 Ranidar Darwis. Transformasi Nilai-nilai Tradisi Kekeluargaan Masyarakat Minangkabau Dalam Pendidikan Kewiraswastaan, Bandung: Pustaka Aulia Press, 2004, hal. 40

2. Harta pusaka rendah. Harta pusaka tinggi diwariskan secara turun-temurun kepada satu kaum, sedangkan harta pusaka rendah merupakan hasil pencaharian seseorang dan diwariskan atau diwasiatkan kepada ahli waris menenurut ketentuan hukum adat Minangkabau.

Harta pusaka tinggi adalah harta milik seluruh anggota kaum dan diperoleh secara turun temurun melalui jalur wanita (padusi). Biasanya harta ini berupa rumah, sawah, ladang, kolam dan hutan. Harta pusaka tinggi tidak boleh diperjualbelikan dan hanya boleh digadaikan. Anggota kaum memiliki hak pakai dan biasanya di kelola oleh Mamak Kepala Waris (Angku).

Hak pakai dari harta pusaka tinggi ini antara lain: hak membuka tanah, memungut hasil, mendirikan rumah dan hak menggembala.56 Jika berupa air (tabek) maka hak pakainya adalah memanfaatkan air dan menangkap ikan.

Disamping harta pusaka tinggi, masih ada harta pusaka lain yang dimiliki oleh masyarakat Minang, seperti: tanah ulayat nagari dan tanah ulayat suku, tetapi status tanah seperti ini sudah punah dan jarang ditemukan di Minang karena perkembangan penduduk dan sosial ekonomi. Harta pusaka tinggi tidak boleh di jual dan hanya boleh digadaikan. Menggadaikan harta pusaka tinggi hanya dapat dilakukan setelah dimusyawarahkan diantara petinggi kaum, diutamakan digadaikan kepada suku yang sama tetapi dapat juga digadaikan kepada suku lain.57

Masyarakat Minangkabau yang menganut sistem kewarisan Matrilineal yang melahirkan kesatuan-kesatuan keluarga yang menghubungkan keturunan

56 Ibid, hal. 89

57 A.B.Dt. M. Indo, Kato Pustako: Papatah, Patitih, Mamang, Pantun, Ajaran, dan Filsafat Minangkabau, PT. Rora Karya, Jakarta, 2013, hal. 44

atas dasar keturunan ibu karena itu anak-anak masuk ke dalam suku (clean) ibunya. Ahli waris dalam pewarisan menurut adat Minangkabau ini yaitu turun dari mamak ke kemenakan atau dari ibu turun ke anak perempuan tertua, tanpa melupakan pewarisan ini bersifat kolektif dan satu hal lagi yang diwariskan bukanlah harta itu sendiri namun hanya pengawasan dan pengelolaannya saja.

Ahli waris yang diakui oleh masyarakat Nagari Kamang Mudiak adalah dari ibu turun ke anak perempuan tertua. 58

Ketentuan hukum adat Minangkabau yang menganut garis keturunan ibu tersebut mengakibatkan harta pusaka tinggi tidak dapat diperjualbelikan dan juga tidak dapat dimiliki oleh anak laki-laki. Namun demikian bisa digunakan atau dipakai apabila harta pusaka tinggi tersebut berbentuk tanah oleh pihak laki-laki untuk dikelola sebagai tempat bercocok tanam atau tempat mendirikan usaha, namun tidak dapat dijual, karena harta pusaka tinggi tersebut bukan merupakan milik dari orang tua kandung dari anak-anak yang mengelola tanah tersebut namun milik dari leluhur yang harus dijaga keberadaannya secara turun temurun yang dalam hal ini pengelolaannya diserahkan secara kolektif kaum keturunan perempuan.

