BAB IV PELAKSANAAN DAN HASIL PENELITIAN
C. Hasil Penelitian
3. Hasil Analisis Kualitatif
Analisis kualitatif dilakukan pada kelompok eksperimen berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan dari sebelum, saat, dan setelah diberikan intervensi. Tujuan dari analisis kualitatif ini adalah untuk mengetahui pengalaman dan perilaku subjek selama mengikuti terapi kelompok pendukung. Analisis ini dilakukan pada semua subjek kelompok eksperimen dengan rincian sebagai berikut.
a. Subjek 1, AA, 24 tahun, laki-laki, HIV (+) 2 bulan, stadium 1
Subjek AA adalah seorang mahasiswa semester akhir di Yogyakarta. Subjek merupakan penduduk asli Jakarta. Subjek menderita HIV/AIDS sejak Februari 2017, kurang lebih 2 bulan menderita saat pertama kali diwawancara. AA mengetahui statusnya yang positif terinfeksi HIV setelah melakukan tes VCT. Tes ini dilakukan berdasarkan inisiatif diri sendiri yang direkomendasikan oleh teman subjek karena subjek mengalami demam yang tidak kunjung sembuh. Voluntary Conseling and Testing (VCT) adalah proses konseling pra testing,
85 konseling post testing, dan testing HIV secara sukarela yang bersifat
confidental dan secara lebih dini membantu orang mengetahui status HIV.
Subjek melakukan terapi ARV tepat setelah mengetahui hasil diagnosa dokter. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan sebelum pelatihan dimulai, subjek mengaku shock dan tidak percaya dengan apa yang baru saja diperoleh. Subjek mengaku bahwa untuk membayangkan terinfeksi saja tidak berani dan saat ini virus tersebut ada dan hidup dalam tubuhnya. Hal ini kembali dibahas oleh subjek pada saat pascates ketika ditanya mengenai bagaimana cara subjek memandang hidup pada saat ini.
“Ya aku harus menerima penyakit ini, walau pada awalnya aku tu berpikir untuk menghayal aku harus kena HIV aja tu ga pernah, aku takut banget mbak” (S1, B35-37)
Subjek juga mengungkapkan bahwa belum ada yang mengetahui tentang penyakit subjek karena subjek berasal dari keluarga yang agamis.
Hasil wawancara prates juga menunjukkan bahwa pada saat menjalani terapi ARV, subjek merasa ingin menyerah dengan dampak yang ditimbulkan oleh obat itu sendiri, misalnya merasakan tubuh sendiri seperti melayang-layang, mual, dan sebagainya. Selama menjalani terapi, subjek lebih sering sendiri dan menyendiri dan tetap berada dalam kamar kost. Seperti yang diketahui, bahwa terapi ARV untuk pengguna pemula akan menghasilkan dampak fisik yang lebih banyak dibandingkan dengan pengguna ARV yang sudah cukup lama, hal ini karena penyesuaian obat dengan tubuh pengguna ARV. Hal ini berdasarkan pernyataan dari wawancara beberapa pengguna ARV senior yang mengaku demikian.
86
86
Pada wawancara setelah pelatihan, AA menyatakan ada beberapa hal yang berubah, mulai dari perasaan hingga cara subjek berpikir.
Munculnya beberapa perasaan positif dan perubahan cara berpikir dalam memandang kehidupan adalah beberapa hal yang terjadi pasca subjek menjalani terapi kelompok pendukung.
“Aku jadi ngerasa percaya gitu sama yang di grup kita. Aku percaya, aku ngeluarin apa yang aku rasakan. Gitu-gitu.”
“Alhamdulillah ya mas kalau percaya?”(S1, B12-B14)
“iya mbak, selain itu juga aku belajar dari mbak e***, mbakk i***. Mereka ternyata punya banyak masalah juga ya, dan mereka berhasil bertahan. Awalnya aku pikir aku akan kurus, dirawat dirumah sakit, terus mati. Tapi ya ternyata ga gitu ya. Aku belajar banyak dari sini”
“Lalu, cara mas memandang penyakit mas, seperti apa mungkin bisa di bagikan ke saya?”