Ketentuan hukum tentang pewarisan harta pusaka tinggi telah berlangsung secara turun temurun sejak sebelum NKRI merdeka dan setelah NKRI merdeka dan memiliki dasar hukum Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Oleh karena itu pewarisan materilineal berdasarkan adat hukum Minangkabau tersebut tetap dilindungi oleh UUPA No. 5 Tahun 1960, karena sistem kewarisan

58 Mitha Arfayanti, Tinjauan Yuridis Pemberian Surta Wasiat Harta Kekayaan Orang Tua Angkat Terhadap Anak Angkat Berdasarkan Ketentuan Per Undang Undangan, Tesis Magister Kenotaariatan Universitas Sumatera Utara, 2016, hal. 22

matrilineal termasuk ketentuan hukum tentang harta pusaka tinggi dalam hukum adat Minangkabau sudah berlaku sebelum Indonesia merdeka. Oleh karena itu dalam bidang pertanahan UUPA No. 5 Tahun 1960 yang bersumber dari hukum adat tetap mengakui sistem pewarisan menurut asas matrilineal yang dianut oleh hukum adat Minangkabau termasuk ketentuan tentang harta pusaka tinggi yang hanya boleh dikelola oleh para ahli waris dan diserahkan pengelolaannya kepada pihak garis keturunan perempuan. 59

Ahli waris dalam sistem ini, semua anak-anak hanya dapat menjadi ahli waris dari ibunya sendiri yang diperuntukkan atas harta pusaka tinggi jika harta pusaka rendah atau pencaharian itu ahli warisnya berdasarkan hukum waris Islam.

Ahli waris di Minangkabau dengan ahli waris dalam syariat Islam hal ini diperuntukan untuk harta pusaka rendah sedangkan harta pusaka tinggi ini berdasarkan garis keturunan ibu. Kedudukan laki-laki dan perempuan di dalam adat Minangkau seimbang. Laki-laki mempunyai hak untuk mengatur segala yang ada di dalam perkauman, baik pengaturan pemakaian dan pembagian harta pusaka. Perempuan sebagai pemilik harta pusaka dapat mempergunakan semua hasilnya untuk keperluan keluarga besarnya, meliputi: anak dan kemenakan.

Pusako Tinggi adalah harta warisan berupa tanah ulayat, sawah, ladang, tanah kuburan dan rumah gadang, yang memiliki dan dikuasai secara bersama oleh beberapa keluarga dalam satu keluarga dari satu kaum atau suku. Harta ini diwariskan oleh leluhurnya melalui buyutnya, neneknya, terus kepada keturunan selanjutnya. Harta pusaka tinggi adalah harta yang turun-menurun. Harta pusaka

59 Rahmi Yuliad, Kedudukan Anak di Bawah Umur atas Harta peninggalan Orangtuanya pada masyarakat Minangkabau (Kajian di Nagari panumpang Kecamatan IV Angkat Candung Kabupaten Agam), Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, 2002, hal. 65

tinggi berasal dari lacu istilahnya artinya hasil pendapatan orang tua yang dahulu misalnya ada kaum suku sikumbang suku budi, chaniago, orang limo nyiak dan koto sambilan atau lain sebagainya di dapat dari hasil orangtua yang dahulu dalam kaum yang diperuntukkan kalau bahasa agama nya jatuhnya kepada wakaf orang tua yang dahulu yang dilaksanakan pemanfaatatannya untuk kaum wanita, ibu atau perempuan. Jadi, harta pusaka di Minangkabau, harta pusaka tinggi itu wakaf nenek moyang untuk di manfaatkan oleh kaum perempuan.60

Harta pusaka tinggi adalah harta yang telah diwarisi secara turun-menurun oleh sebuah kaum. Harta tersebut berupa, ada mata air, kolam, sawah, parak (kebun) dan juga pandam perkuburan dan juga sebuah rumah gadang. Perolehan harta ini berawal dari hasil usaha kerja nenek moyang kaum terdahulu yang dijadikan lahan pertanian, perumahan, dan persawahan. Harta pusaka tinggi adalah harta yang dimiliki hukum qiyas wakaf yang peruntukkannya telah ditentukan oleh beberapa generasi sebelumnya. Kepemilikan tidak ada pada orang perorangan, namun hak penglolaannya telah ditentukan. Dan lagi harta pusaka tinggi, bukanlah harta pencarian dari ayah dan ibu atau kakek dan nenek.