“em.. anggap saja ini hadiah dari Allah ya, mungkin kalau aku ga kena ini, ya aku ga bakal berubah jadi lebih baik. Ya emang dulu aku tu kaget banget pas didiagnosa positif, tapi sekarang aku sih mikirnya kayak mau memaksimalkan umurku. Kita bisa kok hidup sehat dan lama. Iyakan mbak?”(S1, B18-B28)
Berdasarkan wawancara, subjek juga mengungkapkan adanya perasaan positif yang muncul saat berpendapat dalam terapi kelompok pendukung.
“Aku senang mbak, waktu dipertemuan kedua aku bisa mengungkapkan ideku tentang teori untung, dan sekarang pada pake istilah itukan ya...”(S1, B30-B32)
Pada wawancara prates, subjek mengaku adanya emosi negatif yang kuat, dimana subjek berpikir akan mati, sehingga menurunkan semangat subjek dalam menjalani hidup. Setelah mengikuti terapi, subjek menyatakan bahwa yang perlu dilakukan subjek saat ini adalah melanjutkan hidup dengan lebih baik.
87
“Lalu, cara mas memandang penyakit mas, seperti apa mungkin bisa di bagikan ke saya?”
“em.. anggap saja ini hadiah dari Allah ya, mungkin kalau aku ga kena ini, ya aku ga bakal berubah jadi lebih baik. Ya emang dulu aku tu kaget banget pas didiagnosa positif, tapi sekarang aku sih mikirnya kayak mau memaksimalkan umurku. Kita bisa kok hidup sehat dan lama. Iyakan mbak?” (S1, B22-B28)
“Ya aku harus menerima penyakit ini, walau pada awalnya aku tu berpikir untuk menghayal aku harus kena HIV aja tu ga pernah, aku takut banget mbak. Tapi ya sekarang aku mengibaratkan tubuhku adalah sebuah mesin virus yang bisa meledak atau error kapan aja, so aku harus jaga itu dari orang-orang biar virusnya ga nyebar.”(S1, B35-B39)
Pada saat tindak lanjut, subjek menyatakan bahwa subjek terus berusaha untuk mampu mengelola pikiran. Subjek menyatakan bahwa subjek belajar banyak dari teman dalam kelompok terapi, tentang dampak dari pikiran yang negatif dan dikelilingi oleh perasaan-perasaan negatif.
“emm aku lebih kayak jaga kesehatan sih mbak, ngurang-ngurangin ngeluh juga. Kemarinkan aku sakit, sempat. Terus ya berusaha sembuh aja.”(S1, B17-B19)
“Ya aku ga perlu sedih lagi, ga perlu diem-diem menutup diri, ya hidup seperti biasa hahahaha”(S1, B53-B54)
“Tapi sekarang ya aku lebih selo sih mbak, ya walaupun ga begitu fit, ya aku kayak dulu waktu belum positif HIV. Aku keluar, kalau ada yang datang ya gapapa. Kayaknya aku sudah biasa biasa aja seperti seharusnya ahahahaa..”(S1, B66-B70)
“Jadi kalau misalnya ada masalah, kita belajar dari pengalaman yang ada, kayak pengalamannya mbak E** yang bilang kalau stress minum obat, dan sebagainya, nah kalau aku diam-diam dikamar, ya aku belajar gimana caranya supaya aku ga makin lemah, jadi aku mikir yang baik-baik. Ya emang ga instant si mbak, beberapa minggu ini aku terapin ya emang awalnya agak susah, susah sih, tapi ya aku coba jadinya lebih lepas ringan, makanya aku tertarik buat nyoba terus”(S1, B102-B109)
Berdasarkan wawancara yang dilakukan, subjek mengungkapkan bahwa proses diskusi yang berlangsung selama terapi sangat berpengaruh dalam kehidupan subjek.
88
88
“Iya, jadi keinget orang-orang lain yang kayaknya banyak yang lebih parah gitu. Ya aku masih beberapa bulan inikan, masih baru.
Nah gimana sama mereka yang udah lama aja baik-baik aja, masa aku enggak”(S1, B20-B24)
“Ya ada sih mbak, menurutku juga ga gampang langsung sadar, maksudnya menghilangkan kaget, khawatir pas tiba-tiba sakit, tapi ya aku nyoba, aku langsung mikir gitu mbak, buat sembuh, biar CD4ku bisa naik. Kan ga enak klo CD4 rendah, ntar sakit terus.
Jadi ya motivasinya kalau sakit kayak kemarin, cepat sehat, cepat sehat. Gitu, kayak kata mbak E** pas kemarin sih bener, yang penting sehat, walaupun emang ga bisa sembuh.” (S1, B73-B79)
“Kalau tentang dukungan, ya aku langsung kepikiran temen-temen yang sesama hiv aja sih mbak, aku sadar kalau lebih sering sharing gitu bisa bikin agak tenang ya. Ya kalo dulu kan aku mikirnya bakal langsung mati, di novel-novel sama film yang pernah aku liat kayak gitu”(S1, B83-B87)
Pada saat ditawarkan untuk mengikuti terapi kelompok pendukung, subjek cukup koperatif. Selama 3 kali pertemuan, subjek selalu aktif memberikan konfirmasi kehadiran ketika peneliti mengingatkan subjek untuk datang. Pada pertemuan pertama, subjek terlihat selalu menggunakan masker dan menggunakan baju kemeja dengan celana kain yang terlihat formal. Subjek juga tidak bergitu aktif berbicara, namun berani untuk berbicara pertama kali ketika terapis menawarkan jika ada yang ingin berbagi cerita. Selebihnya subjek hanya diam. Ketika mulai bercerita kondisi ril yang dialami subjek, subjek berbicara dengan nada tinggi seolah menggambarkan tentang kekecewaan subjek akan penyakitnya dan kebingungan subjek akan tentang cara mengatakannya kepada orang tuanya. Terlihat dari pandangan matanya yang tajam dan mata yang cukup berair.
Pada pertemuan kedua, subjek terlihat lebih terbuka dan lebih santai. Hal ini terlihat dari subjek yang menggunakan baju kaos dan celana
89 jeans juga tidak mengenakan masker. Pada pertemuan kedua juga terlihat
subjek lebih aktif berbicara. Subjek pada akhirnya mengungkapkan alasannya mengenakan masker pada pertemuan pertama. Hal tersebut dikarenakan subjek tidak ingin diketahui identitasnya oleh siapapun bahwa subjek terinfeksi virus karena subjek merasa takut karena statusnya sebagai mahasiswa. Pada pertemuan kedua, subjek menyatakan bahwa yang mengetahui status positif ini hanyalah teman-teman HIV lainnya dan pekerja medis, bahkan orang tua subjek tidak mengetahui hal itu.
Subjek menyatakan bahwa subjek belajar banyak tentang HIV dari teman-teman lain yang lebih dulu mengidap HIV/AIDS. Meski baru terinfeksi, dalam kelompok ini subjek memberi insight pada teman-teman yang lain akan teori reframing, bahwa ketika seseorang dilanda masalah, seseorang tersebut harus mampu menggunakan “untung... dari pada....”
sehingga oleh teman-teman kelompok, subjek dipanggil “mas untung”.
Pada pertemuan ketiga, subjek terlihat jauh lebih santai, yakni menggunakan celana santai dan kaos biasa. Subjek juga terlihat sangat aktif untuk berbagi, bertanya, dan memberi saran terhadap teman-teman kelompok yang lain. Subjek mengaku dengan kahadiran kelompok seperti ini, subjek lebih menghargai hidup dan berusaha untuk belajar mengubah pikiran-pikiran negatif untuk dapat diubah menjadi lebih positif karena subjek mengetahui dampak buruknya, yakni dapat mempengaruhi kesehatan. Subjek juga menyatakan bahwa sakit ini adalah pemberian dari Allah sehingga subjek harus mampu berpikir positif atas pemeberian
90
90
tersebut. Subjek juga mengatakan bahwa tubuhnya adalah mesin virus yang tidak boleh lalai dimana virus tersebut tetap harus terjaga dalam tubuhnya, tidak untuk disebarkan. Subjek harus lebih waspada agar dapat menjaga diri sendiri.