Maka tiada hukum waris yang berlaku atas hal tersebut. Secara ushul fiqih ini masuk dalam ihtihsan dan urf. Dimana didalamnya terdapat kebaikan dan adat istiadat yang tidak bertentangan dengan Islam.

Adapun Fungsi Harta Pusako Tinggi sebagai berikut :61

1. Merupakan tali persatuan dan kesatuan sebuah kaun yang bertali darah.

60 T. KatoMariliny and Migration, Evolving Minangkabau Traditions in Indonesia. Ithaca and London: Cornell University Press, 2009, hal. 33

61 Ibid, hal. 36

2. Mengingatkan smua orang akan hubungan budi yang luhur terhadap nnk moyangnya.

3. Mampu memberikan contoh pada generasi berikutnya, untuk selalu memikirkan generasi-generasi yang akan datang.

Pada hakikatnya harta pusaka tinggi dalam pengelolaannya sama sekali tidak pertentangan dengan hak waris Islam karena harta tersebut adalah harta bersama yang awalnya telah diberikan sebagai harta bersama dan bukan harta kepemilikan pribadi. Harta kepemilikan bersama atas nama satu kaum dan orang banyak tidak dapat dibagi secara hukum Islam. Karena harta pusaka tinggi di Minangkabau harta yang diturunkan secara turun-menurun bukan untuk dibagi-bagi kepemilikannya.

Pemindahan hak milik atas Pusako Tinggi dengan menjual pada dasarnya tidak dibenarkan dalam adat Minangkabau, kalau sangat terpaksa hanya boleh pemindahan hak garap dengan status gadai, ini pun harus memenuhi 4 syarat seperti berikut.

1. Maik Tabujua ditangah rumah (Tidak ada biaya untuk mengurus kematian).

2. Gadih gadang indak balaki (butuh dana untuk mengawinkan warga yang sudah jadi gadis tua, mungkin karena yatim piatu atau sebab- sebab lain).

3. Rumah gadang katirisan (butuh biaya untuk merenovasi rumah gadang).

4. Mambangkik batang tarandam (butuh biaya untuk mengangkat seorang datuk kepala kaum pengganti yang sudah meninggal dunia).

Pada hukum adat Minangkabau ada istilah yang dikenal istilah sako pusako. Sako pusako memiliki pengertian yaitu sako artinya warisan yang tidak

bersifat benda seperti gelar pusako. Sako juga berarti asal, atau tua, seperti dalam kalimat berikut.

1. Sawah banyak padi dek urang 2. Lai karambia sako pulo

Sako dalam pengertian adat Minangkabau adalah segala kekayaan asal atau harta tua berupa hak atau kekayaan tanpa wujud.

Kekayaan yang in material ini disebut juga dengan pusako kebesaran seperti:

1. Gelar panghulu;

2. Garis keturunan dari ibu yang juga disebut dengan “Sako Induak”;

3. perilaku atau pribawa yang diterima dari aliran darah sepanjang garis keturunan ibu juga di sebut soko. Istilah soko induak ini dipersamakan dengan istilah matrilinial;

4. Pepatah petitih 5. Pidato adat 6. Hukum adat;

7. Tata krama dan hukum sopan santun diwariskan kepada semua anak kemenakan dalam suatu nagari, dan kepada seluruh ranah Minangkabau.

Sifat perangai bawaan juga di sebut dengan soko. Soko sebagai kekayaan tanpa wujud merupakan rohnya adat dan memegang peranan yang sangat

menentukan dalam membentuk moralitas orang Minangkabau dan kelestarian adat Minangkabau pada umumnya.62

Pusako atau Harato Pusako adalah segala kekayaan materi dan harta benda yang juga disebut dengan Pusako Harato. Pusako Harato dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Hutan tanah;

2. Sawah Ladang;

3. Kolam dan padang;

4. Rumah dan pekarangan;

5. Pandam perkuburan (Tanah perkuburan yang dimiliki oleh suku, oleh kaum, kampung );

6. Perhiasan dan uang;

7. Balai mesjid dan surau 8. Peralatan dan lain-lain.

9. Banda buatan jo batang aie

10. Lambang kebesaran seperti keris baju kebesaran, soluak, deta dll

Pusako ini merupakan jaminan utama untuk kehidupan dan perlengkapan bagi anak kamanakan di Silungkang dan Minangkabau, terutama untuk kehidupan yang berlatar belakang kehidupan desa yang agraris. Perubahan kehidupan ekonomi ke arah industri dan usaha jasa dan berkembangnya kehidupan kota, maka peranan harta pusaka sebagai sarana penunjang kehidupan ekonomi orang-orang Silungkang menjadi makin lama makin berkurang. Namun demikian

62 Freddy Kiswanto, Kedudukan Hukum Anak Laki - Laki Dan Perempuan Terhadap Pewarisan Dalam Perkawinan Batak –Minangkabau di Kel. Tegal Sari III, Kec. Medan Area, Kota Medan, Tesis Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, 2017, hal. 63

peranan harta pusaka, sebagai simbol kebersamaan dan kebanggaan keluarga dalam sistem kekerabatan matirilinial di Silungkang pada khususnya dan Minangkabau pada umumnya tetap bertahan. Harta pusaka sebagai alat pemersatu di Minangkabau tetap bertahan. Harta pusaka sebagai alat pemersatu keluarga, masih tetap berfungsi dengan baik namun sebaliknya harta pusaka sebagai milik kolektif tak jarang pula menjadi “Biang Keladi” dalam menimbulkan silang sengketa dalam keluarga Minang. Dengan demikian harta pusaka disamping berfungsi sebagai alat pemersatu, sekaligus juga berpotensi sebagai alat pemecah belah.63

Ketentuan adat mengenai barang sako dan Harato Pusako tinggi adalah sebagai berikut :

1. Hak Bapunyo Hak berpunya 2. Harato Bamiliak Harta bermilik

Barang sah maupun Harato Pusako Tinggi pada dasarnya dikuasai atau menjadi milik bersama-milik kolektif oleh kelompok-kelompok sebagai berikut : 1. Kelompok “Samande” atau “ seperinduaan”

2. Kelompok “Sajurai”sakaum 3. Kelompok “ Sasuku”

4. Kelompok “Nagari”

Pada adat Minangkabau tidak ada tanah yang terluang semuanya sudah berpunya dalam adat dikatakan tanah nan sabingka daun sahalai aie nan satitiak pasie nan sebuah seluruhnya adat nan punyo. Proses pemindahan kekuasaan atas

63 Sudarsono Ginting, Kedudukan Anak Perempuan Dalam Hukum Waris Adat Pada Masyarakat Batak Karo Di Perantauan (Studi pada masyarakat Batak Karo di kota Semarang), Tesis Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, 2018, hal. 87

harta pusaka tinggi ini dari mamak ka kemenakan dalam istilah adat disebut juga dengan “Pusako Basalin“ bagi harta pusaka tinggi berlaku ketentuan adat seperti pantun berikut :

1. Tajua indak dimakan bali 2. Tasando indak dimakan gadai

Artinya :