Berdasarkan skala yang diisi sebelum terapi, yakni skala SWLS dan skala PANAS, subjek memperoleh skor 22 dimana berada pada kategori sedang untuk kepuasan hidup dan 11 untuk afeksi. Nilai kepuasan hidup setelah diberi pelatihan, skornya berubah menjadi 25 dan pada saat tindak lanjut menjadi 26. Kategori sedang dalam kepuasan hidup menandakan bahwa subjek sudah merasa cukup dengan beberapa hal dalam kehidupannya, namun ingin pindah ketingkat yang lebuh tinggi, yang tentunya membutuhkan suatu media. Setelah mengikuti terapi, subjek memanfaatkan hal tersebut untuk dapat pindah ke tingkat yang lebih tinggi. Hal ini terlihat dari adanya peningkatan skor, sehingga pada saat ini subjek sudah berada pada kepuasan yang tinggi. Kepuasan yang tinggi berarti bahwa subjek merasa segala sesuatu dalam hidupnya sudah berjalan dengan baik, dengan menyadari bahwa hidup itu tidak ada yang sempurna dan masih butuh untuk menjadi lebih baik. Subjek mungkin akan mendapatkan banyak motivasi dari bagian ketidakpuasan dalam hidupnya. Selanjutnya, pada skala afeksi PANAS, subjek memperoleh skor 11, setelah diberi terapi skor menjadi 15 dan saat tindak lanjut skor meningkat menjadi 21. Pada skala afeksi terlihat perbedaan angka dalam peningkatan hingga 10 angka dari prates ke tindak lanjut. Perbedaan skor
91 ini mengindikasikan adanya perubahan pada subjek. Peningkatan
menunjukkan perubahan yang positif.
Diakhir pertemuaan subjek mengaku bahwa mendapat banyak hal selama berlangsungnya terapi. Subjek belajar pada pengalaman teman dalam kelompok, belajar untuk mengubah pikiran-pikiran negatif menjadi positif karena setelah dilakukan, hal tersebut sangat bermanfaat. Subjek mengaku bahwa dari semua terapi, yang paling berkesan adalah pertemuan kedua. Subjek menyatakan bahwa dengan adanya sharing antar sesama HIV, itu akan sangat menolong kondisinya, kondisi mental maupun psikis.
Gambar 14. Nilai skala Kepuasan hidup dan Afeksi Subjek AA
b. Subjek 2, EDM, Perempuan, 29 tahun, HIV(+)selama 3 bulan, stadium 1 Subjek adalah seorang ibu dengan 2 anak kembar didampingi oleh seorang suami. Subjek menderita HIV (+) baru pada tanggal 28 Januari 2017, diketahui positif terinfeksi karena pada saat itu subjek sedang menjalani operasi. Gejala yang muncul pada subjek adalah munculnya banyak bisul yang pada akhirnya timbul bisul besar yang
34
37 36
23 22
15 15 30 45
Prates Pascates Tindak lanjut
Kesejahteraan Subjektif
Afek Positif Afek Negatif Kepuasan Hidup
92
92
perlu untuk dilakukannya operasi. Saat operasi, subjek mengaku mendapat diskriminasi dari perawat karena subjek merasa ada perbedaan perlakuan pasca operasi. Perawat yang mencabut semua alat bantu pasien pasca operasi dirasa terlalu kasar sampai menimbulkan banyak darah dan sebelumnya perawat berkata pada subjek bahwa subjek menderita HIV (+) pasti karena tato yang penuh disekujur tubuh subjek. Berbeda dengan saat kontrol pasca operasi, alat yang dipasang pada tubuh pasien ketika dicabut oleh perawat yang lain tidak terasa sakit sama sekali dan tidak menerima judgement apa-apa dari perawat yang mencabut alat tersebut.
Menurut hasil wawancara prates, pada saat pertama kali didiagnosis HIV (+), pikiran yang muncul pada diri subjek adalah kepastian subjek akan langsung mati, kemudian ada rasa bersalah pada diri subjek karena salah seorang anak kembarnya positif terinfeksi virus.
Suami subjek menolak mengakui atau muncul denial tentang masalah ini.
Subjek butuh waktu beberapa minggu untuk membuat suami akhirnya menerima jika subjek positif terinfeksi. Awalnya, subjek memperkirakan bahwa virus tersebut terinfeksi dari suami karena suami subjek adalah mantan pengguna narkoba. Akan tetapi, hasil tes menunjukkan bahwa suami subjek negatif. Jadi dapat disimpulkan bahwa subjek belum mengetahui faktor risiko yang membuat subjek terinfeksi virus.
Semenjak didiagnosis terinfeksi HIV (+), subjek cenderung selalu diliputi perasaan bersalah kepada anak-anaknya. Perasaan ini kemudian membuat subjek lemas dan pusing ketika berada dirumah. Hal ini
93 diperparah ketika dokter menyarakan untuk melakukan tes sekali lagi
untuk anak-anak subjek, karena dokter khawatir salah seorang anak kembar subjek pada saat tes pertama masih dalam window periode.
Selama menunggu hasil VCT, subjek mengaku sangat sering mengonsumsi obat sakit kepala, bahkan sampai 3 kali sehari.
Semenjak positif terinfeksi hingga sekarang, terdapat perubahan aktivitas yang dilakukan subjek, yakni tidak bisa melakukan banyak aktivitas karena mudah lelah, adanya efek samping dari ARV, juga cenderung mudah panik ketika ada luka karena subjek takut menularkan virus yang ada didalam tubuhnya.
Berdasarkan hasil wawancara pascates, diketahui adanya perubahan terhadap emosi positif subjek yang semakin baik dan juga pola pikir subjek.
“Ya saya lebih semangat dalam menjalani hidup mbak, buat anak saya”(S2, B9)
“Nah bedanya, kalau dulu aku tu kayak dikit-dikit cemas, gelisah, takut gitu walaupun suamiku udah terima aku yang positif B20, ya aku kayaknya ga yakin aja terus abis itu masih kebayang-bayang rasa bersalahku ke anakku. Nah sekarang aku lebih toleransi sih, terus lebih perhatian. Soalnyakan yang bisa ngerawat anakku cuman aku sama suamiku, terus juga suamiku makin perhatian gitu, aku jadi agak lega. Masa laluku biar jadi masa lalu dan masa sekarang harus bener gitu, mbak”(S2, B14-B21)
Data juga menunjukkan bahwa subjek tidak hanya mampu meningkatkan emosi positif, subjek juga mampu untuk menularkan emosi tersebut kepada orang lain.
94
94
“Iya sih kalau suamiku mulai ngeluh, aku bilang Jangan ngeluh, tuh... ternyata banyak yang keadaannya lebih parah daripada kita. Oh ya, ada lagi... aku tu kalau lihat orang yang semangat ya aku juga bakal ikutan semangat. Seneng aja. Terus aku juga pernah ada di kelompok ibu menyusui gitukan mbak, tapi mereka ga tau kalau aku tu positif B20, ya aku ga berani woro-woro ke ibu-ibu aku ni anak kembar dan mampu menyusui loh. Aku juga pengen bilang ke mereka kalau perlu hati-hati dalam menyusui, kondisi ibu benar-benar harus normal. Ya maksudnya negatif B20 gitu, aku takut woro-woro gitu nanti mereka tau aku B20 dan mereka anggap itu hal biasa saja. Terus kemarin sempat dibahaskan di suppport group gitu, ya aku mau nyoba sih, sosialisasi tentang menyusui terus juga memperingati tentang B20, ya gitu, pengen coba, tapi belum berani”(S2, B23-B35) Sementara itu, subjek mampu menerapkan materi dalam terapi kelompok pendukung, dimana emosi akan mempengaruhi kesehatan fisik. Subjek mencoba untuk mengatur pola pikir sehingga menjadi lebih sehat, atau keluhan sakit fisik berkurang.
“oh ya mbak, aku tu dulu tiap hari minum obat, tiap ada masalah mesti sakit kepala, dan sejak pertemuan kedua itu, aku udah ga minum obat. Ya aku coba untuk tenang, tarik napas dan lain-lain.
Ternyata itu berhasil. Waw”(S2, B41-B44)
Data wawancara pada saat tindak lanjut menunjukkan kosistensi pada cara berpikir subjek ketika menanggapi suatu permasalahan.
“Cara berpikir aku mbak. Apalagi ya mbak.”(S2, B11)
“Cara berpikir mbak, kemarin aku sempat dengar pengalamannya mbak i***, dimana temannya ada yang 7 tahun, ya aku jadi sadar, kalau guwe ga bakal mati secepat itu cuman gara-gara penyakit ini kan. Tuhan juga udah ngatur kita matinya kapan. Awalnya kan aku temen-temenku semua pada make ya terus mereka positif HIV, terus mereka mati. Nah itu yang bikin aku mikir kalo akan mati cepet, tapi ya aku jadi mikir lagi kalau temenku itu, udah positif, mereka tetap make. Gitu-gitu., jadi ya percuma obatnya.