1. Terjual tidak bisa dibeli

2. Agunan nan indak dapat digadai.

Hal ini berarti bahwa harta pusaka tinggi tidak boleh dijual. Oleh karena harta pusaka tinggi sesungguhnya bukan diwariskan dari mamak kepada kemenakan, tetapi dari ande atau nenek kita, jadi harta pusako tinggi tidak saja milik kita yang hidup pada masa sekarang ini tetapi juga milik anak cucu kita, yang akan lahir seratus atau seribu tahun lagi, kita yang hidup sekarang wajib menjaga dan memelihara dan boleh memanfaatkannya, untuk kepentingan dan kehidupan kita saat sekarang,64 seperti mamang adat : aianyo buliah disauak, buahnya buliah di makan tanah jo buminya adat nan punyo di Silungkang tidak lagi mempunyai wilayat suku, yang ada hanya wilayat kaum, wilayat kaum ini tidak boleh di perjualbelikan, tanah wilayat kaum ini di kuasai oleh mamak kepala kaum, dan dipakai serta di mamafaatkan oleh dunsanak nun padusi, apa bilah satu kelompok dari kaum yang memakai tanah itu punah, tanah itu kembali di mamfaatkan secara bersama oleh seluruh anggota kaum yang tertera di dalam ranji (silsila) secara adat, kelompok yang punah itu tidak boleh menjual tanah itu

64 Rosnidar Sembiring, Hukum Pertanahan Adat Raja Grfindo Perda, Rajawali Press, 2017, hal. 130

karenah tanah itu bukan hakiki miliknya, tapi hanya hak pakai selagi keturununnya yang satu ranji masih ada, kalau suda tidak ada pula kaum yang satu ranji maka pusako berpinnda kepada kaum yang bertali adat kaum yang bertali adat inilah yang akan mempusokoinya.65

Harta pusaka tinggi ini sangat besar manfaatnya bagi anggota kaum yang mewarisi di ranah minang. Pengelolaan atau penggarapan yang telah diatur dan disepakati bersama, hasilnya dapat membantu kesejahteraan keluarga kaumnya.

Dasar pertimbangan dalam hukum adat Minangkabau bahwa harta pusaka tinggi jatuh kepada keturunan perempuan adalah karena perempuan adalah sumber dari perolehan keturunan dalam masyarakat adat Minangkabau sehingga perempuan memiliki kedudukan yang tinggi dalam hukum adat Minangkabau. Oleh karena itu harta pusaka tinggi diserahkan pengelolaannya kepada keturunan perempuan.

Konsistensi atas ketentuan hukum adat Minangkabau terhadap harta pusaka tinggi yang jatuh kepada keturunan perempuan masih konsisten hingga saat ini, dimana anak perempuan yang memiliki hak untuk mengelola harta pusaka tinggi tersebut.

Harta pusaka rendah sama halnya dengan harta pencaharian yang dimaksud dalam Islam. Cara pembagiannya dengan memakai hukum faraidh.

Namun, kebanyakan masyarakat Minangkabau lebih memilih untuk memusyawarahkan terlebih dahulu. Mufakat yang di dapat tidak berpaling dari unsur agama Islam. Terlebih dahulu masing-masing ahli waris mengetahui

65 Riska Hardiyanti, Hukum Waris pada masyarakat Pulau tamang (Studi di Desa Pulau tamang Kecamatan Batahan Kabupaten Mandailing Natal), Tesis Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, 2015, hal. 43

bagiannya masing-masing maka barulah setelah itu dibagi menurut hasil musyawarah yang di dapat.66

Dalam perjalanan sejarahnya Adat Minangkabau telah mengalami beberapa kali perubahan, khusus untuk masalah pewarisan ini sudah disepakati dan diputuskan dalam Musyawarah Besar Urang Nan Ampek Jinih seluruh Sumatera Barat pada tanggal 2-4 Mei 1952 di Bukittinggi, kemudian diperkuat dalam Seminar Hukum Adat Minangkabau, tanggal 21-25 Juli 1968 di Padang yang isinya menetapkan sebagai berikut: Harta Pusaka (Pusako Tinggi) di Minangkabau merupakan harta badan hukum, diurus dan diwakili oleh Mamak Kepala Waris, dimana mamak kepala waris maupun kemanekan bukanlah pemilik dari harta badan hukum itu.