Ya gitukan ya.” (S2, B18-B25)
Subjek mengungkapkan bahwa terapi kelompok pendukung sangat mendukung perubahan dalam diri subjek. Banyak hal-hal yang
95 dapat dipelajari dari anggota terapi kelompok pendukung lainnya,
sehingga menghasilkan banyak perubahan dan subjek dapat semangat lagi menjalani kehidupan. Subjek juga menyadari bahwa ternyata banyak hal yang dapat menjadi alasan untuk tetap hidup.
“Enggak sih mbak. Eh mbak kemarin tau gak si, yang aku bilang dia tu yang bantu aku pertama kali setelah aku tau aku positif?
Orang duta HIV gitu. Dia kemarin punya anak, terus baru lahir 2 hari udah meninggal. Sedih banget, aku sih langsung keinget anak-anakku. Tapi, ya aku bersyukur aja, anakku masih sehat sampe sekarang, padahal taukan susahnya orang HIV ngejalanin program punya anak. Ya namanya juga hidup ya mbak ya, semua udah ada porsinya.”
“Tapi mbak e** jadi lebih ngenyalahin hidup gitu? Kalau hidup kedua kali lagi, pengen ngulang?”
“ya setelah selama ini, aku ingin sih mbak, cuman ya ga mungkin.
Ga masalah kok hidup yang sekarang, aku sehat, anak-anakku sehat, dan suamiku nerima keadaanku. Sekarang tinggal fokus ke nyari duit ahhaha..”
“wahhh iya ya mbak, terakhir ni mbak, kira-kira ada ga manfaat yang mbak dapet dari ngikutin terapi kita kemarin?”
“iya banyak sih mbak. Aku tu jadi tau kalau aku ga mati secepat itu cuman gara-gara B20, aku dapat gambaran dari orang-orang lain yang kena HIV dan mereka tetap sehat, apa ya aku jadi kayak semangat lagi tu loh mbak. Terus juga dapet tentang teori untung lagi. Yaudah banyaklah mbak, makasih ya mbak. Tapi emang ya kalau kayak gitu kita tu jadi banyak belajar dari orang. Ya gitulah.... haha” (S2, B76-B97)
Pada pertemuan pertama subjek datang dengan anaknya yang positif terinfeksi HIV (+), subjek terlihat aktif memberikan saran dan berbagi dibanding yang lainnya. Saat berbagi cerita, subjek cenderung berbagi dengan suara yang keras, seolah menunjukkan emosi yang kuat ketika berbagi menganai perasaan-perasaan yang muncul pada saat menderita HIV (+). Pada pertemuan ini, subjek mohon izin untuk balik terlebih dahulu karena subjek mengaku sangat mengkhawatirkan anak
96
96
kembarnya yang satu lagi dirumah ketika subjek lain masih mengisi lembar kerja diakhir pertemuan. Pada pertemuan kedua, subjek datang terlambat dimana subjek mengaku bahwa sangat sedih dan kecewa ketika dokter meminta untuk melakukan VCT lagi terhadap anak-anaknya.
Subjek terlihat pucat, namun subjek tetap aktif dalam berbagi dan memberikan saran. Perubahan terlihat pada pertemuan ketiga, dimana setelah mendengar kisah-kisah dan cerita-cerita serta tanggapan dari teman-teman kelompoknya, subjek merasa mampu belajar untuk mengelola emosinya dan kekhawatirannya.
Pada pertemuan ketiga, terlihat subjek yang memberikan senyum lebih lebar dan sangat aktif berbicara, walaupun hasil VCT anaknya belum keluar pada saat itu. Subjek mengaku bahwa pada pertemuan kedua subjek belajar banyak hal, dan karena pertemuan itu, subjek tidak lagi minum obat sakit kepala saat dirumah jika sedang khawatir. Aktifitas lain yang dilakukan adalah dengan mencoba untuk mengelola emosi negatif yang muncul sehingga sakit itu tidak datang. Pada pertemuan
Pada pertemuan ketiga, terlihat subjek yang memberikan senyum lebih lebar dan sangat aktif berbicara, walaupun hasil VCT anaknya belum keluar pada saat itu. Subjek mengaku bahwa pada pertemuan kedua subjek belajar banyak hal, dan karena pertemuan itu, subjek tidak lagi minum obat sakit kepala saat dirumah jika sedang khawatir. Aktifitas lain yang dilakukan adalah dengan mencoba untuk mengelola emosi negatif yang muncul sehingga sakit itu tidak datang. Pada pertemuan